Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Archive for Maret 2004

Belatung

with one comment

Belatung itu seperti ulat ya, Bu? Ya seperti ulat. Apakah ia juga bisa berubah jadi kupu-kupu? Tidak, belatung tak bisa berubah jadi kupu-kupu. Kenapa tidak bisa, Ibu? Entahlah, Ibu tak tahu. Kasihan ya, Bu? Aku ingin melihat ia jadi kupu-kupu. Tetapi kita tidak bisa. Tapi aku ingin.

Tidak bisa. Aku ingin.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by tukang kliping

28 Maret 2004 at 10:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Como Un Sueño

with one comment

Aku ingin pulang ke Portugis. Atau ke Manhattan dulu. Kamu di sana, ’kan? Aku ingin pulang ke Portugis. Menggendong Nicole di muka Mom dan Dad. Tetapi Nicole sudah terlalu besar. Badannya mungkin sudah lebih berat dariku. Dan dia di Manhattan dengan kewarganegaraan yang mengancamnya di sana.

Ayolah mengingat- ingat masa lalu sebelum membicarakan apa-apa di masa sekarang.

Kelas berapa dia sekarang? Waktu pertama kali meninggalkan Bandung, bukankah dia sudah kelas empat? Lalu kamu mau aku dan dia ikut ke New York. Aku tak menolak. Bahkan kalau kamu memintanya hari ini, aku tetap tak akan menolak: kita hidup bersama.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

21 Maret 2004 at 10:56

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Kembar Buncing

leave a comment »

Tiga hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski lahir di rumah sakit di kota kabupaten, berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.

Tubuh Luh Sarni, yang masih lemas karena melahirkan, kini semakin lemas. Ia masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiga hari lagi dokter membolehkannya pulang. Dengan gundah, ia menatap kedua bayinya yang tidur lelap. Suaminya, Wayan Darsa, tercenung di tepi ranjang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

14 Maret 2004 at 10:58

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Angin dari Ujung Angin

leave a comment »

“Sudahlah Herma, kau tak perlu membayangkan lagi warna wajah ayahmu saat dia menghilang dengan menunggang kuda ke tenggara kota. Yang kutahu, mengenakan topeng emas mirip penunggang kuda dari atas angin 1), sayap di kedua bahunya berkibar-kibar membelah malam. Aku pun tak bisa melihat wajahnya. Mungkin dia telah menjelma iblis. Punggungnya berkilat-kilat, menusuk-nusuk, memisau mata,” kata Hilda, perempuan bergaun tidur hijau muda itu sambil membereskan meja belajar Herma yang dipenuhi lukisan-lukisan pria berkuda berwajah tanpa warna.

Tetapi, teman-temanku bisa mewarnai wajah ayahnya, Ibu. Meskipun Niko melukis wajah ayahnya menyerupai harimau, tetapi dia bisa mengoleskan wara merah di kedua pipinya yang menggelembung,” suara Herma melayang, mendengung di telinga Hilda.

Tak kehilangan akal, Hilda kemudian mengoleskan warna emas di wajah lukisan pria bersayap berkuda gagah itu. “Inilah wajah ayahmu. Dan Ibu harap kau tak bertanya lagi dengan warna apa harus mengoles wajah ayahmu.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 Maret 2004 at 11:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: