Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Burung Api Siti

with 57 comments


Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, ”Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan. Mereka juga melompat, berlari, melompat lagi, dan berlari lagi. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub, bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali.

Itulah pemandangan yang berulang-ulang dilihat oleh Siti dan berulang-ulang pula membuat dia kehilangan cara untuk mengungkapkan ketakjuban. Akan tetapi, hari itu, pada Oktober 1965 saat angin laut begitu asin dan amis, burung-burung bangau itu nyaris tidak melakukan gerak apa pun. Isya sudah usai menghampiri kampung di ujung tanjung itu tetapi satwa-satwa tropis ini tetap saja membisu. Siti menduga ada ratusan ular raksasa yang menelan mereka. Dan dalam benak lelaki kencur itu hewan melata yang menjijikkan itu mula-mula menyambar sayap, lalu menghajar, dan meng-kremus kepala-kepala mereka.

Karena penasaran, Siti yang dari masjid hendak bergegas ke rumah, tiba-tiba berbalik arah menuju ke tanah lapang yang dikelilingi hutan bakau tak jauh dari makam yang dikeramatkan. Dari tanah lapang itulah, ia akan bisa dengan seksama melihat segala yang terjadi pada burung-burung bangau yang berkerumun di tanah becek, di antara pohon-pohon bakau. Tentu jika memang benar ular-ular raksasa itu melahap secara sembarangan burung-burung bangau kesayangan, dengan oncor (1) yang terus menyala Siti akan mengusir binatang-binatang menyeramkan itu.

”Kalian tak boleh menyakiti temantemanku,” kata Siti sambil mengacung-acungkan oncor kepada ular-ular yang ia bayangkan sangat ganas itu.

Ternyata tidak ada yang mencurigakan. Tak ada ular-ular raksasa yang berkeliaran. Tak ada satu pun bangkai bangau yang berdarah-darah. Ratusan bangau itu justru nyekukruk (2) meskipun tetap mencericitkan suara-suara kacau yang memekakkan.

”Mengapa kalian tak menari?”

Tak ada jawaban. Siti sama sekali tidak tahu sesungguhnya alam punya cara merahasiakan segala peristiwa buruk kepada anak-anak. Bangau-bangau dan pohon-pohon bakau itu malam itu seakan-akan menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh mata lemah Siti. Saking rapat mereka menyembunyikan segala hal yang terjadi di balik gerumbul bakau dan benteng bangau, Siti hanya melihat semacam dinding tebal hitam memisahkan tanah lapang dari ujung tanjung. Akibat air menyurut ujung tanjung itu berubah menjadi alun-alun penuh pasir, selongsong siput, dan aneka kerang.

”Ayolah, mengapa kalian tidak menari?” teriak Siti sekali lagi.

Tetap tak ada jawaban. Tetap hanya angin amis yang menampar-nampar tubuh Siti yang terlalu rapuh untuk berhadapan dengan amuk malam.

***

Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau, sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. Para pembantai itu meneriakkan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang, sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukkan bayonet ke lambung.

”Kami harus membunuh mereka karena sebelumnya mereka akan membunuh kami,” kata seorang serdadu.

”Kami harus membantai orang-orang yang menistakan agama ini karena mereka telah membunuh para jenderal terlebih dulu,” kata seorang pemuda berjubah serbaputih.

Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja mata Siti tidak dibutakan oleh ratusan bangau yang membentuk semacam dinding pembatas, sesungguhnya ada puluhan perempuan dan laki-laki dewasa, serta anak-anak kecil dari kampung sebelah mengarak sebelas makhluk malang dibelit tali ke ujung tanjung. Para makhluk yang dianggap manusia paling laknat dan bersekutu dengan setan itu, dipaksa untuk menggali kubur bagi dirinya sendiri di tanah lapang berpasir. Setelah semuanya selesai orang-orang yang merasa paling suci menusukkan bayonet dan mengayunkan parang sesuka hati ke leher atau ke punggung ringkih.

”Jangan menganggap kami kejam….Jika sekarang mereka tak mati, pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami,” desis seorang perempuan nyaris tak terdengar oleh orang lain.

Ia berbicara untuk dirinya sendiri.

”Ini tugas negara. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni,” desis seorang serdadu nyaris tak terdengar oleh serdadu lain.

Ia berbicara untuk dirinya sendiri.

Apa yang juga tak didengar dan dilihat oleh Siti? Tangis bangau dan jerit pohon bakau. Mereka gigrik menyaksikan segala peristiwa yang terjadi saat itu karena Allah tidak menyembunyikan sorak-sorai dan tarian suka cita para pembantai setelah makhluk bantaian terbunuh kepada mereka.

Lalu makin malam laut kian pasang. Para pembantai telah kembali ke rumah. Sorak-sorai menghilang. Tanah lapang di ujung tanjung telah tenggelam. Pasir yang semula digenangi darah dengan cepat terhapus. Segalanya sunyi diam. Segalanya dilupakan oleh para pembantai dan saksi mata pembunuhan kejam itu.

***

Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. Para pembantai —yang dari bisik-bisik di kampung sebelah telah dirasuki arwah para jenderal yang dibunuh di kota yang jauh—sepanjang siang sepanjang malam mencari siapa pun yang dianggap sebagai para pemuja iblis, yakni iblis-iblis yang senantiasa mengibar-ngibarkan bendera palu arit dan menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi saat menghajar para jenderal dan para pemeluk teguh.

Azwar, ayah Siti, hanya karena tidak pernah mau bergabung dengan para serdadu dan orang-orang yang mengaku paling suci, kali ini tak terhindarkan harus menjadi makhluk buruan paling dibenci.

Puluhan orang dari kampung sebelah–tentu bersama para serdadu dan lelaki beringas berjubah serbaputih—menyerbu kampung di ujung tanjung setelah Isya yang sangat tenang itu. Mereka mengasah amarah sambil menjulur-julurkan lidah, mengacung-acungkan parang, dan meneriakkan kebesaran Allah berulang-ulang agar segala tindakan tersucikan dari kesalahan.

Untuk membantai Azwar, kau tahu, seharusnya cukup seorang serdadu menusukkan bayonet ke lambung. Tetapi mengutus serdadu yang ringih tidaklah mungkin. Warga kampung di ujung tanjung sangat mencintai Azwar. Membunuh lelaki kencana yang senantiasa menjadi suluh kampung dalam segala tindakan akan membuat warga kalap. Karena itu agar bisa meredam kemarahan para pemuja Azwar, tidak ada cara lain puluhan pembantai harus disiagakan.

”Bunuh, Azwar! Selamatkan warga kampung dari iblis laknat ini!”

”Bunuh, pembela para pembenci Allah ini!”

”Bunuh dia!”

”Bunuh dia!”

Siti yang saat itu sedang mengaji dan mempercakapkan dengan Azwar tentang perbedaan burung-burung bangau di tanjung dari burung-burung ababil yang menghajar tentara gajah, terperanjat mendengar teriakan-teriakan itu.

Setelah ia bertanya, ”Apakah para bangau bisa menjadi burung api?” dan dijawab Azwar, ”Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan.” Siti lalu mengintip dari lubang jendela dan mendapatkan puluhan orang mengacung-acungkan parang dan mengacungkan bayonet. Ia juga melihat puluhan warga kampung dengan gagang pendayung sampan mencoba menghalau para pembantai.

Lalu teriakan pun berbalas teriakan. Acungan parang dan bayonet pun berbalas acungan gagang pendayung. Pertumpahan darah akan segera terjadi jika tak seorang pun berusaha mencegah pertempuran pada malam yang hanya disinari oleh separo bulan itu.

Pada situasi yang semacam itu, di luar dugaan Siti, Azwar membuka pintu dan dengan langkah yang sangat tenang menyibak kerumunan. Warga kampung menghalang-halangi, tetapi Azwar tetap berusaha membelah kerumunan dan bergegas menghadapi para pembantai yang berteriak-teriak tak keruan.

”Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku hidup kalian lepas dari iblis paling laknat,” Azwar berteriak membelah malam.

Tak ada jawaban. Sebuah parang mengayun di punggung Azwar.

”Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku kalian akan jadi manusia-manusia paling suci!”

Tak ada jawaban. Sebuah bayonet ditusukkan ke lambung Azwar.

Tentu saja warga kampung di ujung tanjung tak bisa membiarkan Azwar dibantai di depan mata mereka. Karena itu sebelum leher Azwar dipancung, sebelum tubuh Azwar diseret dan dibuang ke laut, warga kampung melakukan perlawanan.

Lalu parang-parang dan bayonet pun beradu dengan gagang pendayung. Beberapa orang tertebas parang, beberapa orang tertusuk bayonet, beberapa orang terhantam gagang pendayung sampan.

Di mana Siti? Siti tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Pada saat sama burung-burung bangau yang menghuni hutan bakau di kampung itu terbang bersama-sama dan mengepung orang-orang yang sedang bertikai. Tak ada celah sekecil apa pun yang memungkinkan Siti melihat darah yang mengucur dari lambung atau bacokan parang di punggung. Bangau-bangau tetap tak menginginkan kekejaman dan kekerasan diendus oleh anak-anak sekencur Siti.

Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. Teriakan-teriakan para pembantai kian keras. Teriakan-teriakan yang dibantai juga tak kalah keras. Darah mengucur. Tanah berpasir di tanjung pun memerah hingga ke ujung, hingga ke relung-relung cangkang siput dan kerang murung.

Tak ada cara lain untuk menghentikan pertempuran sia-sia itu, kecuali burung-burung bangau di ujung tanjung itu harus mengulang peristiwa bertahun-tahun lalu yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Atas izin Allah, bangau-bangau yang riuh mencericitkan semacam zikir itu lalu meliuk-liuk ke arah pembantai dan setiap liuknya menebarkan api. Bangau-bangau itu sebagaimana burung ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh para pembantai. Batu-batu api itu bergesek dengan udara, menembus dada para pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar. Dan karena para pembantai itu berlarian tak keruan–dan alhamdulillah Allah mengizinkan dan tak berhasrat membunuhnya—dari kejauhan tampak seperti panah-panah api yang melesat menembus kegelapan malam.

Saat itulah Siti melihat segala peristiwa yang mengerikan itu. Melihat tubuh para pembunuh menyala, Siti bertanya, ”Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

Tak ada jawaban. Siti hanya melihat Azwar tertatih-tatih—dengan luka di lambung dan leher yang terus mengucurkan darah—berjalan ke arah masjid dan sisa-sisa kilatan api para bangau yang terus riuh mencericitkan semacam zikir menggores langit Oktober yang perih. Siti hanya tahu kampung pada akhirnya jadi sunyi kembali seperti tak pernah terjadi kekejaman agung yang tak tepermanai.

Siti hanya…

Semarang, 7 Agustus 2011

Written by tukang kliping

30 Oktober 2011 pada 14:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

57 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lanjutannya mana ?

    Maya Herlyana

    30 Oktober 2011 at 14:46

  2. Saya sangat suka dengan cerpen ini……

    Wongso

    30 Oktober 2011 at 15:29

  3. Hampir saja berkata kalau cerpen ini ‘biasa’ kalau saja tak membaca ending yang memesona itu….
    Sipz…!!! Selamat mas Triyanto Triwikromo!

    Ikal Hidayat

    30 Oktober 2011 at 20:59

  4. Seruu… keren… suatu kisah pembantaian bagian dari sejarah perebutan kekuasaan di negeri ini, dirakit dgn sastra.

    M.Danial B

    30 Oktober 2011 at 21:16

  5. meledak!

    maulaalie

    30 Oktober 2011 at 21:26

  6. Siti? Nama untuk tokoh anak laki-laki bau kencur berusia 10 tahun? Bagian yang membuatku tak nyaman.

    welli

    31 Oktober 2011 at 00:05

    • siti artinya tanah dalam bahasa jawa, tidak terkait dengan gender, pernah dengar syekh siti jenar?

      tukang kliping

      31 Oktober 2011 at 08:52

    • Siti bahasa Jawa? Saya orang Indonesia Timur yang tinggal di Jakarta, jadi tidak mengerti dengan bahasa Jawa itu. Trims, Tukang Kliping.

      welli

      1 November 2011 at 20:25

  7. keren lah,

    setia...

    31 Oktober 2011 at 00:35

  8. “jika sekarang mereka tidak mati, pada masa depan mereka akan membunuh seluruh keturunan kami”,..
    demi masa,dan seluruh kejadian tragis di semua belahan dunia,betapa prasangka telah mengungkung alam pikir manusia,seakan mereka tuhan yg mengetahui segala galanya,..
    efek dahsyatnya terjadi ketika titik titik kecil prasangka terkumpul menjadi satu,untuk kemudian isi kepala politikus busuk memanfaatkannya,,
    Meski memang kehidupan ini di penuhi banyak kepentingan,walau secara nalar kita tahu bahwa semua agama,kepentingannya hanya satu yaitu kebaikan manusia seluruhnya,..tapi memang ada semacam wujud kehendak yg kadang sangat kuat mengendalikan kita orang.
    bicara tentang kepentingan..hehe…

    Sssttt…saya orang biasa yg ingin berkata dengan bangga, saya juga bisa..hihihi…asiek.

    Abi asa

    31 Oktober 2011 at 05:45

  9. Manis laksana madu🙂

    Aiman Bagea

    31 Oktober 2011 at 07:05

  10. wow!!!keren,,,mengharukan

    rara

    31 Oktober 2011 at 08:16

  11. Dewasa ini banyak cerpen yang mengangkat tema pembalasan kelompok yang anti PKI terhadap kelompok
    yang dianggap PKI dengan kejam dan tragis. Cerpen-cerpen itu sungguh menyentuh perasaan kemanusiaan kita dan indah secara sastrawi. Ya, itulah kenyataan sejarah. Tidak ada yang membantahnya.
    Namun perlu diingat, tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri, selalu ada sebab-akibatnya. Di zaman PKI berkuasa, sebelum tahun 1966 ,apa yang terjadi? Mengapa tidak ada cerpen terbaru yang mau mengangkatnya? Kurang trendikah? Takut redaktur tidak meloloskannya?
    Bagaimanapun kita ( termasuk para sastrawan) harus “jujur” dengan sejarah!

    herin

    31 Oktober 2011 at 09:10

  12. Jadi ingat suatu argumen seorang teman mengenai ego. Bahwa setiap manusia memiliki ego masing-masing dan gimana kita mengendalikannya. Tampknya cerpen ini adalah perwujudan ego masa lampau di Indonesia

    Noke

    31 Oktober 2011 at 10:16

  13. Bagi saya cerpen ini terlihat tendensius menjelekkan satu kelompok si pembantai ( yang digambarkan dgn meneriakkan kata2 Allah )…seharusnya tidaklah seperti itu,terlalu vulgar dan tidak ada kiasan dlm penyampaiannya…meskipun si penulis berbuat suatu manuver agar kelompok dgn tuhan mereka Allah tidak marah dengan cara menyebutkan bahwa kaum yg dibantai juga sedang mangaji ttg Allah…bukanlah kaum pemuja setan seperti yg diduga oleh kaum pembantai…bagi saya harusnya supaya berimbanh si penulis harusnya menjabarkan lebih jelas n komprewhensif knp si pembantai melakukan itu semua…tidak ada reaksi tanpa aksi sebelumnya…coba bayangkan jika si penulis bukanlah dr kelompok dr kaum yg dibantai tp dr kaum yg membantai…maka menurut saya alur ceritanya akan lain….sebuah klise ketika ada cerpen seperti ini adalah perbedaan sudut pandang dr sipenulis…cuma bagi saya ini sastra yg vulgar sekali n dapat menyinggung perasaan dr kelompok yg membantai…

    robay

    31 Oktober 2011 at 11:23

    • setuju pak robay, kok kayak mojokkin satu pihak gitu ya

      adib

      1 November 2011 at 16:26

    • Iya mas adib….cerpen ini terlalu vulgar buat saya…baru pertama ini saya baca cerpen seperti ini….terlalu berani bg sya baik si penulis dan redaktur kompas…dr cerpen2 yg dimuat di situs ini…hanya ini yg berbau SARA…ini kan negara demokrasi yg tdk boleh menyinggung SARA….saya tidak habis pikir mas adib…???

      robay

      2 November 2011 at 21:04

    • g usah tersinggung SARA , toh realitanya smpe skarang jg bgtu kn.😀

      kunto

      6 November 2011 at 20:00

    • @kunto:jangan terlalu pragmatis…jika tidak ada standar kemana mau bersandar…apakah mau seperti kapas yg mudah terombang ambing…

      robay

      7 November 2011 at 16:41

    • baguslah kalau tersinggung. berarti ada gunanya cerpen ini.

      pak shodiq

      16 November 2011 at 16:42

    • @pak shodiq: berguna adalah tak berguna…isi adalah kosong

      robay

      20 November 2011 at 07:36

  14. biasa

    RU. Mazpakem

    31 Oktober 2011 at 12:03

    • Mas Robay tersinggung karena cerpen ini? Memang anda manusia zaman 1965an ya? Saya aja tahu kalau kaum pembantai memang a/n agama dan yang dibantai orang yang bukan a/n agama dan ada juga yang beragama dibunuh karena tercatat sebagai anggota PKI dan harus dibasmi oleh karena oknum tentara yang terbelah itu (yang mau kudeta Presiden Sukarno VS yang setia kepada beliau) Tetapi biarlah ini kan pilihan redaksi, suka sama yang tragis, dari pada yang sederhana. Juga suka sama bahasa sastra yang kadang kalau terlalu aneh bagi kaum marginal sperti saya.. Ceritanya tentang bangau dengan ular yang diistilahkan orang biasa melawan manusia yang brutal dengan nafsu mau membunuh. seram kan?!

      andreas Jacob

      31 Oktober 2011 at 14:45

  15. titik2nya berlanjut gak sih?

    joni

    31 Oktober 2011 at 15:00

  16. To bapak andreas jacob…sy hanyalah penyuka cerpen…bagi saya cerpen ini hanya dilihat dr satu sudut pandang…saya hanya menuturkan dr sudut pandang yg berbeda…negara ini kan negara demokrasi…harus berimbang…jgn terlalu menghakimi suatu kelompok tanpa tahu apa penyebab sesuatu itu terjadi…spt bapak bereaksi thp komentar saya karena ada aksi dari saya menulis komentar thp cerpen diatas…semuanya pasti ada thesis dan antithesis…coba renungkan barang sebentar…

    robay

    31 Oktober 2011 at 23:46

    • kalau menurut saya tidak ada tidak ada tujuan dari penulis memojokkan salah satu pihak…coba dilihat kedua pihak sama beragama….walau tidak dijelaskan mereka bergama…kalau dari yang saya tangkap penulis mencoba mengatakan “tidak dulu tidak sekarang”di negara ini sesama saudara sesama pemeluk agama saling menjatuhkan….

      gandring

      26 Desember 2011 at 00:12

  17. untuk seukuran manusia yang lahir tahun 1995, saya memang kurang tahu peristiwa oktober 1965, bingung dengan pro kontra sejarah, tapi memang sejarah terkadang dimanipulasi ceritanya demi kepentingan beberapa pihak, toh belakangan ini semua mulai terkuak. Akhirnya semua yang ditutup-tutupi selama ini terendus juga. Suka banget cerpen ini, tapi bener juga ini sedikit memojokkan salah satu pihak, menurut saya, peristiwa tersebut terjadi karena ada penghasut dan ada kala itu keadaan membuat masyarakat bodoh, mudah diadu domba. Kalau ditanya siapa yang salah, ya yang menghasut itu, yang memprovokasi demi kepentingan pribadinya, masyarakat indonesia kala itu hanya boneka, diperalat saja

    diokta

    2 November 2011 at 00:10

  18. selalu dan selalu ada cerita baru tentang masamasa yang telah lalu, sepandai guru sejarah sekolahku menceritakan kisah ini kepadaku dan teman-teman sekolahku.

    puputjuniprayitno

    2 November 2011 at 00:19

  19. nikmati sajalah ceritanya………….

    kriwulan

    3 November 2011 at 19:27

  20. Tolong Tukang Kliping tunjukan nama siti untuk anak/orang laki-laki jawa selain siti jenar. Sebaga orang jawa saya belum pernah mendengar nama siti untuk anak/orang laki-laki apalagi bapanya bernama Azwar, sungguh terasa janggal, dan sudah sangat jelas naman siti ini berkait erat dengan jender, tidak ada orang tua yang memberi nama anknya siti yang diartikan atau dilambangkan tanah. apalagi nama itu untuk anak pantai seperti setting cerpen ini. Nama siti dalam cerpen ini tetap janggal dan a-historis

    Eko Wahyu

    5 November 2011 at 20:06

  21. kerenn banget deh pkonya

    maudy

    6 November 2011 at 16:15

  22. Mungkin nggak sih kenapa digunakan nama Siti disini adalah bukan maksud untuk bias gender. Namun simbol bahwa mereka yang menjadi korban pada peristiwa 30 september itu beberapa ada yang dikuburkan secara “mentah2” di tanah(siti).

    Tapi jujur saya nggak merasa terganggu dengan nama siti untuk lelaki. Toh juga banyak yang nama dalam tokoh cerpen tidak jelas secara gender.

    Kresna

    8 November 2011 at 09:31

  23. hanya baca sampai tengah. bosan dg kata bantai dan memojokkan salah satu pihak. saya sudah baca banyak buku, novel dan cerita langsung dari para orang tua pelaku sejarah yang saat itu tdk terlibat konflik melainkan menjadi saksi kekejaman kedua pihak. dan cerpen ini terlalu berpihak dan seperti melihat dg sebelah mata.

    rahma

    8 November 2011 at 11:11

  24. Perbedaan antara suatu sudut pandang terhadap satu pihak ke pihak yang lain…Dapat menyebabkan konflik di masa kini…

    Alone

    8 November 2011 at 16:38

  25. bangau burung tropis ya?heran,baru kali ini ada kemungkinan diserang ular besar sampai berdarah2,bawa parang kaleeee….

    jelek

    9 November 2011 at 07:35

    • Memang absurd nih cerpen

      robay

      20 November 2011 at 07:42

  26. Simbah putri berkata, ‘becak-e cukup dipancal wae, aja disunggi…’

    Sederhananya, agar tak melenceng dari hakikat becak itu sendiri.

    ia akan mengantarmu kalau kmu suka. Dan ia tak akan kemana kalau sebaliknya…

    Maka biarkan tukang becak tetap merdeka mengayuh becaknya…

    Dan simbah putri sekali lagi berpesan, ‘tansah elinga ya le…rasah nyunggi becak…’

    Namaste

    pakudingklik

    9 November 2011 at 22:01

  27. terhenyak saat membaca endingnya .

    MrMunthu

    11 November 2011 at 22:04

  28. Ok gan cerpen yang sangat menarik sekali..
    Saya tunggu cerpen berikutnya gan

    Aank budi santoso

    11 November 2011 at 23:44

  29. siip….dah….

    RONGGO LAWE ANIEF

    13 November 2011 at 05:04

  30. bagaimana jika cerpen ini dilihat dr segi literatur teori nya?

    myca

    13 November 2011 at 15:46

  31. sip

    pejalan sunyi

    16 November 2011 at 10:13

  32. Cerpenx bagus, tp z masih penasaran dngan lanjutanx,

    Sulaeha

    19 November 2011 at 07:44

  33. terlalu vulgar.

    herlambang

    23 November 2011 at 22:52

  34. maaf ya………..? kalau daya mengejek cerpennya kepanjangan

    agus hening triwasono

    24 November 2011 at 18:42

  35. bagguus baguuusss..

    chantie

    26 November 2011 at 17:58

  36. Cerpen yang tendensius. Seharusnya kompas lebih selektif.

    Hudi

    26 November 2011 at 21:15

  37. Pada awalnya, ketika sadar cerita ini mengambil setting 65, saya khawatir kalau-kalau ceritanya akan terkesan menyudutkan islam, macam FPI sialan itu. Namun, tentu pada akhirnya saya sadar bahwa penulis cerpen ini memang bukan penulis sembarangan. Bravo atas makna-makna yang disampaikan melalui berbagai adegan di cerpen ini, dan kalimat-kalimatnya sungguh membuat saya ingin terus membacanya sampai habis.

    Cerpen ini juga diakhiri dengan open ending, dan saya sama sekali tidak merasa tergurui melalui cerpen ini. Seperti Triyanto hanya ingin menyampaikan kisah, dan ita sendiri yang menyimpulkan kisah tersebut.
    🙂

    ariosasongko

    27 November 2011 at 21:35

  38. terlepas dari berbagai faktor gono-gini yg orang2 perdebatkan di atas….ini cerita yang bagus karena tata bahasa puitis yg baik. Tapi yah memang kita ini hidup di negara dengan manusia yang heterogen mungkin akan lebih bijak jika di karya selanjutnya akan lebih berhati2 dalam meramu sebuah tema, agar maksud si penulis tetap tersampaikan dan terjadinya kontraversial bisa diminimalisir.
    Orang2 yg menilai dan berpikir secara subjektif harap melihat sisi “seni” dalam cerpen ini, jangan mengedepankan rasa emosi atau rasa “ingin dipandang hebat”. Saya rasa bersikap lebih kalem dan kepala dingin akan lebih kondusif jika ingin berdiskusi tentang sisi cerpen ini. “Semakin tua semakin bijak”, itu bukan cuma pepatah kan?

    irvin

    28 November 2011 at 15:26

  39. cerpen yang cukup menarik.

  40. alur cerita yang cantik, setting sejarah yang membuka mata. Agar masyarakat bawah tidak mudah diadu domba, open minded…………..cantik……………….cantik………………..cantik

    pray

    7 Desember 2011 at 20:39

  41. Imajinatif dan erotis:

    Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan. Mereka juga melompat, berlari, melompat lagi, dan berlari lagi. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub, bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali.

    Ridho

    8 Maret 2012 at 20:18

  42. Saya tidak langsung paham konteksnya, tapi pelan-pelan…

    HeruLS

    11 Maret 2012 at 15:34

    • Terima kasih telah mengkritik dan mengomentari cerita ini. Alhamdulillah cerita ini telah terpilih menjadi salah satu Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2011.

      triyanto triwikromo

      4 Mei 2012 at 22:56

  43. Selamat buat Om Pak Tri…
    Wahhh
    Pasti suka sudah bisa bikin debat seru tentang isi cerpen yang Om Pak bikin.
    Sebuah karya dikatakan terlalu terbuka atau terlalu tertutup sekalipun semua bergantung pendapat dan sudut pandang pembaca. Penulis seperti Om Pak Tri ini juga saya rasa memang hanya ingin Bercerita…simpulan, amanat, pesan, atau dll semua terserah Anda, pembaca.

    Lelana Regawa

    7 September 2012 at 06:21

  44. sejarah telah melukis karakrter penghuni jagad ktika manusia hanya berpikir tentang kekuasaan,maka jadilah manusia sekelompok manusia palsu yg tidak bisa membedakan arti “nilai” kesucian dengan nilai kotoran anjing.
    Mereka beranggapan akan mencapai tarap kesucian dengan menggorok leher manusia lainya lantaran perbedaan ideologi..
    Iya mereka memang sudah mendapat nilai,nilai yg sama dengan kotoran anjing yg bertopengkan nama besar allah.

    aldenalib

    7 Februari 2014 at 02:37

  45. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: