Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sang Mertua

with one comment


Baru satu hari tiba di Yogya dan bermalam di hotel, kepalaku terasa pusing. Rombongan pertemuan wanita baru saja pergi dan aku tinggal sendiri karena kurasa wajahku sebelah terasa nyeri dibarengi kepala yang berat. Kucoba merendam diri di kamar mandi, tetapi rasa nyeri itu tidak hilang juga. Kukira karena perjalanan jauh naik kereta api dari Jakarta-Yogya. Sebelum malam jauh, aku membeli obat sakit kepala, namun sepanjang malam keadaan tidak bertambah baik. Keesokan harinya kukatakan kepada rombonganku bahwa aku tidak dapat mengikuti pertemuan wanita dan pamit pulang ke Jakarta. Rasa pening kepala makin menjadi-jadi, dan sebagian wajahku, pipi sebelah kanan rasanya seperti kaku, demikian Marice menuturkan awal penderitaannya.

Suamiku terkejut melihat aku sudah kembali begitu cepat. Kuceritakan bahwa aku merasa tidak enak badan. Sepanjang dua hari kepalaku nyut-nyutan dan mata sebelah seperti tidak sinkron dengan yang sebelah lagi. Suamiku tampak cemas dan mengajakku pergi ke dokter. Digandengnya aku ke dalam mobil dan sore itu dokter memeriksa wajahku sebelah kanan. Dengan jarinya ia menekan pipiku dan mengatakan adanya pembengkakan. Ia memintaku untuk menceritakan awal mula rasa sakitku. Kututurkan semua gejala yang kurasakan dan kemudian dokter merujuk aku ke rumah sakit.

Pelbagai macam obat kutelan yang membuat rasa nyeri menjadi hilang, tetapi suamiku mengatakan bahwa pipi kananku agak membengkak. Secara patologis aku merasa sakit dan dinyatakan oleh dokter memang sakit, namun apa penyakitku belum diketahui dengan jelas. Berbulan-bulan aku menjadi pasien beberapa rumah sakit dan gonta-ganti dokter, namun keadaanku belumlah membaik. Suatu saat, ketika aku merasa agak baikan, aku minta pulang ke rumah.

Aku cemas jika suamiku menghiburku, jangan-jangan ia tertarik kepada wanita lain mengingat wajahku yang semakin tidak berbentuk. Kuingat masa pacaran dahulu, ketika aku memutuskan hubungan dengannya sekadar untuk menguji sejauh mana cintanya, membuatnya menderita demam. Mengapa aku ”memutuskan” tali cinta sebagai uji coba, karena kudengar darinya bahwa saudara-saudaranya dan orangtuanya tidak setuju mendengar kami menjalin cinta kasih, karena berbeda suku. Konon, ibunya mengatakan bahwa seorang gadis sedang menunggunya di kampung halaman dan menyuruhnya segera kembali. Nyatanya, ia mencintaiku dan kami menikah. Pesan ibuku kepadaku, juga sebagai nasihat yang kupegang teguh, ialah:

Nak, kalau nanti menikah, perlakukan suamimu seperti tuanmu, apa pun pangkat dan jabatanmu. Layani ia di meja makan kalaupun terlambat pulang ke rumah, sediakan makanan untuknya dan duduk di dekatnya. Tunggu ia sampai selesai makan. Perhatikan, jika makan, jangan berikan sisa makanan untuknya. Bila ia belum kembali dan terpaksa kau lebih dahulu makan, atau entah dengan siapa di rumahmu, selalulah pisahkan untuknya. Bila kau bangun tidur, bereskan tempat tidurmu. Jangan sekali-kali biarkan pembantu rumah tangga membenahi tempat tidurmu. Dan itu semua kulakukan dengan penuh perhatian sehingga suamiku merasa selalu diperhatikan. Akankah cintanya akan berkurang karena kini melihat wajahku sangat berbeda? Bengkak sebelah karena daging tumbuh yang nyaris menutupi seluruh kupingku sebelah kanan?

Dari hari ke hari suamiku selalu pulang ke rumah tepat waktunya dan selalu duduk di dekatku sambil membelai punggungku. Kuingat, pernah sekali kami berjalan mendaki bukit bersama rombongan. Entah karena licin, aku tergelincir dan segera ditangkap suamiku yang berjalan di belakang dan kemudian membopongku sampai ke atas. Kawan-kawan yang lain yang sesuku dengan suamiku tersenyum-senyum. Kutanyakan kepada suamiku mengapa mereka tersenyum-senyum, seolah-olah ada sesuatu yang menggelikan? Suamiku menjawab bahwa di tengah-tengah suku mereka tidak lazim suami memangku istri di tengah-tengah orang lain. Oh, kalau di tempat sunyi, boleh? jawabku. Untuk menjawab aku, suamiku tidak langsung berkata kepadaku, melainkan kepada kawan serombongan, mengatakan bahwa lebih baik aku menyelamatkan istriku dengan menggendongnya daripada ia cedera dan masuk rumah sakit. Toh saya juga yang rugi, bukan? katanya. Kawan-kawan serombongan tetap saja tersenyum-senyum, sambil mengangguk-angguk.

Setahun kemudian aku memeriksakan diri ke rumah sakit khusus kanker dan hasilnya mencengangkan. Menurut pemeriksaan laboratorium, aku divonis stadium tiga. Dokter berulang-ulang memerhatikan gambar hasil potret daging tumbuh di pipiku, hasilnya selalu dinyatakan dengan geleng-geleng kepala. Kami tidak sanggup, katanya. Akarnya telah merambat ke mana-mana. Mereka angkat tangan, padahal dokternya sudah profesor yang terkenal ke mana-mana di bidangnya.

Aku bertekad dalam hati, tidak mau mati. Anak-anakku dan suamiku sangat memerlukan kasih sayangku. Aku berdoa dan berdoa kepada Tuhan agar mukjizat diturunkan kepadaku. Dalam keadaan sulit seperti ini, datang surat dari kampung halaman suamiku. Dalam suratnya yang panjang lebar itu, ada sebuah kalimat yang menyentuh hatiku: Barangkali istrimu ada kesalahan kepada Ibunda yang jarang dijenguknya…. Ya, Tuhan! kucoba kutelusuri lubuk hatiku, mungkin ada kesalahan kata, maklum mulutku rica-rica (mengucapkan kata yang pedas), atau kesalahanku kepada saudara-saudara pria dan wanita dari kerabat suamiku. Kurasa tidak ada. Tetapi, apa salahnya kalau aku datang menemui mertua perempuan yang tinggal sendiri dan meminta ampun kepadanya karena jarang kujenguk dan suami selalu terlalu sibuk. Katanya, perilaku demikian juga adalah wujud dari rasa tidak sopan dan tidak tahu ”adat”. Suku suamiku memang keras dengan adatnya.

Walaupun dalam keadaan sakit kukatakan kepada suamiku supaya pulang kampung. Ibu mertuaku pun sedang sakit dan pernah kukirim sesuatu kepadanya. Suamiku terharu dan merangkulku sambil bertanya, ”Kau bisa berjalan ke sana?” Kujawab, ya. Apa pun akan kulakukan dengan kesehatan mertua dan kesehatan jiwaku juga. Bahkan, kalau diminta untuk mencium kakinya, aku mau.

Sebuah kerinduan yang timbul dalam diriku, kalau aku minta ampun kepada ibu mertua, penyakitnya mungkin akan sembuh dan barangkali Tuhan juga akan mengampuniku dan memberi kesembuhan kepadaku. Dalam keyakinanku, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Dan perjalanan pulang kampung halaman pun dimulai. Di Medan aku terpaksa masuk rumah sakit beberapa hari. Dokter memberikan obat untuk menahan rasa nyeri. Perjalanan pulang ke kampung, seperti kata suamiku, adalah perjalanan sulit yang pertama kali kulakukan. Di kampungku sendiri tidak ada perjalanan sesulit ini. Delapan jam perjalanan! Jalan yang berliku-liku dan menikung, antara gunung dengan lembah, dan jurang yang dalam. Suamiku memelukku sepanjang jalan yang membuat penumpang lain tersipu-sipu, mungkin mereka menganggapku perempuan yang manja. Entahlah. Perjalanan ini benar-benar melelahkan bagiku.

Menjelang senja kami tiba. Rumah mertuaku yang cukup besar membuat hatiku lega. Tapi, jangan tanyakan soal kenyamanan untuk mandi dan membuang hajat. Itu di luar pemikiran orang kota. Tetapi, tidak apalah. Aku harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi.

Ibu mertuaku tersenyum menyambut kedatanganku. Ia tidak bisa berdiri. Duduk pun susah. Segera aku bersimpuh di dekat tempat tidurnya yang beralasan tikar. Kupegang tangannya dan kusapa ia dengan bahasanya (yang kupelajari dari suamiku sebelumnya), yang membuatnya agak kaget. Ia meraba wajahku sambil mengangguk-angguk. Aku memohon maaf kepadanya karena lama tidak pernah menjenguknya. Rupanya, keadaan ibu sudah cukup parah sehingga ia sulit bangun dari tempat tidur.

Paginya, aku memasak air panas dan memandikan ibu. Kusuapi ia dengan makanan pagi. Ia mengunyahnya. Wajahnya berseri-seri. Kutanyakan kepada saudara perempuan suamiku apakah selama ini Ibunda mau makan, mereka menjawab, tidak. Rupanya, setiap kali diberi makan, mereka hanya menaruh makanan di dekat ibu dan membiarkannya makan sendiri. Mula-mula ia dapat makan sendiri, tetapi lama-kelamaan ia tidak mampu bangun, dan membiarkan makanan dingin di sampingnya. Kutanyakan mengapa tidak dialas dengan kasur, mereka menjawab bahwa kasurnya sering basah dan akhirnya rusak. Kubeli kasur baru untuknya, dan setiap hari kuberi makan dan kuganti pakaiannya.

Seminggu kemudian Ibunda sudah dapat duduk dan nafsu makannya pulih kembali.

Pada suatu hari ibu mertuaku mengatakan bahwa ia ingin makan kue dan aku membawakan kue untuknya. Saudara-saudara perempuan suamiku menjadi amat ramah kepadaku, tetapi mereka sering tertawa cekikikan kalau suamiku duduk di sampingku sambil memberi makan ibu. Apalagi kalau suamiku menggandengku di dekat ibu, mereka tertawa tersipu-sipu. Melihat itu, ibuku tidak berkata apa-apa. Kesehatan ibu mertuaku semakin membaik. Sekalipun sibuk, aku dapat tidur dengan nyenyak. Kalau hendak makan, suamiku selalu menungguku, sampai selesai mengurus ibu.

Senyum saudara-saudara suamiku, yang lelaki dan perempuan, selalu mengembang setiap kali suamiku duduk di sampingku, atau duduk di tangan kursi yang kududuki. Akhirnya aku memberanikan diri dan bertanya kepada mereka, ”Apa ada yang keliru dengan kami berdua?” Mereka akhirnya menjawab dengan senyum dikulum, ”Kalian suami-istri yang mesra….”

Oh, tanpa kami sadari lingkungan kami, kami bersikap seperti di rumah sendiri. Dan itu menggelikan bagi mereka. Tetapi, salah seorang dari saudara perempuan suamiku bercerita di beranda, ketika ibu mertuaku sudah lelah di kamar, katanya:

Menurut ayah kita, almarhum, ibu adalah seorang yang keras. Kerasnya bagaikan batu cadas, kata ayah. Kalau ibu mengatakan tidak, ya tidak. Sekalipun gempa bergoyang-goyang, dia tidak akan goyah….

Maksudnya? tanyaku tidak sabaran.

Ayah menikah dengan ibu karena dijodohkan orangtua masing-masing. Ibu sendiri tidak menolak pernikahan itu. Pesta meriah diadakan. Semua gembira dan senang. Setelah pernikahan itu, ayahlah yang menjadi tidak senang. Ibu selalu menghindar dari ayah. Bukan satu minggu, dua minggu, bahkan berbulan-bulan. Untung ayah seorang pemuda yang sabar dan penuh dengan pertimbangan. Enam bulan berlalu, ibu selalu menghindari ayah.

Lepas bulan keenam, ayah mengajak ibu ke kebun untuk menggarap kebun. Rupanya, di kebun itulah ibu mengenal ayah sebagai suami, dan sejak itu keduanya tidak dapat dipisahkan, siang malam.

Dan setiap tahun, anaknya lahir….

Ketika ayah meninggal dunia, bertahun-tahun ibu merasa kehilangan yang amat sangat, yang membuat kesehatannya semakin merosot. Dan, kehadiran kalian berdua membuat semangatnya hidup kembali, kemesraan kalian itulah!

Aku menatap suamiku, dan suamiku mengeratkan tangan kirinya di pinggangku, sementara saudara-saudaranya menatap lurus ke depan, entah memandang siapa.

Setahun kemudian kuperiksakan penyakitku ke dokter lain di kota lain, sang dokter membaca hasil rontgen, lalu berkata, ”Kita akan operasi,” Dan ternyata, gumpalan daging dan akar-akarnya semua dicabut. Dokter mengatakan semuanya bersih!

Wajahku dijahit kembali dengan lapisan dari kulit perutku. Beberapa minggu kemudian suamiku datang dan memelukku. Kutanyakan, ”Apakah kau tetap mencintaiku?” Jawabnya, Tetap!

Pelukannya mengingatkan aku kepada Sang Mertua.

Bandung, 11 Juni 2008

Written by tukang kliping

7 September 2008 pada 02:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setahun kemudian kuperiksakan penyakitku ke dokter lain di kota lain, sang dokter membaca hasil rontgen, lalu berkata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: