Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Nyai Sobir

with 34 comments


Ribuan bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.

Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.

Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.

Hari berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka.

***

Kiai Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ’santri kalong’. Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat propinsi dan pusat yang menyempatkan diri sowan kiai sepuh yang sederhana ini.

Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem*) beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang tengah malam. Dan ’peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.

Ruang tamu ndalem beliau yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.

Kiai Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan; dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan, curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang dimanusiakan.

Maka mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka. Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu, hingga minta utangan. Dari minta air suwuk**) untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .

Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas.

***

Semua perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum. Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir hayat beliau.

Akulah yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh makan seperti yang dikehendaki abah.

Peringatan 40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di desaku.

Ketika kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja. Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.

Sebagai pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri, aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama, aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi pengajian.

Dari sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.

Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke 7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.

***

Abah, apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu. Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.

Aku mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.

Ah, semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada di sampingku.

Orang mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi. Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran, lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku tolak dengan halus.

Kemudian kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh seorang suami. Namun ketika aku tanya ”Kawin dengan siapa?” kedua orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.

Sungguh, abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada. Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah, aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.

Dalam pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.

Mereka tidak rela kalau aku dipersunting orang ’biasa’ yang tidak selevel abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah, abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?

Setiap malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah. Aku percaya kepadaNya.

17 Desember 2011


*) ndalem = sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren
**) air suwuk = air yang didoa-i

Written by tukang kliping

15 April 2012 pada 12:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

34 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dilema janda muda, hmmm

    Aba Mardjani

    16 April 2012 at 14:22

  2. Pak Kyai Sobir apa ga punya keturunan melalui Nayi Sepuh ya ?

    mulyono dulrahman

    16 April 2012 at 16:42

    • serius amat bang wkwkwkwk

      silmi

      24 November 2013 at 16:15

  3. Selamat

    Omo

    16 April 2012 at 19:24

  4. kriuk… garing.
    maaf Pak Kiai, tulisannya jelek banget nich, saya ga nemu banyak manfaat..

    adib

    16 April 2012 at 22:28

  5. Kurang menarik

    Karel

    17 April 2012 at 03:12

  6. bisalah untuk berfikir sejenak…..

    haris

    17 April 2012 at 03:51

    • terlalu datar….

      abdullah muava

      18 Juli 2014 at 03:16

  7. Sejumlah ungkapannya menarik:
    Meja kuno yang “dikelilingi beberapa kursi yang tidak seragam” (mungkin gelas, piring, dan sendoknya juga tidak seragam), sangat pas mendeskripsikan properti ruang khas pesantren miskin atau udik di Jawa.
    Kemudian “mereka semua melayat diri mereka sendiri”, mengingatkan kita pada kecenderungan menguatnya ego pribadi di ruang publik, seperti para khatib shalat Jumat yang khutbahnya panjang-panjang, seolah ingin mendengar omongan mereka sendiri, tak peduli jamaah sudah ngantuk atau bosan.
    Juga “persis seperti kata Titik Puspa dalam salah satu tembangnya ” sebagai acuan rasa sepi, membuat suasana jadi jadul atau bahkan ndesit.

    Terlepas dari itu, saya kira, cerpen ini bukan sekadar dilema janda muda. Mungkin, inilah dilema (atau kritik terhadap) organisasi pesantren pada umumnya: ketergantungan yang akut pada figur ketimbang sistem, kacaunya batas antara urusan privat dan persoalan publik, serta kaburnya wilayah individu dan organisasi. Belum lagi soal patriarki yang selalu meremehkan peran perempuan.

    Bagi penggemar cerpen-cerpen dengan alur dramatik yang menggebu dan ending yang menghentak, cerpen ini mungkin memang terasa kurang greget. Tapi, IMHO, saya kira banyak inspirasi dapat ditimba dari dalamnya.

    peanut muffin

    17 April 2012 at 15:10

  8. menikmati…

    Fhathimha Shythy

    17 April 2012 at 16:02

  9. hem…. sangat bagus

    bojonegoro punya

    17 April 2012 at 17:07

  10. sgt mirip di pesantrenku yg juga Gus Mus jg kerabatnya….ga mudah jd pemimpin dan menggantikannya

    Junaidi

    17 April 2012 at 22:33

  11. wah.wahhh..kok bisa muncul di kompas ya?? dudududu

    dodo

    18 April 2012 at 08:42

  12. Saya bosan membaca ini, terus membaca berharap menemukan yang wah namun sampai akhir tetap sama. Padahal, kompas kan ya?

    Muhammad Baiquni

    18 April 2012 at 21:01

    • Detail cerita ternyata belum menjadi perhatian anda. Membaca cerita hanyalah ending saja yang jadi fokus utama… Ending yang heboh tentu saja.

      Mas Bei

      31 Mei 2012 at 00:30

  13. keren.. ini cerpen yang bagus.
    awalnya saya merasa nyai terlalu egois karena ingin diperhatikan oleh lingkungan. cerita berlanjut dan semuanya semakin jelas. dilema seseorang yang tidak lagi dimanusiakan. tidak dijadikan subjek untuk mengambil keputusan sendiri. cerita ini jg seperti miniatur kehidupan perempuan yang masuk ke lingkungan penuh peraturan hingga diminta secepatnya menyesuaikan diri. (seperti lady diana atau purti Masako). disisi lain saya jadi teringat alm ibu Ainun. dibalik pria besar selalu ada perempuan kuat.
    pesan cerpen kali ini sangat menyentuh tetapi sederhana penyampaiannya.🙂

    event kampus

    19 April 2012 at 00:21

  14. mari kita melayat untuk diri kita sendiri . .

    andreasmara

    19 April 2012 at 00:44

  15. Hmmm
    Tidak sampai mengerutkan kening untuk mengerti makna cerita ini.
    Not bad.

    reno

    19 April 2012 at 12:01

  16. .. knp ya.. aku kurang suka cerpen kompas akhir2 ini.. terkadang aku mendapatkan yang menarik malah dari koran tetangga…
    padahal aku udah langganan kompas…

    zimber

    19 April 2012 at 17:34

  17. http://flplubuklinggau.blogspot.com/2012/03/training-dan-pelatihan-menulis-cerpen.html
    Training menulis, hanya dalam dua hari, karya Anda akan dibukukan!

    berrybudiman

    19 April 2012 at 21:47

  18. lumayan………………..

    duniaplakatakrilik

    20 April 2012 at 23:25

  19. mengangkat kisah janda muda di saat peringatan Kartini.

    http://wanspeak.wordpress.com/2012/04/15/malaikat-pencakar-langit/

    wanspeak

    22 April 2012 at 12:20

  20. Ini persoalan esksistesi yang hampir dirasakan tiap orang. Manusia, selalu menjadikan dirinya menjadi pusat dunia.

    Lita Zein

    22 April 2012 at 12:40

  21. terharu
    mungkin ini jd kekuatan yg baru
    dari cerpen cerpen lain yang wah
    dan endingnya selalu meisterius

    ada kalanya kita takluk menghadapi teka teki ini.

    pangeran ciputat

    4 Mei 2012 at 21:26

    • bagus sekali.. banyak point saya dapatkan dari cerpen ini.. terkhusus eksisitensi perempuan, nama besar, second figure de el ell.. saya melihati realita itu sungguh ada!

      Rufi

      31 Mei 2012 at 05:19

  22. Selalu menyenangkan membaca tulisan Yai Bisri, kangen Lukisan Kaligrafi.

    Moh. Habib Asyhad

    31 Mei 2012 at 17:02

  23. Ada sisi yang mungkin tidak semua pembaca bisa memahaminya: perasaan perempuan dan eksistensinya. Disajikan dengan sangat detail dan menyentuh.

    Peni Puspita

    2 Juni 2012 at 20:18

  24. ingat waktu tinggal di pesantren suasananya sama ,ingat almarhum Kyai saya,orang yg selalu amar makruf nahi munkar,ahlan Gus Mus

    cholis

    1 Juli 2012 at 12:35

  25. penuturan yang sederhana dan mengharukan dari realitas yang tertangkap oleh hati. meresap…

    *saat membaca cerpen usahakanlah meresapinya bukan cerpen yang mengikuti selera kita. saat makan di sawah dengan alas daun pisang rasanya gak cocok kalau makan fast food. lebih cocok nasi pecel.
    jadi kadang suasana hati dan lingkungan juga ikut mendukung dalam mebaca suatu cerpen.

    jojo paijo

    5 Juli 2012 at 16:39

  26. Duh trenyuhnya aku….

    betri

    10 Juli 2012 at 12:09

  27. Sedang bermaen-maen.

    Fasya

    29 September 2013 at 08:54

  28. tak mudah menjadi perempuan bermartabat….sebagai perempuan aku mengerti perasaan nyai sobir….muda, cantik, pntar dan seorang janda. sungguh berat…..

    yeti wulandari

    6 Februari 2014 at 12:39

  29. Ceritanya seperti kombinasi Ustad Jefry dan Gus Solah ya?
    Berlarut-larut dalam masalah, selanjutnya terserah pembaca.

  30. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: