Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Epitaf bagi Sebuah Alibi

with 51 comments


Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi, sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.

”Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat. Disambarnya jubah mandi. Kedua kaki lancipnya berlari menuju klinik 24 jam di lingkungan apartemen.

Di tempat lain, setengah jam bermobil jauhnya dari klinik, Romero sang legislator sudah semalaman begadang menyempurnakan daftar pertanyaan dengar pendapat yang akan ditayangkan langsung televisi swasta tempat Flayya bekerja. Sebagai anggota dewan yang lebih sering tampil di layar infotainment ketimbang menghadiri rapat komisi, Rom sangat paham bahwa acara ini sebuah kesempatan emas untuk menyepuh popularitas.

Tiba-tiba ujung matanya menangkap gerakan aneh di bibir cangkir kopi. Kedut seekor ulat tengah berjuang mengangkat tubuhnya yang gendut. Tak percaya, Rom melongok isi cangkir kopi luwak itu.

Badannya sontak menggigil: isi cangkir tak ubahnya sauna ulat. Rom memasukkan jari telunjuk ke dalam mulutnya, baru menyadari ada kedutan yang sama di sana. Dengan panik diambilnya ponsel, menekan tombol panggilan cepat. Tak ada jawaban yang diharapkan dari seberang. Rom mengetik pesan pendek, dengan degup jantung melebihi kecepatan mobil dinasnya melesat di jalan tol.

***

Dokter jaga tak bisa memberikan diagnosis akurat penyakit Fla, selain menebar sejumlah dugaan. ”Penyebabnya bisa dari makanan, infeksi lingkungan, atau akibat kontak mulut dengan orang lain yang sedang terjangkit,” katanya seperti mengutip buku teks. Kalimat itu sudah cukup membuat Fla melakukan kalkulasi, (1) Dari makanan jelas mustahil. Semalam dia makan bersama tiga narasumber tayangan talk show yang dipandunya di studio, dan tak ada kabar mereka sakit. (2) Terjangkit infeksi lingkungan juga tak mungkin, sebab sehabis siaran dia langsung pulang. Atau lebih tepatnya, diantar pulang tanpa mampir ke mana pun.

Jadi… mungkinkah?

Dada mancung Fla bergemuruh. Pandangannya menyusuri layar ponsel, menemukan notifikasi pesan pendek yang belum sempat dibacanya: dari Rom.

Luv, kauy ta akn percya. Tem ui ku @ Medici Int’l hosptl. Soon!

Sebuah pesan pendek yang hancur lebur dan meledakkan cemas: Mungkinkah Rom juga terjangkit? Atau justru dirinya yang terinfeksi oleh lelaki beranak dua dari dua istri berbeda itu? Mereka memang sempat bertukar saliva dalam beberapa menit yang bergelora sebelum berpisah, ketika Rom mengelus perutnya semalam.

Ponselnya kembali berdenting memberitahu pesan masuk yang baru. Dari Sekretariat Redaksi tempatnya bekerja:

Mbak Fla, pak Muiz terkena infeksi mulut serius. Juga mas Gazi & mbak Aline. Pemred bilang mbak segera check-up. Ambil cuti dulu.

Sinting! Muiz adalah Produser Eksekutif dan Gazi juru kamera. Dengan keduanya Fla tak pernah memiliki hubungan asmara. Lalu, bagaimana pula Aline, asisten produser yang jarang bicara, bisa terjangkit penyakit serupa?

Dua jam kemudian televisi berlomba-lomba memberitakan stop press yang tak lazim: penyakit misterius menyerang mulut warga.

Ada yang memberitakan heboh di sebuah TK, ketika para bocah yang antre makan menjerit ngeri melihat tempat makan mereka dipenuhi ulat yang sempat mereka kira potongan cakwe. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa bencana pagi itu dimulai dari rumah Bagas, anak Muiz, yang sempat tak mau sarapan kecuali disuapi sang ayah.

Kanal TV lain mewartakan kegemparan di sebuah kampus ketika dari mulut pengajar Filsafat Politik berhamburan ulat yang membuat banyak mahasiswi pingsan ketakutan. Saluran televisi tempat Fla bekerja menyajikan tayangan paling mencekam: Guru Kalip sekarat di ranjang rumah sakit. Padahal semalam, Guru Kalip masih bersemangat dalam acara talk show berjudul ”Mengupas Akar Korupsi Massal dan Erosi Moral” yang dipandu Flayya.

Merosotnya kesehatan Guru Kalip membuat seluruh saluran televisi membatalkan acara yang sudah mereka programkan. Tak ada siaran langsung dengar pendapat dari gedung Parlemen, karena Guru Kalip adalah guru dari semua guru yang pernah mengajar anggota Dewan. Ketika konflik sosial pecah di beragam tempat, Guru Kalip juga yang menjadi tumpuan akhir banyak pihak, hingga tak sedikit yang menjulukinya sebagai ’Mercusuar Nurani Bangsa’.

Awak media massa berlomba-lomba mewawancarai lusinan dokter ahli untuk mendapatkan informasi akurat tentang penyakit Guru Kalip. Apalagi setelah dari menit ke menit, rumah sakit terus kebanjiran pasien dengan gejala serupa di bagian mulut.

Dua jam sebelum mentari bertengger di pucuk hari, muncul keterangan resmi dari Wali Negeri bahwa bencana nasional sedang terjadi. Warga dianjurkan tetap di rumah, mengikuti perkembangan keadaan melalui televisi dan sebuah situs web.

Keadaan Guru Kalip kian memburuk. Lidahnya sudah membusuk sampai ke pangkal. Tim dokter memutuskan, lidah itu harus dibuang. Guru Kalip menolak dengan alasan yang membuat alis para dokter melengkung keheranan. ”Ulat-ulat itu juga hamba Tuhan yang harus disayangi dengan cinta sejati. Mereka tak boleh dibunuh semena-mena. Pasti ada alasan mengapa Tuhan menempatkannya di lidah saya, seperti Tuhan pernah menempatkan mereka bertahun-tahun di kulit Ayub manusia mulia.”

”Apa maksudnya?” tanya wartawan yang merekam wajah Sang Guru dari kejauhan, karena jijik dan mual melihat gerombolan ulat yang seakan tak ada habisnya di dalam mulut tua yang, anehnya, selalu tersenyum itu.

”Kebenaran akan mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Guru Kalip. Sesaat kemudian jiwanya bercerai dari badan.

Kepanikan langsung menggila karena dokter terahli pun masih belum tahu wabah yang terjadi. Wartawan yang mewawancarai istri Guru Kalip hanya mendapatkan jawaban singkat ”Ulat-ulat itu baru muncul kemarin, setelah pagi harinya Guru Kalip bertemu empat mata dengan Wali Negeri,” jawab sang istri.

Tiga jam berikutnya pemakaman Guru Kalip dimulai dengan tembakan salvo dan rangkaian acara kenegaraan. Wali Negeri menyampaikan belasungkawa yang disiarkan langsung oleh seluruh saluran televisi. ”Hari ini kita kehilangan sosok luar biasa yang selalu jujur dalam bicara dan bertindak. Negeri kita karam dalam duka mendadak yang lebih perih dari segala pedih penyebab sedih,” katanya dengan ekspresi seperti sedang berdeklamasi.

”Yang membuat saya, Wali Negeri, lebih bersedih hati adalah karena munculnya desas-desus bahwa penyakit misterius Guru Kalip muncul beberapa saat setelah Guru bertemu empat mata dengan saya. Akibatnya, muncul tuduhan-tuduhan tak bertanggung jawab bahwa sayalah yang sebenarnya membuat Guru Kalip jatuh sakit. Saya nyatakan itu tidak benar!” ujar Wali Negeri dengan suara menggelegar. ”Itu fitnah tak bertanggung jawab!”

Flayya yang sudah tergolek lemah di ranjang rumah sakit terbelalak ketika melihat seekor ulat melayang dari mulut Wali Negeri yang sedang merintih sedih, ”Baiklah saya ungkapkan di sini, di hadapan rakyat yang saya cintai, bahwa yang saya sampaikan kepada Guru Kalip hanyalah imbauan agar selalu menyampaikan kebenaran setiap saat, di setiap tempat.”

Tiga ekor ulat mendadak nemplok di layar televisi. Mengira dirinya berhalusinasi, Fla memindahkan saluran ke kanal berbeda dan melihat Wali Negeri sedang mengepalkan tangan dengan suara membahana. ”Hal terpenting yang saya sampaikan kepada Guru Kalip adalah untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa hukum dan keadilan harus dijunjung tinggi, meski harus mengorbankan keluarga dan orang yang kita cintai!”

Puluhan ulat berukuran besar dan kecil terus beterbangan dari mulut Wali Negeri selama dia bicara, semakin memenuhi layar televisi yang hanya menyisakan sedikit bidang bersih.

Marah dan jijik melihat ulat-ulat terus menggeliat ke mana pun dia memindahkan saluran, Fla hampir mematikan televisi ketika melihat sebaris teks berjalan: Legislator Romero meninggal dunia dengan gejala yang sama seperti dialami Guru Kalip.

Mata perempuan seindah mutiara itu langsung membasah, hatinya berdarah. Ingin rasanya dia berteriak menuntut kepada Tuhan agar kekasihnya kembali dihidupkan. Tetapi ulat-ulat laknat di dalam mulutnya yang terus menggeliat sudah mengunyah lebih dari separuh lidahnya. Dia tak bisa lagi berkata-kata mesti begitu ingin.

Dicobanya lagi untuk mengeluarkan suara. Namun yang datang hanyalah kenangan saat Romero mengelus perutnya semalam. ”Setelah anak kita ini lahir Fla, hanya kau satu-satunya perempuan yang tercatat dalam akta nikahku. Guru Kalip akan memimpin pernikahan kita, dan Wali Negeri sudah bersedia menjadi saksi. Tidakkah itu menjadikanmu sebagai perempuan paling berbahagia di muka bumi ini, Cinta?”

Entikong-Jakarta, 2011

Written by tukang kliping

16 Oktober 2011 pada 09:03

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

51 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. epitaf apa?

    yisha

    16 Oktober 2011 at 09:41

    • Epitaph, batu nisan🙂

      hud

      4 Desember 2011 at 23:49

    • jadi inti dari cerita ini apa yah?

      ahmadshogir

      29 Maret 2013 at 13:34

  2. Bagus. Aku suka.

    welli

    16 Oktober 2011 at 10:39

  3. mengena pisan. Keren euy!🙂

    okti

    16 Oktober 2011 at 11:45

  4. judul’a terlalu ilmiah,,,,
    Cerita’a bagusss….

    Bintang Bumoe

    16 Oktober 2011 at 11:47

  5. jujur,saya tidak melihat sesuatu yg pantas saya kagumi,selain fla yg terlukis dengan baik,,selebihnya adalah ulat ulat yg terjumput dari banyak makna,,namun tak terpetik satupun makna,,minggu saya yg biasa saja dengan kisah cerpen yg biasa saja,,hiks,,maaf.. saya tidak ingin menjadi salah satu ulat ulat tersebut.

    Abi asa

    16 Oktober 2011 at 14:06

  6. kerren,,,, ceritanya mengalir bak air sungai linggang,,,tenang,,tapi endingnya mantap,,,baru ngerti setelah baca paragraf trakhir,,,

    sahmadtahir

    16 Oktober 2011 at 18:48

    • Kak jelasin paragraf terakhirny x_x
      Malah ga ngerti, maklum ya newbie dlm hal baca cerpen😛

      lila

      16 Oktober 2011 at 18:55

  7. Surprise ending yang tak terduga…thanks, saya menikmati membacanya…keren!

    pakudingklik

    16 Oktober 2011 at 21:37

  8. bagoossssss

    !❤ it

    walaupun brungerti terakhirnya…. hehehe xD

    dhiella

    17 Oktober 2011 at 07:42

  9. minggu2, mau cari jawapos udah kehabisan. akhirnya meraih kompas yang berada terdekat. ndak rugi, ternyata ada cerpen sebagus ini. sebuah cerita yang mencerahkan!

    dimas

    17 Oktober 2011 at 08:37

  10. Mantap, memang benar dan salah sudah menjadi abu – abu di negeri ini.
    Hati – hati bagi para penyebar berita😀

    noe

    17 Oktober 2011 at 13:59

  11. Kutipan terahir dalam cerpen di atas menjadi Epitaf yang jitu untuk menutup cerpen tersebut sebagai sebuah monumen alibi.

    Kopi Manis Tanpa Gula

    18 Oktober 2011 at 01:18

  12. Cerpennya amat sangat menarik. Tetapi, kok rasanya judulnya tidak demikian. Tidak terasa menarik. Ngomong-ngomong soal ulat memang tidak ada habis-habisnya, dan selalu disajikan menarik untuk penyimbolan surealis yang menjijikan seperti halnya Ulat dalam Sepatu Gus tf Sakai dan cerpen Pak ANB ini..

    kurcacishoprananda

    18 Oktober 2011 at 10:52

  13. Kalu Tuhan sudah berkehendak, apa yg ada dlm cerpen ini bs benar2 terjadi.. jd hati2 dgn mulut penebar berita bohong…

    genade

    18 Oktober 2011 at 14:49

  14. Saya agak surprise membaca cerpen Kompas karya Mas Akmal. Karena cerpen ini paling tidak mencairkan kebekuan Kompas yang selama ini sangat patuh pada aturan realis. Sudah lama saya ingin membaca cerpen seperti ini di Kompas dan akhirnya terpenuhi juga hasrat saya. Selamat Kompas, sukses Mas Akmal.

    Bamby Cahyadi

    18 Oktober 2011 at 16:39

  15. top bgt mas Akmal… ditunggu cerpen2 berikutnya ya…

    zaenal radar

    18 Oktober 2011 at 16:42

  16. Disinya saya suka. Tehnik penceritaannya mengalir elegan. Cerpen nan menawan.

    kartika catur pelita

    18 Oktober 2011 at 20:09

  17. menyimak🙂 salam kenal buat penulis🙂

    mataairmenulis

    19 Oktober 2011 at 00:17

  18. Keren. Saya membacanya sampai 2 kali. Idenya hebat. Alurnya tak membosankan.

    Hendra Syahputra

    19 Oktober 2011 at 08:24

  19. berat…

    berryexcell

    19 Oktober 2011 at 17:20

  20. beda aliran… (,^^)d

    Thole Sui

    19 Oktober 2011 at 17:32

  21. Legislatif, eksekutif dan media sama2 “ber-ulat”
    mudah2an masyarakat ga terjangkit…
    cerpen yg bagus… like this…

    Langit Kedoya

    19 Oktober 2011 at 18:51

  22. Mas akmal, sukses ya dengan cerpennya ini. pilihan kata dan daya kejut alurnya memukau, dari awal sampai akhir, saya sangat menikmatinya. tak sia-sia mas akmal melepas eleganitas sebagai wartawan tempo [yang menurut saya sayang dilepas:] untuk lebih memilih berkarya dengan sastra, semoga saya akan mengikuti jejak mas. salam hangat

    yogira yogaswara

    19 Oktober 2011 at 20:04

  23. Memang ceritanya surealis, beda aliran dengan saya. Walau banyak pujian dengan kata bagus, tapi saya bilang jelek! Maaf.. Saya tidak suka ulat menguasai mulut manusia, jijik! Jovian Andreas

    andreas Jacob

    20 Oktober 2011 at 13:29

  24. membaca cerpen ANB (Akmal Nasery Basral), saya mendapati isu aktual, idiom lokal dan suprise yang tak disangka2. Potret sosial kelihatan tak hilang dari jurnalis beralmamater TEMPO, meskipun sudah tidak aktif sejak April thn 2010 lalu. Pilihan genre sastrawi utk menyampaikan hal itu menjadi begitu strategis, lebih lentur untuk mengemas antara yang faktual dengan yang fiksi, tanpa beban somasi dan kebijakan redaksi yang tetap dirasakan membelenggu. Cerpen ini mengembalikan ‘kenikmatan’ saat saya menikmati kumpulan cerpen “Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku” (ufuk press, Desember 2006) yang di dalamnya juga meletakkan potret sistuasi sosial dalam bingkai pencitraan fiksi ala ANB.
    Ulat-ulat yang mewabah dalam mulut seorang politisi, presenter berita, sosok guru Kalip yang mewakili tokoh Sakral seolah ANB ingin menyemburkan rasa muak yang tak didapatnya kebenaran dari berbagai sumber yang tampil di layar kaca. Rasa muak ANB yang diwakili cerpen ini begitu terasa mewakili apa yang dirasakan kita semua. Ketika sastrawan bicara memang berbeda dengan orator di lapangan, perlu hati untuk menangkap pesan apa yang disampaikan. Saya suka tema dan gaya bercerita ANB, setelah asyik dalam karya novel sejarah dan film-film yang terbit belakangan ini kini tinggal menunggu terbitnya Antologi cerpen ANB berikutnya, semoga (segera).

    ARman

    21 Oktober 2011 at 10:57

  25. 🙂

    L

    22 Oktober 2011 at 10:29

  26. mengerikan sekali surrealis ini.😦

    rosalina, anita

    22 Oktober 2011 at 14:30

  27. Bung Tova?

    si kecil

    22 Oktober 2011 at 16:11

  28. errrr, keren bang.

    HeruLS

    22 Oktober 2011 at 18:43

  29. sy g ngerti, skalipun udh baca beberapa kali. smpe paragraf terakhir skalipun ttp g ngeti apa hubungannya. mungkin ada yg salah di otak sy kali y. Mmm….

    Kunto Nugroho

    23 Oktober 2011 at 10:12

  30. Baca 1 paragrap lalu pergi. Tk ada get feelling

    Sutomo

    23 Oktober 2011 at 12:30

  31. Wow..mempunyai makna yg dalam, mudah2an dgn nurani yg merasa tersentil dgn cerpen ini bisa membawa kebaikan yg hakiki..
    can’t wait 4 ur next cerpen Bro ANB..

    Don

    24 Oktober 2011 at 10:57

  32. Touchy.

    Adek

    24 Oktober 2011 at 13:12

  33. ….bagus. tapi. yuck.
    Ulat-ulatnya itu…..

    nananana

    27 Oktober 2011 at 17:35

  34. karya sastra memang hanya untuk dinikmati, nikmati sajalah pasti ada sesuatu yang membuat lebih pembacanya…..

    kriwulan

    3 November 2011 at 20:45

  35. Cerpen yang sedikit aneh, namun bermakna…..

    Alone

    7 November 2011 at 19:23

  36. :p
    cerita yg menarik ssekali

    Dina Melanie

    13 November 2011 at 17:35

  37. Cerpen norak! Sinis! Sok suci! Gak ada kejutan sama sekali. Begitu karakter legislator muncul, seluruh cerita langsung bisa ditebak..

    Elis

    14 November 2011 at 21:35

  38. epi·taf /épitaf/ n 1 tulisan singkat pd batu nisan untuk mengenang orang yg dikubur di situ; 2 pernyataan singkat pd sebuah monumen

    Evan Lev Saap (@LevSaap)

    17 November 2011 at 09:12

  39. bagus cerpennya
    saya baru mengerti setelah baca coment2 dibawahnya
    semoga yang dimaksud dalam cerpen itu lekas sadar

    hastha

    23 November 2011 at 16:01

  40. Semoga beberapa temen yang punya hobi memelihara “ulat” di lidahnya mengerti makna cerpen ini…..

    Lani Noor Hasibuan

    19 Desember 2011 at 11:58

  41. nice bah…
    walopun jijik sangat terus-terusan menyebutkan tentang ulat tapi makna nya itu

    elisa

    20 Januari 2012 at 16:00

  42. Peringatan bagi yang masih suka selingkuh dan menghalalkan selingkuh ;((

    Yuli Widyastuti

    1 Februari 2012 at 12:55

  43. Hmm,, mantaaappp sangaatt,,,!!!! makna.x sngt b’mnfaat….
    I LIKE IT !!!
    Terus munculkan yang seperti ini biar pada nyadar…

    rahma

    12 Juli 2012 at 13:55

  44. apakah betul jika cerita ini bercerita tentang kebohongan dalam sistem yang telah mengakar? jadi penulis seperti melakukan protes melalui tulisannya? itu sih yang saya tangkap. tulisan yang mengena dan kreatif.

    deli

    10 Oktober 2012 at 14:49

  45. Cerpen yang mengena masalah selingkuh dan hukum karmanya, nikah siri. Numpang iklan ada buku saya judulnya Mencegah Selingkuh dan Cerai

    TatiGreece

    11 November 2012 at 19:52

  46. Kerenn! Mantab crpennya..

    Melinda

    7 Desember 2012 at 12:29

  47. hati hati dengan lidah…….

    yeti wulandari

    23 Februari 2014 at 05:01

  48. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: