Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Batas Tidur

with 45 comments


Jika hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. Benda-benda, gedung, gunung, laut, pohon, dan ternak terangkat, namun tetap terpegang erat di tempatnya. Kicau burung, suara serangga, dan desau angin, jernih dan jelas sumbernya. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu.

Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara, di hamparan yang kami sebut campuhan, terbentuk oleh pertemuan dua sungai: Tukad Telagawaja dan Tukad Tugtugan. Orang-orang memercayai, campuhan adalah lembah suci, tempat mencari keheningan dan pelepasan. Seorang guru akan membimbing kami, menyodorkan ajakan dan kepastian, ke wilayah mana kami akan tamasya.

Tak seorang pun tahu asal Sang Guru. Kami mengenalnya begitu kami mulai berkumpul di lembah Astungkara, kemudian memanggilnya Guru Tung, yang sehari-hari sibuk mengurus kebun, beristirahat di gubuk beratap alang-alang, dengan tiang-tiang dan sekat bilik dari kayu. Orang-orang kemudian menyebut tempat itu sebagai pedukuhan Astungkara.

Jika hendak tamasya, di pedukuhan itu kami berbaring terlentang menatap angkasa, memusatkan lamunan pada bintang-bintang dengan rentang sekian juta tahun cahaya. Beberapa tergolek nyaman di bawah pohon wani, jambu, mangga, atau durian. Yang lain terbaring begitu saja di atas rumput sehingga sekujur tubuh berselimut embun. Ada yang nyaman telentang dalam bilik atau di emperan pondok yang menghadap ke sungai. Jika sudah siap, Guru Tung memberi aba-aba dengan helaan napas supaya kami bersujud pada sunyi, memohon pada hening dan sepi, agar bersua dengan kosong sejati.

Dalam kosong kami bisa mendengar detik-detik terakhir kami di bumi, saat berada persis pada batas gelap dan terang, pada sekat tipis wilayah gemuruh dan sunyi. Batas-batas itu oleh Guru Tung diajarkan kepada kami sebagai peralihan antara terjaga dan tidur. ”Semua orang bisa memilih saat hendak istirahat tidur. Tapi, tak seorang tahu detik ketika ia tertidur,” ujar Guru. ”Siapa pun yang bisa meraih detik ketika tertidur, ia akan tetap terjaga, rohnya melayang bisa melihat raga sendiri. Niscaya ia bisa memilih saat melepas roh dari raga untuk mati.”

Kami pun dibimbing untuk menguasai aji batas tidur, ilmu sederhana tapi bukan main sulit mendapatkannya. Kami diminta memejamkan mata, mengintip dengan perasaan dan khayalan, saat-saat menjelang tidur, sehingga bisa menyadari detik terakhir terjaga. Tapi, yang sering terjadi justru kami terlelap tanpa tahu jam dan detik berapa kami tertidur.

Kendati kami belum menguasai ilmu batas tidur, Guru Tung selalu dengan senang hati membantu kami melepas roh dari raga, sehingga kami bisa tamasya melayang-layang seringan kapas. Raga yang kami tinggalkan di bawah pohon, dalam bilik, di hamparan rumput, tak boleh dipindahkan dari kedudukannya. Jika digeser, roh tak bisa kembali memasuki raga, matilah orang itu. Biasanya kami meminta bantuan satu atau beberapa orang untuk tidak ikut tamasya, bertugas menjaga ketetapan posisi jasad kami, karena siapa tahu tiba-tiba ada yang berkunjung, bingung melihat kami terserak ketiduran, lalu menggoyang-goyang dan menggeser raga kami untuk membangunkan.

Guru Tung bercita-cita menciptakan rumus aji batas tidur agar mudah dikuasai dan dihayati kapan pun oleh siapa saja. Seperti rumus Phytagoras yang memudahkan orang membuat sudut sembilan puluh derajat setelah membuat kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-siku. Menurut Guru Tung, karena kematian adalah kepastian, ia bisa dijabarkan dengan matematika.

Jika banyak orang menguasai aji batas tidur, orang sakit parah tak tersembuhkan tak perlu sengsara karena bisa memilih hari kematian yang diinginkan tinimbang minum obat mahal tak kunjung menyembuhkan dan terus memiskinkan. Tak akan ada orang digencet sakit hati dan putus asa tewas gantung diri atau menenggak racun, karena ia akan memilih mati teduh lewat batas tidur. Kematian bukan lagi maut yang seram menakutkan dan merepotkan, namun sebuah pilihan yang kapan pun bisa diselesaikan sesuai keinginan, bisa dihitung seperti bilangan.

Pedukuhan Astungkara pun jadi terkenal, dikunjungi banyak orang dari berbagai benua dan pelosok negeri, datang belajar untuk mati dengan pertolongan ilmu batas tidur. Bule-bule banyak di sini, membuat iri para pemilik wisata spiritual di hotel dan vila dengan menu tapa-yoga-semadi, karena ditinggalkan peminat. Tapi, sedikit orang asing yang bisa ikut tamasya dengan bimbingan Guru Tung karena sebagai pelancong, waktu mereka sempit, tergesa-gesa, tak pernah sanggup bersujud pada sepi, gagal memohon pada sunyi dan hening, untuk masuk ke dalam kosong. Di antara kami yang berhasil adalah Dingkling, seorang terpidana mati yang divonis tujuh tahun lalu. Karena berkelakuan sangat baik, ia sering diizinkan bermalam di pedukuhan Astungkara, dibimbing Guru Tung ikut tamasya bersama ke batas tidur.

Tadi malam Dingkling datang ke pedukuhan, dan akan menjadi malamnya yang terakhir karena dini hari ia akan berhadapan dengan regu tembak. Ketika ditanya permintaan terakhir sebelum dieksekusi, dengan gembira ia menjawab, ”Izinkan saya mampir ke pedukuhan Astungkar, untuk mendapat doa restu Guru Tung dan murid-muridnya.”

Kami merayakan perpisahan itu dengan tamasya bersama ke batas tidur. Dingkling memilih berbaring menatap angkasa raya di bawah pohon leci, di antara rentang akar-akar yang menyembul ke atas tanah. Dua sipir siaga menjaganya penuh awas. Kami yang menemani Dingkling tamasya segera masuk ke dalam kosong. Tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas, benda-benda terangkat mengambang.

Menjelang dini hari, dua sipir itu membangunkan Dingkling, menggoyang-goyang tubuhnya. Ketika Dingkling tak juga bergerak, sipir itu panik. ”Kita angkat ke dalam, ayo!” teriak sipir yang kurus, setengah menyeret tubuh diam itu.

Kami terjaga, secepatnya kembali dari tamasya. Bergegas kami bangkit dari tempat masing-masing di atas rumput dan bawah pohon, menghambur ke dalam bilik. Guru menatap tubuh Dingkling yang lunglai di ubin. Kami saling pandang karena tahu Dingkling tak bakal kembali. Ia meninggal dalam tamasya batas tidur karena sipir memindahkan raganya dari bawah pohon leci ke dalam bilik. ”Ikhlaskan, mari kita berdoa, Dingkling sudah pergi dengan damai,” ujar Guru. Dua orang sipir itu ternganga, tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada komandan karena kelalaian mereka membuat regu tembak yang sudah siaga urung bertugas.

Berita terpidana hukuman mati tewas di pedukuhan Astungkara beberapa jam menjelang eksekusi menjadi berita besar, disiarkan televisi berulang-ulang, merambat cepat lewat pesan singkat telepon seluler. Menjelang petang, gerombolan orang riuh di depan pedukuhan. Beberapa orang mengacungkan kelewang, selebihnya menggenggam batu yang diambil dari sungai, siap dilempar ke pondok. Ada yang mengacung-acungkan obor. ”Bakarrrrr…! Bunuhhhhh…!” jerit mereka galak berulang-ulang.

Kami gemetar, namun pasrah dan mencoba tenang. Sudah sejak lama berembus kabar, penghuni pedukuhan Astungkara tengah menekuni ajaran sesat. Orang-orang sangat meyakini itu karena yang datang ke tempat kami adalah kaum terbuang, manusia-manusia yang dikucilkan karena depresi menderita sakit tak tersembuhkan. Banyak yang dikenal sebagai pemadat, mantan preman, pemakai narkoba yang kemudian mengidap AIDS, sengsara menunggu ajal. Sekarang, para penuduh itu punya kesempatan melampiaskan amarah, berdesak-desak hiruk-pikuk sampai di tepi sungai, berteriak-teriak kasar menantang dan mengumbar bermacam tuduhan. Empat pemimpin mereka berdiri di pintu pagar pepohonan. Kami masuk bilik menemui guru yang duduk bersila di lantai.

”Biarkan mereka masuk, sekarang saat menunjukkan siapa kita,” ujar Guru lembut, tenang, dan bersahaja.

Empat pemimpin itu memasuki halaman, kami menyongsong mereka dengan memaksakan keberanian.

”Mana Pak Pektung?!” teriak pemimpin yang mengenakan destar melecehkan nama Guru, dengan bibir sinis menyeringai. Seingat kami, dia salah seorang tokoh yang punya vila dengan wisata spiritual tapa-yoga-semadi.

”Katakan pada gurumu, jangan memelihara iblis dan setan!” seru pemimpin yang bersarung.

”Dosa besar kalau gurumu mengajarkan tentang semesta kepada kalian, namun tak menyebut-nyebut kebesaran Tuhan,” ujar pemimpin yang mengenakan jas dan berdasi.

Pemimpin yang berkepala gundul menghampiri kami sembari berujar dengan datar, ”Gurumu boleh-boleh saja jadi pemimpin, tapi jangan menyesatkan umat.”

Tapi, pengikut empat pemimpin ini sungguh sangar dan berlumur dengki. ”Bakarrrrr…! Bunuhhhhh…!” teriak mereka sengit merangsek maju menerobos pagar tanaman. Nyala obor yang diacung-acungkan kian terang karena petang akan sempurna, hari sebentar lagi malam. Kami masuk ke pondok diikuti empat pemimpin itu. Di dalam, kami tercengang, guru tak ada lagi. Kami hanya menemukan onggokan abu di tempat Guru tadi bersila.

Lelaki berdestar dan pemimpin bersarung tertawa terbahak menyaksikan onggokan abu itu. Mungkin mereka menduga itu abu sisa pemujaan. Mereka berdua maju dan menendang gundukan abu itu berulang-ulang sembari terus terbahak. Lengking tawa bercampur gulungan debu beterbangan memenuhi bilik. Abu terserak ke mana-mana.

Tiba-tiba cahaya terang benderang menyilaukan menyergap, seperti usai gemuruh dentuman ledakan bom. Kami terperangkap dalam kilatan dahsyat cahaya, tak sanggup melihat apa pun, harus secepatnya memejamkan mata karena silau cahaya benderang itu akan merusak kornea. Kami tahu yang seharusnya kami lakukan: segera telentang di lantai, tangan bersedekap di dada, menghadap ke atap, mencoba masuk ke dalam kosong, agar segera melayang masuk angkasa. Kami melihat Guru berdiri. ”Sekarang mereka tahu siapa kita,” ujar Guru pelan.

Guru Tung pernah bercerita, seseorang yang sempurna menguasai aji batas tidur, jika memilih saat untuk mati, ia akan mengeluarkan energi panas membakar raga sendiri jadi abu. Setelah itu, ia akan menjadi seberkas cahaya yang bisa menampakkan diri, sanggup bercakap-cakap dengan siapa saja, kapan pun ia mau. Kami mengerti, Guru Tung telah menjadi cahaya, moksa. Aji batas tidur adalah jalan pelepasan, menuju pembebasan yang sempurna, hidup kekal abadi. Dan yang tidak paham ketika berhadapan dengan peristiwa pelepasan akan terbakar, seperti empat pemimpin itu. Mereka menjerit-jerit keluar halaman pedukuhan, menggelepar-gelepar menahan panas pada mata, buta, karena kornea mereka binasa oleh sergapan kilatan benderang cahaya. Telinga mereka mendenging, tuli. Kerongkongan tercekat oleh hawa panas, akan membuat mereka gagap dan terbata-bata kalau bicara.

Setelah peristiwa petang itu, jika hendak bertemu Guru Tung, kami akan telentang menatap angkasa, memusatkan lamunan pada bintang-bintang jutaan tahun cahaya, bersujud pada sunyi, memohon pada hening dan sepi, agar bisa bersua dengan kosong sejati. Kami akan terus di campuhan ini, meresapi aji batas tidur, agar bisa memilih sendiri hari mati.

Denpasar, September 2011

Written by tukang kliping

23 Oktober 2011 pada 19:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

45 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tx tukang kliping….

    Aba Mardjani

    23 Oktober 2011 at 19:52

  2. Mantap…

    Gusti 'ajo' Ramli

    23 Oktober 2011 at 20:07

  3. tks tukang kliping, ats hidangan cerita nan apik …mengantarkan hati pada pengembaraan hingga berujung pada sebuah tanya, itukah rogo sukmo ?…

    ana

    23 Oktober 2011 at 20:12

  4. cerpen yg mengalir tenang,tak ubahnya permukaan telaga pemikiran sang pencerita itu sendiri,
    Saya melihat kemerdekaan,kemerdekaan yg sesungguhnya sebagai diri dan bangsa,begitu pula dengan belenggu belenggunya,
    Tentu kita semua sangat paham dengan sosok empat pemimpin dalam kisah ini,empat pemimpin itu sering kita saksikan di berita berita hingga di alam nyata sekitar kita,
    dan peristiwa peristiwa tragis yg terjadi tahun tahun belakangan ini,empat pemimpin itu selalu ada di baliknya,mereka berteriak,’bakar bakar, bakar, demi kebenaran demi ketuhanan..
    Mereka selalu mensalah salahkan sesuatu,dan berpikir mereka adalah kebenaran,padahal mereka hanya kucing garong yg hobinya mengeong.
    namun selalu ada yg kurang pada setiap kemerdekaan meski itu dalam mimpi sekalipun,termasuk dalam kisah ini,,karena saya tidak menemukan kemerdekaan sebagai seorang hamba dikisah ini..kemerdekaan sebagai seorang hamba bisa kita jumpai di cerpen minggu yg lalu dalam judul daun daun yg bersholawat.

    Abi asa

    23 Oktober 2011 at 20:53

  5. As usual, beautiful….cool…

    veronica gabriella

    23 Oktober 2011 at 20:56

  6. magis…

    miftah fadhli

    24 Oktober 2011 at 00:22

  7. thanks cerpennya bagus, tapi ending ceritanya kok mengambang ya..seperti unfinished gitu

    shita

    24 Oktober 2011 at 05:53

  8. Ibarat lemper yg disajikan istimewa, pada gigitan ketiga saya telah melayang, pasrah penuh utk sebuah laku transendental yg terpapar menggairahkan. Sayangnya, pada detik batas ambang saya justru terjungkal, terlempar lalu digumul genit oleh pusaran Hitam-Putih yg entah kenapa membuat saya terpaksa mengingkari kenisbiannya sehingga saya menjadi tidak bebas (kosong) utk dapat menggapai nikmatnya sebuah kelepasan…Lemper istimewa saji itu,seperti selayaknya,ternyata memang berisi abon!…Ah, mungkin saya terlalu mengangankan kejutan utk mendapatinya berasa sushi. Meskipun saya tak menyangkal telah dikenyangkan olehnya. Toh, saya juga ndak isa kalo disuruh bikin lemper enak spt itu…trm kasih saya boleh menikmati karya ini.

    pakudingklik

    24 Oktober 2011 at 08:15

  9. kapan yah tulisanku bisa terbit di kompas???
    gimana rasanya yah kalo cerpenku dimuat di kompas?

    el

    24 Oktober 2011 at 10:09

  10. mengalir, tenang, mengimaji-kan.

    kucing senja

    24 Oktober 2011 at 18:25

  11. baguz bangeth….

    Isma Ya Sudahlah

    24 Oktober 2011 at 21:47

  12. bagusnya cerpen ini.
    mau tanya dong mas tukang kliping.
    alamat buat ngirim cerpen apa ya?
    trimakasih.

    glundung pringis

    24 Oktober 2011 at 22:39

  13. Terus terang saja paman bisa menangkap hasrat besar yg hendak penulis lemparkan keras2 sampai menembus rangka kepala belakang pembacanya. Dan ini lucu! Hanya karena esensi cerita juga gandengan katanya LUMAYAN, kalau SULIT disebut indah, maka paman tidak keberatan melipatkan 4 jari guna mempermudah menegakan jempol.
    Seumpama sistem itu masih berupa mimpi yang dipahat dalam kertas cerpen ini minggu, dengan lain kata MASIH bayang2, khayalan. Maka, sungguh malang dan kasihan sekali tokoh bar-bar berfashion khas di atas. Sedangkan yang paman ketahui, sistem sendiri tidak lebih daripada butiran2 kecil yg dipadatkan dengan sebatas nilai dan tujuan menjadi acuan, BUKAN KEHARUSAN! Sekali lagi, menjadi acuan, bukan KEWAJIBAN! Namun mindset kebanyakan berpendapat bahwa fatal hukum dan akibatnya serta dilarang amat sangat KERAS jika sedikit saja keluar dari sistem tersebut. Menggelikan tentu saja! Ya, Benar, Ujung2nya kemerdekaan diri menjadi korban, kebebasan berfikir dan bertindak terpenjara. Padahal, bebas berfikir dan bergerak tidak selalu bermuara pada hal negatif. Bukan begitu?
    Ya, begitu saja dari paman, sebab kalau kebanyakan numpahin isi kepala nantinya ke mana2, ditambah lagi sudah lebih dari 4 hari si sexy bini muda datang bulan. Intinya cerpen ini GAGAH BERANI, itu saja! Karena secara keseluruhan, emosi paman masih belum tergenjot total oleh cerpen ini.

    Paman

    25 Oktober 2011 at 04:07

    • paman, mohon bantuannya. kenyataan yang seperti apa yang ingin di sampaikan pengarang dalam cerpen ini? saya masih bingung. terima kasih.

      febrian

      15 Mei 2013 at 20:47

  14. Monggo Bung Dasuki, barang kali mau mengoreksi,😀

    Paman

    25 Oktober 2011 at 04:11

  15. sampai di batas matinya si pesakitan, bagus dan cantik. setelahnya,merusak suasana yg dbangun krn adany definisi hitam putih.

    rahma

    25 Oktober 2011 at 09:15

  16. kkeerreennnn

    rara

    25 Oktober 2011 at 10:42

  17. ngulang komen sih, tapi ini memang magis.
    bacaya perlahan, dan jujur, pikiran terus terpaku pada kata pertama: bertamasya.
    rasanya di setiap kalimat saya menunggu deskripsi tamasya yg sebenarnya. mengharapkan para murid Guru Tung akhirnya bisa tamasya beneran. saya sendiri baca ini dengan mata setengah terpejam, hampir sampai ke titik tidur. anehnya, saya hampir tertidur sambil terus membaca. sungguh cerita yg tenang, bahkan ketika saya membaca sambil ditemani musik latar belakang bergenre dance music.

    indah, makasih. ah, hampir lupa, meski saya hanya pembaca dan tulisan semacam ini bukan bidang saya, kali ini saya senang membaca cerpen kompas karena bisa menerjemahkan cerita tanpa dibatasi pesan2 yg mungkin muncul. kalaupun ada, karena pengantaran ceritanya yg luwes, saya tidak merasa khawatir tidak mengerti. bagaimanapun, cerita ini menciptakan dunianya sendiri di benak masing2 pembaca, dan saya termasuk menolak mengaitkan cerita ini dengan event apapun di dunia nyata.

    sekali lagi, terima kasih.

    beenimnida

    25 Oktober 2011 at 12:00

  18. Cerpen yang saya pikir ada manfaatnya dari isi cerita jelas, bahwa manusia dengan iman yang kokoh tidak kalah dengan sejumlah manusia provokator yang mengobrak-obrak dan menuding si tokoh sebagai penganut aliran sesat. Walau yang beri komentar sebelumnya nggak jelas maksudnya, tapi pasti kagum juga cerita dari Bali ini. Saya saja jadi pesimis kalau karya saya diadu dengan karya yang penuh kata-kata idealis di cerpen ini. Semoga juga Kompas membentuk kelompok pembaca dari kelas bawah, kelas menengah, kelas wartawan dan kelas atas, dengan demikian segala kritik jadi pas sasaran. Terutama seperti saya, cocoknya karya saya ya untuk kalangan kelas bawah, bukan untuk wartawan. Trims

    andreas Jacob

    25 Oktober 2011 at 12:40

  19. Luar biasa Bli Gde Aryantha Soetama… Aku mengagumimu sejak pertama kali membaca karyamu di harian Nusa Tenggara Bali pertengahan dekade 90-an. Aduh…. Aku jd teringat Bali nih. Bali memberikan saya banyak sekali inspirasi utk melanjutkan dan memahami kehidupan. Termasuk dr kolom2nya Bli di harian Nusa Tenggara edisi minggu ataupun cerpen2 yg dipiblikasikan

    Josni Herin

    25 Oktober 2011 at 23:03

  20. boleh tanya” . ada tugas kuliahh ..??

    miLLa

    26 Oktober 2011 at 20:23

  21. sngat menghibur sekali……………. thank’s.

    irfan dimas

    27 Oktober 2011 at 00:34

  22. tenang ,mengalir tapi mencengangkan………excelent

    yuli

    27 Oktober 2011 at 14:52

  23. setiap kata yang diketik seakan menari bersama jari-jemari

    Thole Sui

    27 Oktober 2011 at 17:14

  24. mengalir melayang berjalan

    puputjuniprayitno

    27 Oktober 2011 at 18:22

  25. Cerpen yang menghanyutkan pada awalnya, tapi endingnya agak kurang🙂 horee….ada Paman, apa kabar Paman?

    matairmenulis

    30 Oktober 2011 at 08:31

  26. Bagus sekali…

    Ronggo Warsito

    30 Oktober 2011 at 21:07

  27. imajinasinya liar… berdesak-desakan keluar dari alam pikiran… bagus!
    cuma kalo mikir untuk cari batas antara sada dan tidur, kemungkinan kita ngga tidur2 yaa.. kebanyakan mikir soalnya…

    blogkubicara

    3 November 2011 at 08:44

  28. Bahasanya yang indah dan cerita yang alamiah,tanpa paksaan ,,Menghanyutkan tidak membuat jenuh kata perkata, Membuat haus dan lapar akan bahasa yang lebih menyentuh, membangkitkan gairah untuk turut kembali berkarya

    Salam hangat,,,

    Han' Sang pencinta

    13 November 2011 at 17:01

  29. ceritanya sangat bagus sekali

    Dina Melanie

    13 November 2011 at 17:20

  30. spt berada di Bali. bertemasyia. cerpen yg mengutaman kebatinan ini mengajak pada pembaca untuk mencari sepi dan sunyi dalam mencari kesenagan,,,

    subaweh

    13 November 2011 at 18:30

  31. muantappppp………….. bagus tenan

    aminatul faizah

    14 November 2011 at 10:49

  32. imajinasi memang tak mengenal batas. hadirnya imajinasi selalu berawal dari kesan pada impresi. dan jika terjebak pada frase ini maka celaka. pembuka cerpen ini sangat bagus. saya menebak akan disajikan suatu pemahaman yang luar biasa tentang kematian, tentu dari perspektive imajinasi. saya sadar, bahwa pastilah nggak lengkap krn terbentur “belum pernah mengalami!” tapi jika keliaran imajinasi dibiarkan bebas dan sabar,bukaan tidak mungkin penulis cerpen ini akan mendapatkan suatu pristiwa kematian yang magis, eksotis dan menyenangkan. perpaduan ketiganya malah akan ke absurd . sayang, terlalu terburu-buru mengaitkan peristiwa kematian sebagai ending ketika sebuah jawaban tidak ditemukan. lepas dari itu semua: it’s ok!

    isnan sudiarto

    14 November 2011 at 19:48

  33. kapan batas tidur?

    mariachtz ev-roun

    15 November 2011 at 08:03

  34. ceritanya tenang, damai dan bagus !!!
    tapi apa memang benar seseorang bisa menentukan hari kematiannya sendiri,bukankah hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan meniggal???

    cahya

    17 November 2011 at 07:27

  35. Aku cuma ingin bilang kreen. . . . . . . .

    Yasir

    1 Desember 2011 at 09:19

  36. keren… mantap… mantap..

    kokoshizuka

    11 Desember 2011 at 21:01

  37. siip

    pardan

    31 Desember 2011 at 16:08

  38. Kalo kita sudah bisa ikhlas, kematian pun tak kan menyakitkan bagi ragawi kita

    Yuli Widyastuti

    1 Februari 2012 at 13:06

  39. 7/10*

    Q kasi tjuh bintang dah, ceritanya magis bgt. Pernah jg mikir bwt nyoba melepas roh ky gt. gmana rasanya? haha😀

    D. Enggar N

    28 Februari 2012 at 07:35

  40. Selalu suka dengan cerpen berlatar belakang etnik. Meski berat untuk dimengerti

    HeruLS

    11 Maret 2012 at 15:36

  41. Wah, cerpen yang keren nih..

    nazmahilyatullaila

    16 Januari 2013 at 20:38

  42. aku suka alur ceritanya, keren,,
    tapi aku belum paham maksud sebenarnya dari isi cerpen ini,, kenyaan apa yang terkandung dalam cerpen ini??? tolong di bantu dong?? terimakasih sebelumnya,,

    Febrianz

    15 Mei 2013 at 09:50

  43. karya sastra yang berat…mantap.

    deksu pebri

    16 Oktober 2013 at 09:03

  44. Berani dan keren….

    yeti wulandari

    23 Februari 2014 at 04:45


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: