Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sehelai Kain Kafan

with 38 comments


1/
Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Berlenggak. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri, melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya.

”Tukang bendring datang….”

Begitulah dulu. Kami. Anak-anak saat melihatnya dari jauh. Serentak kami meninggalkan permainan. Menyambutnya dengan gegap gempita sambil berharap ia akan menoleh. Kadang kala, kami membuntuti dari belakang, membayangkan sebuah baju baru. Tak jarang, ketika berpapasan, di antara kami berdesakan membisikinya, agar ia mau membujuk ibu untuk membeli baju dagangannya. Seperti biasa, ia hanya mengangguk disertai sungging senyum penuh harap. Ketika itulah, kami langsung menggiringnya masuk ke halaman rumah. Meski sebenarnya, sering ibu kami menyambutnya dengan wajah cemberut. Tak terkecuali ibuku, yang selalu takut. Bahkan, untuk menyambut.

Tukang bendring itu mendatangi kampung kami ketika pagi menjelang siang, saat bapak-bapak kami sedang berada di tegalan. Dan ia, bagi kami serupa seorang istimewa, yang selalu kami tunggu kehadirannya. Tetapi, sekali lagi, tidak bagi ibuku.

Ya. Bagi ibuku, ia tak lebih dari sesosok hantu, yang selalu membuat ibuku ketakutan setiap mendengar suara sumbangnya melengking parau dari balik pintu. Entah, setiap kali ia datang, senantiasa menjadi ancaman bagi ibuku. Barangkali, karena utang ibu belum lunas hingga membuat ibu waswas. Atau ibu khawatir keinginan untuk berutang baju baru lagi tak terkendali.

Untuk menghindari kedatangan, dan teriakannya yang sumbang itu. Banyak cara ibu lakukan. Kadang, ibu segera mengunci pintu halaman dari luar hingga ia mengira, ibu sedang bepergian. Kadang, ibu segera mengemasi baju-baju basah dari atas jemuran, serta sandal hingga suasana rumah terkesan sudah lama ditinggal bepergian oleh penghuninya. Kadang juga, ibu menandai bayangan tubuhnya saat berjalan menuju rumah kami. Biasanya, bentuk bayangannya lebih panjang. Dan yang khas, kalau bayangan itu adalah bayangan tukang bendring, adalah dari bentuk bayangan kepalanya yang lebih panjang dan lebar.

Semua itu ibu lakukan karena semata-mata ibu malu lantaran tak bisa menepati janji untuk membayar utang. Pernah juga, pada suatu ketika, saat tiba pada waktu tagihan, dan ibu tak ada cara lain untuk menghindarinya ke rumah. Pagi-pagi, ketika dari jauh terdengar lengking anak-anak meneriaki tukang bendring, tanpa ragu-ragu ibu keluar, dan aku mengira, ibu mau menghindar, namun ternyata tidak. Di depan pintu ibu berdiri dengan gelisah.

”Ibu mau ke mana?” tanyaku.

”Menunggu tukang bendring,” jawabnya tegas.

”Ibu punya uang?”

”Tidak.”

Aneh, bisikku. Bukannya selama ini ibu selalu menghindar? Dan ketika perempuan tukang bendring itu sampai di pertigaan jalan kampung, wajah ibu tiba-tiba pias dan tampak murung. Mungkin ia segera bergegas pulang. Tetapi tidak, ibu tetap berdiri di situ, dan ketika perempuan tukang bendring itu mulai mendekat, persis di pertigaan, perempuan itu berbelok ke arah kiri, seketika ibu merasa lega, sontak mengajakku masuk.

Namun tak lama berselang, tiba-tiba dari luar halaman terdengar suara sumbang seseorang. Pada mulanya suara itu samar-samar, tetapi setelah beberapa saat suara itu kian lantang. Dengan muka pucat dan gemetar, ibu mengintip dari sela lubang pintu. Di luar, tampak seseorang mondar-mandir.

”Ju, utangmu!”

”Sialan,” umpat ibu.

Selarik cahaya tipis menyelinap masuk lewat celah-celah jendela.

”Kenapa, Bu?”

”Baju lebaranmu belum lunas.”

”Ju, buka pintu,” teriaknya lagi.

Ketika ia sudah berteriak-teriak, biasanya ibu tak bisa mengelak. Khawatir kalau-kalau para tetangga lainnya keluar, lalu mendatangi rumah kami, dan mencibir. Untuk menghindari semua itu, dengan malu-malu ibu terpaksa membukakan pintu. Dan ia, dengan galak, membentak. Melampiaskan kekecewaannya, yang barangkali sudah memuncak. Sementara ibu, hanya mengangguk.

2/

Dan kini, sebagaimana dulu, tukang bendring itu terus bergegas, menapaki jalan setapak. Kemudian masuk ke sebuah gang sebelum akhirnya dengan ragu memasuki pekarangan rumah seseorang. Sekilas sungging senyum terkembang.

Di halaman, orang-orang berkerumun. Mungkin sedang bergunjing. Sementara di tempat yang lain, di beranda, beberapa perempuan duduk memanjang saling menisik rambut. Dan ia? Perempuan dengan bundelan sarung di kepalanya tanpa ragu-ragu segera masuk.

”Baju baru…,” teriaknya, menawarkan barang dagangannya. Sontak perempuan-perempuan itu menyambutnya.

”Harga?”

”Dijamin.”

Mata perempuan yang berkerumun terbelalak saat melihat aneka ragam baju baru tergelar di depannya. Menggoda mata untuk segera memiliki. Tak penting, alasan tak ada uang. Toh, perempuan yang kini menyajikan baju-baju baru itu dengan gayanya yang khas memberi mereka kelonggaran, bayaran bisa dicicil seminggu sekali. Meski tak pasti.

”Murah.” Intonasi suaranya ditekan. Adalah Lastri, salah satu di antara para perempuan itu, segera mengambil satu baju berwarna hijau. Sebelumnya, Lastri melirik kepada para ibu, seakan minta pendapat perihal baju yang dipegangnya hingga membuat mereka heran. Bagaimana mungkin. Bukannya diam-diam belakangan Lastri juga menjadi tukang bendring, pedagang baju keliling?

”Las, bukannya….”

”Ini, Bu. Harganya?” Lastri memotong. Barangkali Lastri cari perbandingan harga.

”Itu baju sudah ada yang pesan.” Sepasang matanya kembali menatap catatan-catatan tagihan yang belum lunas. Mengerut dan berucap sinis, Lastri belum melunasi utang-utang baju sebelumnya. Orang-orang melirik tak senang.

”Sudahlah. Sesama pedagang, berapa harga baju ini?” ketus Lastri. Perempuan itu tak menjawab. Ia tahu, Lastri memang belakangan menjadi tukang bendring, meski tidak di kampungnya sendiri. Bahkan, tak jarang ia mendapatkan laporan bahwa diam-diam Lastri tak keberatan jika ada seorang lelaki ingin membayar tubuhnya daripada baju dagangannya.

3/

”Ini hanya cerita,” bisik ibu, sambil mengintip mereka dari balik jendela. ”Lastri, dan tukang bendring yang sudah renta itu. Kamu masih ingat namanya, Nak?” tanya Ibu.

”Markoya,” jawabku.

”Ya, Markoya.”

Ia, tukang bendring itu, Markoya, namanya. Sebagaimana juga dulu, ketika kami masih asik bermain di belakang rumahnya hingga sore menjelang malam. Kami sambil menunggunya datang. Tentu, yang tak dapat kulupa sampai sekarang, sejak dua puluh dua tahun silam—aku meninggalkan kampung halaman. Sepulang dari berkeliling sebagai pedagang baju bendring, ia suka membawakan kami oleh-oleh jajanan pasar, kemudian dibagi-bagikan secara rata, sebelum akhirnya menyuruh kami pulang, agar tidak telat pergi mengaji.

”Besok lagi mainnya. Sebentar lagi petang,” begitu katanya. Ah, alangkah bijaknya perempuan itu.

***

Dan kini, bersama ibu, aku hanya mengintipnya dari balik jendela. Ia tampak tergesa-gesa. Melewati jalan setapak yang teramat terik. Sesekali ia menoleh. Barangkali kesal dengan sikap Lastri, yang sudah berjanji akan melunasi utang bendring. Atau dengan ibuku?

”Tak sembarang orang sekarang boleh mengambil barang dagangannya.”

”Termasuk Lastri?” Kusingkap jendela, perempuan tukang bendring itu sudah mulai menjauh. ”Kenapa dengan Lastri, Bu?”

”Senok.” Astaga, desisku tak percaya dengan ucapan ibu tentang Lastri. Tidak percaya di kampungku yang sekecil ini ada seorang senok, pelacur. Entah sejak kapan. Tiba-tiba tanpa ditanya ibu menambahkan.

”Sudah lama ia berpisah dengan Madrihmah. Lalu, ia menjadi tukang bendring, tapi tidak di sini.”

”Lantaran?”

”Senok!”

”Dan Markoya itu tak mau ngasih utang kepada senok?”

”Mungkin ia takut, bajunya dipakai ngelonte.”

Ya, rasanya sulit dipercaya kabar, yang baru saja kudengar dari ibuku itu. Bagaimana mungkin, dalam tempurung kampung sekecil ini hidup seorang senok, dan itu Lastri, teman sepermainanku dulu. Bukannya ia juga pedagang baju?

***

Sudah setengah hari Markoya berkeliling. Melewati jalan setapak perkampungan, yang kondisi tanahnya kelewat gersang. Lelehan keringat tak membuatnya merasa gerah, namun sebaliknya, ia umpamakan lelehan keringat itu sebagai air peneduh setelah berjam-jam berkeliling dari kampung ke kampung. Berkunjung dari rumah ke rumah.

Sebagai tukang bendring, meski kadang hasilnya tak sebanding. Tak membuatnya putus asa. Menyerah. Bertemu banyak orang jauh lebih penting, begitu ia menjawab setiap pertanyaan orang tentang pekerjaannya.

”Dagang hanya sampingan,” ujarnya sambil mengikat antara ujung kain.

Hari sudah menjelang sore. Tentu, masih banyak orang mesti ia temui. Banyak rumah mesti ia kunjungi. Ke Brudin, salah satunya, yang tempo hari memesan kain kafan. Kasihan, desisnya, sambil memelankan langkahnya. Setelah melewati perbatasan kampung. Kini, ia tiba di sebuah pekarangan rumah Lastri. Ia pun tak heran ketika di beranda tak terlihat seseorang. Bukannya ini hari sudah sore?

Maka, sebagaimana sering Markoya lakukan setiap memasuki rumah seseorang, ia berucap salam, lalu tanpa menunggu jawaban ia bergegas masuk, dan menuju langgar yang terletak di ujung barat, samping rumah utama.

Markoya duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga. Tak lama berselang, Lastri dengan tubuh hanya dibaluti sarung hingga setinggi dada. Tampak pada lekuk-lekuk tubuhnya pasir putih masih melekat, begitu saja datang menyamperi Markoya. Dan Markoya, dengan berat hati menyambutnya dengan senyum. Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh seorang pedagang.

”Baju baru?” tanyanya.

”Beberapa.” Lastri mengambil salah satu baju, bermotif batik.

”Utangmu belum lunas.” Markoya membuka buku catatan.

”Minggu depan,” ujarnya, kemudian masuk, dan tak lama berselang Lastri muncul dengan membawa secangkir kopi. ”Minum dulu.” Markoya tersenyum simpul. ”Sudah ketemu Ke Brudin?” Markoya menyeduh kopi hangat. ”Tadi Ke Brudin pesan, kalau sampean datang suruh ke sana.”

”Guru mengaji itu?” tanya Markoya.

”Ya. Beliau ingin pesan baju baru untuk dipakai hari Jumat. Kasihan, bajunya cuma satu.”

”Ke Brudin juga pesan kain kafan,” desisnya lirih.

”Dengan apa ia akan membayar?”

”Dengan doa.”

”Ngawur. Doa tak membuat orang kenyang.”

”Buktinya, Ke Brudin sampai sekarang masih segar bugar.” Seketika Markoya tercengang. Diam-diam ia membenarkan pernyataan Lastri, meski ucapan itu terasa janggal. Dalam bimbang ia terusik. Bagaimana mungkin, bisiknya.

”Kenapa?”

”Ke Brudin…,” desisnya.

”Sudah tua. Tak mungkin gitu-gituan.”

”Maksudmu, Las?”

”Ngamar,” selorohnya.

”Mulutmu.”

”Lalu?”

”Kain kafan,” suara Markoya, serak dan serasa berat.

Sore hari di halaman. Pasir-pasir berhamburan. Pelepah nyiur dan janur seperti malas berayun. Selarik cahaya senja membentuk garis tipis masuk lewat celah-celah bilik langgar tempat ia duduk bersandar pada tiangnya, yang miring. Sesekali cahaya senja bergetar samar, sesamar gerakan kedipan matanya. Dan tak lama berselang, sebuah bisikan tanpa ia jelang datang, menggiringnya pada sesosok lelaki tua renta. Ke Brudin, desisnya. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk anak-anak, mengajari mengaji, ilmu dunia dan akhirat, suara Markoya lirih. Mungkin tak lama lagi ajal juga menjemputku.

”Ah, sudah lama, saya tak membawakan anak-anak oleh-oleh. Mereka belajar mengaji kepada Ke Brudin.”

”Betul,” spontan Lastri menyahut.

”Saya harus segera ke sana,” lekas mengikat ujung kain sarungnya. Dan segera bergegas. Tapi sesaat ia kembali dan bertanya.

”Baju koko?”

”Baju koko untuk shalat,” Lastri menahan tawa.

”Ya. Saya segera ke sana. Utangmu minggu depan.” Dan Lastri. Entah, seperti mukjizat lain muncul mengusik. Selepas Markoya, tukang bendring itu menghilang di pekarangan, tiba-tiba Lastri merasakan sesuatu yang aneh, dan teringat, pernah menjanjikan Ke Bruddin kain kafan.

Yogyakarta,
Desember 2008-2011

Written by tukang kliping

4 Desember 2011 pada 07:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

38 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tx tkg kliping

    Aba

    4 Desember 2011 at 12:07

  2. Kalau bikin artikel kayak gini ini, tukang kliping nulis sendiri yang ada di koran apa sudah punya file-nya sih? Pengen tahu saja…

    Ohh, ya, aku juga agak bingung siapa pengarang dari cerpen2 yang sudah diterbitkan, karena di bawah judulnya tidak ada nama pengarangnya.

    cerpen yang ini siapa pengarangnya ya??? :S

    soe

    4 Desember 2011 at 13:41

    • pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang mau saya lontarkan…

      Hasan Group

      4 Desember 2011 at 21:16

    • jika Anda membaca cerpennya sampai akhir, besar kemungkinan nama penulis itu tak terlewat

      tukang kliping

      5 Desember 2011 at 09:35

  3. Mahwi Air Tawar Kalau tidak salah penulisnya.

    kamil

    4 Desember 2011 at 15:02

  4. “senyum, satu hal yang tak boleh dilupakan oleh seorang pedagang”🙂

    puput juni prayitno

    4 Desember 2011 at 17:05

  5. kurang ngerti ceritanya…

    baru

    4 Desember 2011 at 17:19

  6. selamat🙂

    puputjuniprayitno

    4 Desember 2011 at 17:22

  7. suka !

    Marsus Ala Utsman

    4 Desember 2011 at 20:12

  8. Mahwi Air Tawar sudah pernah nerbitin antologi cerpen kah?
    cerpennnya bagus

    Ari Mami

    4 Desember 2011 at 20:30

  9. Mahwi Air Tawar, penulis asal Jogjakarta yang selalu produktif menulis cerpen. Setidaknya pembacaanku agak terpenggal saat membaca awal paragraf sampai ke tengah (setidaknya sampai angka 3 selesai), karena pada cerita 1 dan 2, lebih fokus ke tukang bendring lantas ke masalah utang ibu, nah setelah cerita angka 3 selesai dengan menggunakan teknik potong *** cerita bergulir dan menukik tentang Brudin yang menjadi inti atau judul cerpen ini.

    Bamby Cahyadi

    4 Desember 2011 at 20:30

    • Bang, bamby; ending cerpen ini gimana sih? aku maish bingung ..

      Muhadzier Maop

      4 Desember 2011 at 20:44

  10. ngak ngerti. ada yang bisa memaparkan tafsirannya mengenai cerpen ini?

    kucing senja

    4 Desember 2011 at 20:56

  11. ini resensi menurut ane, kalo salah di koreksi ya …
    resensi : ragam kehidupan di perkampungan seperti kebanyakan (kampung), alami, diselingi kearifan lokal yang tetap terjaga dengan nilai-nilai agama dan norma2 bentukan turun temurun (adat), penuh intrik kehidupan sosial seperti biasa adanya.
    tokoh tukang bendring 1 (markoya) sebagai peran utama menghantarkan plot cerita membawa pembaca ke arah kebiasaan kampung yang dihuni peran utama (aku dan ibuku), memperlihatkan perilaku sosial masyarakat dalam hal berkomunikasi dan tata cara, sampai pada kebiasaan (hutang piutang, perilaku yang tak lepas dilakukan oleh kebanyakan orang)
    tokoh tukang bendring 2 (lastri), teman peran utama (aku), sebagai tokoh yang menghantar alur cerita kepada inti cerita (tokoh brudin).
    brudin, seorang tokoh masyarakat di bidang keagamaan.
    inti cerita : memperlihatkan perilaku manusia di dunia, dan tokoh brudin sebagai endingnya, memperlihatkan sisi lain dari kebiasaan yang dilakukan oleh tokoh bendring (berdagang) dengan kegiatan keagamaannya. antara tokoh tukang bendring 2dan brudin, telah terjadi hubungan. brudin memesan baju koko ke tukang bendring 2 (lastri) dan sehelai kain kafan, yang pada akhirnya pesanan kain kafan tersebut menyadarkan si tukang bendring 2 (lastri) tentang janji (dia terhadap brudin dan terutama yang maha kuasa), tempat kembalinya para manusia nantinya, yang berbekal kain kafan pada akhirnya.

    monggo … cross check .. sekedar penilaian sendiri dari sang penulis …

    ayahchiqa

    4 Desember 2011 at 21:50

    • resensinya sudah benar semua, jadi memperjalas jalan cerita, yang sudah kubaca hingga 2 kali, tapi tetap saja gak jelas, sekali lagi terima kasih atas resensinya, sehingga membantu saya memahami cerpen mahdi ini, tapi tetap saja cerita yang diangkat tidak menarik sama sekali, agak aneh bisa masuk Kompas, walaupun saya tahu mahdi bukan orang kemarin sore

      yunus

      13 Februari 2012 at 08:40

  12. Sukar dipahami ceritanya, dan apa makna ceritanya. Bener kata Bamby, kurang fokus.

    Beda Saja

    4 Desember 2011 at 21:51

  13. Seperti ada yang janggal. Mungkinkah ada tautan cerita yg hilang?

    Saya jadi bertanyatanya – kalau curiga mungkin terlalu terburuburu – karena saya tak punya dasar atau kemampuan bedah forensik thd karya ini.

    Saya hanya melihat angka tahun penciptaan 2008-2011 ( mungkin dari awal tidak secara khusus untuk di kirim ke kompas).
    Pada edisi cetak, minta ampun rapat sekali jarak paragraf.

    Pada baris2 terakhir, pada kalimat : Dan Lastri. Entah…strusnya; seperti paragraf tergencet-habis halaman?

    Mesti mumet tenan sing ngedit, ya ra??

    Mungkinkah naskah asli ini lebih panjang dari yg diterbitkan? Dengan kata lain telah terjadi pengeditan/croping, mungkin oleh pengarang atau redaktur untuk disesuaikan dgn format koran ( maksimal karakter )?

    Mohon maaf kalau saya salah dan mungkin sok teu…

    pakudingklik

    5 Desember 2011 at 01:13

  14. baguuus:)

    Anie Nurwasilah

    5 Desember 2011 at 11:08

  15. Air Mami _ Ya, Mahwi Air Tawar termasuk salah satu penulis yang saya sukai dengan cerpen-cerpennya yang beraroma lokalitas. Mahwi Air Tawar menerbitkan buku Antologi 2010 lalu bertajuk “Mata Blater”.
    Setahu saya, ia berasal dari Madura (tapi sekarang tinggal d Jogjakarata, mungkin kuliah), sedaerah dgn penyair kondang: D. Zawawi Imran, Sumenep.

    Abdul Hadi

    5 Desember 2011 at 11:27

  16. Satu hal yang sangat saya sukai dari sastra, adalah bagaimana dengan bercerita, sastra juga bisa memberikan wawasan, ilmu pengetahuan, ataupun wacana untuk menjadi bahan perenungan.

    Saya pikir, cerpen ini juga telah menawarkan hal tersebut.

    ariosasongko

    6 Desember 2011 at 13:59

  17. ohh nama penulisnya yang dikaitkan paling bawah itu ya… pantes saja.. ^_^

    soe

    6 Desember 2011 at 19:52

  18. kok bingung ya..

    Kade

    7 Desember 2011 at 11:47

    • Mas Mahwi memang ceritanya aneh. Apa memang Kompas suka pada karya yang sulit dicerna cepat/ memang peluang buat cerpen realis itu nggak ada. Para pembaca yang juga seniman, berikan waktumu menerima karya picisan meski itu bukan aliran yang anda suka! Maaf ya, curhat..

      albert

      7 Desember 2011 at 14:45

  19. hooooo fokus fokus fokus (apa coba?) he8

    lily andila

    8 Desember 2011 at 07:21

  20. ceritanya cukup menarik,,,,
    anda telah mengkreasikan sebuah cerita yang baru…

    semangat. oke …!

    jamal je

    8 Desember 2011 at 11:01

  21. Selamat

    t4070ba

    8 Desember 2011 at 12:26

  22. cerpen ini seharusnya berjudul kain kafan dan markoya tukang bendring,kenapa saya berkata begitu,?.karena ibarat mobil cerpen ini punya dua sopir,dan sopirnya adalah sopir yg jelek,juga mobil yg jelek,intinya cerpen ini adalah cerpen yg jelek,tak punya makna apa apa,karena itu saya malas koment,dan kenapa..?tokoh antagonisnya bernama lastri,sedang lastri adalah nama ibuku,..hikz,.dan celakanya,..ibuku baru saja meninggal belum genap 40 hari.ini…hikz..penulis cerpen sialan,..
    {aku berharap bisa mengetik koment sangat sadis,tapi hanya ini yg ku bisa..karena itu…hueeek..cuih..aku berharap seseorang,atau setan atau apa sajalah..meludahi penulis cerpen ini di kehidupan nyatanya…}

    Abi asa

    9 Desember 2011 at 09:30

  23. Apa yg ada didunia ini tak ada yg kekal,kekayaan hanya titipan Allah pada manusia yg tanpa disadari apakah manusia bisa menjalankan amanat itu.Manusia diuji dg kekayaan dg kemiskinan dg paras wajah bahkan keturunannya

    dea airini

    10 Desember 2011 at 19:23

  24. td nya gx ngerti ending cerpen ini,,tp pas baca resensi dari Ayahchika saya baru mudenk pesan moral dibalik kain kafan itu..*lemoud.saya*
    untuk Albert bukan kompas yg ribet,,tp memang yg namanya cerpen sastra seperti ini butuh pemahaman khusus untuk mengerti keseluruhan ceritanya
    *-^

    rosondang

    12 Desember 2011 at 10:10

  25. tidak mengerti

    Nanda

    17 Desember 2011 at 11:21

  26. seperti melihat kehidupan yng sederhana di alam yang sederhana. seperti di belokkan waktu baca seluruh cerita ini, dari awal fokus ke ibu, di akhir fokus ke brudin walau sama sama di hantarkan oleh markoya,

    nice…

    mridwanpurnomo

    17 Desember 2011 at 18:31

  27. Aduh,,
    ko saya tidak mengerti untuk isi cerita yang satu ini, ending nya sepertinya belum tuntas…

    Khaerul Imam

    21 Desember 2011 at 12:59

  28. kayanya yang nulis cerpen ini lagi ngeplay dan inget masa kecilnya didesa. Jadinya mumet gini… Sy pikir sastra bukan berarti membikin pembacanya mengerutkan kening. Tapi membikin pembacanya menikmati keindahan sebuah bacaan seraya memahami pesan yg disampaikan penulisnya. Bukan di ruwet2kan begini. penulis yang berbakat, adalah penulis yang mampu mengombang-ambing emosi pembacanya dngn keindahan bahasa sastra tanpa harus lupa sinkronisasi cerita dan pesan moralnya. cerpen ini jelek banget, sumpah!

    Puska Tanjung

    21 Desember 2011 at 20:37

  29. pertama saya hanya bisa mengatakan selamat kepada penulis cerpen ini, karena telah dimuat. Dan yang lebih penting lagi, karena telah mau meramaikan khasanah kesusastraan di Indonesia dengan tetap produktif sekaligus memberi manfaat bagi pembaca (walau mungkin akan timbul perdebatan). Bagi teman-teman yang mengatakan cerpen ini menarik, mari berlomba untuk bisa menyaingi si Mahwi. Atau bahkan meninggalkan si Mahwi di belakang. Bagi teman-teman yang mengatakan jelek, mari mengutarakan secara kritis dengan tidak hanya mengatakan “jelek”. Dan yang lebih dalam lagi, ketika mengatakan jelek, sudahkah bisa menulis seperti itu atau bahkan melebihinya? Karena ada 2 kemungkinan orang mengatakan jelek (yang tidak beralasan). Pertama: karena ada konflik pribadi dengan penulis cerpen ini (entah karena tidak bisa menulis sebaik penulis atau masalah lain) sedangkan yang kedua, mungkin mengirim ke Kompas tidak diterima-terima.

    Sebab itu, ketika bagus, mari berlomba lebih bagus. Ketika mengatakan jelek, berilah alasan yang jelas.
    Biar diskusi kita lebih objektif menilai sesuatu.
    Terimakasih!

    Karpin

    23 Desember 2011 at 02:32

  30. yang penting dari sebuah cerpen adalah pesan apa yg ingin disampaikan, cerpen itu bebas tdk mesti patuh pada tata bhs ,urutan cerita dsbx …(isi sms aja bisa dibikin jadi cerpen)smkin sering baca cerpen kita akan terbiasa dengan gaya bercerita seperti ini, seakan tidak fokus pdhal bisa jadi kita yg pembaca yang terlalu fokus pada jalan cerita, endingx bgmn, bukan pada pesan yg ingin disampaikan.

    asria ali

    1 Januari 2012 at 20:26

  31. Cukup menarik di awalnya saja🙂

    Outbound

    7 Januari 2012 at 15:30

  32. selamat siang all friend..
    saya mau tanya no HP mas Mahwi berapa ya? soalnya saya ada hutang budi pada mas mahwi. karena saya telah di malaysia. tolong ya kawan2, nanti sms atau call saya di +60108216366. terima kasih

    vera/ anton

    5 Juni 2012 at 11:17

  33. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegass

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: