Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for April 2008

Sakri Terangkat ke Langit

with one comment

Desau angin berpusar kencang. Merobohkan pohon-pohon. Berdebam. Merontokkan daun-daun kersen di sekitar pabrik gula yang telah lama mati. Gedung tua berlumut, dengan cerobong asap berkarat itu berderak-derak. Sakri memandangi angin yang terus berpusar, mengangkat genting-genting gedung tua pabrik gula dengan rel membentang tanpa lori melintas di atasnya. Tak pernah dilihatnya sebelum ini angin mematahkan ranting-ranting, menerbangkan genting-genting pabrik gula, yang cerobongnya tak lagi membubungkan asap.

Lelaki tua itu menantang desau angin dari langit dan gemeretak dahan patah di Bumi. Rintik hujan tajam meruncing, nyeri menghunjam wajahnya. Makin takjub ia ketika melihat cerobong asap gedung pabrik gula yang senyap itu bergetar dan membubung ke langit. Berpusar. Tinggi. Tak terlihat lagi. Orang-orang menjerit. Meminta Sakri meninggalkan pabrik gula yang seluruh temboknya berlumut dan ditumbuhi rerumputan mengering.

Dengan menyungging senyum, Sakri menyambut pusaran angin. Kedua tangannya dibentangkan. Tubuhnya yang keriput kurus, dengan rambut memutih beruban, terangkat. Dipusar angin. Menjelang senja itu, dalam desis gerimis, pusaran angin telah mengangkat Sakri dari tempatnya berdiri di bawah pohon kersen. Lenyap.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

27 April 2008 at 16:04

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Terbang

with 7 comments

Untuk Bona dan Weni

Aku yang ngotot agar kami terbang terpisah. Kubatalkan satu tiket yang telah dipesan suamiku. Tiket murah pula, sehingga aku harus membayar besar untuk perubahan jadwal. Tapi, biar saja. Aku merasa lebih aman begini. Terbang terpisah darinya.

Kamu terlalu dramatis, Ari. Katanya.

………Tidak. Aku ini sangat realistis, Jati. Bantahku.

Sejak dua anak kami sudah bisa tidak ikut dalam perjalanan, sejak kami telah bisa meninggalkan mereka di rumah, aku memutuskan untuk tak akan terbang bersama suami dalam satu pesawat lagi. Atau terbang pada waktu bersamaan. Salah satu di antara kami harus terbang lebih dulu. Setelah pesawatnya dipastikan mendarat dengan selamat, barulah yang lain boleh berangkat. Ini keputusanku yang harus dilaksanakan. Jika suamiku menelikung tidak menurut—seperti kemarin ia mengurus tiket kami—ia akan tahu rasa. Aku membatalkan tiketku dan memesan sendiri.

Statistik mengatakan, moda transportasi pembunuh paling besar adalah lalu lintas darat. Begitu katanya. Kecelakaan maut motor lebih banyak daripada kecelakaan pesawat. Itu statistik.

Statistik juga bilang, kalau kepalamu ditaruh di kompor dan kakimu dibekukan di freezer, suhu tubuh di perutmu normal. Bantahku. Bagaimana kita mau mengabaikan fakta: Adam Air terbang tanpa alat navigasi. Adam Air jeblug di laut. Mandala jatuh waktu lepas landas. Garuda meledak ketika mendarat. Semua terjadi dalam satu tahun!

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 April 2008 at 18:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

“Hatoban”

leave a comment »

Tak usahlah kusebut nama gadis yang aku cintai itu. Ia sudah pergi dan semua ini hanya kenangan. Cukup aku jelaskan serba sedikit: ia sangat cantik, tetapi kecantikannya pudar tersebabkan suatu hal yang tidak bisa diubahnya; disebabkan karena ia hatoban.

Seribu tahun lalu leluhur margaku, panusunan bulung, menaklukkan leluhur marganya dalam sebuah drama pertempuran yang kolosal. Leluhur margaku berhasil menggiring leluhur marganya ke tepi Aek Lappesong yang deras dan berbatu-batu di mana sebuah jurang menganga dan mengaum garang. Hanya ada dua pilihan bagi leluhur marganya, meloncat ke mulut jurang dengan risiko berkeping-keping dicabik batu cadas, atau takluk kepada leluhur margaku dengan risiko hidup sebagai hatoban.

Pilihan kedua yang dipilih leluhur marganya, entah apa alasannya. Aku meyesalkan pilihan leluhur marganya itu. Kalau saja ia memilih pilihan pertama, tak akan kualami kisah ini. Tapi tidak, ia pilih pilihan kedua. Sejak itulah cerita ini bermula dan hingga hari ini keturunan leluhur marganya tetap menjadi hatoban. Dengan sendirinya dirinya pun menjadi hatoban.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 April 2008 at 17:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Cerita dari Rantau

leave a comment »

Begitu pantai Batavia nampak di pelupuk mata, Henze tak beranjak lagi dari tempatnya berdiri. Dari geladak, ia bisa melihat beberapa kapal melepas sauh di pelabuhan. Ia ingin lekas-lekas menjejakkan kaki di pantai, minum bir dan mengisi perutnya dengan makanan lezat. Sudah sejak berbulan-bulan lalu ia kehilangan selera dengan masakan juru masak kapal.

Delapan bulan lalu seorang utusan VOC dari kantor pusat Amsterdam datang ke Sachsen dan meminta para penambang bekerja untuk VOC di Sumatera Barat. Henze bersama ketujuh belas kawannya diminta mencari emas di sana. Meski emas adalah penyebab dirinya terlibat dalam pelayaran itu, tapi itu bukan satu-satunya alasan kenapa dirinya mau pergi ke Hindia.

Telah lama ia memendam hasrat untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri paras Si Cantik Hindia, sebagaimana dikabarkan pula oleh para pelaut dan orang-orang di Tanjung Harapan, Ceylon, dan bandar-bandar lain sewaktu mereka singgah, “Het paradijs op aarde.” Secuil firdaus yang jatuh ke dunia.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

6 April 2008 at 13:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: