Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for November 2008

Bantiran

with 8 comments

Bertiga mereka menapak pematang di tengah sawah yang kering kerontang, berbulan-bulan dibiarkan terbengkalai oleh penggarap dan pemiliknya. Bantiran di depan, disusul Kartaman. Paling belakang seorang serdadu memanggul senapan laras panjang.

Dekat sebuah batu datar sebesar gerobak, Bantiran berhenti. Sinar bulan separo bundar membuat batu itu berkilat. Sebatang pohon kamboja tegak di sebelahnya, daun-daunnya gugur oleh kemarau, tapi bunga-bunga bermekaran. Ini sebuah tempat keramat bagi petani dan nelayan Desa Jampi. Tapi, mereka tak berniat mendirikan bangunan suci di situ, karena pasti akan merepotkan untuk membuat sesaji berulang kali di berbagai hari. Sudah ada banyak tempat suci di desa itu harus diurus dan menelan banyak biaya. Penolakan itu menyebabkan desa-desa tetangga menuduh mereka ateis. Mereka dituding sebagai manusia merah, orang-orang komunis, antek-antek PKI.

Bantiran menyusupkan tangan ke pinggang, mengeluarkan sebilah keris kecil, cuma sepanjang telapak tangan, menyodorkannya kepada Kartaman. ”Hanya kamu yang bisa mengakhiri, Man!”

Kartaman tak bergerak, seperti seonggok kayu usang. Dia menggeleng. ”Aku tak sanggup!”

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

30 November 2008 at 05:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Hikayat Gusala

with one comment

Sebatang nyiur itu kini telah mulai menampakkan kecantikannya. Memang belum lagi setinggi anak berusia 10 tahun, namun pelepahnya yang menguning, yang sebagian masih terbungkus tapas, juga sebagian daunnya yang kuncup, mampu menyemarakkan pagi di pekarangan si pemilik. Kelak, entah 10 atau 20 tahun lagi, barulah nyiur itu mampu memberikan manfaat yang sebenarnya bagi si pemilik.

Si pemilik adalah seorang petani berkulit hitam, sebagaimana umumnya orang asli Awangga. Sosoknya cukup besar bila dibandingkan manusia biasa, dan memang dia memiliki darah raksasa, yang diperolehnya entah dari bapak, kakek atau kakek buyutnya di masa lalu. Banyak penduduk Awangga yang memiliki ciri-ciri tubuh semacam itu. Kekar, besar, pendiam dan pemalu, namun, sekaligus pekerja keras yang tenaganya seakan tak ada habis-habisnya.

Gusala, demikianlah orang memanggilnya. Mengapa dia dipanggil demikian dan siapa yang berhak menamainya demikian, dia tak tahu secara pasti. Memang, Gusala tak mengenal siapa kedua orangtuanya sejak lahir. Dia hanya tahu, tumbuh dan memiliki saudara sebanyak tujuh orang, di tengah sebuah keluarga petani. Semula dia tak mengerti, mengapa dirinya sangat berbeda dari saudara-saudara maupun kedua orangtuanya. Dia hanya sering bertanya dalam hati mengenai perbedaan itu, namun tak pernah terlintas jawaban apa pun di kepalanya. Dan Gusala pun tak pernah mempersoalkan benar, karena semua yang ada di sekelilingnya tak mempersoalkannya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 November 2008 at 12:18

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

with 11 comments

Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.

Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam.

”Hmmh. Ibu Saleha, ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku, seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha, karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati,’ kata Bapak. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. ’Saya selalu teringat Satria, Ibu, saya tidak bisa’,” katanya.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 November 2008 at 14:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Biji Mata Kaushalya

with one comment

Mata yang indah itu lantas memerah setelah segelas penuh Johnnie Walker memantik reaksi pada tubuh Kaushalya, perempuan yang kukenal secara tak sengaja di jantung Yarralumla, di dekat Bentham Butcher, tempat aku biasa membeli potongan daging sapi yang segar dan halal. Jika sudah demikian, maka ruh jahat akan merasuki tubuh perempuan berdarah Sri Lanka namun memegang paspor Kanada itu. Matanya adalah nyala api: ada amarah yang hendak diletupkan, ada dendam yang minta dituntaskan. Tubuhnya yang elok bergetar hebat, menguarkan aura iblis dari empat penjuru dunia. Mulutnya berceracau tentang kebiadaban dan kekejian. Jari-jari tangannya yang lentik dan dihiasi kuku-kuku sepanjang setengah sentimeter dan diberi pewarna merah muda menjelma jari-jari ”zombie” yang baru bangkit dari liang kubur: melempar, membanting, dan mencakar apa saja yang ada di dekatnya. Kali ini ia mencengkeram leherku, lantaran memang tidak ada benda lain yang ada didekatnya. Suaranya lantas memberat.

Terkutuklah kau tentara Tutsi1 yang telah mengirimku pada raja setan lewat cara paling jahanam, mencencang ragaku bersama tubuh saudara laki-lakiku dalam keadaan telanjang, membiarkan kami bersetubuh, menjadikan kami tontonan. Masih ingatkah kau, di antara gemuruh sorai, satu dari kalian mengambil galah bambu, lalu beramai-ramai menancapkan satu ujungnya yang lancip pada anus tubuh gerilyawan Hutu itu, menusukkannya, menembus perut, mengoyak paru-paru hingga menerobos kerongkongan dan kemudian mengibar-ngibarkan tubuh saudaraku ke angkasa sembari prajurit-prajurit laknat itu memerkosaku bergantian hingga aku sekarat!”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

9 November 2008 at 10:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Perempuan Sinting di Dapur

with 10 comments

Dinanti-nanti matinya, Wak Haji Mail malah mulai mengigau. Semula tak seorang pun menangkap apa yang dikatakannya. Kupikir bukan tak bisa. Tak mau, lebih tepatnya. Aku sendiri, begitu diizinkan mendengar langsung segera mencerna, bukan kata, melainkan sepotong nama. Gumam ini berulang di antara tarikan nafasnya yang payah. Saodah.

Dua minggu setelah rumah sakit menyerah dan mengembalikannya ke rumah, Wak Haji Mail belum juga dijemput Izrail. Keempat belas anak dari tiga pernikahannya semakin sulit meredam cemas, silih berganti berjaga di luar kamar, siap untuk memberontak dari pembagian harta waris yang tak adil. Tak mungkin adil.

Lepas maghrib tadi Haji Mail membuka mata dan mulutnya kembali bersuara. Satu jam kemudian semua orang terus berebutan masuk sehingga Wak Misnah naik pitam. Empat belas anak, beserta cucu-cucu, tentulah membuat keadaan bisa cepat berubah menjadi pasar malam. Itulah saatnya Wak Misnah, istri pertama Haji Mail, mengusir semua orang dan memanggilku masuk.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

2 November 2008 at 11:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: