Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Batu-Asah dari Benua Australia

with 46 comments


Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.

Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

”Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. ”Saya Kiswoyo, masih ada hubungan sedarah dengan Mbak Uci,” katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. ”Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini,” sambungnya.

Tiga tahun digelandang dari Salemba, ke Cipinang, ke Tangerang, kemudian digiring ke kapal rusak untuk dikucilkan selama sepuluh tahun di Pulau Buru, maka tawaran tadi membuat hatiku tak percaya bahwa orang yang berdiri di depanku itu manusia Bumi. Aku sangsi, beberapa saat curiga, apa maksud orang ini. Bukankah tadi pagi dia sudah melihat bagaimana aku, dan puluhan tahanan politik yang lain, diturunkan dari truk dan diperlakukan tidak lebih berharga dari kawanan kerbau dan kambing yang sedang dihalau ke pejagalan. Kasar gerendel pintu bak truk diempaskan, papannya dibiarkan terbanting berdentam, kawir-kawir ke bawah. Untuk hewan saja disediakan titian turun. Tidak buat kami. Serentetan bentakan keluar dari muncung seorang sersan supaya kami buru-buru melompat dan masuk ke pekarangan markas militer itu.

Kupikir aku sedang ketiban mukjizat. Manusia Bulan yang bernama Kiswoyo itu seperti bimbang merengkuh tanganku. Aih, nasib apa yang menimpa orang buangan seperti aku ini. Gemetar buku-buku jariku menyambutnya. Dibawanya aku ke rumahnya. Tiga belas tahun kota ini kutinggalkan di luar kehendakku. Nasib orang yang baik hati ini mungkin tak banyak berubah. Dia, istri, dan dua anaknya menempati rumah petak, setengah semen, separuh papan.

Agak repot menyambut kedatanganku, Kiswoyo memepetkan kursi tamunya ke sisi dinding yang satu, dan menggelar dipan kayu nangka ke sisi yang lain. Buntalanku kusurukkan ke bawah. Di atas dipan itulah aku menghabiskan satu malam dari hidupku di dunia bebas. Itulah pertama kali, setelah tiga belas tahun yang gulita, aku melewati malam dengan terang bohlam yang redup. Semalaman gelisah. Bukan bohlam itu benar yang membuat aku tak bisa lelap, tetapi hantu tentang sebuah rencana hidup yang terus menumpati otakku. Bagaimana esok, dan keesokan harinya lagi, aku mempertahankan hidup di surga yang bernama dunia bebas ini? Di Buru, aku dan kawan-kawan punya lahan yang kami buka sendiri dengan tangan telanjang. Ya, benar-benar tangan telanjang! Jangankan traktor. Arit pun tak ada. Walau begitu, pulau buangan itu akhirnya bisa berswasembada pangan berkat tangan-tangan kami orang rantai, meskipun yang menikmati adalah tentara yang mengawasi hidup kami dalam pemencilan dan kerja paksa.

Hari kedua, dan ini pastilah berkat Kiswoyo, satu-satunya anakku muncul. Peluk dan air mata merayakan berakhirnya perpisahan paksa antara kami, membanjir tak tertahankan di bendul pintu rumah tumpanganku itu.

”Nduk,” bujukku lembut, ”maukah kau membantuku?” Dia merunduk. ”Bapak harus punya penghasilan. Sebelum kapal membelah ombak Laut Jawa, Bapak sudah punya angan-angan,” kataku pula. ”Besok, bawakanlah batu-asah warisan Eyangmu. Tanya Ibumu. Dia tentu tak lupa. Batu-asah itu diperoleh Eyangmu ketika dia di Australia dan sempat dia bawa ke Digul sebagai orang buangan. Batu itu bermuka dua. Yang sebelah kasar, sebelah lagi licin, halus.”

Hatiku gemas tak tahan menunggu. Baru pada hari kelima putriku itu muncul.

”Kenapa lama sekali, Nduk?”

”Sungguh Ibu tak pernah menyangka Bapak akan pulang. Tiga hari, siang-malam, kami mencari-cari. Begitu ditemukan sudah jadi ganjalan ember di sumur kerekan. Di belakang rumah tetangga,” katanya seraya menyerahkan batu dalam lipatan kertas koran itu ke tanganku. Hatiku biru. Kecupan yang dalam kudaratkan ke dahinya tanda terima kasih. Langkahnya pulang kuiringi kata-kata: ”Sampaikan salam dan rasa syukurku kepada Ibu.”

Kutimang kuelus permukaannya yang halus bak pauh dilayang. Juga sisinya yang kasar seperti bertabur pasir. Aku yakin batu-asah ini akan menyelamatkan napasku. Akan kubebaskan diriku dari ketergantungan pada Kiswoyo. Kulunasi semua makanan, minuman, dipan kayu-nangka, dan segala kerepotan yang menimpa dirinya. Dengan batu-asah warisan itu aku mengelilingi pusat kota, berjalan kaki, dengan langkah gontai seperti layang-layang putus tali teraju. ”Asah gunting! Asah pisau! Batu-asah dari Australia!” Begitulah teriakanku menjajakan. Hari pertama, dua pemilik warung nasi tegal meminta aku membereskan perkakas mereka.

Lancar seperti mimpi dalam membangun hari kebangkitan, sampai hari kedua puluh delapan tak ada hari tanpa asahan. Kalau tidak mempertajam pisau, ya, mengasah gunting. Hari kedua puluh sembilan. Begitu kakiku menikung di perempatan jalan, di wilayah perumahan berpagar tembok tinggi, muncul seorang anak perempuan, berkulit putih, bermata sipit, dalam bimbingan seorang perempuan, yang kuduga adalah pembantu rumah tangga. Mereka menyodorkan sebilah pisau.

”Ini pasti pisau sashimi.”

”Wow… Abang pintar sekari, ya,” sahut anak perempuan itu dengan lidah cadelnya.

Belum selesai kuasah, pembantu itu menimpali: ”Bang, sekalian perbaiki yang rompal, ya.”

”Baik, tapi tak bisa buru-buru. Makan waktu agak lama.”

”Tak apa-apa.”

Begitu pisau yang sudah tajam dan mulus hendak kuserahkan, sebuah sedan berhenti di belakangku. Bergaun putih, seorang nyonya menguakkan pintu.

”Ini Nyonya, pisaunya sudah bagus. Tajam sekali,” pembantu itu pamer kepada tuannya. Sang Nyonya menilik pisau itu, dan katanya: ”Kore wa yoku kireru. Yokatta [Ini tajam sekali. Syukurlah],” katanya berceloteh, kegirangan.

Sashimi wo kiru tame desu, ne [Untuk memotong sashimi, kan?]?” aku memotong.

Hai, sashimi no tame desu. Nihongo dekimasu, ne [Ya, untuk sashimi. Bisa bahasa Jepang, ya].”

Hai, dekimasu,” cepat kusahut.

”Belajar di mana?”

”Di Universitas Waseda, di Jepang.” Alis mata nyonya itu hendak terbang, menjungkit ke atas.

”Ha?!” Dia bergumam. Matanya mau menelan kepalaku. ”Waseda?!” Sang Nyonya memperhatikan ujung kaki sampai ke ubun-ubunku. ”Tunggu, ya….” Tergopoh dia masuk ke rumah, diiringi anak dan pembantu tadi. Sekelebat angin, dia muncul lagi, diantar seorang laki-laki. Pastilah suaminya, pikirku.

Laki-laki berkacamata itu menghampiriku. Pipinya tembem. Matanya memberi kesan seorang peramah, suka bercanda. Sapanya: ”Kamu cuma tukang asah pisau, tapi bisa bahasa Jepang. Apa kamu intelijen mau memata-matai kantor saya? Ini kantor berita Jepang. Dibuka karena diundang pemerintah. Kamu siapa?” Kedua tangannya tetap menyangga pinggang.

”Saya baru pulang dari Pulau Buru. Saya tahanan politik, tapi sudah bebas,” tukasku, lagi-lagi dalam bahasa Jepang.

”Pulau Buru?!” Lantas dia menggiringku ke dalam. Aku dipersilakan duduk di seberang meja kerjanya. Dijangkaunya sebuah file dan meletakkan dua foto di daun meja. ”Kenal?” tanyanya. ”Ini siapa?”

”Profesor Doktor Suprapto, ahli hukum. Pramoedya, sastrawan,” jawabku. ”Yang ini,” lanjutku, ”yang pakai caping ini, saya.” Kacamatanya turun-naik mencocokkan foto dengan tampangku.

”Bahasa Jepang Saudara bagus. Belajar di mana? Di Buru?”

Aku terkekeh. ”Tidak. Di Waseda. Di Universitas Waseda. Saya lulus Master.”

”Lulus dari Waseda? Ujian masuknya saja begitu susah,” katanya menggurui dirinya sendiri. Kuceritakan, aku ikut bertempur di Kalimantan mengusir balatentara pendudukan Jepang tahun 1943. Setelah Republik berdiri, aku memperoleh beasiswa untuk belajar di Jepang. Beberapa tahun aku menetap di Tokyo, menjadi koresponden koran Partai Komunis yang terbit di Jakarta. ”Tak usah lagi saya teruskan cerita ini. Karena jadi wartawan itulah maka saya dibuang ke Buru,” kataku. Dia nyengir.

”Menyesal sekali, saya sudah punya sekretaris merangkap penerjemah,” katanya. Seraya menghela napas dipandanginya aku dari balik kacamata yang melorot di batang hidungnya. ”Tapi, kalau mau, boleh datang tiga hari dalam seminggu,” ucapnya menggenapkan harapanku yang memang menggunung. Nyaris aku melompat waktu dia bilang: ”Besok mulai masuk.”

Belasan tahun dizalimi. Aku hafal sakitnya hati jika kita dilangkahi. Menjadi pemantik kecemburuan aku tak sudi. Tapi, apa yang bisa kuperbuat? Nyatanya, akulah yang diajaknya ke mana-mana. Bukan penerjemah yang sudah bertahun bekerja padanya. Terakhir, dimintanya aku turut ke Laguboti, di bibir Danau Toba, mencari seorang insinyur Batak, yang seorang diri, dengan gajinya, ditambah tabungan istrinya, meneruskan pembangunan Proyek Asahan yang diterbengkalaikan presiden kita yang kedua. Jepang ini menjadi-jadi. Disuruhnya aku masuk setiap hari.

Nasibku semulus batu-asah. Memasuki bulan keenam, aku sudah bisa mengontrak rumah yang layak. Bulan kesembilan. Istriku merengek, minta aku membiayainya menunaikan ibadah haji. Aih…. Inilah kesempatan emas bagiku untuk membayar dosa-dosa sebagai suami yang telah menelantarkannya belasan tahun, sampai-sampai lima tahun terakhir dia terpaksa menikah dengan lelaki lain. Aku tak pernah menyesali keputusannya. Kutimpakan seluruh peruntungan yang buruk itu di kepalaku. Uci bilang, dia rela menikahi lekaki itu karena orang itu berjanji mau mengajaknya ke Mekkah. Bertahun menanti. Janji itu cuma angin gurun. Lantaran malu, barangkali, lelaki itu baik-baik meminta maaf, mohon berpisah.

Kuurus segala kebutuhan dan persyaratan sehingga Uci terdaftar sebagai calon jemaah. Dia sendiri sudah khatam seluruh kalimah ibadah, yang wajib maupun sunah.

Mendekati hari keberangkatannya, menjelang magrib, kupegangi tangannya, erat seperti tiga puluh tahun yang lalu mula pertama aku merengkuhnya. ”Uci, ingat kuplet ketiga lagu kebangsaan Indonesia Raya. Larik pertama berbunyi ’Indonesia tanah yang suci…’. Ya, Indonesia tanah yang suci…. Kalau kau melempar jumroh di Tanah Suci, ingatlah Tanah Air kita ini. Tancapkan di hatimu bahwa batu-batu yang kau hunjamkan itu merajam setan-setan kota maupun desa di tanah suci kita ini, yang tak sempat disingkirkan karena presiden pertama keburu ditumbangkan. Lihatlah, sekarang, di samping setan kapitalis birokat, muncul pula setan banggarong. Mereka pesta-pora, gentayangan bermobil mewah meraung-raung suka-suka di Senayan sana. Pernah di antara mereka, suatu ketika, melintas di jalan bebas hambatan. Sudah tak bayar tol, menebas nyawa orang pula. Rajamlah mereka dengan batu-batumu itu. Rajamlah, sayangku….”

”Kang Mas…,” istriku manis berbisik, semanis tiga puluh tahun yang lalu. Seruan azan mengguntur ke langit. Dia mengecup tanganku.

(Untuk Trikoyo Tri Ramidjo, dari siapa ilham kisah ini bermula)

Written by tukang kliping

12 Februari 2012 pada 21:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

46 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sungguh…. luar biasa…
    aku inget beberapa kalimat dari Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian
    bahwa, dalam lembaran2 catatan kertas, kebebasan berpikir dan mengungkapkan kata hati tidak pernah bisa di bungkam..

    Mari menulis… ^^

    Zaky

    13 Februari 2012 at 21:51

  2. Satu kata, Mantap!

    An

    13 Februari 2012 at 22:06

  3. Ketika kemarin saya membacanya dengan teman-teman, kami betulan bertanya-tanya–apalagi dikarenakan pesan dari penulis di bagian akhir–benarkah ada orang zaman Jepang yang dikuliahkan ke Waseda lalu justru jadi kontributor untuk Komunis dan kenapa bisa-bisanya diasingkan ke Pulau Buru. Dan pula, apa hubungannya batu asah itu dengan latar belakang si karakter utama, terlebih lagi kenapa yang dijadikan judul justru batu asah. Jalannya cerita nampak tidak fokus dengan banyaknya variabel yang terpisah-pisah semacam itu. Penghubungnya hanya penekanan ‘metode telling’ yang dilakukan si penulis dengan berkali-kali mengatakan ‘kehidupan yang semulus batu yang diasah’.

    Mengenai bentuk penulisan, saya agak kesandung dengan klausa yang diberikan jeda titik, padahal lebih bijak bila menggunakan tanda koma. Hal semacam itu saya temukan di sekujur cerita–meski saya memaklumi pada bagian-bagian penyebutan setting waktu.

    Juga bertanya-tanya, apakah mengambil setting daerah Sumatera Utara sebagai monumen bahwa penulisnya ketika menulis itu sedang mengisi pelatihan di daerah tersebut?

    Overall, ini cerita yang menarik. Mungkin karena unik dan absurdnya jalan cerita dan latar belakang penokohan (kalau cerita ini memang diniatkan realis–atau historical).

    dewikharismamichellia

    13 Februari 2012 at 23:42

    • batu asah digunakan sebagai tali penghubung bagi si protagonis untuk bisa dipertemukan dengan siapa saja oleh penulisnya. ini untuk menghindari hal-hal yg bisa saja memberi kesan sebuah kebetulan. lagi pula di tahun-tahun 2000 an, bekas tapol belum sepenuhnya dapat diterima masyarakat, sehingga pekerjaan sebagai pengasah pisau jauh lebih masuk akal daripada jenis pekerjaan lain.

      yunus

      14 Februari 2012 at 16:33

  4. saya ini hampir bisa di katakan adalah anak cerpen kompas,karena telah sejak waktu yg sangat lama cerpen kompas memberi banyak pandangan hidup pada saya,nilai nilai luhur dari banyak pencerita yg bijak cendekia,memberi saya ruang yg luas pada saya dalam memaknai hidup ini…
    Namun saya juga memandang diri saya ini adalah seolah suporter sepak bola eropa bagi anda,yg akan menggulingkan patung emas anda atau melampar anda dengan sandal jepit apabila anda tidak menghasilkan karya yg memuaskan..

    Batu asah merupakan cerpen yg sempurna sebagai cerpen menurut saya,yg sesuai dan runut,karena butuh disiplin tinggi menurut saya apa bila anda ingin membuat satu kisah yg serasi dengan judul.dalam cerpen ini kisah batu asah lah yg memang menjadi ceritanya,pulau buru dan bahkan kisah tragis sosok istri yg menikah dengan pria lain tak sanggup menggoda pengkisah untuk mendramatisir menjadi serpih serpih kecil haru biru..
    Yang lebih beda,cerpen ini tidak memprioritaskan ending yg heboh,tapi malah menyelipkan ironi dogma di tambah setetes cinta yg mengharukan..
    Indonesia memang pantas untuk di cintai karena memang indah sekali,memiliki keragaman budaya dan hayati yg jauh lebih menarik di banding negeri lain,thailand sekalipun,mengenai duren misalnya,duren petruk dari jepara jauh lebih padat dagingnya dan lebih kecil bijinya di banding duren montong dari thailand,belum lagi jika kita menengok hutan kalimantan,di wilayah kota waringin barat ada hutan luas dengan banyak sekali pohon duren berbagai varietas yg belum di kenal..
    Oiya…tips agar tidak tertipu saat membeli duren,tampakan saja bahwa anda orang baik,itu saja…karena penjual duren di indonesia membenci orang jahat dan cerewet,dan mereka berharap bisa mengerjai orang kaya yg jahat,dengan memberikan duren yg tidak manis.
    Satu lagi,jangan menampakan paha mulus anda di balut span pendek jika anda wanita,pasti kami pelototi.

    abi asa

    14 Februari 2012 at 03:49

  5. Saya menunggu-nunggu sekali cerpen minggu ini, setelah dua minggu sebelumnya hanya pohon hayat yang nangkring di entri baru.
    Saya orang baru yang terjun di bidang sastra, tapi karena itu saya ingin berkomentar juga.
    Ya, walaupun masih jauh untuk dikatakan mahir, hehe… ok.
    Cerpen ini sangat baik dalam tema penceritaannya, hanya saja dikemas agak ’serampangan’, ha! Maaf kalau terlalu kasar pilihan kata saya. Misalnya dalam penulisan tanda baca, titik-koma yang tidak tepat, sehingga membacanya agak membingungkan. Lalu hubungan-hubungan antar aspek cerpen seperti berjalan sendiri-sendiri. (walau tak sepenuhnya demikian)
    Sayang, padahal cerpen ini bisa menjadi sangat enak dibaca jika kemasannya diperbaiki.
    Mungkin saya akan mengutip ”petuah” dari guru saya dalam menulis, ”menulis bukan tentang isinya tetapi bagaimana menceritakannya.” Sehingga, enak dibaca oleh semua kalangan. Sama seperti cerpen ini, terasa sedikit kurang ”enak”.

    berrybudiman

    14 Februari 2012 at 07:40

  6. Terlampau singkat, terlalu sinetron, kalau menurut saya … tapi nasib siapa yang bisa mengatur
    Kita semua punya peran di panggung bumi Yang Maha Kuasa🙂

    Adhi

    14 Februari 2012 at 08:44

  7. mantapppsss……

    mbah im

    14 Februari 2012 at 09:20

  8. Bagi saya, sejauh ini, cerpen-cerpen MA sangat menyentuh hati. Berisikan pengalaman seseorang anak bangsa yang tersingkirkan oleh suatu priode sejarah bangsa ini.
    Entahlah kalau sejarah bangsa ini tidak seperti yang telah terjadi. Tentunya cerpen-cerpen MA tidak seperti ini temanya.
    Yang penting : seni adalah seni, sejarah adalah sejarah. Kita harus berlaku adil terhadapnya!

    herin

    14 Februari 2012 at 09:52

  9. Initi ceritanya OK, cuma terlalu singkat, sehingga klimaksnya agak nanggung.

    reganleonardus

    14 Februari 2012 at 09:57

  10. terlalu biasa cerpennya,

    ray

    14 Februari 2012 at 12:21

  11. good, can enter in kompas is my dream before pass from high school

    musahasyim

    14 Februari 2012 at 13:27

  12. jembatan antara cerita batu asah dengan ending cerita terkesan mendadak, kurang enak dibaca jadinya walaupun mungkin pertimbangan kompas pada isi dibalik cerpen ini tentang masalah politik dikaitkan para be**l senayan yg up to date

    rafsya

    14 Februari 2012 at 15:15

  13. Lebih bagus dibandingkan “Di Kaki Hariara 20 tahun Yang Lalu”

    yunus

    14 Februari 2012 at 16:36

  14. .sangat bermanfaat di era yang serba terbalik seperti saat ini , semisal ,yang kaya semena – mena yg miskin teraniaya 🙂

    erycha_ovhy

    14 Februari 2012 at 21:29

  15. Apik . . . .

    qinqin

    15 Februari 2012 at 09:53

  16. tidak seperti biasanya, dalam hati saya ingin cerita ini berakhir happy ending sejak awal membacanya, tapi sepanjang cerita saya justru berdebar menantikan kemana MA akan membuat kejutan. jangan-jangan akan berakhir tragis, maklum, tapol memang sulit kembali diterima di masyarakat pada masa itu. gaya bercerita alur maju, meski sederhana justru menambah debar itu. saya gembira karena pada akhirnya tak ada ending tragis. akhir cerita ini menegaskan rasa optimisme tinggi yang bermula dari hal sederhana; batu asah.

    rey

    15 Februari 2012 at 13:43

  17. hebat…
    penghargaan pada ilmu, meski berawal tragis dan sinis
    “Allah meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat”

    terimakasih untuk cerpennya
    salam

    lukluilmaknun

    15 Februari 2012 at 15:41

  18. Ceritanya menarik, namun agak membingungkan… penempatan titik (.) koma (,) tidak pada teratur.. tapi, ceritanyaa secara keseluruhan bagus !!

    mhynorii

    15 Februari 2012 at 19:32

  19. Saya menulis komentar panjang tentang cerpen ini dalam blog, silahkan jika berkenan bacalah http://tunu.wordpress.com/2012/02/09/mitos-dan-rasio-dalam-cerpen/

    Muhajir Arrosyid

    16 Februari 2012 at 11:11

  20. Saya menulis komentar panjang tentang cerpen ini dalam blog, silahkan jika berkenan bacalah Saya menulis komentar panjang tentang cerpen ini dalam blog, silahkan jika berkenan bacalah

    Muhajir Arrosyid

    16 Februari 2012 at 11:13

  21. Sebuah liku hidup yang berakhir manis.
    Like this.

    rantinghijau

    17 Februari 2012 at 20:08

  22. ini semacam roti dan susu, yang tersantap ketika perut sangat lapar dan kebetulan sedang tak bernafsu sama nasi. sungguh renyah.

    Adhi P. Nugroho

    18 Februari 2012 at 08:54

  23. Jadi pingin tukang asah…bisa ktemu banyak oranng….apalagi orang jepang kayak di cerpen ini….

    robay

    18 Februari 2012 at 14:14

  24. Ya ampun, ini cerpen mengandung sejarah politik dan siramah rohani sekaligus, keren.

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 21:39

  25. Ya ampun, kerennya.
    Itu cerpen mengandung sejarah politik dan siraman rohani sekaligus yah

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 21:41

  26. Saya lihat itu cerpen sejarah dengan penutup dihiasi dakwah, keren aja sih

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 22:46

  27. kenapa masih menyebut orang lain setan kalau diri sendiri adalah setan

    bintang

    19 Februari 2012 at 10:22

  28. LUAR BIASA KOMPAS!
    Pintar seleksi cerpen yang uptodate..

    Saya menyukai setiap cerpen & karya2 baik anak bangsa.

    salam,

    Paintball

    20 Februari 2012 at 21:43

  29. bagi saya penikmat cerpen awam, runtutan cerita sepertinya dipaksakan heroik.. mungkin karena terlampau pendek, jadi detil2 yang kudunya dibangun jadi terabaikan. proses berjalan cukup cepat. bahkan awalnya, karena memakai perantara batu-asah, maka nasib sang tokoh awalnya akan mulus, dan setelah itu akan kasar laiknya batu asah. hehehehe… salut deh… mbak MA.

    ndangcerung

    24 Februari 2012 at 14:59

  30. bagus banget

    awaluddin ihsan

    29 Februari 2012 at 13:39

  31. kurangnya konflik dalam cerpen ini, sehingga klimaksnya kurang begitu dapet….. tapi walau pun begitu cukup merasa termotivasi karena jujur saya penggila karya2 sastra yang berbau motivasi dan pada cerpen ini saya temukan motivasi itu selain itu cerpen ini pun mengajarkan untuk menghargai hal-hal kecil seperti halnya batu asah , karena mungkin saja dibalik kesederhanaan suatu barang ternyata mempunyai kekuatan yang maha dahsyat….. intinya jangan pernah remehkan sesuatu yang kecil.. cerpen ini mengajarkan untuk selalu optimis dan menentang segala rasa pesimis…. itu betul, menurut saya pesimis itu bukan pilihan, karena hanya akan membuat kita menjadi orang kerdil……..

    riska

    29 Februari 2012 at 15:47

  32. Cerpen bagus! Setan kota dan setan desa sekarang mewujud dalam bentuk koruptor, preman, dll. Kalau hukum di dunia tidak bisa menyentuh mereka, hukuman yang sesungguhnya ada di akhirat nanti. Tuhan Mahaadil!

    CHE SUSANTO

    5 Maret 2012 at 08:32

  33. cerpen nya panjang bgt

    agum

    12 Maret 2012 at 21:10

  34. Saya punya bukunya dan sudah saya baca berkali2….cerpen td hanya bagian dr BAB di buku itu…dan saya suka…

    Rienna

    27 Maret 2012 at 17:40

  35. cerpen ini mengalir mendatar dengan tergesa gesa,
    begitu menurut saya….

    mridwanpurnomo

    1 April 2012 at 09:29

  36. bagus sekali mas….
    semoga ada yang tersinggung setelah membacanya. minimallah..
    semoga yang tersinggung banyak………………
    amin…
    MANTAP….

    wana

    1 April 2012 at 17:51

  37. lebih sekedar cerpen..
    tapi sebuah inspirasi untuk menjalani dan menilai hidup…

    imes manik

    1 Oktober 2012 at 19:22

  38. Saya hidup dalam masa haru biru itu. Air mata saya mengambang.

    Dimas

    22 April 2013 at 07:53

  39. ada setitik air mata mengembang saat cerita ini berakhir dan membayangkan seorang teraniaya. saya suka….

    yeti wulandari

    9 Maret 2014 at 20:58

  40. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:01

  41. Saya tak dapat berkomentar, komentar tak dapat dari saya, tapi saya masih berkomentar tapi di sayangkan, saya bukan ahli bahasa dan ahli bahasa bukanlah saya, ehehehe…
    Ya mang ada benarnya itu sich, tentang melempar syethaan. Tau juga ya caranya ntu, banyak loh orang yg ga tau sampe segitu, alias saat melempar yang kena cuma angin doank, bukan syethan nya. Mudah2an orang yg naik haji jadi makin memahami tentang ibadah, tidak hanya sampe kepada ibadah yang tersurat saja tetapi betul-betul kepada ibadah yang tersirat, hehehe… Sekian dan tariiimma kaseeehhh, hehe…

    buset

    23 Oktober 2014 at 01:36

  42. aku hanya diam dan tertengun lama ketika sebaris kata mulai masuk kedalam ruang sadarku…

    benar benar mantap

    rizal jibran

    1 September 2015 at 08:19

  43. Ini cerpen yang terinspirasi dari Tri Ramidjo mantan tapol dari pulau buru🙂 Good pak Martin Aleida

    edi

    18 April 2016 at 21:20


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: