Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Jujur Prananto

Menanti Kematian

with 15 comments

”Budiman! Ada kabar gembira! Lamaran kamu diterima! Bulan depan kamu bisa mulai kerja! Dengan gaji pokok per bulan lima-belas juta! Berarti tidak lama lagi kamu bakalan terbebas dari utang-utang kamu. Terbebas dari teror para penagih utang yang selama berbulan-bulan mengejar ke mana pun kamu pergi.”

Memang aku diterima kerja di mana?”

”Perusahaan minyak, Bud! Di Dubai, Timur-Tengah!”

Budiman seketika terdiam. Temannya yang bekerja di agen tenaga kerja itu dibiarkannya terus bicara di telepon dengan penuh semangat. Tentang gambaran masa depan yang sangat cerah. Tentang jaminan kesejahteraan yang sudah jelas membayang di depan mata. Tentang sekian tahun lagi pulang ke Indonesia sebagai orang kaya….

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Maret 2009 at 06:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Musibah

with 2 comments

Menjelang tengah malam. Ponsel dekat “bedlamp” bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Di perbatasan antara terjaga dan bermimpi, Budiman berdecak kesal sekaligus meraih ponselnya. Telepon dari Mbak Lita? Di malam selarut ini?

“Halo….” “Budiman? Cepat setel televisi! Laporan khusus!”

Lalu, terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup.

Budiman malas-malasan meraih remote control dan menghidupkan televisi. Pas di channel yang menayangkan sisa laporan khusus. Tampak seorang pria berumur sekitar enam puluh tahun dalam posisi membelakangi kamera digiring dan dikawal belasan petugas kejaksaan dan kepolisian memasuki sebuah mobil tahanan yang parkir di depan pintu pagar yang terbuka lebar. Puluhan wartawan berbagai media merangsek berusaha mendekati pria tua ini, melontarkan berbagai pertanyaan yang tak begitu jelas terdengar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 Januari 2007 at 15:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Balada Cinta Ferdi dan Firda

with 2 comments

Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima, Firda menyibak vitrage, memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai, berdebur-debur keras, tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar, hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut.

Nggak suka ya, menginap di sini?”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Agustus 2005 at 10:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: