Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Di Balik Jendela

leave a comment »


Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit, katanya. Nah, justru itulah yang kukatakan kataku, kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Kurasa benjolan itu mengganggu, bukan karena sakit, tetapi karena kalau tidur, benjolan itu sering pindah-pindah. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Ada rasa ngeri dalam diriku. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas, kataku dalam hati. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas.

Sejak itu, aku menjadi takut ke rumah sakit. Sampai akhirnya, suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Entah berapa lama, aku tidak tahu. Setelah sadar, aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Terpaksa kuperiksakan ke dokter, dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Setelah pulang dari rumah sakit, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter.

Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan, berakhir pukul satu siang. Seperti biasa, kalau pulang, aku selalu mencari teman untuk pulang. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Sendiri aku kembali. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan, membuatku tidak betah. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau.

Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah, aku tidak tahu. Ketika aku membuka mata, orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. Suster, di mana aku? tanyaku. Dengan tersenyum ia menjawab, Bapak perlu istirahat banyak. Jangan terlalu banyak bergerak.

Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Kuraba kepalaku yang nyeri, ternyata dibalut dengan perban. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. Nyeri di kepala dan bagian kaki. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Aku merintih-rintih. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Persis di pantat, jarum itu menancap. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Sejak lama aku menghindari suntikan, kalau boleh dengan menelan obat saja. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap, rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba.

Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. Tidak ada tulang yang patah, hanya luka memar dan benturan di kepala. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius.

Beberapa kali aku disuntik, setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu, tetapi tidak berhasil. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain, sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam.

Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Kami saling menyapa. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya, menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja.

Ketika makan siang usai, kawan yang di sebelahku, yang berbaring dekat jendela menyapaku. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar.

Aku sangat beruntung tidur di kamar ini, dekat jendela pula. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Tadi malam, tengah malam, aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Aku melihat cahaya yang indah. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. Ia menyapaku dengan lembut. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah, ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera, damai. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara, menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Ia melayang jauh, muncul lagi, dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Oh, indahnya. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini…

Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin.

Petang harinya aku membuka mata. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa.

Tidur dekat jendela ini amat nyaman, kawan. Segala derita berlalu, apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. Dan belum lama berselang, ketika Anda tertidur, seseorang menyapa aku. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku, Pak, tidak usah takut. Berjalanlah bersama kami, dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami, mereka rindu bertemu dengan Anda. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan, sebuah pesta yang meriah. Semua orang berpakaian yang indah-indah. Semua tampan dan cantik jelita. Bidadari-bidadari dari kayangan menari, ada suara menarik, ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Lentiknya tangan mereka, ayunannya yang menggoda, hidangan anggur merah yang meriah, oh, nikmatnya.

Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya, seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. Para pelayan yang sopan, persediaan yang tidak habis-habisnya, sungguh menyejukkan hati…

Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku, apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah, ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali, aku bertanya, Suster, mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara.

Suster itu tersenyum. Ia harus mendapat tambahan darah, tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. HB-nya sedang menurun.

Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap.

Paginya, saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini.

Ah, tidak apa-apa. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah.

Ruang penantian? Apa itu?

Kamar paling akhir, jawab suster itu tenang. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya.

Maksud suster? tanyaku penasaran.

Ruang perjalanan akhir, katanya perlahan. Pak, minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan.

Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter.

Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Rupanya ia sedang terburu-buru.

Ya. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu?

Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini?

Ingin udara yang segar.

Baiklah, katanya sambil melangkah ke pintu, Saya akan minta bantuan kawan yang lain.

Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. Setelah suster pergi, aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding, disangga bantal. Kudorong daun jendela, membukanya lebar-lebar. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas, tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua.

Buru-buru kutekan bel. Suster berdatangan ke ruanganku.

Ada apa, Pak?

Suster, tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera…

Kurasa lebih lima belas menit kemudian, aku dipindahkan ke ruang sebelah, di bangsal yang lain.

Bandung, 19 Agustus 2005

Written by tukang kliping

9 Oktober 2005 pada 09:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: