Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Januari 2009

Cerita tentang Hujan

with 11 comments

Bila hujan turun dan sedang sendirian, aku terkenang kepada Anatolia. Gadis kecil berusia enam tahun itu adalah putri seorang perempuan muda berwajah cantik. Zaitun namanya. Mereka tinggal di rumah sewaan yang bagus, beberapa meter di depan rumahku. Di rumah itu tidak ada lelaki yang tinggal menetap. Sopir yang mengantar-jemput Anatolia datang pagi, pulang sore. Ayah Si Anatolia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Kini, rumah itu sunyi.

Sepanjang siang hari Minggu itu Anatolia tidak muncul di rumahku. Sejak pukul sepuluh pagi, dia menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Sore Minggu, Anatolia diantar ke rumahku oleh Uun, si pembantu rumah tangga yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Anatolia meminta kepadaku bercerita tentang hujan.

”Paman, ceritalah tentang hujan,” pintanya sekali lagi.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

25 Januari 2009 at 07:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Anak Ikan

with 8 comments

Setiap kali menyurukkan kepala di dadanya, aku serasa disambar kilatan api? Heran. Ada gemuruh didih di situ. Seketika, aku mau saja jadi anak ikan yang berenang bebas ke dasar danau.

Aku ingat, itu subuh yang terakhir. Aku lihat abak menyibakkan selimut dan mencium kening perempuan yang senantiasa tidur di sampingnya. Perempuan itu terbangun lalu berinjit-injit ke sumur melawan gegar tubuh dalam udara yang dingin.

Aku tak tahu persis apa yang mereka lakukan. Yang jelas setelahnya, mereka sama-sama berganti pakaian. Perempuan itu memakai kain sarung dan kerudung besar yang sudah dijahit. Mereka mengangkat dan melipat tangan di dada. Sejenak terdengar desis suara mereka. Kemudian abak berkata-kata seperti orang mengaji. Tak lama, mereka menunduk memegang lutut lalu mencium lantai.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

18 Januari 2009 at 11:25

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Langgam Urbana

with one comment

(Atawa Jakarta in Rap)

Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. Di pagar rumah, di pintu halaman, di dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel, di dinding dan kursi-kursi dan meja di ruang tamu, di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga, di layar TV dan monitor komputer, di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum, di pintu, di dinding, di ranjang dan bantal kamar tidur, di dapur, di bak air dan di gayung kamar mandi. Di jalanan, di mobil, di motor, di bundaran lampu lalu lintas, dan di kemengangaan mulut, di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan berteriak.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Januari 2009 at 08:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Topeng Nalar

with 11 comments

Sudah tiga hari Nalar demam. Biasanya demamnya cepat hilang begitu dikompres air atau keningnya ditempeli irisan bawang merah. Kemarin neneknya sudah membawa dia ke Mak Moyong—dukun anak. Kata si dukun kena sawan. Tapi demamnya tak juga turun ketika ia dipaksa neneknya minum jamu dari Mak Moyong.

Kalau sore ini aku dapat gaji mingguan, Nalar akan langsung kubawa ke Dokter Kiki. Puskesmas sudah tutup saat aku bubaran pabrik. Tidak tega aku jika menunggu sampai besok. Demam Nalar begitu tinggi. Lagi pula penyebabnya aku sendiri. Sebagai ibu dan penyebab sakitnya, aku harus bertanggung jawab. Apalagi sudah setahun ini hubunganku dan Nalar tak begitu hangat.

Penyebabnya, ketika setahun lalu, ia melihat aku nopeng dengan Ibu di kampung, Nalar memaksaku untuk mengajarinya nopeng. Aku menolak. Sudah cukup rasanya garis keturunan penari topeng berhenti di tubuhku. Lagi pula tanggapan nopeng sudah tidak sebanyak dulu saat aku remaja. Sejak tak banyak tawaran nari, aku memutuskan jadi buruh rokok. Pemasukan rutin meski sedikit ternyata lebih mampu menyambung hidup kami bertiga: aku, ibu, dan Nalar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

4 Januari 2009 at 05:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: