Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tembiluk

with 41 comments


Di masa silam, anjing itu tak lebih dari anjing biasa, milik seorang tuan yang mendalami ilmu hitam.

Puncak kedigdayaan ilmu hitam itu adalah hidup abadi, alias tak bisa mati. Namun, setiap kaji-penghabisan tentulah membutuhkan pengujian, agar pencapaiannya benar-benar tak diragukan. Maka, pada suatu malam keramat, ia menggorok leher anjingnya hingga putus dari batang leher, dan kepala hewan itu menggelinding seperti buah mumbang jatuh dari pohon. Sebelum penyembelihan, ia memasang jimat di ekor anjingnya, disertai mantra gaib yang hanya bisa dilafalkan oleh pengikut jalan sesat seperti dirinya. Ia tidak bermaksud membunuh anjing kesayangannya, karena ia hanya sedang membuktikan kedahsyatan ilmu yang telah sempurna dikuasainya.

Sembari menunggu jasad anjing tanpa kepala benar-benar tergeletak sebagai bangkai, dengan pisau yang sama, ia menyembelih leher sendiri. Juga putus, dan sebutir kepala menggelinding tak jauh dari kepala anjingnya. Dengan tangan bergelimang darah, ia memungut masing-masing kepala untuk dipasang ke masing-masing badan. Celakanya, tuan itu keliru. Ia menancapkan kepalanya ke leher anjing. Sebaliknya, melekatkan kepala anjing ke batang lehernya, hingga pada malam itu terwujudlah seekor anjing berkepala manusia, dan seorang manusia berkepala anjing. Seketika, kedua makhluk ganjil yang tak direncanakan itu melesat lari menuju arah yang berlawanan. Dan, selama bermusim-musim mereka tidak pernah bertemu.

Puluhan tahun kemudian, di malam gelap-bulan orang-orang kampung Lubuktusuk mendengar bunyi gemerincing rantai akibat gesekan-gesekan dengan kerikil jalan. Anjing berkepala manusia dipercayai sedang berkeliling kampung, mencari kepalanya yang telah berpindah ke lain tubuh. Gemerincing itu mengerikan. Orang yang terbilang paling berani berhadapan dengan jinaku atau hantu-belau sekalipun, bila mendengarnya tetap saja gamang. Ketimbang turun, dan memeriksa asal bunyi ke halaman, ia lebih memilih merapatkan selimut kain sarung. Bagi yang terbangun, akan berupaya tidur kembali hingga terbebas dari mendengar bunyi itu. ”Hantu pemburu”, begitu mereka menamainya. Bukan pemburu babi, sebagaimana anjing-anjing biasa, tapi pemburu kepala sendiri, yang sudah hilang selama berpuluh-puluh tahun.

***

Kenapa mereka hanya memercayai bahwa yang beralih-rupa menjadi hantu adalah anjing berkepala manusia? Ke mana perginya tuan pemilik anjing yang sudah pula beralih-wujud menjadi manusia berkepala anjing? Bukankah beberapa saat menjelang subuh, di kampung itu juga terdengar suara lolongan yang meremangkan segala macam bulu? Lolongan yang tersimak bagai rintihan kesakitan, dan sekali waktu terdengar bagai isyarat meminta pertolongan. Apakah tidak ada kemungkinan bahwa suara itu datang dari mulut manusia berkepala anjing? Tak ada yang berpikir sejauh itu. Mereka menganggap tuan pemilik anjing telah raib sejak peristiwa malam keramat. Perihal kehilangan itu, ada dua riwayat yang tertanam di Lubuktusuk.

Pertama, selepas malam celaka itu, tuan yang setelah diurai silsilahnya ternyata bernama Tungkirang, hengkang dari Lubuktusuk. Mustahil ia bertahan di kampung dengan gelar ”anjing” di belakang namanya, dan lebih tak mungkin lagi, mempertontonkan tabiat anjing di tengah-tengah kampung. Ia bertolak ke selatan, menuju rimba Puncak Sicupak, hutan pekat yang pada masa itu belum terjamah. Di sana ia membuat sarang yang tersuruk di kedalaman belukar. Dimangsainya segala macam hewan berdaging, mulai dari babi, kijang, hingga ular dan biawak. Tatkala rimba Puncak Sicupak mulai dijejaki orang, beberapa pencari kayu gaharu dikabarkan hilang di sana. Konon, mereka telah diterkam oleh Tungkirang, manusia berkepala anjing. Itu sebabnya, di masa kini, orang-orang yang bepergian melewati Puncak Sicupak, melepaskan seekor anak ayam ke dalam rimbun semak, sebagai penghormatan pada Tungkirang.

Kedua, Tungkirang bertolak ke kota. Zaman itu, jalan belum diaspal, dan setiap perjalanan masih ditempuh dengan pedati, atau berjalan kaki. Namun, Tungkirang menapakinya dengan berlari secepat mungkin. Siang ia bersembunyi di tempat-tempat sepi, dan bila malam tiba ia kembali berlari, dan berlari. Begitulah pengembaraannya dari satu kota ke kota lain, dari tahun ke tahun, hingga tibalah ia di sebuah kota besar yang kini menjadi kiblat para perantau. Di kota itu Tungkirang diselamatkan oleh seorang lelaki yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa. Lantaran budi-baiknya, Tungkirang menghamba sebagai anjing istana. Dengan ketajaman penciuman yang menakjubkan, ia mengendus setiap muslihat yang hendak menjatuhkan kuasa tuannya. Suatu ketika, tuannya tertuduh sebagai otak di balik skandal penggelapan uang negara, yang bila terbukti bakal menggulingkan kekuasaannya. Di sinilah kehebatan Tungkirang diperlukan. Setiap gelagat yang mengungkit-ungkit keterlibatan tuan itu sudah diendusnya lebih dulu, dan lekas dilaporkannya. Tak ada yang luput dari pengendusan manusia berkepala anjing, hingga tuannya nyaris tak tersentuh. Ia berlumur dosa, namun tampak suci, bagai tanpa noda. Tanpa Tungkirang, tentu ia sudah meringkuk di penjara. Itu sebabnya, musuh-musuh tuan besar terus bersiasat guna menaklukkan Tungkirang, atau sekalian melenyapkannya bila perlu.

Seorang peramal yang dipekerjakan oleh salah satu musuh tuan besar menyarankan: ”Satu-satunya cara melumpuhkan anjing itu adalah mengembalikannya menjadi manusia.”

”Bagaimana caranya?”

”Bius. Lalu, culik!”

”Tuan baru berpikir akan mencelakainya, Tungkirang sudah tahu. Ia lebih licin dari intel paling lihai sekalipun.”

Dengan kemampuan gaib tingkat tinggi, peramal dapat menjelaskan asal mula anjing istana itu. Tersebutlah sebuah kampung bernama Lubuktusuk. Banyak yang ragu, banyak pula yang bersetuju. Tapi demi tegaknya keadilan, dikirimlah utusan guna mencari makhluk berwujud anjing berkepala manusia.

***

Orang-orang Lubuktusuk tidak perlu takut lagi pada gemerincing rantai yang dulu mengancam di malam gelap-bulan. Sebab, anjing berkepala manusia sudah tertangkap. Rantai itu kini berada di genggaman lelaki pencari madu-lebah bernama Tembiluk. Orang-orang Lubuktusuk menamainya ”manusia rimba” karena lebih kerap tinggal di hutan ketimbang menghuni rumahnya di kampung Lubuktusuk. Ia hanya akan turun ke kampung bila madu-lebah hasil panjatannya sudah cukup untuk dijual ke pasar. Atau bila ada panggilan darurat dari tetua kampung karena ada persoalan genting yang tak terselesaikan. Misalnya, ada jagoan yang memeras petani-petani karet, atau sekadar menggertak orang-orang yang diam-diam menjual getah karet ke luar Lubuktusuk ketimbang pada tengkulak induk-semang mereka.

Para jagoan itu sukar ditaklukkan lantaran rata-rata mereka adalah para pengguna ilmu sesat yang sudah pasti kebal senjata. Orang yang sanggup meladeni ancaman itu hanya Tembiluk. Sudah tak terhitung begundal yang ia patahkan tiada ampun. Baginya, tidak ada orang yang benar-benar kebal. Tak bisa ditikam dengan pisau atau lading, dengan ilalang atau butiran padi ia menusuknya. Bila tak mempan, ia akan mengerahkan kesaktian paling ampuh; meneriakkan sebuah mantra di pangkal telinga musuh. Keparat pengacau seketika akan menggigil ketakutan dan lari terkangkang-kangkang. ”Seumur-umur ia tidak akan berani lagi menginjakkan kaki di kampung ini,” begitu biasanya Tembiluk menegaskan.

Ini pula yang terjadi pada suatu musim kemarau, semasa sapi dan kambing peliharaan orang kampung kerap menjadi santapan harimau lapar. Tembiluk memaklumatkan teriakan di mulut rimba pada suatu petang. ”Huaaaaaaaa, uwiwua, uwiwua, huaaaaaa,” begitu kira-kira bunyinya. Menurut para tetua, alamat teriakan Tembiluk mendengar mantra itu bagai sambaran petir yang mematikan. Sejak itu, di musim kering paling ganas sekalipun, tiada seekor harimau pun yang masuk kampung. Begitulah sepak-terjang Tembiluk yang telah meringkus anjing berkepala manusia. Setelah mendengar teriakan maut Tembiluk, makhluk itu berubah jinak dan menurut saja ketika Tembiluk menggiringnya ke rimba Bukit Kecubung. Ia mengatakan bahwa tuan yang dicari-cari anjing itu telah enyah dari Lubuktusuk, hingga percumalah segala upayanya selama ini. Anjing berkepala manusia sudah punya tuan baru. Sebagai balasan atas kebaikan Tembiluk, ia mengabdi sebagai anjing peliharaan yang saban petang berkeliling rimba guna mengendus sarang lebah siap-panjat. Tembiluk merawat anjing itu seperti merawat telapak kakinya sendiri. Pertemanan mereka berlangsung lama, hingga pada suatu hari rimba Bukit Kecubung dikunjungi gerombolan orang berpenampilan necis. Mereka memohon kesediaan Tembiluk untuk menyerahkan anjing berkepala manusia itu.

”Masa depan negeri ini sangat bergantung pada hewan milik Bapak,” bujuk salah seorang dari mereka.

”Menyerahkan makhluk itu sama artinya dengan menyelamatkan bangsa.”

Jauh sebelum kedatangan mereka, Tembiluk sudah tahu bahwa manusia berkepala anjing telah menjadi biang kebangkrutan. Uang rakyat terus- terusan dirampok, pejabat bersekongkol dengan aparat, hukum tajam ke bawah. Pemimpin terpucuk yang telah menyengsarakan rakyat harus segera diseret ke meja hijau. Tapi, Tungkirang terus menghadang. Ia akan berhenti bila sudah dipertemukan dengan anjing peliharaannya, bila mendapatkan wajah asalinya.

Anjing berkepala manusia menghentak-hentak, lantas lari terengah-engah. Ia menolak dibawa pergi meski akan bertemu dengan tuan masa silamnya, dan akan kembali menjadi anjing biasa. ”Hanya Bapak yang bisa menangkapnya,” harap ketua gerombolan.

Mudah bagi Tembiluk mengembalikan hewan itu. Ia tidak lari, hanya bersembunyi dari orang-orang yang tampak begitu bernafsu. Tembiluk tak bisa melihat kejernihan di raut wajah mereka. Keruh sempurna. Alih-alih itikad baik untuk menyelamatkan negeri itu, Tembiluk justru menangkap isyarat tentang watak kemaruk. Ketajaman penciuman anjingku juga ajaib, sebagaimana Tungkirang. Dengan hewan itu, mereka bisa memancangkan kuasa baru yang jauh lebih rakus, batin Tembiluk, sebelum ia menghilang di kedalaman rimba.

Tanah Baru, 2012

Written by tukang kliping

27 Mei 2012 pada 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

41 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ini baru namanya cerpen..banyak yang bernada sindiran dengan menampilkan hal2 nyata, tapi baru ini yang benar-benar oke, salut buat penulisnya.

    emdak

    30 Mei 2012 at 10:51

  2. Waduh, benar-benar mantap, cerpen yang bagus, satu cerita yang diolah secara matang, Sip, Salam kenal buat buat Pak Damhuri Muhammad…

    Ottang K.Baddy

    30 Mei 2012 at 11:39

  3. Menyimak🙂

    Pilo Poly

    30 Mei 2012 at 12:12

  4. Siiipz🙂

    rendy

    30 Mei 2012 at 13:13

  5. Saya sangat menikmatinya. Terima kasih atas tulisannya. Keren, keren, dan keren

    Hendra J. Hamzah

    30 Mei 2012 at 21:24

  6. keren penyajiannya …

    tubuh lebih menentukan dari kepala?

    faver

    30 Mei 2012 at 23:08

  7. kenapa ada dua kemungkinan kemana perginya tungkiran? ,tahun ini cerpen kompas koq jelek jelek amat sih..

    Abi asa

    31 Mei 2012 at 03:02

  8. sippp…

    khana

    31 Mei 2012 at 08:26

  9. SELALU MENYAJIKA SEBUAH KRIITIKAN,,, SURIALIS MENJADI ANDALAN CERPEN2 KOMPAS,,,
    SIP. ANJING BERKEPALA MANUSIA DAN MANUSIA BERKEPALA ANJING…. AJAIB,,,

    sule

    31 Mei 2012 at 13:58

  10. Aaaak, beraaat. dibolak-balik, anjing berkepala manusia, manusia berkepala anjing,
    membingungkan, tapi kalimat terakhir itu memang keren.

    Pelajar Jogja

    1 Juni 2012 at 23:54

  11. cerpen yg menarik unik bangat

    vivi

    2 Juni 2012 at 01:21

  12. lumayan lama mengerti maksudnya❤

    nurafnieka

    3 Juni 2012 at 12:01

  13. bagus buanget,,,,suka,,,

    dejavu

    3 Juni 2012 at 18:48

  14. begitulah kehidupan, kadang2 manusia kl tak bisa mengendalikan nafsunya dia akan bisa sifatnya seperti anjing

    made kariawan

    4 Juni 2012 at 10:43

  15. cukup absur dan slmbolik. ada kesamaan dengan Iwan Simatupang.

    wildanmattara

    9 Juni 2012 at 18:21

  16. Membaca cerpen yang bermetafora, untuk memahaminya biasanya sejak awal harus mengernyitkan dahi, berhenti sebentar membaca untuk merenung dan berpikir, kalau masih bisa.Tapi membaca cerpen ini meskipun sejal awal sudah bermetafora melalui anjing berkepala manusia, dan manusia berkepala anjing, ternyata tidak terlalu sulit untuk memahaminya, ceritanya tidak berbelit-belit. Sebelum membaca cerpen ini kebetulan baru saja membaca bukunya Maman S Mahayana yang diantaranya tertulis; Itulah sastra, sebuah dunia yang sangat ditentukan oleh kehendak imajinasi, cerpen ini sangat kurasakan penuh dengan imajinasi penulisnya. Gambaran masyarakat saat ini cukup digambarkan dengan 3 pelaku, yaitu anjing berkepala manusia, manusia berkepala anjing dan Tembiluk, dan ternyata Tembiluk yang lugu, manusia rimba, yang pada akhirnya masih punya pikiran bersih dan mampu menangkap isyarat apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi. Sebuah cerpen yang tidak saja menghibur tapi memberikan pekerjaan lanjutan kepada pembacanya, yaitu merenung dan mencari jawabnya dalam kehidupan nyata.

    Eko Wahyu

    10 Juni 2012 at 21:07

  17. Luar biasa

    piono hadi

    12 Juni 2012 at 14:11

  18. wah sangat bagus cerpennya. terimakasih atas cerpen yang bermanfaat ini. sudah hampir satu jam saya ada disini maklum cerpen2nya bgus semua. nanti bila ada waktu saya akan kembali mengunjungi blog anda ini …semoga dalam keadaan sehat selalu.

  19. baru baca separuh saya udah nyengir, …enak banget cara penyajiannya enggak pusing, jadi terus baca deh; padahal saya baru lihat-lihat doang .

    fatonah

    25 Juni 2012 at 08:21

  20. interpretasinya good…

  21. tak pernah terbayang ketika membacanya seakan saya masuk kedalam dunia yang penuh kisa gepal pekat dan menyeramkan… sebuah apresiasi kepada penulis..

    rijal gayo

    26 Juni 2012 at 20:21

  22. seperti nonton film,tegang tapi mengasyikkan tank

    cholis

    1 Juli 2012 at 12:21

  23. bagus cerpenx bisa jd referensi tugas saya. bisa minta tolong biografix gak?

    NI Luh Sari Asih

    5 Juli 2012 at 18:33

  24. ceritanya unik banget,hilang deh suntukku hari ne

    miftah

    8 Juli 2012 at 14:12

  25. karya yang bagus..

    heru kelana

    16 Juli 2012 at 06:54

  26. baguusss (y)

    yuri

    18 Juli 2012 at 23:20

  27. Siapa Yaa Sosok Tembiluk D Indonesia. .???

    Phie

    8 Oktober 2012 at 12:50

  28. cerpen nya bagus. Singkat padat, tak betele tele.selamat buat pak DM

    nevatuhella

    17 November 2012 at 12:33

  29. saya gak paham

  30. Great,,, pgn bsa nulis kyk gt,,,

    aryana

    7 Januari 2013 at 13:38

  31. Ide cerita yang sangat menarik….

    lauradorindira

    3 Desember 2013 at 22:21

  32. orang jujur dan hatinya bersih lebih memilih mengasingkan diri di “hutan” karena di “keramaian” sudah dipenuhi orang2 busuk…cerpen yg sangat bagus

    edwin

    6 Februari 2014 at 15:05

  33. bagusss sekali 🙂

    rinda

    10 Februari 2014 at 13:25

  34. memang cerpen surealis khas kompas. penuh simbol-simbol yang tidak mudah untuk dicerna.

  35. teng –

    Mkd Aan's

    12 Maret 2014 at 10:19

  36. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:05

  37. Tak ada itikad baik, alih-alih berdalih. Ide sederhana nan nyata.🙂

    anashadidamrulloh

    31 Agustus 2014 at 14:56

  38. bagus ciritanya ijin copas hehehhe
    buat tugas

    yudha

    3 September 2014 at 19:38

  39. Bagus dan menarik, bisa dijadikan bahan tugas analisis cerpen

    Abd. Majid

    3 Desember 2014 at 12:46

  40. Reblogged this on I'm qory//Blog and commented:
    Tembiluk – Repost

    qory shelo

    2 Mei 2015 at 22:28

  41. Selalu suka lah😀

    Qory Shelo

    2 Mei 2015 at 23:42


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: