Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kimpul

with 48 comments


Awan hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat.

Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun singgah dan meminta jasanya. Biasanya, ia baru bergerak setelah hujan rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah besar. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di tempat berteduh.

Tempat berteduh yang nyaman bagi Kimpul adalah Stasiun Besar di seberang jalan raya yang jaraknya kira-kira tiga puluh meter dari tempatnya bekerja. Ke sanalah ia berlari dan berlindung selama hujan mencurah. Berlari dan berlindung seperti itu setiap hari harus dilakukannya selama musim hujan. Jika hujan tidak lagi berderai Kimpul kembali ke tempatnya semula, menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya.

Kimpul masih menunggu dan berharap. Mudah-mudahan ada orang yang singgah ke tempatnya walaupun hanya satu orang karena selama dua hari belakangan ini tidak seorang pun menyapanya dan duduk di kursi di depannya. Ia menatap toko-toko buku baru dan buku bekas yang berjejer tidak jauh di depannya, toko-toko yang menghambat pemandangan ke lapangan di belakangnya. Dulu, semua toko buku itu tidak ada dan setiap orang yang berada di Stasiun Besar, yang sedang melangkah atau berkendaraan di jalan raya atau berdiri di tempat Kimpul duduk saat itu, dengan leluasa dapat melihat lapangan di belakang toko-toko buku itu.

Di keempat sisi lapangan rumput itu terdapat parit yang membatasi lapangan dengan lahan kosong yang lebarnya lima belas meter di sekeliling lapangan. Tidak sedikit orang lalu lalang di lahan kosong ini, karena di sana banyak gerobak yang menjual makanan dan minuman. Para penumpang kereta api dari luar kota yang turun di Stasiun Besar umumnya makan dan minum di lahan kosong ini.

Pada tengah hari, para penjual obat kaki lima berteriak-teriak berkampanye di lahan kosong yang teduh di bawah kerimbunan pohon-pohon besar yang telah puluhan tahun berdiri di sana. Semua penjual obat berlomba memamerkan kehebatan mereka berorasi agar pengunjung yang melingkar di sekitar mereka mau membeli obat yang mereka jajakan. Dan, setiap orasi pastilah memuji kemujaraban obat. Begitu orasi selesai biasanya ada saja pengunjung yang langsung membeli obat mereka.

Masih erat melekat dalam ingatan Kimpul bahwa seorang penjual obat kaki lima itu berhasil meningkatkan diri menjadi bintang film. Semula ia hanya menjadi figuran dalam film ”Lewat Jam Malam” yang disutradarai Usmar Ismail. Ia kelihatan beberapa detik di layar putih, karena hanya berperan sebagai orang yang harus berjalan kaki dari sebuah pintu ke pintu lain yang jaraknya hanya tujuh meter. Tapi, setelah itu ia muncul dalam beberapa film lain sebagai pemeran utama. Hebat si Djoni, ujar Kimpul kepada dirinya sendiri.

Begitu cepatnya keadaan berubah, Kimpul membatin. Dulu, lapangan luas itu selalu digunakan untuk tempat berbagai rapat umum dan upacara peringatan hari kemerdekaan sambil mendengarkan pidato Bung Karno. Ribuan murid sekolah SMP dan SMA diwajibkan hadir di sana untuk mendengarkan pidato berapi-api Pemimpin Besar Revolusi yang gagah itu.

Di selatan lapangan rumput itu terdapat hotel megah peninggalan penjajah Belanda. Kini hotel itu tidak kelihatan lagi karena telah berganti dengan gedung milik sebuah bank dengan lapangan parkir yang luas. Di utara lapangan, di Jalan Rumah Bola, terdapat sebuah tempat pertemuan orang-orang Belanda yang setelah kemerdekaan diberi nama Balai Prajurit. Balai itu sirna sudah karena di lokasi itu telah dibangun sebuah pusat perbelanjaan yang senantiasa rampai pengunjung.

Kimpul merasa perubahan terjadi begitu cepat tanpa menyadari bahwa ia telah empat puluh tahun menjual jasanya di pinggir lapangan itu sejak berusia dua puluh lima tahun. Karena kondisi yang berubah ini, nasib Kimpul turut berubah. Kalau dulu banyak orang yang satu profesi dengan Kimpul bekerja di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, kini hanya dia dan seorang lagi yang masih menawarkan jasa di sana. Kalau dulu tanah kosong yang mengelilingi lapangan terasa teduh karena beberapa pohon rimbun berdiri kukuh di sana, kini tanah kosong itu lenyap sudah karena seluruhnya ditelan ruko-ruko yang beroperasi hingga malam hari. Cahaya matahari langsung jatuh di toko-toko buku itu, karena sebagian pohon telah ditebang.

Sekarang, lahan kosong pun semakin sempit. Di lahan kosong yang sempit itulah Kimpul dan seorang temannya membuka praktik sebagai pemotong rambut yang lazim disebut tukang pangkas. Dengan hanya bermodalkan sebuah kursi lipat, sebuah cermin yang diikatkan ke sebuah tiang, seperangkat alat pemotong rambut yang dibawanya di sebuah tas kecil yang kumuh dan sebotol air, ia siap melayani siapa saja. hingga menjelang magrib.

Awan hitam yang merangkak tidak lagi kelihatan. Hujan juga tidak jadi berkunjung. Hari kembali cerah hingga sore hari. Kimpul masih menunggu. Ternyata tidak ada orang yang ingin meminta jasanya untuk memangkas rambut. Ketika magrib memperlihatkan wajahnya, Kimpul mengambil cermin dari tiang yang dipancangnya, mencabut tiang itu, melipat kursi yang sejak pagi didudukinya, mengambil tas kumuh yang berisi alat-alat cukur dan membuang air yang tersimpan dalam botol. Setelah itu dengan mengayuh sepeda ia pulang tanpa memperoleh uang sepeser pun seperti dua hari sebelumnya.

***

Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera membuka mata dan berdiri. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri.

”Pak Kimpul, kan?” kata lelaki muda itu bertanya.

”Benar, saya Kimpul”.

”Masih kenal saya, Pak?”

Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Ia tidak berhasil. Karena itu ia menggeleng dengan sopan.

”Saya Dasuki.”

”Dasuki?” Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. Sekali lagi ia tidak berhasil.

”Tidak apa-apa, Pak, kalau tidak ingat. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. Lima tahun. Cukup lama memang.”

Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Jangan-jangan dia salah alamat. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul, tapi Kimpul yang lain. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu.

”Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. Ketika Bapak akan mencukur janggut, kumis dan cambang saya, tiba-tiba turun hujan deras. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh,” katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. Kimpul mendengarkan dengan serius.

”Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun, saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Karena saya harus segera kembali ke kantor, saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. Saya langsung pergi dengan janggut, kumis dan cambang yang belum dicukur. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.”

Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu.

”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100.000 kepada Kimpul. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu, ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya.

”Permisi, Pak Kimpul, saya harus pergi sekarang untuk rapat. Kalau sempat saya akan datang lagi,” kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi.

Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Ia pasti salah alamat, pikir Kimpul. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan, namun laki-laki tidak ditemukannya. Ia kembali ke tempatnya bekerja dengan napas tersengal-sengal. Kimpul benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan uang Rp 100.000 di tangannya itu.

Ia berpikir keras dan menggedor ingatannya. Akhirnya ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang diungkapkan laki-laki itu tidak benar dan tidak pernah terjadi. Ingatannya cukup kuat untuk mengetahui semua itu. Lalu mengapa ia memberikan Rp 100.000 sedangkan biaya pangkas lima tahun lalu cuma Rp 5.000. Kimpul bergumam, dari mana pula orang bernama Dasuki itu tahu namaku, padahal aku tidak pernah menyebutkan namaku kepada pelanggan karena memang tidak ada yang pernah bertanya.

***

”Bagaimana Das? Ketemu dengan orang yang kamu cari?”

”Tidak,” sahut Dasuki menjawab pertanyaan istrinya.

”Lalu bagaimana?”

”Aku mengelilingi lapangan itu. Hanya dua orang tukang pangkas yang aku temukan. Yang satu masih muda dan yang seorang lagi, aku rasa berusia lebih dari enam puluh tahun. Mungkin sekitar enam puluh lima tahun. Sebelum aku menghampiri orang tua itu aku bertanya dulu kepada penjaga toko buku bekas yang kumasuki sebelumnya. Dialah yang memberikan nama Kimpul itu kepadaku.”

Dasuki menunggu reaksi istrinya. Istri Dasuki menunggu kelanjutan cerita suaminya.

”Lalu aku datangi orang tua itu dan kuberikan Rp 100.000. Aku ceritakan alasan mengapa aku memberikan uang itu. Dia bengong dan mulanya tidak mau menerima uang itu. Tapi aku berikan uang itu kepadanya dengan menggenggamkannya. Setelah itu aku pergi dan berjanji akan datang lagi kalau aku masih punya waktu luang.”

”Kamu yakin bukan itu orang yang kamu cari?”

”Aku belum lupa wajah orang yang dulu memangkas rambutku. Pipinya kempot, kepalanya botak dan tubuhnya ceking. Aku melihatnya begitu aku selesai makan gado-gado yang enak di pinggir lapangan itu. Karena kasihan aku segera menghampirinya, duduk di kursi kayunya dan memintanya memotong rambutku. Padahal sebelumnya aku berniat memotong rambut di barber shop di sebelah kantorku. Hanya karena aku ingin makan gado-gado dulu makanya aku pergi ke pinggir lapangan itu, bertemu dengan orang tua itu, jatuh kasihan dan memintanya memangkas rambutku.”

Melihat Dasuki menceritakan hal itu dengan lancar istrinya tersenyum dan tidak bertanya apa pun. Dasuki yang merasa perlu memberikan penjelasan lebih lanjut.

”Orang yang kuberi Rp 100.000 itu berambut lebat, beruban dan tidak kurus. Tapi dengan memberikan uang itu aku merasa utangku telah terbayar.”

”Kamu yakin akan merasa tenang setelah membayar utang itu walaupun bukan kepada orang yang berhak menerimanya?”

Lama Dasuki menunduk dan terdiam. Kemudian ia menengadah dan menatap istrinya.

”Aku tidak tahu. Aku harapkan begitu.”

Jakarta, 20 Juni 2011

Written by tukang kliping

20 November 2011 pada 08:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

48 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salut untuk kesigapan tukang klipping.

    saya

    20 November 2011 at 09:19

  2. Suka cerpen ini. Terutama pembahasaannya yg mengalir n gampang dinikmati. Ide pokok sederhana tapi apa adanya. Terasa alami.

    Sutomo

    20 November 2011 at 09:34

  3. saya juga mau mengucapkan terima kasih pada mas tukang kliping, tak sadar tiap minggu ternyata saya menantikan cerpen kompas, baru sadar saat idul adha kompas minggu ga terbit kerasa ada yg hilang🙂 thanks ya

    shita

    20 November 2011 at 11:51

  4. time change, people change, indah dunia kalau semua masih berpikir dengan hati nurani…

    Adhi

    20 November 2011 at 12:25

  5. Suka ceritanya, nyinyir, nyindir, tapi halus banget.

    Danu Saputra (@danusaputra_)

    20 November 2011 at 16:58

  6. menarik juuga, meskipun…..

    raja putri

    20 November 2011 at 19:05

  7. awal cerita bgs.., bikin penasaran sosok seorang Kimpul yg ternyata pak Tua si Tukang cukur. tp di akhir cerita kurang asik. rada ngambang gannn…

    khamid hafandi

    20 November 2011 at 19:18

  8. aku percaya ini kisah nyata,tapi ibarat sebaskom masakan,kisah ini tidak memiliki bumbu yg gurih…huh..

    Abi asa

    20 November 2011 at 21:00

  9. nicelah..^^

    rosondang

    21 November 2011 at 00:21

  10. diskripsi tempat memang membuat cerpen lebih hidup, tapi yg ini terlalu over

    tommy n

    21 November 2011 at 05:31

  11. Aku sukaa.. Mengalir.. Thanks kompas..

    zhani

    21 November 2011 at 08:10

  12. Sederhana, tapi cukup memberikan pelajaran. Nice!🙂

    Harras Tarue

    21 November 2011 at 09:06

  13. Sederhana, tapi cukup memberikan pelajaran. Nice!

    Harras Tarue

    21 November 2011 at 09:20

  14. saya suka sekali pendiskripsian lapangan yang begitu sempurna. NAMUN saya tidak mengerti kenapa akhirnya seperti ini? Nggak jelas…!!!!
    #mungkin aku yang nggak paham sastra

    Kresna

    21 November 2011 at 10:46

  15. indah cerpen ini, meninggalkan bekas dihati

    Suri Nathalia

    21 November 2011 at 14:58

  16. bagus sekali. selesaian yg terhindar dari klise

    Darmini Yanti

    21 November 2011 at 15:48

  17. keren deh,,,,

    tamizin_

    21 November 2011 at 17:49

  18. suka sekali dengan cerpen ini, hati nurani banget…

    andhy kh

    21 November 2011 at 18:48

  19. Lumayan

    januaryrain

    21 November 2011 at 23:22

  20. enak dinikmati……

    Wongso

    22 November 2011 at 17:06

  21. Hmmmm,,mang ga enak bl msh ada utang yg blm trlunasi……..aq pasti ngembaliin uang lebihan kembalian d warung itu,,hehehe bc cerpen ini aq jd kya di ingetin..,thanks tukang kliping

    Miss aida

    22 November 2011 at 17:59

  22. Bagus juga… Awal bkin pnasarn, tpi konflikny krg seru…

    Melati

    23 November 2011 at 12:00

  23. crta’y bgus pi ending’y ko ga tntas..?

    ale F26

    23 November 2011 at 16:46

  24. cara berceritanya bagus, tapi benar ending terbuka membuat pembaca berpraduga

    Nevimaizar Maasin

    23 November 2011 at 21:44

  25. Ngalir.

    btw, itu lokasinya di Stasiun Sawah Besar bukan sieh?? Mengarahnya ke kawasan harmoni situ sieh kayaknya tapi ada dari penjelasan tokoh Dasuki sepertinya bukan yaaaa -____-
    ah, nggak kenapa juga sieh😀

    Salam

    Peri Mati

    25 November 2011 at 17:22

  26. Maaf om terlambat nimbrung. Maklum akses internet yang masih sulit. Maklum di daerah terpencil. Untuk cerpennya mantap. Cerpen kompas selalu bikin saya kelimpungan.

    Hudi

    26 November 2011 at 20:22

  27. Saya tunggu cerpen selanjutnya om. Terimakasih.

    Hudi

    26 November 2011 at 20:26

  28. bukan pada siapa atau bagaimana cerpen ini disajikan. Saya lebih salut kepada apa yang ingin disampaikan penulis. Dan komentar saya benar-benar terlepas dari asumsi pembaca lainnya.

    novaldi herman

    27 November 2011 at 12:48

  29. inspiratif…tetaplah berbuat baik…!

    boy

    27 November 2011 at 14:42

  30. Dialog-dialog akhir agak terasa menggurui. Namun secara subjektif saya suka dengan tema ini. nice job.🙂

    ariosasongkorio

    27 November 2011 at 19:41

  31. Pesan yang bagus buat bahan introspeksi, kadang kita bertindak seperti tokoh Dasuki yang mengganggap penyelesaian masalah hanya dengan materi(duit) ato kadang kayak Si Kimpul yang tidak berani dengan tegas menerima ato menolak hal yang tidak semestinya kita lakukan

    kriwulan

    27 November 2011 at 23:54

  32. SELAMAT

    t4070ba

    28 November 2011 at 11:57

  33. luar biasa… cerpen ini menurut saya merupakan sebuah perjalanan sejarah hidup indonesia yang usiannya 65 tahun= tokoh kimpul..
    ini benar2 menceritakan indoensia di usia yang 65 tahun agusutus lalu. adanya stasiun besar, adanya lapangan yang yang luas di pakai buat upacara bersama bung karno, yang kini sesak oleh kios dan toko2. adanya bangunan bersejarah yang di sulap jadi bank dan pasar swalayan.
    ORASI-ORASI pedagang obat= orasi para mereka yang menginginkan kedudukan di indonesia membuat masyarakat termakan omongan.
    Dasuki lupa utang 5 tahun.. itu menyimbolkan sebuah waktu kepemimpinan.. yang mungkin saja dulu dia punya janji-janji pada masyaralat kecil namun setelah 5 tahun menjadi pemimpin.. janji itu masih membelenggu dan mengantui pikirannya karena tidak biosa di tepati..

    keren.. di balik cerita yang tertulis tersirat cerita yang ironis

    arif

    1 Desember 2011 at 13:03

  34. suka dg ulasan anda yang mampu membaca simbolisme dalam cerpen kimpul itu.masih banyakkah orang seperti Dasuki di negeri ini?

    mas sono

    3 Desember 2011 at 08:35

  35. GREAT!

    ^_^

    3 Desember 2011 at 21:34

  36. Menghela nafas panjang suasana tragis yang tercipta dari cerita bagus

    Haidar Hafeez

    4 Desember 2011 at 12:32

  37. akhirnya rada ngambang yah.. tp tetap bagus untuk dibaca🙂

    crawlingladybug

    8 Desember 2011 at 16:23

  38. Saya awalnya penasaran dengan judul cerpen, setelah saya baca bisa di ambil kesimpulan kalau punya hutang harus dibayar! orang seperti Dasuki harus bisa kita contoh.

    heldaardamis

    12 Desember 2011 at 13:25

  39. “Kamu yakin akan merasa tenang setelah membayar utang itu walaupun bukan kepada orang yang berhak menerimanya?”

    Banyak koruptor yang merasa dosanya sudah terbayar ketika mereka banyak beramal disana-sini. Seakan-akan semua itu bisa menjadi penebus uang rakyat yang telah dia korupsi.

    A.M. Mufid

    19 Desember 2011 at 19:23

  40. Baguuuus…… Menggambarkan perubahan sosial yang semakin meminggirkan nasib si Kimpul. Siapa yg mau memberi pelatihan pd Kimpul-kimpul yang lainnya agar mereka berkesempatan merubah nasib, menyesuaikan diri dengan perubahan wajah Jakarta. Mudah-mudahan kesimpulan yg saya tarik ini benar adanya.

    Puska Tanjung

    21 Desember 2011 at 21:44

  41. bagus….

    andhar

    22 Desember 2011 at 15:17

  42. Aiiih, sederhana dan indahnya

    HeruLS

    25 Desember 2011 at 14:07

  43. penuh makna…

    asria ali

    31 Desember 2011 at 20:31

  44. Assalamualaikum.
    mas tukang kliping, saya mau tanya,, kira-kira cerpen ini bagus ga untuk di kaji secara pesikoanalisis?
    ada id, ego, dan super ego sosok kimpul yang cukup menarik..

    oh iya, boleh tau nama pengarangnya?
    saya butuh..

    makasih..
    salam.

    Najmi

    10 Januari 2012 at 10:05

  45. Saat yang lain tidak suka endingnya, buat saya di sinilah kekuatan cerpen ini. Penuh makna dan tidak semua pesan ditampilkan tersurat.

    Saya heran kenapa di awal cerpen begitu panjang tapi seolah tidak dibutuhkan untuk menyampaikan inti cerita, tidak efisien. Deskripsi yang terlalu panjang tapi tak jelas untuk apa. Mungkin ada pesan yang belum saya tangkap. Mungkin ada inti cerita lain yang tidak disadari orang pada umumnya. Mungkin juga memaksakan penyampaian simbol.

    Menarik

    kuncoro

    5 Februari 2012 at 02:39

  46. pelajaran aja yg ku tangkap. orang gak akan tenang selama msh py utang.

    wahai yg py utang atau janji segeralah lunasi. coz lu gak akan tau kapan lu mati.

    pelajaran tentang kejujuran dan kesabaran.

    ray

    14 Februari 2012 at 13:04

  47. 6/10*

    Bener utang tu kwajiban yg harus dibayar, beban dunia akherat kalo blm bayar #jd ingat utangku yg blm sempat dbayar..

    D. Enggar N

    28 Februari 2012 at 07:32

  48. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:07


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: