Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Triyanto Triwikromo

Lumpur Kuala Lumpur

with one comment

Siapa pun boleh menari, untukmu Gusti. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Maka, dengarkanlah ceritaku, Gusti. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.

Ayat-ayat Sunyi Ramli

Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu, Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati, sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai, memedihkan mata dengan getir pasir, mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki, dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita.

Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara, tanpa cambukan. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Karena itu, dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri, karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

15 Mei 2005 at 06:26

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Angin dari Ujung Angin

leave a comment »

“Sudahlah Herma, kau tak perlu membayangkan lagi warna wajah ayahmu saat dia menghilang dengan menunggang kuda ke tenggara kota. Yang kutahu, mengenakan topeng emas mirip penunggang kuda dari atas angin 1), sayap di kedua bahunya berkibar-kibar membelah malam. Aku pun tak bisa melihat wajahnya. Mungkin dia telah menjelma iblis. Punggungnya berkilat-kilat, menusuk-nusuk, memisau mata,” kata Hilda, perempuan bergaun tidur hijau muda itu sambil membereskan meja belajar Herma yang dipenuhi lukisan-lukisan pria berkuda berwajah tanpa warna.

Tetapi, teman-temanku bisa mewarnai wajah ayahnya, Ibu. Meskipun Niko melukis wajah ayahnya menyerupai harimau, tetapi dia bisa mengoleskan wara merah di kedua pipinya yang menggelembung,” suara Herma melayang, mendengung di telinga Hilda.

Tak kehilangan akal, Hilda kemudian mengoleskan warna emas di wajah lukisan pria bersayap berkuda gagah itu. “Inilah wajah ayahmu. Dan Ibu harap kau tak bertanya lagi dengan warna apa harus mengoles wajah ayahmu.”

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

7 Maret 2004 at 11:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Seperti Gerimis yang Meruncing Merah

with 2 comments

Kau tak akan pernah membayangkan betapa gerimis November bakal seruncing ini, Hindun. Kau tak akan pernah tahu suara beduk magrib pada Ramadhan terakhir teramat mengiris dan takbir menjelang Lebaran itu mengingatkanku pada ketololanmu memaknai bendera-bendera kemenangan yang terpancang di langit Uhud.

Tentu saat itu gerimis tak sedang mendera medan perang yang riuh oleh denting pedang atau tombak yang sedang beradu. Tentu kilat juga tak sedang menyambar-nyambar di keriuhan ringkik kuda dan debu-debu yang beterbangan seperti abu. Namun, siapa pun tahu, serupa gerimis, anak panah-anak panah dari busur-busur buta itu kian mendesing, mengabaikan jerit, mengabaikan mayat-mayat yang telah mengonggok di bukit berbatu.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

23 November 2003 at 11:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Malam Sepasang Lampion

with 3 comments

Hujan-yang kau sangka bisa menghijaukan seluruh lampu lampion-baru saja mendera jalanan Sussex, Dixon, dan Goulburn. Matamu tentu tak waras kalau menganggap billboard Sussex Centre atau Nine Dragons telah menghijau. Dalam kepungan kristal-kristal air yang jernih pun, papan nama-papan nama restoran itu menguarkan cahaya merah-kuning yang tajam. Dan lampu-lampu lampion bergenta mungil itu tetap saja membiaskan kesejukan daun-daun hijau kekuningan di antara para migran Thailand, Vietnam, atau Korea yang berlarian menghindar ke trotoar.

Dan kau, Xi Shi, diimpit gedung-gedung pink, gapura-gapura berornamen naga atau patung-patung harimau, tak mau menghindar dari kutuk hujan. Maka, sungguh aneh jika orang-orang yang berpapasan denganmu tak menganggap kau sebagai perempuan edan. “Mereka toh tak memahami makna kenikmatan,” dengusku sambil menatapmu yang terus-menerus membentangkan sepasang tangan dan menari-nari dalam dera hujan.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

19 Oktober 2003 at 11:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

%d blogger menyukai ini: