Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Payung

with 80 comments


Dian menjulurkan lehernya keluar jendela. Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu. Terdengar gemuruh guntur berkepanjangan di kejauhan, mirip suara bergulirnya ban raksasa di jalan beton yang bergelombang dan berlubang.

Sambil berjongkok dan mengintip kolong lemari, ia menarik keluar sebuah payung besar warna-warni kebanggaannya. Besarnya hampir seperti payung yang setia bertengger di atas gerobak penjual buah dingin di ujung gang. Payung ini benda terbaru dan terbagus yang ia miliki saat ini. Warna kainnya masih cemerlang, berbeda warna di setiap lengkungannya. Gagangnya terbungkus kayu yang dipernis warna coklat muda.

Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan tempat Bapak biasa memulung sampah. Waktu ditemukan, tiga bilah rangkanya terlepas sehingga payung menjadi bengkok jika dikembangkan. Padahal, hanya jahitannya saja yang putus, sedangkan rangkanya masih bagus dan berkilap. Dengan bantuan Bang Ayub, tetangga sebelah rumah, sebentar saja payung selesai dijahit. Ongkosnya gratis, begitu kata Bang Ayub.

Kebetulan ada Mak yang menjaga Diyon di rumah. Sebentar lagi Bapak pulang. Sambil menenteng sandal jepit kuningnya, Dian berjalan mengendap-endap melangkahi tubuh Mak dan Diyon yang sedang tidur pulas, melintang di atas kasur tipis di tengah rumah. Pintu rumahnya berderit pelan saat ditutup.

Sejak payung itu jadi miliknya, hujan membawa gairah baru dalam hidup Dian. Hujan berarti kerja. Kerja berarti rezeki. Seperti Bapak, ia juga ingin membawa pulang sejumlah uang ke rumah. Hari ini payungnya akan beraksi untuk kedua kalinya. Pengalaman pertamanya sebagai pengojek payung seminggu yang lalu menghasilkan tiga belas ribu rupiah dalam waktu dua jam, di tengah guyuran hujan yang tak seberapa deras. Harusnya bisa mencapai paling sedikit enam belas ribu rupiah jika Markun tak mendadak muncul dan merebut paksa tiga calon pelanggannya.

Hari ini pasti lebih banyak, pikirnya. Sekarang adalah waktunya para karyawan—yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu—pulang kerja. Mereka yang tak mendapat tumpangan kendaraan akan membutuhkan payungnya untuk menuju halte bus atau pangkalan taksi.

Dian berharap, hujan sedikit lama hari ini. Semoga tak bertemu Markun di hari yang baik ini. Juga tak bentrok dengan Jaka, Bono, dan Ipung, yang rajin bekerja di musim hujan.

Mereka tak seperti Markun yang suka merebut pelanggan. Tapi, Bono gesit luar biasa, karena jam terbangnya lebih banyak dari yang lain. Dia pengojek payung senior di musim hujan. Jika hari sedang cerah, Bono sering menongkrong di gang dengan kacamata hitam kebanggaannya. Biasanya, rambut Bono berkilap seperti habis mandi dan disisir kaku dengan gel hingga membentuk kerucut di ubun-ubun kepala. Dalam hati, Dian berencana membeli gel rambut semacam itu suatu hari nanti jika ia punya uang.

Sambil menyusuri gang, Dian menimbang-nimbang, akan digunakan untuk apa uangnya nanti. Uang hasil ojek payung yang lalu dipinjam Mak untuk membeli beras. Tak apalah, musim hujan belum berakhir, pikirnya. Yang pasti, kali ini ia ingin membelikan Diyon biskuit yang diputar-dijilat-dicelupin itu. Satu bungkus saja, untuk dicelupkan dalam segelas air putih. Tak perlu beli susu karena Diyon sudah cukup menyusu pada Mak waktu kecil. Tapi, boleh juga. Jika rezekinya baik, Dian ingin membeli sekotak susu rasa stroberi. Dian meneguk ludah waktu membayangkan dirinya memutar, menjilat, dan mencelupkan biskuit itu ke dalam segelas susu berwarna semu merah muda.

Dian sudah berencana akan menabung sebagian uangnya untuk membeli payung tambahan. Ia sudah menyurvei harga payung di beberapa toko di pasar. Ada yang berharga dua puluh ribu rupiah, tapi terlihat kecil dan rapuh. Yang kelihatan cukup besar dan lebih kekar kira-kira berharga tiga puluh ribu rupiah. Ia tak mau membeli yang rapuh, supaya tahan lama.

Payung tambahan pertama itu akan disewakannya pada Satrio saat hujan. Bagi hasil seperempatnya untuk pemilik payung. Jika Satrio dapat sepuluh ribu, Dian berhak atas setoran dua ribu lima ratus. Kemudian ia akan menabung terus hingga payung tambahannya ada lima buah. Payung besarnya akan tetap ia gunakan sendiri. Selain Satrio, masih ada Upit, Karyono, Agus, dan Cakri. Mereka pasti juga mau jadi pengojek payung. Yang penting mereka jujur, tidak nakal seperti Markun. Jika hujan, mereka berpencar mencari pelanggan. Payung-payung Dian akan beredar di beberapa halte, rumah sakit, dan ruko-ruko, melalui kelima temannya itu. Kemudian setoran pada pemilik payung akan menambah jumlah tabungannya.

Dian tak dapat menahan senyum saat membayangkan teman-temannya menyetor hasil ojek payung. Tapi, bagaimana jika mereka berlima membohonginya? Atau istilahnya, korupsi? Mungkin saja, Cakri yang genit itu ingin segera membeli gel rambut seperti punya Bono dan tidak melaporkan uang hasil ojek payung dengan jujur. Senyum Dian menghilang. Dahinya berkerut. Lalu…, aha! Ia berseru dalam hati. Sebelum menjadi mitranya, ia akan meminta kelima temannya bersumpah di atas Al Quran, seperti pada pelantikan para pejabat yang dilihatnya di televisi Bang Ayub. Sebaiknya, ia juga meminjam peci hitam Bapak supaya sumpah itu terasa resmi.

Jika rezeki ojek payung baik, Dian ingin membeli jas-jas hujan kecil yang dijual di warung. Jas hujan warna-warni yang plastiknya tipis itu berharga paling sedikit sepuluh ribu rupiah. Ia pikir, sebaiknya, anak buahnya itu jangan sampai jatuh sakit karena diguyur hujan. Jas hujan bertopi itu akan melindungi teman-temannya. Seragam warnanya, semua berwarna biru. Maka mereka akan menjadi Pasukan Biru, penyelamat dalam musim hujan. Tidak bisa gratis, pikirnya. Ia akan menyewakan jas hujannya sebesar seribu rupiah untuk satu kali pakai, saat mereka menyewa payung-payungnya.

Tapi, bagaimana jika Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri lupa pada sumpahnya? Dahinya kembali berkerut. Matanya menatap jalanan. Kakinya iseng menendang-nendang kerikil di depan langkahnya. Sesaat kemudian, sebuah ide menyergap lamunannya. Baiklah, pikirnya, supaya mereka tak lupa, ia akan membeli spidol antiair. Akan ditulisnya di bagian dalam payung. Tuhan ada di mana-mana.

Jujur saja, sebenarnya Dian tak terlalu paham pada kalimat itu. Ia hanya meniru apa yang pernah dikatakan Pak Ustad padanya. Dengan malu-malu, setelah belajar mengaji, ia pernah bertanya, ”Di mana Allah itu, Bapak Ustad?” Pak Ustad mengelus kepala Dian, menatap lekat bola matanya, sambil menjawab, ”Allah atau Tuhan ada di mana-mana, Nak. Di mana-mana…,” Saat itu Dian manggut-manggut. Tapi, sejujurnya, dia tetap tak mengerti. Pak Ustad tidak bilang bahwa Tuhan mengawasi mereka dari atas. Di mana-mana, harusnya berarti di semua tempat, bahkan yang gelap dan tersembunyi. Pikirnya, Tuhan yang Maha Agung itu pasti sangatlah penyayang jika Dia juga ada di sini, di tengah-tengah bau sampah yang menguar tertiup embusan angin dari sungai di belakang rumah.

Jika Tuhan mau berada di sini, apalagi di rumah megah yang dilihatnya di televisi semalam. Tapi, herannya, pemilik rumah megah itu memilih minggat dari rumah dan sedang dicari polisi karena korupsi. Begitulah kata si penyiar berita. Tuhan pasti tahu di mana orang itu, tapi Dia tak bilang. Karena Tuhan tak bilang-bilang apa yang diketahui-Nya, mungkin saja Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri juga tak takut pada Tuhan. Tapi, Dian berencana tetap membeli spidol tahan air itu. Seandainya Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri tidak korupsi, tetap saja mereka juga bisa berhenti jadi anak buahnya dan menyewakan payung milik mereka sendiri nantinya.

Biarlah, pikir Dian. Terlalu jauh untuk dipikirkan. Payung tambahannya saja belum dibeli. Wajahnya kembali gembira karena membayangkan lembaran-lembaran rupiah di kantong celananya.

Memikirkan lembaran-lembaran uang membuat khayalan Dian buntu. Ia tak dapat membayangkan, berapa uang yang bisa ia tabung dengan modal enam buah payung. Bahkan, ia tak pernah membayangkan punya uang banyak. Yang dia tahu, uang adalah penyambung hidup keluarganya sehari-hari. Jika mampu, mungkin ia ingin lebih sering membeli biskuit dan susu, juga sepasang sandal baru untuk Mak. Mungkin juga, suatu hari dia bisa membeli sepasang sepatu bola. Tapi, ia tak yakin karena tak tahu harganya.

Lamunannya terhenti saat tiba di ujung gang. Dian menganggukkan kepalanya pada Bang Joni, penjual buah dingin.

”Hei, Kojek!” Bang Joni memanggilnya dengan suara serak dan melambaikan tangannya pada Dian. Ia memang sering memanggil anak-anak dengan sembarangan. Dian berhenti di depan Bang Joni.

”Jual aja payung kau itu. Buat ganti payung gerobakku ini.”

”Enggak dijual, Bang.”

”Kubayar dua puluh ribu rupiah.”

”Enggak mau, Bang.”

”Berapa?”

”Enggak dijual, Bang.”

Bang Joni mendengus.

”Payung itu terlalu besar buat kau. Lebih besar payung itu daripada badan kau yang macam ikan asin itu, Jek.”

Biarin, Bang.”

Dian mengeratkan pegangan pada payungnya dan berbelok ke jalanan di sisi tanah kosong berpagar beton rendah. Masih didengarnya Bang Joni memaki-maki dirinya.

Dari kejauhan dilihatnya Satrio. Anak itu makin kurus saja. Ia pasti lebih mirip ikan asin, seperti yang dikatakan Bang Joni, pikir Dian.

”Mau ke mana, Yan?”

”Biasa,” Dian menggerakkan sedikit payung yang dipeluknya.

”Payungmu masih satu?”

”Satu. Nanti kalau ada satu lagi, kamu ikut, Yo.”

Satrio mengangguk sambil mengelap ingusnya dengan pinggiran baju. Lama ia menatap punggung Dian yang menjauh ke arah jalan raya.

Mobil-mobil masih bergerak lancar, tetapi sebentar lagi pasti akan semakin padat karena mendekati jam tutup kantor-kantor. Banyak yang akan membutuhkan ojek payungnya. Seribu rupiah diterimanya untuk satu kali menyewakan. Kadang-kadang ada yang berbaik hati memberi dua ribu rupiah untuk jarak yang dekat.

Dian melihat Markun di kejauhan. Lebih baik pura-pura tak melihat dan melewati jalan lain. Tapi sudah terlambat. Markun berjalan ke arahnya. Dian heran, Markun tak membawa payung di hari semendung ini.

”Hai, Jelek! Pinjam payungnya!” Pantas Markun tak membawa payung. Jantung Dian berdegup lebih kencang. Tak sadar, ia mengeratkan pegangan pada payungnya.

”Jangan, Mar.”

”Sebenar aja, Sompret!”

Markun melotot galak pada Dian. Sengaja dadanya dibusungkan, menggertak. Dian memeluk payung besarnya erat-erat. Bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan.

Markun mencibir. ”Enggak ada yang nolongin lu. Mau lari, ha?!”

Markun mendesak Dian mundur sampai merapat ke tembok beton.

”Pinjam. Jangan pelit. Nanti malam gua balikin.”

”Enggak boleh. Gua belum kerja hari ini.”

”Sama donk, Nyet. Bukan lu aja yang butuh duit!”

Bau nafas Markun terbawa hembusan angin. Busuk, sebusuk perbuatannya. Dian melengos, menghindari bau yang menyerang hidungnya.

”Memangnya lu enggak punya payung?”

Ngapain lu tanya-tanya?!” bentak Markun sambil menyentuh payung. ”Sini payung lu!”

”Jangaaa…an!”

”Sini!”

”Enggak!”

Markun mencoba merenggut payung itu. Tenaganya yang besar menyeret tubuh Dian yang tetap memeluk payung. Markun melepas sebelah tangannya pada batang payung dan melayangkannya pada pipi Dian. Plak! Plak!

”Rasain lu!”

”Aaaa….!”

Buk! Markun mendorong Dian sekuat tenaga ke tembok. Payung terlepas dari tangan Dian. Punggung Dian membentur tembok. Sakit. Matanya mendadak panas oleh desakan air mata yang siap-siap tercurah. Sandal jepitnya putus.

Markun tak membuang waktu. Sebentar lagi hujan turun. Dengan gesit ia berlari. Tujuannya adalah halte bus di dekat jembatan. Di sana rezeki musim hujan menunggu. Lembaran-lembaran seribu rupiah akan berpindah tangan. Siapa cepat, siapa dapat. Siapa yang rajin, siapa yang kuat, akan menuai lembaran rupiah terbanyak.

Dian membuang sandal jepitnya. Telapak kakinya perih, mungkin tergesek kerikil saat tadi Markun mendorongnya kuat-kuat dan menginjak sandalnya. Gagal pekerjaan hari ini. Ia tak memercayai Markun akan mengembalikan payungnya nanti. Seandainya dikembalikan, payungnya mungkin sobek atau patah, tak akan selamat dari kejahilan Markun.

Mendadak Dian teringat Diyon. Biskuit dan susu. Satrio dan teman-teman. Payung-payung tambahan. Pasukan Biru. Hatinya sakit.

”Bangsaaat….at!” Lidahnya yang tadi kelu tiba-tiba lantang memaki.

Mendengar teriakan itu, Markun menengok dan mengacungkan tinjunya. Lalu, ia melanjutkan larinya.

Kilat menyambar-nyambar. Guntur menggelegar di langit yang makin menghitam. Seorang gadis di tepi jalan menjerit sambil menutup telinganya. Terkejut oleh suara guntur, sekaligus karena Dian yang berlari seperti kesetanan dan hampir menabraknya.

Markun pun berlari dengan lincah, meliuk-liukkan pinggangnya untuk menghindari tabrakan dengan manusia lain yang berjalan bergegas karena khawatir hujan segera turun. Cepat sekali larinya. Entah, karena dia mendadak takut pada Dian yang mengamuk seperti kesurupan karena memburu waktu, atau karena dia tak mau membuat keributan di pinggir jalan yang mulai padat. Markun pernah diciduk Satpol PP saat tawuran.

Ciiiitttt…..!!! Sebuah mobil pikap hitam mendadak mengerem, nyaris menghantam tubuh Markun di belokan pagar beton yang membatasi bantar kali dengan jalan raya. Markun berhenti mendadak dan hampir jatuh karena sandal jepitnya yang tiba-tiba putus. Ia melepas sandalnya dan terus berlari.

”Mampus lu!” Si pengemudi berteriak membentak Markun. Markun tak peduli. Ia terus berlari.

Keterkejutan menahan langkah Dian. Ia membiarkan pikap itu lewat memutar di hadapannya. Mendadak tubuhnya terasa lemas. Sebagian kemarahannya berganti kesedihan. Tetesan air hujan pertama jatuh di kening Dian, diikuti tetesan lain yang semakin banyak. Air tumpah ruah dari langit, menyamarkan air mata yang juga mengucur deras. Pandangan Dian menjadi kabur. Semangatnya mendadak runtuh. Markun menghilang.

Tak ada gunanya berteduh. Dian menyeberangi jalan raya yang semakin padat. Tak ada Markun di jembatan, berarti ia mengojek payung di tempat lain. Di jembatan terlihat Bono, dengan rambut yang tertutup bandana kuning yang sudah basah, sedang sibuk menawarkan payungnya.

Terduduk di median yang lengang. Dian membenamkan wajah di antara kedua lututnya, menghindari tetes hujan yang membuat pipinya pedih. Matanya telah kering oleh air mata. Hanya air hujan yang terus menderas.

Dian menutup mata dan telinganya. Lamat-lamat suara klakson kendaraan terdengar berganti-ganti, seolah berasal dari tempat yang jauh. Dian merasa dirinya mandi di bawah pancuran air bergagang putih. Di sekelilingnya, dinding dan lantai keramik yang juga serba putih, seperti dalam iklan sabun mandi yang sering ia lihat di televisi. Hatinya kemudian mendingin dalam tubuh yang menggigil.

Di hadapannya, mobil-mobil bergerak tersendat.

Tangerang, 30 Maret 2010

*Cerpen ini terinpirasi foto dalam buku Mata Hati yang berisi kumpulan foto Kompas.

Written by tukang kliping

26 Juni 2011 pada 10:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

80 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagus! Impian-impian yang datang dan pergi dalam waktu singkat . .

    • bagian klimaks dari cerpen diata apa?
      blssssssss!!!!!
      pentingggggg

      ruriswari

      21 Agustus 2013 at 16:45

  2. Membacanya dari awal saya berharap cerpen ini berakhir dengan mencengangkan, tapi ternyata endingnya terlalu datar.
    T.T
    Tapi saya suka cara penulis membawa suasana, membacanya seperti benar-benar sedang hujan-hujanan…

    argha

    26 Juni 2011 at 12:27

  3. Ya, benar-benar datar endingnya. Agak kecewa sih baca cerpen ini… T.T

    sapi brenggolo

    26 Juni 2011 at 13:08

  4. Jadi ini tuh cerpen yang dimuat di koran kompas minggu gitu yak? Wah, gak nyangka kok cerpen gini bisa lolos yak… T.T

    sapi brenggolo

    26 Juni 2011 at 13:12

  5. saya kecewa dgn ending’a..
    btw kenapa cerpen di kompas lama2 jadi gini ya??
    udah gak ada yg nuulis cerpen lagi apa?

    Nyla

    26 Juni 2011 at 14:38

  6. Oh, hujan yang datang kau punya sejuta kenang. Kenangan saat paman memadu kasih dengan si bibi di kali pertama. Hanya itu yang tercetak pada pikiran paman dari cerpen ini.

    Sejatinya, tawaran yang dihidangkan penulis sebenarnya punya prospek dan potensi ragam keindahan yang cukup baik untuk kemudian tidak menyesal dikatakan luar biasa, ia berani menunjuk alam raya, berteriak kepada langit, meludah kepada bumi, menginjak-injak hingga menghempaskan ribuan debu. Sampai, menghujat gumpalan daging yang mencoba untuk mengulur hidup memperpanjang nafas di lingkaran besi kerasnya kehidupan. Sayang, sungguh disayang !! Tidak banyak irama maupun prosa yang mampu menguatkan dan mewakili isi ceritanya. Bagaimanapun, seharusnya payung dapat bercerita lebih menjorok kepada sifat yang melindungi, meneduhkan, hingga dapat menenangkan di tengah peristiwa yang menggetarkan, mematikan, hingga hal yang paling mengancam. Mana hal tersebut? Dalam pada itu unsyur Ke-Betawianya masih renggang dan memalukan.
    Mungkin akhirnya ketika sebuah pertentangan maupun toleransi juga pemikiran sudah tidak memungkinkan dibebankan kepada para tokoh tersebut dan benar2 sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, Kemungkinan besar yang penulis pilih ialah keluar rel daripada kerangka cerita. Di mana ia lebih menempatkan tokohnya dieksploitasi hanya sampai batas raga. Artinya, seperti tak bergerak lagi tak berjiwa, mereka mati!

    Paragraf selanjutnya, ini cukup menarik perhatian lebih! Saat pikiran paman sudah tergerogoti demikian dalam, paman dipentalkan oleh ungkapan yang membuat paman terbahak sementara, antara lain “matanya telah kering karena air mata.” Ini menggelikan tentu saja, bagaimana bisa ketika hujan ditambah menangis, mata menjadi kering? Mudah2an ini bukan hyperbola yang keliru dan memang benar mengandung makna.
    Dan kesimpulannya, karena kejujuran dan kebebasan berpendapat sudah tidak bisa ditampik lagi atau bahkan dinilai miring hingga berujung pada hujatan. Maka, paman akan berbohong sebohong-bohongnya untuk mengatakan bahwa ini cerpen yang cukup karismatik dan BAGUS! Paman angkat topi kali ini.

    Paman

    26 Juni 2011 at 16:55

    • Melihat arsip2 cerpen dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, ternyata si paman baru lahir tahun 2011…

      Reinkarnasi kah?

      Maman

      26 Juni 2011 at 20:47

  7. saya menikmati cerpen ini, tak peduli apa komentar yg lain…

    Adhi

    26 Juni 2011 at 19:11

  8. paman: dari sekian banyak komentar di kumpulan cerpen, adalah tulisan anda yang paling panjang (ada prolog segala, kaya membuat jurnal), dan parahnya tulisan anda dikolom ini lebih sering menghujat. apakah paman adalah tipe penghujat?
    kalau paman memang memiliki selera sastra lebih tinggi dan lebih baik daripada semua cerpen yang pernah anda hujaat. bisakah anda masuk kehalaman ini, bukan sebagai pengomentar, tapi sebagai orang yang bakal dikomentari. (jika anda tidak paham dengan tulisan saya tadi. saya mau tahu, apakah anda bisa menembus halaman cerpen kompas?)

    mahfud pmii

    26 Juni 2011 at 21:15

  9. tukang kliping, begitu banyak saya perhatikan kepupoleran penulis hanya yang itu itu saja mengenai tag awan anda menjelaskannya secara subjektif..tukang kliping harap anda sebagai tukang manage bisa mengerti jika apabila ada postingan yang kurang berkenan segera didelete. Anda harus mendelete yang kurang berkenan. anda ini bagaimana si, cerpen kompas kemarin karya Andrea Hirata dicela oleh kalian, anda diam saja. Ingat siapa Andrea, jangan berani-beraninya mencela..apa kamu lebih baik dari dia???? tentu saya menyangsikan!

    buktinya mana??? bukan berarti saya mendukung Andrea berlebihan, tapi pada umumnya di sini cuma menghujuat berdasarkan emosi saja…..

    tkang kliping dengan adanya blog ini apakah anda sudah memiliki hak publis dari penulisnya, atau sudah dapat ijin dari kompasnya, pada waktu kelamaan, koran akan sepi dengan hadirnya media begini, jadi ada dua pihak yagn dirugikan para penulis dan juga kompas itu sendiri…..anda mengerti tidak, wahai tukang kliping????

    saya tidak memihak andrea atau siapa saja, saya hanya ingin kualitas sastra dinilai lebih sehat lagi. makasih.

    Yogi dreanata

    26 Juni 2011 at 21:30

    • @yogi: bung yogi yang terlihat gusar; awan tag adalah algoritma wordpress, bukan masalah subyektif atau obyektif, anda bisa mengeceknya di beberapa baris kode program wordpress itu sendiri

      dimulai dengan kebebasan berpendapat, voltaire berkata “saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tapi saya akan membela hak berpendapat Anda sampai mati”, kedewasaan berpendapat saya pikir perlu proses, dan bukan dengan cara represif, jadi kenapa harus menghapus komentar selama masih ada korelasinya?

      untuk hak mengkliping silahkan baca https://cerpenkompas.wordpress.com/about/, beberapa penulis merasa terbantu dengan arsip digital, seperti yanusa nugroho, hak cipta tetap ada pada penulis, blog ini dibuat tanpa tujuan komersil.

      tukang kliping

      26 Juni 2011 at 22:07

    • Andrea? Andrea bagus, tapi masih terdapat banyak kelemahan dari segi filsafat bahasa. Novelnya saja sebenarnya banyak yang fatal kalau ditelisik lebih jauh. Hanya memang dia menulis tema dan cara yang tepat pada saat yang tepat.

      Pringadi Abdi Surya

      27 Juni 2011 at 10:12

    • wah, berat. ada yang sebut-sebut filsafat bahasa. coba saya mau tanya. apa itu filsafat bahasa?

      cahyoprayogo

      28 Juni 2011 at 09:30

    • filsafat bahasa, dalam hemat saya, adalah bagaimana bahasa itu kembali pada hakikatnya, pada asal mulanya, bahasa; perihal tanda, simbol, atribut, perlambangan untuk menyampaikan gagasan, maksud, ataupun tujuan. mungkin maksud, mas Pringadi, adalah bagaimana Andrea Hirata menempatkan kata per kata dalam sebuah konstruksi untuk mencapai suatu maksud: konstruksi itu bernama ‘cerita’.
      kalau bingung, pikir sendiri deh….

      miftah fadhli

      30 Juni 2011 at 16:34

    • katanya, “bahasa itu kembali pada hakikatnya, pada asal mulanya, bahasa; perihal tanda, simbol, atribut, perlambangan untuk menyampaikan gagasan, maksud, ataupun tujuan.” haha. apakah benar itu pengertian filsafat bahasa? bukannya itu pengertian bahasa menurut Saussure. menurut saussure, bahasa adalah sistem tanda untuk mengungkapkan gagasan. hahaha

      cahyoprayogo

      2 Juli 2011 at 23:11

    • Sayang sekali saya tidak pernah membaca Saussure; saya agak ketinggalan zaman soal esai (pemikiran) sastra. Padahal Anda, Bung Cahyo, sudah tahu pengertian bahasa bahkan sudah memiliki otoritas dari Si-Ahli-Bahasa. Bahasa adalah SISTEM TANDA….. (begitu Anda sitir dari pendapat Saussure) tidakkah itu jelas? Anda hanya perlu menemukan arti filsafat, kan?

      miftah fadhli

      8 Juli 2011 at 14:25

  10. harap hapus saja tukang kliping yang kurang berkenan, ini demi media anda juga, dan tolong terlebih kepada komentator di cerpen Andrea Hirata anda mengkategorikannya yang benar

    Yogi dreanata

    26 Juni 2011 at 21:32

  11. Ah sudah lama tak berkunjung. Apa masih seru cerpen kompas. Apa lebih seru komen nya yah

    Abu wafaa el malawy

    26 Juni 2011 at 23:33

  12. ha,ha. Hampir tamat riwayatmu.

    ugi

    27 Juni 2011 at 00:01

  13. Ya cerpen ini cukup membuat aku merenung akan nasib bangsa ini////

    putri insani

    27 Juni 2011 at 03:04

  14. selamat kepada veridiana!
    saya sangat menyukai cerpen ini!

    benny arnas

    27 Juni 2011 at 08:42

  15. kenapa ga happy ending??? heh, jd ikt sedih…

    chaca

    27 Juni 2011 at 09:34

  16. Bagus sih sebenernya,tapi endingnya bikin nyesel -_-

    abcd

    27 Juni 2011 at 10:48

  17. kenyataan hidup ….

    samponoenda

    27 Juni 2011 at 19:29

  18. mencoba mencermati gan…

    serba serbi

    27 Juni 2011 at 22:34

  19. sapi… bisanya cuma comment doank…

    ilalang

    28 Juni 2011 at 01:41

  20. Bro Mahfud PMII

    Mana mungkin – lihat saja bahasanya, contoh:

    ” …Sejatinya, tawaran yang dihidangkan penulis sebenarnya punya prospek dan potensi ragam keindahan yang cukup baik untuk kemudian tidak menyesal dikatakan luar biasa, debu. …,

    Perangai dan budibahasanya jelas tidak mungkin menghasilkan karya sastra yang dapat, taruhlah, salah satunya, membantu menumbuhkan budi pekerti dan mempunyai rasa-malu yang sudah semakin langka di negeri ini.
    Paling jawaban nekad seperti ini yang dikedepankan: “Tidak harus menjadi koki untuk bisa menilai kualitas suatu masakan” … wuahh🙂

    Anneke Gronloh

    28 Juni 2011 at 03:07

  21. bagus.. super sekali

    pena

    28 Juni 2011 at 09:51

  22. yg ini saia suka …😀

    she

    28 Juni 2011 at 15:54

  23. Cerpen yang baik, karena dapat menghiasi cerpen kompas dengan warnanya yang kita tunggu-tunggu, selamat

    Aulia

    28 Juni 2011 at 16:08

  24. yah endingnya… mirip iklan masyarakat.
    kalo posting taruh nama penulisnya juga dong!

    vitgar

    28 Juni 2011 at 23:19

    • nama penulis hanya bisa dilihat oleh para pembaca cerpennya saja bung vitgar🙂

      tukang kliping

      28 Juni 2011 at 23:44

    • haha…

      Somad

      5 Juli 2011 at 20:57

  25. cerpen berjudul “payung” dan komentarnya menarik.. cerpen of the week, maybe will be cerpen of the year??? yeahh… tapi tahun depan masih lama…?? aku mau bersaing ah,,,

    puput juni prayitno

    29 Juni 2011 at 01:03

  26. Salam kenal semuanya, menarik sekali. Saya menemukan media ini melalui perantara Google. Wah, ini dahsyat buat saya.
    Yogi : apa maksud anda? Anda kok repot sekali kelihatannya? Apa anda si Andrea atau orang dalam Andrea?! Lagi pula, kebenaranan novel dia sangat disangsikan dan tidak ada powernya menurut saya! Andre bilang tidak suka membaca sastra, ini mustahil dan sok menurut saya. Tapi di beberapa media, dia lupa dan dengan lancarnya dia menyebutkan buku buku baik yang luar negeri maupun dalam negeri. Dia tidak senghaja jadi penulis? Ah, itu rekaya. Di novel yang pertama LP bab terakhir dia menulis bahwa dia ingin sekali menjadi peenulis, and many more tentang kebohongan dan keteledoran yang lainya, dan jujur saja di karya andre banyak dustanya, banyak sekali. Kata katanya pun cukup amburadul, tapi saya heran orang menganggapnya sebagai metapor yang unik dan sampai dipandang sebagai revolusioner? Halo, anda sudah berapa banyak membaca sastra, apakah anda sudah membandingkan dengan karya sastra indonesia terbitan 30an sampai sekarang? Bahkan yang saya tidak mengerti para sesepuh dan penikmat sastrapun beranggapan demikian pada karya Andrea! Saya juga yakin semuanya tidak lebih dari strategi marketing. Lalu komentar saya tentang postingan ini (maaf bukan buat cerpen ini) sebab saya menilai cerpen ini tidak perlu dikomentari karena sudah diwakili oleh komentar di atas dan percuma mengomentari cerpen ini karena sudah jelas sangat jelek sekali mutunya! Namun saya cuman ingin mengomentari penulisnya, terlihat sekali anda ini sangat angkuh tanpa mau mendengar komentar orang lain, itu menunjukan bahwa cerpen anda seolah olah paling sempurna saja, ada yang mengkritik anda balas kritik, itulah kelemahan para penulis indonesia, bukanya segera sadar dan bertindak untuk memperbaiki tulisannya, eh malah…! Jika anda fobia dengan kritik, simpan cerpen anda rapat rapat dan jangan pernah dipublikasikan! Saya harap anda masih punya kaca dan segera perbaiki diri. Apakah komentator sepak bola harus bisa menciptakan gol dulu? Apakah kita tidak boleh mengatakan suatu masakan enak atau tidak sebelum menjadi koki atau chief teramat mahir terlebih dulu? Apakah ada pasal yang berbunyi untuk melarang orang berpendapat? Lagi pula dengarkan saya, sudah berapa kali cerpen anda tembus di kompas, sudah berapa kali saya tanya? Thanks.

    Dasuki Ruslam

    29 Juni 2011 at 05:00

  27. Mbok ya sedikit mikir dan sadar, dunia kreatif kita itu selalu jalan di tempat, amat jauh tertinggal. Kalau semua penulis tidak mau dikoreksi dan dikomentari, saya jamin tidak ada kemajuan sama sekali dalam bidang ini. Penulis luar sungguh hebat, mereka tidak munafik, mereka yang sudah melahirkan ratusan cerpen dan puluhan novel pun kalau dikritik segera ambil tindakan untuk refleksi diri guna perubahan. TIDAK CENGENG BAHKAN MEWEK ATAU SAKIT HATI. Mereka bahkan ketergantungan dengan yang namanya kritik, sebab dari kritik itulah lahir karya karya mereka selanjutnya yang lebih baik lagi. Nah, apalagi yang baru punya karya, baru punya karya satu dua biji saja sudah merasa gagah, sudah merasa di angin angin! Socrates saja masih mau mendengarkan orang gila sekalipun, sebab dia meyakini bahwa semua orang punya pendapat. Tadinya saya tidak ingin komentar, tapi melihat tulisan penulis yang terkesan besar kepala, saya jadi gatel. Makasih, dan mohon maaf.

    Dasuki Ruslam

    29 Juni 2011 at 05:59

  28. dulu sayapun sempat berpikir membikin cerita tentang anak2 penyewa payung ini. Ternyata Veridiana lebih cepat, lebih gesit, saya kalah, hehe.

    Cuma, endingnya memang tidak punya kehidupan; terlepas dari pengisahan yang membosankan, cerpen ini menceritakan betapa setiap orang memiliki mimpi kendati mimpinya sendiri belum mencapai “penyadaran”.
    Kalau Mas Pring, membawa2 Filsafat Bahasa terhadap karya2 Andrea, maka saya mengutarakan Filsafat Cerita terhadap “PAYUNG” yang masih menjelma kulit (kalau terlalu kasar dibilang, tak berisi)……
    Tapi, tetap saja, Veridiana telah menjadi penulis cerpen Kompas.

    miftah fadhli

    29 Juni 2011 at 12:35

  29. Saya menunggu jawaban Pringadi atas pertanyaan cahyoprayogo di atas. Apa itu filsafat bahasa? Tolong dijawablah.

    Rozak

    29 Juni 2011 at 13:31

  30. cerpen yang mengalir. Saya suka…

    mataairmenulis

    29 Juni 2011 at 14:05

  31. Hmm… ojek payung, membaca cerpen ini jadi inget film Rumah Tanpa Jendela.. selamat sudah tembus kompas…

    mashdarzainar zainal

    29 Juni 2011 at 18:41

  32. waktu baca judulnya, saya sudah langsung berpikir jika ini tentang ojek payung. memang, ending tidak memuaskan. tapi, sentilan-sentilannya itu lho. kontekstual sekali. senang bisa membaca cerpen ini.

    syarif hidayatullah

    29 Juni 2011 at 20:57

  33. Membaca sebagian komentar di atas, saya mengambil kesimpulan bahwa banyak orang yang terlalu serius memandang suatu seni, sehingga lebih banyak menilai seni dengan isi kepala dibandingkan hati, perasaan. Apakah teman-teman membaca judul kolom yang ditulis besar-besar di atas cerpen kompas? SENI, begitu bunyinya.

    Mungkin karena saya lebih sebagai penyuka sastra dibandingkan penilai sastra, saya pribadi lebih banyak menilai suatu karya dengan hati. Apalagi bagi suatu cerita yang lahir dari hati, berkembang dari suatu keprihatinan dan perhatian pada hidup manusia di sekitarnya. Seperti juga saat menikmati musik dan lukisan, saya bisa terhibur dengan suatu cerpen, bisa menangis karena cerpen tersebut membangkitkan sisi melankolis dalam diri saya, dan kadang terbawa murung karena isi cerita. Cerpen yang dapat mengulik-ngulik perasaan biasanya juga dibentuk dari keindahan cara bertutur.

    Saya selalu menikmati karya-karya Andrea Hirata, tak masalah apapun kritik orang terhadapnya. Bagi saya, tulisan-tulisannya selain segar menghibur, juga seringkali dengan mudahnya membuat saya mengalirkan air mata karena isi cerita dan kepandaiannya bermain kata. Selain itu, gaya “melayu kampung”-nya punya ciri khas tersendiri yang belum saya temukan dimiliki penulis lain.

    Hidup ini jangan serius-serius amatlah! Nikmati, selami, ambil hikmah dari suatu tulisan. Kritiklah sewajarnya dan sejujur-jujurnya dari dalam diri sendiri. Bukan hanya supaya kita terlihat pintar, tetapi supaya kita bisa berbagi manfaat dari sebuah apresiasi kita terhadap suatu karya seni.

    vera

    30 Juni 2011 at 07:47

    • nah ini baru komen yg seger, like this lah

      adib

      30 Juni 2011 at 09:13

    • berbicara mengenai hati, hakim dalam memutus perkara harus memakai hati di samping berpatok pada pasal dan asas, guru mengajari muridnya meski pakai hati di samping harus menyesuaikan materi terhadap sapnya, tukang sirkus juga bermain harus pakai hati, tidak melulu teknik dan teori. singkatnya, semua hal di dunia ini pada hakikatnya (seharusnya) harus dinilai dari hati juga. dengan kata lain, Anda, terlalu pragmatis memandang sebuah argumen (yang didasarkan pada teori).

      siapapun boleh berpendapat, dengan caranya sendiri, dengan gayanya sendiri; apakah pendapat itu disampaikan secara vulgar atau santun, itu persoalan lain. Mengenai ‘hati’ Anda terdengar seperti orang yang putus asa saja.

      miftah fadhli

      30 Juni 2011 at 16:39

    • @vera: Tentu, baca/lihat/dengar karya seni itu dengan hati, tetapi bukan berarti pencerapanan intelektual dikesampingkan. Justru keunggulan seni karena mengusung gagasan komplet, tak sekadar main perasaan. Biarlah terjadi pergesekan argumen di sini. Kalau suka, masuklah ke “pasar” ini dan ikut berjual beli atau boleh sekadar menonton. Kalau keberatan, atau hati anda terlalu lemah, silakan bermain ke tempat yang lebih memanjakan hati anda. Seni juga mendidik manusia mengungkapkan karakter masing-masing dalam bentuk argumentasi dan lain-lain.

      cai-cai

      2 Juli 2011 at 15:40

  34. Kepada Tukang Kliping,

    ada cerpen Kompas dari periode Januari 2001 s.d. Maret 2003?
    saya sedang melacak cerpen2 periaode itu… mencari satu cerpen, saya lupa judulnya
    seingat saya tentang seorang petani tua n anaknya di ladang yang didatangi tentara, kemudian tentara tersebut menginterograsi petani tua dan anak tsb
    ada yang saya ‘lewatkan’

    mohon bantuan

    aenear

    1 Juli 2011 at 21:00

  35. Tentu, baca/lihat/dengar karya seni itu dengan hati, tetapi bukan berarti pencerapanan intelektual dikesampingkan. Justru keunggulan seni karena mengusung gagasan komplet, tak sekadar main perasaan. Biarlah terjadi pergesekan argumen di sini. Kalau suka, masuklah ke “pasar” ini dan ikut berjual beli atau boleh sekadar menonton. Kalau keberatan, atau hati anda terlalu lemah, silakan bermain ke tempat yang lebih memanjakan hati anda. Seni juga mendidik manusia mengungkapkan karakter masing-masing dalam bentuk argumentasi dan lain-lain.

    cai-cai

    2 Juli 2011 at 15:32

  36. saya liat orang2 diatas nulisnya “siapapun boleh berpendapat, dengan caranya sendiri, dengan gayanya sendiri; apakah pendapat itu disampaikan secara vulgar atau santun, itu persoalan lain” abis nulis gini, blg harus liat ini lah itulah. egoisme tinggi. hahahaha.. orang mau strategi marketing kek, orang mau pake hati kek, pendapat orang kali, dengan caranya sendiri. sama seperti sebuah karya fotografi.
    sedikit sharing, saya melihat foto engan kontras yang sangat tinggi dan membuat mata saya perih melihatnya, setelah saya ngobrol sama yg empunya foto, saya menanyakan kenapa mengedit itu sampai kontras begitu, dia menjawab “hanya ingin berexperimen dan menurut saya itu enak”.
    demikian pendapat orang, selera orang beda2. kita tidak usah menggurui, kalau mau menggurui silahkan membuka sekolah.. kalo ada murid yg masuk😀
    maaf tulisan saya abruladul. karna saya gk tau soal tlis menulis😀
    menurut saya orang yg menulis cerita, melukis sebuah gambar, dll merupakan karya seni dan masing masing orang punya pendapat masing masing…

    aduh maaf abruladul lagi.. emg susah ya bukan penulis.. saya hanya bisa menikmati karya-karya orang yg sudah berusaha untuk meluapkan segala emosi, suka, duka, kisah, dll ke dalam sebuah cerita..
    sekian..

    BR,
    Rani.

    Rani

    4 Juli 2011 at 09:42

    • Lucunya, kita yang di sini adalah penulis. Buktinya, kalau Anda tidak sekolah dan belajar alfabhet Anda semua tentu tidak pandai membuat kalimat-kalimat itu, kan??

      miftah fadhli

      8 Juli 2011 at 14:28

  37. ternyata masih ada manusia2 yang tidak berbudi pekerti seperti DR dan Paman. memang mereka ahli yang tdak mengerti……

    robay

    7 Juli 2011 at 21:06

  38. menarik sekali🙂
    cerita yang jujur dan apa adanya

    tika

    8 Juli 2011 at 10:20

  39. Saya mah enjoy-enjoy aja baca tulisan model apa pun. Kalo ga enjoy, ya langsung stop baca aja, hahaha…

    Saya baca sampai akhir, dan saya suka kok penutupan cerita seperti itu. Karena hidup yang sebenarnya memang seperti itu… menggantung. Positifnya: membuka kesempatan bagi para pembaca untuk menciptakan kelanjutan ceritanya.

    Trus ada catatan singkat asal muasal inspirasi cerita ini… Bagus sekali penulis mencantumkannya. Jadi bukti proses terciptanya tulisan ini, bukan sekadar ilusi, imaginasi belaka… tapi penuh makna.

    Trus lagi, saya baca kelanjutannya di blog ini… Turun-turun terus sampai ke komentar macam-macam. Tapi aduh, aduh… kok saya jadi ill-feel dan pusing ya, dengan komentar gado-gado… Ada yang enak, ada yang ngga… Jadi yang saya ngga doyan, ya saya lewatin aja… Boleh dong ya, kan hidup ini pilihan…😉

    Terlepas dari segala penilaian orang, menurut saya tulisan ini tetaplah sebuah karya “seni”… Buktinya lolos toh masuk Kompas – koran nasional se-Indonesia, gitu loh… Ini bukan prestasi main-main! Yang jadi juru seleksi di Kompas kan pasti orang yang berkualitas toh… Selamat ya untuk Veridiana!

    Saya pribadi salut dengan seluruh penulis yang sudah berusaha menuangkan ide-ide mereka di atas kertas. Karena mereka telah melewati proses menyemangati diri untuk menulis, memaparkan pemikiran ke tulisan, mengetiknya, mengirimkan ke media massa, lolos seleksi, terbit, dikomentari, dan lain-lain… Jika karya tersebut mudah dicerna, berguna, bernilai positif, dan mengena di hati, itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa.

    Anicca Satta

    9 Juli 2011 at 23:19

  40. […] dengan 52 komentar […]

  41. Lihat negri kita.

    Abi Ardianda

    12 Juli 2011 at 18:47

  42. Bagus. Cerpen yg bagus. Aku suka.

    Sutomo

    13 Juli 2011 at 14:30

  43. jujur saya dari paragrah 3 saja saya sudah bosan. Atau saya yang lagi males baca?

    Abednego Afriadi

    18 Juli 2011 at 10:07

  44. Ending cerita untuk kita renungkan :
    semangat dan cita-cita bisa kandas oleh kesewenangan dan kekuasaan. Dan ini dilakukan oleh banyak, bukan segelintir manusia di negara ini melalui sumpah jabatan yang gagah namun tidak secara sakral hanya proses upacara biasa.
    Teriakan BANGSAT saat cita-citanya kandas belumlah CUKUP mestinya teriakan TOLOL sambil terbahaklah yang paling PAS, sampai air mata kering karena gelak. Bukankah mata bisa kering dari air mata sekaligus basah karena air Hujan ?

    Penggunaan bahasa sehari-hari yang terjadi di masyarakat kurang pas, misalnya Bang Joni mengatakan dua puluh ribu rupiah , mestinya cukup dua puluh rebu.

    Namun, cerita di cerpen ini sarat dengan nilai Religius, Sosial, Cinta.

    Irena Utama

    22 Juli 2011 at 15:25

  45. menurut saya cerpen ini bagus, kok..
    ending-nya yang “menggantung” justru semakin membuat kita penasaran, “apa yang akan dilakukan Dian selanjutnya, ya, tanpa payungnya?”
    hidup memang tidak bisa ditebak, sesaat kita dibuai mimpi & angan-angan namun sesaat kemudian kita harus menghadapi fakta bahwa segala impian itu harus kandas.
    inilah hidup..

    bagus, cerpen yang bagus!

    Glenn Lukito

    26 Agustus 2011 at 22:17

  46. Keren cerpennya, TFS. Hehehe, aku langganan kompas tapi malah jarang baca cerpennya…

    Sitti Rasuna Wibawa

    30 Agustus 2011 at 15:56

  47. endingnya masih kurang nih.. kirain si markunnya ketabrak bemo.. atau gimana gitu… hehe.. tapi keseluruhan saya suka, bagus 😀

    blogkubicara

    4 September 2011 at 16:55

  48. Mulai membaca dari baris pertama, rasa penasaran terus muncul sampai membaca baris terakhir. Kisah sederhana, dikemas dengan dramatis dan rapi. Terlihat sekali harapan dan kegundahan hati Dian saat menapaki jalanan sampai keluar di mulut gang. Apalagi terjadi konflik dengan orang yang dihindari dalam pikirannya.
    Saya suka.🙂

    Faye Yolody

    16 November 2011 at 15:53

  49. Saya ndak bisa nulis. Tapi pengen mengomentari cerpen ini secara jujur.
    Awal membaca cerpen ini, cukup menarik, mengangkat tentang pengojek payung yang berasal dari lingkungan kumuh. Namun sayang ditengah-tengah ketika mulai memunculkan dialog, kesan cerpennya mendadak hilang. Nilai keindahan bertutur tulisnya hancur dan seperti tergantikan cara bertutur lisan. Penggambaran perkelahian hingga akhir cerpen mematikan pembaca (saya) karena disuguhkan secara detail tanpa permainan kata, Hampir tak ada jeda untuk saya berimaginasi. Lebih kecewa lagi saat endingnya yang saya harapkan tak terduga, tapi ternyata datar.
    Tapi tentunya ada yang patut disyukuri karena cerpen ini lolos kompas. Selamat !!
    Ini dari kaca mata saya sebagai pembaca awam.

    Beda Saja

    14 Desember 2011 at 07:23

  50. testing

    andreas

    19 April 2012 at 00:19

  51. loh? cerpen bagus seperti ini masih saja ada yang merasa dikecewakan? walah. maunya yang bagaimana tho?🙂

    A. Soemidi (@tukangPEL)

    14 Juni 2012 at 21:31

  52. hai all… ngomong ngomong apa alur nya dalam cerpen ini? saya ada tugas dari guru soalnya…

    wilie

    25 Juli 2013 at 18:48

  53. ini cerpen ada dalam tugas saya tapi saya tdk tau ini alurnya apa dan tahap alurnya apa .
    PR dari guru

    sri rahmayanti

    18 Agustus 2013 at 18:31

  54. kalimat klimaks’a yang manaaaaa????

    ruriswari

    21 Agustus 2013 at 16:53

    • mungkin ini alur mundur karna disususn dgn mendhulukan thap pnyelesaian atau thap peruncingan mslh lalu disusun dgn tahap” lain yg mncrtakn prstwa yg mndhului

      maulidia audina

      10 Agustus 2015 at 19:12

  55. kenyataan memang tak seindah harapan. Dimanapun sepertinya ada orang seperti markum, menjegal oranglain demi kepentingannya sendiri.

    yeti wulandari

    4 Maret 2014 at 04:27

  56. keren… bikin sedih

    Arkha Sayoga Mayadi

    6 April 2014 at 21:11

  57. sad ending… _-_ KEREN

    Arkha Sayoga Mayadi

    6 April 2014 at 21:17

  58. nilai kehidupan apa yang bisa diambil dari cerita payung

    liska ervin

    6 Agustus 2014 at 20:27

  59. temanya apa?? mengapa temanya itu???

    Nara Pradipta

    20 Agustus 2014 at 14:53

  60. tahap alurnya bagaimna

    nurul

    25 Agustus 2014 at 17:32

  61. inti int dari cerpen ini ap yea,,,,????

    alfira hazmi w

    28 Agustus 2014 at 13:30

  62. gan ada ringkasannya gk,.,\

    dayat

    31 Juli 2015 at 20:46

  63. jenis alur apa yang digunakan pada kutipan cerpen diatas?berikan pula alasan memilih jenis jalur tersebut:)

    maulidia audina

    10 Agustus 2015 at 19:04

  64. apa bukti tahap” alur dgn mengutip cerpen payung ini

    maulidia audina

    10 Agustus 2015 at 19:45

  65. Cerpen Ini termasuk alur maju, mundur atau gabungan ya???

    Plisss bls…!

    Ikha Tuweno

    6 November 2015 at 20:20


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: