Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Eka Kurniawan

Pengantar Tidur Panjang

with 29 comments

pengantartidurpanjang

Aku muncul di rumah menjelang subuh. Tak berapa lama kemudian adik perempuanku juga muncul. Ia membuka pintu sambil menangis, ”Bapak sudah meninggal?”

”Belum,” kataku.

”Kata dokter sudah.”

Setelah melihat Bapak masih hidup, meski hanya berbaring tanpa bisa bergerak, tangisnya reda. Adikku bilang, setelah menerima telepon dari Ibu untuk pulang, ia mampir dulu ke pusat kesehatan di kampusnya untuk memeriksa matanya yang gatal. Apa yang dikatakan Ibu kepadanya persis seperti yang kudengar: kalau sempat, kamu pulang, kata perawat yang mengurusnya, ginjal Bapak sudah tidak berfungsi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 November 2009 at 07:37

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Taman Patah Hati

with 10 comments

Benar kata orang, lebih mudah menikah daripada bercerai. Dan lebih mudah mengatakan cinta daripada memutuskan tali asmara.

Paling tidak begitulah yang dipikirkan Ajo Kawir. Ia harus mengeluarkan ongkos untuk pergi bersama Mia Mia ke Tokyo, ketika nilai yen sedang begitu congkak atas rupiah, demi niat mengakhiri pernikahan mereka; demi kepercayaan atas takhayul. Tak apa, soal ongkos, ia bisa menggunakan anggaran studi banding. Itu sudah biasa.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 Agustus 2009 at 07:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Membakar Api

with 7 comments

Setelah yakin istrinya menghilang dari rumah sakit, tentu bersama bayi mereka yang baru lahir, Mirdad segera menelepon sang istri. ”Artika, di mana kamu? Bagaimana dengan bayi kita?” Suaranya lebih ditujukan untuk kotak suara, yang diawali pesan pendek Artika, ”Suamiku, jika kamu mau melihat anak kita, kembalikan dulu ayahku ke rumah.”

Lagi-lagi urusan Lohan, pikir Mirdad.

Beberapa minggu terakhir, menjelang melahirkan bayi pertama mereka, keadaan Artika menjadi tak begitu baik. Mirdad sangat khawatir, terutama memikirkan bayi di dalam kandungan istrinya. Dan jika ia bertanya, Artika selalu membawanya kembali ke persoalan itu, ”Aku memikirkan ayahku. Bagaimana aku bisa tenang jika ayahku konon sedang dipasung dan disiksa dan aku tak tahu di mana ia berada.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Maret 2009 at 06:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Gerimis yang Sederhana

with 5 comments

Kenapa pula aku tak mengajaknya bertemu di China Town, pikir Mei. Ia masih berada di belakang kemudi mobil yang disewanya dari Budget di sekitar bandara seharga 30 dollar sehari. Biasanya ia pergi dengan meminjam mobil milik sepupu atau bibinya, tetapi hari ini kedua mobil tersebut tengah dipakai, dan mereka hanya bisa mengantarnya ke penyewaan. Telah lama ia sebenarnya berpikir untuk memiliki mobil sendiri, harganya sepertiga dari harga di Jakarta, tetapi dia masih punya persoalan dengan keterbatasan garasi.

Mei belum juga berhenti. Ia sudah dua kali mengelilingi Jack in the Box dan dari kaca jendela ia bisa melihat Efendi duduk menantinya. Ia juga bisa melihat seorang pengemis berkeliling di antara pengunjung restoran. Ia hanya memperlambat laju mobil tanpa menghentikannya, bersiap mengelilingi Jack in the Box untuk ketiga kalinya. Mencoba menepis kebosanan menunggu, ia mencoba mendengarkan Bad Day yang dinyanyikan Daniel Powter dari salah satu radio FM.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 Desember 2007 at 09:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Penafsir Kebahagiaan

with 5 comments

Pikirnya anak-anak itu menjual jatah mereka kepada seorang lelaki setengah baya yang memperkenalkan dirinya bernama Markum. Lelaki itu muncul begitu saja di satu sore, masuk serta duduk di sofa sambil menenteng koper kecil. Siti membayangkan salah satu dari anak-anak itu juga meminjamkan kunci apartemen kepadanya. Mendengar seseorang masuk, Siti segera keluar dari kamar dan menyambutnya:

Selamat sore.” Markum terkejut dan memandang ke arah Siti. Namun Siti segera berlalu menuju lemari es, bertanya ia mau minum apa. Markum agak tergeragap dan meminta sekaleng minuman soda. Siti membuka sekaleng minuman dan menyodorkannya kepada Markum. Dibukanya jendela, membiarkan angin lembut California menyibak tirai. Setelah minum, Markum tampak lebih tenang dan bertanya:

“Sejak kapan Jimmi membawamu ke sini?”

“Sudah hampir enam bulan.”

Markum mengangguk-angguk kecil, mengelus dagunya sendiri, lalu agak ragu kembali bertanya, “Berapa Jimmi bayar kamu?”

“Ah, berapalah gaji pembantu?” tanya Siti dengan senyum genit.

Jadi kamu pembantu, pikir Markum.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 September 2007 at 13:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Gincu Ini Merah, Sayang

with one comment

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga,” katanya, setelah keterkejutannya reda.

“Katakan itu nanti kepada suamimu,” seorang petugas menjawab.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

1 Juli 2007 at 14:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Caronang

leave a comment »

Kami membawa pulang satu ekor, untuk dipelihara. Baby, bayi kami yang empat tahun itu sangat menyukainya. Bagaimana tidak, ia menyerupai boneka benar, dan hidup pula. Dan lebih jinak dari jenis anjing mana pun. Yang kami khawatirkan hanyalah orang segera tahu bahwa binatang ini bukanlah anjing biasa. Di tempat asalnya ia disebut caronang, cirinya yang paling spesifik adalah bahwa ia berjalan dengan dua kaki.

Awalnya kupikir ia sejenis beruang yang bisa mengangkat tubuhnya untuk menyerang. Tapi ternyata tidak. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari anjing kebanyakan, seukuran pudel. Ia nyaris tak pernah lagi merangkak, tapi berdiri tegak. Anatomi tubuhnya telah jauh berkembang yang memungkinkannya berjalan dengan dua kaki: lihat, pahanya memanjang sehingga lututnya semakin turun ke bawah, tak lagi menempel di perut; kemudian betisnya juga memanjang sehingga tumitnya turun ke tanah (tumit ini sering dikira lutut pada anjing biasa, padahal lutut selalu menyiku ke depan, dan tumit menyiku ke belakang); bagian telapak kakinya memendek, dan sepenuhnya rata dengan tanah. Jari-jarinya memang menyerupai beruang, atau kucing, tapi dalam buku Flora dan Fauna Jawa Masa Lalu yang kubaca, ia sekeluarga dengan anjing. Mereka menyebutnya dalam bahasa Latin sebagai Lupus erectus. Dalam bahasa Indonesia ia tak bernama, juga dalam bahasa Inggris. Buku itu menyebutkan caronang telah punah jauh lebih dulu daripada harimau jawa; mereka tak tahu di rumahku ada satu ekor.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

20 Februari 2005 at 06:51

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: