Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Wajah Itu Membayang di Piring Bubur

with 62 comments


Selalu setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang.

Sejak Pasar Kliwon terbakar, keberadaan Murwad tidak jelas. Ada yang mengatakan, Murwad tewas terbakar. Tubuhnya mengabu. Arwahnya gentayangan. Seorang bakul sayuran mengaku melihat Murwad berjalan melayang di antara los-los dan selasar pasar.

”Wajahnya ringsek! Kasihan sekali. Aku tidak tega melihatnya,” ujar bakul sayuran itu dengan wajah pucat.

Pengakuan itu segera menyebar ke seantero pasar. Umumnya orang-orang percaya, Murwad telah tewas.

Namun, Sumbi yakin, suaminya itu masih hidup. Dia pasti pulang. Entah kapan. Sumbi berusaha mengulur-ulur harapan itu dengan selalu menyajikan bubur gula jawa buat Murwad. Di hamparan bubur hangat itu, terbayang wajah Murwad. Tersenyum. Dada Sumbi terasa mengembang.

***

Murwad mengayun-ayunkan sapunya. Menghalau belasan pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta di sela-sela los pasar. Bangku-bangku dipukulinya. Kursi dan dingklik dilemparkannya. Suara gaduh menjelang subuh itu membuat beberapa pasangan kaget. Mereka bergegas bangun. Langsung berlarian. Ada yang setengah telanjang.

Beberapa pasangan masih bertahan. Ada yang masih berangkulan. Bahkan nekat bercumbu.

”Ayo minggat! Minggat!” seru Murwad sambil mengacung-acungkan sapu lidi yang bertangkai panjang, bagai mengacungkan senapan.

Seorang lelaki gemuk, bertelanjang dada, berdiri. Matanya melotot. Ia mengayunkan tinjunya ke wajah Murwad, namun Murwad mampu menghindar. Murwad memukul kepala laki-laki itu dengan tangkai sapu. Laki-laki itu sempoyongan. Jatuh.

”Enak saja bercinta di pasar! Kalau tidak kuat nyewa losmen, ya cari kuburan!” Murwad meradang.

Laki-laki itu kembali menyerang dengan pukulan, namun hantaman sapu Murwad lebih cepat mendarat di kepalanya. Laki-laki itu pun kabur. Diikuti pasangannya.

Murwad, dengan wajah keruh, memunguti lembaran-lembaran koran, botol minuman beralkohol, bungkus jamu kuat lelaki, kondom, dan tikar jebol. Pekerjaan ini telah ia lakukan berulang kali, setiap menjelang subuh tiba.

”Dasar sundal! Kalian telah mengotori pasar. Gara-gara ulah kalian, pasar jadi sepi. Bakul-bakul bangkrut. Awas, jika kalian masih berani bercinta di sini!” Murwad berteriak-teriak. Suaranya diserap dinding-dinding pasar.

Mendadak terdengar suara ledakan. Sangat keras. Muncul percikan-percikan api. Makin lama makin membesar. Menjilat-jilat. Api itu terus menjalar membakar apa saja. Murwad berlari pontang-panting. Ia berusaha meloloskan diri dari kepungan api. Tubuhnya menjelma bayang-bayang.

Tubuh Murwad melayang memasuki lapisan-lapisan ruang. Ketika tubuh itu hendak jatuh, mendadak ada tangan yang terulur dan menangkapnya. Murwad kaget. Namun, sang penolong itu membujuknya untuk tenang lewat senyuman.

”Eyang ini siapa?”

”Namaku Ki Dono Driyah.”

”Kenapa Eyang menyelamatkan saya?”

Laki-laki sepuh itu tersenyum.

”Di mana saya?”

”Ruang awung-uwung. Tempat istirah jiwa-jiwa sebelum meneruskan perjalanan menuju Jagat Kelanggengan.”

”Jadi saya sudah mati?”

”Jantungmu masih berdetak. Rabalah….”

Murwad meraba dadanya. Ia masih merasakan degup jantungnya.

”Saya masih bisa pulang?”

”Bisa. Kapan saja. Sekarang?”

”Saya masih ingin di sini. Ruang ini sangat sejuk. Indah. Terang.”

”Seluruh dinding ruang ini adalah cahaya….”

Eyang Dono Driyah bercerita. Dulu dialah yang merintis berdirinya Pasar Kliwon hingga berkembang menjadi besar. Sebelum memulai kehidupan pasar itu, Eyang Dono bertapa selama 40 hari untuk mendapatkan wahyu pasar.

”Tuhan mengabulkan permohonanku. Wahyu itu hadir, berpendar-pendar di atas pasar itu. Dalam pendaran itu, Tuhan menaburkan rezeki,” ujar Ki Dono Driyah.

”Sekarang, wahyu itu masih ada, Eyang?”

Eyang Dono Driyah menatap wajah Murwad. Lalu, menggeleng.

”Kenapa?”

”Aku tidak tahu persis. Tapi, sejak pasar itu dihuni Genderuwo, suasana jadi aneh. Gerah. Genderuwo itu selalu meniupkan hawa panas dalam setiap aliran darah, hingga orang-orang saling membunuh.”

”Tapi di pasar itu, saya tidak pernah melihat perkelahian atau mayat-mayat….”

”Karena kamu tidak melihatnya dengan mata batin.”

”Bagaimana wujud Genderuwo itu?”

”Tinggi dan besarnya tak bisa dibayangkan. Tubuhnya berbulu hitam. Kasar. Kuku kaki dan tangannya sangat panjang. Matanya hijau. Bola matanya sangat besar, sepuluh kali lipat dari danau. Tubuhnya bisa berubah menjadi apa saja. Angin. Api. Udara. Dia hadir di mana saja, di setiap belahan dunia. Di setiap hati manusia.”

”Saya ingin melihatnya. Bisakah Eyang membantu?”

”Kamu belum siap. Kamu masih kamanungsan. Kamu mesti membebaskan diri dari hasrat-hasrat kemanusiaanmu. Berpuasalah. Kuat?”

”Kuat, Eyang. Saya ini terlatih menderita.”

Mendadak Tubuh Murwad terpental. Melenting ke udara. Melayang. Ia kaget. Tiba-tiba ia berada di sel penjara. Ia pukuli jeruji sel itu dengan piring seng. Seorang sipir datang. Matanya melotot. Murwad mengamati kaki sipir itu yang menapak di lantai. Ia pun yakin, dirinya masih hidup di dunia nyata.

***

”Dengan berubahnya Pasar Kliwon menjadi Kliwon Plaza maka masa depan itu kini ada dalam genggaman kita. Dinamika ekonomi kota ini akan terus meningkat dengan semakin banyaknya orang belanja.” Wajah Wali Kota Bragalba menyala. Orang-orang tepuk tangan. Ratusan blitz menghujani wajahnya.

”Masyarakat yang suka berbelanja adalah masyarakat yang makmur!” Bragalba mengunci pidatonya.

Tepuk tangan kembali membahana. Bragalba menekan tombol sirene. Kliwon Plaza resmi dibuka. Ia pun turun panggung. Para wartawan langsung menyerbunya.

”Apa benar, Pasar Kliwon sekarang dihuni Genderuwo?” tanya seorang wartawan.

No comment. Maaf. Saya hanya menjawab pertanyaan yang rasional. Saya tidak percaya hantu.”

”Tapi masyarakat sangat percaya soal Genderuwo itu.”

”Itu mitos. Itu dongeng!”

***

”Saudara tahu, kenapa saudara ditahan di sini?” ujar seorang pemeriksa dengan ramah.

Murwad terdiam. Kepalanya terasa pusing diterpa lampu sangat terang.

”Tahu alasannya saudara ditahan?!”

”Tidak. Saya hanya melihat pasar itu tiba-tiba terbakar.”

”Bagus. Berarti saudara ada di lokasi ketika itu.”

”Iya. Tapi, saya hanya tukang sapu.”

”Itu tidak penting. Yang penting, saudara mengakui ada di lokasi.”

”Apa tujuan saudara membakar pasar itu?” tanya pemeriksa yang lain.

”Maaf Pak. Kenapa pertanyaan Bapak aneh? Saya tidak membakar.”

”Akui saja. Hukuman saudara akan ringan.”

”Tapi saya tidak membakar. Tidak, Pak. Tidak.”

”Saudara sakit. Saudara perlu dokter.”

Beberapa sosok meninggalkan ruangan. Dua petugas menggelandang Murwad menuju sel tahanan.

***

Sumbi mengambil bubur gula jawa yang tadi pagi ditaruhnya di meja dan menggantinya dengan bubur yang baru, yang masih hangat. Ia berharap, Murwad segera menikmatinya. Lahap. Seperti biasanya. Agar ia tetap sehat. Dan bisa cepat pulang. Bayangan wajah Murwad melekat di hamparan bubur panas. Sumbi melihat, Murwad sangat menikmati bubur itu.

***

Di sel tahanan, sudah lebih seminggu Murwad tidak mau makan. Makanan itu dibiarkan saja dirubung lalat. Ia merasakan tubuhnya lemas dan panas. Namun, semangatnya tetap tinggi untuk tidak menyerah. Para sipir selalu membujuknya untuk mau makan. Namun selalu ditolaknya.

Pada hari kesebelas, Murwad merasakan tubuhnya ringan. Melayang. Memasuki lapisan-lapisan cahaya. Ia melihat Eyang Dono Driyah duduk mengambang di antara dinding-dinding cahaya.

”Eyang…..aku melihat Pasar Kliwon berubah jadi bangunan megah dan indah. Penuh cahaya. Tapi Eyang, aku melihat sosok hitam besar sekali. Ya, dia duduk di sana,” mata Murwad terpejam.

”Ya, itulah Genderuwo penguasa pasar!”

”Aduh eyang, mataku tidak kuat. Pandanganku jadi gelap.”

”Dia memang sakti sekaligus ganas! Hati-hati. Sekarang lihatlah lagi. Genderuwo itu masih di sana?”

”Masih….; Dia menggerakkan tangannya. Tidak hanya dua, tapi banyak sekali. Tangan-tangan itu berubah jadi belalai panjang dan besar. Ya, ampun pasar itu dibelitnya. Gumpalan-gumpalan uang itu dihisapnya.”

”Dia lebih dari rakus….”

”Genderuwo itu menoleh, Eyang. Dia menatapku. Matanya hijau bikin silau. Gigi-giginya gemeretak. Taring-taringnya berkilat-kilat.

”Eyangggggg!!!!!!”

***

Tubuh Murwad tumbang.

Murwad membuka mata. Pelan-pelan. Ia melihat ruangan yang asing. Serba putih. Bersih. Selang-selang infus menancap di lengannya.

Seorang perawat tersenyum kepadanya. Murwad ketakutan. Ia melihat wajah hitam berbulu kasar, dengan tatapan mata hijau tajam, dengan mulut yang menyeringai, dengan taring-taring tajam penuh bercak darah.

Mata Murwad terbelalak. Kedua tangannya seperti menahan tangan-tangan lain yang mencekik lehernya. Murwad terus meronta. Tubuhnya mengejang. Napasnya terasa berhenti. Tangan-tangan itu terlalu kuat untuk ditahan.

Sumbi, dengan takzim, menaruh bubur gula jawa yang masih panas itu di meja. Tangannya mendadak gemetar. Piring itu terlepas. Bubur itu tumpah. Ia tak melihat lagi wajah suaminya dalam hamparan bubur….

Yogyakarta 2011

Written by tukang kliping

8 April 2012 pada 08:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

62 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. bagus, saya suka ceritanya🙂

    lammm

    8 April 2012 at 09:08

  2. Apa yang tersirat di cerpen ini tidak dapat aku mengerti.

    • km tu gk mudengan pancen!!! adikqu kelas 6 SD be mudeng kowh…

      Anina

      8 April 2012 at 11:23

    • Wahh masak sih?

      Amadia Raseeda

      9 Mei 2012 at 18:28

    • bacot ;

      haji lululung

      11 Mei 2015 at 13:30

  3. tergambar . . . proses penggusuran pasar tradisional . . . yang disulap menjadi plaza.
    hilanglah ciri khas masyarakatnya – – – – saling bersapa —–, berganti ‘masyarakat’ dengan —- hobbi baru —– belanja.

    Anwar Halim

    8 April 2012 at 09:42

  4. “The true power of capitalism,” begitulah saya menafsir pesan cerita ini.
    Dan adakah di zaman ini konsep pemberantasan kemiskinan mengandung multitafsir (berunsur ambiguitas): memberantas–tanpa tanda kutip–dan “memberantas” dalam tanda kutip?
    Di luar itu, cerpen ini sederhana–sepi dari bunga-bunga kata–namun tetap kena. Cuss!!!

    Anak Zaman Abu-abu

    8 April 2012 at 10:07

    • coba kita pahami kapitalis secara lebih baik. bukan konsep kapitalis yang salah, tapi orang yang menjalankannya yang bermasalah. kapitalis berasal dari kata kapital yang berarti modal. coba cari2 dlu tentang kemunculan kapilalis sebelum menghakimi.

      event kampus

      18 April 2012 at 23:43

  5. Cerpen ini, menyimpan satu ungkapan kesaksian yang tertahan oleh kalimat-kalaimat yang dibungkus rapih, barabgkali ada hal yang ingin diungkapkan sesuatu proses terbentuknya sebuah pasar moderen dimana penuh kamuflase dalam proses pengusirannya, agar terlihat hadirnya pasar dengan wajar.

    Ali

    8 April 2012 at 11:26

  6. Ending yang bagus!

    Rihlaturrizqa Attamimi

    8 April 2012 at 11:34

  7. Saya terhanyut. Makna yang ingin disampaikan penulis, begitu saja masuk lewat jalan yg tidak saya sadari. Salut. Salam hangat untuk penulis dan para rekan penggemar cerpen kompas.

    Cicad

    8 April 2012 at 12:00

  8. Indah. Mengaduk imaji dengan realita.

    Idham

    8 April 2012 at 12:17

  9. Tidak dapat dipungkiri, keunikan ide lebih mencuri daripada kata-kata mendayu tanpa cela. Raelitas dibungkus imajinasi, cukup manis tapi bukan berarti tanpa cela, dibandingkan cerpen minggu lalu jauh lebih menarik. bravo

    Neng Kin

    8 April 2012 at 12:45

  10. Salut buat om kliping yang rajin banget hari ini ^^
    Cerpennya
    penuh makna, jos gandos

    manggut2

    8 April 2012 at 16:56

  11. mantap…namun itulah realita,kapitalis akan terus menggerogoti,mereka datang dengan kemajuan…!

    Boin Silalahi

    8 April 2012 at 17:53

  12. Mantap….Cerpen ini membuktikan tesis Girard “Seorang sastrawan bertugas menyuarakan kenyataan sosial masyarakat dengan bahasa yang artistik dan simbolis”. Selamat……

    Mario P. Manalu

    8 April 2012 at 20:20

  13. bagus ni cerpennya

    fikrihilal

    8 April 2012 at 20:37

  14. Wah keren banget! Bahasanya, anak SD saja pasti mengerti. Salut..!

    Hendra J. Hamzah

    9 April 2012 at 08:05

  15. Cuma bisa bilang, ”Nice…”😛

    Roni Yusron

    9 April 2012 at 08:38

  16. Jos… Markotop…

    subaweh

    9 April 2012 at 10:07

  17. Saya merasakan kesedihan yang mendalam…alegori genderuwo untuk kapitalisme dan liberalisasi pasar telah membuat saya menatap banyak pasar-pasar yang hilang. Dan setan-setan yang membesarkan genderuwo itu rata-rata adalah para ekonom dan teknokrat. Indra Tranggono sudah berada di sisi masyarakat yang sedih dan merintih dalam sunyi. Sastranya menjadi cara ungkap yang lain untuk hal yang biasa kita lihat, tapi masih tergagap untuk mengungkapkannya.

    Teuku Kemal Fasya

    9 April 2012 at 14:07

    • thats rights

      daus

      12 April 2012 at 16:18

  18. ish sedih aja sie cerita kaya beginian..bikin nangis aja…siph

    yantee

    9 April 2012 at 16:00

  19. perubahan itu selalu menyedihkan terlepas apakah itu menuju yang benar atau yang salah, Situasi jiwa atau emosi yang muncul karena dirinya akan terpaksa ditinggal oleh perubahan ini merupakan ladang subur pagi orang yang berjiwa menulis. Orang itu antara lain TUKANG KLIPING si penulis cerita ini. Dan menulis yang semacam ini tidak mudah, karena selain harus berbakat menulis juga memerlukan banyak pengetahuan mengenai kebudayaan dan adat istiadat termasuk perilaku sehari-hari masyarakat dari berbagai lapisan.
    Saya salut dengan TUKANG KLIPING.
    Salam dari Bintang Rina

    bintangrina

    9 April 2012 at 19:09

    • maaf, yang nulis cerpen ini bukan tukang kliping, tapi indra trenggono. tukang kliping, orang yang berbaik hati mengumpulkan cerpen2 kompas setiap minggunya.

      Rainiku

      10 April 2012 at 19:21

    • Terima kasih banyak kepada Rainiku yang telah memberi tahu saya atas kesalahan saya. soalnya di atas ada tertulis ditulis oleh TUKANG KLIPING dan dalam kaitkata Indra Trenggono. Dan maaf kepada mas Indra Trenggono atas kurang telitinya saya. Saya salut dengan tulisannya yang bisa menceritakan bagaimana perasaan hati seseorang yang tidak berdaya dan yang bakal tertinggal oleh modernisasi , bagaimana kekuasaan itu ternyata menakutkan yang membuat seseorang tidak berdaya sehingga digambarkan bagaikan gendruwo dan hantu.yang setiap saat siap meluluh lantakkan harapan-harapan dan mimpi-mimpi seseorang.
      Salam dari oldman Bintang Rina buat Rainiku

      bintangrina

      11 April 2012 at 05:36

  20. Sukaa sekali !! Meski sedikit ngeri dengan sosok genderuwo😀
    dan kesetiaan sumbi pada suaminya pun loyalitas murwad untuk tetap teguh pada prinsipnya, sangat menyentuh.
    But with unhappy ending, makes me feel sad… ahh

    reno

    9 April 2012 at 20:22

  21. paman kok gak pernah muncul ya?? nuliso paman, jangan komet doang

    Semar Ngopi

    10 April 2012 at 00:16

  22. sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

    Abi asa

    10 April 2012 at 12:34

  23. cerita menarik, menggambarkan keseharian…

    donaLd

    10 April 2012 at 16:19

  24. boleh saya tau sedari kapan cerpen ini dikirim? terima kasih cerpennya bagus

    sandan

    10 April 2012 at 19:03

  25. Bahasa sih sederhana saja, yg penting idenya itu lho

    heruls

    11 April 2012 at 03:47

  26. Cerita yang endingnya dengan klimaks dan bisa memunculkan berbagai macam pertanyaan bagaimana nasib Murwad selanjutnya?

    Ada yang tahu?
    Hanya penulisnya?
    KIta hanya bisa berimajinasi saja?

    EdySC

    11 April 2012 at 05:49

  27. .cerita ini mistic.nya dapet.🙂
    .good

    erycha_ovhy

    11 April 2012 at 23:02

  28. aku suka dengan cerpen mas indra tranggono. unik sekali cara menggambarkan sesuatu. lucu juga ya… genderuwo…. he………………

    wana

    13 April 2012 at 21:46

  29. haram jadah kapitalisme…..

    ndangcerung

    13 April 2012 at 23:18

  30. Alur maju-mundur-maju dalam cerpen ini adalah hal yang menarik dengan 3 bagian cerita yang berbeda namun terikat oleh satu peristiwa. Ide cerita sederhana diangkat dari realita masa kini dan pesan moral yang tersirat bisa dimengerti dengan mudah.

    wina

    14 April 2012 at 08:51

  31. kisahnya tak istimewa, balutan supranaturalnya juga biasa. Yang istimewa adalah teknik menggarapnya, memperlihatkan jam terbang penulis yang tinggi. Sejumlah pintu yang menghubungkan antara tema, garis-garis bloking, properti dan artistik membentuk gambar yang terhubung dengan mulus.

    siksamata

    14 April 2012 at 13:45

  32. alurnya bagus, namun makna yg d smpaikan trlalu luas.

    syaiq

    15 April 2012 at 11:31

  33. Selamat

    Omo

    16 April 2012 at 19:25

  34. Sederhana tapi menarik cerpen ini. Gagasannya bagus. Kesetian cinta orang kecil, masalah pasar menjadi mall oleh kapitalis, dan mistis dipadukan dengan biasa, utuh dan terasa alami. Itulah hebatnya cerpen mampu menyaingi novel dengan hanya membaca beberapa menit kita sudah dapat efek kisahnya.

    Emil Amir

    16 April 2012 at 19:45

  35. Bagus. Kesetiaan seorang istri yang di padu dengan berbagai unsur kehidupan sosial masyarakat yang terjadi saat ini. Bahasa yang dipergunakan mudah dipahami.

    Tias Menik

    18 April 2012 at 12:59

  36. cerpen yang bagus.
    keliatannya belakangan ini kompas semakin fokus menjadikan kolom cerpen sebagai media kritik sosial. mungkin bisa jadi pilihan cerpenis yang belum masuk2 ke kompas. hehehe termasuk saya.
    bahasanya ringan mengalir dan pesannya cukup jelas. walaupun sy agak terganggu dengan berberapa komentar yg tidak suka dengan kapitalis (entah penulisnya berpikir demikian jg atau tidak), krn yang saya tangkap bukan kapitalis tetapi kebiasaan konsumtif kita yang makin menggila. (konser suju aja langsung abis, pdhal blm lama nolak kenaikan BBM 1500 perak. ironi).
    hal lain yang menarik adalah cara penulis menyampaikan ending sesuai judul. Wajah murwad tercermin dalam piring bubur, kl piring itu pecah buyar lah buburnya. begitu jg nasib Murwad.🙂

    event kampus

    18 April 2012 at 23:57

  37. Terbiasa membaca analisis kebudayaan Mas Indra Tranggono, kemudian membaca cerpennya. Perspektifnya terasa beda…

    Lita Xein

    19 April 2012 at 11:01

  38. Bagus…

    rantinghijau

    21 April 2012 at 14:20

  39. hem bagus sekali..

    mas diqun

    26 April 2012 at 16:18

  40. 🙂

    Dilla

    9 Mei 2012 at 20:59

  41. banguss..🙂

    duck mencintai she'va

    21 Mei 2012 at 08:38

  42. i like this !! endingnya bagus banget

    fatonah

    25 Juni 2012 at 09:31

  43. bagus

    budy

    2 Agustus 2012 at 10:50

  44. puasa-puasa baca cepen, LIKE THIS………..!!!!!!!!!!

    muh imran

    2 Agustus 2012 at 14:44

  45. ini unik

    anisa

    5 Oktober 2012 at 18:32

  46. Luar biasa🙂

    Nanda Najih Habibil Afif

    25 Desember 2012 at 12:23

  47. Saya suka cerpen model begini. Serius, sebenarnya cerpn model begini mudah membuatnya, hanya nanti hasil jadinya bakal menarik atau tidak, nah itu yang tergantung sama jam terbang. Hehe, selamat ya, cerpen ini menarik, penggambaran yang tersirat bahkan sangat kompleks, model komik buatan urasawa naoki saja, hehe.

    widiantoindra

    27 Januari 2013 at 01:41

  48. kapitalis takkan pernah bs baik. Hukum Kapitalis itu cacat. Bagaimana mau sempurna kalau yg bikin konsep saja gk sempurna.
    Hukum islam adl sesempurnanya hukum

    Fuad

    27 April 2013 at 08:03

  49. kasihan ya jd tkng sapu hehehe…… tapi melawan sesuatu demi sebuah kebenaran memang berat.

    yeti wulandari

    6 Februari 2014 at 12:53

  50. romantisme korban kapitalisme. tema yang terus diulang-ulang dalam cerpen-cerpen kompas…

  51. Sederhana yang Bermakna.

    Sugi Haryanti

    7 Mei 2014 at 16:44

  52. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:13

  53. ini karangan siapa, dan kapan dbuatnya?

    imron

    1 September 2014 at 11:27

  54. Nice.tapi kurang suka sama alam2 gaibnya.but,tetap menarik.

    Muksal

    21 September 2014 at 10:57

  55. […] Wajah itu membayang di piring bubur : Selalu setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik rojo lele yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang. ( Cerpen Kompas ) […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: