Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Di Persimpangan Pantura

with 89 comments


Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang, tapi mengapa nasib tak berpihak juga?

Namaku Limbuk, asal Dukuh Menjangan. Hidupku isinya cuma kesedihan. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu, hidup ini memang sekadar mampir ngombe, singgah untuk minum.

Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam, tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu, ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya.

”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.

Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.

Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.

Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.

Ketika tawaran Yu Silam datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.

Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang ditutupi. Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama?

Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa, tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.

”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Patokbeusi, negeri seribu impian… ” sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku.

”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”

”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”

Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama kota memang aneh-aneh begitu?

”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.

”Kenapa belum terlihat pantainya?”

Yu Silam mendengus.

Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Menyiapkan air mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana.

Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya.

Dua tahun berlalu, Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu.

”Ganti namamu, tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Silam.

Aku terkekeh. Mungkin waktu aku lahir, bapak berharap aku semontok Limbuk, tokoh punakawan. Ternyata tak ada yang berubah. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku.

”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”

”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”

Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.

Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.

”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih.

Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Untung saja Mami di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ.

Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?

Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan, tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.

”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.

Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.

”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”

Senyumku terhenti di tenggorokan.

Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”

Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.

Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru datang, dan lebih segar.

***

Empat bulan aku di sini, Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari, malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek.

Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.

Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing.

Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi, meski aku lebih banyak berdiam diri.

”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.

Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di dunia buaya.

Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia punya rencana tersembunyi.

***

Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya.

”Lho, memangnya Yu sakit apa?”

”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Silam kasar, memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami.

Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.

Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Silam.

”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”

Yu Silam terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan.

Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”

”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Silam meradang.

Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.

”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau.

Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.”

Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Di tempat yang benar-benar baru, bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa.

Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Aku tak mau jadi dongdot.

***

Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.

”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.

Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”

Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka lebar.

Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.

”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan.

Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.

”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.

Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini.

Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah.

Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar, suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti diriku dulu, Mbuk…”

Pamulang, Agustus 2011

Catatan :

1) Dongdot = PSK

2) Kersaning Gusti Allah = kehendak Allah SWT

Written by tukang kliping

11 Desember 2011 pada 10:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

89 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. walau bahasanya agak sulit dimengerti, tapi saya akui cerita ini punya pesan tersirat yang bagus ..

    terus berkarya😀

    Putri Dian

    11 Desember 2011 at 10:50

  2. perempuan dan keperawanan membawanya ke dalam nasibnya, tetap saja hidup adalah pilihan, bukan?

    ruka

    11 Desember 2011 at 12:01

  3. sang pencerita “sukses”mengajak kita melihat sisi putih bersih,di dalam hitam kelam warna dunia ini,..sejatinya memang demikian setiap manusia itu,karena diri adalah rangkaian kejadian,yg telah dia alami.yaa..manusia bukan binatang yg tak punya kisah kejadian kejadian,maka arif bijak adalah kemampuan untuk terus sadar pada pengetahuan bahwa semua manusia itu “seburuk apapun dia”memiliki apa yg di sebut nurani,..di dalam nurani lah inti semua kebajikan itu berasal…
    Tapi…terlepas dari semua itu..
    Ada satu alinea yg saya temukan,(..sang pencerita kesulitan menemukan diri pengisah..)
    Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar
    rumah hanya untuk sekolah atau disuruh
    simbok ke warung. Limbuk kecil makin
    terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan
    lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi
    berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong,
    berbalut seprai putih sambil berharap tak
    bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh
    diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak
    pernah cukup untuk beli obat serangga.
    Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu…
    …aaah tapi sudahlah,memang selalu ada yg kurang untuk orang sekaliber aku,..hihi.
    Trims tukang kliping,aku jadi tidak perlu beli koran untuk bisa membaca cerpen kompas..hehe..

    Abi asa

    11 Desember 2011 at 12:33

  4. Hmmm….menarik, bahasanya tetep santun meski bertutur tentang prostitusi.

    Beda Saja

    11 Desember 2011 at 12:47

  5. selamat, (:

    puputjuniprayitno

    11 Desember 2011 at 13:03

  6. Ibarat sungai. Kata2nya mengalir, tenang, beriak deras, kadang2 curam, bermuara ke hulu. Jujur, sy suka cerpen model begini. Selamat!

    O'nol

    11 Desember 2011 at 13:40

  7. Ibarat sungai. Kata-katanya mengalir, tenang, beriak deras, kadang-kadang curam, bermuara ke hulu. Jujur, sy suka cerpen model begini. Selamat!

    O'nol

    11 Desember 2011 at 13:56

  8. Cerpennya sangat menarik sekali ^_^ dan banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari cerpen tersebut yaitu bahwa harga diri seorang wanita meskipun sudah ternoda tetap mereka punya harga diri yang sama karena wanita (limbuk) tidak ingin ternoda tetapi karena kejahatan orang yang tidak mempunyai hati nurani yang telah membuat harga diri (limbuk) menjadi hancur. Dan pelajaran lainnya yang dapat diambil adalah bekerja lebih baik sesuatu yang kasar dan keras tetapi membawa hasil yang halal daripada pekerjaan yang nyaman hasilnya tidak halal

    Berta Setyowati

    11 Desember 2011 at 14:09

  9. Subhanaullaah… cerpen yg luarrr biasa! Coba duit2 yg dikorup itu utk pemberdayaan ekonomi para wanita yg masih begitu banyak mereka sangat sangat perlu mendapat perhatian. Ehh.. wanita juga ternyata ada yg korup mementingkan diri sendiri

    M.Danial Bangu

    11 Desember 2011 at 14:41

  10. coba ironinya lebih wah, pasti lebih menarik, selamat berkaryaa :))

    putrapemberontak

    11 Desember 2011 at 15:00

  11. pantura oh pantura, kisah yang panjang, sepanjang wilayah yang terhubung

    putu suninta

    11 Desember 2011 at 17:50

  12. trenyuh…

    etty tjokro

    11 Desember 2011 at 19:03

  13. Satu cerita, berbagai pesan yg disampaikan.
    Hebat!

    fadhline

    11 Desember 2011 at 23:00

  14. Endingnya cukup untuk dibilang tidak mengecewakan.

    Septian Dwi Cahyo

    12 Desember 2011 at 06:55

  15. hidup adl pilihan. cerpen yg keren.

    rahma

    12 Desember 2011 at 08:19

  16. Limbuk simbol yang menarik, di sini. Ia menemukan dirinya di posisi ‘takdir’ yang sulit. Namun, kekuatan menjadi terhormat itu, tetap bisa kita dapatkan dari keputusan yang tidak ‘lazim’ di lingkungan sosial semacam itu.

    Namun, ada beberapa yang belum saya dapatkan jawabannya,
    1. Bagaimana kekuatan moral-psikologis Limbuk yang demikian tinggi dan kuat lahir? Sementara dari pengalaman pendidikan, lingkungan di rumahnya dulu, tokoh Limbok tidak bersentuhan dengan itu.
    2. Transaksi seks haram antara Lik Sol-Limbuk terjadi karena apa? Menurut saya ini masih gelap.

    Muh. Nur Hasani

    12 Desember 2011 at 10:56

    • maaf mas nur apakah anda tinggal di kota???

      untuk nomor satu tak perlu pendidikan yang tinggi untuk mempunyai moral yang tinggi…

      dan kekuatan psikologis limbuk tidak tinggi coba di cermati dia g tahan dengan cercaan dari org2 dikampungnya…..dan ada rencana untuk bunuh diri….

      untuk desa yang masih pelosok…cukup kental dengan budaya….moral yang terbentuk dalam masyarakat cukup baik contohnya dalam cerita ini ada konsekuensi sosial atas sesuatu yang tidak baik….dalam hal ini kehilangan keperawanan…limbuk di gosipkan.kalau org jawa bilang “dirasani”

      dharmaadi suyanto

      25 Desember 2011 at 22:21

    • mas muh. nur yth, untuk pertanyaan yang kedua sebenarnya sudah diterangkan dengan jelas dalam cerpen, bahkan menjadi penentu alur kehidupan tokoh…🙂

      nur ratri

      1 Januari 2012 at 10:47

  17. keren. . ,😀

    mrmunthu

    12 Desember 2011 at 13:25

  18. saya ikut berimajinasi ketka membaca prosa ini..

    selamat kpda penulis…

    Ramajani Sinaga

    12 Desember 2011 at 13:30

  19. Tolong lah ingat tuhan dan syangilah driver klian brubah lah driver skarang

    Latif

    12 Desember 2011 at 16:40

  20. keren nih ceritanya

    tonosaur

    12 Desember 2011 at 19:39

  21. Cerpen yang bagus, bertemakan kehidupan latar belakang masyarakat pada era globalisasi saat ini,yang mulai menggeser kultur kebudayaan Indonesia. Cara pengarang menuturkan kisah ini mudah dipahami karena menggunakan sudut orang pertama tunggal terlihat dari kata ganti ” aku” dan deskripsi cerita dan narasinya sangat bagus, runtut, dan jelas sehingga mudah dipahami . Bersetting kehidupan masyarakat desa sampai kehidupan malam di jalur pantura.Tokoh Limbuk dalam cerpen ini mempunyai watak khas para wanita jawa yang mempunyai sikap yang selalu ” pasrah” menerima takdir dari Tuhan YME. namun di sisi lain saat limbuk akan terjerumus dalam kehidupan malam jalur pantura, Limbuk berhasil merubah pola pikirnya agar tidak semakin ” kotor” karena sebelumnya dia adalah korban pemerkosaan yang dilakukan oleh kerabatnya sendiri yakni ” Lik sol” Limbuk berhasil menjadi terhormat dengan caranya agar tidak terjerumus dalam kehidupan malam. Dari sini juga dapat diambil nilai religiusitas cerpen ini yakni ” Tuhan akan menerima tobat umatnya jika umat tersebut bersungguh-sungguh untuk bertobat”. Namun disisi lain ” pengarang” tidak menuturkan latar belakang kehidupan limbuk secara lengkap sehingga para pembaca tidak dapat mengetahui apa yang melatar belakangi terjadinya ” pemerkosaan” terhadap Limbuk. Limbuk hanya salah satu korban pergeseran nilai- nilai moral dalam masyarakat kita. Kisah yang inspiratif semoga dapat mengispirasi kita agar selalu instropeksi diri dan tetap mempertahankan nilai- nilai budaya bangsa ini .

    Lia Maulana Antasari

    12 Desember 2011 at 20:36

  22. cerita yang bagus….
    saya suka dengan pendirian si lumbuk meskipun keperawanannya sudah ternodai si lumbuk tetap bisa menjaga harga dirinya…
    pelajaran yang dapat saya ambil dari cerita ini bahwa meskipun harga dirinya sudah hilang karena korban perkosaan si limbuk masih bisa menjaga harga dirinya dan masih bisa tegar dalam masalah yang menimpanya…

    buat penulisnya tetap berkarya…cerita yang sangat bagus saya tunggu cerita selanjutnya.

    Nur Maslahatul

    12 Desember 2011 at 21:17

  23. Masih belum percaya ini adalah cerpen bagus yang layak muat di Kompas… hwemm…

    Lanang Bayu Sapoetra

    13 Desember 2011 at 01:25

  24. Cerita yg mengalir lembut, babak demi babak begitu menghanyutkan dengan ending yg indah menyejukkan hati.

    Ah, jaman mungkin sedang girang-girangnya merayakan pencerahannya.

    Hingga aku tak lagi merasakan beda antara digigit ular dan melihat ular.

    Tak perlu pedih berlebihan, tak perlu dendam, tak perlu pergulatan, bahkan kesembuhan tak lagi butuh pemaafan dan harapan…lupakan itu

    Beruntunglah, akhirnya Limbuk ditemani malaikat yg melindunginya…atau? Membungkamnya?

    Terima kasih Tukang Kliping.

    pakudingklik

    13 Desember 2011 at 04:08

  25. Bisa di copy, buat tugas sekolah.🙂

    Mr.N

    13 Desember 2011 at 12:43

  26. Kisah nyata adalah realita hidup…
    Realita hidup adalah kisah nyata…
    Banyak orang hidup yg melupakan realita..
    Bahkan realita jarang di mengerti orang hidup..

    Wah.. Bagus banget mbak Tantri cerpennya..
    Bikin lagi yg seru ya..

    ferry indra

    13 Desember 2011 at 14:03

  27. Ceritanya keren banget.

    Ismi

    13 Desember 2011 at 14:05

  28. like it! ceritanya mengalir dengan menarik dan punya pesan moral yang kuat
    selamat kepada semua orang yang hidup dengan mengikuti (dan mempertahankan) hati nuraninya🙂

    Adhi

    13 Desember 2011 at 16:10

  29. Ingin rasanya menulis cerita yang bernuansa kehidupan semacam ini. Ah, memang harus lebih banyak belajar. Semangat!

    Farijs van Java

    13 Desember 2011 at 16:54

  30. hummm, mengalir manis narasinya

    HeruLS

    13 Desember 2011 at 17:51

  31. keren…
    sukses buat [penulisnya) teruslah berkarya!

    suka siph lah

    13 Desember 2011 at 23:22

  32. nice..critanya ringan..namun tetep bermakna luar biasa,,cerpen ini mengingatkan kita,,sekalipun lingkungan kita hidup penuh dengan kekejian,,dan jalan yg menyimpang drNYA,,kita harus bsa tegas seperti tokoh Limbuk..yg senantiasa tetap berpegang teguh pada jalan yg benar..pesan moralnya ngena banget dah..thx yua bwt penulis..good story^^

    rosondang

    14 Desember 2011 at 01:57

  33. ringan cerita tapi penuh makna

    karman

    14 Desember 2011 at 08:14

  34. Cerpen yang berjudul “Dipersimpangan Pantura” ceritanya sangat bagus. Banyak pelajaran yang saya ambil dari kisahnya. Saya yakin semua orang yang sudah membaca cerpen ini akan lebih berhati-hati dalam kehidupannya. Tokoh Si Limbuk bisa kita jadikan contoh bahwasanya kita harus mempunyai prinsip dalam hidup, karena prinsip hidup yang baik akan membawa kita dalam kehidupan yang lebih baik. Cerpen ini bahasanya juga mudah dipahami saya yakin pembaca tidak akan bosan membaca cerpen ini karena selain ceritanya menarik bahasanya juga mudah dipaham.

    Dwi Indah

    14 Desember 2011 at 11:18

  35. Sepertinya ndak pernah habis daya tarik kisah wanita jalanan. Walaupun kelihatannya klise, tapi daya tariknya masih kuat, masih nyedok gitu.

    Budi Susetyo

    14 Desember 2011 at 13:58

  36. Good…

    Hasna

    14 Desember 2011 at 20:25

  37. Memberikan satu lagi pelajaran kehidupan yang dilematis, mengundang simpati terhadap kondisi yang tersangkal di mata orang awam seperti saya, yang awalnya memandang sebelah mata terhadap teman2 yang masuk dalam dunia seperti hal dimaksud….

    Summerson Giawa

    14 Desember 2011 at 23:09

  38. Bagus..Selamat.

    t4070ba

    15 Desember 2011 at 12:17

  39. Sebuah Karya yang patut diacungi jempol….hebat ….ditunggu karya-karya berikutnya Mba….

    Sophia S

    15 Desember 2011 at 16:07

  40. Kok menurut saya biasa aja ya… Gak terlalu bagus malahan. Rasanya datar2 aja. Tidak menyuguhkan sesuatu yg baru dan istimewa. Maaf ya kalo berbeda dg komentar2 diatas. Ini hanya pendapat pribadi saya sebagai penikmat cerpen.

    A.M. Mufid

    15 Desember 2011 at 16:10

  41. like this, bahasanya mengalir dan kita bisa melihat, meskipun orang udah masuk dalam lembah nista, sisi baik manusia itu tetap ada…

    Zahra Azfa

    16 Desember 2011 at 08:18

    • Cerpen ini kurangnya pilih nama aja, udah jarang cewek pakai nama Limbuk (grupnya Bagong-Petruk itu!) Tapi jelas sebagai cerpen yang real ini lebih layak diterima daripada cerpen2 kompas sebelumnya. Terutama kaum muda yang udah enggan sama cerpen bermajas banyak tapi nggak jelas maksudnya..Smoga Kompas bisa muat lebih dari 2 cerpen dalam 1 minggu, jadi para penulis, nggak merasa patah semangat kalau kirim ke kompas nunggunya berbulan2 dan akhirnya kabar buruk yang diterima.. Apa kekurangan pegawai redaksinya? Atau tutup saja kesempatan buat penulis freelance, jadi pegawai kompas nggak repot baca cerpen orang.. Cukup karya orang dalam doang..

      andreas Jacob

      16 Desember 2011 at 09:57

    • mas andreas, hanya ingin menginformasikan, Limbuk tidak masuk dalam grup Punakawan (Bagong-Petruk itu!) tapi pemunculannya selalu hanya bersama ibunya, Mbok Cangik. nuwun…

      nur ratri

      1 Januari 2012 at 10:53

  42. asli keren abis!

    windi

    16 Desember 2011 at 16:07

  43. bagus

    dadan

    16 Desember 2011 at 22:04

  44. emh….. mungkin diri ini tak sekuat limbuk…..
    setegar baja meski sudah tak seputih kanvas

    cika

    17 Desember 2011 at 01:50

  45. syair nya bikin hati ku meringis….

    jajang

    17 Desember 2011 at 06:40

  46. keren……
    setting tempatnya memang agak kasar, namun ada pesan yang luar biasa dalam cerpen ini…..
    saluutttt

    mirco ocoler

    17 Desember 2011 at 16:09

  47. wew,
    rasanya pengen cepet cepet tau endingnya, tapi gak tega untuk meninggalakan satu jalinan hurufpun….

    mridwanpurnomo

    17 Desember 2011 at 17:55

  48. pertarungan nurani dan naluri. enak dibaca. apik😀

    anak wayang

    17 Desember 2011 at 18:22

  49. Saya belajar banyak dari cara bertutur di cerpen ini, begitu pula dengan pengembangan karakter dan alurnya yang bisa juga rupanya cerpen memiliki alur yang kupikir cukup kompleks.

    Cerpen ini kupikir memang sebuah karya sastra yang manis dan bermanfaat.

    Selamat mbak Tantri Pranash🙂

    ariosasongko

    18 Desember 2011 at 00:37

  50. cerpen yg lumayan.tp kisah itu sdah menjadi bayangan panjang dibenak masyarakat kita, mnurut sy da yg kurang dalam menitikkan alur cerita. konflik sduh pas, lbih bagus lg apabla bercerita tentang knp warung itu ada. itu lbih nyahsyat jk dsuguhkan…

    subaweh

    18 Desember 2011 at 07:20

  51. asliiii,.,.,., mantabbb.,.,.,

    rudi

    19 Desember 2011 at 18:01

  52. mantap, ceritanya bagus..

    Khaerul Imam

    20 Desember 2011 at 19:52

  53. Reblogged this on ahmadichemistry and commented:
    keren keren

    ahmadichemistry

    20 Desember 2011 at 21:41

  54. sangat mnyentuh, kita dapat merasakan suasana yg diceritakan

    DAHLIA

    21 Desember 2011 at 16:10

  55. Biasa saja tuh, klise….

    Puska Tanjung

    21 Desember 2011 at 20:43

  56. Tema yang diangkat cukup tak asing, gaya bahasa sederhana dan sopan walau kadang gampang ditebak maksud kalimat-kalimatnya. Pesan moralnya bagus sekali.

    Adek

    22 Desember 2011 at 03:26

  57. Cerpen ini KENA DI HATI.

    pak pus

    22 Desember 2011 at 12:10

  58. Cukup Menghibur…..Terima kasih

    andri

    22 Desember 2011 at 14:22

  59. wah ni yg namanya kontemporer.
    tp ttp bisa diresapi maknanya.
    buat penulis salut berat

    andinepot

    22 Desember 2011 at 15:54

  60. cerpen yang ditulis mudah-mudahan dapat menggugah para pembaca pada umumnya dan orang-orang mampu pada khususnya untuk lebih menghargai, mencintai, serta menyantuni orang-orang yang kehidupannya kurang beruntung. karena jika dilihat realita kehidupan yang terdapat di negara kita ini (Indonesia), masih banyak masyarakat miskin yang hidupnya masih kurang dihargai oleh orang lain.

    sehingga gambaran peristiwa yang digambarkan didalam cerpen ini, sekali lagi diharapkan dapat membuka mata hati kita semua agar lebih peduli kepada mereka.

    semoga datangnya hari ibu ini bisa menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, khususnya masyarakat Indonesia yang kita cintai.

    dan yang paling penting penulisan cerpen ini jika dilihat dari semua unsur pembuatan sebuah karya sastra yaitu, unsur instrinsik dan unsur ekstrinsiknya sudah dapat terjalin dengan baik sehingga cerpen ini sudah cukup baik.

    sardi

    22 Desember 2011 at 17:52

  61. Bagus!!

    ida silvia

    25 Desember 2011 at 04:08

  62. sungguh miris yah kalau cerita ini dari kisah nya. kalau diprosensatasikan berapa yang akhir ceritanya seperti Mami dan berapa yang akhir cerita seperti Limbuk? tapi walau sedikit tetap ada yang akhir ceritanya seperti Limbuk. semoga….

    metro1965

    26 Desember 2011 at 00:34

  63. Cerpen yang menarik untuk dibaca

    Thatikx zekzi

    29 Desember 2011 at 22:38

  64. saya sangat menyukai dengan kata katanya

    kompas

    30 Desember 2011 at 01:21

  65. yah ini cerpen yang bagus n menarik mbak tantri, jadi pengen belajar sama mbak. cerpen ini memberi pelajaran kita untuk jangan terperosok kedua kalinya ya sekali lagi bagus

    mochamad fathoni

    30 Desember 2011 at 21:51

  66. ya ini cerpen yg bagus n menarik dibaca dan memberikan pelajaran terpenting bagi kita hati-hati dan janganlah terperosok dalam lubang untuk kedua kali. habis baca cerpen ini malah pengen belajar menciptakan inspirasi tulisan dari mbak tantri ni

    mochamad fathoni

    30 Desember 2011 at 21:56

  67. terima kasih…

    nur ratri

    1 Januari 2012 at 10:53

  68. tulisan yang bagus……. membongkar kesadaran
    ada pesan untuk kita semua bahwa “limbuk-limbuk nyata” masih sering diperlakukan sebagaimana “limbuk cerpen”……….. sementara pemerkosa tidak dihukum seperti limbuk

    chairul umam

    1 Januari 2012 at 12:36

  69. kisah yg bagus kental dng pesan “moral”, perempuan seperti “LIMBUK” patut dijadikan renungan, meskipun hidupnya susah tp tetap menjaga kesuciannya walaupun dia sdh tdk lg virgin. salut buat penulis

    henry Rusdijanto

    1 Januari 2012 at 19:40

  70. Cerpen yang sangat bagus, menarik. Berhasil menyentuh emosi pembaca. Selamat.

    Rachmat Hendayana

    2 Januari 2012 at 08:23

  71. bagus ,…. sederhana , jujur dan ending juga lumayan,…

    abd k abd

    3 Januari 2012 at 10:34

  72. @pembaca semua : Terimakasih untuk kritik dan pujiannya … sangat2 berarti, semoga saya bisa terus berkarya lebih baik lagi. Terimakasih juga untuk Tukang Kliping🙂 …

    tantripranash

    4 Januari 2012 at 14:43

  73. cerpennya begitu fantastis….
    pornografi dalam sastranya sangat kenyal dan sangat baik diselipkan dalam cerita itu….
    sehingga sangatlah tidak kelihatan. tetapi cerpen ini memberikan motivasi kami awal dari penulisan cerpen.
    karena menurut saya menyelipkan pornografi dalam sastra itu sangatlah sulit, perlu pendiksian kata-kata yang tepat.

    dewi mufarikhah

    9 Januari 2012 at 09:13

  74. Assalamualaikum,,.,waaa, subhanallah, saya mendapatkan inspirasi kajian dari cerpen ini… ^_^
    mas tukang kliping… haturnuhun.

    Najmi

    10 Januari 2012 at 10:46

  75. ijin shar..

    joe

    14 Januari 2012 at 15:07

  76. lumayan bagus…..

    oduy

    19 Januari 2012 at 13:59

  77. Awalnya saya kaget mendengar nama daerah Patokbeusi, seperti nama daerah di kota saya, yaitu patokbesi yang juga berkonotasi sama dengan patokbeusi versi penulis. Saya kira penulis ada di Lubuklinggau juga, ternyata bukan.
    Cerita berjenis saperti ini: wanita desa berangkat ke kota untuk atau hampir jadi pelacur, sangat sering diangkat, mungkin karena ironis. Ketidakmampuan ekonomi yang mengusik nurani. Namun, cerita seperti sudah menjemukan untuk dibaca, mungkin perlu kreatifitas lebih untuk membuatnya berbeda. Jika dilihat pentuturannya, saya cukup senang membaca gaya anda.

    berrybudiman

    14 Februari 2012 at 09:07

  78. andai byk yang berfikiran macam limbuk,

    ray

    14 Februari 2012 at 12:35

  79. suka… saya pembaca pemula… belajar menulis sedikit-sedikit… boleh izin copy untuk referensi?:)

    Jung Yunra

    11 Maret 2012 at 16:02

  80. Reblogged this on Marry Berwisata Cerpen and commented:
    Reblog dari sini:

    Lynglyng Linglung

    16 Maret 2012 at 20:29

  81. etdah buset -_-”
    yang comment orang terpelajar semua.. salut deh buat yang diatas-atas ^ berbobot banget comment-nya🙂

    Meeii Suraanii

    30 April 2012 at 11:13

  82. jadi ngiri…:) sederhana, tapi berkesan. hebat.

    ikah atikah

    3 Mei 2012 at 10:36

  83. maaf gan, jika boleh saya akan membawa naskah cerpen ini untuk pementasan teater di kota saya. nuwun…

    Dadang

    15 September 2012 at 16:39

  84. wah….!! meski awalnya prihatin tapi endingnya gak mengecewakan…

    damaikă

    2 Desember 2013 at 14:07

  85. Sudah nasib kampungku .. Sukamandi, sebelah Patokbeusi, menjadi sentra pantura di bidang industri prostitusi. Ya … mau ngomong apa lagi, aku teringat Novelnya Wasrifin dan Satinah-nya Kuntowijoyo … Lumayan menarik. Dugaan tak meleset, saat baca judul ada kata “pantura” tak jauh dari itu.

    Aa Uu

    26 Desember 2014 at 17:23


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: