Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Seragam

with 166 comments


Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.

Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

About these ads

Written by tukang kliping

12 Agustus 2012 at 14:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

166 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mengingatkan kembali tentang sosok sahabat saya yg dulu

    ibnu R

    13 Agustus 2012 at 17:13

    • cerpen sederhana, bahasa lugu tetapi setiap baris tulisannya mampu membawa imajinasi pembaca ke relung perasaan hati masing-masing tokoh di dalamnya, dan membawa ke suasana alam yang natural dimalam hari. keren

      abah

      31 Desember 2013 at 20:12

  2. bagus…

    Adryan Yahya

    13 Agustus 2012 at 17:33

  3. Selamat buat bung AK Basuki. Sahabat Kompasianer…

    Aba Mardjan

    13 Agustus 2012 at 19:25

    • He he he, Aba Mardjani maksudnya.

      Aba Mardjan

      13 Agustus 2012 at 19:27

  4. Suka cerpen ini.

    welli

    13 Agustus 2012 at 21:17

  5. Cerpen yg menarik! Thanks.

    Arbi Sabi Syah

    14 Agustus 2012 at 02:28

  6. suka dengan akhirnya

    muarif

    14 Agustus 2012 at 07:11

  7. ehmm,,,ad lanjutannya gag ea? cerbung deh nntinya

    Deni

    14 Agustus 2012 at 11:04

  8. akhirnya cita-citamu tercapai, Nak!

    Ramdhani Nur

    14 Agustus 2012 at 11:30

  9. hah????
    demi apa endingnya (w=A=)w
    sahabat macam apa dia~~ tapi antara tugas dan hati juga sih-____-”
    ternyata, seragam pun punya kisah tersendiri dibaliknya, nice!

    Ryzkiesomnia

    14 Agustus 2012 at 13:19

  10. endingnya ga disangka-sangka banget

    Dedi Wahyudi

    14 Agustus 2012 at 15:53

  11. Andainya tentang kakak itu diperkuat lagi sejak awal, mengingat endingnya berhubungan dengan itu.

    Bagus.

    kucing senja

    14 Agustus 2012 at 19:45

    • moral ceritanya tidak membutuhkan rincian dalam ttg kakaknya apalagi sejak dari awal, meskipun, atau lebih tepat, memang ada kaitannya

      Krislam Bduhindeelel

      19 Mei 2013 at 22:26

  12. ceritany oke punya, tp napa y si jaksa gak nolak aja kasusny kalo tw itu rumah shbt baikny?

    dody

    14 Agustus 2012 at 21:21

  13. Mantep kang!
    Nyisir kumis lagi ah..

    Nar

    15 Agustus 2012 at 11:54

  14. Selamat

    Omo

    15 Agustus 2012 at 12:18

  15. dibuat menggantung endingnya.setiap pembaca boleh menginterpretasikan kelanjutannya dengan versi sendiri2…nice…

    robay

    15 Agustus 2012 at 19:33

  16. Ironis. Tapi asli bagus, menggelitik dan membuat saya merenung sejurus. Salut!

    Bakul Batik

    17 Agustus 2012 at 06:55

  17. endingnya menurut saya bagus. penggunaan kata “saya” dari pada “aku” juga pilihan yang bagus

    izky

    18 Agustus 2012 at 05:11

  18. akhirnya gue ketemu juga blog kayak gini,,
    asik buat ngisi waktu luang dan santai disini.. XD

    Muhammad Naufal

    20 Agustus 2012 at 01:16

  19. Kata-katanya tidak sulit untuk di pahami.., bagus ceritanya..

    khaerul

    24 Agustus 2012 at 17:27

  20. bagus endingnya…

    yantoaja

    24 Agustus 2012 at 21:59

  21. wah, persahabatan yang indah :)

    sakura suri

    25 Agustus 2012 at 19:46

  22. Suka banget sama yang ini. cerdas,…

    rantinghijau

    25 Agustus 2012 at 23:07

  23. nice

    yopi winanto

    26 Agustus 2012 at 01:02

  24. SAYA SANGAT MENIKMATINYA!

    Rizam Zyafiq Amangku Bhumi

    27 Agustus 2012 at 10:56

  25. gimana endingnya?
    keliatannya bakal memilih pekerjaan dari kata-kata terakhirnya masa gitu?

    hohommax

    28 Agustus 2012 at 09:16

  26. ceritanya mengalir dengan baik…keren!

    Mee2n

    29 Agustus 2012 at 19:19

  27. cerita yg bagus

    hestiningtyas dwi mindarti

    29 Agustus 2012 at 23:31

  28. endingnya oks bgt,
    tpi rasa2nya ada cerpen lain yg endingnya mirip sih

    arif abdurrachman

    31 Agustus 2012 at 18:36

  29. bagus :-) enak dibaca, dapet intinya :-)

    muyasajja

    2 September 2012 at 15:11

  30. Aku brebes mili :(

    HeruLS

    6 September 2012 at 14:06

  31. Suka dengan cepen ini. Selamat kepada penulis yang sudah dimuat

    ramajanisinaga

    7 September 2012 at 00:42

  32. Kembali, perdebatan soal identitas saya pikir.

    Anrian

    8 September 2012 at 01:01

  33. Endingnya sangat mengejutkan!

    pena usang

    8 September 2012 at 07:56

  34. isi cerpen nya mirip sama cerpen ” Pohon yang Hilang ” karya Rachmat H.Cahyono

    juizyhoney

    9 September 2012 at 16:35

  35. wah saya jadi pingin buat cerpen

    nisa

    13 September 2012 at 09:41

  36. kalo aku jadi si jaksa… aku akan belikan rumah walau kecil ga pa2…buat gantiin seragam dia.mungkin itupun harganya belum seberapa dibanding seragam dia dan bolosnya tiap Jumat dan Sabtu.

    hapex

    13 September 2012 at 12:45

  37. Kenangan persahaban baru terbayang setelah ada putusan eksekusi… persahabatan macam apa itu..

    Edi.P

    14 September 2012 at 21:14

    • @Edi.P:
      Maksud Anda? Menurut saya, justru persahabatan, atau kenangan persahabatan mereka inilah yang, saya duga, justru membuat si jaksa jadi terketuk hati/nuraninya. Setidaknya, membandingkan nilai baju pramuka dan baju jaksanya seharusnya menggiring pembaca untuk menduga bahwa si jaksa akan membantu sahabatnya itu memecahkan/keluar dari persoalan tanah tsb.

      tunjungsekar

      19 Mei 2013 at 22:43

  38. saya pikir cerpen ini selesai begitu saja. ternyata endingnya legit! boleh tambuh? :D

    df. norris

    18 September 2012 at 08:36

  39. endingnya membuat dada saya sesak, setelah
    diawal cerita begitu disuguhkan hamparan masa lalu yang indah, he………ujungnya malah bikin jantungan

    hida

    21 September 2012 at 22:36

  40. Kenangan yang ironis dan mengharukan :’D

    Desy Fransiska

    23 September 2012 at 20:44

  41. Bagus banget

    solikhunalfarazi

    2 Oktober 2012 at 22:32

  42. edisi berikutnya, mengapa tdk muncul di cepen kompas???

    Omo

    4 Oktober 2012 at 18:09

  43. objek yang dikemukakan dalam suatu cerita kurang merata, diawal ceritalah yang kurang menimbulkan greget pembaca. hanya sepotong yang menurut aku bagus, di ending.

    EdySC

    6 Oktober 2012 at 10:17

    • @ EdySC:
      Saya kurang jelas dgn maksud Anda dgn : “objek yang dikemukakan dalam suatu cerita kurang merata, diawal ceritalah yang kurang menimbulkan greget pembaca”. Mohon penjelasan.
      Kalau hanya endingnya yg bagus menurut Anda, di mana bagusnya? Mohon di jelaskan?

      tunjung

      19 Mei 2013 at 22:49

  44. nice… saya suka,saya suka….

    nenk trisna

    6 Oktober 2012 at 21:44

  45. touching euy …

    Aldila

    8 Oktober 2012 at 20:18

  46. wow…..mengesankan

    anggun deni

    10 Oktober 2012 at 10:44

  47. Kenapa ga ditambah image ilustrasi kyknya lebih seru tugh haha tp jgn ngasal imagenya ntar jadi kyk petruk :D

    Agen BBM

    10 Oktober 2012 at 17:12

  48. hmm,, mhntp ceritanxa..,,,,

    ichal

    11 Oktober 2012 at 09:44

  49. Sebuah cerita pendek yang benar-benar pendek, tapi dengan bahasa yang sederhana, tema yang sederhana, mampu menyampaikan pesan yang tidak sederhana tapi cukup berharga untuk kita renungkan bersama. Konflik dan pergulatan batin seringkali dialami oleh setiap manusia yang pernah bertemu dengan manusia lainya di dalam kehidupan ini, tapi tak sederhana untuk memberikan jawabanya, tugas kita semua sebagai pembaca, lebih berharga mana seragam pramuka sahabatnya dulu dan seragam jaksa yang sekarang dimilikinya, bagaimanakah sikap yang harus dipilihnya setelah saat ini berseragam jaksa. Tentu saja jawabanya hanya ada dihati kita masing-masing, dan untuk kita masing-masing.

    eko wahyu

    14 Oktober 2012 at 08:29

  50. Mantatrab………………………….

    aan_shopan@yahoo.com

    21 Oktober 2012 at 10:21

  51. Ah, selalu sulit untuk memilih antara tugas (sesuai aturan), dengan kehendak hati.

    Fikri

    23 Oktober 2012 at 21:13

  52. kemana ya orangnya, kox sepi bgt. Libur lebarannya kox gk selesai sampai sekarang?

    izky

    29 Oktober 2012 at 11:56

  53. cerita singkat, mudah dipahami, dan ending yang mengejutkan..

    sigirokries

    29 Oktober 2012 at 17:14

  54. Cerpen yang menyentuh persaan..dengan alur yang sederhana dan latar pedesaan yang masih asli…Salut

    wahyudi

    1 November 2012 at 08:37

  55. Tragis

    Febriansyah Eka Maulana

    1 November 2012 at 17:55

  56. I must say “WOW”

    ayu

    2 November 2012 at 10:32

    • dancok
      coment ae raimu

      gethok

      4 November 2012 at 18:40

  57. It’s awasome..
    unpredictable!!!

    Irsyad

    2 November 2012 at 10:53

  58. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Eva

    6 November 2012 at 13:38

  59. Awalnya saya mengira biasa-biasa saja, tapi ternyata membuat saya tertawa…. Ending yang kejam… Tapi aku, eh saya, suka…

    Kisi Hati

    9 November 2012 at 00:15

  60. blog ini sedikit mengobati kerinduanku ma MATA KATA

    biologi agdat

    13 November 2012 at 05:27

  61. Cerpennya SUPER
    salam kenal

    Obat Herbal Bandung

    23 November 2012 at 13:42

  62. berlatih dan terus berlatih menulis…
    Cerpen yang sangat bagus, nggak bosen bacanya, bikin penasaran dari awal…
    membaca dan terus membaca cerpen2 di blog ini… :D

    Anita L. Dewi

    24 November 2012 at 12:29

  63. bagus banget (y)

    shafira

    25 November 2012 at 07:29

  64. Kereeeen. terakhirnya mantep ><
    gak terduga.

    dinda faiza p

    2 Desember 2012 at 17:17

  65. Keren gan.
    Diluar dugaan, semuanya menarik.
    Sip

    Febri001

    3 Desember 2012 at 07:37

  66. Cerita “Seragam” ini seperti segelas susu; ringan, namun membuat kenyang..
    Terlalu manis untuk diikuti, namun menjebak pada akhirnya. Salut..

    Sekilas kutipan “Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya.” benar-benar tergambar jelas dalam pikiran saya..

    A. Prasetyo Widodo

    3 Desember 2012 at 14:04

  67. bagus banget ceritanya… :)

    Ramlah

    6 Desember 2012 at 16:10

  68. endingnya buat nyesek gitu ya wkwk =))

    Rizky

    7 Desember 2012 at 17:20

  69. tp overall bagus ceritanya hehe

    Rizky

    7 Desember 2012 at 17:21

  70. keren sekali
    alurnya itu mantap

    mheky

    7 Desember 2012 at 22:17

  71. ironis

    chery

    9 Desember 2012 at 09:30

  72. antara tugas dan persahabatan.
    menarik banget. endingnya itu loh yang tak disangka-sangka …..
    hmmm, bisa nggak ya seperti ini kalau membuat cerita?

    Adhita Didiet Prawatyo

    10 Desember 2012 at 15:25

  73. sesuatu

    pastipher

    12 Desember 2012 at 09:45

  74. bantu saya tentukan tema cerpen ini, boleh?

    Herya

    12 Desember 2012 at 19:42

  75. Keren

    eL

    18 Desember 2012 at 21:29

  76. Saya kurang suka, klimaksnya kurang mengena, hehee

  77. monggo mampir ke blog sy: habi412.wordpress.com
    ada terjemahan cerita pendek dari luar dan ini project blog sy.
    trimakasih.

    habi412

    29 Desember 2012 at 10:46

  78. sederhana tapi WAW

    a'am

    2 Januari 2013 at 07:40

  79. keren cerpennya.
    sangat keren deh.
    Gaya bahasa gampang banget dimengerti.

    welliknow

    10 Januari 2013 at 21:45

  80. benar.. membuatku jadi teringat pada para sahabat… cerpen yang sederhana, menyentuh, dan memikat. Selamat!

    budiman

    14 Januari 2013 at 17:16

  81. goog

    safri

    20 Januari 2013 at 14:04

  82. Aku suka sekali,terutama pas ending nya Gak nyangka banget. . . .

    adzieeinstein

    24 Januari 2013 at 12:17

  83. Reblogged this on kobonksepuh's Blog.

    kobonksepuh

    31 Januari 2013 at 22:32

  84. cerita tentang pencarian jangkriknya sangat menarik, sama seperti endingnya, banyak kejutan

    tama.inc

    9 Februari 2013 at 22:11

  85. persahabatan sejati tak kenal balas budi

    yusuf

    14 Februari 2013 at 15:31

  86. sayang sekarang sudah ga ada update terbaru untukk cerpen kompas

    robby fernandez

    20 Februari 2013 at 07:11

  87. Bagus, rangkaian kalimatnya mudah diikuti ceritanya mengalir, dan endingnya wauwww… bagus bagus!!

    lilip

    20 Februari 2013 at 10:03

  88. Hidup selalu dilematis

    Nanang Rudianto

    1 Maret 2013 at 09:25

  89. Kesuksesan seorang penulis bukan hanya kerajinan berlatih semata, tetapi juga butuh keberuntungan.

    Nanang Rudianto

    1 Maret 2013 at 09:31

  90. Tukang klipin kemana aja? koq sudah tidak pernah update lagi?

    hutri

    7 Maret 2013 at 15:47

  91. menarik …..

    Tamar Saraseh

    8 Maret 2013 at 21:32

  92. Hai tukang kliping, saya pembaca setia cerpen kompas di sini. Dulu waktu kuliah di luar baca dari sini, sudah di indo dan di rumah ada kompas juga tetep baca di sini, kebiasaan! Sayang udah ga diupdate lagi, tapi semoga anda dalam keadaan baik dan sehat selalu. Terima kasih ya untuk update cerpennya selama ini :)

    ica

    9 Maret 2013 at 23:23

  93. Ending ♈ǝлƍ baik.

    satriya ummi alfiza

    24 Maret 2013 at 08:05

  94. Mantap :)
    Tapi endingnya…. menyedhkan bgt.
    Persahabatan yang tulus harus kalah sama seragam jaksa!! Dunia emg kdg membuat byk org gelap mata. kasian si seragam pramuka :(

    Ulya aulia29

    21 April 2013 at 10:09

  95. Mantap :)
    Tapi endingnya…. menyedhkan bgt.
    Persahabatan yang tulus harus kalah sama seragam jaksa!! Dunia emg kdg membuat byk org gelap mata. kasian si seragam pramuka :(

    Ulya aulia29

    21 April 2013 at 10:09

  96. benar.. membuatku jadi teringat pada para sahabat… cerpen yang sederhana, menyentuh, dan memikat. Selamat!

    FHASION DISTRO

    23 April 2013 at 20:54

  97. Merinding saya bacanya..

    Icha Sasyanomoto

    1 Mei 2013 at 10:49

  98. Cerita bagus yg dikemas dalam bungkus sederhana. Salut.

    anangsk

    12 Mei 2013 at 21:59

  99. Bagus!!! :)

    archifani2013

    13 Mei 2013 at 08:19

  100. nyesek banget baca kalimat terakhir. aku pikir tokoh saya akan bantu sahabatnya. ternyata …

    di bagian awal agak membosankan. itu yang mau ke sawah cri jangkrik. menurutku agak kepanjangan narasinya.

    tp. ini good cerpen menurutku.

    Nair al Saif

    13 Mei 2013 at 18:10

  101. Sebuah cerita yang benar-benar mengena. Salut untuk penulis! Tetap semangat berkarya!

    Sastranesia

    22 Mei 2013 at 15:44

  102. cerita bagus, untuk menginspirasi sebuah persahabatan

    moeksa

    25 Mei 2013 at 10:13

  103. Ide cerita, tulisan dan alur nya Bagus ……

    Nafi' Maulidah

    28 Mei 2013 at 19:18

  104. Wow endingnya nge gantung “saya”…hehehe
    Tp inilah yg bikin seru, kita bisa mengskenariokan sendiri ending ceritanya menurut masing2. :)
    Satu hal yg mjd pembelajaran dr cerita ini adlh bagaimana menempatkan diri kita sendiri jika menjadi sosok “saya” ketika dihadapkan pd perasaan dilematik utk memilih tulusnya persahabatan atau konsistensi pekerjaaan. #Good choice guys.:)

    kiky

    28 Mei 2013 at 21:20

  105. tolong unsur instrinsik dan ekstrinsiknya teman?

    adrian yonanda

    11 Juni 2013 at 20:19

  106. Kerren…
    Saya sukaendingnya Maz

    maufiq

    18 Juni 2013 at 22:28

  107. Saya suka dengan gambaran persahabatan melalui pencarian jangkrik itu.
    Gambaran nyata kehidupan di dusun.
    Dan benang merah antara seragam pramuka dan seragam jaksa itu, saya suka :)

    yusrizal

    24 Juni 2013 at 10:39

  108. kunjungan perdana bro, bagus2 deh…..jadi tambah inspirasi nih, di tunggu kunbalnya di sunsetia.mywapblog.com

    rio hendry

    24 Juni 2013 at 18:45

  109. menarik, bagus,,, saya suka

    Pemilu Indonesia

    29 Juni 2013 at 13:43

  110. bagus banget

    furniture terbaru

    11 Juli 2013 at 23:59

  111. keren, keren, keren! <3

    vivavinnavilla

    16 Juli 2013 at 22:46

  112. Cerpen yang sangat mencerahkan sekali Para pembaca agar bisa melihat dan menjadi lebih baik lagi tentang arti kehidupan..

    Fendi haris

    19 Juli 2013 at 16:34

  113. keren banget ceritanya, sederhana tapi dalem..

    Novie nasution

    2 Agustus 2013 at 11:00

  114. kereeen….dalem bgt pas endingnyaa

    silmi

    20 Agustus 2013 at 11:36

  115. sudah setahun nih, kagak diupdate lagi :|

    Ginanjar Seladipura

    24 Agustus 2013 at 23:43

  116. Ceritanya menarik. Sebuah alur mundur penuhah yang sulit untuk ditebak. Dan disitulah kayanya tulisan ini. Saya mungkin hanya mengkritik tanpa membuat byk karya. Tapi pembaca punya hak yang sama besar dengan penulis untuk mengomentari sebuah tulisan. Saya yang bari belajar menulis menilai kalau awal paragraf dua terdengar seperti kalimat tak efektif. Berikut cuplikannya “ketika kemudian…”
    Menurut sy, ini tdk efektif. Di kalimat ke tiga, setelah 25 tahun berpisah dst., ini bisa dipisah. Tidak akan mengurangi substansi isi yang akan penulis sampaikan.
    Pesan yang ingin disampaikan sangat bagus, namum teknik penulisan membantu pembaca menyelami makna.
     

    nuvach

    1 September 2013 at 00:11

  117. ayo diupdate lagi, saya suka sekali,,, mantab

    Kata-kata Cinta

    1 September 2013 at 10:15

  118. Keren nihhh,,, suka bacanya

  119. kereen, lagi blajar buat cerpen nih :)

    Minion (@imancyborg)

    14 September 2013 at 12:47

  120. emang orang jaman sekarang contohnya kayak gini…
    Mendingan duit daripada teman yang paling berharga…

    Tashyoku Fukomi

    14 September 2013 at 20:58

  121. cerpen yg bagus.. mengisahkan persahabatan yg trhalangi 0leh sebuah tugas.

    tree mur

    17 September 2013 at 12:38

  122. kereeen mas cerpennya. terimkasih

    cara mengobati sakit

    6 Oktober 2013 at 10:29

  123. “Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga…
    Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.”

    ngawur…

    jaksa tugasnya tidak menangani kasus perdata, dan yg bertugas mengeksekusi pengosongan tanah itu juru sita atau panitera bukan jaksa

    kelihatan kalau si penulis tidak melakukan riset sebelum menulis cerita

    Adam HR

    16 Oktober 2013 at 23:45

  124. ijin ya..
    cerpennya tak pakai buat tugas analisis cerpen……
    mksh..

    ichdaadyhda

    18 Oktober 2013 at 16:12

  125. Mumtaz…,
    ending’a tanpa d sangka2…,

    Langit Biru

    27 Oktober 2013 at 07:58

  126. Endingnya kyk Inception, menggantung…

    Fazaky Putra R.

    7 November 2013 at 21:47

  127. bagus sekali cerpen nya,,sangat menyentuh…

    Jasa Penulis Artikel

    13 November 2013 at 14:36

  128. Antara sahabat dan pekerjaan. Endingnya…:(

    Lody Alfaro

    13 November 2013 at 17:45

  129. alurnya saya suka

    Sistem Pemerintahan

    23 Desember 2013 at 19:40

  130. menarik,,, bagus, tidak membosankan

    Letak Astronomis Indonesia

    24 Desember 2013 at 11:04

  131. Hanya bertanya, apa kapasitas jaksa dalam perkara perdata? Siapa sebenarnya yang berwenang mengeksekusi tanah-rumah? *kebetulan, saya pengacara

    andre

    10 Januari 2014 at 06:28

  132. kali ini sangat menarikk, lebih dari yang sebelumnya..

    rumah adat

    15 Januari 2014 at 16:10

  133. Akhir cerita yang menohok. Seperti air susu dibalas dengan air tuba. Tp ini terjadi krn posisi pekerjaan.

    Btw, katanya 1 dari 10 bisnis berakhir bangkrut. Menggunakan seluruh harta utk memulai bisnis sangat beresiko. Jd kebangkrutan bukan hanya karena kejahatan. Tp lebih krn kurang informasi, terlalu optimis, shg tdk realistis.

    Info lain, utk jual tanah, biasanya tanah harganya naik terus, dan pinjaman jauh dibawah harga tanah. Jd kalaupun dijual, harga jual diatas nilai pinjaman. Namun memang nilai historisnya yang tak tergantikan. Apalagi tanah warisan.

    M. Danil Daud

    24 Februari 2014 at 07:27

  134. aku buat novel tapi aku share di blog silahkan baca ceritanya sedih galau tolong bantu share ya :) nih kunjungi yaa http://storyofsewindu.blogspot.com/

    Leona Putri

    6 Maret 2014 at 12:06

  135. menarik, cerita nya ngena banget :D

    shiningrinna

    8 Maret 2014 at 04:29

  136. Reblogged this on sastradanlinguistik and commented:
    copas dari cerpenkompas.wordpress.com

    sastradanlinguistik

    24 Maret 2014 at 16:36

  137. bagus bagusss. and I love it ;)

    Shanaz Ar.

    9 April 2014 at 07:59

  138. BAGI YANG INGIN MENGUPDATE CERITA-CERITA DARI SURAT KABAR
    TERMASUK KOMPAS, HARAP ANDA BUKA http://lakonhidup.wordpress.com/ .
    SUDAH LAMA BLOG INI TIDAK AKTIF, BAGAIMANA KABAR ADMINNYA JUGA GAK JELAS

    izky

    12 April 2014 at 19:27

  139. Sukaaa…:)

    Mutia Ohorella

    28 April 2014 at 09:31

  140. Endingnya kereen..salyuut..

    nuri

    16 Mei 2014 at 07:42

  141. Bagus banget! Suka suka suka :))

    fancha

    21 Mei 2014 at 09:57

  142. mas, tolong beri aku nama pengarang dan biografinya, dong! terima kasih.

    kusnadi

    5 Juli 2014 at 12:08

  143. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 01:53

  144. keren-keren, nggak bosen bacanya
    baca cerpen saya ya, kalau bisa sekalian di beri kritik dan saran (Amatiran kayak saya yang lagi belajar nulis butuh banyak kritik saran)

    http://lukiluck11.blogspot.com/2014/06/cerpen-lost-love.html

    Kukuh Niam Ansori

    14 Juli 2014 at 04:36

  145. Membuat saya merindukan sahabat masa kecil saya. Rasanya ingin kembali ke masa lalu dan melewati masa-masa indah masa kecil saya bersama sahabat saya

    Reika Cahya

    20 Juli 2014 at 05:12

  146. nyinak,, bagus sekali artikelnya,,

    gebyok ukiran jati

    16 Agustus 2014 at 02:41

  147. postingannya bagus kak, semangat

    aneka meubel

    17 Agustus 2014 at 22:51

  148. Ini kali kedua aku baca cerpen seragam ini, bahasanya cukup sederhana dan mudah dimengerti, pesan cerita sangat kuat, dan endingnya benar-benar mengejutkan dan miris tentunya…

    Taufik Al Mubarak

    28 Agustus 2014 at 01:10

  149. cerpennya bagus, bahasanya gampang dipahami. gambar ilustrasinya lucu ya..

    cerita pendek

    30 Agustus 2014 at 22:23

  150. like.

    ahmad

    16 September 2014 at 08:21

  151. Nangis Saya…. Ironis

    Oktaviana Virgi

    22 September 2014 at 14:03

  152. Cerpen’a bagus sangat menyentuh

    dithaaja99@gmail.com

    27 September 2014 at 14:57

  153. Keren-keren ceritanya :) tapi sayang sudah ga aktiv sekarang :(

    adlibidtum

    10 Oktober 2014 at 23:14


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.560 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: