Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Marionette

leave a comment »


Kekasihku berasal dari laut. Kami berkenalan di suatu sore yang terang di pinggir laut yang kala itu mendamparkan air tawar. Ia terbungkus kemeja lengan pendek warna biru terang. Hampir sewarna dengan celana jeansnya. Bagian pantatnya terkena pasir saat berdiri menyalamiku.

“Kekasih” katanya sambil tersenyum. Tersungging sebaris gigi putih bak mutiara di balik bibirnya yang merah menggayut. Senyumnya kubalas dengan senyumku yang termanis. Namun tetap kalah. Sore itu, ia memenangkan kontes senyum termanis di antara kami berdua.

Aku tak yakin namanya Kekasih. Namun saat kutanyakan kembali siapa dirinya, ia kembali memberikan kata itu, Kekasih.

“Itu bukan nama,” kataku kepadanya. Namun ia hanya mengangguk dan kembali tersenyum.

“Tak mengapa. Aku toh menjadi kekasihmu,” ujarnya. Tetap tersenyum, tapi kali ini ditambah kedipan mata.

Kami menunggu matahari tenggelam senja itu. Warnanya ungu dengan tepian oranye. Burung-burung camar yang melewati matahari tampak membiaskan warna ungu di kedua sayapnya. Aku ternganga. Baru sekali ini aku melihat matahari berwarna ungu.

“Bukankah ungu warna kaum janda?” kataku pada Kekasih.

“Ya. Karena hari ini matahari ditinggal mati suaminya.”

“Berarti matahari perempuan?”

“Ya, untuk hari ini saja,” gumam Kekasih.

Aku terdiam dan membiarkan dingin mulai merambati bumi. Tanganku hangat di genggaman Kekasih. Kami menatap matahari ungu menghilang menyisakan selarik garis oranye di awan hitam.

Saat garis oranye itu menghilang, ia mengajakku pergi. Aku mengikutinya.

Setelah meninggalkan pantai, Kekasih tinggal di Jakarta. Ia menyewa satu ruangan di lantai dua sebuah rumah milik karyawan Pertamina. Di ruangan itu, ia menata rapi sebuah kasur yang selalu berseprai biru, menghampari lantai dengan karpet berwarna tanah. Di salah satu sudut, Kekasih menempatkan sebuah televisi dan player DVD. Ia sangat suka menonton film. Baginya, film merupakan dunia yang memiliki batas yang jelas.

“Sudah pasti, akan ada akhir di sebuah film, lengkap dengan kalimat The End. Sementara aku dan kamu tak pernah tahu batas dunia,” ujarnya sambil memencet tombol power di remote control. Saat itu kami baru saja usai menonton The Notebook, film cinta tentang pasangan muda yang tak direstui orangtuanya. Alasan klasik. Orangtua si gadis menginginkan pasangan sederajat untuk anak gadisnya.

Film itu terlalu klise. Namun kupilih untuk menu malam minggu bersamanya karena banyak adegan mesra di dalamnya. Aku menginginkan kemesraan Noah dan Allie di film itu. Setidaknya, aku berharap menghabiskan masa tuaku bersama Kekasih seperti Allie yang mati di pelukan Noah. Aku bertanya pada Kekasih, apakah ia akan tetap mengingatku meski ia mendadak pikun atau terserang Alzheimer seperti Allie tua. Ia hanya tersenyum dan menyuruhku tidur.

Mataku terpejam, masih kurasakan tangan Kekasih membelai rambut dan pipiku. Tiba-tiba aku berada di laut. Aku melihat Kekasih berenang di sela-sela terumbu karang, mengecup kepala kuda laut, membelai sirip ikan pari. Aku menghampirinya, namun aku tak bisa. Ada sesuatu yang menahanku. Aku berontak, aku ingin mengikuti Kekasih, meliuk-liuk di kedalaman laut, namun aku hanya bisa memandangnya dari permukaan air. Tubuhku mengambang dalam keadaan tengkurap. Aku merasa langit menghitam di balik punggungku. Air menetes deras dari langit menghujam tajam bagian belakang tubuhku. Aku berteriak namun Kekasih tak mendengar. Ia terus berkelok menyusuri karang, menghilang di kedalaman laut yang menghitam sewarna langit.

AKU tak bisa berenang. Meski mencobanya berkali-kali sejak berusia lima tahun. Aku masih ingat saat pertama kali menceburkan tubuhku ke air. Saat itu musim kemarau. Orangtuaku membawaku ke kolam renang umum yang ada di kompleks perumahan kami. Saat itu sore hari. Aku melihat anak-anak seusiaku berteriak dan memukul-mukul air dengan kedua tangan dan kaki mereka di kolam sedalam 50 sentimeter. Aku memohon pada ayahku untuk berenang bersama mereka di kolam untuk orang dewasa.

“Mengapa?” Ayahku yang hanya menghabiskan waktu tiga jam sehari bersamaku terlihat sangat heran.

“Aku terlalu cantik.” Kusibakkan rambutku yang hitam ikal ke belakang. Hari itu aku memakai baju renang warna kuning yang terlihat pucat menyatu dengan kulitku. Ayah dan ibuku terdiam. Mereka memandangku yang duduk tegak di bangku kolam renang memandangi anak-anak yang tak henti-hentinya tertawa dan berteriak-teriak tak jelas.

Ayah ibuku tak banyak bicara. Mereka menggandeng kedua tanganku dan menuntunku ke dalam air di kolam untuk orang dewasa. Ajaib. Aku mengambang dengan mudah saat kucelupkan badanku ke dalam air. Aku mulai menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakiku. Aku bergerak dengan cepat di permukaan air. Ayah ibuku takjub. Mereka bertepuk tangan dan tertawa. Aku lihat mereka mengikuti gerakanku.

Tiba-tiba kulihat mereka menghilang dari permukaan air. Aku masih sempat menangkap ujung telapak kaki mereka masuk ke dalam air. Kumasukkan wajahku ke air dan kulihat mereka melambaikan tangan ke arahku. Aku mulai menggerakkan badanku mengikuti mereka. Namun sia-sia. Semakin keras usahaku, aku tak bisa menyelam. Aku hanya bisa memandang mereka dari permukaan air. Aku panik. Aku ingin bersama orangtuaku. Aku berteriak memanggil mereka, namun hanya gelembung udara yang keluar dari mulutku. Aku kehabisan nafas dan wajah riang orangtuaku yang tengah tersenyum di dalam air tiba-tiba menghilang.

Sejak itu aku tak pernah berenang. Aku membenci air. Aku menganggap air memusuhiku. Aku terlalu tinggi hati untuk mencoba berkawan dengan air. Aku hanya memandang dengan iri tak terperi, wajah riang orangtuaku atau kawan-kawanku saat mereka berenang berjam-jam di dalam air. Ketika di sekolahku ada pelajaran berenang, orangtuaku mencoba menjelaskan dengan hati-hati pada guru olahragaku bahwa aku lebih berbakat di bidang atletik. Aku pernah membuktikan sendiri pada guruku bagaimana tubuhku hanya mengambang sia-sia di atas air. Mereka menyerah dan membiarkan aku memilih olahraga apa saja yang kusukai.

Aku memilih balet yang baru saja dimasukkan dalam mata pelajaran olahraga saat aku kelas tiga SD. Ternyata aku dianggap berbakat oleh guruku, seorang nona Indo cantik yang lulus dari sekolah balet di Inggris. Namanya Isabel. Ia mengajariku bagaimana menahan kaki cukup lama saat melakukan plié. Saat kelas enam, aku sudah bisa melakukan pirouette. Keberhasilanku ini membuatku dipercaya menjadi pemeran utama Petrouchka karya Igor Stravinsky. Aku menjadi sesosok boneka balerina cantik milik seorang penyihir. Pertunjukan itu sukses meski keinginanku untuk sekolah balet secara serius tak diperbolehkan orangtuaku.

Meski dilarang, aku tetap menari. Orangtuaku tahu. Namun mereka tak bisa melarangku karena aku selalu menyodorkan nilai-nilai akademik yang bagus kepada mereka. Aku tak dapat menyalahkan mereka yang masih berpikir bahwa balet tak dapat menjamin hidup manusia. Aku menyetujuinya. Karena memang aku tak ingin mencari uang dari balet. Aku melakukannya karena aku menyukainya. Lulus SMA, aku mengambil kuliah kedokteran. Setidaknya dengan ilmu ini aku bisa tahu bagian-bagian mana dari tubuhku yang bisa cedera jika melakukan gerakan tertentu.

Hampir semua lakon balet telah kumainkan. Namun aku hanya merindukan Petrouchka. Bagiku, tak ada yang lebih indah memerankan seorang perempuan yang diperebutkan dua lelaki. Apalagi ketika salah satu di antaranya mati terbunuh karena duel. Bagiku, hal itu sangat fatalis. Aku suka sesuatu yang fatal. Ketika kita menginginkan sesuatu yang juga diinginkan orang lain, tak ada cara lain selain menyingkirkan saingan kita. Duel Petrouchka dan Moor sangat logis bagiku. Dan aku-Ballerina yang diperebutkan-tinggal melihat siapa yang menang. Seperti halnya seleksi alam, akulah hal terbaik yang pantas dimiliki sang pemenang.

AKU tetap menari hingga bertemu Kekasih. Meski tak sesering dulu ketika belum bertemu dengannya. Aku lebih suka menghabiskan waktu bersamanya. Hingga pada suatu malam, tepat setengah tahun aku berpacaran dengan Kekasih, ia memintaku untuk menari.

“Aku tak pernah melihatmu menari,” ujarnya sambil membelai rambut ikal panjangku.

“Kau ingin melihatku menari?”

Kekasih mengangguk. Ia menciumi rambutku yang menguarkan wangi zaitun.

“Aku akan menari untukmu tepat setahun kita pacaran. Aku ingin memberikannya sebagai hadiah peringatan kita berdua. Bagaimana?”

“Aku tak sabar melihatnya,” bisik kekasihku. Ia tersenyum. Sepertinya bahagia. Setidaknya karena malam itu kami mengakhiri malam dengan bercinta untuk pertama kalinya.

Tiga bulan sudah aku mempersiapkan pertunjukanku. Rencananya, aku akan tampil di sebuah galeri yang terletak di Kemang. Kebetulan ruangan galeri tersebut memiliki batas terbuka dengan halaman. Sesuai dengan keinginanku. Pertunjukanku bukan sesuatu yang resmi. Setelah aku menari, aku ingin semuanya berpesta di pinggir kolam renang yang terletak di halaman.

Sebenarnya aku belum yakin dengan pertunjukanku. Namun aku memikirkan Petrouchka. Aku ingin memainkannya di depan Kekasih. Namun bukan Petrouchka hasil koreografi Michel Fokine yang kumainkan dulu. Aku memikirkan sesuatu yang kontemporer. Sesuatu yang lebih pribadi. Yang muncul dari diriku sendiri. Tentang kegelisahanku, dan kondisi diriku sebenarnya yang tak pernah diketahui siapa pun.

Keinginan itu muncul seminggu setelah aku memulai latihanku. Tiba-tiba kudapati tubuhku berbunyi saat bergerak. Ada suara derak aneh yang muncul dari bagian engsel sendiku. Sempat aku merasa takut tubuhku terbelah. Anehnya, aku tak merasa sakit. Padahal, saat melakukan arabesque yang paling dasar sekalipun, aku mendengar bunyi berderak di sekujur tubuhku. Bunyi ini memunculkan ide di benakku untuk menghilangkan kelenturan tubuhku. Aku mengikuti setiap bunyi derak tubuhku. Saat melakukannya, tiba-tiba aku teringat Petrouchka. Aku ingat sekali bagaimana Petrouchka bergerak kaku saat mendekati Ballerina. Tak heran jika Ballerina tak meliriknya. Petrouchka sama sekali tak tampan. Ia kikuk dan layak kalah. Kini, dengan semua bunyi derak di tubuhku, aku juga tak menarik.

Sehari sebelum pertunjukan, aku menelepon Kekasih. Aku kangen berat dengannya. Sudah tiga bulan sejak aku mempersiapkan karyaku, Kekasih tak pernah menemuiku. Alasannya, ingin membiarkanku berkonsentrasi dengan pertunjukanku.

“Lagi pula aku ingin mendapat kejutan saat pertunjukanmu,” katanya waktu itu.

Aku menyetujui alasannya. Kini persiapan karyaku telah usai. Aku ingin mendengar suaranya. Namun aku hanya mendengar voice mail. Kutinggalkan pesan bahwa pertunjukanku dimulai besok.

“Kutunggu kau di sana, Kekasih.” Suaraku terdengar ragu saat mengakhiri pesan.

MALAM pertunjukanku dimulai. Tak banyak yang datang. Sebagian besar teman-temanku yang datang karena tahu malam itu ada pesta kecil-kecilan seusai aku menari. Aku tak tahu apakah Kekasih datang. Aku sibuk berdandan di lantai dua galeri. Aku merias wajahku dengan sentuhan warna coklat. Kuikat rambutku ke belakang memperlihatkan wajahku yang tampak pias meski kutaburkan rouge warna tembaga di wajahku. Kutatap diriku yang tampak kurus mengenakan rok satin warna coklat transparan. Aku siap tampil. Namun aku tak siap dengan akhir pertunjukanku.

Aku tampil sendiri. Tanpa musik. Kubiarkan tubuhku berderak mengiringi setiap gerakku. Aku tak ingin melihat tatapan penontonku. Namun aku tak dapat menipu mataku betapa mereka tampak tercengang. Gerakanku tidak bisa disebut bagus. Bahkan jauh dari gerakan manusia. Aku seperti zombie. Kaku. Penuh patahan yang menghasilkan derak. Bunyi itu semakin bertambah dengan beberapa usahaku melompat.

Aku membiarkan tubuhku jatuh berdebam ke lantai. Berulangkali. Bunyi tubuhku semakin mengerikan. Beberapa penonton tampak menutup mata. Sepertinya mereka ngeri membayangkan tubuhku terpisah. Aku terus jatuh, merangkak. Jatuh, merangkak. Saat berdiri, kurasakan tulang tubuhku bergeser. Tubuhku miring. Salah satu kakiku tertekuk. Namun aku tak merasakan sakit. Aku tersenyum kepada penonton. Kulihat Kekasih berdiri di belakang. Di tepian kolam renang. Tulang rahangnya tampak mengeras. Pipinya basah penuh airmata berwarna ungu. Tubuhku oleng. Sebelum terjatuh, aku berseru.

“Aku harap kalian suka. Karyaku tadi berjudul Marionette.”

Lantas semuanya gelap.

AKU terbangun di tepi pantai. Matahari tampak ungu. Seperti saat pertama aku bertemu Kekasih. Tak hanya matahari yang terlihat sama. Semuanya tampak seperti kembali ke saat itu. Saat di mana aku tersenyum menggenggam tangannya. Aku mencoba berdiri. Namun tubuhku seperti melekat di pasir. Kurasakan sebuah benda di telapak tanganku. Ada secarik kertas di sana. Aku mendapati tulisan Kekasih tergores dengan tinta biru.

Nadia,

Aku ingin bersamamu. Jika kau mau, susullah aku. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau bisa.

Love

Kekasih

Aku menangis. Kucoba berdiri. Namun usahaku gagal. Aku berteriak keras. Memanggil Kekasih. Namun hanya suara camar yang memantulkan semburat ungu matahari di sayapnya, menyahut teriakanku dengan suara parau. Aku menangis. Namun air tak mengalir dari mataku. Aku ingin menyusul Kekasih. Aku ingin menatap kembali matanya. Aku ingin memeluknya, mencium bau pasir di tubuhnya.

Perlahan, aku menggulingkan tubuhku di atas pasir. Usahaku berhasil. Aku mulai merasakan air laut mendamparkan air tawar ke tubuhku. Kurasakan ombak mulai menggerakkan tubuhku menjauhi pantai. Aku mengambang. Kulihat awan mulai menghitam. Aku mulai ketakutan. Suasana ini sama dengan mimpiku.

Ombak yang semakin besar mulai membalikkan tubuhku. Tiba-tiba aku melihat Kekasih di sela-sela terumbu karang. Aku memanggilnya. Namun suaraku hilang menjadi gelembung. Aku terombang-ambing di permukaan laut. Kucoba menggerakkan tubuhku memasuki laut. Aku ingin menyusul Kekasih. Namun semakin keras usahaku, aku malah mendapati tubuhku bergerak bersama ombak, menjauhi terumbu karang tempat aku melihat Kekasih.

Langit semakin menghitam. Aku hanya bisa melihat Kekasih mulai menghilang dari pandanganku. Kututup mataku. Dan kubiarkan laut membawa tubuhku entah ke mana. Aku tahu, aku tak dapat bersama Kekasih. Karena aku Marionette.

Catatan

Plié: Posisi berdiri dasar dalam balet ketika lutut tampak membengkok
Pirouette: Gerakan berputar secara penuh di atas satu kaki.
Arabesque: Posisi berdiri dengan satu tangan menjulur ke depan dan salah satu kaki dibentangkan ke belakang.
Petrouchka : Ditampilkan pertama kali oleh Ballet Russes pada 1 Januari 1911
Marionette : Salah satu jenis boneka kayu di Eropa

Written by tukang kliping

1 Mei 2005 pada 06:19

Ditulis dalam Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: