Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Gus tf Sakai

Liang Harimau

with one comment

Karena pagi buta, tak ada yang tahu bagaimana peristiwa sebenarnya. Tapi seorang wartawan, yang mengutip keterangan polisi, menulis berita begini:

”… Pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 05.00. Sadim baru bangun tidur dan tiba-tiba menusuk Rasikun. Dalam berita acara pemeriksaan oleh polisi disebutkan, Sadim kalap dan menusuk si majikan karena persoalan upah. Masih menurut polisi, Sadim, warga Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, itu marah karena Rasikun menolak memberikan upah yang ia minta.”

Dan hari ini, enam bulan kemudian, untuk kesekian kalinya Sadim digiring ke ruang sidang. Seperti sidang-sidang lalu, wajah Sadim masih tampak terheran-heran, celingukan mencari-cari, atau kadang bagai termangu. Dan pakaian putih-putihnya yang lusuh—terlihat nyaris cokelat karena bekas-bekas tanah yang tak mau hilang; cara duduknya yang aneh—membungkuk dalam dengan dua tangan jatuh telentang bagai ditampungkan di pangkuan, melengkapkan kesan lelaki 40-an tahun yang menyebut diri urang Rawayan itu seolah tak berada di dalam ruang sidang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 Desember 2008 at 06:13

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Lak-uk Kam

with one comment

Dalam remang, dari jendela yang daunnya disentak diempas-empaskan badai, ia lihat semua: ombak yang menjulang, laut yang seakan terangkat—menganga bagai rahang, bergemulung menelan pantai. Suaranya gemuruh. Bergederam. Jadi inilah “lak-uk kam”, badai musim utara itu, yang menjadikan sebagian pulau porak-poranda, penuh genangan, dan membuat para penduduk pindah-sementara ke balik bukit pulau bagian selatan.

Senja. Lalu malam. Gelisahnya dihantam debar saat lampu suar tiba-tiba menyala. Dia masih ada? Ia julurkan kepala—dingin bagai mengiris muka!—melayangkan pandang ke puncak menara. Tak tampak apa-apa, kecuali lesat cahaya yang bagai terentang sedapat-dapatnya. Ia rasakan juga, saat matanya menyapu menyusur muka laut, lesat cahaya itu seolah ikut bergolak, berkecamuk, mengempas-empas menerpa-nerpa. Sesaat ia tertegun. Lalu, bagai gugup, mengembalikan pandang ke puncak menara.

Dia masih ada.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 September 2007 at 13:30

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Sumur

without comments

Lima tahun setelah hari ini, gadis itu akan sering berada di depan televisi. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah, darah, selalu darah. Mengalir, dari perut yang belah. Menggenang dari kepala yang rengkah. Lalu meluncur, masuk ke dalam sumur.

Lima tahun setelah hari ini, tentu pula, ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah, saat itu semua tak penting lagi. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata, sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. Ayahnya sendiri bukankah juga. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi, ia pikir itu bisa saja. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong, janji palsu, omong sok tahu. Tangis dibuat-buat, tawa diejan, akting murahan. Tidakkah mereka memang menggali, rakus, jadi budak rating dan iklan?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

16 April 2006 at 02:03

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas

without comments

Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar, dalam nanar, matahari membelah, menjelma kerumun bulatan pijar. Dan gedung-gedung, dinding-dinding kaca, menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Begitulah terik, siang memanggang meringkus dirinya. Tetapi bukan itu. Di sana, di puncak monumen, ada sebuah titik, amat terang, seperti bintang.

Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan, tak tertahan oleh tatap. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip, melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Dan, itulah yang dilakukan olehnya. Dan dari mata tuanya yang buram, kuning kelabu, selintas tampak seperti mata kayu, segera merembes air, menggenang, bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot, jambang, yang semuanya kotor, putih pirang, meranggas tak teratur panjang dan jarang.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

13 November 2005 at 09:10

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Jejak yang Kekal

without comments

Sepatu itu, dengan cara begitu rupa, menginjak seekor trilobite, tertahan dalam bongkah batu. Betapa kekal, pikirmu. Di suatu waktu di zaman lain, seperti yang selalu kami yakin, bongkah itu akhirnya pecah. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi.

Tetapi trilobite, makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu, bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm, lebar 11 cm, lekuk bawah tumit 2 cm. Sepatu lars. Dan itu artinya, sepatu manusia. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada?

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

22 Mei 2005 at 06:28

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Belatung

without comments

Belatung itu seperti ulat ya, Bu? Ya seperti ulat. Apakah ia juga bisa berubah jadi kupu-kupu? Tidak, belatung tak bisa berubah jadi kupu-kupu. Kenapa tidak bisa, Ibu? Entahlah, Ibu tak tahu. Kasihan ya, Bu? Aku ingin melihat ia jadi kupu-kupu. Tetapi kita tidak bisa. Tapi aku ingin.

Tidak bisa. Aku ingin.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

28 Maret 2004 at 10:55

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan

Kota Tiga Kota

without comments

Baiklah kita kembali ke kota itu, kota yang menurut pendapat Anda, menurut pendapat siapa pun yang pernah mengunjunginya, merupakan kota yang unik. Kota itu dipagari oleh tiga gunung, dialiri oleh tiga sungai, dan dapat dicapai dari tiga kota yang salah satunya ibu kota provinsi. Bila kita lihat di peta, tiga kota yang mengelilingi kota itu kalau dihubungkan dengan garis-garis, akan persis segitiga sama kaki dengan ibu kota provinsi titik terjauhnya. Dan tiga sungai itu, walau tak persis, juga berbentuk kerucut yang menyatu pada satu titik di pinggir kota, lalu menjelma jadi sungai lebar yang setelah meliuk jauh ke mana-mana akhirnya juga bermuara di ibu kota provinsi. Memang, ibu kota provinsi adalah kota pelabuhan.

Menurut dugaan Anda, atau menurut dugaan siapa pun, tentulah dari kota pelabuhan itu nenek moyang penduduk kota yang dikelilingi tiga kota itu (baiklah kini kita sebut kota Tiga Kota, karena memang demikianlah orang-orang kemudian menyebutnya), dulu, berasal. Tetapi dugaan itu keliru. Menurut penduduk kota Tiga Kota, nenek moyang mereka bukan datang dari laut lalu naik ke darat, melainkan sebaliknya: dari puncak salah satu gunung, turun, kemudian menetap dan membangun kota Tiga Kota. Turun dari puncak gunung? Aneh, pikir Anda, seraya menduga penduduk kota Tiga Kota mungkin beranggapan mereka keturunan dewa. Tetapi tidak, kata mereka. “Nenek moyang kami manusia biasa. Hanya saja, ketika pertama mencecahkan kaki di daratan ini, masa itu laut masih begitu luas dan daratan masih begitu sempit.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 September 2003 at 12:05

Ditulis dalam cerpen

Ditandai dengan