Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Cas Cis Cus

with 52 comments


Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Tapi, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh tapi—matanya masih selalu menyemburkan api bila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya.

Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.

”Cis yang sangat memahami persoalan hidup yang tengah membelit hidup dan rumah tangganya,” Munar berucap seraya menancapkan pandang matanya kepada perempuan 40-an tahun yang duduk dengan kepala tertunduk. ”Ayo, Cis, silakan.” Munar melangkah mundur dari podium.

Para undangan menunggu. Seluruh pandang mata tertuju kepada Cisminah. Perempuan itu duduk sambil terus menggenggam tangan Cusd’amato. Para undangan menakar-nakar dan menduga-duga keberanian Cis untuk maju dan berdiri di podium, membuka katup mulutnya, menceritakan laku suaminya belakangan. Cis memandang Cus. Seperti meminta dukungan. Cus menunduk tanpa reaksi. Membiarkan waktu merambat dan rambut jojosnya digoyang embusan angin yang menelusup dari sela-sela rumpun bambu.

”Cis,” suara Munar memecah sepi, setengah berbisik.

Tanpa perlu diingatkan kedua kalinya, Cis mengangkat pantatnya. Para undangan berdebar menunggu sambil terus mengikuti langkah satu-dua Cis menuju podium.

Hening lagi. Cis berdiri bagai onggok kayu. Membiarkan kepalanya merunduk dan waktu terus mengalir.

”Cis,” Munar mengingatkan.

Cis bergeming. Dua tiga kali tetap begitu.

Munar membawa langkahnya mendekati Cis. Menyisi. Cis jadi tampak imut karena ujung rambut bagian atas kepalanya tak lebih tinggi dari punggung Munar. Dia mendehem, seolah membuang sumbat dalam lubang rongga kerongkongannya.

”Baiklah,” Munar memulai. ”Izinkan aku yang bicara, Cis.” Memutar leher ke Cis yang masih merunduk. Lalu, beralih menebar pandang kepada tamu-tamu yang masih duduk diam di hadapannya.

”Cas,” kata Munar menyebut nama Casmidi, ”Sikapnya aneh, benar-benar aneh, tidak kita bisa mengerti, semenjak seminggu yang lalu.” Berhenti sesaat oleh suara batuk tertahan salah satu undangan. Pada kepala orang-orang itu berseliweran sosok Cas. Tinggi sekitar 170 cm. Kepala agak lonjong. Bibir kebiruan. Mata cekung dengan alis hitam pekat. Dahinya lebar. Sebagian rambut memutih. Warna kulit putih pucat.

Munar kemudian mengurai keanehan-keanehan Cas seperti yang sebagian besar sebenarnya juga sudah diketahui warga.

”…dua minggu lalu Cas menguras tabungannya. Membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dia anggap sangat membutuhkan bantuan dan hanya menyisakan sedikit untuk kebutuhan keluarganya untuk sekali makan…”

Diam sejenak. Berdehem satu kali. Lalu melanjutkan:

”…Cas sekarang selalu keluar dari rumahnya pada pagi hari. Menjelang siang dia pulang dan memberi uang atau apa pun yang didapatkannya untuk makan keluarganya siang itu. Untuk makan keluarganya di sore hari, Cas berangkat lagi dari rumahnya entah ke mana dan baru kembali menjelang sore untuk memberikan pendapatannya kepada keluarganya…”

Munar mengatur sengalnya.

”…seminggu lalu, Cas menjual barang-barang di rumahnya. Televisi, radio, sepeda… Cas melepas lima burung perkututnya, melepasnya begitu saja. Burung-burung klangenan itu beterbangan tak karuan. Ada yang kembali ditangkap tetangga. Cas diam saja. Membiarkan. Seperti tidak tahu…”

Munar kembali mengatur napas. Cis terduduk serupa patung. Cus di kursinya menatap ruang kosong. Tanpa reaksi.

”…Cas juga membagi-bagikan pakaian-pakaiannya dan pakaian-pakaian anak dan istrinya yang masih layak pakai. Menyisakan satu dua potong belaka. Isi rumahnya hampir melompong…”

Munar mendongak seperti memikirkan sesuatu. Lalu katanya lagi:

”…Cis kemarin mendatangi saya. Menangis terisak. Katanya Cas sudah menjual sepetak sawahnya. Uangnya tidak dibawa pulang. Diserahkan kepada amil masjid. Amal jariah katanya. Selain tanah dan rumah yang kini ditempati, Cas tak punya apa-apa lagi.”

”…itu mungkin baru sebagian yang kita sama-sama tahu. Kita belum tahu apa saja yang sudah dilakukan Cas, laku aneh yang tidak kita mengerti…”

Munar terdiam sesaat. Seperti menunggu reaksi 15-an orang yang duduk di hadapannya tanpa suara. Karena tidak ada yang berani membuka suara, Munar melanjutkan:

”…ada yang bertanya?” dia bertanya. ”Ada yang bertanya mengapa Cas melakukan hal itu? Tidak ada. Kalau begitu, baiklah saya jelaskan saja garis besarnya.”

”Bagi Cas,” Munar memulai lagi, ”Manusia bisa mati kapan saja. Bisa sekarang, satu menit kemudian, satu jam kemudian, satu hari kemudian, satu minggu, satu bulan, satu tahun… kapan saja. Karena itu, Cas merasa ndak perlu punya tabungan atau simpanan makanan atau uang bahkan untuk besok pagi, untuk sore hari, untuk besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Semua simpanan kita, uang, makanan, pakaian, kendaraan, rumah, tanah, tidak ada artinya bila kita tiba-tiba semaput dan mati. Semuanya akan kita tinggalkan. Yang kita bawa cuma raga kita dan amal kita…”

Mulai terdengar bisik-bisik. Seperti suara lalat. Munar membiarkan.

”Coba tenang,” Munar memulai lagi. ”Cis menangis kepada saya, meminta saya mencarikannya jalan keluar. Apa sebaiknya yang harus dia lakukan? Saya memberinya beberapa pilihan. Pertama ikut saja apa kata dan laku Cas yang penting setiap hari bisa makan, bisa pakai baju, tidak kelaparan, ndak kedinginan karena Cis mengaku masih cinta sama Cas. Yang kedua, ini bukan anjuran, ini cuma pilihan jalan keluar, yaitu bercerai saja dari Cas. Berpisah. Memilih jalan hidup masing-masing. Sudah tentu pilihan itu ditolak Cis karena Cis masih cintrong sama Cas. Cas, kata Cis, hebat di…” Munar menahan senyum.

Para undangan pun senyum-senyum sembari bersidakep. Malam terus merayap. Bulan mulai ngintip dari langit pucat. Gerimis menyisakan dingin.

”Sudara-sudara karenanya saya minta berkumpul di sini. Untuk membantu Cis mencari jalan keluar. Makin banyak kepala makin banyak ide. Juga pikiran. Siapa tahu di antara kita yang ternyata sangat pintar sehingga punyalah pilihan jalan keluar.”

Munar berhenti. Menunggu.

”Coba, siapa yang mungkin bisa membantu? Angkat tangan,” kata Munar karena tak ada yang berani angkat suara.

”Mungkin Tasmin,” Munar menatap Tasmin, ”Atau Amri, Nazar, Suyag, Tanta, Fudin, Haripur, Amsai, Zali, Bidin, Zubir, Akhyar, Dayus, Hayat, Anas…” Munar menyebut semua nama tamunya. Lalu tersenyum. ”Siapa saja boleh membantu. Membantu orang yang dalam kesulitan itu berpahala…”

Zubir mengangkat tangan. Wajah Munar sumringah. ”Nah, lihat, Zubir mengangkat tangannya. Mari kita dengar apa bentuk sarannya. Mudah-mudahan sesuatu yang cerdas. Silakan, Bir.”

Zubir berdiri. Tanpa memandang ke kiri dan kanan, dia memulai. ”Maaf, menurut saya, ternyata tidak ada gunanya kita berkumpul di sini. Apa yang dilakukan Cas itu benar. Benar sebenar-benarnya. Bahwa tidak ada gunanya kita memenuhi lemari dengan pakaian yang belum tentu kita pakai semuanya. Tidak ada gunanya kita menumpuk harta, uang, makanan, yang belum tentu bisa kita belanjakan, belum tentu kita makan. Jadi, Cas, sekali lagi, benar sebenar-benarnya…”

”Cukup, Bir,” Munar coba memotong.

Zubir menutup mulutnya. Duduk. Namun, sejurus kemudian, suasananya jadi riuh. Oleh bisik-bisik. Kian lama kian keras. Tak bisa dikendalikan.

”Diam! Diam!” Munar berteriak nyaring.

Namun, tak ada yang peduli. Satu per satu tamu-tamunya bangkit. Meninggalkan tempat itu.

”Hei! Tunggu! Tunggu! Pertemuan belum ditutup!” Munar terus berteriak. Lalu menyambar tangan Akhyar. ”Pada mau ke mana kalian?”

”Ke rumah Cas,” Akhyar menjawab. Mantap. ”Kami ingin seperti dia. Dia benar sebenar-benarnya.”

Bidin mendekati Munar. Mulutnya menempel ke kuping Munar. Lalu berbisik. ”Cas itu…wali.”

Cis menyorotkan tajam matanya kepada Munar. Juga Cus. Munar gelagapan.*

* Tn Kusir, Juni 2011

Written by tukang kliping

18 September 2011 pada 17:46

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

52 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Waaa…. Pak Aba selalu mengena dalam memberikan pesan kisahnya
    salut!!

    Okti tea

    18 September 2011 at 18:40

  2. Bener-bener deeegh… Salut jg!

    Asep_down

    18 September 2011 at 18:59

  3. layak jadi cerpen pilihan tahun depan. BISA DIJAMIN.

    Linda

    18 September 2011 at 21:28

  4. wahihi, lucu, tidak terduga endingnya gituh.

    HeruLS

    19 September 2011 at 02:01

  5. “Cas itu… wali-murid!” [=’P]

    Bahasanya jernih. Saya suka.

    sastrakelabu

    19 September 2011 at 02:52

  6. saya suka dengan ceritanya!

    reganleonardus

    19 September 2011 at 06:38

  7. baru sekali ini saya membaca cerpen pak Aba. saya jadi ingin membaca cerpen-cerpennya yang sebelumnya. iya, sepakat dengan Linda. cerpen ini wajib masuk pada cerpen kompas terbaik! =)

    Ari Mami

    19 September 2011 at 09:28

  8. Permainan nama yang unik. Ceritanya juga menggelitik. Dongeng pedesaan yang nakal sekaligus filosofis.

    Noke

    19 September 2011 at 10:36

  9. judulnya itu lo… kok bisa ya? Cas cis cus.. he he
    kyknya saya terinspirasi buat cerpen yg judulnya..”tak tik tuk” (takut tikusnya tukul…

    inne

    19 September 2011 at 11:09

  10. Wah, cepet juga postingannya tukang kliping ya. Terima kasih untuk semuanya. Salam…

    Aba Mardjani

    19 September 2011 at 13:16

    • kok tumben kagak betawi-an nich? hehehe.
      tapi emg bagus ceritanye, lucu menggelitik, bisa aj da ah

      adib

      20 September 2011 at 08:45

    • keren banget cerpennya, pak aba. saya ngikut belajar.

      sukroncilacap

      4 Januari 2014 at 22:41

  11. Wah ada penulisnya. Salam kenal buat Pak Aba Mardjani, semoga saya bisa mengikuti jejak Anda jadi seorang cerpenis. salam. Agus Pribadi

    matairmenulis

    19 September 2011 at 15:54

  12. Tulisan yang ringan dibaca, tapi maknanya dalam

    matairmenulis

    19 September 2011 at 16:18

  13. saya tergoda oleh paragraf pembukanya. Menarik. Memaksa saya utk terus membaca hingga selesai.
    salam.

    Daeng

    19 September 2011 at 16:37

  14. hahahahahaaaa, cerpen yang sederhana, lucu tapi keren. Hmm, saya membayangkan sekuelnya: karena bapaknya seorang “wali”, maka cusd’ amato mengembara sampai Bronx, USA dan menemukan Mike Tyson…

    Kiki Sulistyo

    19 September 2011 at 16:39

  15. Keren…
    Ending nya ga nyangka banget
    kyak gt…
    Cas cis cus
    Benar yg Sebenar Benarnya
    hehehe
    salam

    Rindu Ayah

    19 September 2011 at 17:30

  16. Awalnya pengen meninggalkan nih cerpen, tapi pas udah baca. Benar sebenar-benarnya bagus.🙂
    pendek dan menggigit.

    Fitria Sis Nariswari (@Rainiku)

    19 September 2011 at 23:59

  17. Haah! Wali? :):):)

    Paul

    20 September 2011 at 15:17

  18. Haaah, wali! :):):)

    Sila

    20 September 2011 at 15:27

  19. benar-benar cerpen berkelas, thx atas tulisannya pak Aba, salam kenal…. Ian Dari solo,🙂

    Ian Bood

    21 September 2011 at 11:46

  20. cerpen yg menyentuh

    orangpantura

    21 September 2011 at 21:39

  21. biasa saja

    mas jawa

    21 September 2011 at 21:41

  22. buset cerpend brklas bwnget…………………………. hbat

    aji brebes

    22 September 2011 at 19:24

  23. cerpen yang bagus, bahasanya pas banget…………..salut dech buat Aba Mardjani.

    Wasit Slalu Ahmad

    23 September 2011 at 23:00

  24. cerdas dan mempesona

    andika

    24 September 2011 at 05:20

  25. walau baru baru ini kenal ma cerpennya kompas,,, ternyata isinya bagus – bagus yaa… bravo deh buat para penulisnya…😀

    benar sebenar-benarnya cerpennya baguuuussssss ^_^

    aryani

    29 September 2011 at 11:38

  26. ahahahaa.. bagus ya ceritanya..🙂 unpredictable story.. gaya berceritanya menarik..saya banyak belajar dari cerpen ini..
    satu lagi,,endingnya pun menggelikan😀.. malu-maluin aja si Munar..
    keep working ya!! ^^

    dimar

    1 Oktober 2011 at 14:36

  27. Salut buat abah. saya terinspirasi bnyak setlah tertawa kwcil dng krya2 ini.

    hajoer

    7 Oktober 2011 at 06:15

  28. saya suka

    Faradina Izdhihary

    10 Oktober 2011 at 22:07

  29. seperti inilah cerpen kompas yang selalu aku suka, tidak bisa ditebak endinnya, selalu memuaskan….

    Aa_Kaslan

    12 Oktober 2011 at 19:29

  30. bagusnyaaaa…. >< Cas,cis,cus

    READERS

    14 Oktober 2011 at 22:04

  31. hahahaha gimana klo ga dibilang bagus. Endingnya mantap.

    S. Nayogo

    24 Oktober 2011 at 06:20

  32. dari awal baca langsung jadi penasaran, maunya cerpen ini apa? endingnya gimana… oalaahhh… ternyata….

    berry

    26 Oktober 2011 at 17:58

  33. Suka sekali dengan cerpen ini: pemilihan judulnya, nama tokoh2x ceritanya, serta jalan ceritanya.

    Sepintas dari judul terkesan sesuatu yg lucu dan biasa2x saja, juga dgn alur cerita yg sederhana, namun di akhir cerita ada pesan moral yang sangat filosofis. Akhirnya scr keseluruhan cerpen ini adalah bentuk satire dari sebuah pribadi yg hanya bisa ber-Cas-Cis-Cus tapi tak mengerti/paham dgn apa yg dia cas-cis-cus-kan.

    Itu kesan pribadi saya setelah membaca cerpen ini.

    Sangat salut kepada penulis cerpen ini🙂

    Salam

    Inge

    8 November 2011 at 23:58

  34. td nya aku ga ngerti maksudnya,,pas baca smpai ending..ketawa2 sendiri.. nice,pesan moralnya ngena bgd^^ like this!!

    rosondang

    18 November 2011 at 14:18

  35. Ringan..renyah…krenyes2….cerpen yg mengasyikkan….mirip S.Raga

    robay

    27 November 2011 at 09:54

  36. penyampaiannya simple. unpredictable. :3

    kucing senja

    11 Desember 2011 at 06:36

  37. hihi… astaga …😀 jempol deh!…

    Afsya Kemilau

    14 Desember 2011 at 12:49

  38. Sukaaa sekali!! Endingnya gak terduga!
    ^^

    Roffesa

    14 Desember 2011 at 16:06

  39. Alurnya jernih dan enak dibaca. Pesan moralnya mengingatkan kita untuk tdk terlalu silau dengan keduniawian, karena pada akhirnya kita akan menjadi sebongkah bangkai yg tak memerlukan apapun. Ini kisah khusus untuk meninju pipi ki Munar si tukang kawin dan memberi makan anak cucunya dari uang yang asalnya tak jelas. Bravo Aba…..Tp jngn melotot gitu dong topengnya, jd takuuuuut……

    Puska Tanjung

    21 Desember 2011 at 20:55

  40. Pak Aba..sy suka dgn cerpen ini..
    ending na sgt tak terduga..
    tp sy agak bingung…
    knp cis dan cus mentap munar dng tajam??

    lalala

    21 Januari 2012 at 21:27

  41. ahahaha… cerpen yang sangat cerdas, ringan buat dibaca dan berbobot dalam makna. buat pak aba: kejutkan lagi pembaca dengan karya2 bapak yg baru, tetap berkarya.

    che thovic

    22 Januari 2012 at 04:44

  42. suka cerpen ini…

    tetehsisi

    31 Maret 2012 at 11:47

  43. mnyentuh skali… imajinatif, tp satu lgi jdulnya trasa aneh, tapi keanehan judul itulah yg mrupakan nilai tambh bgi crpen ini. Semangat pak, salam brkarya.

    Vanessa Tiahahu

    9 September 2012 at 20:44

  44. bisa gak yaaa ngikutin jejak pak wali.

    hapex

    13 September 2012 at 17:52

  45. Gw Ъќ>:/ ngerti sama sekali

    sela

    26 September 2012 at 21:07

    • cukuplah saja anda berbangga utk gak ngerti… alih alih utk bersikap angkuh bahkan bertindak provokatif…

      bramastara

      3 Oktober 2012 at 20:43

  46. cerpen yg top markotop lezaaaat

    Suyono Sarno

    30 Januari 2013 at 10:43

  47. endingny Ga nyangka. Dr awal udah sukses bikin penasaran..

    fay

    19 November 2016 at 23:59


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: