Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Bukit Mawar

with 55 comments


Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam.

”Apa ibu sampean penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.

”Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak tertarik untuk bertanya,” jawabnya seperti biasa.

Arjuna juga tidak setampan yang dibayangkan banyak gadis; paling tidak itu yang dialaminya dulu ketika masih remaja. Wajahnya berkesan layu, apalagi dengan rambutnya yang lurus tipis dan selalu berantakan. Belum lagi ada beberapa bopeng bekas cacar semasa bocah, maka Arjuna sangat jauh dari bayangan kegantengan pemuda idola.

Dia sahabat sepermainanku, sejak masa belum sekolah, kemudian taman kanak-kanak, ngaji bersama, sampai kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, kami terpisahkan oleh nasib orangtua kami. Maksudku, aku terpaksa pindah ke Jakarta dan dia tetap di sana. Akan tetapi nasib pula yang mempertemukan kami di tempat ini. Aku tinggal di dekat Bogor, dan ketika aku dan istri iseng-iseng mencari tanaman untuk rumah baru kami, aku dipertemukan dengan Arjuna.

Begitulah, tanpa upacara, nyaris tanpa kata, aku bertemu dengan Arjuna, yang masih kurus, layu dan wajah berbopeng luka cacar. Namun sejak itu—dua tahun lalu—aku sering bertandang ke kediaman sekaligus kebunnya.

***

Arjuna dan mawar memang tak terpisahkan. Maksudku, Arjuna adalah sahabatku, dan siapakah mawar? Bukan siapa-siapa, karena memang bukan manusia, tetapi tanaman. Mawar kampung.

”Kenapa?” tanyaku, suatu kali.

”Apanya yang kenapa?” jawabnya sambil membuat wadah dari sabut kelapa dan pelepah pisang untuk bibit. Tangannya sangat terampil menciptakan wadah-wadah sederhana itu.

”Mawar. Kenapa bukan Anthurium, atau Anggrek Hitam, misalnya?”

”Sudah pernah dan ketika anthurium merajai pasaran, aku bisa beli tanah ini, seluas ini,” ujarnya datar saja, tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kupandangi tanah seluas seribu meter persegi di tepi jalan itu. Ada patok-patok kayu.

”Mereka mau membangun mal,” ucapnya dingin.

”Maksudmu?”

”Mereka memaksaku untuk menjual tanah ini dan membangun mal di atas lahan ini.”

”Hmm… kalau harganya bagus, kenapa tidak dilepas.”

”Harganya bagus. Tapi aku tidak mau melepas.”

”Kenapa?”

Dia diam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kesal. ”Lantas di mana aku menanam mawar-mawarku?”

***

Sepulangku dari kediaman Arjuna, aku tak bisa tidur. Aneh, manusia satu itu. Kuperkirakan, dia bisa mengantungi sedikitnya dua miliar; dengan luas dan posisi dekat jalan raya, dan dengan uang itu dia bisa membeli tanah yang lebih luas…lebih daripada cukup kalau untuk menanam mawar kampung! Gila.

Tapi, entah mengapa, aku diserang rasa gelisah. Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—, dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya. Ah, jangan-jangan aku sudah tertular penyakit gila yang dideritanya. Sangat tidak masuk akal. Sangat bodoh.

***

Beberapa bulan berlalu, aku tidak main ke rumahnya. Mungkin karena jengkel, mungkin juga karena merasa berhadapan dengan orang sinting, aku tidak berminat menemuinya. Tapi, mungkin juga karena aku memang ditelan kesibukan pekerjaan. Aku harus mengawasi proyek, yang kadang-kadang membuatku berhari-hari di luar kota. Ketika pulang pun, aku hanya bisa bertemu dengan kesunyian rumah dan si Min, pembantu kami, karena istriku pun ditelan kesibukan kantornya, dan saat itu dia di Makassar.

”Dua hari yang lalu, ada orang ke rumah, nyari bapak…” ujar Min sambil membongkar tasku.

Aku diam, mencoba menikmati kehampaan yang tiba-tiba menganga ini. Kusimak pembicaraan Min dan aku tahu bahwa orang itu pastilah Arjuna. Apalagi ketika kutanyakan apakah di wajahnya ada bekas bopeng cacar dan Min mengiyakan sambil tertawa, aku yakin, orang itu pasti Arjuna.

”Keberatan nama Pak, Arjuna, kok, nyekingkring.” tambahnya sambil tertawa geli sendiri.

”Ada pesan apa?”

Ndak ada…dia cuma bilang, ’o, ya, sudah’…terus pulang.”

***

Lama setelah itu, aku masih saja belum sempat menemui Arjuna. Aku mau telepon, tapi seingatku, dia tak pernah memberiku nomor HP. Manusia primitif satu ini memang istimewa sekali.

Sementara itu persoalanku sendiri dengan Andin—istriku—muncul lagi. Persoalan yang sebetulnya sudah bisa diduga dan diurai dengan mudah, tapi, sekali lagi, emosi dan tenaga kami habis disedot pekerjaan. Siang dan malam hanyalah soal terang dan gelap belaka. Rumah berkamar tidur dengan pendingin udara, bahkan bukan sebuah kesejukan di rumah kami. Kami adalah dua orang yang saling bermusuhan diam-diam dan menyembunyikan diri di balik laptop atau BB, untuk saling …entahlah. Aku bahkan kehilangan semua kosakata, dan anehnya dia yang dulu terkenal bawel—dan itu yang membuatku jatuh cinta—kini lebih bisu daripada batu.

Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, sudah berapa jauh jarak kehidupan cinta kami terentang. Sejak kapan hal itu dimulai, kurasa dia pun tak punya jawaban. Yang ada hanyalah kami harus punya foto perkawinan yang bahagia, senyum manis tak terkira dan handai taulan, sanak saudara, kenalan, relasi, bos menganggap kami manusia bahagia yang patut dijadikan contoh.

Beruntunglah Arjuna, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya.

***

Siang itu di proyek, yang kurasakan adalah tusukan sepi yang luar biasa. Di kantin, ketika makan siang, mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan peristiwa. Ah, ini membuatku kian merasa terpuruk menjadi manusia; apa sebetulnya yang ingin kucari? Protes, demo, penembakan oleh aparat, korupsi, artis dilecehkan, wartawan dan pelajar saling jotos, guru menggampar murid, murid membunuh guru…;coba sebut satu saja yang mampu memberikan harapan hidup lebih baik.

Tapi, ketika seorang penyiar menyebut satu nama—sambil sedikit tersenyum, aku seperti tersengat lebah. Arjuna jadi berita. Ah, pastilah kasus tanahnya. Ah, bagaimana dia? Kusimak berita, tapi tak kulihat si Arjuna. Hanya ada massa yang kulihat mendukung Arjuna—di halaman Kantor Pengadilan Negeri.

***

Entah mengapa, berita tv siang itu menggangguku; paling tidak, telah berubah menjadi semacam isu di antara kami. Sambil makan malam bersama kolega bisnis properti dan beberapa investor, percakapan tentang Arjuna menjadi bagian dari menu malam itu. Aku tentu saja harus bersama Andin, yang sejak semula harus merasa bahagia bersamaku.

”Andin, coba kalau kamu punya tanah seluas itu dengan harga jual yang sangat bagus—di atas NJOP di wilayah itu—kamu bertahan?” ucap bosku sambil menyuapkan potongan steik ke mulutnya.

Andin hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Masih senyum yang dulu kukenali dan kusukai. Sesaat kemudian pandangan kami bertemu di suatu sudut yang dulu pernah kami singgahi; sudut kecil saja di kenanganku—paling tidak.

”Kalau saya, maaf, tanah itu tidak akan saya jual…” entah mengapa, aku tiba-tiba seperti didorong oleh tenaga aneh, meloncat begitu saja dari mulutku.

Meja makan seperti tersiram es. Aku tahu, tak seorang pun boleh membantah ucapan bosku, karena dia adalah bos.

”Mmm…bukan itu jawaban yang aku harapkan, apalagi dari kamu. Tapi, …mm…tolong, buat aku bisa memahami ’kebodohan’ yang…” dia menebar pandangan kemudian tertawa, diikuti orang semeja. Kulihat Andin salah tingkah.

”Mmm…(aku menelan ludah)…maksud saya, saya paham pada apa yang dilakukan Arjuna…”

”Ooo, jadi kamu kenal juga dengan si Arjuna?” sela bosku, yang melanjutkannya dengan gelak tawa.

”Mmm…ya, Pak. Dia sahabat sepermainan…”

”Maaf…bilang sama Arjuna, dia boleh saja menikmati kemenangannya kali ini. Tapi itu tidak lama…”

Di perjalanan pulang, aku membisu. Andin membeku. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba menjadi ancaman bagi Arjuna.

Entah mengapa, tiba-tiba Andin membuka pembicaraan yang membuatku merasa kian bodoh. Bermula dari celaannya tentang mengapa aku tiba-tiba berkomentar tentang pertanyaan yang bahkan bukan untukku, sampai sebuah hubungan antara kantorku dengan Arjuna yang selama ini sama sekali tak kusadari.

”Makanya, jangan asyik sendiri. Jelas sekali, siapa pun tahu kalau kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel. Terus mau apa? Demi Arjuna dan mawarnya itu, kamu mau apa?”

Aku diam. Aku hanya ingin sampai di rumah.

***

Sejak peristiwa makan malam itu, aku jadi makin kehilangan kegembiraan bekerja. Semua perhatianku, bahkan mimpiku, tersedot pada Arjuna dan mawarnya. Dan entah mengapa, di mata bosku, aku seperti duri dalam daging. Kusadari semuanya tanpa perasaan apa-apa. Kuterima semua penilaian atas dedikasiku selama ini, dari bosku, dengan jiwa kosong. Aneh juga rasanya, tapi itulah yang kualami. Termasuk ketika bos menawariku posisi lain di salah satu perusahaannya yang lain—untuk menghilangkan ’duri’ yang ada di ’daging’-nya, aku menolak dengan halus. Aku memilih duduk di samping Arjuna yang tenang membuat wadah-wadah sederhana dari tapas kelapa dan pelepah pisang.

***

Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Arjuna, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Arjuna?

Dan bangunan itu, oleh Arjuna sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.

Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Arjuna di pengadilan sibuk melakukan ini-itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.

”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”

”Bayangkan, Tom. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”

”Seluruhnya?” dan kudengar Arjuna tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.

Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Arjuna bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.

”Terima kasih, kamu mau datang,” ucapnya dengan senyum mawarnya. ”mmm…ngajak mbak Andin, ya…”

Andin menyusulku? Dan kulihat Andin gembira, gelak tawanya lepas, seperti murai yang berkicau di pagi hari, dia pun mengoceh dan mengoceh. Aku terkunci dalam kebingunganku sendiri.

”Aku suka ini. Aku gembira ada yang bisa memutus rantai kebekuan. Dan aku bangga, kau pun melakukan itu.” Ucapnya dengan wajahnya, yang—ah, kenapa jadi cantik sekali?

”Aku tidak melakukan apa-apa…”

”Kau keluar dari gurita raksasa, itu adalah sebuah perbuatan gila, sinting, tapi benar. Dan…aku bangga bahwa aku masih punya seseorang yang mau berbuat benar.”

”Meskipun gila?” godaku.

”Plus sinting dan nekat,” tambahnya diikuti gelak tawa.

***

Setelah dia jelaskan apa yang akan dilakukannya dengan bukit itu, dia pun merangkak memanjat bukitnya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang mawar.

Sebuah ritual pun dimulai.

Written by tukang kliping

22 April 2012 pada 20:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

55 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. jujur…agak datar sih.
    tp saya suka ide ceritanya..
    disaat hampir semua orang2 merencanakan pembangunan gedung2 pencakar langit, masih ada juga ternyata yg berpikir membangun kehidupan yang benar2 hidup.
    jakarta butuh orang2 seperti arjuna.

    harikuhariini

    23 April 2012 at 09:49

  2. Cerita yg lumayan bagus. Cm kurng pajang..

    budi

    23 April 2012 at 10:14

  3. Sederhana tapi cukup menyindir. Selamat, Bang!

    Hendra J. Hamzah

    23 April 2012 at 12:02

  4. Yanusa Nugroho rupanya terobsesi dengan mawar ya…saya pernah baca cerpen beliau berjudul Dinding Mawar…Lumayan, walaupun agak datar…tapi saya suka…

    rehoe

    23 April 2012 at 13:15

  5. hmmm…cukup baguslah. Meski[un konfliknya kurang kuat. Hmm…gimana sih supaya bisa menulis di cerpen kompas?

    Belfin

    23 April 2012 at 13:21

  6. Tak selamanya datar itu tak Keren!🙂

    Rohayatun

    23 April 2012 at 13:32

  7. Lumayan

    mulyono dulrahman

    23 April 2012 at 17:20

  8. waw, sungguh cerpen yang melenakan dan mengharukan.

    tapi, entah, sptnya ada yg kurang, sayang, aku tak tau apa,

    nicelah pokoknya.

    kanjeng ray

    23 April 2012 at 18:39

  9. Tidak menghancurkannya, tetapi menguruknya menjadi bukit kecil, lalu merencanakannya untuk menanam mawar kampung.” Ide yg sederhana, namun sulit ditemukan.

    Zidan

    23 April 2012 at 19:07

  10. beberapa minggu kemaren ada cerpen yg tema ceritanya hampir sama kaya cerpen ini..
    agak datar c, tpi suka ceritanya..

    Morque Vanguard

    23 April 2012 at 19:30

  11. Reblogged this on Violet Silhouette of ….

    Dearisa Muhlisiani Putri

    23 April 2012 at 22:49

  12. Kalian ini goblok atau apa sih? Bisanya cuma protes karya orang lain. Emangnya kalian udah nulis berapa puluh cerpen? Taek.

    PecintaMAWAR

    23 April 2012 at 22:55

    • Hati boleh Panas tapi kepala tetap Dingin,,,piss😀

    • masukan dr pihak luar itu penting bagi penulis mas . . Jangan hanya bisa menggoblok2an oran lain sja , lantas bangga dgn diri sndri . . Tak lbih anda sendiri terlihat dungu dan tolol dgn komentar anda tsb . .

      andreasmara

      25 April 2012 at 15:30

  13. Setuju, ceritanya terasa datar. Mungkin karena emosinya kurang tergali. Kritik sosialnya secara gamblang disampaikan dan menarik untuk dipikirkan terutama di Jakarta dan kota besar lainnya. Kapan kota tempat tinggal kita bisa lebih manusiawi lagi?
    selamat dan sukses terus buat penulisnya.🙂
    p.s: buat komentar di atas saya. bukan protes x, tapi ini komentar berisi saran dan kritik.

    event kampus

    24 April 2012 at 08:42

  14. fokusnya mungkin bukan pada mawar2nya…
    tapi lebih kepada kehidupan manusia modern, yang jauh dari “ketenangan”,,,datar. Bagian yang menggambarkan kehidupan aku dan istri-nya cukup menarik.

    orang awam

    24 April 2012 at 10:36

  15. jenis cerpen yang sy suka niih
    metaforanya sederhana, hmmm
    bacaan yang ga bikin otek keberatan lllaaaah
    suka😀

    ajjah

    24 April 2012 at 14:27

    • hahaha

      lilik

      30 April 2012 at 13:08

  16. Hmm… Flat !

    reno

    24 April 2012 at 21:48

  17. Cerita yang sangat menarik

    ArdShare

    24 April 2012 at 23:06

  18. sederhana, tapi manis…

    ellysion cordelle

    25 April 2012 at 01:06

  19. asik. kalem kalem menghanyutkan

    Gibb

    25 April 2012 at 02:17

  20. asik , tp endingnya kurang

    wapenk

    25 April 2012 at 03:01

  21. Bagus dan tidak sulit untuk di pahami..🙂

    Khaerul Imam

    25 April 2012 at 07:48

  22. ceritanya cukup sederhana krn mudah dipahami, tapi tetap istimewa.^_^

    amaya

    25 April 2012 at 18:34

  23. Titip salam saja buat mas Yanusa….

    Aba Mardjani

    25 April 2012 at 21:24

  24. ini cerpen yg sangat istimewa…meraba kehidupan saya seperti senyum seorang ibu pada bayi yg baru di lahirkannya…

    Abi asa

    25 April 2012 at 22:58

  25. bagus,,kapan ya punyaku dimuat???

    tri

    26 April 2012 at 09:09

  26. Heueheu..garing dan datar banget, benar benar bosan. Sori om dan tante, bukannya ana tidak hargai karya orang, kalau cerpen macam ini di tag di note facebook ya wajar aja. Lah ini? KOMPAS, Sob!

    Muhadzier Maop

    26 April 2012 at 16:45

  27. Terimakasih Mas Tukang Kliping yang telah membetulkan urutan aline demi alinea, dimana pada naskah asli yang dimuat di Kompas minggu, 12 April 2012 yang lalu, urutanya sangat kacau dan amburadul, gimana tim editor Kompas kok sampai kebobolan kaya gitu?. Sebenarnya ada yang menarik dalam cerpen ini ketika mulai mengangkat konflik aku dan istrinya, kalau saja tema ini yang terus dieksplorasi maka banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan apa lagi konflik antara aku dan istrinya dibandingkan juga dengan Arjuna yang masih sendirian yang digambarkan sebagai berikut “Beruntunglah Arjuna, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya” . Benarkah orang lajang tidak menemukan neraka dalam hidupnya, karena tidak punya konflik dengan pasanganya, inilah tema yang kalau digali lebih dalam dibandingkan dengan tema yang dikembangkan dalam cerpen ini yaitu Arjuna dan mawarnya yang endingnya kurang realistis, mana ada orang se idealis Arjuna yang berada dalam hiruk pikuk kota tetap bertahan dengan bukit mawarnya, apalagi hanya satu hektar dan diperolehnya juga sangat mudah yaitu ketika anthurium merajai pasar, bagaimana kalau mawar tidak lagi merajai pasar, masih idealisme itu. Satu lagi yang terasa sangat dipaksakan adalah pertemuan kebetulan anatar “aku” dan Arjuna yang sudah sekian tahun tidak jumpa tiba-tiba saja ketemu hanya karena kebetulan mencari bunga, Ah ternyata dunia hanya seluas daun kelor.

    Eko Wahyu

    26 April 2012 at 20:57

  28. sederhana. mengena

    bintangtimurlaut

    27 April 2012 at 14:44

  29. ceritanya baguss,,coba kalau banyak arjuna di Indonesia ini!!!

    Ichiko

    27 April 2012 at 19:06

  30. Lumayan, buat nambah referensi…

    rantinghijau

    28 April 2012 at 21:31

  31. terasa datar iya, tapi bukan berarti ga menarik. menurutku yg disayangkan hanya cerita antara ‘arjuna’ dan ‘aku dan istriku’ itu kok seperti dua alur ya. bukannya cerpen itu mesti satu alur? mendukung komennya mas Eko Wahyu.🙂

    dienza

    29 April 2012 at 11:27

  32. menurutku–sebagai pembaca setia cerpen kompas, cerpen ini bagus dan layak masuk kompas. fokus cerita cerpen ini menurutku adalah retaknya hubungan Tom dengan Andin. bukit mawar hanyalah sebagai jembatan penghubung sepasang suamu istri tersebut dari kegersangan ke dalam sebuah kebahagiaan yang lama dirindukan ^_^

    Ari Mami Q

    29 April 2012 at 13:18

  33. Aku sdh membaca cerpen ini di Koran KOMPAS dulu,, Kayaknya terasa ada yang salah pada penulisan paragrap2nya atau tataletaknya (oleh kompas atau penulisnya sendiri) jadi membuat cerpen ini agak tdk enak di baca.dan terasa datar (istilah teman2) Kalau betul, semoga ada ralatnya…

    Arum

    29 April 2012 at 13:43

  34. Kalau ingin maju hrus dg lapang dada menerima kritik dan saran dari orang lain….cerpennya lumayan…

    Zulgafar Abdullah

    29 April 2012 at 21:54

  35. penulisan jaman sekarang itu bukannya hampir tidak perlu aturan ya?saya sih lebih suka penulisan berkarakter seperti ini,daripada yang sesuai aturan tapi bobotnya kurang.
    kalo masalah datar ga datar tergantung cara seseorang membacanya (menurut saya),saya malah merasa cerpen ini dalam dengan kedatarannya (istilah kalian).

    Cita Belantara Puteri

    30 April 2012 at 00:36

  36. Sy bukan seorang penulis , tapi menurut sy cerpen ini cukup baik.

  37. sangat menarik untuk d baca,tp ad yg tau g . gmn cra ngrm cerpen ke kompas.

    nurhatimah

    6 Mei 2012 at 16:52

  38. wahhh kumpulan cerpen ini bisa jadi nantinya akan dibuat versi bukunya ya😀

    Padang Hotel

    7 Mei 2012 at 11:12

  39. luar binasa

    elkamis

    10 Mei 2012 at 16:40

  40. wow…!!!!

    Fhathimha Shythy

    18 Mei 2012 at 14:15

  41. bukan datar atau membukitnya. bagi saya, idenya menarik memang. suka! namun, mmg konfliknya msh kurang. jika perusahaan vs arjuna lbh diperkaya lg konfliknya, akan sgt menarik. trus, (kematian) negara jg mgk menarik dihadirkan disana, melalui hsl akhir pengadilan. tp jujur,sy jg blm bs nulis cerpen. tp sy menikmatinya. bravo!

    andisumarkarman

    2 Juni 2012 at 11:08

  42. no comment

    a.

    3 Juni 2012 at 02:44

  43. lanjutttttttttt

    kreasiwolu8

    15 Juni 2012 at 15:22

  44. Di luar urusan flat, kelogisan cerita, EYD, menurut saya cerpen ini menarik dan cukup manis.

    Ntut

    22 Juni 2012 at 23:36

  45. isi yg disampaikan sungguh baik,

  46. Ceritanya bagus, tapi benar menurut mas wahyu, dan diensa, ceritanya kurang fokus, mnurutku bnar kata diensa seharusnya cerpen ini di jadikan 2, antara konflik keluarga aku dan arjuna dan perusahaan yang akan mmbeli tanah tsb. membaca cerpen ini pasti akan bertanya2, konflik yang mana sih sebenarnya yang akan di suguhkan, konflik keluarga apa konflik si arjuna,
    Pas saya membaca konflik utama, wah…bagus bangett…eh ternyata tiba2 ada sponsor aku dan andin yang di setting menjadi suatu cerita ber latar, berkonflik, beralur rapi_ yang di paksa disispkan di antara cerita antara arjuna dan mawar serta tanah dan pengadialan.

    Janerf

    6 November 2012 at 21:11

  47. flat? datar? lebih dari 50 komen tau…. artinya banyak orang tertarik dengan cerpen ini, ayo maju terus penulis! doakan saya juga bisa nampang di kompas

    Aze Yakuza

    12 November 2012 at 23:49

  48. apa alasan kompas menerbitkan yang satu ini? membacanya, sy serasa menatap wajah arjuna yang bopeng2….

    Anara Prima Diamona

    17 Januari 2013 at 21:44

  49. Reblogged this on chocobananana~.

    maharaniarya

    6 Mei 2013 at 11:39

  50. No comment!! soalnya belum Baca🙂

    lia pranitha

    15 Agustus 2013 at 12:00

  51. Jalan ceritanya sama sekali tidak menarik mas. Saya jujur untuk hal itu. Tapi menurut saya jalan ceritanya bukan hal yang terlalu penting sih, hingga banyak konflik yang harus dimunculkan;walaupun ada baiknya jika ada. Dan yang saya lihat di sini bukan jalan ceritanya, melainkan gaya bahasanya. Untuk saya sendiri, gaya bahasa lebih menjadi pandangan utama. Dan karena gaya bahasa mas, cerpen ini menarik saat saya baca. Memang sih banyak yang perlu di tambah agar lebih memikat hati mas, tapi bujan berarti ini gak bagus. Jujur aja, saya suka:).

    Yah, malah kepanjangan nih saya koment. Maaf yah mas. Segitu aja deh, lagi pula saya juga gak terlalu mendalami tentang penulisan suatu cerita. Semangat buat lebih banyak lagi yah mas:)

    Ekayellowstar

    17 November 2013 at 21:01


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: