Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kak Ros

with 77 comments


Begitu keluar dari kamar dan tak
sengaja menatap ke taman itu,
aku terpaku: Kak Ros,
perempuan hampir separo baya
itu, sedang membungkuk
menyorongkan wajahnya ke
rimbun tapak dara.

Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun?

Dan tampaknya, bukan hanya bicara. Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya. Tempo-tempo, semprot dan usapan itu terhenti, lalu jarinya tampak seperti mengutip dan memindahkan sesuatu dari tangkai atau punggung daun, juga sangat lembut dan hati-hati. Kembali aku ingat kata Ben. Apakah perempuan itu tengah memindahkan semut, atau serangga kecil lain, agar tak terpelanting oleh semprotan air?

”Naa,” tepukan halus di pundak mengejutkanku, ”Om memerhatikannya.” Ben yang rupanya juga telah keluar dari kamar, berdiri di sampingku.

”Aa… ti-tidak.”

”Jangan bohong,” nada Ben menggoda. ”Sangat lembut ya?”

”Si-siapa?” Entah kenapa aku agak gugup.

”Yaa, dia!” Telunjuk Ben bergerak sedemikian rupa, membentuk paruh burung pelatuk, mematuk ke arah Kak Ros. Senyum Ben, sungguh menjengkelkan. Seraya melotot, kudorong tubuhnya dengan bahu, kusorongkan wajah, lalu mendesis: ”Berapa usianya, berapa usiaku?!”

***

Ben adalah ponakanku, anak sulung kakak perempuanku paling tua. Meski Ben memanggilku ”om”, usia Ben hanya tiga tahun lebih muda. Karena bisa dibilang sepantaran, sejak kecil kami memang lebih tampak seperti sahabat, maksudku bila dibanding hubungan paman-ponakan. Dan itulah sebabnya, ketika ada undangan pertemuan sastra ke sini, Tanjungpinang, kota tempat Ben merantau dan bekerja di sebuah mal, aku lebih memilih menginap di tempat kost Ben ketimbang hotel yang disediakan panitia.

Agak aneh sebetulnya. Pertemuan yang jarang, ditambah kenyataan bahwa ini merupakan kunjungan pertamaku ke tempat Ben, mestinya membuat kami tenggelam dalam nostalgia baku-canda. Tetapi itu hanya sebentar, cuma di hari pertama. Di hari kedua dan kemarin, obrolan Ben melulu itu: Kak Ros, ibu kostnya yang sudah hampir separo baya, tapi masih lajang, sangat lembut, halus, pengasih, dan seperti bisa bicara dengan daun-daun.

Bisa bicara dengan daun-daun? Tentu saja aku tak percaya. Setelah membantah, menyanggah ini-itu, kubilang, ”Daun memang sangat mungkin disukai, disenangi, bahkan disayangi orang, Ben. Orang yang sangat sayang pada daun bisa saja tampak seperti bercakap-cakap saat merawatnya.”

”Maksud Om, bunga?”

”Bukan. Daun. Tidakkah menurutmu daun sangat luar biasa?”

Wajah Ben seperti bingung.

”Daunlah yang membongkar molekul air, menghasilkan oksigen yang dilepas ke udara. Daunlah makhluk yang bisa memasak makanan sendiri. Dan karenanya, tahukah kau, kalori yang mengalir dari satu mata rantai ke mata rantai lain itu sesungguhnya berawal dari daun?”

Ben tertegun, tersipu, sekaligus tampak jengkel kuceramahi. Maka baik ceramah lalu kurampungkan dengan canda, ”Kau boleh lupakan pelajaran biologi-mu, Ben. Tetapi, untuk hal-hal penting tentang hidup, sebaiknya kau selalu ingat.”

Ben tertawa, menonjok pundakku. Maka baik topik ini tak kulanjutkan dulu. Kubilang tak kulanjutkan dulu, karena memang ada hal yang sebenarnya Ben harus tahu. Bahwa aku, telah tiga tahun ini, juga menanam dan memelihara banyak tanaman. Menyukai dan menyenangi dan menyayangi bermacam daun. Ya, seperti Kak Ros. Semua tanaman di pekarangan ini, tapak dara, sangitan, salam, sinyo nakal, tempuyung, suruhan, sidaguri, srikaya, tahi kotok, juga kumiliki. Pun berbagai tanaman lain, temu giring, siantan, sosor bebek, daun dewa, sente, sereh wangi, senggani, dan banyak lagi. Ya, aku seperti Kak Ros. Itulah yang membuatku sangat yakin Ben keliru. Tetapi, itu pulalah yang membuatku tertegun (dan lalu tampak gugup?), ketika, tadi, betul-betul melihat Kak Ros seperti bicara dengan daun-daun. Tetapi ah, bukankah bisa saja kalau aku cuma salah lihat?

Turun dari kamar (merupakan bagian dari paviliun) ke lantai satu, lalu melangkah menuju pintu pagar (yang tak begitu jauh dari Kak Ros) di samping taman, aku tak bisa menahan diri untuk tak lebih memerhatikan perempuan itu. Dan tidak, ia tidak tengah bicara. Mulutnya memang agak sedikit terbuka. Ataukah sudah? Dan oh, ia memang tengah mengutip memindahkan serangga. Sangat hati-hati. Sangat lembut. Ah, sungguh halus. Tiba-tiba ia menoleh, dan kami bersitatap. Cepat aku tersenyum. Ia membalas. Matanya, matanya.

***

Sampai di ruang seminar, di lantai empat sebuah hotel, aku tak bisa fokus pada topik yang disampaikan pemakalah. Entah kenapa, mata itu, sorot mata Kak Ros, bagai terus terbayang di kepalaku. Ada apa ini? Ada apa dengan diriku? Tidak, ini bukan debar, ini bukan soal rasa yang digodakan Ben. Sorot itu, sangat lembut (atau sangat tenang?), tetapi…

Sampai istirahat siang, sampai kemudian masuk lagi, masih juga pikiranku ke mata itu. Tetapi untunglah, saat istirahat sore, aku tenggelam dalam obrolan menarik dengan kenalan baru. Seorang penyair, sastrawan setempat. Mulanya kami bercerita tentang tempat-tempat menarik di kota ini. Saat obrolan beralih ke hal-hal lebih khas, lebih spesifik, aku mendapat pengetahuan tentang sesuatu: papaitan.

Papaitan? Ya, benar, nama daun juga. Daun yang kata si teman bisa diramu untuk mengobati tipus, TBC, dan darah tinggi. Ah, sayang ia tak tahu nama Indonesianya, atau nama dalam bahasa daerah lain. Dari gambaran yang ia berikan, daun itu mirip-mirip sembung. Tetapi tentu bukan sembung, karena sembung (yang nama latinnya blumea balsamifera) manfaatnya beda: mengobati diare, malaria, dan jantung.

Kuminta ia bertanya ke sesama peserta seminar dari Tanjungpinang, tetapi tetap tak ada yang tahu. ”Eh, kenapa kau begitu peduli pada daun?” tanyanya heran.

Kutatap wajahnya. Berkelebat wajah Ben. Pertanyaan tolol. Hih, kenapa ada tolol di mana-mana. Harusnya aku yang bertanya, kenapa mereka tak peduli daun: sumber hidup mereka, asal kalori mereka. Semua tanaman, daun-daun yang kupelihara itu, bahkan bisa menyelamatkan mereka dari penyakit apa pun. Dan mendadak, kembali aku terbayang Kak Ros. Lembutnya. Halusnya. Dan betapa ia tentu menangis setiap melihat daun-daun dirambah, pohon-pohon ditebas. Tetapi, tetapi, matanya…

Kembali aku disergap, oleh mata itu. Sampai saat seminar selesai, sampai orang-orang tetap belum bubar walau harusnya sudah istirahat karena mesti bersiap-siap untuk pagelaran seni nanti malam. Aneh, aku seperti tak sabar. Orang-orang tetap masih belum pulang saat kuputuskan meninggalkan ruang seminar.

Ben tentu juga belum pulang, aku tahu. Tetapi ini tak ada urusan dengan Ben. Masih di balik pagar, saat kulihat sosok Kak Ros di taman. Ya, aku tahu, perempuan itu akan kembali ada di taman pada sore jam-jam segini. Tetapi, saat aku sudah membuka pintu pagar dan sudah pula melangkah ke dalam, sosok Kak Ros bergeming. Ia tetap dalam posisi itu: menunduk, seperti terpaku, menatap ke rimbun daun suruhan di ujung kakinya.

Merasa heran, mataku ikut memerhatikan apa yang ia tatap. Tak ada yang aneh pada rimbun daun suruhan itu. Eh, ada. Beberapa batangnya yang lunak tampak seperti patah. Mungkin aku ikut tertegun. Sejenak. Saat aku akan meneruskan langkah, ia baru sadar akan kehadiranku dan mengangkat wajah.

Kami bersitatap.

Mata itu…

”Kucing. Kucing itu lagi. Telah beberapa kali ia mematahkan daun-daunku.”

***

Besoknya, Sabtu. Hari keempat aku di sini, hari ketiga seminar sekaligus penutupan. Hanya sebentar aku di ruang seminar, dan setelah meminta dengan sedikit membujuk, si kenalan tolol kemarin bersedia mengantarku mencari memperlihatkan seperti apa wujud daun papaitan.

Namun, tak setiap waktu kita punya hari yang baik. Setelah mencari ke mana-mana, bahkan juga ke tukang obat tradisional—mereka menyebutnya bomo, yang menurut si teman biasa menggunakan daun itu, agaknya aku harus menerima kenyataan daun papaitan mungkin hanya kutemukan di kesempatan lain. Lagipula, ini sudah hampir sore. Jelas sekali terlihat kecemasan di wajah si teman. Rautnya seolah nyaris berkata, ”Kenapa daun bisa begitu lebih penting bagi kau ketimbang seminar?”

Hih, tentu saja lebih penting. Apalagi dibanding semacam seminar. Sastra itu dunia kreatif, dunia melakukan. Maka yang paling penting ya menulis, bukan berkumpul-kumpul membuat rumusan. Ah, penyair. Kau mestinya tahu: betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya.

Dan memang, sampai kembali di lokasi seminar, acara sudah hampir selesai. Membayangkan orang-orang berkumpul tetapi enggan pulang—seperti kemarin itu, tiba-tiba kembali berkelebat wajah Kak Ros. Dan mendadak, tiba-tiba pula, melintas pikiran itu: kenapa aku tak coba menanyakan daun papaitan kepada Kak Ros? Ah, kenapa aku sampai lupa ada seseorang yang sangat mungkin tahu, tak jauh-jauh dariku, dan seseorang itu justru orang yang tak lepas-lepas dari kepalaku.

Bergegas aku pulang. Dan karena ini jam-jam yang lebih kurang sama dengan saat aku pulang kemarin, kukira aku juga bakal segera menemukan Kak Ros di taman itu. Tetapi, ternyata tidak. Kulayangkan pandang ke atas rumah. Juga seperti kosong. Akan kulangkahkan kaki menaiki teras, menuju pintu depan, saat kudengar lengking suara kucing dari halaman samping.

Lengking yang aneh. Seperti gerung ngeong keras, lalu tiba-tiba terhenti. Ada pula suara seperti pukulan (atau tumbukan?) beruntun, lalu satu-satu.

Segera aku bergerak, melangkah ke situ. Dan oh, betapa aku terkejut. Di situ, di bawah teras halaman samping, pemandangan itu menyambutku.

Kepala seekor kucing, nyaris gepeng, menjulur dari karung goni. Kedua tangan Kak Ros terangkat, memegang sebongkah batu besar, siap diempaskan kembali ke kepala si kucing.

Tangan itu terhenti.

Kak Ros menatapku.

Mata itu. Mata itu. Baru aku tahu. Bukan lembut bukan tenang, tetapi dingin. Sangat dingin. Membuatku kini menggigil.

***

Tanjungpinang, 30 Oktober 2010

Written by tukang kliping

16 Januari 2011 pada 13:32

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

77 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kereeenn….. Sederhana tapi menggigit!!! Gus TF Sakai, lama ditunggu kok baru nongol, Uda. Makasih makaciyy, Uda

    Ira

    16 Januari 2011 at 14:30

  2. Ya, keren. Pesannya: Jangan percaya pada yang tampak. Orang yang kelihatan lembut ternyata sadis. Gus TF Sakai berhasil mengecoh kita.

    mala

    16 Januari 2011 at 14:40

  3. membaca cerpen ini membuatku terbahak di beberapa bagian. dan lalu membuatku tersentak, terutama sekali pada endingnya. sangat puas!

    yetti

    16 Januari 2011 at 15:00

  4. sederhana tp tdk mbosankan. menarik!🙂

    vir

    16 Januari 2011 at 15:04

  5. Hahaha…. aku suka bagian “Ah, penyair. Kau mestinya tahu: betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya.” Hahaha….. Gus Tf Sakai mengritik para pengarang dan dirinya sendiri. Hebat!!!

    Dewi K

    16 Januari 2011 at 15:25

  6. Ya setuju, mengritik diri sendiri memang hebat, namun yang paling mengesankan bagi saya pada cerpen ini adalah tentang daun, saya baru disadarkan kembali betapa pentingnya daun bagi kita manusia. Cerpen seperti inilah yang sastra, mengingatkan kembali pembacanya kepada hal-hal yang orang sudah lupa..
    Salut untuk Gus Tf Sakai

    Ade S

    16 Januari 2011 at 15:49

  7. Beginilah mestinya cerpen. Wahai para pengarang muda, ayolah lebih bekerja keras, jangan Gus tf Sakai terus yang masuk buku cerpen terbaik Kompas!!!

    A

    16 Januari 2011 at 16:08

    • tumben selesar si A, jelekkk kali ini (Kalau ini benar-benar A yang biasane). Biasanya cerpen-cerpen yang A nilai bagus memang benar bagus. Kali ini kok meleset ya. atau jangan-jangan ini A yang lain.

      Geli Geli Basah

      17 Januari 2011 at 13:41

    • Maaf, komen tgl 16 Januari 2011 jam 16:08 tsb bukan posting saya. Mudah2an tidak terjadi salah paham.

      A

      18 Januari 2011 at 10:28

  8. Salut…untuk endingnya..tak terduga..

    Hatmi

    16 Januari 2011 at 16:10

  9. nice…
    Tlng dlht n dicomment dunk cerpen n puisi saya di blog saya, yudhastefanus.wordpress.com trims

    yudha stefanus

    16 Januari 2011 at 18:04

  10. Ya..karena aku orang bodoh..cerpen ini baguslah, sarat ilmu dan mengajak kita tuk melestarikan obat tradisional. Juga lebih mengajak kreatif ketimbang banyak seminar.

    Abah Ogo

    16 Januari 2011 at 21:14

  11. satu kata, “BAGUS” saya suka cerpen ini.

    salam kenal
    Azmi Labohaji

    Azmi Labohaji

    16 Januari 2011 at 22:22

  12. iiiihhh….sadisss… kupikir cerita ini benar tentang daun, tp memang sesuai judulnya ini tentang Kak Ros..

    Vira C

    16 Januari 2011 at 22:28

    • Karya-karya Gus tf Sakai mang gitu, banyak paradoks. Lembut-lembut untuk yang sadis, indah-indah untuk yang buruk dst. Selalu penuh kejutan. Lalu kita jadi merenung…..

      surya

      17 Januari 2011 at 09:30

  13. Kompas kembali ke jalurnya. Puas.

    Sahabat A

    17 Januari 2011 at 10:00

  14. SI A lama tidak menampakkan batang hidung. Baru muncul kali ini di cerpen ini. Jangan-jangan A ini Gus Tf?

    Geli Geli Basah

    17 Januari 2011 at 10:25

    • Kukira gak. Aku pernah dengar Gus Tf itu OL cuma sekali seminggu. Itupun hanya u mblas email. Btw, aku kok merasa cerpen-cerpen dia tambah sederhana ya? Tapi ya tetap bagus sich….

      Yanti

      17 Januari 2011 at 12:28

  15. Wah, senang sekali ketika Minggu pagi melihat status Mas Bamby Cahyadi: bahwa Minggu, 16 Januari 2011 di Kompas ada cerpen Om Gus tf Sakai.

    Sebagaimana cerpen-cerpen Om Gus tf Sakai yang lain dan yang terdahulu, banyak bahan perenungan yang perlu dicermati oleh manusia. Kali ini tentang Daun.Sungguh luar biasa: banyak hal yang menarik dan impresif dari cerpen ini. Tidak hanya soal gaya penulisan Om Gus tf Sakai yang khas, tetapi juga soal kutipan yang amat membuat saya tersentak itu:

    “Sastra itu dunia kreatif, dunia melakukan. Maka yang paling penting ya menulis, bukan berkumpul-kumpul membuat rumusan. Ah, penyair. Kau mestinya tahu: betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya.”

    Terima kasih Mbak Mirna dan Mas Putu Fajar Arcana yang sudah memuat cerpen Om Gus Minggu ini. Om Gus, inspiratorku dalam menulis.🙂

    Dodi Prananda

    17 Januari 2011 at 12:22

  16. malah saya kok kurang suka sama cerpen ini. Beda dengan cerpen-cerpen Gus tf yang sebelumnya seperti : Orang Bunian. Kali ini jelekkkkk

    Geli Geli Basah

    17 Januari 2011 at 13:36

    • mas, kalau berani tunjukkan dong link asli siapa yang komen ini. hehehe.

      Sahabat A

      17 Januari 2011 at 15:00

  17. akhirnya kompas kembali ke jalurnya

    Sahabat A

    17 Januari 2011 at 14:58

  18. Saya akan tunjuk diri kalau si A tunjuk diri siapa dia..he..he.. Anggap aja ini permainan petak umpet..

    Geli Geli Basah

    17 Januari 2011 at 15:03

  19. kereeeennzz.

    Egha

    17 Januari 2011 at 15:18

  20. Kangen yang terbayarkan hehe

    Bamby Cahyadi

    17 Januari 2011 at 23:14

  21. mengerikan, endingnya.

    zoelkondoi

    18 Januari 2011 at 08:56

  22. @geli geli basah:
    Saya marah banyak yang memalsukan A. Saya sudah malas komentar. Namun cerpen Gus Tf Sakai jadi alasan saya untuk memacu kalian. Tiru dia. Sebagai pengarang jangan sibuk bergosip! Ayo menulis! Benar apa yang dia katakan: Pekerjaan menulis itu ya menulis! Jangan membuang waktu untuk hal-hal tak perlu
    Sekali lagi, cerpen bagus! Orang Bunian juga bagus, lain-lain bagus, tergantung selera

    A

    18 Januari 2011 at 09:01

    • Maaf, komen tgl 18 Januari 2011 jam 09:01 ini juga bukan posting saya. Mudah2an tidak terjadi salah paham.

      A

      18 Januari 2011 at 10:31

  23. Cerpenis satu ini memang oke ya. di cerpen yang ini tampak sederhana dan ringan. Tapi tetap berkesan.
    Pradoks

    baiatadamawaludin

    18 Januari 2011 at 09:11

  24. lumayanlah.

    hudi

    18 Januari 2011 at 12:27

  25. aku suka di endingnya… tidak terduga. jadi dapet inspirasi nih! thanks, Gus.Semoga cerpen minggu depan semakin menggigit.

    mashdar

    18 Januari 2011 at 15:32

  26. Keren…. sederhana tapi inspiratif dengan ending yang tidak terduga.

    mashdar

    18 Januari 2011 at 15:33

  27. lagi-lagi, kesederhanaan Gus Tf Sakai berhasil menggugah. Tapi ini kurang impresif (atau karena saya yang baca kurang tenang ya, hehehe)…. Aku justru lebih suka Orang Bunian, Kaki yang Terhormat, dan tentu saja, cerpen pertamanya yang kubaca di Kompas: Lak-uk Kam… Aku selalu suka gaya penuturannya….

    miftah fadhli

    18 Januari 2011 at 16:29

  28. wow …

    she

    19 Januari 2011 at 18:08

  29. Banyak juga koleksi cerpennya, makasih sdh share cerpennya

    Artikel Komputer

    19 Januari 2011 at 22:57

  30. Menambah pengetahuan tentang daun.
    btw:cerpen klo dimuat di Suara Merdeka dan Nova honornya kapan ditransfer?
    Trims sebelumnya.

    Dian KOL

    20 Januari 2011 at 23:25

    • Kalau Suara Merdeka relatif cepat. Maksimal 1 minggu. Nova dulunya cepat bgt. Dalam 3 hari biasanya sdh cair. Tapi sekarang kayaknya 2 minggu-an baru cair

      Rama Dira

      21 Januari 2011 at 08:16

    • Sekadar menambah: transfer Nova dilakukan tiap tanggal 29 bulan berjalan.

      Aba Mardjani

      21 Januari 2011 at 15:36

    • Trims mas Rama dan Aba.
      Eh..cerpennya mas Aba di Suara Karya hari ini:
      http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=271053

      Ngirimnya kapan mas Aba?

      Dian KOL

      22 Januari 2011 at 11:46

    • Sekitar sebulan, bung Dian…

      Aba Mardjani

      26 Januari 2011 at 18:20

  31. Lagi2 Bang Gus tf bisa membuktikan bahwa, ide cerita itu begitu luas. Meski tak sehebat Orang Bunia, cerpen ini mantaf juga🙂

    Rama Dira

    21 Januari 2011 at 08:21

  32. Setuju cerpen-cerpen Gus TF Sakai makin sederhana. Jangan-jangan memang dia sengaja karena konon kesederhanaan adalah puncak karya seni🙂

    Rendy F

    22 Januari 2011 at 09:12

  33. Akhirnya bang Tf muncul…

    Jito choux

    22 Januari 2011 at 22:19

  34. hahay

    sapto

    23 Januari 2011 at 07:26

  35. bguz

    sapto

    23 Januari 2011 at 07:27

  36. ehehehehe ini namanya mengecoh pencitraan. Dan yang model kaya beginian memang sangat mengena kalo di cerpen. Bayangkan, citra si tokoh yang sedari awal sudah terbangun di kepala, tiba-tiba mendadak rontok di akhir cerita. Sialan!

    delakuya

    24 Januari 2011 at 18:01

    • Memang sialan🙂 Bravo!

      Agus

      29 Januari 2011 at 12:14

  37. Dian: Sekitar sebulanlah….

    Aba Mardjani

    26 Januari 2011 at 18:19

  38. Mengejutkan!

    topstotoes

    28 Januari 2011 at 09:50

  39. bguz,,,bguz,,,,

    fitria

    28 Januari 2011 at 17:41

  40. Salut! keren….

    Widia

    29 Januari 2011 at 12:28

  41. keren!

    Widia

    29 Januari 2011 at 12:29

  42. Ini cerpen Papi paling jelek!

    Tatum

    30 Januari 2011 at 06:37

    • Apakah Tatum ini Kuntum Faiha Bodi anaknya Gus Tf Sakai? Hahaha, hebat sang anak mengkritik sang bapak!

      Dewi K

      31 Januari 2011 at 17:03

  43. alur dan endinf, mirip cerpen berjudul kucing kiyoko. apakah cerpen ini terinspirasi dari cerpen tersebut. mungkin karna itu pula saya tidak terkejut dengan ending nya

    senja

    2 Februari 2011 at 00:01

    • Bukan hanya Kucing Kyoko, tetapi juga Kucing Tua (O Henry), Kucing Nyonya Muda (Anton Chekov), Telinga Kucing (Kobo Abe), Kucing Kurap (Chinua Achebe), Kucing Di Bawah Jembatan (Alberto Moravia), dan banyak cerpen kucing lain yang pernah saya baca. Yang beda hanya tentang daun dan Kok Ros itu, membuat cerpen ini jadi menggugah.

      Hikmat

      2 Februari 2011 at 12:59

  44. Kereeeen. Kopas, simpan, buat bahan mengajar siswa juga mengajari diri sendiri. Moga2 suatu saat bisa ketularan pinter nulis cerpen sebagus ini

    Faradina Izdhihary

    5 Februari 2011 at 17:45

  45. Keren

    Anak tapsel

    6 Februari 2011 at 15:00

  46. Ngapain tu kucing ampe disiksa gituh? Bukannya karnivora? Ngapa duel sama taneman. Daun tergores, kucing disalahkan? Apa tidak ada missing-link? Kambing, kebo mungkin lebih relevan.

    kangdarso

    12 Februari 2011 at 23:42

    • Wahwah, kangdarso keknya gak ngerti kucing. Kucing juga suka daun-daun tertentu lo kang🙂

      Dewi K

      14 Februari 2011 at 09:11

  47. sebagaimana yang sudah-sudah, cerpen Gus tf Sakai, meninggalkan bekas yang tak mudah hilang dari ingatan

    Melvi Yendra @melviyendra

    15 Februari 2011 at 06:54

  48. Aku suka kalimat ini “Ah, penyair. Kau mestinya tahu: betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya.”

    endingnya hmmmmm…..

    S.Nayogo

    19 Februari 2011 at 10:33

    • ih waguuuu.tp menarik😀

      rayhan

      24 Februari 2011 at 19:09

  49. nyengit..:P😉🙂

    rayhan

    24 Februari 2011 at 19:09

  50. waduhh…psycho tnyata ??

    leo

    25 Februari 2011 at 12:11

  51. Di setiap cerpen yang saya baca dari Gus Tf Sakai selalu saya temukan hal-hal menarik. Sebagai penulis, beliau telah merdeka dari pengulangan-pengulangan cerita, seperti kebanyakan penulis lainnya lakukan.

    Salam ta’dzim buat Bung Gus Tf Sakai.

    haris el rifa

    25 Mei 2011 at 08:36

  52. Sederhana, ringan, & menarik…

    gb3n

    17 Juli 2011 at 12:47

  53. Endingnya, WOW!

    yenni

    23 Agustus 2011 at 22:21

  54. hebatnya…
    Suka skali gaya bhsanya mengalir tanpa bs ditebak finalnya gmna
    siiipp ditnggu cerpen2 berikutnya.

    asy hasna indria

    28 Agustus 2011 at 15:59

  55. Top

    Husain Ali

    6 September 2011 at 23:36

  56. cukup mengejutkan sih ceritanya……di awal saya berpikir ada apa dgnkak ros….oh ternyata gitu ya hehehe

    Loganue Saputra Jr

    7 September 2011 at 18:30

  57. temanya apa ya ? bingung deh –“

    lilaa

    4 Oktober 2011 at 17:06

  58. Betapa indah yang diungkapkan kata, betapa buruk pengarangnya. He he he….

    imam burhanuddin

    31 Desember 2011 at 05:55

  59. Tema amat sangat sederhana tapi diungkapkan dg permainan kata yg asyik.

    Sutomo

    27 Februari 2012 at 11:42

  60. bagus banget gak nyangka kalau endingnya bakalan seperti itu
    don’t judge the book by the cover

    sintya

    4 Maret 2013 at 13:42

  61. Simply wish to say your article is as astonishing. The clearness
    in your post is just nice and i could assume you’re an expert on this subject. Fine with your permission let me to grab your RSS feed to keep up to date with forthcoming post. Thanks a million and please continue the enjoyable work.

  62. endingnya ngecohin nihh,, tapi keren

    susi

    21 November 2014 at 12:00


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: