Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Seekor Anjing Manis

with 31 comments


Manisha nyaris terlambat sekolah. Ia bangun kesiangan karena semalam menonton televisi sampai larut, sampai-sampai justru televisi itu yang menonton dirinya terlelap di sofa ruang tamu. Mungkin acara televisi itu terbawa hingga ke dalam mimpinya, bahkan mungkin saja dalam mimpi itu Manisha kembali menonton televisi, lantas tertidur lagi, maka ia pun akan bermimpi di dalam mimpi. Betapa lelapnya tidur yang seperti itu.

Sayangnya, ia harus masuk sekolah. Maka pagi ini Manisha terjaga setelah ibunya tak henti-henti menggedor pintu kamar.

Ketika membuka mata, cahaya matahari sudah separuh menerangi kamarnya. Ia pun bangkit, melemparkan selimut, lalu mandi dengan sangat tergesa-gesa. ”Itu masih ada sabun di telingamu! Dibilas yang bersih!” bentak ibunya ketika ia baru keluar dari kamar mandi.

Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat jam dinding, sudah pukul tujuh kurang lima belas menit, padahal ia belum juga mengenakan seragam, apalagi sarapan. Dan seolah sudah bisa menebak, ibunya segera membungkus nasi yang sudah terhidang di meja makan. ”Ini, dimakan nanti kalau istirahat.” Kata ibunya, masih dengan nada tinggi. Manisha mencoba untuk tersenyum sebagai tanda terima kasih, tetapi tak bisa, atau lebih tepatnya, tidak sempat. Sementara itu, ayahnya pasti belum pulang, sebagai satpam bank, ayahnya sering mendapat giliran jaga malam, sangat jarang Manisha menemui sang ayah pagi hari, padahal kalau ayahnya ada, ia bisa bermanja-manja sebentar untuk meminta uang saku tambahan, bahkan ibunya bisa mendadak berubah sabar, tidak berbicara dengan nada tinggi seperti pagi ini.

Manisha selesai memakai sepatu, bungkusan nasi hangat hanya dengan lauk tempe itu dimasukkan ke dalam tas, lalu ia pun bergegas meninggalkan rumah. Ia sangat terburu-buru, sampai-sampai uang saku yang telah disiapkan ibunya di atas meja tidak diraihnya. Bahkan, ia tak sempat berpikir adakah pekerjaan rumah apa yang harus disiapkan hari ini. Ia berhambur keluar rumah tanpa sempat mencium tangan atau mengucapkan salam.

Ia segera berlari, suara buku-buku terguncang di dalam tas. Ia melewati beberapa petak bunga di pekarangan, lalu menelusuri trotoar yang berpasir. Sebenarnya sekolah Manisha tak begitu jauh, kalau berjalan santai, sepuluh menit saja sudah sampai. Sekolahnya terletak di seberang jalan raya, Manisha hanya harus melewati trotoar, lalu masuk ke sebuah gang, muncul di jalan raya, lantas menyeberang. Namun ternyata, selepas melewati trotoar, di sebuah gang itulah ia mendapat masalah.

Di gang sempit itu langkah Manisha terhenti dan memicingkan matanya.

”Sejak kapan ada anjing di situ?” gumamnya. Ia melihat seekor anjing yang sedang meringkuk di sudut gang, tentu saja ia heran, sebab kemarin-kemarin gang itu lengang, ia bisa melenggang bebas sambil menempelkan tangannya pada sepanjang dinding gang yang dingin dan lembab. Tetapi kenyataan berkata lain pagi ini, sudah terlambat masuk sekolah, ada anjing pula.

Sepertinya anjing itu sedang tidur. Hewan itu membaringkan dirinya agak jauh di tepi gang sana, Manisha sudah berjalan sampai ke tengah-tengah hingga akhirnya melihat anjing yang sedang menggeletak sangat santai itu, sepasang kaki depan dilipat untuk menopang dagu, dengan mata terpejam, seolah menunjukkan bahwa anjing itu pemalas, tetapi mungkin juga anjing itu sedang kekenyangan, mungkin baru selesai melahap kucing kumal yang memang tak lagi punya harapan untuk hidup. Mungkin sudah beberapa ekor kucing yang diterkam hingga hewan itu tak mampu menopang tubuhnya untuk sementara waktu sehingga kini memilih untuk berbaring saja.

Manisha terpaksa berhenti, napasnya masih tersengal setelah berlari di sepanjang trotoar, ia menggaruk-garuk kepalanya, rambut yang sudah tersisir rapi itu kini sedikit berantakan, sekarang ia diam saja, sementara waktu terus beranjak, detik demi detik beranak pinak. Manisha kebingungan, ia berharap anjing itu tidur saja yang lelap. Mata binatang itu memang banyak tertutup, tetapi bukankah pendengaran seekor anjing sangat peka? Ah, betapa sempitnya gang itu. Sepeda motor saja tak bisa datang dari dua arah, harus ada yang mengalah. Manisha menunggu sejenak, berharap ada yang lewat situ untuk memberinya pertolongan, sebab ia tidak mungkin pulang lagi, ibunya pasti marah besar. Terkadang ia menyesal mengapa punya rumah yang hanya bisa dilewati melalui sebuah gang. Sebenarnya dahulu tidak ada gang sempit itu, hanya saja, sejak lahan tak jauh dari rumahnya terkena dampak pembangunan mal, maka gang itu pun terbentuk dari sebuah mal di bagian kiri, dan toko bertingkat yang sudah lebih dulu ada di bagian kanan. Sejak itulah, kalau mau berangkat dan pulang sekolah, hanya gang tersebut jalan terdekat yang bisa dilewati. Sementara kalau lewat trotoar harus berputar terlalu jauh, lama, dan sangat melelahkan.

Waktu bergulir pelan tetapi pasti, Manisha semakin kebingungan, ia memandangi hewan yang masih tetap meringkuk di sudut gang. Anjing itu berbulu hitam legam, entah berasal dari ras apa, sepertinya kumuh sekali, kalau lebih diperhatikan, hidungnya berlendir, lidahnya juga terjulur, ada liur yang tak kunjung menetes ke tanah. Jangan-jangan sudah mati? Entah mengapa tiba-tiba Manisha sudah berada lebih dekat dengan anjing itu. Ia melangkah perlahan dalam keadaan setengah melamun, tetapi sewaktu sadar, ia pun kembali menjauh dengan jantung berdebar kencang.

”Kalau begini terus, tidak bisa sampai di sekolah.”

Manisha berpikir. Sayangnya, di kamusnya tak ada kata bolos, ia harus tetap masuk sekolah, sebab bolos adalah hal yang bisa membuat ibunya sangat murka, tadi pagi ibunya sudah marah-marah karena ia kesiangan, padahal ia paling takut dengan kemurkaan ibunya. Meski ia tahu ibunya sayang kepadanya, tetapi kalau marah tetap saja mengerikan. Biasanya, ia suka pura-pura tertidur kalau sedang dimarahi, menutupi telinganya dengan bantal agar tak mendengar suara ibunya yang terus-menerus berbicara, dan biasanya pula sang ibu akan menunggu, sampai kapan Manisha bisa sabar untuk pura-pura tertidur, terkadang ia bisa benar-benar tertidur pada akhirnya, terkadang pula tetap tak bisa tidur, hanya bisa menunggu emosi ibunya reda, dan akhirnya, mereka akan saling menunggu, siapa yang paling sabar di antara keduanya.

Sudah ratusan kali Manisha dimarahi ibunya, entah karena kesalahan fatal semacam menumpahkan gula dari stoples, atau membiarkan air keran kamar mandi terbuka yang menyebabkan airnya meluber, sampai beragam alasan yang menurutnya mengada-ada. Lama kelamaan, Manisha bisa dikriminalisasi oleh ibunya sendiri. Bahkan gadis itu sempat berpikir bahwa ibunya tidak benar-benar sayang kepadanya. Lebih jauh lagi, pernah terlintas seburuk-buruk pertanyaan dalam otaknya, apakah ia benar-benar anak kandung dari seorang wanita yang suka memarahinya nyaris setiap hari itu? Manisha pernah mendengar tetangga bercerita bahwa ia sebenarnya ditemukan di jalan, menangis dalam kardus yang digeletakkan di tepi trotoar, ada juga yang bilang bahwa ia diambil dari panti asuhan, tetapi ibunya selalu mengatakan itu semua tidak benar, dan ia percaya bahwa para tetangga memang hanya bercanda, apalagi banyak yang berkata bahwa hidung dan pipi Manisha mirip sekali dengan milik ibunya.

Meski begitu, Manisha tetap tak mengerti mengapa ibunya suka marah-marah, apakah ibunya mengidap penyakit? Ia terkadang iri kepada kawan-kawan sekelasnya, ia iri kepada Suminten yang suka dibawakan bekal bermacam-macam, ”Ibuku tadi pagi buat roti kismis, besok rencananya mau buat brownies.” Begitu biasanya Suminten akan berbangga-bangga, sementara Manisha cukup diam saja. Ia juga sering iri kepada Nalea, kawan sebangku yang selalu dijemput ibunya sepulang sekolah baik cerah ataupun hujan, sementara Manisha tak pernah dijemput, berangkat sendiri, pulang pun sendiri. Tetapi ia sadar bahwa ibunya memang tidak punya waktu untuk menjemput, ibunya adalah tukang cuci yang setiap hari sibuk berkeliling dusun untuk menerima cucian-cucian kotor. Oleh karena itulah Manisha sudah biasa melakukan banyak hal sendiri.

Jadi, kalau ia mendapat masalah seperti sekarang ini, Manisha harus menyelesaikan sendiri.

Dan ternyata ia juga lupa membawa jam tangan kecil, ia melihat pergelangan tangannya, hampa, ia tak tahu sekarang sudah jam berapa, ia tak tahu bel sekolah sudah berbunyi atau belum. Ia belum juga ingat bahwa ada dua pekerjaan rumah yang akan dikoreksi hari ini. Ia nyaris tak peduli lagi seandainya Bu Mursleh—guru Matematika berkacamata yang suka bawa camilan ke dalam kelas itu—tiba-tiba mengadakan ulangan mendadak. Sekarang perhatiannya hanya tertuju pada anjing itu. Tubuh hewan itu memang tidak cukup besar. Tetapi bulunya yang hitam legam nan lebat membuat Manisha ngeri. Tentu ia takut digigit, apalagi ia tahu gigitan anjing bisa menimbulkan penyakit, kemarin ia melihat berita wabah rabies yang menelan banyak korban di suatu daerah, siapa tahu anjing ini membawa penyakit yang sama!

Manisha menelan ludah, kalau harus digigit, ia lebih suka digigit si Jupritus saja, teman sekelas yang terlampau nakal itu.

Kemudian Manisha mengingat sesuatu, rasanya ia pernah mendengar cerita-cerita tentang anjing, entah itu dari kawannya atau mungkin dari ayahnya, ia sudah lupa siapa yang bercerita, ia hanya ingat isinya, semacam teori, bahwa kalau lewat di dekat anjing yang tertidur harus tenang, tidak boleh lari, karena kalau lari anjing itu justru mengejar, sebab langkah kaki yang terburu-buru sangat mengganggu. Tetapi teori itu seperti berbalik di kepalanya, yang terbayang adalah: Kalau berjalan terburu-buru maka anjing itu akan memburunya dengan segera, kalau berjalan tenang maka anjing itu akan memakannya juga dengan tenang penuh kedamaian.

Tidak. Tidak. Manisha menggelengkan kepalanya. Ia menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya, ia heran mengapa nyaris tak ada yang lewat gang itu. Hanya sosok orang-orang berkelebat saja, tak ada yang berbelok, tetapi ia juga tak mau ibunya tiba-tiba muncul di situ dengan wajah mengerikan. Ia ingin libur dari amarah sang ibu barang sehari—kalau pun bisa, apalagi di gang ini ia tak bisa pura-pura tertidur seperti biasa kalau ibunya tiba-tiba muncul di ujung situ.

Manisha mencoba untuk kembali melangkah, berat sekali. Dan semakin dekat, rasa takutnya justru semakin bertambah, apalagi sesekali anjing itu menggeliat, mungkin hewan itu tahu ada yang sedang menunggunya terjaga, mungkin hewan itu senang ada gadis kecil yang memerhatikannya. Itu artinya, Manisha dan seekor anjing sedang bermain kucing-kucingan perasaan.

”Anjing manis, Manisha mau lewat.” Ia mengucapkan kalimat itu seperti doa. Sebab, ia hanya bisa berharap anjing itu pergi dari gang. Cukup itu saja.

***

Matahari bergegas naik, cahaya berangsur-angsur terik. Di sebuah gang sempit yang tidak begitu kumuh, seekor anjing sedang tertidur pulas, binatang berkaki empat itu mungkin tengah bermimpi ada di sebuah kebun surga, merebah di pangkuan bidadari jelita. Sementara tak jauh dari situ, ada seorang anak SD yang sudah terlambat sekolah, dia berdiam di situ sebab takut melangkah, dia masih menunggu anjing tersebut pergi, dia mengira hewan mengerikan itu hanya pura-pura tertidur, sama seperti dirinya kalau sedang dimarahi ibunya.

(Situbondo, 2009)

Written by tukang kliping

17 Januari 2010 pada 21:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

31 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. seharusnya pesan cerpen itu lebih akurat. saya suka temanya tapi kepenulisannya kurang sreg! good!

    fandrik hs putra

    18 Januari 2010 at 09:52

  2. Gak juga, kok. Saya selalu suka tekniknya yang halus tanpa perlu bertele-tele,, teknik yang mirip kawabata.

    Straw

    18 Januari 2010 at 10:44

  3. Di dunia ini cuma ada satu Kawabata🙂

    A

    19 Januari 2010 at 07:06

  4. Biasa ajah..terlalu jauh mengaitkannya dengan Kawabata…

    Pengunyah Sirih

    20 Januari 2010 at 06:01

  5. Pandangan tiap orang berbeda, tergantung menikmati sebuah karya dari sisi mana.

    Straw

    20 Januari 2010 at 15:04

  6. hem…. menarik.. hanya saja bahasanya lebih di dramatisir aja miar “nyelekit”

    ahnku

    22 Januari 2010 at 16:14

  7. Mungkin remeh bagi kita tapi tidak bagi Manisha. Sederhana. Asyik.

    yuditeha

    23 Januari 2010 at 08:58

  8. Kurasa cerpen ini renyah sebagai makanan. Dan pelan sebagai dentuman. Jadi, sebagai makanan, kita harus menikmatinya segigit-segigit, dikunyah dan ditelan. Dan sebagai ledakan, dentumannya cukup di dalam kuping saja. Bum! Sialan Raga mentupnya dengan sangat elok. Sungging Raga, menang 1-0

    Bamby Cahyadi

    23 Januari 2010 at 20:19

  9. cerita manis dalam kado berpita. banyak orang sudah tahu tapi tetap banyak yang masih mau tahu. jadi memang layak bagi yang suka.

    dona

    23 Januari 2010 at 20:44

  10. Cerita yg cukup sederhana dengan konflik yg kuat. Sayang, bagian terakhirnya sedikit mengganggu.

    Rio

    24 Januari 2010 at 15:16

  11. Atas permintaan Bung Raga, saya berkomentar juga di sini…

    Saya anggap cerpen ini kualitasnya masih kalah baik dibanding cerpen tgl 24 Januari.

    Bung Raga sangat pandai merangkai kata2. Puisi2 karyanya yg diposting di blog beliau sangat bermutu dan sangat nyaman dibaca.
    Tapi, untuk merangkai sebuah cerita, buat saya pribadi, ada sebuah ganjalan tema yg saya rasakan di semua karyanya yg pernah saya baca.
    Seperti komentar Dona, banyak org yg sudah tahu.
    Dan mungkin saya termasuk yg tidak mau tahu.

    Tidak ada yg salah dari Bung Raga. Tapi saya pikir saya jg punya hak untuk tidak menyukai tema2 yg beliau tulis. Jadi rasanya tidak perlu beliau menyebut saya ‘pengecut’ hanya karena saya lebih menyukai tema cerpen tgl 24 januari.
    Terima kasih banyak🙂

    A

    25 Januari 2010 at 07:06

  12. Saya suku dengan prolog-prolog Raga dalam cerpennya, termasuk yang ini. Seketika membangkitkan gairah saya untuk menyusuri kalimat-kalimatnya. SELAMAT.

    Guntur Alam

    30 Januari 2010 at 13:52

  13. komentar A tetap pedas… komentar dgn kejujuran memang lebih baik.

    krn sy hanya penikmat cerpen mka sy bilang sy cukup bisa menikmati wlaupun kurang berkesan.

    semangat trus berkarya..

    kunto

    1 Februari 2010 at 16:52

  14. si A pengecut krna tdk mau menunjukkan identitas aslinya.

    klo komentarnya sih saya tdk pduli, yg pnting saya ttp nulis.

    S. Raga

    2 Februari 2010 at 11:06

  15. Saya penikmat cerpen-cerpen Kompas. Saya juga penikmat kritikan sdr A. Selalu ada yg menarik. Untuk dipelajari dan diterapkan.

    RY

    2 Februari 2010 at 11:32

  16. @S.Raga

    Hmm…komentar anda kok mirip om B ya?
    Apakah anda Sungging Raga yg asli atau hanya memakai nicknamenya saja?

    Apapun alasannya, saya sudah menjelaskan panjang lebar pada om B dulu. Tidak perlu saya ulangi lagi pada anda.

    Mudah2an anda bukan Sungging Raga yg asli.

    A

    2 Februari 2010 at 11:36

  17. Mudah2an anda bukan cuma seorang pengecut yang bersembunyi di balik nickname Sungging Raga.

    A

    2 Februari 2010 at 11:43

  18. ceritanya simpel,,,khas S.raga
    yogya mana?
    ehm untuk saudara A, saya suka sekali gaya2 kritikannya,,meskipun pedas tp membangun. salam kenal. semoga suatu hari saya juga mendapat kritikan dari Anda

    yuyun

    21 Februari 2010 at 08:12

  19. @Yuyun

    Salam kenal jg saudari Yuyun. Sebenarnya menurut saya semua tulisan yg dimuat pada dasarnya cukup baik, krn saya yakin semua penulisnya pasti jg sudah berusaha yg terbaik.
    Yg lebih menjadi perhatian dan keprihatinan saya adalah peran media itu sendiri, dlm hal ini Kompas, sbg ‘wasit’ yg bijaksana dlm menentukan tulisan siapa dan seperti apa yg dimuat.
    Saya doakan semoga suatu hari tulisan anda bisa dinikmati oleh para pembaca di sini. Sukses!

    A

    22 Februari 2010 at 07:01

  20. @yuyun: yogyanya di daerah selokan mataram ugm. km di jogja juga? maenlah ke CS.net, saya jd OP wrnet serabutan di sana🙂

    @bung A: rasanya lama tak bersua. wah, saya masih ingt “persteruan” qt bbrp minggu lalu itu. itu memang saya kok, bukan org lain pake nick saya. harap maklum ya bung A. di usia 22 ini emosi saya masi blm stabil. jd sering mudah tersulut gtu deh, bisa dblg blm dewasa.

    ttg kritik bung A thd karya2 saya, ya saya trima2 aj deh, mngkin itu tandanya diam-diam bung A menyayangi saya. hwehehehe. salam damai.

    Raga

    22 Februari 2010 at 13:39

  21. @A: terimakasih saudara A
    @Raga: wow keren masih muda mas raga ini udah nembus kompas,jadi iri.hehehe. ini raga nama asli kan kalo seumpama saya mampir ke warnet itu.

    yuyun

    22 Februari 2010 at 14:53

  22. @Raga

    Bung Raga, terimakasih akhirnya mau mengkonfirmasi komentar anda.

    Mungkin utk kesekian kalinya perlu kita ingat bersama, seni itu sangat subyektif.
    Anda sbg penulis pasti subyektif. Saya yg pembaca jg pasti subyektif.

    Yg seharusnya obyektif itu kan redaktur media.

    Krn itu dari awal keprihatinan saya utk redaktur sastra koran Indonesia, di forum ini redaktur Kompas tentunya, adalah kurangnya keragaman.
    Baik dari segi tema, gaya, dan terutama keragaman nama2 penulisnya.

    Apa salahnya memuat 52 penulis dlm setahun misalnya?
    Toh karya2 yg mungkin menurut redaktur jelek, sebenarnya bisa saja sangat bagus menurut pembaca?
    Toh setelah itu ada pemilihan2 cerpen terbaik tiap tahunnya?
    Dari situlah bibit2 penulis baru yg potensial akan mengalir lebih lancar.🙂

    A

    22 Februari 2010 at 16:21

  23. @yuyun: ya, panggilanku Raga. aku yg paling kecil di warnet.. hehe. tak tunggu lho kdatangannya

    @bung A: saya jg sednag terus mempelajari seluk beluk seni.. tp utk kurangnya keragaman,,rasanya memang sulit menuntut redaktur agar memperluas seleranya sehingga bisa menampung cerita dg brbagai corak.. saya misalnya klo jd redakturnya, saya bakal tolak smua cerpen lokalitas,, sebab yg namanya selera, kecenderungan lebih menyukai satu hal drpd yg lain, kyknya bakal slalu ada, meski org itu pny kewenangan tinggi sbg redaktur, seleranya (yg berbau subyektif) ttp aj sdikit bnyk akan mempengaruhi pilihannya (kecuali dia diancam, klo gak beragam bakal dipecat)

    jd mau gmn lagi, ya pasrah saja bahwa masa depan cerpen ada di tangan segelintir redaktur itu. atau gmn klo A yg jd redaktur? wah, saya jd pengen nulis cerpen brjudul “A”, hehehe.

    Raga

    22 Februari 2010 at 17:31

  24. @Raga

    Subyektifitas hanya bisa dilawan dgn sistem atau aturan.

    Misalkan aturan kecil seperti 52 penulis dalam setahun saja.
    Dgn begitu redaktur ‘terpaksa’ harus memilih tulisan2 yg mungkin ‘di luar’ seleranya.
    Tapi toh hak si redaktur tadi sama sekali tdk berkurang kan? Dia ttp pny hak 100% utk menentukan tulisan mana yg dimuat.
    Adil buat penulis. Tetap adil utk redaktur. Dan yg terpenting adil buat pembaca.

    A

    23 Februari 2010 at 07:00

  25. mw tanya cerpen kompas terbaik th 2009 and 2010 ap y??
    pleaseeee……tolong bantuin bwt referensi skripsi!!!:D

    debi

    13 Maret 2010 at 15:31

  26. Cerpen terbaik tahun 2009 “Smokol” karya Nukila Amal. Dan tahun 2010 kayaknya, menurut saya, antara yang 3 ini (tanpa peringkat, menurut urutan pemuatan):
    “Hantu Nancy” Ugoran Prasad
    “Tukang Cuci” Mardi Luhung
    “Kaki yang Terhormat” Gus Tf Sakai
    Ayo, siapa yang lain coba memprediksi?🙂

    bhoernomo

    9 April 2010 at 10:51

  27. apik,..

    puitri

    13 Desember 2010 at 10:58

  28. siiip!

    kafiyatun hasya

    15 Desember 2010 at 10:47

  29. sederhana tapi mengena….

    yeti wulandari

    30 Maret 2014 at 14:24

  30. woi ini tanggal berapa sih cerpennya

    Valerie Devina

    25 November 2014 at 08:08

  31. […] Seekor Anjing Manis (17 Januari […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: