Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lengtu Lengmua

with 44 comments


Tepat tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau….

Laut tak sedang mendamparkan perahu Nuh ke kampung yang karena terlalu sunyi lebih mirip hiu tidur itu. Laut—dalam ketenangan musim kemarau—juga tidak sedang menebarkan kolera busuk ke tanjung tenang berpenghuni orang-orang yang teramat karib dengan lapar dan kemiskinan. Tetapi memang ada sembilan perahu yang merapat ke ujung tanjung tak jauh dari makam keramat. Sembilan perahu itu mengusung sembilan celeng milik Jamuri, juragan dari kota, yang dikawal oleh sembilan cempiang atau jagoan berseragam loreng-loreng.

Tentu tak ada seorang pun di kampung itu yang ingin beternak celeng. Tak juga tetua kampung, Kiai Siti. Apalagi Panglima Langit Abu Jenar, pemeluk teguh syariat, yang sangat mengharamkan binatang bertaring yang menjijikkan itu. Jamuri sangat tahu hutan bakau ini bukan habitat bagi babi-babi liar. Akan tetapi, ia harus menernakkan satwa 200 kilogram itu di hutan ini karena tak mungkin membiakkan hewan bermoncong panjang ini di kota.

Ada banyak alasan yang menyebabkan orang kota menolak pembiakan celeng di kawasan yang kini dipadati oleh mal dan gedung-gedung yang hendak menusuk langit itu. Mungkin saja, mereka tidak menyukai hewan yang bisa mencapai panjang hingga 1,8 meter ini karena tidak mau berurusan dengan sengatan bau yang menusuk hidung. Atau mereka menolak berdekatan dengan celeng karena satwa itu dianggap sebagai simbol kerakusan dan keserakahan. Namun, sesungguhnya mereka mengusir para celeng dari kota karena tak mau diseruduk oleh binatang digdaya itu. Jika mereka sampai diseruduk oleh hewan-hewan itu, ada semacam virus yang segera menyerang otak dan menyebabkan mereka merasa telah berubah menjadi celeng.

***

Semua itu bermula dari Ustad Rosyid, seorang yang dianggap paling suci di kota, pingsan setelah diseruduk celeng yang terlepas dari pusat pembiakan babi liar. Ketika siuman, dia menguik-nguik dan menyeruduk apa pun yang berada di sekitar. Kegemparan itu tentu saja menyebabkan orang-orang yang hendak shalat magrib di masjid kaget. Mereka terkejut bukan sekadar mendengar suara celeng dari mulut Ustad Rosyid, tetapi lelaki kencana itu bertingkah seperti babi liar. Ia mbrangkang dan siap menyeruduk jemaah shalat magrib. Tak pelak jemaah pun buyar. Mereka berlari ketakutan karena Ustad Rosyid benar-benar bertabiat seperti babi gila.

Sebenarnya tidak akan ada persoalan apa pun jika Ustad Rosyid tak menggigit salah seorang yang paling ringkih. Sebab begitu tergigit, sang korban tiba-tiba juga bertingkah serupa Ustad Rosyid. Ia bertabiat seperti babi liar. Ia juga berusaha menyeruduk siapa pun. Ia juga menggigit orang lain. Begitu seterusnya hingga ada sembilan orang yang bertingkah seperti celeng.

”Edan! Ini jelas virus sableng. Bagaimana mungkin dalam sekejap sembilan orang bertingkah seperti celeng?” kata seorang dokter.

Tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Wali Kota lebih memilih menangkap sembilan orang yang kerasukan virus celeng itu dan menjebloskan ke rumah sakit jiwa. ”Hanya orang waras yang boleh tinggal di kota ini!”

Tak hanya itu. Sejak itu, Wali Kota juga melarang pembiakan celeng atau babi liar di kota. Spanduk, baliho, dan poster bertuliskan ”Dilarang memelihara celeng!” serta ”Bunuh seluruh celeng!” dipasang di mana-mana.

Akan tetapi Jamuri, pemilik pembiakan babi liar, tak tinggal diam. Merasa harus menyelamatkan celeng dari amuk manusia, dia berusaha mencari lahan yang masih memungkinkan dijadikan sebagai daerah hidup binatang-binatang itu. Tak ada tempat lain, dia akhirnya menemukan tanah kosong di ujung tanjung.

Karena itu, setelah membeli tanah dari Lurah Lantip—yang menyerobot tanah milik sebagian warga yang terusir ke tanah relokasi—Jamuri langsung mengusung tujuh celeng betina dan dua celeng jantan ke tanah yang sangat diberkahi oleh Allah ini.

Tetapi menggiring sembilan celeng ke ujung tanjung dan melintasi hutan bakau pada senja yang amis bukan perkara mudah. Jamuri dan para cempiang harus berjuang keras menghalau celeng agar tidak berlarian ke laut. Apalagi karena satwa-satwa asing itu jadi tontonan gadis kencur Kufah dan anak-anak kecil lain, perjalanan ke kandang agak terhambat.

Dan karena anak-anak kecil itu belum pernah melihat celeng, tak terhindarkan mereka ingin mengelus punggung atau sekadar memegang buntut. Ini membuat para cempiang dan Jamuri marah. Bukan hanya itu. Karena sebagian celeng betina itu sedang bunting, mereka merasa terganggu ketika anak-anak berusaha memegang perut dan puting. Tak pelak celeng-celeng itu pun mengasah taring dan menyeruduk anak-anak. Dengan spontan anak-anak berlari. Dengan spontan pula celeng-celeng mengejar mereka.

”Minggir! Minggir! Kalian bisa mampus kalau keseruduk!” teriak para cempiang hampir bersamaan.

Tetapi dasar anak-anak, tak satu pun yang mau menyingkir. Mereka malah ikut-ikutan menghalau para celeng dan mencoba membantu menggiring ke kandang. Anak-anak itu bersorak-sorak karena merasa mendapatkan mainan baru. Dalam bayangan mereka, sepanjang hari mereka akan bermain seruduk-kejar dengan celeng-celeng itu.

Kufah, misalnya, berharap bisa menunggang celeng-celeng ini, membelai taring-taringnya, dan sesekali memandikan hewan yang dia anggap lucu setengah mati itu. Jika diperbolehkan oleh Kiai Siti, dia bahkan rela tidur bersama celeng-celeng itu di kandang. Malah, Kufah juga yakin tepat tengah malam di kedua bahu celeng itu akan tumbuh sayap sehingga dia dan anak-anak kecil lain bisa menunggang celeng terbang mengelilingi hutan bakau dan mengajak bangau-bangau di kampung itu berkejaran di langit dalam cahaya bulan.

Ya, ya, di mata anak-anak, celeng adalah satwa kencana. Mainan yang indah dan sahabat tak terpisahkan. Dalam mimpi mereka, celeng-celeng itu adalah raja imut yang sama sekali tidak akan pernah menusukkan taring kepada satwa lunak bernama manusia.

”Kita sungguh-sungguh telah kedatangan hewan dari surga,” kata Kufah kepada anak-anak kecil lain.

***

Hanya, celeng-celeng itu bukan mainan untuk orang dewasa. Ketika seorang warga tahu dan mengabarkan betapa kampung mereka telah diserbu satwa-satwa bermoncong penuh lendir, terjadi kegemparan.

”Ini pasti hewan dari neraka!” bisik seseorang yang sebelumnya tidak pernah melihat celeng kepada Kiai Siti.

Tak ada reaksi yang berlebihan dari kiai santun ini. Dia justru bergegas ke masjid dan meminta warga segera menjalankan shalat magrib. Kiai Siti—yang telah berkali-kali melihat celeng dan tahu daging satwa itu haram jika dimakan—sebenarnya punya alasan untuk marah. Namun, dia memilih setelah shalat isya saja akan bertemu dengan Jamuri untuk membicarakan celeng-celeng itu.

”Allah tentu punya maksud mengapa Dia mengirim celeng-celeng itu ke sini…,” batin Kiai Siti.

Akan tetapi Rajab, pemuda pemberang yang pernah sekolah di Kota Wali, tak sabar menunggu shalat isya tiba. Menunda shalat magrib dia mengajak beberapa warga melabrak Jamuri.

Rajab—karena telah membaca begitu banyak buku perihal celeng—tak ingin kampung yang sangat dia cintai menjadi pemasok hewan yang dianggap sebagai paling rakus, suka mencuri, gemar kawin, dan selalu berisik itu. Dan lebih dari itu, Rajab tak ingin kampung di ujung tanjung ini, menjadi tempat pembiakan celeng. Dia khawatir celeng-celeng itu mendengus-dengus merapalkan semacam mantra pembunuh dan tepat tengah malam satwa-satwa yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan kicau bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau….

Jamuri tak tinggal diam. Dengan mengacung-acungkan parang, ia mengajak sembilan cempiang berbaju loreng meladeni perlawanan Rajab. Perkelahian pun tak terelakkan. Rajab dan warga yang tak bersenjata dengan cepat terusir. Meskipun terjadi adu pukul, magrib berlalu tanpa pertumpahan darah. Magrib berlalu dalam koor nguik sembilan celeng dan sorak-sorai cempiang berbaju loreng.

***

”Celeng-celeng itu akan mati kalau Allah tak menghendaki!” kata Kiai Siti sesaat setelah Rajab melaporkan segala yang dia alami kepada tetua kampung yang hampir-hampir tak pernah marah itu di masjid.

”Tetapi kita tetap saja harus menolak Jamuri membiakkan celeng di sini, Kiai. Di kota telah berkembang wabah celeng loreng. Siapa pun yang diseruduk celeng akan bertabiat seperti babi liar.”

”Kalau Allah tak menghendaki wabah itu datang, kampung kita akan aman….”

Rajab tentu saja tak terima mendengar penjelasan Kiai Siti. Ia mengira Kiai Siti telah disuap Jamuri sehingga berkesan membiarkan pembangunan pusat pembiakan celeng di kampung yang riuh oleh lantunan shalawat dan zikir itu.

Karena itu tanpa permisi dan tak jadi shalat isya, Rajab meninggalkan Kiai Siti. Pemberang yang khatam syariat agama dari Kota Wali ini berusaha mencari cara mengusir para celeng, cempiang, dan Jamuri dari tanah yang dia anggap paling suci ini.

***

”Kiai Siti telah jadi celeng! Ia tak layak jadi panutan kita lagi!” bisik Rajab kepada hampir semua laki-laki di kampung, suatu hari.

Dan, masya Allah, tak seorang pun merasa perlu menyangkal omongan Rajab. Mereka menyangka wabah yang mendera Ustad Rosyid—sebagaimana diceritakan Rajab pada penduduk—juga telah menyerang Kiai Siti.

”Jamuri ternyata juga celeng. Semalam aku melihat ia berubah jadi celeng. Mula-mula ia merangkak ke arahku…, kemudian mulutnya memanjang berubah jadi moncong berlendir yang menjijikkan…, dan tumbuh pula sepasang taring yang siap menghunjam perut siapa pun…,” Rajab berbisik dengan mulut yang lebih berbusa lagi.

Dan, masya Allah, tak seorang pun berhasrat mendebat perkataan sang pemberang yang merasa sedang melakukan pekerjaan agung untuk menyelamatkan kampung.

”Jadi tak ada alasan apa pun kita harus menyingkirkan Kiai Siti dan Jamuri. Kita harus mengenyahkan celeng-celeng itu dari kampung ini… Ambil parang, celurit, linggis, bambu runcing, atau apa pun…. Kita serang mereka malam ini juga….”

Lalu malam itu juga Rajab membayangkan diri menjadi Hamzah (panglima perang pasukan Nabi Muhammad dalam Perang Uhud) yang mengomando pertempuran sengit melawan kemungkaran. Dengan bengis dia akan segera menghunjamkan linggis ke perut celeng-celeng itu… dengan bengis dia akan memburaikan usus hewan-hewan menjijikkan itu.

Sayang, pada saat sama Jamuri juga ingin menyingkirkan Rajab. Jamuri juga sudah menyusun strategi untuk menghilangkan sang pemberang dari kampung. Jamuri menjebak dan Rajab tak tahu sembilan celeng yang dikawal oleh sembilan cempiang telah mengepungnya malam itu. Mereka bersiap-siap menyeruduk dan menancapkan taring ganas ke tubuh rapuh Rajab yang tak berpelindung apa-apa itu. Dengan menyeruduk laki-laki pemberang, mereka ingin Rajab menjadi celeng pertama yang berasal dari kampung penuh harum zikir dan shalawat di kampung itu….

Semarang 4 September 2011

Catatan: Judul cerpen ini merupakan akronim dari celeng satu celeng semua. Ungkapan ini bertolak dari pergelaran wayang Ki Manteb Soedharsono berkolaborasi dengan Romo Sindhunata, Lengji Lengbeh (Celeng Siji Celeng Kabeh).

Written by tukang kliping

18 Maret 2012 pada 15:45

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

44 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Agak ada bau ‘Burung Api Siti-nya’, yah kalau ngak salah?

    kucing senja

    20 Maret 2012 at 16:12

    • iya kok kaya mirip-mirip Burung Api Siti ya?

      Allie

      26 Maret 2012 at 22:20

    • Hehehe harus dibaca detail, baru tahu ada relasi apa dengan Burung Api Siti.

      triyanto triwikromo

      4 Mei 2012 at 22:59

  2. mbaca dlu ach… biar tau isinya….

    paseo

    20 Maret 2012 at 16:30

  3. Oyeah, kita harus melindungi kota kita dari penyakit celeng yg berbahaya itu, yeah

    :D (@HeruLS)

    20 Maret 2012 at 16:48

  4. hmmmmm celeng…. celeng…

    paseo

    20 Maret 2012 at 17:07

  5. asik ceritanya, dan membuat penasaran, karena gak jelas ahirnya gimana,

    salut

    ray

    20 Maret 2012 at 18:33

    • hahhahaa hedewww

      ii

      10 Juni 2012 at 23:06

  6. Kapan cerpenku bs nongol dsni?? Uda 2 minggu nieh..

    Santri.desa

    20 Maret 2012 at 19:40

  7. Hem…aku menangkap nilai-nilainya sungguh simbolisme…. Merinding membayangkan yg tergambar dalam cerita tsb…..Kontektual!!

    RBM

    20 Maret 2012 at 19:44

  8. cerpen yg asyik… mengandung pesan yang bagus untuk direnungkan… tetapi ketika membaca kalimat ini “tepat tengah malam di kedua bahu celeng itu akan tumbuh sayap sehingga dia dan anak-anak kecil lain bisa menunggang celeng terbang mengelilingi hutan bakau…” menurutku penggambaran ini jadi terasa terlalu over ya?

    Adryan Yahya

    20 Maret 2012 at 21:49

  9. Ngeri dg pesan dan opini yg ingin disampaikan, masalah’y saat ini banyak celeng teriak celeng…

    biru

    21 Maret 2012 at 00:05

  10. Cerpen Triyanto Triwikromo memang sangat indah, sejak keluaran Ular Di Mangkok Nabi, Triyanto lebih suka mengeksplor wayang dan klenik2 di lokal berbeda apabila dibandingkan dengan Ular Di Mangkok Nabi yang hampir semuanya bersetting luar negeri…

    Cerpen Triyanto di Tempo, Wali Kesebelas dan ini hampir sama. Syeh Siti Jenar sumber inspirasi….

    Manstaaaaaaaaaaaaaaaaaaab metaforanya keren dengan negara kita

  11. itu salah bapak bapak, kota kota itu tidak perlu di lindungi dari serangan celeng, wong memang mereka itu sudah terlanjur menjadi celeng semua, termasuk kyai siti dan panglima abu jenar sekalipun.
    Yg sebenarnya perlu di lindungi adalah si peri kecil kufah dan teman temannya, biarkan mereka tetap berharap, akan adanya malam malam penuh sinar bintang tatkala celeng celeng tsb tumbuh sayapnya yg serupa cahaya berkilau, lalu mereka bisa menaikinya dan terbang meninggalkan perih di daratan.
    Rajab si pemberang itu suruh saja angon bebek,supaya kalau berangnya kumat dia bisa melampiaskan kemarahan nya pada telor bebek dadar,
    lah cerpen anda pak anda buat tanpa keinginan agar masuk nominasi award cerpen terbaik kompas, rupa rupanya.

    abi asa

    21 Maret 2012 at 09:09

  12. .kurang seru , n masih bingung sama ceritanya . ==”

    085645665359novi

    21 Maret 2012 at 10:47

  13. kurang seru , n masih bingung sama ceritanya . ==”

    erycha_ovhy

    21 Maret 2012 at 10:48

  14. Bang Troyanto seperti membuat kapling2 cerita yang saling berkaitan..

    Zahrel

    21 Maret 2012 at 17:25

  15. keren! prumpamaannya sama ama di negri ini, dimana ada 2 celeng yg saling lempar melempar kesalahan karena tak mau disalahkan

    atun

    21 Maret 2012 at 18:06

  16. Numpang nyimak Gan😀

    Pekanbaru Sore Hari

    21 Maret 2012 at 18:23

  17. Bikin cerita tandingannya Malin Kundang dong Brow😀

    Basko Hotel Padang

    21 Maret 2012 at 18:24

  18. Cerita Budaya Melayu sebenarnya bagus juga untuk diangkat

  19. Celeng memang binatang yang haram, namun apakah seseorang harus menjauhi binatang tersebut? semua kekuasaan ada di tangan Allah, apapun bisa diubah-Nya yang diiginkan, dan seseorang janganlah berburuk sangka, malah akan membuat peperangan demi celeng.

    Semua bergantung sama Allah. Apapun bisa dikehendaki……..

    Cerpen sedikit membuat q binggung akan judulnya>

    Edy SC

    21 Maret 2012 at 20:16

  20. cerita yang menarik… simbolisasi tentang penudingan dan prasangka hanya dengan melihat sisi luarnya saja memang sering terjadi…dan aksi dari reaksi dengan motif pertahanan diri sering kali menjebak untuk semakin memperkeruh… simbolisasi kehidupan beragama… celeng adalah pilihan yang menarik sebagai simbol…

    ananda

    22 Maret 2012 at 14:19

  21. Cerita apa ini….gk menarik sama sekali….!!!!!?

    Agus Wae

    23 Maret 2012 at 14:26

  22. Kok aku tidak bisa menangkap pesan yang disampaikan ya

    Yusriono

    23 Maret 2012 at 16:53

  23. cerita yg sangat inspiratif, tersirat oleh salah satu pesan yang saya tangkap disini; jangan terlalu cepat menghakimi.. terkadang penilaian dan persepsi kita yg kurang fleksibel malah menghambat aspirasi dari hati.. tetaplah pelihara jiwa anak-anak di dalam diri kita!

    monggo mampir di blog motivasi saya disini.

    @rezawismail

    24 Maret 2012 at 23:40

  24. aku suka bahasanya.
    like…🙂

    Fhathimha Shythy

    25 Maret 2012 at 13:31

  25. Yang celeng turun. Hehe de indramayau ada kampung penghasil tahu semisal tahu Sumedang. Dan seringkali kondektur berujar ayo yang celeng turun. Ayo yang celeng turun. Dan turun lah yang merasa Celeng alias dari desa Celeng.

    Haidar Hafeez

    26 Maret 2012 at 15:59

  26. asik cerpen mas triyanto keluar lagi.😀

    sow

    26 Maret 2012 at 18:19

  27. rupa-rupanya . . Celeng siji Celeng kabeh . .
    Cukup menarik .

    andreas

    30 Maret 2012 at 00:36

  28. rupa-rupanya , celeng siji celeng kabeh . .
    Cukup menarik bung !

    andreas

    30 Maret 2012 at 00:38

  29. celeng siji celeng kabeh . .
    Cukup menarik bung !

    andreas

    30 Maret 2012 at 00:38

  30. Selamat

    Omo

    30 Maret 2012 at 17:36

  31. Cerpen yang minggu tanggal 25 Maret 2012 kok belum dipublish di blog ya, mas Tukang Kliping?

    Arum

    1 April 2012 at 10:52

  32. biasanya saya suka cerpen mas Triyanto, tp sayang yang kali ini sy kurang suka. pesannya blak-blakan tapi kurang kuat karena terlalu singkat dan terburu-buru. saya juga berharap mas Triyanto baca lebih mendalam tentang babi. babi yang mencapai 200kg dan bertubuh besar jelas bukan babi celeng (babi lokal) tetapi babi silangan dari luar, yang berarti tidak bertaring. cek deh kl g percaya.
    kemudian menganalogiakan babi dengan keburukan untuk saya pribadi bukan hal yang tepat, karena babi termasuk hewan yang memiliki naluri keibuan yang tinggi. kyai siti digambarkan sebagai orang yang terlalu memasrahkan sesuatu sesuai kehendak-Nya dan tidak berusaha. cempiang seakan kerbau yang ditusuk hidungnya. rajab bertindak seperti ormas. jamuri seperti penjajah. cerpen ini penuh penghakiman. walaupun harus diakui itu realita saat ini.🙂

    event kampus

    18 April 2012 at 23:18

    • aku suka dengan komentar yang ini…

      ari

      15 Mei 2012 at 22:24

  33. intinya apa sih kok gak tau saya

    Fariz Rafi

    9 Mei 2012 at 21:47

  34. kyaknya sang penulis memilih untuk tak menyimpulkan sendiri inti dari cerpen ini…
    aku suka:)

    ari

    15 Mei 2012 at 22:26

  35. Hmmm, saya masih bingung. Emangnya apa sih itu celeng-celeng

    muh imran

    2 Agustus 2012 at 14:54

  36. TERIMA kasih atas semua dukungan dan komentar. Cerpen ini akhirnya masuk sebagai cerpen piulihan Kompas 2012.

    triyanto triwikromo

    24 April 2013 at 11:23

  37. akan tambah menarik jika Celengnya diubah jadi Anjing, jadi judul yang pas adalah ” BUNUH SEMUA ANJING YANG GEMAR KAWIN, YANG PUNYA BINI LEBIH DARI SATU” Ngono noh !!!

    edy sinaga

    3 September 2013 at 16:10

  38. hai bang salam kenal, bagus ya saya suka jalan ceritanya simbolik… ehmm tapi saya merasa cerpen ini pun ya kesamaan dengan novel Albert Camus yang berjudul Sampar.🙂 tp ttp bagus kok

    silmi

    1 Januari 2014 at 13:47

  39. waw…..santapan batin yg bgtu mewah..
    salute sama penulisnya…

    aldenalib

    7 Februari 2014 at 02:51

  40. Hallo gimana kabar Mas Triyanto?

    Didik Sedyadi

    1 Mei 2016 at 18:27


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: