Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Wiro Seledri

with 44 comments


Berita lelayu yang diumumkan mesjid desa sesudah shalat subuh, mengejutkan saya. Mbah Prawiro meninggal dunia, padahal 3 hari yang lalu saya masih menjumpainya saat bersama ta’ziah di tetangga dekat rumah yang meninggal.

Bergegas saya menuju tempat tinggalnya. Setibanya di gubugnya, terlihat tidak banyak orang yang melayat. Hanya ketua RT setempat, beberapa hansip, pengurus mesjid, dan seorang polisi. Mbah Prawiro terbaring di atas ranjang bambu beralaskan tikar pandan yang sudah lusuh, diselubungi selembar kain batik. Di dalam ruangan yang cuma 3×4 meter yang sekaligus sebagai rumah tinggal dan dapur, di sekelilingnya teronggok kompor minyak tanah, periuk nasi, panci aluminium, dan dua buah cangkir dan piring kaleng.

Pak Min, penjaga palang rel kereta api mengisahkan, tadi sehabis shalat subuh, mbah Wiro, begitu biasa dipanggil namanya, berjalan pulang seperti biasanya lewat sepanjang rel kereta. Waktu itu adalah saatnya kereta dari Jakarta menuju Solo Balapan akan lewat. Sementara dia menutup palang rel kereta, dari sinar lampu kereta yang datang terlihat bayangan mbah Wiro yang masih berjalan di tengah rel. Pak Min berusaha mengejar sambil berteriak memanggilnya, tetapi mbah Wiro semakin cepat melangkah sambil mengucapkan Allahu Akbar dan merentangkan tangan. Dan terjadilah, mbah Wiro terpental ke sawah di samping rel.

”Tidak banyak lukanya, hanya di dada dan kedua kaki patah” jelas pak Min.

***

Sebetulnya belumlah bisa disebut rumah karena masih berupa gubug bambu beratap rumbia tak jauh dari rel kereta, seluas tak lebih dari 12 meter persegi, dengan secuil tanah sekeliling teritisannya dipenuhi tanaman sayur seledri yang rimbun, adalah tempat tinggal mbah Wiro yang telah dihuninya lebih 10 tahun. Dengan penghuninya yang sepertinya menyimpan misteri ini, sangat menarik perhatian dan keingintahuan saya.

Konon mbah Wiro adalah eks tahanan politik yang telah belasan tahun mendekam di tanah buangan jauh di belahan timur negeri ini. Usianya mungkin hampir 80 tahun. Setiap kali, dengan tertatih-tatih berjalan sambil membawa segepok sayur seledri untuk di jual ke pasar. Inilah kemudian yang mebuatnya disebut juga mbah Wiro Seledri.

Pertama kali saya berjumpa mbah Wiro, sewaktu berta’ziah seorang kerabat yang meninggal beberapa tahun lalu. Saya perhatikan, sementara jenasah sedang dishalatkan, dia duduk menyendiri, dengan mata rapat terpejam, kedua tangan dalam sikap mau shalat, nafas hampir tak terdengar. Kemudian ketika jenasah dimasukkan ke liang lahat, dia pun berhal demikian. Ternyata beberapa kali, setiap kali ada warga yang meninggal, saya menjumpai hal yang sama, sehingga mengusik hati dan penasaran untuk ingin tahu, apa sebenarnya yang dia lakukan.

Dari pak lurah, saya dengar bahwa mbah Wiro memang rajin melayat siapapun warga yang meninggal, kenal maupun tidak kenal. Sehingga kadang orang mencibir, itu kan hanya mencari suguhan teh dan sepotong kue dari keluarga yang berduka. Tetapi warga desa kami jarang mengadakan suguhan seperti itu. Kalaupun ada saya lihat mbah Wiro tidak menyentuhnya. Ini yang mendorong saya makin ingin tahu tentang dia.

Kesempatan itu datang saat ada acara pemakaman di desa sebelah. Kami pulang bersama meniti pematang. Secara tidak langsung saya bertanya tentang doa untuk orang meninggal. Dia menatap saya agak lama, sepertinya ingin mengatakan, ”Kan kamu sendiri sudah tahu!”

”Begini nak mas, saya berdoa untuk yang meninggal dan untuk saya sendiri,” jelasnya, ”Saya berbuat seperti yang nak mas perhatikan, karena dalam kegelapan mata terpejam kita bisa lebih banyak melihat.”

Saya terperangah sejenak.

“Maksudnya mbah.”

Dia hanya tersenyum dan bergegas menuju gubugnya.

Ah, gila rasanya dengan semakin besar keingintahuan saya akan misteri orang sepuh ini. Saya pun jadi rajin mendatangi acara pemakaman siapa saja untuk bertemu mbah Wiro. Mungkin teman-teman saya sudah menganggap saya ini pengikut ajaran mbah Wiro. Waktu saya tanyakan dalam kegelapan apa yang ingin mbah Wiro lihat.

Izroil!

Wah, makin gila saya mendengar jawabannya. Malaekat maut?!

Akhirnya saya paksa diri saya pada suatu hari berkunjung ke tempat tinggalnya.

”Nak mas masih muda. Dalam usia seperti saya, yang telah menjalani perjalanan hidup yang kelewat panjang adalah saat untuk merindukan ketenangan. Saya tahu malaekat Izroil akan selalu hadir saat orang meninggal”

Saya masih belum mengerti maksudnya

”Mbah pernah melihat Izroil?”

Dia menatap saya agak lama dengan muka serius. Seakan bergumam pelan dia berkata:

”Saya rasa sudah saatnya kaum muda mengerti akan perjalanan sejarah kelam yang telah terjadi di negeri ini?”

”Sudah pernah!” ujarnya kemudian dengan tegas

”Sekitar 40 tahun lalu, pasti nak mas belum lahir, hal itu terjadi. Bersamaan dengan munculnya lintang kemukus di langit menjelang tengah malam, itu pertanda bahwa dajal menguasai kita. Oleh dendam yang tak jelas, ribuan saudara kita dimakan pedang dan clurit.”

Saya belum menangkap maknanya.

Mbah Wiro berbalik sejenak, menyiapkan teh hangat yang kemudian disodorkan ke saya. Dia sulut rokok kawungnya, diisapnya dalam-dalam. Asapnya menyembur ke seluruh ruangan, membuat saya sedikit terbatuk-batuk. Dia ucapkan maaf dan menyilakan saya minum. Saya agak mengernyit menghirup teh yang pahit benar di lidah saya.

”Nak mas, kepahitan hidup bisa menjadi permulaan kemanisan hidup. Juga kemanisan hidup bisa juga menjadi permulaan kepahitan hidup.”

”Maksudnya?”

”Semasa muda saya hidup senang sebagai petani dengan sawah warisan orangtua yang luas. Hidup sangat kecukupan. Tapi kita manusia suka lupa diri, kurang mensyukuri nikmat Allah. Sawah ludes dalam judi sabung ayam. Jatuh ke tangan orang kaya yang banyak orang menyebutnya seorang tuan tanah. Akhirnya jadilah saya cuma sebagai petani penggarap. Dalam kesulitan hidup ini, sebuah organisasi persatuan para petani datang sebagai dewa penolong, paling tidak menolong saya lebih bersemangat dalam menghadapi hidup. Organisasi ini menjanjikan perjuangan untuk memperbaiki kehidupan petani, dengan melawan apa yang disebut setan desa, seperti rentenir, tengkulak ijon, dan apa saja yang merugikan kaum tani, termasuk melawan tuan tanah. Saya aktif di dalamnya sebagai ketua ranting desa…Yang baru kemudian saya tahu, bahwa organisasi ini mendapat julukan onderbow partai terlarang, oleh pemerintah!”

Mbah Wiro menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafas panjang, kemudian meneruskan:

”Dan pertanda lintang kemukus malam itu terbukti. Petaka besar terjadi. Hanya dengan tudingan terindikasi partai terlarang saja, saudara-saudara kita dibantai oleh sesama saudara. Perburuan telah membuat desa ini banjir darah. Nyawa manusia lebih murah dari nyawa ayam. Pak lurah memang menasehatkan saya untuk melarikan diri, karena menurut dia saya sudah masuk daftar. Tapi saya enggan. Sampai suatu tengah malam segerombolan orang berseragam membawa senjata laras panjang dan beberapa warga menyandang pedang dan clurit terdengar bergerak menuju tempat tinggal saya. Istri saya suruh sembunyi di semak-semak kebun belakang, sedang saya di ladang jagung, tak jauh dari depan rumah.

Setelah mereka menggeledah rumah ternyata kosong. Seorang dari mereka berteriak: Ladang jagung! Jadilah tanpa pikir lagi saya lari. Terus saja lari, meskipun dari jauh terdengar jeritan dan tangisan minta ampun istri saya. Lari menerabas apa saja, sampai nafas hampir habis, sampai jatuh terjerembab di bantalan rel kereta di pinggir desa.

Kemudian dengan sisa tenaga yang ada, saya susuri rel hingga sampai stasiun di batas kota. Saya mungkin pingsan. Setelah sadar saya sudah terbaring di tengah beberapa pemuda berbaju loreng seperti aparat. Saya dibawa ke suatu rumah besar yang penuh pemuda berseragam sama, tetapi saya rasa mereka bukan ABRI, karena hanya menyandang pedang dan clurit. Di sana saya benar-benar merasa akan dihabisi oleh sesama saudara!”

Sampai di sini, saya berpikir mana hubungannya dengan Izroil? Yang saya tahu hanyalah cerita guru tentang pemberontakan G30S sewaktu di sekolah menengah.

”Setelah disekap satu hari, tengah malam saya dinaikkan truk bersama banyak orang tangkapan lain,” lanjut mbah Wiro. ”Dengan tangan terikat dan mata tertutup kain hitam kami dibawa entah ke mana. Kami diturunkan di tempat yang saya pikir pasti hutan karena saya mendengar suara gemerisik dedaunan yang kami lewati. Kami dibariskan satu-satu disertai tendangan dan makian. Sebentar-sebentar kami disuruh maju selangkah. Dan sebentar-sebentar terdengar jeritan mohon ampun serta suara benda berat jatuh ke air. Saya semakin pasti bahwa saya akan dibantai. Ya Tuhan ampunilah segala dosa kami, tolonglah kami. Giliran saya tinggal maju setapak lagi. Saya tengadahkan muka sambil menangis, doa saya tak henti-henti. Dalam kegelapan mata tertutup, saya melihat seorang berjubah hitam mengendarai kuda di angkasa dan menoleh, sekejap tersenyum kepada saya….

Tiba-tiba terdengar tembakan gencar dan langkah-langkah berat berdatangan. Tembak-menembak terjadi. Tanpa komando kami tiarap. Teriakan kematian bersahutan. Sesaat kemudian berhenti.

Ternyata yang datang benar-benar anggota ABRI yang melepaskan tutup mata dan tali ikatan kami. Terdapat ada beberapa orang pemuda sedang sekarat dan seorang benar-benar meninggal tergeletak dengan sebuah kapak besar masih di tangan. Dan ya Allah, sebuah gubug pembantaian itu terletak di bibir sungai besar di mana menurut kisah lama Joko Tingkir telah mengalahkan 40 ekor buaya di sungai itu!

Itulah permulaan jalan panjang saya menuju tanah pengasingan di sebuah pulau yang jauh di sebelah timur sana”

Badan saya merinding membayangkan kisahnya. Saya jadi ragu dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi dengan kengerian yang digambarkan film Pengkhianatan G30S/PKI yang diwajibkan oleh pemerintah untuk semua warga sampai anak sekolah harus menonton.

Melihat wajah mbah Wiro yang tampak letih, saya mencoba mengalihkan pembicaraan:

”Wah hebat. Sayur seledrinya subur amat mbah.”

”Darah dan daging saya seorang petani,” ujar mbah Wiro manggut-manggut, ”Tuhan menganugerahi setiap umat, kemampuan untuk bertahan hidup dalam keadaan apa pun.”

”Termasuk semaktu di tanah pengasingan mbah?”

”Benar nak mas. 12 tahun memendam perasaan kesendirian, kesepian, kengerian keadaan ribuan tahanan yang tak lepas dari kekerasan petugas, jaminan hidup tak memadai, harga diri sebagai manusia dihabisi, dan segala yang rasanya membikin hilang harapan. Tetapi ternyata itu semua makin memperkuat ketahanan kita untuk hidup. Meskipun kami ditempatkan di daerah perbukitan yang gersang. Tanaman yang tumbuh banyak hanya pohon kayu putih.

Semula memang tidak tahu apa yang akan saya buat, tapi akhirnya sadar bahwa kami dibuang di sini, mungkin demi mengurangi beban pemerintah untuk memberi makan kami. Itulah yang membuat kami semua merasa mempunyai satu ikatan kekeluargan yang erat. Kami mencoba bercocok tanam padi, tebu, jagung, ubi, dan kacang, Hasilnya kami konsumsi bersama. Meski kekurangan pupuk, tanaman kami cukup memuaskan.”

”Lalu dengan pupuk apa mbah” tanyaku asal-asalan.

”Sedikit ZA dicampur air tinja!” jawabnya serius. Saya tersenyum mendengar jawabannya. Tetapi wajahnya berubah sedih seperti hampir menangis.

”Tinja memang kita anggap barang paling hina dan menjadi santapan enak bagi babi.

Tapi benda itu yang membuat saya bisa bertemu Izroil lagi!”

Mbah Wiro tercenung beberapa saat, kemudian mendekatkan wajahnya padaku, sambil ujarnya pelan:

”Suatu hari, selepas menyiangi tanaman, perut saya berontak, yang membuat saya tak tahan buang air besar di sungai yang tak jauh dari barak. Tiba-tiba sebuah bedil menyalak, pelurunya hampir menembus kepala saya. Segera saya lari menuju barak, ternyata petugas bersenapan tadi sudah menunggu saya. Dengan tendangan saya dipaksa mengambil tinja yang sudah terapung di sungai. Dan di depan teman-teman dia paksa saya merangkak, dengan tendangan bertubi-tubi serta ancaman senjata, saya harus melahap tinja bagaikan seekor babi.

Selama seminggu hati saya menangis. Ketabahan saya selama ini runtuh. Betapa hinanya harga diri saya sebagai manusia. Sehingga tak tahan saya untuk tidak menyiapkan tali. Sewaktu jeratan tali mencekik leher dan sudah tak sadarkan diri sekilas seorang berjubah hitam mengendarai kuda di angkasa menoleh dan tersenyum kepada saya. Tiba-tiba teman-teman menolong menurunkan saya!”

Mbah Wiro diam sejenak, berkata pelan seperti pada dirinya sendiri:

”Ya sebetulnya dijadikan babi tidaklah seberat ketika telah dipulangkan dari sana. Saya menerima kenyataan tidak lagi bisa menjumpai rumah dan istri serta sanak keluarga saya.”

Seakan ada sesuatu yang menyesaki dada saya mendengar kisah terakhir ini. Lama kami terdiam. Mbah Wiro melepas nafas panjang dan memandang jauh ke depan, ke arah rel kereta di depan rumah. Sambil menunjuk sepasang rel kereta yang lurus sampai ujungnya tak terlihat, ujarnya:

”Lihat nak mas! Perjalanan hidup ini ibarat dalam kereta di atas rel lurus dengan tujuan yang sudah pasti di ujungnya. Kita tidak bisa membelokkan sendiri ke arah lain!”

Kami ngobrol apa saja sampai menjelang magrib. Sebelum meninggalkan rumahnya, saya sempat bertanya setengah bercanda:

”Omong-omong bagamana wajah malaekat itu, mbah?”

”Itu rahasia Tuhan!” jawabnya tegas.

Sesampai di depan rumahnya, saya memperhatikan tanaman seledrinya yang nampak benar sangat subur, saya bertanya pula:

”Pupuknya apa mbah?”

Dia hanya tersenyum kecil, sambil berbalik ke rumahnya.

Sehabis pertemuan itu, sekian lama saya tidak menjumpainya, sehubungan dengan tugas saya ke ibu kota. Hingga suatu hari secara kebetulan saya bertemu mbah Wiro sedang berjalan ke pasar sambil membawa segepok sayur seledri. Basa basi saya menyapa dengan bertanya apa kabar.

”Semalam saya bertemu dengan malaekat Izroil, dan dia telah mengabulkan permohonan saya tentang kerinduan yang selama ini saya dambakan” jawabnya sambil tersenyum. Tapi senyum itu! Senyum itu terasa sangat aneh.

***

Sehabis dzuhur jenasah mbah Wiro diberangkatkan ke pemakaman di pinggir desa. Pelayatnya hanya bisa dihitung dengan jari. Saya ikut mengusung kerandanya.

Sewaktu jenasah diturunkan ke liang lahat dan ketika kain kafan di wajahnya dibuka, saya sempat melihat wajahnya. Wajah yang tenang dan nampak tersenyum. Saya rasa mbah Wiro Seledri telah bersama malaekat Izroil ikut menunggang kuda di angkasa!

Klaten, 2011

Written by tukang kliping

10 Juli 2011 pada 08:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

44 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagus. Saya suka.

    argha

    10 Juli 2011 at 09:33

  2. saya penasaran,pemuda berseragam loreng dengan clurit itu siapa?

    pns

    10 Juli 2011 at 10:36

  3. Fantastis. Kejadian G30S memang wariskan sejuta misteri. Dan cerpen ini tunjukkan sisi yang ernafi dari sejarah.🙂

    jengbu

    10 Juli 2011 at 10:56

  4. G30S merupakan tragedi kemanusian bagi bangsa Indonesia terutama buat orang2 seperti mbah Wiro. Seharusnya pemerintah membuat pernyataan (setidaknya) penyesalan terhadap tragedi tersebut. Dengan demikian memastikan bahwa tragedi tersebut tidak akan terjadi lagi Salam dan simpati buat para korban G30S.

    anas

    10 Juli 2011 at 13:59

  5. hihii, bagus cerpen’a..

    miris ya, manusia diperlakukan seperti binatang,, errrgg,

    Nyla Baker

    10 Juli 2011 at 15:47

  6. hmmm .

    abdi procel

    10 Juli 2011 at 18:19

  7. saya selalu suka cerpen berlatar PKI…. baik Phutut EA, Martin A, atapun GM Sudarta (Candik Ala, Yu Sum. dll)

    teguh

    10 Juli 2011 at 18:29

  8. mana nih paman bermulut besar dan penulis stensilan? lama gak ngoceh porno di sini..

    bulik

    10 Juli 2011 at 18:33

  9. pahit, pahit sekali pengalaman mbah wiro… dan berhasil tertuang dengan apik dalam cerpen ini dan menyesakkan dada saya membacanya

    Adhi

    10 Juli 2011 at 20:10

  10. Lumayan sekali, saya membacanya sampai merinding. Namun, sangat disayangkan untuk mengupas peristiwa dan tragedi setabu dan paling menghentakan ini, anda menuturkanya terlalu sempit dan kurang lugas serta masih dangkal sekali penafsiranya karena sangat terkesan sangat murah dan mudah ditebak kemana terbangnya. Saya katakan masih kurang powerful. Secara perpindahan episodik sangat menarik dan saya tertarik. Selebihnya sangat hambar. Tentu ini bukan bacaan buat orang seperti saya, dan saya menganggap cerpen ini tidak lebih dari bungkus goreng tempe. Mohon maaf!

    Dasuki Ruslam

    10 Juli 2011 at 21:16

    • Tidak lebih dari bungkus goreng tempe ?
      Benarkah ? Selanjutnya, saya akan bertanya dapatkah anda membuat karya nyata yang lebih baik dibanding bungkus goreng tempe ?
      Semua orang memang memiliki sudut pandang mereka tersendiri, tapi untuk bagian “tidak lebih dari bungkus goreng tempe”, itu merupakan sebuah penghinaan.
      Tidak kah anda menyesalinya ?

      Indonesian17

      16 Mei 2014 at 19:58

  11. Mantap, saya sll suka cerpen2 kompas…

    Mustofa Abdul Kodir

    10 Juli 2011 at 22:49

  12. Fenomenal! Sebuah kisah yang mudah dibayangkan kemana larinya namun agak liat untuk dibuat kesimpulan secara sembarangan.
    Serta merta badan paman menggil selepas membaca kata angkasa. Bukan perkara 5 jam semalaman dilewati untuk berhubungan badan dengan bini muda! Tidak juga akibat nikmatnya hasil karya alam itu sampai menjular ke ubun2 hingga badan paman keram, lemas, loyo tak bergerak. Itu semua sama sekali tidak ada kaitanya dengan badan paman yang meligih setelah mencermati anak muda punya cerpen ini. Seperti biasa, paman selalu menabung hormat kepada cerpen yang mampu menggali ingatan paman. Tidak peduli seberapa dalamnya. Pada jaman itu, usia paman sepantaran bahkan lebih muda barang kali daripada wiro sableng mantan tahanan politik tokoh ini. Saat itu, usia paman kira-kira 18 tahun, paman masih ingat jelas semua gadis super cantik di seluruh wilayah Kecamatan berduyun duyun tanpa ampun selalu main ke rumah paman untuk mengambil hati paman muda. Mereka rela menyerahkan jiwa raga kepada paman. Mereka saling sikut menyikut berebut paman. Kalau mau, mudah sekali bagi paman melampiaskan beban hidup kepada mereka, untuk menjajal satu persatu tubuh mana di antara mereka yang paling kenyal. Tetapi, beruntung paman tidak memiliki sama sekali mental bajingan tengik. Uniknya, para orangtua mereka mendewa2 kan paman dan sangat menginginkan paman untuk menjadi menantu mereka. Tentu saja itu semua terjadi karena rupa paman ganteng tidak terbantahkan, yang sampai hari ini tidak lenyap terampas usia. Sungguh, masa yang paling indah.
    Tetapi, dari cerpen ini jua lah terbesit kembali sebuah ingatan yang dapat menyesakan dada, mengiris2 hati, serta membasahi kedua bola mata dan lubang hidung. Keadaan politik Indonesia yang gila dan di luar akal sehat manusia bahkan tai dan babi pun lebih mulia daripada orang2 picik ketika itu. Krisis multi dimensi yang panjang, panjang sekali bagi paman atau mungkin orang yang pernah bernafas di tahun2 itu. Dalang utama yang memeriahkan jalannya acara pun sampai detik ini belum terungkap secara gamblang dan blak-blakan. Ironis, tentu saja!

    Paman sudah melahap berbagai literatur dengan judul mengungkap tragedi..bla..bla. Tetapi menurut paman sama sekali kurang bahkan jauh dari akurat, tidak kuat mengenai datanya. Dan bahkan lebih kuat dengan yang paman alami. Segala puji paman sampaikan untuk anak muda punya cerpen ini. Cerpen sederhana yang lumayan punya gizi. Kemasan yang penuh daya tarik, tidak seperti kebanyakan cerpen yang berupa teks biasa dan dengan mudah lenyap begitu saja setelah dibaca bahkan untuk mengingatnya pun tidak sudi. Tetapi itu semua tidak terjadi pada cerpen ini, karena sungguh sangat enerjik. Cerita ini mampu mengacak-ngacak arsip masa lalu paman. Tiada kata selain menarik. Bercanda? Tidak! Salah ketik? Tentu saja tidak! Meskipun secara jujur dan terus terang paman katakan, cerpen ini sangat kaya akan caci maki, bahkan mengandung puluhan bahan yang siap saji untuk dihina. Banyak sekali kekuranganya. Namun, sekali lagi kerana kesederhanaan pengemasan cerita penulis telah berhasil mencongkel pikiran paman sejenak ke masa lampau kehidupan paman yang hitam putih dan mampu mengingatkan paman pada kematian, yang mungkin besok atau lusa. Karena untuk hari ini saja nafas paman sudah terasa berat. Kini tidak terasa dari masa itu sampe sekarang Paman akan ditutup kayu rapat-rapat, ditenggelamkan tanah. Dililit cacing, dihabisi belatung, digenangkan air, untuk kemudian rohnya didamparkan bersama para bidadari yang molek-molek di surga dan bukan main mungkin nikmat sekali untuk dicicipi. Semua peristiwa menyedihkan itu tetap menjadi peristiwa. Hukum sama sekali tidak bisa bergerak. Sekali lagi ini cerpen yang enerjik* semua itu yang membikin cerpen ini memiliki harga yang harus paman bayar secara kontan berupa sedikit pujian!

    Paman

    11 Juli 2011 at 07:47

    • banyak omong, dari cara ngomongya saja, ketahuan kalau omonganmu: cabul

      banyakomong

      11 Juli 2011 at 16:04

    • Paman saya suka kritik dan telaah paman di cerpen minggu…
      NAMUN saya semakin ngiris dan jijik kalau selalu saja komen paman di-prolog-i dengan kisah ranjang paman dengan istri…..
      Krisdayanti saja bilang “urusan ranjang bukan konsumsi publik”…

      Selebihnya selalu mencermati telaah dan kritik paman….
      Semoga kritiknya tidak dibumbui cerita2 ranjang
      Nuhun

      teguh

      11 Juli 2011 at 16:56

    • Sa;lam kenal. Mohon maaf, Paman, apanya yang fenomenal? Penjelasan Paman yang cukup panjang tak cukup kuat untuk meyakinkan bahwa cerpen ini fenoemenal. Anda malah menyusupkan “informasi” yang tak penting dan tak ada hubungannya — perkara hubungan badan dll. Saya kira cerepen ini masih berat untuk disebut karya sastra yang kuat. Apalagi 15 tahun terakhir lahir banyak tulisan non fiksi terkait pembataian 65 yang sebagiannya lebih nyastra. Tabik.

      Eka

      15 Juli 2011 at 01:16

    • paman kesannya sangat profesional ya

      me

      16 Juli 2011 at 13:23

  13. Idenya jelas, tetapi cara penyampaiannya–maksudnya, cara penulisannya sebagai karya “menuju-sastra” masih pas-pasan. Mungkin karena GM Sudarta adalah seorang kartunis dan bukan penulis. Tampaknya editor cerpen Kompas yang sekarang tidak menerapkan standar ketat dalam aspek kerapian penulisan, penggarapan dramatik, apalagi kematangan filosofi cerita. Cerpen apa saja dimuat. Apakah demi “demo-crazy”, agar tak ada lagi tuduhan “penulis Pusat-daerah”, “kampiun-anak baru”?

    Kritik ini terutama ditulis karena cerpen ini dimuat di Kompas, yang secara berlebihan acap kali dibebani harapan terlalu tinggi sebagai “CERPEN KOMPAS”.

    Mengenai cerpen ini, jujur saya katakan, di koran mana pun, cerpen ini belum layak untuk diterbitkan. Bukan karena jelek, tetapi terlebih karena penulisnya masih butuh waktu banyak untuk mengasah pena, agar lebih rapi menyusun kata, tata bahasa, dan menata anasir dramatik ceritanya. Kekuatan sastra tak bisa lepas dari kekuatan bahasa. Ini nilai mutlak. Bukan skeadar bikin haru.

    cai-cai

    11 Juli 2011 at 07:50

  14. tema besar
    verbal
    klise
    aku gak merasakan hubungan bagian satu dengan yang lain, seperti bberapa penari yg menari seragam tp g sinkron
    data yg kuat diejawantahkan mentah scra teknis

    gide buono

    11 Juli 2011 at 11:47

  15. syahdu, dasyatt, syarat akan makna…..
    yang pentingg……….
    bisa dimengerti oleh aku yang sangat awam ini….
    salutee dachh…

    nangningnung

    11 Juli 2011 at 12:54

  16. @cai cai: mungkin benar kita sering agak overrate sama CERPEN KOMPAS

    gide buono

    11 Juli 2011 at 20:28

  17. benar-benar mengesankan, membuat saya bertanya dan ingin tahu tentang kisah-kisah saat masa lintang kemukus jatuh

    miers

    12 Juli 2011 at 07:54

  18. […] Wiro Seledri […]

  19. saya sudah terlalu banyak membaca cerita berlatar G 30 S

    miftah fadhli

    12 Juli 2011 at 17:32

  20. Menanggapi masalah over rating yang kawan-kawan perbintjangkan pada kesempatan kali ini. Saya sedikit heran. Mengapa? Karena seberapa over dan down-nya seseorang berpendapat kepada suatu karya adalah hak penuh seseorang. Tidak kemudian lantas serta merta ditekan agar seirama dengan pendapat yang kita miliki. Contohnya, ujung-ujungnya menjurus kepada mengajak menghina, atau turut memudji.
    Sama seperti musik, saya sering karena heran dan terganggu berat, akhirnya berkunjung mendatangi pemusik Indonesia. Seperti Dewa juga yang lainya, yang sekiranya merusak gendang telinga. Ketika saya bertanya kepada Ahmad Dani, “Dan, kenapa karya-karya elo sering mengutip Kahlil Gibran?”
    “Memangnya kenapa, Prof?”
    “Tidak mengapa. Hanya, instrumental dengan syair tidak cocok, artinya musikmu hanya akan bayak membunuh makna dan keindahaan karya Kahlil saja yang sudah begitu hidup.”
    Sampai dialog lama, tapi dia tetap tak acuh. Dia keras kepala mempertahankan egonya.
    Tentu, meskipun kesal saya tidak lantas marah kepada dia! Meskipun saya merasa tersinggung berat, dan martabat saya diinjak-injak karena sebuah syair Kahlil Gibran dicomot-comot dan dituangkan menjadi lagu yang tidak cocok di telinga mana pun dan dalam keadaan apapun, saya tersinggung berat! Tapi, tetap saya toleran.
    Melihat contoh di atas, marilah kita berfikir dewasa. Marilah sama-sama melangkah berkarya tanpa ada istilah saling kebut dan saling tunjuk. Selebihnya, terima kasih.

    Prof. Dr. Dasuki Ruslam

    12 Juli 2011 at 22:35

    • Usul Prof, selain mencomot, kalau ketemi lagi tolpng bicarakan asoal “keterpengaruhan”. Coba bandingkan struktur atau kompisisi sejumlah lagu Dewa dengan sejunmlah lagunya Queen. Terimkasih. Salam.

      Eka

      15 Juli 2011 at 01:21

  21. Cerpen ini menyuguhkan kekuatan sejarah yang tidak bisa kita bantah. Membuat kita lebih menghargai sejarah dan manusia-manusia masa lalu. Kita harus belajar mengenai masa lalu dari bangsa kita. Dimana sebagian orang dengan beringasnya memeperlakukan manusia lainnya seperti binatang hanya atas dasar karena melawan pemerintah/tidak sejalan dengan misi pemerintah.
    Terima kasih telah memberikan perenungan, pencerahan serta pemaknaan yang dalam kepada saya menganai sejarah bangsa ini, dengan kemasan yang begitu menarik.

    Pandela

    13 Juli 2011 at 06:14

  22. Semua cerita membuat dunia menjadi penuh warna. Sisanya hanyalah masalah selera…..

    smarandanan

    13 Juli 2011 at 13:56

  23. ceritanya bagus, simple, plot jelas dan unik walaupun bukan tipe saya. penuturannya biasa saja, rapi, lumayan menarik.
    sastra kan nggak selalu harus ‘berbahasa nyastra dalam pengertian awam tentang sastra’, kayak kata-kata yang dipoles-poles, deskripsi mendayu-dayu yang sebenernya nggak penting, ungkapan-ungkapan dan tata kalimat yang kesannya ‘profesional’, dll.
    yang penting dari hati.

    me

    16 Juli 2011 at 13:18

  24. lepas dari masalah ahmad dhani,sehati2 apapun seorang penulis untuk merangkai kata2,pasti dari sudut pandang pembaca(entah suka atau tidak) ada aja yg menganggap itu plagiat,karna tiap2 pembaca punya imaji sendiri2…mengira saja cukup,tanpa harus menuduh plagiat apa gak.
    Kalo soal ahmad dhani gasah ditanya bro…haha….

    adikobonks

    16 Juli 2011 at 14:16

  25. saya unduh buat tugas kliping saya ya? hehe trims🙂

    Nur Fahmia

    17 Juli 2011 at 10:44

  26. pak GM, saya cuma mau tanya, setting sungai yang dipakai untuk pembantaian itu di mana? Bukankah tempat Joko Tingkir mengalahkan buaya itu di daerah Nambangan? Saya juga mau tanya, seberapa melek politiknya Lik Wiro Seledri ini? Sehingga dia menyebut kata-kata “underbow”?

    Abednego Afriadi

    18 Juli 2011 at 10:05

  27. INI CERPEN ATAU BUKAN SIH!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    RYAN

    18 Juli 2011 at 19:48

  28. okelah bagus
    hingga memaksaku menuliskan ini
    buat yg sirik, jngn bnyk bacot dch lo lo pada..
    Cri ja q di pencuripena.net

    eksplen

    19 Juli 2011 at 07:44

  29. Sudah saya duga PKI. Tapi, jadinya intinya itu apa yaaa?! #bingung

    Peri Mati

    23 Juli 2011 at 16:43

  30. ok,
    selalu suka sama cerita dgn latar belakang sejarah negeri.
    jadi menambah kekayaan perspektif yg manusiawi.

    @HeruLS

    5 September 2011 at 15:51

  31. kalo menurut saya yang mudah du pahami itu yang saya suka.cerpen ini mudah untuk di pahami dan dimengerti…..!

    ecko'z

    13 September 2011 at 18:40

  32. Cerpen ini bagus.. Penulisnya siapa ya..??

    Putriza Putri

    19 September 2011 at 13:07

  33. Awal saya baca bahwa si mbah adalah mantan tahanan, saya langsung menduga bahwa cerpen ini pasti ada unsur PKInya. Hmm, walau kelanjutan cerita lebih membahas proses katarsis si mbah wiro dengan pengalaman kematian ya.

    yang bikin saya penasaran, kenapa ya si mbah memutuskan untuk bunuh diri? Hm, hm, apa mungkin karena ia terlalu lelah menjalani hidup ini? atau karena dia terlalu sering memiliki pengalaman yang dekat dengan kematian?

    ariosasongko

    18 Desember 2011 at 01:26

  34. Kurang suka dengan cara penuturannya yang aku anggap monoton. Wiro Seledri terlalu banyak bercerita dalam cerita ini. Sedangkan itu muatan makna yang ingin dimunculkan dalam cerita. Kesannya jadi kurang indah.

    Beda Saja

    25 Desember 2011 at 16:54

  35. biasa saja… ga bisa bikin kyk gini juga… ini cuma komentar sebagai penikmat cerpen, jadi ga usah nyuruh2 gw beberin karya disini ya.. huehue

    penghuni bumi

    25 April 2013 at 00:22

  36. jangan sampai cerita sedih itu terulang kembali….

    yeti wulandari

    4 Maret 2014 at 20:22

  37. Terimakasih banyak MBAH karna melalui jalan togel ini saya sekaran sudah bisa melunasi semua hutang2 orang tua saya di BANK bahkan saya juga sudah punya warung makan sendiri itu semua berkat bantuan MBAH WIRO yang telah membarikan angka 4Dnya kepada saya dan ALHAMDULILLAH berhasil,kini saya sangat bangga pada diri saya sendiri karna melalui jalan togel ini saya sudah bisa membahagiakan orang tua saya..jika anda ingin seperti saya HUB: MBAH WIRO 082333395082. nomor ritual MBAH WIRO memang selalu tepat dan terbukti..silahkan anda buktikan sendiri
    berkat angka togel dari MBAH WIRO sy sudah yang usaha dan alhamdulillah hidup saya suda tenang tidak susa lagi,bagi teman yang mau seperti saya,hubungi MBAH WIRO Di/0823-3339-5082 insya allah bliau bisa membantu.

    Ningrum Tki Saudiarabia

    15 Agustus 2015 at 17:34

    • Terimakasih banyak MBAH karna melalui jalan togel ini saya sekaran sudah bisa melunasi semua hutang2 orang tua saya di BANK bahkan saya juga sudah punya warung makan sendiri itu semua berkat bantuan MBAH WIRO yang telah membarikan angka 4Dnya kepada saya dan ALHAMDULILLAH berhasil,kini saya sangat bangga pada diri saya sendiri karna melalui jalan togel ini saya sudah bisa membahagiakan orang tua saya..jika anda ingin seperti saya HUB: MBAH WIRO 082333395082. nomor ritual MBAH WIRO memang selalu tepat dan terbukti..silahkan anda buktikan sendiri

      Ningrum Tki Saudiarabia

      15 Agustus 2015 at 17:36


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: