Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sepasang Mata Malaikat

with 53 comments


LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara seseorang di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon istrinya. Tetapi, aku tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk.

Aku masih meringkuk dibalut selimut. Tapi tiba-tiba, kulihat segumpal warna serupa sisa badai yang menggumpal di sudut matanya. Mata yang membuatku bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, dia mematikan handphone, kemudian berjalan ke arahku.

”Aku harus pulang,” suaranya datar tidak terlalu mengejutkanku. Seperti hari-hari yang lain, dia tidak selalu mengungkapkan satu alasan pun sebelum pergi dari rumahku.

”Apakah istrimu tahu kalau malam ini kau di rumahku?”

Dia menggeleng. Sorot matanya kelabu dan ganjil serasa meninggalkan bekas luka pedih bagai timbunan kardus kumal yang teronggok di tempat sampah. Lama, kami bersitatap pandang. Matanya mendidih, serupa air yang dijerang di atas tungku. Aku ingin bertanya…, tetapi genangan hitam di sudut matanya itu membuatku beringsut. Dan, malam itu, dia benar-benar seperti orang asing yang baru kukenal.

Dia buru-buru berpakaian. Aku hanya menatapnya dengan diam, bahkan ketika ia pergi dengan tergesa dan meninggalkanku yang masih meringkuk setengah telanjang dalam balutan selimut.

***

IA tidak tahu, betapa aku bergidik takut tatkala istriku meneleponku. Meski itu bukan kali pertama istriku tiba-tiba meneleponku saat aku tidur di rumahnya, tetapi malam itu aku serasa digulung ombak berlipat-lipat: hanyut dalam gelombang yang hampir menenggelamkanku. Setelah aku mengangkat telepon, istriku langsung menangis tersedu. Tangisnya pecah, membuat telingaku serasa basah. Kutunggu lama, hingga tangisnya reda. Hening sejenak, sebelum kemudian istriku memintaku pulang. Anakku sakit.

Kabar itu, sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Tapi, aku merasakan tiba-tiba menggigil. Tangis istriku bagai gerimis yang turun seketika meninggalkan kepekatan yang membentang di cakrawala serupa kerlip lampu di sepanjang jalan yang mati tiba-tiba dan membuat seluruh kota tergeragap. Seberkas cahaya memudar, berganti gelap. Kesunyian meruncing. Dalam perjalanan pulang, hawa dingin terus menjalar ke seluruh tubuhku. Setibaku di rumah, aku membuka pintu rumah dengan gugup, seraya mencium aroma parfum yang masih tertinggal di tubuhku—sekadar menepis kecurigaan istriku sebelum aku menerabas masuk ke kamar. Tatapan istriku tak menaruh curiga, ketika aku berdiri di ambang pintu kecuali ia terlihat gugup. ”Sejak satu jam yang lalu, panasnya tak kunjung turun,” tukas istriku.

”Kenapa kau tak langsung membawanya ke dokter…” ujarku tak sedikit pun merasa bersalah

Kupegang kepala anakku. Panasnya cukup tinggi.

Tetapi, istriku tak segera menjawab. Lama, ia menatapku dengan heran. ”Tapi, anak ini butuh ayahnya. Ia tidak hanya membutuhkanku di saat sakit seperti ini. Sayangnya, ayahnya seperti tidak pernah tahu.”

”Jika kau tahu aku sibuk, kau seharusnya tak perlu menungguku sampai pulang untuk sekadar membawanya ke dokter,” tukasku, sambil membopong buah hatiku, bocah mungil yang baru menginjak 1 tahun itu. ”Ayo kita berangkat, sebelum semuanya terlambat dan tambah parah!”

Dalam dekapanku, anakku menggeliat. Kemudian, ia membuka mata. Mata itu, entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, melainkan berubah seperti nyala api unggun mata seorang hakim yang mendakwaku dengan tuduhan berat….

***

MATA lelaki itu kemerahan, bagai hamparan jalan di malam hari yang diterpa gemerlap lampu. Dan, sejak kali pertama bertemu laki-laki itu, aku seperti ditelungkupkan pada seraut kenangan. Aku tak tahu, mengapa aku tiba-tiba seperti direnggut perasaan aneh dan ganjil. Aku seketika jatuh cinta. Apa yang kusuka dari lelaki itu? Jujur, ia mengingatkanku akan masa laluku—dua tahun lalu—tatkala aku lulus dari kuliah. Aku masih luntang-lantung, belum mendapatkan pekerjaan layak, dan kerap tidur di rumah teman.

Hingga akhirnya, kehidupanku berubah setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar asing bagiku—lelaki yang kemudian menjadikanku istri simpanan. Ia hampir memberiku apa yang aku butuhkan kecuali kepastian…. Ia bisa datang satu minggu sekali, kadang bisa satu bulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Ia datang ketika butuh, dan ia tidak pernah datang ketika aku sedang membutuhkan kehadirannya pada satu malam tertentu. Hingga semua itu berakhir ketika istrinya tahu keberadaanku.

Dan lelaki ini, tiba-tiba datang dari balik keheningan. Aku tak tahu, bagaimana semua itu bermula. Ia tiba-tiba duduk di sebelahku, ketika aku sedang berpangku tangan di sudut cafe. Ia tersenyum, lalu mengajakku bercengkerama. Di hadapannya, aku seperti hilang…. Ia lelaki biasa, tapi tatapan matanya membuatku luruh. Dalam sekejap, persendianku seperti dialiri getaran aneh yang menjalar ke setiap pori-pori. Mata lelaki itu seperti hamparan laut, tenang dan meneduhkan. Setiap kali aku melihatnya, aku serasa ingin menyelam ke dalamnya….

Aku tidak bisa berkata-kata dan ketika lelaki itu menawarkan kebaikan untuk mengantarku pulang, aku tak kuasa menolak. Sejak itulah, aku sering jatuh sakit ketika ia lama tidak mengunjungiku….

***

SETELAH mengantar perempuan itu, aku pulang ke rumah dengan raut penuh tanda tanya. Istriku—yang biasanya anggun—menyambut kedatanganku dengan cemberut. Tidak seperti biasanya. Ia kali ini tidak tersenyum, tak membawakan tasku—apalagi mau melepaskan dasiku. Sejak ia membuka pintu, ia hanya diam—menatapku dengan mata yang aneh. Aku sudah hafal. Pasti ada peristiwa yang tak ia sukai dan ia memprotesku dengan diam.

Aku meninggalkan istriku yang masih berdiri kaku di balik pintu. Ia menutup pintu, menguncinya dan mengikuti langkahku.

”Noura sakit…,” akhirnya ia buka suara.

Aku berbalik, menatapnya dengan raut tak percaya. ”Sakit apa?”

”Demam… Tadi, badannya panas. Aku sudah membawanya ke dokter…”

”Gimana sekarang?” tanyaku penasaran, seraya merangsek ke kamar.

Putriku tertidur, meringkuk dalam balutan selimut. Entah kenapa, aku selalu menemukan setangkup ketenangan yang selalu menelusup dalam hatiku, ketika mataku menatap bola mata mungilnya. Tapi, kali ini putriku terpejam. Aku menempelkan tangan di keningnya. Kening putriku tidak lagi panas.

”Aku tadi menghubungimu berkali-kali…. Tapi sia-sia! Handphone-mu tidak aktif,” ucap istriku.

Aku tidak menanggapinya. Ia semakin cemberut bahkan kesal. Aku menciumnya putriku pelan-pelan, tak ingin bangun. Tapi, harapanku kandas. Putriku terjaga. Matanya biru, menatapku. Aku merasa tatapan mata putriku… entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, tetapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik takut….

Dan beberapa saat kemudian, ia menangis.

***

DI mataku, tak ada yang istimewa pada lelaki itu. Ia biasa saja—seperti umumnya lelaki lain. Hanya saja, mata lelaki itu selalu memukau dan membuatku serasa di tepi danau. Setiap aku menatapnya, aku seperti melihat hamparan air yang tenang. Bahkan, ketika aku sudah lama tidak bertemu dengannya, aku…. entah kenapa bisa jatuh sakit.

Aku tidak tahu, kenapa semua bisa tak masuk akal. Dan ketika ia menjengukku, perlahan sakitku pulih. Meski ia datang hanya diam, tak pernah banyak bercerita dan bersenda gurau. Tetapi, kedatangannya telah membuatku bisa tersenyum. Ah, lelaki ini benar-benar aneh.

”Aku ingin pergi ke sebuah danau…,” ucapku memecah keheningan.

Lelaki itu diam, dan seperti tidak mau mendengar apa yang aku katakan. Dan aku tahu, dia tak sanggup untuk memenuhi permintaanku. Aku, entah kenapa, merasakan telah meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia penuhi. Selama ini, memang tidak pernah ada kesepakatan antara kami. Apalagi, setelah aku tahu ia lelaki yang sudah beristri. Itulah yang membuatku tak pernah menuntut apa pun… Tapi, dia tiba-tiba membuatku melambung.

”Besok jika kamu sudah sembuh, aku akan mengantarmu ke pantai…” ucapnya pelan, seraya mencium keningku.

”Sekarang aku sudah sembuh.”

Lelaki itu terbaring tepat di sisiku, kemudian menyibak selimut dan meringkuk bagai sepotong daging dalam kulkas. Tubuhnya dingin dan hampa. Tetapi semua berjalan cepat. Lelaki itu selalu mengerjakannya dengan kilat, sekejap kemudian ia sudah tersengal. Aku mendengar lenguhan panjang dan setelah itu, ia berbaring lemas di balik selimut.

Hingga kemudian, seperti yang sudah-sudah, dering telepon selalu membangunkan tidur nyenyaknya. Ia terbangun, buru-buru menyibak selimut, meraih handphone dan berjalan dengan gugup ke arah jendela. Kulihat sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendela saat ia mendengarkan dengan syahdu suara di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon dari istrinya. Tapi aku tidak mendengar jelas: suaranya pelan setengah berbisik.

Setelah hening, lelaki itu berkata pendek, ”Aku harus segera pulang.”

Aku tak mungkin mencegahnya pergi. Aku tahu, pasti ia pulang lantaran anaknya sakit. Ia pernah bercerita, setiap kali habis menemuiku, pasti anaknya jatuh sakit…

***

Dalam perjalanan pulang, aku benar-benar merasa bergidik dan disesap rasa takut. Itu karena, aku tidak ingin kehilangan anakku. Kalau kulanjutkan hubunganku dengan perempuan itu, aku tak tahu apa yang terjadi dengan anakku. Lama-lama, anakku bisa sakit menahun….

Tiba di rumah, kubuka pintu dengan gugup. Lebih gugup lagi tatkala yang menyambutku bukan istriku, tapi ibu mertuaku. Aku mencium tangan wanita yang telah melahirkan istriku itu dengan takzim, ”Kamu boleh sibuk bahkan kerja mati-matian, tapi jika karena kesibukanmu, justru anak-istrimu sakit, rasanya kesibukanmu akan membuat hidupmu hampa.”

”Ya, Bu…,” jawabku.

Hening sejenak.

”Tapi, bagaimana dengan Noura?” tanyaku gugup.

”Noura tak apa-apa, justru sekarang yang sakit istrimu.”

Aku tercekat. Jadi ia berbohong ketika tadi meneleponku? Ah, kenapa aku sekarang ini tidak peka? Aku langsung menerabas masuk kamar dan menemukan istriku terbaring dengan tubuh lemas. Aku duduk di tepi ranjang. Kulihat istriku menggeliat, menatapku dengan aneh.

”Kenapa tadi kau meneleponku mengatakan Noura yang sakit?”

Istriku diam.

”Kenapa kau berbohong?”

Lagi-lagi, istriku diam. Setelah itu, ia menatapku tajam. Dan mata istriku… entah kenapa tak lagi dingin meneduhkan tapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik. Mata istriku, kulihat seperti sepasang mata malaikat yang tak henti-henti menuduhku; bahwa akulah yang sebenarnya berbohong.

Jakarta, 2012

Written by tukang kliping

3 Juni 2012 pada 17:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

53 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. muter muter, muter muter, muter muter. Tiga kali muter muter.

    Yusriono

    5 Juni 2012 at 18:20

  2. akh, kecewa…ending nya gk jelas

    9ian

    5 Juni 2012 at 18:22

  3. Gak berasa.

    Lost

    hirata

    5 Juni 2012 at 19:08

  4. setengah menit membaca aja udah bosan…sorry………

    ray

    5 Juni 2012 at 19:22

  5. kayaknya kompas mulai kehabisan stok cerpen bagus

    ari

    5 Juni 2012 at 20:10

  6. Aku ingat salah satu Cerpen Na Lesmana berjudul Roda-roda yang terbit di majalah Horison edisi April 2012. Persis cara berceritanya seperti ini. Yang berbeda, Na Lesmana memakai tiga orang dalam satu cerita. Dan, setelah aku membaca beberapa kali cerpen di Kompas, bari kali ini aku menemukan kesamaan cara penceritaan. Unik.

    Dan, hal seperti yang dialami ibunya Naora menurutku bukan rahasia lagi di Indo ini. Sudah banyak kisah serupa yang menjadi buah bibir manis tapi rasa yang pahit.

    Pilo Poly

    5 Juni 2012 at 21:22

  7. Konsep alur cerita bergantian antar tokoh sangat menarik, ide cerita menguak tabir perselingkuhan juga menarij, overall ini menarik

    winaprayoga

    5 Juni 2012 at 21:28

  8. selamat buat Nur Mursidi bisa tembus Kompas,,,secara pribadi cerpen ini tidak begitu mendebarkan,,tapi sekali lagi selamata,,terus menulis…

    F. Daus AR

    6 Juni 2012 at 11:15

  9. kurasa cukup bagus kok. memang agak muter, tapi begitulah. kurasa itu unik… kutunggu karya selanjutnya Mas.

    andhy kh

    6 Juni 2012 at 15:38

  10. ending ceritanya kurang bagus.

    cumylaud

    6 Juni 2012 at 16:04

  11. Berulang-ulang membuka kemungkinan-kemungkinan… Karena tema yang diangkat udah sering jadi kesannya biasa. Teknik berulang ini sebenarnya sangat bagus untuk memperkaya tema biasa jika saja karakter tokoh yang digarap, memberikan sudut pandang lain. Tetapi di cerpen ini alurnya yang berulang-ulang hingga terasa menjemukan dan tak terselamatkan oleh ending. Tapi sekali lagi, tekhnik berulang-ulang ini bila dipakai dengan jitu menimbulkan kemungkinan lain yang tak ambigu.

    Emil Amir

    6 Juni 2012 at 17:04

  12. Awalnya tidak menarik. Namun dapat menarik perhatian pada saat mendekati ending, ketika mata malaikat mulai disebut-sebut.

    Andreas Gan

    6 Juni 2012 at 20:47

  13. sudut pandangnya macem2, suka saja, ini asik.

    suryanagra

    7 Juni 2012 at 00:30

  14. membacanya seperti mempersiapkan ‘scene’ adegan film yang dibungkus untaian kata yang piawai dari penulis yang juga piawai…
    walau ceritanya tidak mengejutkan dan sering ditemui dalam cerita pendek lain, btw mas penulis memang keren!

    donaLd

    7 Juni 2012 at 01:36

  15. Jadi inger cerpen keren ini:https://cerpenkompas.wordpress.com/tag/ratih-kumala/
    itulah mengapa (menurut saya) tema klise tak terhitung sebagai masalah. Bahan boleh sama, tapi jika “koki”nya beda, rasanya pun pasti beda… Salam Berkarya…

  16. sori, salah link, ini maksudnya: https://cerpenkompas.wordpress.com/2008/07/06/rumah-duka/ (tema dan gaya penceritaan hampir sama)

  17. ini kisahnya tentang apa,,, wanita simpanan atau suami selingkuh???

    adhie507

    7 Juni 2012 at 10:10

  18. Sudut pandang yg ganda campuran, boleh juga, haha

    Pelajar Jogja

    7 Juni 2012 at 15:14

  19. Wah, muter-muter ya.
    Saya bacanya agak lama, berusaha mencerna sedang membaca sudut pandang siapa. Hahaha ..

    Zea Zabrizkie

    7 Juni 2012 at 17:42

    • Yang bisa mencerna ya rdaksinya. Kan kalo susah dicerna, itulah yang dipilih. Makanya cerpen kompas susah masuk ke dunia remaja/dewasa yang awam karena senang melantur ke absurd bukan realis. Tapi yah, sebagai pembaca saya jelas sama menolak cerita yang bikin otak saya muter. Jelek…

      Jovian

      8 Juni 2012 at 11:09

  20. berputar datar, nyaris menjenuhkan, dengan ending mengambang,maksudku kurang menohok. ttapan mata istrinya kurang kuat utk mjd simbol penolakan kehohongannya. anaknya mestinya lebih kuat lg dalam memjelaskan ‘kesesatan’ ayahnya.

    andisumarkarman

    8 Juni 2012 at 19:15

  21. pesannya bagus, tapi terlalu biasa untuk sebuah cerpen. kecewa. huhuuuu o.O

    Rufi

    9 Juni 2012 at 12:17

  22. mata malaikat, mata memikat, mata mengikat. bagus… alurnya masih longgar. tradisi lama penulisan cerpen blm sepenuhnya ditinggalkan. msh blm ada kekhasan… hmmm… but..gud job! bravo!

    wildanmattara

    9 Juni 2012 at 18:13

  23. Pada awalnya agak sulit mengikuti alur ceritanya, karena yang berperan aku bergantian, aku pertama adalah si perempuan, pada bagian kedua aku menjadi si laki-laki, demikian terus bergantian, namun karena tuturan katanya mudah dimengerti dan enak dibaca, maka ketruskan sampai selesai ternyata endingnya luar biasa, kesulitan memahami di bagian-bagian awal, akhirnya terjawab sudah dengan sebuah pertanyaan yang menghentak untuk bersama-sama kita jawab. Siapa yang berbohong? Aku sebagai laki-laki dan kita semuanya yang laki-laki, barangkali wajib menjawabnya meskipun itu hanya dihati kita masing-masing. Sepasang mata malaikat terus akan memandang kepada setiap laki-laki sampai kapanpun! Harapanku kepada redaktur kompas, beginilah memilih cerpen untuk dimuat di kompas, tidak usah silau dengan nama besar, tapi pilihlah cerpen yang yang bermakna besar.

    Eko Wahyu

    10 Juni 2012 at 19:25

  24. Bila nulis cerpen di kompas berapa bulan ya dimuatnya dan kl tdak dimuat apa pasti dapat konfirmasi?

    Salik fajar

    10 Juni 2012 at 20:24

  25. kereeenn. alurnya bolak-balik namun hikmahnya luar biasa… 2thumbsup!

    sae

    11 Juni 2012 at 10:42

  26. Selamat

    Omo

    11 Juni 2012 at 16:33

  27. Lumayan juga. Saya pernah baca cerpen yang seperti ini, menggunakan dua sudut pandang. Dan cerpen yang saya baca jauh lebih enak dari ini. Semangat aja, terus berkarya.🙂

    cupcop

    11 Juni 2012 at 19:23

  28. Gaya cerpennya seperti puisi repetisi. Bagus menurut saya, ditambah dengan pertukaran sudut pandang orang pertama yg membuat cerpen ini lebih hidup.

    Rusyda Fauzana

    12 Juni 2012 at 10:52

  29. jangan duakan cinta orang yang engkau miliki, suka sekali endingnya.

    Yunaidi Joepoet

    12 Juni 2012 at 12:27

  30. enak juga setelah dibaca habis

    sudibyo HP

    13 Juni 2012 at 14:39

  31. Cool story, bro..!!!😀

    Tinggalkan Balasan

    14 Juni 2012 at 06:24

  32. Tema yang biasa, ceritanya sederhana. Tapi sekali lagi cerpen tidak selalu tergantung kepada ide yang hebat, alur dan plot yang canggih, tapi cara pengungkapan cerita melalui bahasa penyampaian yang bagus itulah cerpen yg baik…

    R Arumbinang

    14 Juni 2012 at 08:44

  33. Penggunaan bnk sudut pandang memang tlh lama sejak ryunosuke akutagawa, namun masih tetap menarik untuk diterapkan.

    Benn karima

    14 Juni 2012 at 20:00

  34. P

    Benn karima

    14 Juni 2012 at 20:06

  35. Sukses

    EdySC

    14 Juni 2012 at 20:33

  36. kisah lama lelaki berdasi yang tak setia.

    mas sono

    17 Juni 2012 at 11:09

  37. Bagus, aku bisa menikmati alurnya🙂

    fawaizzah

    18 Juni 2012 at 12:18

  38. lumayan juga sdh terpilih menjadi cerpen kompas

    Mardiana Kappara

    20 Juni 2012 at 12:56

  39. biasa aja, mudah dipahami kok, oklah untuk gaya penulisannya dengan 2 sudut pandang yang berbeda. selamat udah terpilih oleh kompas

    fatonah

    25 Juni 2012 at 08:44

  40. ceritanya gantung (y)

  41. Lho “Menuduhku; bahwa akulah yang sebenarnya berbohong”. (Pada akhir-akhir kata).
    Bukankah benar ya lelaki itu memang yang berbohong??
    Seharusnya kata-kata tsb.diganti dengan:
    “Seperti sepasang mata malaikat yang tak henti-henti memakuku; bahwa ia sebenarnya tahu akulah yang selama ini berbohong”.

    Tapi ya overall, it’s interesting–memiliki pesan moral yang baik kepada semua ayah. Penukaran sudut pandang orang pertama juga yang membuat cerita ini terangkat. Nice.

  42. aduh gitu aja endingnya

    miftah

    8 Juli 2012 at 13:14

  43. Ora mudeng

    habibihidayats

    12 Juli 2012 at 18:47

  44. penceritaannya unik thor, hanya saja pergantian aktor dalam penceritaan kurang jelas.
    endingnya juga kurang klimaks jadi agak bikin kecewa, apalagi kata-kata yang dipakai diulang-ulang dan sebenernya nyeritain hal yang sama.
    mungkin bukan POV nya aja yang diperjelas, tapi juga pergantian POV dari satu aktor ke aktor lain..
    but it’s a good job bisa tembus kompas >< fighting!

    Ryzkiesomnia

    15 Juli 2012 at 10:17

  45. Menarik..cheers… Mudah menangkap alurnya yg bulak balik, kini dan masalalu, endingnya asik, merenung sejenak, lalu..hmmm.. Lelaki.. Mapan tak jauh dari simpanan…

    Rimba

    24 Juli 2012 at 02:06

  46. wahhh bagus dan sangat menarik…

    Ayza-ayza Wae Mi'a

    10 Agustus 2012 at 12:03

  47. keyeen… artinya, akan dengan mudah memilah bila mata malaikat bersemayam, menyejukkan…

    barmen lubis

    16 Agustus 2012 at 00:04

  48. Aku suka ni cerpan

    Agus Wae

    4 September 2012 at 19:36

  49. sebenarnya idenya bagus…tp cara menampilkannya agak maksa…sayang.

    Anara Prima Diamona

    17 Januari 2013 at 21:25

  50. Menarik..cheers… Mudah menangkap alurnya yg bulak balik, kini dan masalalu, endingnya asik, merenung sejenak, lalu..hmmm.. Lelaki.. Mapan tak jauh dari simpanan…

    TAS WANITA

    23 April 2013 at 20:58

  51. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:00


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: