Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ular Randu Alas

with 45 comments


Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. Seabad sudah pohon randu alas itu berumur. Aku menduga, pohon randu alas yang menjulang kokoh di tepi jalan pertigaan menuju perumahan tempat tinggalku berumur lebih dari seabad.

Sejak aku kecil, pohon randu alas itu telah tumbuh sebesar sekarang—empat rentangan tangan orang dewasa—rindang dan menggugurkan daun-daun kering kekuningan pada musim kemarau. Umurku kini enam puluh dua, sudah beberapa tahun pensiun, menjadi saksi pohon randu alas yang berdiri tegak, rimbun dedaunan, dan dianggap angker.

Seekor ular bersarang di rongga lapuk pangkal pohon randu alas yang menganga serupa gua. Bila diintip ke dalam gelap rongga pangkal pohon itu, tampak sepasang mata ular berkilau mengancam. Sepasang mata seekor ular yang siap mematukku, suatu saat bila aku terlena.

Sebatang pohon jambu biji tumbuh liar di bawah pohon randu alas—mungkin sisa hutan jambu yang ditebang habis untuk lahan perumahan. Dari dua cabang pohon jambu terjulur beberapa ranting dan bergelantungan buah-buah yang selalu ranum. Tak jauh dari pohon jambu, tumbuh pohon melati liar, bermekaran bunga-bunga putih mungil. Tercium lembut wangi tiap pagi.

Untuk cucu kesayanganku, Aini, kupetik buah-buah jambu ranum kesukaannya dan bunga-bunga melati yang dijadikannya sebagai mainan. Menjelang siang ia pulang sekolah taman kanak-kanak bersama teman-temannya, beramai-ramai makan buah jambu, dan bermain-main kembang-kembang melati yang kupetik.

Berada di bawah pohon randu alas, aku kadang merasa cemas. Dalam mimpiku enam tahun silam, seorang nenek keriput dengan tongkat kepala ular, mengutukku, ”Kau tega melukai ular penunggu randu alas. Tiba waktunya nanti, pada umurmu yang ke-62, ular itu akan mematukmu!”

***

Gairah untuk memetiki buah-buah jambu yang ranum, dengan merenggut ujung ranting dan menjulurkan tangan meraih buah-buah itu, menggetarkan tubuhku. Kutukan perempuan tua penunggu randu alas itu, yang datang dalam mimpi, sudah saatnya terjadi. Aku mesti menjemput takdirku. Bila memang harus mati dipatuk ular, biarlah aku merasakan sakit patukan ular yang dulu pernah kucederai, dan melata ke arah rongga pangkal randu alas, dengan ceceran darah di rerumputan.

Aku tak sengaja melukai ular itu. Cangkul yang kuayunkan untuk membersihkan rerumputan di bawah pohon randu alas dan meratakan tanah tak kusadari merobek daging seekor ular. Ular itu melata ke arah rongga pangkal pohon randu alas. Aku merasa tak bersalah. Kuteruskan mengayunkan cangkul, membersihkan rerumputan dan meratakan tanah.

Pohon jambu biji kubiarkan tumbuh di bawah pohon randu alas. Ada pula pohon melati yang masih kecil, yang tak kucabut. Kubiarkan tumbuh liar. Kuratakan tanah dan terus kutimbuni agar lebih tinggi. Akan kuundang tukang batu untuk mendirikan sebuah kios sederhana. Di kios itu aku akan menjual barang-barang kelontong dan kebutuhan sehari-hari.

Malam harinya aku bermimpi, nenek bertongkat kepala ular, menatapku dengan murka. Wajahnya bengis, sepasang matanya mengancam. Ia mengutukku. Ular penunggu pohon randu itu bakal mematukku pada ulang tahun ke-62. Begitu tegas kutukan nenek bertongkat kepala ular, seperti hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bukan terjadi dalam mimpi.

Mimpi burukku tak menghentikan pembuatan kios kelontong. Tiap pagi aku membuka kios, melayani pembeli, hingga malam larut. Mula-mula jarang orang berbelanja ke kiosku. Tapi lama-kelamaan, berdatangan pula orang-orang berbelanja.

”Kau tak takut akan digigit ular penunggu pohon randu?” tanya Lik Man, lelaki setengah baya, pencari rumput untuk kambing-kambingnya. Ia dulu menjual ladang jambu miliknya, yang didirikan perumahan, dan memilih pindah ke daerah perkampungan, dengan tanah yang luas. Di rumah baru, ia masih bisa bercocok tanam dan memelihara kambing. Ia paling sering mencari rumput di bawah pohon randu alas. Di sini rerumputan tumbuh subur, dan dalam waktu sebentar, ia sudah memanggul segulung rumput, yang diikat erat, diletakkan di bawah pohon jambu. Ia meneguk kopi di warung Yu Warso dan membeli rokok di kiosku. Di warung Yu Warso itu ia biasa ngobrol dan baru pulang menjelang siang.

”Kau selalu merumput di bawah pohon randu. Tak takut digigit ular?”

”Sejak muda dulu aku selalu mencari rumput di sini. Tak pernah kulihat ular itu. Yang selalu kutemukan cuma kulit ular, menjalar di rerumputan. Kau pernah melihat ular itu?”

”Aku pernah melukainya dengan cangkulku.”

”Hati-hatilah!” Lik Man meninggalkanku.

***

Tak seorang pun melihat Lik Man. Menjelang siang ia membawa sabit ke bawah pohon randu dengan rokok mengepul di bibirnya. Matahari sudah bergeser dari puncak pohon randu alas. Biasanya Lik Man meninggalkan bawah pohon randu alas, memanggul gulungan rumputnya pulang, setelah minum kopi dan makan pisang goreng di warung Yu Warso. Anak lelaki Lik Man mulai mencari ayahnya. Ia sempat menyapaku, sebelum menyusup ke dalam semak-semak.

Dari bawah pohon randu alas, kudengar ia memekik, ”Ayah meninggal!”

Kudapati Lik Man terbujur kaku, masih menggenggam sabit. Mulutnya berbusa. Kaki kirinya melepuh biru kehitaman darah beku. Terlihat dua titik bekas patukan ular. Darah ular berceceran di rerumputan, lenyap di rongga keropos pangkal pohon randu alas. Sabit Lik Man, secara tak sengaja, mungkin telah melukai ular penunggu pohon randu alas dan ular itu menggigitnya.

***

Melintasi pertokoan senja hari, di trotoar, sepulang dari belanja untuk keperluan kios kelontong, kulewati seorang penjual obat oles yang menggelar tikar, dengan ular dalam kotak kayu. Sama sekali orang lalu lalang tak menghiraukannya. Ia menawarkan obat oles untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tak seorang pun datang mendekat. Lelaki setengah baya bersorban putih, berjenggot, masih duduk dengan tenang. Aku sempat memandanginya, sambil menanti bus kota di halte.

Lelaki setengah baya bersorban itu melambai ke arahku.

”Kemarilah!” panggilnya.

Aku bimbang untuk mendekat. Sepasang matanya seperti menuntunku untuk menghampiri dan berjongkok di depannya. Dia memintaku untuk menjulurkan tangan kiri dan membuka telapak tangan. Ia baca garis telapak tangan itu.

”Kau perlu kekebalan,” kata lelaki penjual obat bersorban, sambil mengelus jenggotnya. ”Suatu hari kelak kau akan dipatuk ular.”

Teringat ular penunggu randu alas yang pernah kulukai, kutukan perempuan tua bertongkat ular dalam mimpi, dan kematian Lik Man yang dipatuk ular, aku merasakan degup dada yang mengencang.

”Kau dapat memberiku kekebalan?”

”Kalau kau yakin, insya Allah, tubuhmu akan kebal dipatuk ular,” lelaki setengah baya berjenggot itu meyakinkan. Aku mengangguk. Meminum segelas air putih darinya. Pergelangan kaki kananku diolesi minyak dan seekor ular dari dalam kotak kayu dikeluarkannya. Aku memejamkan mata. Begitu cepat terasa patukan dua gigi ular pada pergelangan kaki.

”Kau akan berkunang-kunang sebentar. Kaki kananmu mengejang, sulit digerakkan. Tak lama. Kau akan segera pulih seperti sediakala.”

***

Berjingkat-jingkat aku meraih buah-buah jambu. Masih kuingat kutukan perempuan tua bertongkat kepala ular. Pada hari kelahiranku yang ke-62, seekor ular akan mematukku. Aku sama sekali tak takut dengan patukan ular itu. Mungkin aku akan benar-benar dipatuk ular, sebagaimana enam tahun silam perempuan tua berambut memutih dengan mata murka itu mengutukiku dalam mimpi. Aku tak perlu ragu memetiki buah jambu yang ranum. Juga nanti akan kupetiki kembang-kembang melati untuk Aini.

Kalaupun seekor ular mematukku, tukang obat di trotoar pertokoan itu telah memberiku kekebalan. Gigitan ular tukang obat yang tak kukenal itu memang menyebabkan pandanganku berkunang-kunang, kaki kanan mengejang kaku. Darah seperti membeku. Tapi tak lama. Pandanganku kembali terang dan kaki kananku segera dapat kugerakkan. Kuberikan selembar uang dari dompetku, yang diterimanya dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Tiap kali aku berbelanja untuk keperluan kios kelontongku, selalu kucari dia. Tapi tempat ia menggelar tikar, obat-obat oles, dan kotak ular selalu kosong.

Harus kusambut hari ini, pagi ke-62 umurku, saat kutukan perempuan tua dalam mimpi itu akan terjadi. Kalau benar seekor ular itu mematukku pagi ini, mungkin seperti kata lelaki setengah baya bersorban penjual obat, aku akan kebal. Tubuhku hanya merasakan sengatan patukan ular itu, mata berkunang-kunang, bagian yang dipatuk akan terasa mengejang. Tak lama. Setelah itu aku akan leluasa bergerak seperti sediakala. Tapi kalau penjual obat itu berdusta, ketika ular penunggu pohon randu alas mematukku, tubuhku akan segera kaku seperti Lik Man.

Buah-buah jambu yang ranum terus kupetiki. Teringat aku pada cucuku, Aini, yang tinggal serumah denganku, akan pulang sekolah, aku bergairah memetiki buah-buah jambu. Ia suka membagi-bagikan buah jambu pada teman-temannya dan bahagia dipuji sebagai putri yang baik hati.

Aku meraih ujung ranting pohon jambu, meloncat, agar dapat menarik ranting itu dan memetik beberapa buah jambu ranum. Kakiku menginjak seekor ular. Ular itu menggeliat, mematuk kaki kananku. Aku tak sempat memekik. Terjatuh. Merasakan patukan ular yang menyengat. Mataku berkunang-kunang. Kaki kananku mengejang.

Mungkin aku akan segera bangkit dengan tubuh segar bugar seperti sediakala, tanpa luka dan rasa sakit. Mungkin tubuhku akan segera terbujur kaku, tergeletak di rerumputan, di bawah pohon randu alas, pohon jambu, dan bunga melati. Tapi, aneh, dalam pandanganku yang berkunang-kunang, kulihat Lik Man sedang merumput. Wajahnya bahagia sekali. Di seberangnya kulihat lelaki setengah baya bersorban penjual obat. Wajahnya tenang, penuh keyakinan, dan sepasang matanya teduh.

Dari jauh, samar-samar kudengar suara Aini memanggil-manggilku dengan suara yang riang, penuh harapan, ”Kakek, mana buah-buah jambuku? Petikkan juga bunga-bunga melati untukku!”

Pandana Merdeka, April 2011

Written by tukang kliping

4 September 2011 pada 13:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

45 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Good,

    chichiaja42gnw

    4 September 2011 at 14:27

  2. Cerita tentang kematian yang indah

    Ghadafy

    4 September 2011 at 15:51

  3. Bingung, jadi sebenarnya ‘aku’ tewas atau tidak?

    @HeruLS

    4 September 2011 at 21:32

  4. Kematian yang berarti hidup.

    Otang K.

    4 September 2011 at 22:35

  5. Kematian yang tak dianggap mati. Dan menunjukkan mati itu berarti masih hidupnya suatu ruh/nyawa.

    Otang K.

    4 September 2011 at 22:44

  6. Sebenarnya kurang unik, apa yang hendak disampaikan oleh penulis ini. Mungkin hanya kecemasan atas perbuatannya yang tlah mencederai makhluk Tuhan itu. Bagiku, dalam dunia sastra, cerpen ini lumayan juga. Buat pengarang: Salam kenal dan kreatif aja.

    Otang K.

    4 September 2011 at 23:00

  7. Keren….

    rozi

    5 September 2011 at 05:39

  8. sederhana, unik… saya suka karakter tokohnya dengan pemikiran yang naif (padahal sudah 62 tahun), seperti orang Indonesia kebanyakan

    Adhi

    5 September 2011 at 10:14

  9. Hhmm. . .
    Bagus, lumayanlah buat pengantar tidur. Hehehe. . .
    Tetap semangat buat pak pengarang🙂

    Iant16

    5 September 2011 at 14:15

  10. gtu doank,,,crta na,,,ko akhr ksh crta na g jlas

    mamiecintapapie

    5 September 2011 at 15:40

    • muka lo itu yg gk jlas

      ardy

      7 September 2011 at 15:27

  11. ikut sedih dengan endingnya………………………………………….hiks 3x🙂

    mataairmenulis

    5 September 2011 at 17:15

  12. Keseluruhan cerita memikat. Akhir cerita paling memikat. Si tokoh aku meninggal digigit ular dan bertemu dg arwah Lik Man dan tukang obat bersorban, yg ternyata jg telah meninggal–pantas saja si aku tidak menemuinya lagi di trotoar itu.

    Sutomo

    5 September 2011 at 20:48

  13. ga suka

    desi

    5 September 2011 at 22:04

    • Lo aj kli yg g bsa bcanya

      ardy

      7 September 2011 at 15:26

  14. twist ending, nice ^^

    Thole Sui

    7 September 2011 at 00:15

  15. berkesan! dan lebih berkesan lagi dengan komentar, mas adhi di atas: “sederhana, unik… saya suka karakter tokohnya dengan pemikiran yang naif (padahal sudah 62 tahun), seperti orang Indonesia kebanyakan”. hmmmm… begini naifkah?

    Reza

    7 September 2011 at 03:03

    • apakah aku jg termasuk?aku orang indonesia. termasuk kalleee… heee jangan diketawain

      hapex

      13 September 2012 at 18:38

  16. Good,,,,,,
    Tlong buat lgi cerpennya ya,,,,,,,,,,,,,,

    ardy

    7 September 2011 at 15:26

  17. endingnya pingsan..hehee..keren

    Nova Zhaerina

    8 September 2011 at 14:05

  18. Tokoh cerpen ini menjemput takdirnya dari kutukan dipatuk ular. Ambiguitas mitos pada akhir cerpen ini membawa tafsir ganda akan takdir hidup: bila Anda seorang fatalis akan memilih tokoh mati dipatuk ular; tetapi bila Anda seseorang yang dikaruniai etos penuh rahmat kehidupan akan mengimajikan tokoh tetap hidup karena ia memiliki kekebalan bisa ular. Ada kecenderungan cerpen belakangan yang melambungkan imaji tanpa akar mitos. Ada cerpen dengan pendahsyatan bahasa, tanpa tafsir simbol bahasa. Ada pula cerpen yang seakan-akan berakar pada mitos, ternyata secara intertekstual pernah dikerjakan sastrawan lain. Cerpen ini mengeksplorasi akar mitos di tengah masyarakat kita yang dilarutkan dalam alam bawah sadar tokoh.

    S. Prasetyo Utomo

    9 September 2011 at 07:19

    • Pak, kita anak-anak SMP yang lagi menganalisis cerpen Anda. Mohon pertolongan dan bantuannya yah… Boleh kita bertanya beberapa hal? Jika boleh tolong jawab…

      1. Pernahkah Anda membuat karya lain? Bila iyah, tolong beri tahu kita segera tentang karya-karya Anda dan kapan membuatnya.
      2. Apa inspirasi Anda membuat cerpen ini?
      3. Apa latar belakang pembuatan cerpen ini?
      4. Bagaimana masyarakat melihat Anda sebagai penulis yang terkenal?
      5. Apa pendapat Anda tentang cerpen “Ular Randu Alas”?
      6. Tema dari cerpen yang Anda buat ini apa?
      7. Dalam keadaan atau situasi apa ketika Anda membuat cerpen ini?
      8. Umumnya, apa tema yang Anda buat? Atau Anda selalu bikin temanya berbeda-beda?

      Tolong jawab dengan bahasa yang dapat kita mengerti, dalam arti, mudah dimengerti atau sederhana?

      Wolfieeeeeee Hazellllllll Elitaaaaaaa

      20 September 2013 at 13:44

  19. So? Si aku mati atau tidak?

    Rhara

    11 September 2011 at 21:23

  20. kok semuanya pada bilang dia mati sih?

    ahmad

    13 September 2011 at 02:14

  21. terus berkarya….!

    ecko'z

    13 September 2011 at 17:04

  22. bagus, kita tidak boleh sembarang melukai atau membunuh binatang.

    budi

    17 September 2011 at 20:58

  23. Yah, antillimaks. Saya suka cara penulis menggambarkan keadaan seseorang dipatuk ular. Sedikit demi sedikit membangun suasana yang mencemaskan, tapi ditutup dengan sesuatu yang indah.

    Noke

    19 September 2011 at 10:26

  24. terus berkarya paak…

    Naufal

    21 September 2011 at 18:51

  25. endingnya OK

    Hernowo Bayu

    23 September 2011 at 21:57

  26. Ardy jangan sewot sama tanggapan org soal cerpen ular itu. Memang naif kenapa kakek tua milih mati dipatuk ular seolah penulisnya merelakan tokohnya tak berotak-bego! Memang beliau perlu dikasih kesempatan mencari ide lagi atau penulisnya itu anda sendiri? Syukur juga dapat kesempatan dari Kompas yang memang suka sama cerpen yang agak nglantur itu/ nggak realistis itu!

    Jovian Andreas

    11 Oktober 2011 at 14:27

  27. weeewweewwweeewweeww *,*….

    siippp!!!!!!!!

    dhiella

    17 Oktober 2011 at 08:01

  28. Bagus…

    pancasona

    17 Oktober 2011 at 10:54

  29. hehehe, agus noor memang…😉

    cerpen 8

    22 Oktober 2011 at 08:06

  30. pohon randualas itu memang ada di kota saya lhoo, dan memang gak ada yang berani nebang, usianya juga udah ratusan taun hehe

    oriza

    24 Oktober 2011 at 18:23

  31. cerpen yang bagus, dihiasi kata2 yang indah dan ending yg sempurna. . .
    terus berkarya.

    che thovic

    22 Januari 2012 at 03:54

  32. si-aku gak mati, orang mati gak bisa cerita….
    hehe…..
    si-penulis adalah org yg sangat….sangat….sangat percaya dgn mitos, itu aja yg saya tangkap dari cerpen ini….
    thanks….

    altkhem

    25 Februari 2012 at 14:12

  33. Sang Penulis adalah seorang sastrawan Indonesia yang sangat hebat🙂

    Andi Kristian

    9 Oktober 2012 at 18:15

  34. Wah kerenn. Siup lah, kembangkan terus..

    Otang K.Baddy

    10 Oktober 2012 at 01:10

  35. […] Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. Seabad sudah pohon randu alas itu berumur. Aku menduga, pohon randu alas yang menjulang kokoh di tepi jalan pertigaan menuju perumahan tempat tinggalku berumur lebih dari seabad. (silakan baca) […]

  36. teringat kampung halaman ada pohon jambu yang ranum2, hem…… ceritanya menarik. kakek yang tetap semangat di usia 60an, suami yang giat cari nafkah dan seorang kakek yang baik hati.

    yeti wulandari

    14 Maret 2014 at 11:43

  37. terlepas dari komen. Ibuku dulu waktu aku kecil, konon pernah cerita ada ular besar di Alas Roban, sebesar pohon kelapa? Ibu cerita padaku. Ada seorang merumput yang melihat secara tak sengaja, melihat separuh badan ular yang telah sebagian tubuhnya masuk ke dalam sungai. Sang pencari rumput itupun..tak pikir panjang, lari tunggang langgang! Melihat Ular besar yang telah lumutan!!! Percaya gak percaya? Tapi kalimat orang tua biasanya benar!

    tarnno

    17 Juni 2014 at 05:07

  38. terus berkarya pak…..mantaap..banyak pelajaran yg dpt diambil dr tulisa2 bkp tks

    subur

    20 Agustus 2014 at 13:28

  39. yang lagi belajar atau mau jadi penulis skenario film cek di sini http://tintascreenplay.com/?id=edwin+sofyan

    Edwin Sofyan

    2 September 2015 at 16:56


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: