Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ambe Masih Sakit

with 70 comments


Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, ”to makula”. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit.Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Pagi tak lagi halimun. Kulihat Indo sedang sarapan dengan Ambe yang masih sakit, terbujur kaku di dalam peti mati itu. Nyawanya menjelma arwah, tapi tetap tinggal kendati tidak menyatu dengan jasad. Menderitakah ia menjadi bombo?

”Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.”

Cahaya matahari, yang bangkit menembus celah dinding di sumbung, menimpa tubuh Ambe yang susut dan pakaian kebesarannya tampak berdebu.

”Hati-hati, Anakku. Semoga dalle-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.” Jawaban Indo seperti doa.

Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani hari dengan bahagia walau keadaan seperti ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang untuk upacara kematian Ambe. Letihkah Indo merawat Ambe?

Cuma tongkonan ini yang kami punya atau yang tersisa. Indo hanya istri kedua Ambe. Katanya, dulu banyak kerabat tidak setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang ibu mereka. Sekarang, Ambe tak memiliki harta peninggalan, bahkan buat perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun seperti tak peduli. Tinggallah aku dan Indo yang menanggung beban. Berat, entah sampai kapan kami mampu menahan.

Aku pulang membawa hasil yang lebih dari biasanya walau aku tidak menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa lembar tenunan Indo laku. Dibeli oleh turis asing dan lokal yang lalu lalang. Sebenarnya masih siang meski sudah menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.

Margaretha Sua datang berkunjung. Dari Makale ke Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia perempuan mamasa dan sudah jadi pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami tidak sering bersama setelah ia pindah mengikuti orangtuanya. Kami duduk di kolong alang. Alih-alih melepas rindu, wajahnya malah mendung membawa kabar tak baik.

”Upta, dia ingin segera melamarku,” segan perempuan itu berucap. Bibirnya seperti bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.

”Kau mau menerimanya?” Aku mengumpulkan perasaanku yang tadi berhamburan untuk mengatakan itu.

”Aku cuma dikasih waktu sedikit buat berpikir,” ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.

”Etha, bilang saja kalau kita hanya bisa sampai di sini.” Aku terempas seperti udara sisa di hidungnya.

Margaretha Sua menatapku kisruh, ”Aku tidak mau jadi biarawati.”

Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup selibat lantaran ditinggalkan kekasihnya yang tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini perempuan di hadapanku takut berlomba dengan kematian neneknya.

”Maafkan aku.”

”Aku yang minta maaf.”

Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Mungkin ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.

Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku tengah memandang di bukit utara itu yang dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung batu yang di kakinya rimbun belukar rimba. Semak-semak raksasa yang tak habis untuk dikuak.

Mungkin Tuhan menjelma hutan hingga belantara itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup di sana seperti alam baka. Rindukah Ambe untuk ke sana sebagai tomembali puang? Bergabung dengan tau-tau yang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon suaka ketika malam tiba bagai mengulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya?

Dan, sampai kapan aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras apa pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, mungkin putus asa. Indo tidak bisa dibujuk.

”Adalah larangan melakukan rambu tuka, apalagi rampanan kappa, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di alam sana.” Kata Indo seolah memegang kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.

”Kenapa? Apakah itu menyalahi aluk?” Aku tak tahu apa aku sedang menggugat adat yang aku yakini sendiri.

”Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajibanmu sebagai anak.” Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.

”Dulu Ambe pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,” jelasku punya maksud

”Iya, itu betul. Lantas?” kejar Indo mencium niatku.

”Kata Ambe carilah bekal, dalle buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.” Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin tengah membelalakkan mata, tak menyangka.

”Indo merasa tidak pernah kurang mengajarimu, Upta.” Ia memanggil namaku seakan aku bukan anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, ”Ambemu perlu kunci untuk membuka pintu ke puya, rambu solo. Perjalanan ke sana jauh sekali butuh kendaraan, tedong bonga, agar cepat sampai.”

”Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.”

”Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, sudah dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak perlu menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yang mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu akan tersesat karena ulahmu.” Suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.

”Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Di sana kau bisa dapat uang banyak ketimbang di sini. Atau kau mau mati di sana, terserah.” Indo bicara terus sebab aku seperti patung, kepala batu. Indo kenal sekali tabiatku, kalau ada mau diam tapi rusuh.

”Kau tidak bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu yang meminta kau dilahirkan.” Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu mungkin ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon nangka, tapi dicegah oleh Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?

”Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai itu terjadi, itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tanpa restu dariku,” cetusnya mengancam. Indo menarik kakinya pergi ke sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Meratapi Ambe dan nasib. Atau masa lalu yang berusaha ia tutup dan simpan.

Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan tetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo. Sunyi dingin meruap.

”Upta Liman, itu bukan sepenuhnya bebanmu dan keputusan ada di tangan kakak-kakakmu yang telah abai di perantauan,” ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe sebagai pemangku adat.

”Seperti bukan orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung orang sampai lupa kampung sendiri,” imbuh Urru, teman seprofesiku yang sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.

”Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus menanggung belasungkawa yang menunda kegembiraan di tongkonan ini,” lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?

”Kecuali kalau Indomu rela memutus hubungan dengan membayar nilai salah yang tak seberapa,” celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak lain pikirannya. Ia melenggang setelah mendapat isyarat diam dari yang hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.

Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku tidak berminat lagi. Mereka membujuk.

”Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami di sini sudah siap memberikan bantuan. Nanti kami ajukan proposal ke pemda buat diikutkan program pariwisata Natal dan Tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.”

Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal malu jika tidak bisa mengembalikan, ketika kelak di antara mereka ada yang meninggal. Setara atau lebih dan aib akan aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah perayaan kematian ini? Mereka pamit.

”Indomu sulit berdamai dengan masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan mencari selamat. Orang-orang kampung tak jadi mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,” bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, yang aku tahu Ambe pernah menikah dengan janda kaya punya satu anak yang tak pernah kulihat dan tidak kutahu keberadaannya.

Ambe dari manakah aku mulai merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.

”Kenapa Ambe menikahi Indo?” tanyaku seakan rohnya masih bersemayam dalam tubuh.

”Karena aku mencintai Indomu.”

Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.

”Apakah Indo mencintai Ambe?”

Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.

”Tanyakan itu pada Indomu.”

Ia seolah tersenyum serupa sunggingan orang yang tidak punya gigi. Aku terjaga.

Pagiku dibuka dengan kedatangan tamu. Ribut, suara Indo ramai di halaman ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya seperti turis lokal dengan badan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.

”Aku punya hak atas rumah tongkonan ini, aku ahli warisnya!” tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.

”Kamu siapa?” aku maju di muka Indo.

”Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Tongkonan ini akan kujual. Pembelinya sudah ada. Sertifikatnya masih atas namaku, belum ada balik nama.” Jelasnya beruntun.

”Rantedoping, ahli waris sudah berpindah tangan sejak kau pergi dan tak ada kabar. Biar nanti adat yang menentukan.” Indo bersikeras.

”Siapa ahli warisnya, kau?”

”Bukan. Upta Liman, anakmu.”

Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.

Toddopuli 2 STP 8


Catatan:
Ambe: ayah
Indo: ibu
Tongkonan: rumah adat orang Toraja
To makula: orang mati yang belum diupacarakan, masih dianggap sakit
Erong: peti mati
Rambu solo: upacara kematian khas Toraja
Bombo: roh yang menunggu upacara
Sumbung: bagian belakang rumah tempat menyimpan mayat
Dalle: rezeki
Alang: tempat menyimpan padi miniatur tongkonan
Rambu tuka: upacara kegembiraan
Rampanan kappa: pesta pernikahan
Aluk: adat
Tomembali puang: roh yang sudah diupacarakan berwujud setengah dewa
Tau-tau: boneka kayu, wujudnya menyerupai orang yang diupacarakan
Puya: surga
Ballo: tuak
Tana bulaan: kaum bangsawan tertinggi

Written by tukang kliping

4 Maret 2012 pada 15:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

70 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ah, menggelitik rasanya membaca barang dari kampung sendiri.🙂

    kucing senja

    4 Maret 2012 at 16:55

    • Perjumpaan:sosial, ekonomi dan adat dalam tema “Masyarakat Toraja dengan Budanya?”
      Suatu tema yang patut untuk dielaborasi bersama demi kemajuan budaya Toraja tanpa tercabut dari akar dan nilai-nilai luhur Budaya Toraja.
      Catatan buat penulis :
      Erong : Adalah peti mati yang bentuknya menyerupai hewan dan digunakan menyimpan jenasah yang sudah diupacarakan secara adat Toraja.
      Jadi Jenasah yang masih diletakkan di atas Tongkonan (Rumah Adat Toraja/Kindred House) dan belum diupacarakan secara adat tidak boleh dimasukkan ke dalam “Erong”.
      Contoh Erong yang telah berusia ratusan tahun tahun dapat disaksikan di Obyek Wisata Ke’te’ Kesu’ dan di Tambolang Toraja Utara.
      Sukses dan slamat berkarya…..!!!

      Ammong

      5 Juni 2012 at 18:32

  2. wah… sudah berkali-kali saya baca cerpen tentang upacara rambu solo… selalu menarik. dan kali ini ceritanya benar-benar dahsyat!

    Adryan Yahya

    4 Maret 2012 at 17:30

  3. Terlalu banyak kata-kata bahasa daerahnya. Namun sukses selalu buat penulis.

    Ramajani Sinaga

    4 Maret 2012 at 18:36

  4. Nice story.I like it…

    suket_waderan

    4 Maret 2012 at 18:58

  5. saya kurang paham dengan akhir ceritanya, ada yang bisa menjelaskannya?

    bangkit

    4 Maret 2012 at 21:11

    • rupanya
      dia bukan anak si ambe itu
      tapi anak si yg marah2 itu🙂

      djoko

      27 Maret 2012 at 07:00

  6. ceritanya menarik, thanks

    Noverius Laoli

    4 Maret 2012 at 21:26

  7. Saya belum baca ceritanya. Biasanya baca komentar-komentarnya, baru kemudian baca cerpennya. Tapi, kali ini, saya malah komentar duluan he he

    Apakah seelok lokalitas bernas dengan “Bujang Kurap”-nya ketika mula-mula muncul di koran Kompas (kemudian muncul bertubi-tubi di koran nasional lainnya).

    Semoga sanggup menyaingi. Semoga. Eh, saya baca dulu, ya.

    Edi Miswar

    5 Maret 2012 at 01:17

  8. Jauh lebih bagus cerpen ini daripada cerpen Benny Arnas. Saya malah nggak pernah paham dengan cerpen Benny Arnas. Kompas memuaskan saya minggu ini. Pelayanan misa pagi saya di hari minggu tidak lagi membosankan. Cerpen terbaik yang saya baca sepanjang minggu-minggu pertama 2012. Saya masih menunggu seorang pengarang yang tahun 2011 kemarin membuat saya jatuh cinta dengan karyanya, ia belum muncul juga

    welli

    5 Maret 2012 at 01:49

  9. waduhh…cerita yg rumit menurutku..tp cukup menghanyutkan,,jd sebenarnya upta liman itu cucunya ambe? sungguh adat yg memberatkan..

    elfrida siagian

    5 Maret 2012 at 08:11

  10. Ternyata kompas masih berbaik hati mau menyuguhkan cerpen yang enak dan lezat untuk saya nikmati, beberapa minggu kemarin nyaris kehilangan selera dengan cerpen yang disuguhkan kompas.

    asria ali

    5 Maret 2012 at 08:28

  11. Endingnya sadisssssss……..

    yudya76

    5 Maret 2012 at 10:47

  12. Endingnya sadiss……..

    Yuli Widyastuti

    5 Maret 2012 at 10:48

  13. mungkin karena ditulis sama pengarang asal Bugis yg pasti memiliki kedekatan kultural dengan toraja, cerpen ini jd bagus.

    Denny Prabowo

    5 Maret 2012 at 11:41

  14. Makasih atas apresiasi dan sambutan hangat para pembaca sekalian atas cerpenku yg baru pertamakali muncul di koran. Setelah penantian lima tahun akhirnya bisa nembus di koran terkemuka ini. Salam cerpen

    Emil Amir

    5 Maret 2012 at 11:57

    • ohhhh….. lima tahun lama juga ya. Bagaimana bisa bertahan menulis sampai lima 5 tahun.
      minta ramuan suksesnya dunk.
      mungkin bisa jadi penyemangat buat saya menulis cerpen.

      Edy SC

      5 Maret 2012 at 14:47

    • asik bgt baca ini cerita.. walau tadinya ku kira ga ada kamus daerahnya, tapi tetap buat ku penasaran bacanya. setelah sampai ending, puas sudah ku dibuat!!! trims buat pengarang, maju dan terus ciptakan karya2 yang bagus lainnya.

      mamo

      11 Maret 2012 at 19:34

  15. selalu menarik berbincang ikhwal kematian dan upacara pemakaman. Aku kira, tidak ada yang seperti Indoesia yang punya jutaan cara memakamkan dan dimakamkan. Ya, meskipun walau terkadang upacara pemakaman terkesan menyusahkan dan menjadi beban.

    ndangcerung

    5 Maret 2012 at 15:09

  16. endingnya ciamik!

    nathalia

    5 Maret 2012 at 16:36

  17. Saya jadi mau koment lagi di sini, gara-gara baca koment Edi Miswar: Mengapa banyak pembaca di sini selalu membawa-bawa nama Benny Arnas dalam koment mereka? Apa itu ulah 1 pembaca yang berganti-ganti akun? Seperti ada motif tertentu. Demi Bapa, saya benar-benar nggak paham maksudnya. Banyak pengarang yang jauh lebih hebat dari dia, Avianti, Bre, dll. Tapi, nggak ada yang sebut-sebut mereka. Mungkin ada yang bisa menjelaskan kepada saya yang awam ini.

    welli

    5 Maret 2012 at 20:36

    • Karena Benny Arnas memang bagus, bukankah tidak perlu ditanyakan lagi … jangan berpikiran negatif lah. mungkin, cuma masalah selera jika anda kurang menyukainya.
      Jika anda berkenan dengan pendapatku, cerpen Benny Arnas jauh lebih bagus.

      berrybudiman

      6 Maret 2012 at 08:37

    • cerpen ini maupun cerpen2 Beny Arnaz sama2 bagus, berkarakter dan lokalitasnya sangat kental!

      endarwati71

      10 Maret 2012 at 11:04

    • Karena cerpen Benny Arnas memang paling bagus! Sama seperti cerpen ini.🙂

      Aida Radar

      12 Maret 2012 at 10:54

  18. cerita bagus nih, nice (^-^)b

    Anna Chan

    5 Maret 2012 at 21:34

  19. Membaca cerpen ini, terkenang 19 tahun lalu tinggal di Rantepau.

    bernardus lubis

    6 Maret 2012 at 01:21

  20. Kalau mau membalas komen welli, kenapa harus membawa2 nama avianti, bre, bukan penulis x yg lbh bagus. Terus si y komen, heran saya kenapa mesti membawa2 nama x dlam komen mereka padahal ada w, z, u, dll yg lebih bagus.
    Kalau tak suka, jangan subjektif dunks. Masa mokso orang menyukai penulis yang anda sukai.. Negative thinking..

    miftah fadhli

    6 Maret 2012 at 09:10

    • bukan memaksa, hanya menjawab pertanyaan welli saja … lagipula, saya rasa tidak salah menulis nama pengarang, sebagai penikmat seni itu merupakan wujud apresiasi juga.

      berrybudiman

      8 Maret 2012 at 03:52

  21. keren cerennya

    celekitcelekit

    6 Maret 2012 at 10:37

  22. kalau mau baca cerpen jadi enak nih tinggal klik aja web ini🙂

    Link Vacancy

    6 Maret 2012 at 10:38

  23. Umbai nang nallE tA Tuo jo lino, apA rA lA Di pegAu ya ke pA’ porAyan nA puAng. Tpi ta beRusaha. Ta, SuSi dukA tau,,,,,,,,

    sarmAn palembagaN

    6 Maret 2012 at 14:00

  24. selamat, Author telah menjelaskan adat Toraja dengan sudut tokohnya, agak terbalik dengan prilaku Bugis, karena Bugis justru upcara penikahan yang mahal, bukan upacara kematian,,selamat sudah tembus kompas,,saya belum setelah dua tahun.

    F. Daus AR

    6 Maret 2012 at 14:22

  25. Cerita yang menginspirasi

    hilmynur

    6 Maret 2012 at 19:02

  26. Suka.. Sedih, tragis..

    Prima Helaubudi

    6 Maret 2012 at 21:45

  27. Saya menikmati sekali cerpen ini. Saya suka sekali cerpen dengan membawa lokalitas yang kental. Indonesia sekali. I love it! Sukses buat penulisnya!

    Engky

    7 Maret 2012 at 09:23

  28. Waduh kasian sekali itu Upta, sudah tak jadi kawin, jumpa pula dengan bapak tak tahu diuntung.
    Toraja ‘berbahaya’ ya? Kekayaan budaya yang diframekan dalam karya sastra. Seksi banget😀
    Selamat buat penulis🙂
    Eh, kira-kira berapa kali editan itu baru dikirim bang?😀

    By the way, mungkin, saya juga akan menunggu selama itu untuk bisa ‘pamer’ tulisan di Kompas, hehehe
    5 tahun boo, tak apalah.

    dedees

    7 Maret 2012 at 09:59

  29. Endingnya menjelaskan kenapa dahulu Indo hendak menggugurkan Upta Liman..
    Ternyata Ambe adalah…. Hupp,, kerennn,, berkesan sekali cerpennya..

    Lia

    7 Maret 2012 at 11:03

  30. cerpen yg bagus, beberapa teman suku tator, mulai merasa berat melanjutkan adat penguburan rambusolo yg terkenal mahal itu. nilainya sekali upacara bisa sampai miliaran. cerpen ini menggambarkan perasaan mereka yg terbebani secara finansial untuk adat kenguburan yg terkenal mahal itu. dilematis memang.

    hajime

    7 Maret 2012 at 14:10

  31. hem….ada lanjutannya gak nih..???

    Cicak Dinding

    8 Maret 2012 at 15:03

  32. U blew me again!!! marvelous!

    yang patut dibanggakan dari cerpen2 Emil adalah latar belakang ceritanya adalah masyarakat lokal Indonesia. sebuah cerpen dengan konflik2 tersendiri tapi bersamaan dengan pengenalan budaya tradisional indonesia. semua jempol gw naik deh🙂

    nb; sambungannya mana ya?

    Doni Franata

    9 Maret 2012 at 00:56

  33. cerpennya bagus… selamat ya buat Emil Amir
    pernah tinggal lama di Toraja ya
    kok tau persis adat istiadat orang Toraja

    divamama123

    9 Maret 2012 at 08:08

  34. “…..yang jelas, cerpen ini merupakan sebuah kisah lokal, yg penuh kejutan, di saat ending….mungkin ini yang membuatnya, jadi menarik buat dibaca. Sekalipun, oleh mereka yg asing dengan Toraja…” Selamat, buat penulisnya !

    yeyen kiram

    10 Maret 2012 at 17:02

  35. Sebuah cerpen yang tidak hanya memberikan keindahan penulisan tapi pengetahuan baru tentang sebuah adat. Bagus. Sangat jelas maksudnya dan penuh kejutan!!!

    dayu

    10 Maret 2012 at 23:03

  36. Whoaaa, beratnya

    HeruLS

    11 Maret 2012 at 12:26

    • Selamat Emil…..penuh kejutan!

      Kenzo Adit

      11 Maret 2012 at 16:44

  37. eee….ini dah habis ??? atw masih ad sambungannya…

    mantep lah….cerita lokal dan adat yg mengikat…

    AR.Anwar

    11 Maret 2012 at 18:37

  38. itulah orang Toraja,mencari Dalle untuk mati….

    elisa eka bungawaty

    11 Maret 2012 at 22:40

  39. Bagus sekali…kalimatnya singkat-singkat namun penuh makna. Permainan bahasanya juga OK. Like it🙂

    indah

    11 Maret 2012 at 23:52

  40. Cerpen yang bagus dengan ending yang tragis Suka

    Beda aja

    12 Maret 2012 at 09:20

  41. like this bro…

    pannu'

    12 Maret 2012 at 11:57

  42. endingnya menyengat..unpredictable🙂

    pwnp98

    12 Maret 2012 at 13:42

  43. Selamat

    Omo

    12 Maret 2012 at 17:36

  44. Cerpen dengan detail adat kematian di tanah Toraja menambah pengetahuan, asyik dinikmati.
    Ending cerita dengan sekilas penceritaan masa lalu tokoh Indo jadi ending yang tak disangka.
    Selamat buat penulis karyanya dimuat di kompas.

    Wina

    12 Maret 2012 at 18:44

  45. Mantap Bro Emil, konsis aja ama tema kerakyatan yang sudah menjadi ciri khas cerpen kamu.
    Sukses selalu.

    irelmattola

    13 Maret 2012 at 08:28

  46. cerpen luar biasaaa!!!!
    ceritanya jelas, alurnya runtut, dan terutama memperkaya wawasan budaya,
    selamat bang Emil!!
    *berharap bisa menulis sekeren ini*

    jembar samodra

    14 Maret 2012 at 09:30

  47. wah keren…
    Selamata buat penulisnya.

    Anies Zenevieva

    20 Maret 2012 at 19:15

  48. Hebat….ending yang tak terduga

    Desy

    22 Maret 2012 at 12:08

  49. Cerpen yang luar biasa, lokalitas yang kental, alur memikat, tema yang menarik dan ending yang dahsyat. harus banyak belajar dari MAs Emil.

    salam hormat

    Yazmin Aisyah

    24 Maret 2012 at 19:40

  50. wahhhhhhhhh kerennnnnnnn..

    kebetulan saya juga orang toraja yang merantau jadi pas baca cerpen ini teringat akan kampung halaman hehehehe….

    Ransi Palangan

    29 Maret 2012 at 11:29

  51. Bisakah saya mendapatkan biografi penulis tersebut??????
    Saya sangat memerlukannya secepatnya…….. email saya: meyliskap@gmail.com
    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih……
    Salam kenal…… sukses selalu……
    ^_^

    meyliska

    2 April 2012 at 21:51

    • Kalau boleh aku tahu buat apa biografiku anda ketahui?

      Emil Amir

      2 April 2012 at 22:34

  52. cerita ini mengkolaborasikan asmara dan budaya dengan gaya tutur yang mempesona
    enak gila…:)

    ari

    16 Mei 2012 at 20:53

  53. amazing

    qollby

    9 April 2013 at 13:04

  54. bagus cuma mikir kok ada adat yang berat banget ya….

    yeti wulandari

    14 Maret 2014 at 11:06

  55. ”Siapa ahli warisnya, kau?”

    ”Bukan. Upta Liman, anakmu.”

    jadi,,,, ibunya liman di hamili oleh anak dari isteri pertama suaminya ya??
    atau anak tirinya?
    upta liman bukan anak dr ambe yg sdah mninggal?
    mnurut teman2 gimnana???

    dahlia

    16 Maret 2014 at 00:41

    • Iya, betul Dahlia. Upta bukan anak Ambe melainkan anak dari Rantedoping, anak dulu isteri pertama Ambe yang bukan anaknya dalam artian anak tiri.

      emilamir

      31 Maret 2014 at 09:47

  56. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:58

  57. […] Catatan: Bilamana Anda tertarik membaca cerpen ini secara keseluruhan, silahkan berkunjung ke halaman ini. […]

  58. cerpenx bagus… lanjut

    bejo

    27 Maret 2015 at 13:08

  59. wah, baru baca cerpen ini, nama Bapaknya Upta Liman : Rantedoping, sama dengan FAM ku, entah kebetulan ato bener.. haha

    Rama

    16 Februari 2016 at 13:08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: