Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sematku Patah di Cungking

with 54 comments


Setelah menempuh perjalanan lebih 24 jam dari Perancis-Hongkong-Singapore-Jakarta, Surabaya- Banyuwangi, badan terasa patah-patah. Bis patas AC yang aku naiki dari Surabaya rupanya hanya sampai di Jember. Perjalanan ke Banyuwangi hanya bisa menggunakan bis ekonomi yang penuh aroma minyak angin.

Setelah tiga puluh tahun aku meninggalkan Cungking, baru kali ini aku kembali lagi. Ya, ini bukan mimpi. Aku benar-benar pulang kampung. Sesekali terdengar percakapan dalam boso osing yang hanya dimengerti oleh kami orang osing.

Setelah enam setengah tahun mengarungi beberapa samudra sebagai awak kapal, akhirnya aku terdampar di kota pelabuhan Marseille, Perancis Selatan. Di bar aku kenal Manuela, gadis keturunan Spanyol yang ngefan orang Indonesia. Usaha Manuela berbahasa Indonesia kami apresiasi. Manuela memaksa saya untuk bercakap dalam bahasa Indonesia, ia tak melayani percakapanku dalam bahasa Inggris. Ennuyeux¹ komentarnya.

Tak puas sampai di situ, ia pun memaksa saya tinggal di apartemen kecilnya agar ia lebih intensif belajar bahasa, alasannya. Bahkan ia mencarikan pekerjaan sebagai sopir di perusahaan catering agar aku tak melaut lagi. Jadilah aku kumpul kebo dengan Manuela hingga lahir dua orang gadis yang kini sudah remaja.

Aku sengaja pulang hendak menemui gadisku, yang dulu dengan sengaja meninggalkan aku. Walaupun untuk itu aku harus berbohong kepada Manuela atas rencana kepulanganku ini. ”Kamu tidak bermaksud menemui pacarmu di Cungking kan?” tanyanya menyelidik. Aku tak peduli seperti apa gadisku sekarang. Hidup makmur bersama juragan gabah yang menikahinya dulu? Ataukah sudah menjanda ditinggal mati suaminya? Aku berharap ia sudah janda. Aku mau pamer.

Ketika mendengar kabar gadisku dilamar orang dan diterima, dadaku terasa sesak, dan perut terasa mual sekali. Aku mengutuk keputusannya. Dan aku bersumpah tak ingin menjumpainya walaupun hanya dalam angan. Tapi jujur dalam hati kecilku aku tetap merindukannya, aku berharap ia kembali, aku terima ia sejanda apa pun. Tidak! Najis! Aku tidak sehina itu, egoku segera menolak. Aku akan dapatkan gadis yang lebih cantik dari dia, sumpahku. Tapi kenapa bayangannya menggelayutiku ke mana pun aku pergi? Dekapan itu terasa lembut menenteramkan hatiku di saat aku gelisah. Aku sering mendekapnya walau hanya dalam bayang. Kubayangkan ia mendekap erat tubuhku dan menyandarkan kepalanya di dadaku penuh pasrah. Bayang-bayang itu sangat aku nikmati, sampai akhirnya aku tersadar, aku dan dia berjarak ribuan kilometer. Dan aku kembali menyumpah. Najis! Patah hati anak dusun pada gadis penyanyi gandrung.

Perasaan galau sudah terasa sejak bis memasuki kawasan Kalibiru setelah melalui hutan Merawan yang eksotis. Seharusnya aku yang menjadi bapak anak-anaknya, kalau saja aku mau membuang gengsiku. Penyesalan itu yang selalu mengusik hatiku. Entah berapa ratus kali aku menggumam seperti itu walaupun kini sudah ada Margareta dan Aleece, hasil kumpul keboku bersama Manuela.

Kerap aku menyalahkan diri sendiri. Kata orang, sebelum ada janur melengkung aku masih punya kesempatan. Baru saja gadisku dilamar orang, aku sudah menggelepar. Tak ada sedikit pun keberanianku ketika itu untuk mendekati dia dan menyatakan cinta gombalku padanya. Padahal ada empat puluh hari masa pingit, waktu yang lebih dari cukup untuk sekadar menggombal mengobral cinta. Ke mana aku saat itu? O ya, aku ingat, aku pergi ke Kang Suri dukun pelet Macan Pote dusun terpencil jauh di selatan Cungking. Dengan sebungkus rokok Gangsar dan uang seribu rupiah, setara dengan lima belas liter beras kala itu, aku diberi seruas kecil patahan batang koro yang sudah kering. Semasa kanak-kanak, batang koro yang sudah kering acap digunakan untuk latihan merokok. Namun kini untuk kepentingan lain.

Setiap pagi menjelang subuh, aku diwajibkan meniup batang koro ke arah rumah gadisku seraya mengucap kata-kata bujukan dalam hati agar ia membatalkan pernikahannya dan memilih aku sebagai pendampingnya. Syarat itu memberatkan, aku hanya melakukan beberapa kali karena aku lebih sering bangun kesiangan.

Aku mengira setelah sematku diambilnya, usai sudah perburuanku. ”Pucuk semate hun kuthung telu,” (ujung lidinya saya patahkan tiga ruas) bisikku yang ditanggapinya dengan tertawa cekikikan. Hanya dia yang aku beri tahu, gadis yang lain tidak. Tapi pesanan seperti itu bisa datang dari banyak pemuda. Semakin menarik sang gadis semakin banyak pemuda yang menitip pesan sematnya. Tapi aku berharap dia hanya mencabut sematku.

Betapa bungahnya hati ini ketika tengah malam seusai acara malam pesat maulid nabi, semat yang aku sisipkan di dinding gedek bersama semat pemuda lainnya sudah tercabuti. Tinggal beberapa biting yang masih tersisa, entah punya siapa. Aku yakin sematku telah diambilnya. Itu artinya ia telah memilihku sebagai bakal calonnya.

Pacaran kala itu sifatnya rahasia, tidak lazim jalan berdua. Bahkan tak saling kenal pun dapat dinikahkan. Aku tak ingin jadi bulan-bulanan kawan sebaya yang mengumumkan hubungan saya dengan gadisku dengan menuliskannya di sembarang tembok entah pakai arang atau daun jati. Tulisan itu kerap membuat hubungan remaja yang sedang memadu kasih kandas di tengah jalan lantaran malu diketahui banyak orang. Rupanya perkiraanku salah, tak lama setelah acara maulid nabi, ia dilamar juragan penebas gabah dan dinikahinya.

Gumpalan harapan itu masih mengganjal dalam hatiku, dan abadi hingga kini. Gumpalan imajiner itu seharusnya sudah memudar terurai waktu. Namun perasaan penyesalan dan terkalahkan membuat hati penasaran. Dan gumpalan itu semakin mengganjal, mengeras dan membatu di sudut ruang yang kian tak terjangkau. Gadis mungil hitam manis bersuara merdu, bermata bola pingpong yang kerlingannya senantiasa menggoda hatiku itu adalah cintaku.

***

Suasana Cungking tak banyak berubah setelah aku tinggalkan puluhan tahun. Aku masih merasa akrab dengan lingkungannya. Namun ada sedikit pergeseran budaya, anak mudanya lebih bangga berbahasa Indonesia gaya jakartaan. Boso osing menjadi asing di negerinya sendiri. Padahal Manuela di Paris semangat belajar boso osing setelah aku ceritakan keunikannya. Langue Osing seulement compris par les gens Osing,² promosiku suatu ketika kepada Manuela yang membuat ia semakin penasaran. Tak jarang Manuela ikut menyanyikan lagu Ulan Andung-andung ketika aku menyanyikannya. Exotiques, katanya. Aku merasa geli karena cengkoknya jauh api dari panggang. Ia berjanji suatu saat akan berkunjung ke Cungking, bukan ke Bali.

Aku sengaja datang pada bulan maulud, karena pada bulan ini banyak kawinan dan aku berharap gadisku naik pentas dan menyanyi seperti dulu. Benar saja, gadisku mengenakan kebaya putih berenda dan bawahan batik warna hijau, siap menyanyi. Entah apa judul lagu yang dinyanyikannya, sebagian liriknya aku dengar ”Ulan katon adoh panggone. Riko adoh kari parek rasane, eman. Hun enteni riko saenteke ulan. Gawanen isun munggah nang ulan, eman.” (Bulan kelihatan tapi jauh, kamu jauh tapi terasa dekat sayang, aku menunggumu hingga habis bulan, bawa aku naik ke bulan sayang). Aku ge-er, berharap lirik lagu itu untukku.

Gadisku terperanjat saat melihat aku menyelinap menemuinya. Tanpa berucap ia menghampiri dan menarik lenganku pergi menjauh. Kawan sebelahnya cuma melirik sekilas dan masa bodo. Pelayanan seperti itu sudah biasa terutama untuk si penyawer.

Mata bola pingpongnya menusuk tajam ke mataku seraya berkacak pinggang ia memaki ”Ke mana saja kau pecundang?” katanya ketus. Hampir saja aku jatuh tak siap menyambut makiannya. ”Puluhan tahun aku menunggu, empat kali aku menjanda karena menunggumu. Dasar pecundang!” makinya setengah menjerit. Aku tak hendak membela diri, mendengar suaranya saja aku sudah senang walaupun itu makian. Ini cinta ataukah birahi? L’amour sans désir est impossibilité.³ Terdengar desahan napasnya yang memburu. Aku biarkan dia melepaskan umpatannya. Akhirnya kudengar ia terisak. Ingin rasanya aku menggapainya.

Sembari terisak ia merogoh-rogoh tas hitamnya yang sejak tadi dikempitnya. ”Ini sematmu. Tak ada lagi gunanya bagiku. Aku berjanji akan mengembalikannya sendiri kepadamu. Supaya kamu tahu betapa lama aku menunggumu.” Ia mematah-matahkan sematku sebelum mengembalikan kepadaku. Ketika kutanya kenapa dipatahkan? Untuk melampiaskan kekesalannya padaku umpatnya sambil menahan isak.

”Lagu yang kau nyanyikan tadi untukku?” tanyaku berharap. ”Iya,” jawabnya dengan tatapan kosong.

”Tapi itu yang terakhir, aku takkan menyanyikannya lagi,” imbuhnya memelas. Tak tega aku mendengar sumpahnya. Ingin rasanya aku memeluk dan mendekap erat tubuhnya, mengelus, menepuk-nepuk punggungnya sembari meminta maaf, seperti yang sering aku lakukan dalam bayang.

Di atas pentas, remaja putri menyanyikan lagunya Rosa yang sedang ngetop ”Ku Menunggu”, seolah mewakili perasaan gadisku selama ini yang setia puluhan tahun menungguku. Perdants!4 Batinku mendamprat diriku sendiri. (Bekasi, Maret 2011).

1)membosankan

2)bahasa Osing hanya bisa dimengerti oleh orang Osing

3)cinta tanpa gairah itu tak mungkin

4)pecundang!

Written by tukang kliping

12 Juni 2011 pada 10:30

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

54 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jelek

    alya salaisha - sinta

    13 Juni 2011 at 10:55

  2. Seteah 3 cerpenku ditolak (hu hu hu), masih coba mempelajari apa dan gimana kriteria cerpen yang bisa lolos…

    Aba Mardjani

    13 Juni 2011 at 11:42

  3. Salam hangat selalu.
    Selamat untuk saudari Ema Rianto yang karyanya muncul di Kompas. Menurut pemikiran saya cerpen ini keren dan saya banyak menemukan konflik hitam-putih kehidupan tentang cinta, kerinduan, masa lalu, simbolisasi semat, serta alur yang serba merasuk dalam bayangan pemikiran saya. Saya tahu bahwa estimatika cerita ini begitu kental tentang aspek benaman ide yang saling tumbuk, serta konflik yang serba pecah, dan penulis lihai dalam menyematkan trik alur yang sifatnya lebih pada pencitraan seorang tokoh aku yang bercerita tentang cinta-rindunya pada gadis di desanya(desa Cungking barangkali). Ini cerita konfrontasi yang merilis episode kisah hidup si tokoh aku yang sangat cinta pada gadis masa lalunya dan berharap gadis masa lalunnya itu menerima cinta terpendamnya. Lalu konflik diplintir-plintir tentang segala aspek perasaan si tokoh yang campur aduk. Cintanya pada gadis terlampau polaristik, ekstrim dan tendensial akut. Saya memetik kolaborasi titik rindu, titik harapan, titik kasih sayang pada gadisnya, sehingga ia merasa perlu datang ke Cungking dan kembali menemukan dambaan hatinya dengan harapan ia bisa kembali menemukan pelampiasan perasaan rindu sertanya cintanya, meski egonya menekankan bahwasanya gadisnya itu telah menjadi janda beberapa kalipun. Tokoh aku begitu terlalut seperti larutan gula dan kopi, dimana selalu rasa manis dalam kehidupan cinta yang pahit. Kepahitan ini berupa fragmen si gadis yang telah menjanda tapi secara egositas si tokoh aku “tengsin”(gengsi) mengungkapkan perasaannya pada si gadis, mengingat grogi, kaku, dan takut tergunjing. Jelas ini sangat skeptis dan bertolak belakang dengan perasaan meluap tentang cintanya pada si gadis di Cungking. Rela kembali dari rantau yang jauh dan hanya berharap bisa kembali melihat gadisnya adalah suatu tekad serta rindu yang kuat dari tokoh aku yang masih saja mendambakan cinta si gadis di Cungking. Pembaca budiman sekalian, mungkin pendapat saya oposisi dengan pendapat Anda selaku komentator disini, saya menikmati betul cerita ini, sehingga merasa perlu menulis komentar. Nah, saya membaca dengan detail apakah saya bisa menemukan alur atau trik yang bisa membanting antiklimak yang serba tendon dan mengejutkan. Saya tak menemukan itu, lebih karena cerita ini mengalir deras dalam pikiran saya. Saya menemukan aspek dramatikal saat ending, berupa lidi(semat) dari tokoh aku yang ternyata disimpan si gadis sebagai harapan bisa kembali berjumpa dengan pemiliknya semat itu. Ini merupakan simbolisasi bahwa si gadis masih menyimpan perasaan cinta pada tokoh aku, meski secara fakta dia telah beberapa kali menjanda( kurang di jelaskan kenapa si gadis tak menikahi tokoh aku dan memilih juragan gabah, sehingga si tokoh kecewa dan barangkali minggat ke luar negeri). Si gadis menunggu si tokoh aku, menyimpan semat si tokoh aku dan berharap bisa berjumpa, dan mematahkan semat( sekaligus simbol cintanya) di hadapan si tokoh aku. Saya menemukan bahwa si gadis cinta benar pada tokoh aku begitu pula sebaliknya, akan tetapi cinta itu terhalang oleh ikatan status bahwa si gadis merupakan istri orang dan si tokoh aku berharap masih bisa memiliki si gadis meski janda beberapa kalipun. Ini cinta yang begitu krusial, riskan, dan seolah terlalu egoistis dari peran keduanya dalam memandang cinta : cinta mendambakan kepemilikan hati dan fisik, jika cinta itu tak bermuara pada penyatuan ikatan maka cukuplah sudah cinta itu bersemi dalam rasa rindu ingin melihat sosoknya, mendengar suaranya, melihat paras wajahnya serta merasakan getaran dalam setiap mata yang saling tatap, tapi berat untuk diungkap. Bahasa Oring adalah bahasa dialetikal Bayuwangi, seperti kita mengenal istilah bahasa Suroboyonan maka boso osing punya tempat tersendiri yang keberadaannya unik dan dari dialog dalam cerpen ini saya menangkap kalimat boso osing lebih menyerupai daletikal Banyumasan(mirip intonasi serta artikultural katanya khas bahasa dari logat “ngapak ” dari daerah Purwokerto, Kebumen, Tegal, dan Brebes). Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangiatau juga disebut sebagai “wong Blambangan” dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. Suku Using menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,kecamatan singonjuruh,temuguruh Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Using atau lebih dikenal sebagai wong Using oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Using, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Using menyebutnya wong Jawa-Kulon). Dalam cerita ini saya menemukan semacam buday menyematkan lidi di sela tabag/gedheg(dinding rumah ayaman bambu), kepada gadis yang ingin dilamar tapi banyak persaingan, gadis itu memilih lidi siapa yang akan diambil lalu cinta pemuda itu diterima. Hmmm… dalam kisah diatas ternyata lidi tokoh aku di terima dan beberapa lidi pelamar lain pun juga diterima untuk pemilihat kandidat, tapi si tokoh aku kecewa ternyata si ggadis menikah dengan juragan gabah. Ingat! suku Osing bermatapencaharian utama dengan bertani, jadi juragan gabah adalah status orang kaya tentunya, sehingga pemilihan ini dititik beratkan bahwa si gadis lebih memilih juragan kaya raya, tapi dalam hatinya mencintai si tokoh aku. Mungkin pilihan orang tua si gadis karena tak terungkap dalam cerita diatas kenapa si gadis memilih juragan gabah. Selebihnya Anda bisa telusuri sejarah bahasa Osing, pembaca budiman sekalian. Dan tak ada salahnya Anda menengok kilas balik sejarah Majapahit akhir dalam periode masa munculnya Islam di bumi Bayuwangi. Terimakasih dan sukses selalu.

    Tova Zen

    13 Juni 2011 at 14:12

    • ini orang sok pinter banget sih.

      sibangke

      15 Juni 2011 at 11:27

    • ini mas tova zen yang ngajar cendol itu???

      jacob julian

      15 Juni 2011 at 19:37

    • komentarnya lebih panjang dari cerpennya…

      An

      21 Juni 2011 at 17:29

  4. Meskipun saya tidak bisa menyampaikan kritikan sehebat bang tova zen, namun secara singkat, saya menyukai cerpen ini. Banyak hal disampaikan, bukan opini, dan tentu saja karena — ini yg paling penting bagi saya, saya mudah mencerna isinya.

    arizafametxb

    13 Juni 2011 at 14:26

  5. lumayan,

    hendrobudiutomo

    13 Juni 2011 at 14:26

  6. Sederhana. Tempelan tradisi osingnya lumayan menambah perbendaharaan pengetahuan saya tentang kebudayaan tanah air.

    Budi P. Hatees

    13 Juni 2011 at 17:25

  7. Alasan si gadis memilih juragan gabah tak terjelaskan dalam cerpen ini. Padahal dia sudah memilih semat di aku, kok-kok dengan enaknya menikah dengan juragan gabah. Andai ada alasannya mengapa, cerpen ini tentu semakin kuat. dari segi penuturan dan pilihan kata, cukup menarik. Sekiranya ada bagian yang lebih menjelaskan tentang budaya dn siara wong Osing, akan makin sempurna. Sayang kita jadi banyak tahu tentang Wong Osing malah dari Tova Zen.

    meysan

    13 Juni 2011 at 17:33

  8. Selamat sore, bung! Anda sangat cerdas. Cerdas sekali untuk menstimulus paman agar segera mengkritik. Baik, karna itu yang diminta.
    Bukan main, kalau kita teliti sudah sangat banyak cerpen kompas menyajikan kisah topik hal seperti ini. Terdapat amat sangat banyak tulisan yang bernuansa rasialis dalam cerpen ini.
    Jika benar penulis mengambil satu arah dari 2 sifat humanisme. Apakah benar
    Kesederhanaannya mengandung kemegahan? Bagi paman tidak!
    Kata punya kata seperti digelincirkan begitu saja. Lalu seolah2 kesederhanaan kata itu dapat mengejutkan. Seolah-olah itu letak kekuatan kisahnya. Banyaaaak sekali kata demi kata yang seolah dua olah ditawarkan untuk mengejutkan paman. Tapi maaf saja, rasa2nya tidak sampai.
    “Ya, ini bukan mimpi. Aku benar-benar pulang kampung.”
    Kenapa terkejut sendiri? Apa yang hendak dikejutkan dengan tamparan kata seperti itu?
    Sekali lagi, rangkaian kata sederhana di atas kurang ciamik. Ya, seumpamanya ini disebut kemerdekaan berfikir. Bukanya kritisme lah yang menjembatani kedua pantangan antara rasionalisme dan empirisme?
    Namun, elegan jika sudah menyinggung tulisan yang menguliti beberapa budaya sekaligus, dengan kultur sosial yang tak serupa. Berangkat dari situlah kemungkinan besar ide yang penulis pegang erat. 30 tahun waktu yang lama, bukan? Tapi sayang kalau kisahnya sangat miskin kontruktivisme objek, pengalaman, fenomena dan lingkunganya. Aku pulang membawa kisah panjang. Aku pulang hanya untuk mengisahkan kerinduan, benar apa yang disampaikan penulis sendiri, gandrung, gandrung dan gandrung.
    Pun demikian paman tidak lepas respect begitu saja. Karna paman sadar akan meminta2 dari cerpen ini. Terakhir ijinkan paman untuk meminta satu kata dari cerpen ini. Kata apa itu?
    “NAJIS !”

    JADI INGET LAGU Bohemian Rhapsody-nya Queen saat paman masih muda,
    i”m just a poor boy, i need no sympathy…ya..ya..ya…

    Paman

    13 Juni 2011 at 17:48

    • paman, paman,
      anda ini banyak banget klonengannya tapi ndak cerdas,
      wong yang nanya baru di bawah (13 Juni 2011 at 19:38) tapi udah njawab duluan (13 Juni 2011 at 17:48)
      owalah, walah, no sympathy…ya..ya..ya…

      japro

      15 Juni 2011 at 23:31

  9. kangen ama komen si paman euy :))
    setiap minggu saya menunggu cerpen kompas,
    tapi yang lebih saya tunggu adalah komen si paman
    paman mana komenmu?😦

    menunggu si paman

    13 Juni 2011 at 19:38

  10. Jika bulan, bintang, awan, pelangi dan semua benda langit yang sering diungkap, diucap maupun dipuja dengan indah. Maka, itu semua tidak berlaku pada Nata. Ia adalah pengecualinya. Baginya semua itu hanyalah simbol kebodohan dan kesombongan juga kemahatololan yang dipuja. Hujatanya tak beda laksana ia menghujat kilau petir yang menggempita.

    Daim juga Wirya adalah pemuda yang tak menyenanginya. Ada keganjilan yang menghadang ketika dihadapkan dengan fatamorgana gantungan, bayangan bulan bintang, juga keremangan bentuk semen dan kayu. Mereka percaya itu bukanlah dekorasi hidup belaka.
    “Lepaskan, anjing! Kalian tahu apa tentang aku. Kalian mengerti apa tentang aku?” Dalam kerentaanya terselip suara yang menggelegar.
    “Tidak! Perlihatkan dulu padaku kertas itu,” timpal Wirya tak sabar.
    Nata semakin erat memegang kertasnya.
    Sampai malam merajai, sampai gemerisik daun tidak terdengar wajar lagi, hingga aroma tanah semakin tercium. Di tengah malam, di antara suasana remang semua itu terjadi. Satu pertanda air akan ditumpahkan ke bumi dengan curah yang sangat tipis. Sejuruh kemudian Daim terkapar, matanya tertutup rapat, kejang2 tubuhnya di atas tanah lantai gubug rumah Nata di tepian sungai. Ia mendesah, Wirya sadar betul mendesahnya Daim bukan perkara ereksi atau bukan karena orgasme. Namun, desahanya seperti mendapati pedang yang tertancap menembus perutnya. Perih, seumpama alkohol yg diusapkan kepada kulit yg mengelupas.
    Dikemaslah butir2 tanah lantainya setelah dihimpun dan dibasuh dg air oleh Wirya. Tanah dan air adalah kelemaha Nata. Ia akan bungkam dan tak bertenaga manakala melihat keduanya. Ketika Wirya melepaskan pandanganya, Daim dan Nata tak tampak lagi…(bersambung)

    Paman

    13 Juni 2011 at 20:10

    • wah blunder, mending ga usah nulis, paman, komentar saja
      gayanya stensilan banget plus typo di mana-mana,
      menurut saya susah masuk koming tuh kalau tulisan paman ternyata seperti itu,
      just saying

      lanang

      14 Juni 2011 at 01:02

    • weleh weleh,, pamannya malah bikin cerbung. good good.. tapi kayaknya ceritanya nggak kalah najis sama cerpen yang paman bilang najis di atas ini. udah paman, kalo ngritik, eh menghina (soalnya tanpa landasan berpikir yang jelas), ya menghina aja. jangan sok-sokan nulis cerita juga. basi. oldist banget pula.
      jadi pengen muntah deh paman liat tulisannya. SUERRR

      keponakan paman

      18 Juni 2011 at 18:01

    • HA HAHA, SUDAH KETAHUAN KALO PAMAN = PENULIS STENSILAN!!!

      tante

      19 Juni 2011 at 08:09

  11. seperti membaca diary, terima kasih…

    Adhi

    13 Juni 2011 at 20:41

  12. saya lebih suka baca komennya. karena banyak kata-kata baru yang saya dapatkan.

    tukang ketik

    13 Juni 2011 at 20:52

  13. estetika dalam cerpen ini, jujur saya sebagai orang yang terkadang mencoba ngirim ke kompas (di tolak) saya tetap terima, karena nilainilai estietika dalam bercerita cerpen kompas sangat tinggi. mudah2 dapat menjadi pelajaran…. tenx

    mahfud pmii

    13 Juni 2011 at 21:40

  14. Alhamdulillah, sebagai orang awam dalam dunia sastra, dari cerpen dan koment-komennya aku merasa banyak menerima pengalaman dan pelajaran. Tiada kata unik dan layak selain Terimakasih!!

    Otang K.

    14 Juni 2011 at 02:08

  15. Kali ini, maaf, cerpen ini tidak memenuhi standar bacaan saya.

    Pringadi Abdi

    14 Juni 2011 at 08:37

    • Sombong kali!

      lalala

      15 Juni 2011 at 13:21

  16. Setelah membacanya saya tdk menemukan bekas, dari segi bahasa sdh cukup encer lah, tapi coba perhatikan paragraf ke 4, ada perpindahan (atau mungkin belum diedit) dari kata orang pertama ‘aku’ menjadi ‘saya’ setelah itu ‘aku’ lagi.. barangkali tidak terasa tapi ketika diamati itu menjadikan cerpen ini belum cukup matang untuk dinikmati… whatever selamat lah sduah tembus di kompas…

    mashdarzain

    14 Juni 2011 at 09:54

  17. Cerpen yang terpaksa harus dipilih…

    Bamby Cahyadi

    14 Juni 2011 at 15:20

    • maksudnya terpaksa, gimana mas bamby?

      gibb

      15 Juni 2011 at 11:21

    • Emang cerpen lu bagus…dikatain terpaksa…ngaca dong ngaca baby…

      robay

      21 Juni 2011 at 19:03

  18. selamat

    puput juni prayitno

    14 Juni 2011 at 15:32

  19. keren banget ni cerpen… suka banget ma ceritanya.

    auki

    14 Juni 2011 at 15:48

  20. OMG, sangat-sangat kecewa dengan cerpen Kompas ini. Saya suka dengan cerpen bernuansa lokal tapi tidak dengan yang ini. Redaktur Kompas sepertinya hanya terpesona dengan beberapa kalimat dalam bahasa Perancis-nya saja. Betul-betul mengecewakan.

    welli

    14 Juni 2011 at 16:34

  21. Saya sangat setuju dengan paman dan yg laenya, yg menyatakan bahwa cerpen ini gak layak cetak. Owh, Mutunya sangat rendah sekali!
    So..so. Gk ada apa apanya. Cerpen murahan kok skrg bnyk yang naik cetak ya? Tanpa dipertanyakan, saya sudah bisa menebak seperti apa para pengagum cercen gandrungisme kelas jangkrik kaya gni !!

    Tukang backlink

    14 Juni 2011 at 20:45

  22. wadoh. . .
    Gmana ne,cerpennya jelek yg comen tambah jelek.
    Ha,ha.
    Ayo donk kompas,puaskan imaji kami. Baca dulu smua cerpen yg dkrimkan,dah ktmu yg sangat paling bgus diantara yg paling bgus baru dctak. Jgan asal muat dunk,kan mike2 keje dsitu dgaji. Jgan nak tau duet je. Tau jagan2 mike keje cma ogkag kaki je,suntok2 onani keje mike. Makanya xan ctak cerpen yg jeleknya,ampon.

    ugi

    14 Juni 2011 at 22:50

  23. Tinggal di Banyuwangi beberapa bulan terakhir ini membuatku bertemu dengan mereka, tidak sangat intens memang, tapi menurutku selalu lucu mendengarkan mereka berbicara, dan aku menyukai lagu-lagunya.
    Aku belum merasakan cerpen ini benar-benar hadir untukku, tapi aku apresiasi kritik bung tova zen. Aku tidak merasakan impresi yang muncul mendekatkanku dengan ke-Osing-an yang melatari separuh kisah ini, aku hanya merasa Osing dan cerita tentang semat itu seperti sekadar atribut yang bisa digantikan dengan apa pun. Yang sayangnya jika dihilangkan pun tidak menjadi masalah yang berarti. Itu yang membuatku merasa behwa Osing yang dihadirkan di sini hanya tempelan saja. Nuansa Osing tidak kurasakan walaupun ketika membaca judulnya aku begitu tertarik. Mungkin aku agak tradisional dan konservatif, tapi aku merasakan kerinduan akan menemukan cerita semisal ronggeng dukuh paruk atau setidaknya bilangan fu, ekspektasi yang berlebihan mungkin. Dan kelihatannya aku sudah salah kamar itu novel dan bukan cerpen.
    Masalah utama yang aku rasakan adalah pada masalah ‘menurutku’ ketidakberhasilan membawa menu utamanya dengan lezat. Aku kecewa tidak juga, bukan cerpen yang buruk, tapi untuk kusebut memesona, ah gak lah, jangan berlebihan.

    gide buono

    15 Juni 2011 at 09:54

  24. crita y….bgus
    gmn sih cara y menulis cerpen yang baik untuk amatiran sperti aq
    trus qra” ad g ya yg mau trima tulisan cerpen amatir….
    mksieeee

    Keey Youri

    15 Juni 2011 at 10:40

  25. maaf.
    Cerpen ini sepertinya masih perlu di edit barang beberapa kali lagi. Ini masih seperti Draft.

    Adegan-adegannya tidak muncul dalam benak pembaca. Ini masih telling banget, belum showing

    sibangke

    15 Juni 2011 at 11:39

  26. oiya, Ema Rianto, siapakah gerangan dirimu?

    sibangke

    15 Juni 2011 at 11:47

  27. Paman, saya ingin berguru kepadamu. Tolonglah….

    Midori F.

    15 Juni 2011 at 11:51

  28. menurut saya cerpen ini “tidak biasa”, dan selamat untuk itu. walaupun banyak yang mengatakan cerpen ini semacam “gagal”, tapi saya apreciate dengan kisah yang ingin disampaikan (walau mungkin pesannya tidak benar-benar sampai). mungkin “Ema Rianto” menulis cerpen ini ketika kepalanya penuh berjejalan dengan ide-ide yang melompat-lompat dan berebut untuk keluar dari kepalanya. sehingga ceritanya terasa kabur dan tidak fokus. karakter yang dibangun juga kurang kuat, tapi jika dimatangkan sedikit lagi dan fokus atau arah ceritanya diperjelas, pasti jadi menarik..

    untuk semua yang komen, sebaiknya sebagai penikmat harus bijak juga. jangan melulu merendahkan dan menghina dengan bahasa yang kurang sopan. redaksi tentu punya pertimbangan memuat cerpen ini. toh jika anda diminta menulis sebuah cerpen yang “benar-benar bagus” belum tentu anda bisa..

    thumbs up buat Ema Rianto, proses tiada pernah berakhir, andai ini dianggap gagal toh anda sudah berhasil mennyisihkan ribuan yang lain di meja redaksi. Selamat…

    danas

    15 Juni 2011 at 11:57

  29. saya kira ini memang cerpen yang ‘tidak biasa’. tidak biasa karena cerpen ini seperti gubuk yang ringkih, tak punya fondasi, tak punya konstruksi, tak benar-benar dibuat di atas daratan alias terombang-ambing.
    seperti kata mas bamby, cerpen ini seperti dipaksakan dimuat.

    miftah fadhli

    15 Juni 2011 at 15:34

  30. Tidak biasa, tentu saja saya setuju . Walau redaksi ada kesan terpaksa, tentunya redaksi punya pertimbangan kuat di sana-sini. Dan saya menghargai kecenderungan itu. Memang, keputusan redaksi dalam memuat tak lantas selamanya menjadi segala-galanya bagi ‘penikmat’ cerpen, ada kalanya redaksi lalai dalam keputusannya untuk memuat.

    Tapi cerpen ini bagus menurut saya, banyak poinnya dari pada minnya. Seperti kata Bung Tova, alurnya memukau. Bisa jadi, penulis lebih menekankan pada alur dan isi cerita. Kalau soal basa dan gaya, itu soal selera. Seperti kita menemukan kenikmatan dalam sebatang rokok. Bagi saya ini sudah cukup lumayan bagus. Artinya, saya bisa menikmati ceritanya dari awal hingga ujung. Dan itu poin buat saya. Terima kasih.

    sila

    15 Juni 2011 at 15:59

  31. cerpen dan komen nya juga bagus,,,semua karakter babak belur,,,,,

    propa

    16 Juni 2011 at 16:20

  32. HIHI… ada banyak “bahasa” berkelebat, tumpang tindih di situ. aku suka. menjalin, menderas, jalan saja, acuh agak tergesa, agak buru-buru seperti kisahmu yang dulu di kapal pesiar itu. ah, tentang “hal-hal kecil” yang mungkin telah kita/di tinggalkan, tapi tak kan lekang. ia yang dibahasakan sebagai literasi lokal, atau apalah namanya. hmmm.. asyik juga\

    cholif

    16 Juni 2011 at 19:18

  33. Ga tw ak yg bodoh g tau emang ceritanya blur !!! ko g rame ya????

    andika

    16 Juni 2011 at 22:58

  34. Ajari nulis gituan dong. Dimana ya belajarnya? Pengen banget.🙂

    Abied

    18 Juni 2011 at 12:41

  35. wah…cerpen yang menarik….bagus.terimakasih

    Mutiara Pembelajar

    19 Juni 2011 at 12:31

  36. Paman : NAJIS……A: mane aja lu

    robay

    21 Juni 2011 at 18:57

  37. biasa…tp beda…thanks

    ezzuhadka

    26 Juni 2011 at 15:35

  38. hayaaah kono … ora sip blas …😛

    she

    28 Juni 2011 at 15:20

  39. kenapa harus ada lagu rosa di akhir cerita??? ah!!!

    Laura

    29 Juni 2011 at 12:56

    • Cerpen ini mengingatkan masa mudaku saat kost di daerah Cungking

      Wiwied

      30 Juni 2011 at 23:04

  40. lagi berusaha menggali rasa “lebih” buat ceritanya, melongo ngebaca komen2nya. Buset dah… orang sastra ngeri2 banget yah, kalo udah ga suka?

    saya sih cuman penyuka cerita, jadi cuman bisa ngomong secara umum: ceritanya bagus & ngalir, sayang gregetnya ga kerasa. bener (entah sapa) yg bilang kalo tema ini udah umum, makanya harusnya ada daya tarik lain yg dimunculin.

    ah, udah ah, ga berani kebanyakan ngomong. masih anak kemaren sore soalnya.

    beenimnida

    5 Juli 2011 at 07:43

  41. […] Baca entri selengkapnya » […]

  42. Hi my family member! I wish to say that this article is amazing, nice written and come
    with almost all important infos. I would like to see more posts like this .

    chicha paris

    17 Oktober 2012 at 23:39


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: