Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kulihat Eyang Menangis

leave a comment »


Sudah hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir, kemudian dibiarkannya mencair. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. Kalau toh ia tertidur, itu bukan karena ia ingin. Mungkin hanya karena terlalu lelah. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang.

“Gendut sudah datang?” ujarnya pelan.

Mbok Nah diam. Kantuk masih menggelayutinya. Pertanyaan serupa diulang, namun tetap tanpa jawaban. Eyang Putri tak tega bertanya lagi, melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan.

Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan, memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. Pada siang yang murung itu, seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan, hingga warna itu berubah tua. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya, “Mana Eyang Putri?”

“Masih di kamar. Kami juga sudah menunggu lama. Bagaimana kabarmu, Ndut? Anak dan istrimu sehat?” ujar perempuan itu.

“Ya, mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?”

“Kemarin. Tapi sayang, Masmu Jito tidak ikut. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…”

“Yang lain mana?”

“Di ruang tengah. Mereka sudah lama menunggumu.” Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah.

“Ndut…” suara kakak-kakak Gendut kompak, seperti koor. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi, yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita, Swandaru yang anggota DPRD, dan Drajat yang pengusaha real estate. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya, kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka, persisnya sejak Lebaran tahun lalu.

“Di mana Eyang Putri?” bisik Gendut di telinga Drajat.

“Di kamar. Sudah hampir satu jam kami menunggu…”

“Ada apa? Apa beliau sakit?”

“Tidak. Tapi, entahlah. Sebaiknya ditunggu saja…”

Gendut mengeluarkan rokok kreteknya, hendak menyulut, tapi dicegah Ambar.

“Eyang Putri tidak senang bau rokok..”

Gendut memasukkan rokok di sakunya.

Swandaru merangkul Gendut, “Ndut, coba kamu temui Eyang Putri. Kamu kan cucunya yang paling disayangi.”

“Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru, Mbak Kunti, Mbak Ambar, atau Mas Drajat?”

“Beda Ndut… beda… Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar.”

Gendut termangu. Empat pasang mata mengepung dirinya. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. Setelah diam beberapa jenak, Gendut pun beranjak. Pintu kamar itu diketuknya, perlahan.

“Siapa?” suara lirih dari dalam kamar.

“Saya Gendut, Eyang…”

“Gendut? Tunggu…”

Pintu pelan dibuka, namun hanya beberapa puluh senti. Gendut langsung menyelinap masuk. Semua kakaknya saling memandang.

Aku tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. Aku menebak, pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka.

Ketika menonton televisi, mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Seperti yang kami kenal, wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan.

“Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. Perkara pembangunan itu macet, ya bukan urusan saya. Kalian mesti tanya developernya.”

“Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?” desak wartawan.

“Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya, dong. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani, semua beres. Nggak ada komplain.”

“Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?”

“Tanya itu developer. Tanya mereka…”

“Tapi developer itu sudah bikin statement, mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?”

“Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Temui saja Pak Rambela!”

Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. Aku ngomel sendiri, mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. Anak dan istriku tampak cemas. Mereka menangis. Aku terus mengomel, hingga commercial break memotong tayangan berita itu.

Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami.

Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri, tapi HP-nya off. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan, tapi gagal.

Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang. Mereka pun langsung masuk rumah sakit.

Kami sama sekali tidak menyangka, Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan, yang gigih menentang setiap penyimpangan, berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul, malu, tapi juga sangat sedih. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri.

“Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. Jangan-jangan…” ujar Pak Nano.

“Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!”

DI kamar itu, Gendut belum berani bicara. Ia melihat, wajah Eyang Putri tampak pucat. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas, semakin tumpang-tindih, semakin bersilangan. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara, takut menambah beban perasaan Eyang Putri. Ia hanya mematung di samping ranjang.

Di antara para cucu, Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras, jujur, dan berani. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat.

“Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. Walau cuma serupiah, dia akan mengejarmu sampai neraka,” pesan bapak belasan tahun lalu, dengan bangga. Sesungguhnya, bukan hanya bapak dan ibu yang bangga, kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. Namun, ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. Di layar televisi siang tadi, wajahnya tampak lelah. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan, ia hanya berucap “no comment… no comment”

Setegar apa pun hati keluarga kami, toh akhirnya goyah juga. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. Tapi, kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan.

Kami dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Meskipun usianya di atas delapan puluh, Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. Tubuhnya masih cukup tegap. Matanya masih bercahaya. Dan ingatannya masih tajam. Dengan runtut, ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. Juga nama cicit-cicitnya. Padahal jumlahnya belasan.

Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. “Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita,” ujarnya.

Setelah Eyang Kakung meninggal, Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Setiap pagi, Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur, jahe, dlingo bengle, adas pula waras, cabe puyang, dan entah apa lagi. Rimpang-rimpang jahe, kencur, dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik, Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Harum tapi juga semegrak. Jamu itu kemudian dijual di pasar. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu, hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal.

Ketika kami kecil, Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan, sungai yang mengalir, sawah yang membentang, laut yang bergelombang, gunung yang menjulang atau langit yang biru. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona, menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita, dengan berbagai wataknya. Ada yang culas, jujur, pemberani, licik, atau penjilat. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah, meskipun akhirnya tidak hidup bahagia.

“Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan,” pesan Eyang Putri.

“Kalau saya ya pilih kaya,” ujar Mas Swandaru sambil bercanda.

“Ah kamu, yang dipikir cuma perut,” sergah Mbak Ratri.

Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri.

“Kalau kamu bagaimana, Gendhut,” Eyang menatapku.

Aku kelimpungan. Bingung. Semua tertawa.

“Aku nggak tau Eyang…” jawabku sekenanya.

“Bicaralah. Ayo, nggak apa-apa…”

“Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik.”

Semua tertawa.

“Pintar kamu, Ndhut…” Eyang Putri terkekeh.

“Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?” ujar Mbak Ambar.

Eyang Putri diam. Mendadak, ketakutan diam-diam merambat, mengurung kami.

“Eyang tidak suka kancil!” ujar Eyang tandas.

“Tapi dia itu pintar lho Eyang…” Mbak Ambar masih mengejar.

“Dia bukan pintar, tapi licik. Dia punya banyak akal, tapi hanya untuk mengakali. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?”

Kami mengangguk. “Iya, tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. Dia bilang, dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani….” ujar Mbak Kunthi.

“Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai,…”sahut Mas Swandaru.

“Akhirnya, dalam gelap malam, anjing itulah yang dipukul Pak Tani, hingga kepalanya remuk…” kataku meramaikan suasana.

“Maka, kalau kalian besar nanti, jangan mau jadi kancil…” ujar Eyang.

Ratri menyahut, “Benar Eyang. Kita harus membunuh kancil!”

“Bukan… bukan begitu Ratri. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya.”

Malam makin larut. Kantuk pun bergelayut. Satu per satu kami tertidur. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri.

Kenangan itu masih basah melekat di benak Gendut. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan.

“Eyang sakit?” Gendut mencoba membuka pembicaraan.

Eyang Putri menggeleng, lemah. Gendut kaget. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya. Ke mana air mata itu, Eyang, pikir Gendut.

Di luar kamar, empat kakak Gandut masih menunggu. Urat-urat wajah mereka menegang. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras. Mereka hanya saling memandang.

Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Perempuan renta itu berjalan pelan, tapi masih tetap tegap. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. “Biar aku duduk…,” ujarnya pelan.

“Ndut, apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?” Ucapan itu terasa sangat menyentak.

Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. Wajah mereka tertunduk. Dalam beberapa kejap, tak ada suara terucap.

Tapi Gendut memberanikan diri bicara, “Kita berdoa, semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Bukan kancil atau ular piton…”

“Bagaimana kamu tahu, Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?”

Gendut terdiam.

“Mestinya sejak dulu, Ratri membunuh kancil itu…” ujar Eyang Putri lirih, merintih.

“Tapi maaf Eyang. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…,” ujar Gendut.

“Itu yang aku sesalkan. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya….”

“Tapi, kami percaya dan yakin, Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. Ya, meskipun kami tidak punya bukti. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?” Swandaru melepaskan napasnya.

“Kalian berani menjamin keyakinan itu?”

“Maaf Eyang, kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…”

“Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. Mungkin…. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Itu masalahnya,” ujar Eyang setengah meradang.

“Kebenaran akan membersihkan namanya, akan mengembalikan martabatnya…,” ujar Kunthi.

Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya. Mereka merasa dilucuti, ditelanjangi. Tubuh mereka serasa berubah transparan. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka, seperti terbaca. Eyang Putri berkali-kali menarik napas, sebelum akhirnya pingsan.

Di rumah itu, kami tak lagi menemukan aroma harum jamu, atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. Semua mendadak terasa terlepas. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. *

Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005

Written by tukang kliping

24 April 2005 pada 06:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: