Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for September 2008

Yuang Apuak

with one comment

Arwah Yuang Apuak serta-merta melesat ke langit tinggi dan terkaing di lapis ketiga. Arwah itu meregang dan lepas dari tubuh Yuang Apuak di bilik kumuh kontrakan. Sejenak mengiringi sampai di pusara, dari liang lahat arwah itu pun leluasa menembus lapis langit pertama yang punya kejauhan dan keluasan tak terukur. Jarak menjadi nisbi. Begitu pula ke lapis berikut, ke lapis berapa pun.

Orang-orang yang mengantar, mengiring, dan menguburkan jenazah, termasuk istri mutakhir dan dua orang putra Yuang Apuak, belum lagi sampai di rumah mereka. Tetapi jasad tambun Yuang Apuak yang baru dimasukkan, dibaringkan di lahat serta-merta dikerubungi ulat-ulat putih, seputih tiga lapis kafan yang diinfakkan oleh orang yang pernah dihinadinakan Yuang Apuak. Entah dari mana ulat-ulat itu datang, tetapi semua liang dan lubang menjadi penuh. Bibir, gigi-geligi, lidah dan jari-jemari ulat-ulat itu menggerogoti kulit, lamat-lamat menarik dan menelan daging, darah, nanah, urat-urat dan kotoran Yuang Apuak yang, biar sudah mayat, masih segar.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 September 2008 at 15:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kartu Pos dari Surga

with 18 comments

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.

Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…, Bibiiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 September 2008 at 07:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Delayed

with 8 comments

Sebagai seorang perempuan, sekalipun berprofesi dokter, Nana menganggap minggu-minggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau, adik bungsunya sambil menangis mengatakan, anaknya, Tantiana, positif hamil. Padahal, dia baru berusia 17 tahun, kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya, Alvin. Adiknya berkata, “Datanglah bersama Dara, kalian berdua kan dokter. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!”

Nana mengembuskan nafasnya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya, Aditya (25 tahun), menikah! Mendahului anak sulungnya, Dara, yang minggu kemarin merayakan ulang tahun ke-30.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 September 2008 at 21:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Sang Mertua

with one comment

Baru satu hari tiba di Yogya dan bermalam di hotel, kepalaku terasa pusing. Rombongan pertemuan wanita baru saja pergi dan aku tinggal sendiri karena kurasa wajahku sebelah terasa nyeri dibarengi kepala yang berat. Kucoba merendam diri di kamar mandi, tetapi rasa nyeri itu tidak hilang juga. Kukira karena perjalanan jauh naik kereta api dari Jakarta-Yogya. Sebelum malam jauh, aku membeli obat sakit kepala, namun sepanjang malam keadaan tidak bertambah baik. Keesokan harinya kukatakan kepada rombonganku bahwa aku tidak dapat mengikuti pertemuan wanita dan pamit pulang ke Jakarta. Rasa pening kepala makin menjadi-jadi, dan sebagian wajahku, pipi sebelah kanan rasanya seperti kaku, demikian Marice menuturkan awal penderitaannya.

Suamiku terkejut melihat aku sudah kembali begitu cepat. Kuceritakan bahwa aku merasa tidak enak badan. Sepanjang dua hari kepalaku nyut-nyutan dan mata sebelah seperti tidak sinkron dengan yang sebelah lagi. Suamiku tampak cemas dan mengajakku pergi ke dokter. Digandengnya aku ke dalam mobil dan sore itu dokter memeriksa wajahku sebelah kanan. Dengan jarinya ia menekan pipiku dan mengatakan adanya pembengkakan. Ia memintaku untuk menceritakan awal mula rasa sakitku. Kututurkan semua gejala yang kurasakan dan kemudian dokter merujuk aku ke rumah sakit.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 September 2008 at 02:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: