Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lidah

with 23 comments


Matahari telah muncul di timur. Cahaya kuning menyeruak dan menguasi permukaan langit. Bola api raksasa itu merangkak mendaki hingga sepenggalah ketinggiannya. Biasanya di waktu seperti itu Rena sudah berada di dapur. Memasak atau mencuci tumpukan piring kotor. Tapi tidak di pagi itu. Saat itu dia merasakan tubuhnya capek dan kepala agak pening. Maka dia masih tiduran di dalam kamar.

Di luar kamar, terdengar ibu mertuanya sibuk mengomel. Sesekali juga terdengar perempuan tua itu membentak-bentak.

”Dasar ayam pemalas. Sepagi ini masih nyekukruk, seperti ayam gering (sakit). Sana keluar cari makan!”

”Wuttt, glontang, klotakkk, brukk!” bunyi sepotong kayu dilempar.

”Sial, dia lagi-lagi menyindirku,” umpat Rena dalam hati.

Ya, tidak sekali dua kali ucapan ibu mertuanya membikin merah telinga Rena. Melukai perasaannya. Dan pagi itu entah yang keberapa. Rena menganggap perempuan itu sudah keterlaluan. Dengan mengatakan dirinya sepagi itu masih nyekukruk seperti ayam digampar penyakit.

Memang, Rena juga mendengar suara kokok ayam berlarian. Mungkin ternak itu berusaha menghindari lemparan kayu. Namun dalam keyakinannya, ucapan ibu mertuanya tidak semata-mata ditujukan pada ayam. Sebab mana mungkin ayam yang tak berakal disodori ucapan dan bentakan seperti itu. Tentu yang dimaksud ibu mertuanya adalah dia yang saat itu masih mendekam dalam kamar.

Teringat oleh Rena, kejadian seperti itu bukan satu-satunya yang membuatnya makin membenci ibu mertuanya. Meski perempuan tua itu adalah ibu kandung suaminya yang seharusnya dia anggap sebagai ibu kandungnya juga. Dua hari lalu terjadi pula peristiwa lain yang tak kalah sengitnya.

Saat itu Dino, anak Rena yang berumur tiga tahun, bermain kejar-kejaran dengan si Bidin, anak tetangga sebelah. Demi menghindari tangkapan Bidin yang mengejarnya, Dino masuk rumah. Di waktu menutup pintu depan, Dino membantingnya dengan amat keras. Maka ketika mendengar pintu berdentar, ibu mertuanya terperanjat bagai mendengar bunyi petasan. Wajahnya merah padam karena marah, dan dalam pandangan Rena keriput kulit wajah ibu mertuanya tampak makin menyeramkan.

”Eh, bocah kurang ajar. Jangan keras-keras kau banting pintu. Bisa sempal nanti. Kau tahu, ini rumahku, bukannya rumahmu, bukan rumah ibumu. Kau tinggal menempati saja pakai membanting pintu segala.”

Saat mendengar ocehan itu, Rena merasakan hatinya seperti dibakar. Ucapan ibu mertuanya ibarat anak panah yang melesat dari busurnya dengan kecepatan tinggi. Sekilas mengarah ke Dino, tapi ternyata berbelok dan menancap di ulu hatinya.

Rena yakin, mustahil omongan penuh sindiran itu ditujukan pada Dino, bocah tiga tahun yang belum jelas mengucapkan bunyi tiap-tiap abjad. Bocah itu bahkan belum mampu menemukan perbedaan antara kidal kata sifat dan kadal sebagai kata benda. Pastilah yang dimaksud ibu mertuanya sebagai ”orang yang tak punya rumah dan tinggal menempati saja” adalah dirinya. Sementara Dino hanya cengengesan mendengar celoteh neneknya. Renalah yang merasakan ulu hatinya bagai tertusuk puluhan jarum berbisa.

Lambat laun, kebencian Rena pada ibu mertuanya makin menebal. Dia bahkan merasa tak betah lagi tinggal di rumah itu. Hidup satu atap dengan seorang perempuan renta, namun banyak sekali bicara. Rena mulai dihinggapi perasaan muak. Gerah dengan segala tingkah mertuanya yang baginya terlalu mencampuri urusan orang.

Hampir tiap hari Rena harus menyiapkan kelapangan dada ekstra. Merelakan diri jadi papan sasaran bagi omelan, ocehan, serta sindiran ibu mertuanya. Begitu bencinya, Rena sampai menduga memang ada susuk emas tertanam di kedua bibir perempuan tua itu. Maka tak heran, meskipun tanpa deretan gigi yang menopang sehingga mulutnya tampak ompong, toh dia masih begitu lincah berujar. Selalu melimpah ruah dalam menumpahkan kalimat.

Pernah di satu kesempatan Rena mengadukan rasa tidak betahnya pada suaminya. Namun saat mendengar pengaduan Rena, suaminya hanya tersenyum. Lelaki itu seperti telah mengetahui kenyataan itu. Dan dengan enteng saja berkata

”Ya, namanya juga orang tua, Re. Saya kira di mana-mana seperti itu.”

”Tapi Mas, saya kira ibu sering keterlaluan.”

”Sudahlah. Tak usah diambil hati. Anggap saja ucapannya hanya angin lalu. Aku yakin kau bisa melakukannya. Kau tahu kan, perilaku orang tua itu memang mirip anak kecil. Juga tuntutan dan permintaannya. Bagaimana pun juga dia adalah ibuku.”

”Tapi, kalau begini terus rasanya aku tidak betah lagi tinggal di sini. Ayo kita pindah saja. Kita mengontrak atau apalah, yang penting pergi dari rumah ini.”

”Ah, kamu ini jangan mikir aneh-aneh. Kita punya rumah sendiri kok mau mengontrak rumah.”

”Rasanya aku tidak betah lagi tinggal di rumah ini.”

Suami Rena tampak memahami apa yang menjadi akar masalah. Lelaki itu juga tahu, ibunya yang telah renta itu memang banyak omong. Kadang sering mengurus hal-hal sepele yang tak perlu. Namun tidak mungkin dirinya sebagai seorang anak meninggalkan ibunya sendirian di rumah.

”Sabarlah, Re. Aku tahu, ada begitu banyak ketidakcocokan antara kau dan ibu. Aku sadari kenyataan itu. Tapi aku mohon padamu Re, bersabarlah. Jangan kau sodorkan padaku buah Simalakama. Kalau kita pindah dari rumah ini, lalu bagaimana beliau yang sudah setua itu. Siapa yang akan mengurusnya. Ah sekali lagi, sabarlah, please,” ucap lelaki itu memohon. Dan Rena tak bisa berbuat apa-apa.

Pernah juga Rena keceplosan bicara. Dia mengumbar masalahnya dengan ibu mertuanya di depan teman-temannya. Rena pikir sesama wanita tak apalah bila dia membicarakan soal itu. Saat itu mereka berkumpul di halaman sekolah taman kanak-kanak tempat anak-anak mereka belajar dan bernyanyi. Seperti biasa, saat anak-anak asyik belajar mengeja dan menyanyi bersama guru mereka, para ibu yang mengantar tak mau kalah. Mereka membentuk kelompok diskusi di luar kelas. Ah, bukan ”diskusi” yang terdengar intelek, tapi sekadar kelompok ngerumpi di antara para wanita pengantar anak sekolah.

”Ah, kalau aku jadi kamu, sudah kusuruh suamiku memilih antara dua pilihan. Apakah mau tinggal terus dengan ibunya atau denganku. Daripada kumpul satu rumah berantem terus sama mertua,” ucap ibu Jeny. Perempuan yang selalu berdandan wah saat mengantar anaknya ke sekolah.

”Betul jeng, biar tidak makan hati lalu bisa-bisa mati ngenes sampean.” Ibunya Agus menambahkan.

”Tapi, aku kasihan pada suamiku. Dia harus menghadapi pilihan yang amat dilematis,” ucap Rena mencoba membantah usul teman-temannya

”Halah! kasihan apanya. Salah sendiri punya ibu banyak cingcong. Ngapain juga kita berkumpul dengannya di satu rumah. Eh, kalau gitu terus, bisa habis dagingmu sebab memikirkan ibu mertuamu, ya nggak Bu Agus?”

Mendengar namanya disebut, ibunya Agus mengangguk. Rena makin bingung dalam pusaran bermacam usulan yang dilontarkan teman-temannya. Salah seorang teman Rena yang bernama Monar mengajak Rena sedikit menjauh dari kelompok itu. Lalu setelah menoleh kiri-kanan, Monar membisikkan sesuatu ke telinga Rena

Rena mengangguk-angguk saat Monar menjelaskan sesuatu.

Begitulah. Hari terus berlalu dan perang saraf antara Rena dan ibu mertuanya pun terus berlanjut. Hingga pada akhirnya, Rena benar-benar kalah melawan diri sendiri. Lapisan kesabaran yang selama ini dia bangun mulai ambruk. Rena terperosok dalam kondisi gelap mata, lalu mengambil keputusan nekad. Dirinya nekad akan melakukan apa yang pernah disarankan Monar.

***

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Rena mendatangi rumah lelaki itu. Seorang lelaki tua yang kerap dijuluki orang sebagai ’orang pintar’. Seperti juga pernah diceritakan Monar.

Di depan orang pintar itu Rena mengadukan masalahnya. Terlebih kebenciannya pada ibu mertuanya yang telah sampai ubun-ubun. Rena memang telah gagal menjalani nasihat suaminya untuk bersabar. Maka di depan lelaki berusia uzur itu, Rena menceritakan niatnya untuk melenyapkan ibu mertuanya.

”Emm, apa kamu serius ingin melakukan itu?” tanya lelaki tua.

Rena hanya mengangguk. Dia merasakan dadanya bergemuruh

”Lalu ingin cara yang bagaimana? Maksudku, cepat atau perlahan?”

”Kalau bisa secepatnya Mbah. Saya sudah tidak betah.”

”Heh, ingat! Terlalu cepat malah bisa menimbulkan kecurigaan. Nanti bila polisi membongkar, malah kau akan menanggung risikonya.”

”Lalu bagaimana, Mbah?”

”Menurutku, gunakan cara halus. Meski perlahan namun hasilnya pasti. Tak apa agak lamban, tapi aman. Saya jamin semua akan beres.”

Begitulah, saat pulang lelaki tua itu memberi Rena sebungkus serbuk. Dia katakan serbuk itu mengandung zat arsenik mematikan, namun baru bereaksi setelah lewat satu bulan. Setelah serbuk itu bekerja, maka tak akan ada yang tahu bahwa ibu mertuanya mati sebab diracuni orang. Orang akan mengira perempuan itu meninggal sebab usia tua. Saat mendengar orang pintar itu menyebut kata arsenik, Rena sempat teringat kasus kematian seorang aktivis di atas pesawat terbang. Saat orang yang getol memperjuangkan HAM itu bepergian ke negeri Belanda. Ya, Rena pernah membaca berita itu.

Orang pintar itu juga berpesan pada Rena agar bersikap sopan dan manis pada ibu mertuanya. Meskipun semua itu hanya sebatas pura-pura. Bahkan jika perempuan tua itu mengomel atau memarahinya. Toh dia akan mati juga. Rena tak keberatan melaksanakan pesan orang pintar itu.

***

Tiap pagi dan sore, Rena rajin menaburkan serbuk putih itu dalam makanan yang dikonsumsi ibu mertuanya. Dia juga pura-pura bersikap manis dan sopan pada ibu mertuanya. Seperti pesan lelaki tua itu. Bahkan saat ibu mertuanya mengomel-ngomel atau berteriak marah, Rena menyambut semua itu dengan keramahan dan senyuman. Meski dalam hatinya, Rena ingin segera melihat serbuk itu bereaksi walau belum sebulan.

Belum genap sebulan, Rena merasakan ada yang berubah. Sikap ibu mertuanya makin melunak. Perempuan tua itu juga amat ramah dan sopan pada Rena. Tak pernah lagi dia mengucapkan kata-kata kasar atau memperlihatkan sikap yang menyakitkan hati Rena. Karena perubahan itu, kebencian Rena pada ibu mertuanya seperti terkikis lalu longsor. Dan anehnya, Rena menjadi khawatir bila serbuk yang tiap hari dia tabur di atas makanan perempuan tua itu bereaksi.

Rena mulai bimbang, hingga akhirnya dia putuskan datang lagi ke rumah orang pintar itu.

”Mbah, sekarang saya kok malah takut bila racun itu bereaksi.”

”Bereaksi? Ah, tidak akan pernah itu.”

”Lho memangnya, Mbah?” Rena belum mengerti

”Sejujurnya, itu bukan arsenik. Tapi penyedap rasa untuk setiap masakan. Dan rupanya serbuk itu telah menaklukkan lidah ibu mertuamu. Pulanglah, kukira masalahmu dengan ibu mertuamu telah selesai.”

Rena tak menyangka dengan semua itu. Namun dia bersyukur sebab tak sampai menjadi seorang pembunuh. Meski dirinya selamat dari pengetahuan polisi, namun dirinya tak akan selamat dari vonis nuraninya sendiri. Dan dia mengakui, lelaki tua itu memang sangat pantas serta sesuai jika dijuluki ’orang pintar’. Seperti pernah dibisikkan Monar saat berada di halaman sekolah TK.

Gresik 2009

Written by tukang kliping

24 Januari 2010 pada 08:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

23 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Klise….

    Rio

    24 Januari 2010 at 15:26

  2. Masih jauh lebih baik dibanding cerpen minggu sebelumnya. Terima kasih Kompas.🙂

    A

    24 Januari 2010 at 15:28

  3. iya,terima kasih kompas. engkau begitu baik, menerima setiap kasih yang lembut dan yang sedikit pengecut.

    ayam gering? semoga penulisnya dr jawatimur. hore!

    S. Raga

    24 Januari 2010 at 17:30

  4. @Raga

    Ah, bung Raga…saya tidak boleh menyukai tulisan ini lebih daripada tulisan anda?
    Saya pengecut bila berkomentar seperti itu di sini?
    Boleh saja kalau anda memaksa saya berkomentar di cerpen anda
    TAPI
    saya kan sedang mengomentari cerpen ini?

    Cerpen ini memang saya anggap lebih baik daripada cerpen anda kok?
    Tidak boleh?🙂

    A

    25 Januari 2010 at 06:57

  5. yah, sudah nunggu2 selama seminggu, cerpennya nyontek dari dongeng cina.. ampun deh!

    grom

    25 Januari 2010 at 07:44

  6. Heran Masak kompas belum pernah baca cerita ini sebelumnya, padahal ini jelas2 novel jiplakan. Dilegenda Cina Ada, Di Doa sang kataknya antone de Mullo juga ada.
    Bagi penulisnya apa ya nggak malu punya karya contekan kaya gina

    W_Master

    28 Januari 2010 at 11:09

  7. plagiat betul. saya ingat pernah baca cerita yang serupa.

    penunggang kuda besi

    30 Januari 2010 at 13:15

  8. Aneh, kalian ini kalau mau balas-balasan kata ya lewat karya dong. Malu juga indonesia punya sastrawan kayak kalian. Nggak mutu.

    Ira

    31 Januari 2010 at 10:58

  9. cerpen ini bagus karena pesan yang disampaikan baik yang dibungkus dengan penceritaan yang sederhana

    @bba

    4 Februari 2010 at 15:17

  10. Lebih seru yg pd berantem drpd cerpennya.. Ha.ha.ha. Piss bung!

    Seto

    7 Februari 2010 at 11:32

  11. Ada yang saya gak suka sama tampilan cerpen ini, dan ini kritik untuk Kompas, ilustrasinya, ya ampun!!! Kayak iklan kios rokok hehe.

    Menurutku cara bertutur cerpenis cukup memukau. Sehingga kita baru sadar, setelah membacanya, kayaknya cerita ini pernah baca di sini, situ dst.

    Bamby Cahyadi

    10 Februari 2010 at 20:38

  12. kok kayanya aku pernah baca cerita ini ya….apa benar ini gak nyontek?

    alex

    13 Februari 2010 at 07:13

  13. IlHAM

    15 Februari 2010 at 14:55

  14. tak kasih judul lagi fik.telp aku

    lutfi

    20 Februari 2010 at 15:07

  15. lumayan, aq tunggu cerita cerita selanjutnya

    milzam

    26 Februari 2010 at 11:34

  16. yang paling penting dalam berkarya adalah kejujuran. menulis dari hal yg paling kita ketahui. terinspirasi boleh-boleh saja, tapi janganlah terinspirasi 100%……..

    Ikan

    5 Maret 2010 at 16:02

  17. Nilai 0,5 poin dari 10 poin

    Aa kim

    14 Maret 2010 at 16:31

  18. Hahaha cerpen realis yang menarik dengan alur cerita yang sederhana dan plot yang terjaga. Sedikit mitos antropologis yang memasukan unsur ayam yang pada masyarakat kita dikenal, kalau kita bangun kesiangan, rejeki kita dipatok ayam. Juga unsur psikologi sosial, bagaimana seorang Rena yang mendapat tekanan individu dari mertuanya, kemudian mendapat masukan dari kelompok sosialnya (ibu-ibu rumah tangga) untuk membunuh ibu mertuanya dengan serbut resink yang ternyata bumbu masak. Parodi penyelesaian yang menarik dari sebuah ending cerita, sehingga pembaca bisa tersenyum dibuatnya. Happy anding….

    Remmy Novaris DM

    8 April 2010 at 21:32

  19. mau jiplakan atau apappun penulis kan sudah berusaha….mungkin memang ada cerita yang mirip tapi apakah yang komentar itu tahu jelas penulis “menjiplak”??

    saya jadi memahami lidah si ibu mertua seperti apa, sehingga membuat rena sangat sakit hati.

    ^^

    dharmaadi suyano

    25 Desember 2011 at 18:23

  20. hus! berkarya sajalah…!

    Muhammad Rois Rinaldi

    24 April 2013 at 03:47

  21. bukan hanya lidah mertua yang tajam, jika udah nikah lidah ibu kandung juga sering tajam jika masih ngumpul hehehe….

    yeti wulandari

    30 Maret 2014 at 14:10

  22. Reblogged this on Kumpulan Puisi Suara Hati.

    Han-sangpencinta

    30 Mei 2016 at 22:47


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: