Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Jembatan Tak Kembali

with 57 comments


Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.

Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan. Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu halus. Deg-deg-deg surrr.

Tapi, meski tak kembali, selalu saja, hampir tiap saat ada yang menyeberangi jembatan itu. Dan si penyeberangnya berasal dari sekian kalangan yang berbeda. Baik berbeda umur, status, atau kepandaian. Dan rata-rata, mereka selalu menampakkan wajah yang ceria. Penuh harap. Dan gelora.

Bahkan, jika kalian saksikan, selalu saja ada di antara mereka (yang menyeberang itu) bernyanyi. Terutama bernyanyi tentang apa-apa yang membuat semua nafsu buruk memadam. Berganti dengan seribu genta mungil yang melayang-layang. Genta mungil yang berdenting. Seperti denting sebaris mantra. Mantra tentang sorga yang dicinta. Sorga yang ketemu lagi.

Dan sorga yang akan membuat mereka mencapai tingkat yang tiada tara. Tingkat, di mana, apa yang mereka sandang akan menjadi sempurna. Dan menjadi sesuatu yang menurut kabar yang ada, mencapai titik yang tak terjabarkan lagi. Misalnya, yang pintar masak, akan dapat memasak tanpa kompor. Yang pintar silat, akan bersilat tanpa bergerak. Dan yang pintar berlari, akan berlari tanpa mengenal tenaga.

”Hoi, berilah kami kelancaran untuk menyeberang!”

”Hoi, juga kelancaran agar tak terperosok!”

”Hoi, juga keteguhan diri!”

Tentu saja, meski mereka menyebut: ”Hoi!,” tapi nada suara mereka bukanlah nada yang memaksa. Sebaliknya, penuh ketulusan dan kerendahan hati. Ibarat sebuah lautan yang biru dan dalam, betapa, betapa tenangnya nada suara mereka. Dan ibarat gunung yang menjulang, betapa, betapa, sampainya puncak gunung itu ke langit lapis ketujuh.

Langit yang di semua sisinya begitu meluas dan makin meluas. Seperti tak ada lagi makhluk yang sanggup mengukurnya. Meski itu cuma di dalam pikiran dan khayalan. Pikiran dan khayalan yang sanggup untuk menulis sekian ribu halaman buku. Buku yang berisi tentang semua pengetahuan yang pernah ditemukan dan yang akan ditemukan.

”Ayo, kita menyeberang. Sampai jumpa ya!”

”Yup, kita menyeberang bersama-sama!”

”Siap! Ayo berangkat!”

Dan mereka (yang menyeberang itu) pun menyeberanglah. Dan rasanya, ketika kaki mereka menjejak di punggung jembatan, pun menjelma semacam langkah-langkah sebuah tarian. Langkah-langkah yang gemulai. Ke kiri, ke kanan. Indah dan memesona. Mungkin, jika saja langkah-langkah itu berada di atas panggung, tentu akan menjadi sebuah pertunjukan yang serasi, kompak, dan menggetarkan.

Sedangkan bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang. Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.”

***

Hmm, itulah ceritaku tentang Jembatan Tak Kembali. Sebuah cerita yang penuh teka-teki. Kenapa? Karena aku yakin, kalian pasti akan bertanya: ”Jika mereka yang menyeberang itu telah sampai di seberang jembatan. Di tempat yang berkabut dan berisi kesempurnaan, lalu apa yang dilakukannya? Apakah mereka menjadi puas? Atau ada hal lain yang perlu untuk juga diceritakan di sini?”

Ahai, pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang memang aku nanti. Dan jujur saja, ternyata, ketika telah sampai di seberang, dan memperoleh kesempurnaan yang diharapkannya itu, mereka memang menjadi lain. Apa yang mereka sandang telah mencapai pada titik yang tiada tara. Tak terjabarkan. Semuanya hanya tinggal dipinta dan diucapkan. Langsung tersedia. Dan langsung bisa untuk direngkuh.

”Aku ingin berlari ke bukit!” maka sampailah mereka ke bukit. Atau ”Aku ingin merasakan masakan paling nikmat!” pun langsung tersedia. Dan itu membuat mereka bahagia. Dan membuat mereka untuk terus-terusan mengucapkan ini-itu yang beragam. Ini-itu yang membuat mereka cuma berada di tempat. Tak bergerak. Sebab, buat apa mesti bergerak, jika apa yang diinginkan selalu tersedia di hadapan. Tersedia dalam aneka ragam yang dapat disesuaikan.

Jadinya, karena kelamaan tak bergerak, pelan-pelan mereka pun menjadi terdiam. Hanya mata mereka saja yang kedap-kedip. Mata yang begitu sempurna dan layak untuk disebut sebagai mata yang bulat, bundar, dan penuh ketenangan. Mata yang kini tampak tak lagi memikirkan bagaimana cara mengasah apa yang disandangnya.

Ya, mereka kini bukan lagi sebagai pengejar dari apa yang mesti dikejar. Sebaliknya, mereka jadi sebagai si pendiam. Si pendiam yang tak lagi menginginkan apa-apa. Sebab, apa yang mesti diinginkan, jika semuanya begitu mudah untuk terwujud dan tercapai? Dan begitu mudah untuk dibentuk hanya dengan sebuah ucapan? Dan rasa-rasanya, tanpa mereka sadari tubuh mereka pun mulai mengeluarkan serabut.

Serabut halus. Serabut yang entah apa warnanya. Tapi begitu berkilau. Dan begitu menerangi tempat di mana mereka berada. Dan saking terangnya, apa-apa yang bergeriapan di sekeliling mereka pun terlihat. Apakah itu yang terbang, merayap, berguling, atau hanya sekadar terpaku tak bergerak. Semuanya terlihat. Dan semuanya seakan-akan memang begitu bahagia hanya untuk dapat terlihat.

***

”Akh, aku tak jadi menyeberang deh!”

”Loh?”

”Iya. Jika akhirnya cuma seperti itu, terus buat apa.”

Ya, ya, itu adalah perkataan Jose di pagi ini. Perkataan yang mungkin kesekian kalinya. Dan memang perlu kalian ketahui, Jose adalah satu-satunya orang yang kerap membatalkan niatnya ketika akan menyeberangi jembatan.

Padahal, jika boleh aku bercerita pada kalian, semua yang ada di diri Jose sudah mumpuni. Dan layak untuk mencapai kesempurnaan. Lain itu, barangkali, hanya Jose-lah yang telah digadang-gadang oleh semua orang untuk segera menyeberang.

”Tapi, siapa nanti yang akan memberi makan kucing-kucingku?” sergah Jose.

Kucing? Astaga, inilah alasan sejak dulu yang mengganjal diri Jose untuk menyeberang. Alasan untuk memberi makan kucing-kucingnya. Dan kini, kucing-kucing Jose tidak lagi lima atau enam ekor. Tapi mungkin hampir lima puluh ekor. Dan setiap pagi, siang, dan sore selalu diberinya makan.

”Kucing-kucingku butuh makanan yang layak?” begitu tambah Jose, ”Sebab kucing-kucingku itu hampir tiap malam mengejari tikus-tikus. Tikus-tikus yang gemar merusak setiap apa yang ada di kampung. Dan kalian tahu jugakan, tikus-tikus yang merusak itu, kini semakin banyak. Gemuk-gemuk. Dan ngawur-ngawur. Bahkan, saking ngawurnya, di siang bolong pun berani merusak juga. Seperti sudah tak ada lagi yang ditakuti.”

”Terus, kapan kau akan jadi sempurna?” tanya seseorang.

”Aduh, biarlah tak jadi sempurna. Asalkan kucing-kucingku masih dapat aku urus.”

Dan seperti yang sudah-sudah, Jose pun kembali meninggalkan pinggir Jembatan Tak Kembali. Semua orang memandangnya. Semua orang melongo. Dan seperti pendekar dari dunia antaberantah, kucing-kucingnya pun mengintil. Kucing-kucing yang lucu. Kucing-kucing yang tangkas. Dan kucing-kucing yang membuat orang yang melihatnya jadi gemas.

Bagaimana tidak gemas, kucing-kucing itulah yang kerap mengganggu mereka ketika sedang makan. Atau sedang enak-enak tidur. Sebab, tingkah laku dan suara ngeongnya demikian keras dan memekak. Apalagi jika sudah memasuki musim kawin. Ck ck ck kampung pun seakan-akan berubah menjadi panggung simponi yang ribut. Simponi yang sering membuat genting-genting bergeser.

Jose, Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek. Dan ada pula yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.

Si aneh yang lebih suka memberi makan kucing-kucingnya daripada mengejar kesempurnaan hidupnya. Dan mereka yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh ini, semakin lama, semakin bertambah. Dan siasat pun mulai mereka gariskan. Yaitu, bagaimana caranya agar kucing-kucing Jose dapat berkurang.

Mulailah mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya. Dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke luar kampung. Sampai akhirnya, kucing-kucing Jose habis. Dan Jose pun kelimpungan. Dan Jose pun menjadi sedih. Setiap waktu, setiap saat, kerjanya cuma mencari kucing-kucingnya yang hilang.

Dan di antara rasa sedih dan mencari inilah, mereka yang telah mencuri kucing-kucing itu, berkata pada Jose: ”Jose, percayalah, kucing-kucingmu itu telah menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Menyeberangi secara diam-diam.” Tapi anehnya, sejak perkataan ini terlontar, sejak itu pula sosok Jembatan Tak Kembali pun jadi menghilang. Tak berjejak. Seperti ditelan kegaiban.

Dan tikus-tikus, yang kini tak lagi punya penghalang itu, pun segera merajalela di kampung!

(Gresik, 2011)

buat jose rizal manua dan maman s. mahayana

Written by tukang kliping

1 April 2012 pada 11:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

57 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cerpen yg bagus..

    Twenn

    1 April 2012 at 12:37

    • pengarang,tahun terbit,penerbite endi..?

      faus

      19 Oktober 2012 at 15:49

  2. Apakah di negeri ini tak ada lagi orang seperti jose?
    Yang begitu prihatin dengan kampungnya. Yangg telah di penuhi oleh tikus-tikus pemakan segalanya dan tak kenal takut.
    Dan jose pun rela meninggalkan segalanya demi kucing-kucing kesayang, yang sanggup membasmi tikus-tikus yang merajalela.
    Seandainya ada orang seperti jose di negeri ini.

    Shiftandar Rajasagala

    1 April 2012 at 12:38

  3. kesederhanaan pikiran, ketulusan perasaan, adalh terjemahan rasa syukur yang mampu melewati jembatan tanpa harus menyeberang…
    hidup begitu indah,
    tak ada yang lebih indah dari pada hidup itu sendiri.

    tukinem

    1 April 2012 at 13:43

  4. Awalnya biasa saja, seakan ingin menuturkan jalan ma’rifat, pencapaian muthmainah. Datar, tanpa kelokan, nyaris seperti menggumamkan sebuah liris yang landep. Tapi pada ujung-ujungnya, cerita itu menghentak, menghantam, meliuk dan ujungnya yang sangat tajam menusuk tak terhalang…jroosss.. Siapapun yang terkena (faham) akan terkapar…….,

    Arumbinang

    1 April 2012 at 14:20

    • Setuju !

      reno

      1 April 2012 at 21:06

  5. Akhhh.. belum ada angin segar di cerpen Kompas..

    Neng Kin

    1 April 2012 at 14:45

  6. Mencoba membaca beberapa paragraf kok jadi pusing, kupaksakan sekali lagi untuk memahami, tambah bingung, entah apa yang diceritakan dan pesan apa yang disampaikan. ya..sudahlah.

    Ribka

    1 April 2012 at 15:29

  7. Pengarangx sma sprti sblmx, rasa cerpenx jg sma.

    Santri.desa

    1 April 2012 at 19:21

  8. aku pernah menemukan sosok jose. entah apa kabarnya sekarang. yang kutahu ia tak pernah berhenti mencari kucingnya. saat bersamanya dulu. aku tahu jose orang yang teguh, rela mengorbankan kepentingan dirinya agar kucingnya tetap bersamanya untuk mengusir para tikus-tikus. aku percaya jose yang kukenal ini benar-benar tidak akan pernah menyeberangi jembatan merah. aku mendukungmu “jose” meski hanya lewat doa dan tulisan di balik dinding usang. maaf…. akulah “kucing” yang kehilangan arah untuk pulang.

    mas mardi luhung…. aku minta maaf. karena akulah salah satu kucing jose yang kehilangan arah untuk pulang………….(salah satu jose di antara jose jose yang ada di bumi ini.) arrrrkhh. jadi sedih….

    wana

    1 April 2012 at 19:52

  9. Menyedihkan… Gambaran seperti itulah yang saat ini terjadi di masyarakat kita.
    Menjadi baik namun di anggap aneh…!
    Apakah masih ada orang-orang seperti “jose” sekarang ini ?!

    reno

    1 April 2012 at 21:05

  10. .ku kira ceritanya agak horor-horor gt . heheh
    .tapi ad plajaran yg bsa di petik .🙂

    erycha_ovhy

    1 April 2012 at 22:28

  11. Oh, bagian awalnya membuai sampai agak membosankan, sampai pada akhirnya semua jadi nyata

    heruls

    2 April 2012 at 01:27

  12. awalnya saya kira jembatan itu adalah jembatan kematian, orang mati kan ga bisa kembali lagi. ternyata itu adalah masalah ketika para pejuang malah dihabisi di negerinya sendiri. ironis.

    anwar

    2 April 2012 at 06:52

  13. perjuangan membasmi tikus tidak akan pernah berakhir, jadi segeralah menyeberangi jembatan itu…(selagi ada kesempatan)

    9ian

    2 April 2012 at 07:43

  14. bagus bagus

    junaidi m

    2 April 2012 at 08:24

  15. Mereka ada namun sering kita tidak menyadari perjuangan mereka! 😦

    reno

    2 April 2012 at 08:56

  16. Saya gak mengerti😦
    Ceritanya terlalu ngambang.
    Berkali2 sya coba untuk baca ulang tapi semakin gak mudeng, gak bisa tahu apa inti cerita ini.
    Bahkan sudut pandangnya gak di jabarkan dengan baik.
    Gak ada penyelesaian dicerita ini selain jembatan menuju surga itu yang mulai menghilang.
    Padahal, menghilang karna apa? apa karna keserakahan manusia lain atau karna rasa iri mereka melihat jose yang bahagia tanpa harus lewati jembatan dulu?
    Memangnya ada hubungan antara jembatan itu dengan para kucing? apa kucing2 itulah yang bikin jembatan tersebut ada?

    Goetary

    2 April 2012 at 14:18

    • diawal2 saya juga agak bingung ama nih cerita, tapi kalo anda lebih teliti disini ada pesan tersiratnya loh.Dan menurut saya cerita yang bagus itu bisa menyampaiakan pesan tidak secara tertulis

      riez

      2 April 2012 at 14:50

    • gimana yah, tiap orang kan punya pandangan berbeda.
      menurut sya penulis ini memang punya pesan yang mau dia utarakan tapi sayangnya gak jelas apa maksudnya.
      kalo seandainya cuman sya sendiri yang gak ngerti mungkin karna sya yang kurang pandai hehe~

      Goetary

      2 April 2012 at 15:39

    • Iya juga ya setiap orang memang punya pandangan tersendiri dan selera tentunya.Saya juga setuju si penulis emang agak kurang detail dalam menjabarkan ceritanya entah disengaja biar si pembaca bisa mereka-reka cerita ini atau memang tidak sengaja karena udah mentok hehe🙂

      riez

      2 April 2012 at 15:50

    • Mungkin bahasa yang digunakan Mardi Luhung memang penuh kiasan, jelas karena Mardi Luhung adalah penyair bahkan penerima KLA Award untuk puisi.
      Namun justru kali ini saya menerima cerita Mardi Luhung dengan begitu santai berbeda dengan dua cerpennya yang dahulu “Tukang Cuci” dan “Lebih Kuat Dari Mati”….. pesan disini jauh lebih terasa.

      Kalau jembatan saya bayangkan adalah jembatan shirotol mustaqim yang menghubungkan dengan syurga, namun ternyata Mardi Luhung memakai sebagai kiasan untuk kesempurnaan dunia. Sedang tokoh Jose lebih suka mengurusi Kucing (Kucing lawan tikus) di desanya sebelum melewati jembatan menuju kesempurnaan…..
      Jembatan hilang??? Coba saya analogikan sebagai cara bahwa ada cara selain instan menuju kebahagian kesempurnaan, yaitu sedikit demi sedikit berusaha memelihara “kucing” unutk memberantas “tikus” di desanya…

      ini pemahaman saya, kali ini saya suka sekali Mardi Luhung

  17. Awalnya sedikit membingungkan, namun setelah membaca penuh cerpen ini bisa juga menikmati.
    pesan tersirat yang apik..🙂

    arinchui

    2 April 2012 at 14:23

  18. awalnya membingungkan,, tapi akhirnya mengena juga,

    tri

    2 April 2012 at 17:14

  19. perfecto! Luar biasa. pesan moral yang sangat padat. berisi. tapi tidak kembung.

    berpikirbisnis

    2 April 2012 at 23:16

  20. Gag ngerti, gag bisa memahami makna yang tersirat.

    Lynglyng Linglung

    3 April 2012 at 00:14

  21. Reblogged this on Sang Pejalan.

    aidarabbani

    3 April 2012 at 09:45

  22. cerpen religius yang bagus.
    selalu memakai kata bermakna lain..

    nicoz

    3 April 2012 at 17:20

  23. setelah saya cermati akhirnya bisa ngena juga, ya walaupun awalnya agak bingung dengan penyampaiannya… ini nih cerpen yang bisa memberi pesan-pesan, butuh ketelitian dan kesabaran untuk menangkap maksudnya🙂

    Ma La

    4 April 2012 at 08:21

  24. Selamat

    Omo

    4 April 2012 at 19:46

  25. Saya rasa, insya Allah, kelak cerpen ini bakal masuk Cerpen Pilihan Kompas 2012.
    Jujur, cerpen ini lebih memikat ketimbang “Lebih Kuat dari Mati”.

    Salam,

    Pecinta Cerpen

    4 April 2012 at 19:50

  26. nah lo jaga “kucing-kucing” dgn baik2, jangan sampai LOYO dihadapan “tikus-tikus”

    Dinar

    4 April 2012 at 23:42

  27. Saya suka cara penulisan cerpen ini, kiasan yang digunakan, rasanya berbeda sekali dengan cerpen-cerpen yang biasa saya baca sebagai seorang remaja.
    Penjabaran yang membingungkan, menimbulkan banyak persepsi yang berbeda tergantung dari sudut pandang para pembaca, namun yang saya tangkap makna dan inti ceritanya tetap sama dan tersampaikan dengan cukup gamblang di bagian klimaks.
    Salah satu cerpen yang menantang untuk dianalisis🙂

  28. Setiap katanya mengayun seolah menapaki jembatan gantung. Pelan tapi pasti. Dengan akhir yg tajam MENIKAM ulu hati! Keren.

    NB; Jose Rizal Manua. Seniman kondang tetangga saya dia, hhii..

    Zidan

    5 April 2012 at 06:47

  29. Berarti….yang nyuri kucing Jose adalah peternak tikus …

    Yuli Widyastuti

    5 April 2012 at 06:49

  30. *kesempurnaan yg salah*…di wajibkan layaknya peraturan yg haram untuk di langgar…
    Seperti itu pula sebuah jalan, setiap jalan pasti menuju ke satu tempat…
    Pilihan pilihan, mana yg benar mana yang salah.?
    Cerpen ini mengisahkan banyak hal mengenai demi apa hidup ini.

    abi asa

    5 April 2012 at 14:25

  31. Salamku buat Reno…!!!

    Arumbinang

    5 April 2012 at 19:16

  32. habis baca, nyimak komentar = jadi lebih ngerti…

    Manggut2

    7 April 2012 at 13:27

  33. Semoga suatu saat kucing-kucing itu menemukan jalan pulang dan membasmi semua tikus di kampung itu. Hiks, jadi prihatin…

    ellaillaa

    8 April 2012 at 10:24

  34. cerpen yg perlu diwaspadai, sebab mirip dengan gaya penceritaan tukang dongeng

    Semar Ngopi

    10 April 2012 at 00:20

  35. Subhnallah……
    Sangat mengena sekali^_^

    Hamba Allah

    10 April 2012 at 09:18

  36. Khayalan..
    Sulit bagi mereka utk menolak kesempurnaan meski tanpa usaha.. Hanya dg sekali cuap segala terpenuhi..
    Untuk jose, harusnya anda juga mengajarkan pd mreka yg tak mengerti dan menganggap anda aneh, mgkin lbih baik drpd anda tanggung sndiri😀

    Ryzkiesomnia

    12 April 2012 at 05:02

  37. Hmmm…. semua orang pasti mau menyeberangi jembatan. Hidup nyaman. Segala yang dimau bisa didapat dengan cepat. Tanpa usaha. Tetapi dengan cerdik penulis memutar keindahan itu dengan kenyataan bahwa hidup dalam kenyamanan tidaklah menyenangkan. Kita hanya diam. Tidak bergerak. Pemalas. Tanpa hasrat. Apalah artinya hidup yang seperti ini???
    Kucing dan tikus tidak pernah lepas dari pertengkaran. Apakah penulis bermaksud menganalogikan tikus sebagai koruptor dan kucing sebagai penyelamat? Saya rasa tidak juga, karena penulis dengan jelas menulis kucing-kucing membuat gemas orang-orang karena saat makan, istirahat, dll kucing suka mengganggu. Berarti penulis bilang kucing dan tikus adalah pengganggu yang saling bertengkar.
    Jika setelah kucing mati kemudian jembatan hilang, saya tidak melihat ada alasan logis, kecuali karena org2 itu dianggap sudah tidak pantas lagi hidup dalam kenyamanan, tetapi kenapa tidak pantas? Krn membunuh kucing? Padahal kucing jg mengganggu mereka seperti tikus. lagipula seharusnya hilangnya jembatan adalah kebaikan karena hilangnya kehidupan nyaman yang menyesatkan itu.
    Buat saya pesan cerpen ini absurd, tidak jelas hitam dan putihnya.
    Atau disisi lain memang saya yang tidak memahami lebih mendalam.😀

    event kampus

    19 April 2012 at 01:04

  38. sosok jose mungkin sudah hampir punah di negeri ini,
    andai kucing itu tidak diculik,
    mungkin tikus yang kecil, lincah bahkan di siang bolong yang masih bisa merusak, mungkin bisa dikurangi walaupun tidak semua bisa di libas,

    dikki_muttakin

    20 April 2012 at 14:05

  39. Mulai awal membaca sampai hampir habis cerpen ini masih sulit untuk mengikuti mau kemana arah cerpen ini, bahkan begitu selesai membaca, ending nyapun seperti tak terasa tahu-tahu habis cerita. Namun beberapa menit kemudian ditengah keheningan malam saat cerpen ini kubaca, ada tergambar konflik menarik yang ada dalam cerpen ini, dan membuatku untuk merenung dan mencoba menikmati. Konflik yang bisa kutangkap sangat hakiki, apakah hidup ini mementingkan kesempurnaan dialam akhir nanti, atau harus mementingkan kehidupan yang sedang terjadi, kedua-duanya penting dan sangat penting, itulah pilihan, pilihan yang disodorkan kepada kita, setiap saat setiap masa. Itu hanya sekilas yang bisa kutangkap, karena masih ada beberapa ganjalan yang sepertinya tidak nyambung dengan konflik ini. Barangkali yang sulit untuk mencari makna dalam cerpen ini seperti yang kurasakan adalah bahasanya yang kurang terangkai dengan baik sebagai sebuah bahasa ceritera sehingga kurang enak dibaca tapi perlu. Yang jelas tak sia-sia membacanya.

    Eko Wahyu

    29 April 2012 at 23:46

  40. temanya apa ya?? agak bingung nih…

    Anisa Utami Permana

    3 Mei 2012 at 11:14

  41. maksud jalan critanya gimana nich? Jembatan yg d maksud adalah kematian kali ya

    Imron Prigen

    8 Mei 2012 at 21:38

  42. jembatan kematian

    Imron Prigen

    8 Mei 2012 at 21:40

  43. penuh kiasan banget. Baru ngerti pas udah ending. Nice Job!

    Andreas Gan

    6 Juni 2012 at 20:54

  44. komentar kalian membantuku memahaminya. trims. penulis lain diluar penulis.

    andisumarkarman

    8 Juni 2012 at 18:57

  45. kerenn… jelas, asyik, ringan, berbobot dan cheer. like this!🙂

    Rufi

    9 Juni 2012 at 19:52

  46. Suer…. ƍäª ngerti…

    betri

    11 Juli 2012 at 00:11

  47. cerpen yang membuat sesuatu yang tak nyata jadi nyata, dan sebaliknya.

    fafang

    12 September 2012 at 09:13

  48. Jembatan kematiankah? Tapi nggak usah ditebak dulu di awal. Ikutin aja dulu sampai selesai baru diresapi dan dicari kesimpulannya.

  49. Sangat berharap, semoga web ini menjadi web yang terdepan dalam menyajikan informasi yang mencerahkan

  50. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:14

  51. Anggota Kelompok

    Imas Fadlina Rahman (14)
    Onindika Lintang Putri (21)
    Sholikhah (26)
    Yuni Santoso (32)

    XII IPA 4

    SMA Negeri 2 Bantul 2014/2015

    UNSUR-UNSUR INTRINSIK CERPEN

    Tema

    Tema adalah gagasan pokok yang menjadi dasar suatu cerita.

    Alur/Plot

    Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita. Alur dibedakan menjadi :

    a. Maju : peristiwa dimulai dari awal hingga akhir

    b. Mundur : peristiwa dimulai dari akhir peristiwa kemudian ke awal terjadinya peristiwa

    c. Campuran : gabungan alur maju dan mundur

    Tahapan alur:

    1)Perkenalan,penjelasan awal cerita.

    2)Konflik mulai timbul. Kepentingan tokoh sudah mulai muncul. Akhirnya konflik mulai tampak.

    3)Penanjakan konflik. Konflik sudah mulai meruncing. Kepentingan individu/ kelompok mulai menunjukkan kerumitannya/ kegawatannya.

    4)Klimaks / puncak konflik. Konflik sampai pada puncaknya.Pada tahap ini mungkin terjadi perkela-hian, perdebatan,kontak fisik,

    5)Penyelesaian/ peleraian

    3. Latar/Setting

    Latar belakang yang membantu kejelasan jalan cerita, meliputi :

    Waktu : keterangan tentang kapan peristiwa itu terjadi.
    Tempat : keterangan tempat peristiwa itu terjadi.
    Suasana : menggambarkan suasana peristiwa yang terjadi.

    Penokohan

    Pemberian watak/karakter pada masing-masing pelaku. Penokohan dibedakan menjadi :

    a. Langsung/analitik : memaparkan watak tokoh secara secara langsung .

    b. Tak langsung/ dramatik : memaparkan watak tokoh melalui

    1)dialog antar tokoh

    2) tingkah laku

    3)gambaran lingkungan sekitar tokoh

    4)jalan pikiran

    5)tanggapan tokoh terhadap tokoh lain

    6)ciri fisik

    7)reaksi tokoh terhadap masalah.

    5. Sudut Pandang

    Merupakan posisi pengarang dalam cerita. Sudut pandang dibedakan menjadi :

    a. Orang Pertama : pengarang terlibat langsung mengalami peristiwa peristiwa dalam cerita.

    b. Orang ketiga : pengarang tidak terlibat dalam peristiwa cerita.

    Terbagi menjadi :

    – terarah : seolah-olah pengarang hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja

    – serba tahu : pengarang tahu segala isi hati/pikiran tokoh

    6. Amanat

    Merupakan pesan yang ingin disampaikan penulis melalui cerita yang dibuatnya.

    7. Gaya Bahasa

    Merupakan cara pengarang menggunakan bahasa untuk menghasilkan karya sastra.

    Beberapa gaya bahasa (majas) yang digunakan :

    Majas Perbandingan

    Hiperbola : Gaya bahasa melebih-lebihkan sesuatu. (Tangisnya membanjiri kamar).
    Metafora :Melukiskan secara langsung keadaan sesuatu dengan gambaran yang dianggap sama. (Jago merah untuk menggambarkan api).
    Personifikasi :Menggambarkan benda mati seakan-akan hidup/berkelakuan seperti hidup. (Mobilnya menari-nari kehabisan bensin).

    4.Litotes :Melukiskan keadaan bertentangan dengan keadaan sebenarnya.

    (Aku cuma menyewa bilik kecil sebagai tempat berteduh).

    Eufemisme :Menghaluskan arti sebenarnya.(Tuna daksa).

    Simponi

    karya Putu Wijaya

    Waktu si Karl belum datang, hidup Om Bandowo rasanya damai. Bertahun – tahun hidup di lingkungan real estate kelas menengah di bilangan Sunter, dia anggap sudah cukup afdol. Air sumur entah sedikit dan bikin keropos kendaraan, tak apalah. Mana ada air bersih lagi yang seratus persen bening di Jakarta. Air PAM-nya juga sering kacau.

    Jadi ia oke – oke saja. Orang sibuk lari keluar kota cari pemandangan yang lebih alamiah, dia tidak peduli. Lama – lama luar kota juga akan jadi kota. Kemana saja lari, cepat atau lambat juga orang akan dikuntit oleh pembangunan. Rimba beton dan tiang – tiang besi sudah merupakan era yang harus diterima. Berguru kepada kebijaksanaan Jawa, dia pun pasrah dan nrimo. Dan itu membuatnya tentram, tenang dan bahagia.

    Tapi begitu si Karl, tamunya dari New York, Amerika muncul, kebahagiaan Om Bandowo hilang. Rumahnya terasa jadi neraka. Udara panas. Dan udara Jakarta penuh polusi. Dan hidup pun penuh kekurangan. Apa pasal? Soalnya si Karl tampak semerawut. Ternyata orang Manhattan itu sama sekali tidak bisa tidur. Dia bilang, semalam suntuk kamar gerah bukan main. Katanya sama saja didalam oven. Kalau jendela dibuka, nyamuk dari seluruh wilayah Jakarta Utara menyerbu pemuda berkulit putih itu. Dia tersiksa.

    “Tapi karena sudah lelah, dan udara agak sejuk waktu subuh, saya akhirnya mulai dapat tidur,” kata si Karl dengan mata merah melotot. “Tapi baru beberapa detik, saya kaget. Di luar kedengaran suara loud speaker keras sekali. Saya kira ada kebakaran. Saya meloncat bangun. Sialan ! Ternyata itu tukang roti menawarkan rotinya berkoar-koar. Bagaimana sampai roti punya hak menggangu ketenangan masyarakat yang sedang tidur seperti itu?” Om Bandowo tak mampu menjawab. Dia hanya minta, supaya Karl memaafkan dan memaklumi. Lalu menganjurkan agar Karl masuk kembali ke kamarnya untuk tidur.

    Tapi begitu Karl masuk ke kamar, bencana datang lagi. Sekarang tukang bakso. Dengan mobilnya yang lebih berisik, dia muncul dengan speaker yang menyakitkan. Karl langsung membuka pintu lagi dan ternganga di teras. Belum selesai mulutnya terbuka, disusul oleh tukang siomay yang pakai sepeda tapi pakai bunyi-bunyian elektronik nada tinggi monoton, sehingga sama efektif menggangu.

    “Apa-apaan ini? Apa ini akan terus begini setiap hari? Bagaimana saya hidup dengan ancaman polusi bunyi seperti ini? Bagaimana anda dapat tenang dengan semua ini disini, Mas Bandowo?” Om Bandowo tercengang. Mati kutu tidak mampu menjawab.

    Sore itu juga dia melepas Karl untuk berangkat ke Yogya, karena tak mampu hidup di Jakarta. Om Bandowo tak menahannya.

    Setelah Karl pergi, Om Bandowo termenung. Selama ini dia menganggap semua itu biasa. Bagian dari kesibukan pagi. Dia tak pernah terganggu. Dia tak pernah mendengar apa-apa. Apa karena telinganya telah buntet? Pagi esoknya Om Bandowo mencoba mendengarkan bunyi-bunyian yang telah menyiksa si Karl itu. Aduh betul juga. Ternyata tukang roti itu berkoar-koar dengan lound speaker seperti menggebrak orang. Knalpot bajaj meledak-ledak menggedor jendela. Telinganya jadi terasa dirobek-robek. Kamar langsung jadi terasa panas bukan main. Disambung oleh sebuan nyamuk yang binal mencubiti sekujur tubuhnya.

    Om Bandowo mendusin sekarang. Dia senewen. Tekanan darahnya naik. Dia tidak tahan. Langsung keluar rumah. Merapat ke pagar, membentak tukang roti dengan suara menggeledek.

    “Stop! Stooooooopppp! Jangan bunyikan lound speaker kalau lewat disini, bego! Gua kagak bisa tidur gara-gara elu!”

    Tukang roti terkejut. Om Bandowo yang biasa duduk tenang dan lembut itu tampak aneh. Seperti baru bangun dari kubur. Dia tercengang. Tak sadar lalu bertanya lewat mik ditangannya.

    “Selamat pagi, Om. Apa kabar? Mau roti apa? Mumpung masih hangat.”

    “Pergi! Pergi! Kalau tidak, gua panggil hansip! Cepetan pergiiiiiii!

    Tukang roti itu tercengang, lalu buru-buru menekan knop off pada mik-nya. Terus melarikan mobil. Sejak itu setiap kali lewat depan rumah Bandowo, dia tak berani menjajakan dagangannya. Perilaku itu dikuntit oleh pedagang-pedagang yang lain yang rata-rata sudah disemprot Om Bandowo.

    Tiga bulan kemudian, si Karl kembali muncul dirumah Bandowo. Kali ini dia mau bilang good bye, karena akan pulang ke negerinya. Om Bandowo tidak berani menawarkan menginap, tapi si Karl malah bertanya, apa boleh tinggal barang dua malam. Om Bandowo menerima dengan senang hati, sebab dia sudah yakin rumahnya bebas polusi bunyi.

    Malam berlalu dengan santai. Besok paginya, Om Bandowo menunggu diteras dengan sarapan pagi dan senyum besar.

    “Gimana Karl, dapat tidur, ‘kan?”

    Karl menggeleng kepala dan mengangkat pundaknya seperti kecewa. Om Bandowo bingung.

    “Lho kenapa, Karl? Tukang-tukang jualan itu ‘kan sudah tidak mengganggu lagi?”

    “Ya, itulah soalnya,” kata si Karl. “ kalau tidak salah, dulu waktu saya kemari nginap disini, mereka ‘kan banyak sekali. Ada tukang roti, tukang siomay, tukang sayur, macam-macam begitu. Mereka kaya dengan bunyi. Setiap mereka punya bunyi dengan karakter masing-masing, seperti sebuah simpony yang indah. Sekarang kemana mereka? Kenapa lingkungan ini menjadi seperti mati, tidak ada kegairahan hidup yang spontan seperti dulu?”

    Om Bandowo terpesona.” Simponi. Itu simponi?” desisnya sambil mengenangkan bunyi-bunyian itu. Dan merasakan betapa sepinya suasana tanpa semua itu. Maka begitu si Karl pergi, Bandowo langsung memanggil tukang-tukang itu dan berteriak:

    “Ayo, bunyikan lagi! Bunyikan yang keras simponinya!”

    G

    23 November 2016 at 18:51


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: