Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol

with 65 comments


Ribuan orang baik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam.

Ribuan, barangkali lebih dari sepuluh ribu, sebut saja beribu-ribu orang baik-baik telah siap dengan segenap senjata tajam, parang-golok-kelewang, tombak, linggis, pentungan besi, rantai, alu, kayu, maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus, dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan.

Beribu-ribu orang baik-baik, tiada satu pun tiada membawa senjata, tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet, mencincang dan membantai, memenggal dan menyembelih, bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan, karena memang penakut dan pengecut jika sendirian, mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan.

Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan, suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan, semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan, senjata tajam maupun senjata tumpul, yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan.

Sebentar lagi, tepat pada saat hari menjadi gelap, telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.

”Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu,” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan, “perkampungan itu harus dibakar.”

Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa, yang segera saja menjadi gempar. Mirah, kembang desa sederhana, tetapi yang justru karena itu layak dipuja, telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris tak bisa menangis dan tak bisa berbicara.

“Siapa mereka, Mirah? Siapa?”

Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang, bertanya terus sambil memaksa, karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa, melainkan juga penghinaan kepada desa. Pak Carik sendiri, ayah dari korban yang tak bisa bersuara, kaku beku membisu seribu bahasa.

“Katakan Mirah, katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!”

Wajah Mirah sulit diceritakan, karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang, tanpa harus bernoda darah segala, bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Di desa terpencil seperti itu, anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Untuk berada di sana, seseorang atau beberapa orang, harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik, diperkosa di tengah jalan itu, lantas dibuang…

Tepatnya lebih baik begitu, supaya terdapat pihak yang bisa diganyang.

Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. Namun beberapa saat lagi, ribuan orang yang merupakan gabungan duapuluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan.

***

“Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini, perkampungan candala itu memang sudah lama harus dibakar,” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Sebagai penjaga keamanan ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur yang menghuni perkampungan itu.

Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur, tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana, melainkan percabangannya yang menuju ke atas, tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur, dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. Batu-batu kapur yang putih kekuning-kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka, sampai mereka lupa sebelumnya orangtua mereka mendapatkan penghasilan darimana.

Di pegunungan kapur tidak ada sawah, jadi nenek moyang mereka, bahkan sampai kepada orangtua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup, tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. Mulai dari berburu dan menjerat binatang, mencari ikan di sungai, dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan keluar desa, dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan sudah cukup bahagia dengan ubi.

Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur, dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur, tidak kurang dari duapuluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur. Dalam waktu empatpuluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang, separuhnya kini lebih terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan …

Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan.

“Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka,” ujar Pak Lurah berulang-ulang.

Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur, sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa, yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja, di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu, membuka kios rokok dan sampo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur, dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman, ikut menyanyi, dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali.

Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa, karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan.

“Senyum rayuan beracun!”

Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik.

Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. Namun pemandangan orang menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci.

“Lagipula, siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?”

Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan, jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja.

Mirah masih terpaku beku tanpa suara. Pandangan matanya sungguh tanpa makna, bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu.

Memang benar, apabila ada pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan, selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti, karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak, begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan, dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa takdikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu peresmian, bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan, jika perlu bahkan tanpa alasan!

Kebencian, ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya, adalah satu-satunya alasan itu sendiri…

Orang-orang luar, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti, menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa.

Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana, dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa.

Jagabaya itu, yang sejak awal sudah selalu ragu, pulang dengan tangan hampa.

“Apa kata mereka?”

Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana.

“Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala, tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapapun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta, karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali, baik kepada orang luar, apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun sampo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur, tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu, bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu, kami tidak takut mati, karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!”

Dalam keremangan, tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam.

“Dasar bejad!”

Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Langit yang tadi kemerah-merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa, meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala.

“Serbu!”

Maka ribuan orang baik-baik dari duapuluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak, sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. Ada yang menahan lari karena takut mati tetapi terseret dan terpaksa melaju ke depan jua. Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran, meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah, karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala?

***

Syahdan, di perkampungan takbernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang, tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Nyaris tidak ada seorangpun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. Ada yang memegang batang kayu, ada yang memegang gagang sapu, dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. Para pelacur yang senyumnya manis, begitu manis, bagaikan tiada lagi yang lebih manis, ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum.

Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari, betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari, betapa para candala, jika memang candala, dan tiada lain selain candala, yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman, tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka, meskipun dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga, meskipun tak pernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata, betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep, tenung, teluh, kebal tubuh, dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja?

Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu taksadar, setaksadartaksadarnya, betapa batang kayu, gagang sapu, dan sebatang lidi itu sekali digerakkan, sembari melenting-lenting di atas kepala, akan memakan korban jiwa, setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah, ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu, betapapun tidaklah pernah membayangkan, bagaimana selendang yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala, dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa.

Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah.

“Serbuuuuuuuuu!”

Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah, sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara.

Namun, betapapun, segalanya sudah terlambat.

Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan, bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta, melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya, masih berusaha—memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya, tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya…

Kampung Utan,
Sabtu 1 Januari 2011. 23:23.

Written by tukang kliping

5 Juni 2011 pada 23:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

65 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wahaha. asik. akhirnya SGA nongol juga..

    gibb

    7 Juni 2011 at 00:02

    • Ugh aku gagal pertamax. Tukang klipping telat uploadnya?! Padahal udah stanby senin dinihari…

      Emmm, cerpennya bagus. Seperti anak SD rangking 1 yang dapat nilai 8 oleh gurunya. Ya, seperti itu… He, maaf om.Tapi cerpennya bagus kok… hanya saja generasi kami suka style yg lebih baru.

      Iyud

      7 Juni 2011 at 17:33

  2. Menyimak, belajar…

    Aba Mardjani

    7 Juni 2011 at 00:41

  3. Asalamualaikum..Seakan tenggelam dalam cerita ini.. Sebenarnya tak ingin aku berhenti membaca, dari awal, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, hingga akhir, yang terbaca adalah keindah, dari cerita ini.. Twisted ending.. Nice.. Akhir kata,
    wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.🙂
    http://www.facebook.com/thole.sui

    puput juni prayitno

    7 Juni 2011 at 00:46

  4. Cerita yang menarik. asyik dibaca untuk memulai hari. Mantap…

    yusrizal

    7 Juni 2011 at 07:13

  5. saya heran, apakah karena kualifikasi redakturnya yang diragukan sehingga cerpen kompas yang dimuat selalu mengecewakan atau karena memang sulit memilih cerpen yang bagus dari sekian banyak cerpen yang masuk ke desk redaktur setiap minggu cerpen yang dimuat lebih sering mengecewakan?

    tapi, ketika cerpen yang dimuat adalah cerpen milik para maestro/tetua cerpen Indonesia, karyanya selalu memberikan kepuasan?

    atau satu lagi: apa karena yang nulis cerpennya memang sastrawan terkenal?

    miftah fadhli

    7 Juni 2011 at 09:42

    • Setuju dengan Miftah.

      Budi P. Hatees

      7 Juni 2011 at 20:39

    • Redakturnya baru, sudah agak lama sih menggantikan Bre Redana. Itu kuketahui setelah cerpenku ditolak, ternyata seorang perempuan, dulunya redaktur bagian politik (kalau tidak salah). Namanya saya lupa. Mungkin bagi dia tak mudah memilih cerpen mana yang pas dengan seleranya dan selera pembaca.

      utie

      11 Juni 2011 at 21:23

    • Lihat saja gaya bahasa pengulangannya sangat norak dan bikin lelah yang baca. saya tidak suka gaya bahasanya.

      Juminten

      17 Juli 2011 at 03:02

    • kenapa? cerpen mas g pernah dimuat ya? karena kebagusan???

      lalu

      11 Januari 2012 at 14:58

  6. ending masih kurang menggigit…. hmmm

    reganleonardus

    7 Juni 2011 at 10:14

  7. Kerinduan pada estetika bahasanya SGA akhirnya dijawab…

    Pringadi Abdi

    7 Juni 2011 at 10:59

  8. seperti biasa, SGA sebaiknya berhenti menulis dan mengambil kursus menulis kreatif.
    dari dulu teknik menulisnya gak maju-maju. saya tdk tahu, apakah redaktur media atau warga indonesia yg bodoh hingga menggemari cerpen-cerpen berkualitas rendah seperti ini ?
    tdk ada yg menarik. seperti emnonton sandiwara dgn narrator duduk di tengah panggung menceritakan semua kisah dr awal sampai slesai. membosankan.
    ini bukan cerita fiksi, ini opini, deskriptif. semuanya dijelaskan oleh penulisnya sendiri.
    jadi SGA, baiknya berhentilah menulis, lalu ambil kelas menulis kreatif.

    rianty

    7 Juni 2011 at 12:43

    • beri contoh karya anda..baru bisa saya bandingkan

      labib akmal basyar

      11 Juni 2011 at 18:07

    • andalah yang terlalu bodoh untuk memahami karya sastra.

      joellie

      27 Juni 2011 at 05:00

    • Wah anda pasti sering menulis dan punya banyak tulisan yang keren keren, yang pastinya mungkin tulisan itu sudah menumpuk numpuk dengan setinggi tingginya sebuah tumpukan yang mungkin pernah ada di atas meja, dan tumpukan tulisan anda yang bagus-bagus malah mungkin teramat sangat bagus sekali itu telah memancarkan warna keemasan pula. sehingga anda dengan begitu menakjubkan memberikan komentar yang berapi-api, saking berapi apinya anda ingin dan hendak memenjarakan bentuk, ungkapan dan pola sebuah sastra yang sejatinya merupakan ruang kebebasan ke dalam bentuk dan keinginan dan keseragaman yang anda inginkan. saya jadi menuduh diri saya mencurigai anda bahwa sebenarnya nama “rianty” adalah nama samaran yang menyamar dengan sebenar-benarnya bentuk samaran sehingga menutupi mata saya dari membaca jenis bentuk, penuturan dan ungkapam dari tulisan anda yang keemas emasan itu ( itupun jika ada )…

      sebutsajaaku

      3 Oktober 2012 at 23:54

  9. Banyak benar kata-kata tidak layak keluar di blog ini tapi tukang kliping membiarkannnya, Contohnya: Goblok,Dungu dan lain2.

    @Tukang kliping:

    Postingan yg mencaci maki,terlebih mengajak memaki segera dihapus.
    Apa benar anda mengetik ulang cerpen dr koran? banyak yg tidak sama dengan yg di koran.

    Saya pelanggan koran Kompas sejak 1992

    PERINGAT

    7 Juni 2011 at 12:53

  10. Saya suka cerpen ini. Ada cerita silatnya. “Selendang yang bisa meremukkan batok kepala…” Woow!

    Asep Sofyan

    7 Juni 2011 at 14:04

  11. Sekalipun lemah jiwaku kosong, sedikitpun terang hatiku bimbang.
    Oh, Tuhan. Sesungguhnya engkau kuanggap tidak ada jika tak kuasa mencipta wanita. Aku lemah, Tuhan. Amat lemah! Aku menggigil jika tak menyemburkan tinta putih kenikmatan. Aku pusing jika tangan tak mencengkram buah dada. Seumpama tak bertulang jika tak mendempet eratkan kepada tubuh yang kau namakan wanita. Dan Mirah dalam cerpen ini. Sama sekali tdk paman anggap.
    Sama sekali tidak indah. Tidak sekali-kali!!
    Saudaraku, pada awal pena anda gesekan, saudara terkesan terlalu ceroboh meyakinan paman bahwa inilah cerita kemasan dalam nuansa yang mempesona. Hanya paman heran? Kenapa lantas merampas lagi keyakin yang di awal kisah anda seolah-olah memperjuangkan untuk disuguhkan?
    Ya, ini mungkin saja kekeliruan paman. Paman tidak merasa dimanjakan dalam ini kisah. Paman berani katakan jelek karena apa? Ini kisah yang cenderung menggiatkan sisi latar yang padahal sama sekali tidak menarik! Di pertengahan, paman hanya disuguhkan frase yang menuangkan kejenuhan antara gunung dan kapur. Hal sia-sia ini terlalu diperpanjang. Satu yang menarik dari cerpen ini ialah nyeleneh. Unik punya!
    Sah saja umpamanya anda mencampakan sisi ilmiah pada penafsiran tabiat. Tapi yang paman tahu pasti, bahwa psikologi itu bukan ilmu ramal, anda menduga berarti anda telah meneliti, mengobservasi pada titik yang pecah, hingga anda bisa menyimpulkan arti kepingan2 kata yang menjiwai ruh di tiap2 pecahanya.
    Sebenarnya tidak ada yang perlu diragukan menerangkan sifat perempuan dg bebas, di sini kau menampilkanya dg sangat terlihat gelap.
    Hanya keburaman deskripsi tersebut mungkin yang membuat penilaian paman kepadada cerpen ini untuk menuliskan “SANGAT” di awal kata “JELEK”. Terima Kasih.
    “Serbuuuuuu.”

    Paman

    7 Juni 2011 at 15:20

  12. hmmm… kayak nyimak kamus besar bahasa Indonesia

    Adhi

    7 Juni 2011 at 15:35

  13. Cerpennya bagus. Salut buat Paman atas apresiasi2nya….Salam kenal

    mataairmenulis

    7 Juni 2011 at 17:04

  14. Buat Paman, kasih tips dunk cara menulis cepren yang baik menurut paman. maksh sebelumnya…

    mataairmenulis

    7 Juni 2011 at 17:07

  15. BAGUS.. sy suka cerpennya. bacanya g berenti smpe akhir. seperti mengangkat perang Bharatayudha tp membalik posisi ‘orang2 baik’ dgn ‘orang2 jahat’. sekumpulan orang yg mrasa baik (berdasarkan penilaian sendiri), kemudian menilai orang lain buruk karena berbeda dengan mereka. ini biasa terjadi, bkn? sperti beberapa kritik diatas yg merasa mengerti benar cerpen yg bagus menurut zaman, kemudian menyerang cerpen ini dengan cacian yang buat sy menggunakan kata2 yg kurang tepat.😀, cerpen ini juga berusaha menyampaikan banyak pesan untuk direnungkan.
    terakhir, krn sy pencinta cerpen, maka sy ingin membaca berbagai ‘style’ tidak peduli zaman..
    trus menulis SGA…

    kunto

    7 Juni 2011 at 20:07

    • Setuju lah saya mah….
      Orang Yang diatas cuma bisa mencaci. Padahal dirinya belum tentu mampu.

      andri

      1 Oktober 2012 at 04:06

  16. Setelah membaca PENEMBAK MISTERIUS, DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI, SEPOTONG SENJA…, SAKSI MATA, JAZZ dan lain-lain…. Aku tak suka cerpen ini. Tak membuatku sibuk berpikir.

    Budi P. Hatees

    7 Juni 2011 at 20:47

  17. peringat? Kata apa itu? Wkwkwk,,,nama yg benar2 dungu!

    lampor

    7 Juni 2011 at 22:38

  18. Buat yang berkata kotor, ribut aja gua.

    Jawara Karawang

    8 Juni 2011 at 01:06

  19. paman2,sungguh RENDAH SELERAMU!!!
    tak pernah pman memuji karya orag lain ntk komen pman d kmpasne.
    Mgkin pman bisa ok jika crpen it brcrta tntag *Tundun* n *batang palem*.
    Ha,ha. . .
    Kcian paman.

    ugi

    8 Juni 2011 at 01:24

    • suruh paman kirim ke kompas, besok dikliping disini, baru kita komentari…

      labib akmal basyar

      11 Juni 2011 at 18:11

  20. Cerpen yang ini menurut hematku, HEBAT.
    Dengan bahasa yang sederhana dan alur cerita yang lugas.
    Walaupun oleh para komentator yang hebat dilihat secara sinis,karena terkesan ringan dan tak pelak kekesalan mereka tumpah ke redaktur nya, saya menikmati cerpen itu sebagai wajah perilaku sosial sebagian masyarakat kita kini. Kemampuan mengangkat phenomena sosial yang rumit itu dengan cara sederhana merupakan kekuatan dari cerpen SGA. Sukses Bung

    Onez Bd

    8 Juni 2011 at 14:34

  21. cukup menarik sih dari permainan kata-kata. Sehingga enak dibaca hingga akhir. dari segi cerita, memang tak memuncukkan konflik. Tapi sikap yang serupa itu banyak terjadi di lingkungan kita. banyak orang mengaku dirinya baik-baik, paling baik, sangat baik, hanya untuk menutupi kebobrokan dirinya. Koruptor bilang, siap memenuhi panggilan pihak berwajib karena dia taat hukum. Padahal jelas-jelas perbuatannya sangat melanggar hukuk, Hehehe….

    meysan

    8 Juni 2011 at 19:14

  22. steleah cerpen BOTOL KUBUR sampe sekarang belum ada cerpen yang menohok..

    sudah serbulan lebih.

    redaktur kompas buruk sekali dalam memilih cerpen yang bagus..!!!!!

    mughni

    8 Juni 2011 at 20:21

  23. aku setuju dgn kunto.
    Jk dicermati dan dipahami,cerpen ini mengajarkan kpd kt tentang sikap yg seharusnya jgn terlalu terbawa emosi,amarah,prasangka kpd org lain yg akhirnya berbuntut penyesalan yg terlambat buat kita.
    Untuk sang penulis,salut dan cerpennya bagus. Aku suka bs kujadikan bahan untk belajar. Cia yoo. . . .

    arwentyrs

    8 Juni 2011 at 20:32

  24. sebagai pembaca, saya sangat menikmati cerpen ini. itu saja.

    FGH

    8 Juni 2011 at 21:32

  25. ceritanya bagus mengingatkan hal yang bisa terjadi ditengah kita…thanks

    jagau

    8 Juni 2011 at 21:46

  26. U : Komentators yang uring-uringan
    P : Kalo mangs cerpen itu jelek mending pada komentarin cerpen w

    SUATU HARI
    ‘Suatu hari’, bila ditambah kata ‘pada’ menjadi ‘pada suatu hari’, ingatkah kalian tipu daya semasa kecil, sebelum akhirnya kalian mahir dan enggan memulai menulis cerpen dengan kosa kata itu. “pada suatu hari” begitulah para pendongeng memulai tipu daya yang menjadi awalan yang membosankan untuk setiap cerita, mentang-mentang dahulu kala kalian masih bocah. ‘suatu hari’ belum tentu hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, pahing, legi, pon, kliwon, wage atau sebutan hari dalam kalender lain. Setiap kali diantara kita mengucapkan ‘suatu hari’ seakan-akan itu adalah kosa-kata yang sia-sia, cara kalian mengulur-ulur waktu, cara kalian untuk menggantungkan harapan karena janji yang tertunda terhitung dosa apalagi kalau sampai hikayat bertamat janji belum ditepati. ‘suatu hari’ adalah elakan dua sejoli yang cintanya simpang-siur. ‘Suatu hari’ adalah waktu yang tak dapat buat berpijak, meragukan kadang terdengar keji, tapi nyatanya Tuhan sendiri telah berjanji bukan hanya pada seluruh umat manusia di muka bumi, tetapi juga pada matahari, bumi, bulan, planet, komet, bintang, gunung, batu, rumput yang bergoyang, angin sepoi-sepoi- angin ribut, tinja, kentun, ingus, ludah dan segala ciptaannya bahwa ‘suatu hari’ itu telah ditetapkan dan pasti akan Dia laksanakan. Konon kata-Nya, suatu hari yang dijanjikan-Nya adalah hari terakhir, tiada hari lagi yang merambat seusai ‘suatu hari’-Nya dan bagi yang tak meyakini ‘suatu hari’ manusia baru nyaho saat Dia membuktikan suatu hari itu.
    Hari ini aku hidup di zamanku sangat tidak lama setelah hikayat kalian telah menjadi berdera kuning. Saat kalian ada Dia sebenarnya telah mengingatkan ‘suatu hari’ itu sudah dekat, tak akan ada mahluk pun yang mampu membuatnya menunda menyatakan ‘suatu hari’, termasuk iblis yang pantang menyerah, kekal, senantiasa menjelah buah pikiran kotor pada manusia yang kelak pasti dijejal di sumbu neraka seusai ‘suatu hari’ yang telah kita nanti. Hujan darah mewarnai dataran india, hujan katak, hujan ikan bersama air menjadi teror alam yang menyongsong, mendukung, sepihak pada janji pasti ‘suatu hari’ itu sebentar lagi, hujan ulat bulu menyertai letusan Gunung Merapi, namun itu bukan ulat bulu, tetapi adalah hewan yang bergerak lebih cepat dan menjijikan yakni jejengkalan, lumpur dan gas akan tetap muncrat selama tiada yang mampu menambal lubang keluarnya di Sidoarjo. Teror alam yang tidak masuk akal mulai merebak, bukan hanya itu, kapal Nuh, kapal Noah telah menceritakan bahwa memang yang mengucapkan ‘suatu hari’ itu ada. Bukan hanya dongeng, bukan tipu-daya yang menjadi anggapan di antara kalian pada pelbagai kitab suci. Teror alam yang menyertai kalian untuk ‘suatu hari’-Nya belum seberapa.
    Hari ini kulihat matahari lama sekali membakar kami, bukankah biasanya matahari memamerkan ketampanannya hanya selama dua belas jam, tapi rasanya sudah beberapa hari ini matahari telah ingkar delapan jam, buktinya jarum penunjuk waktu yang setia berputar di dinding, di tangan di kampus, di rumah tetangga serempak mengatakan bahwa matahari di hari ini memang kelewat sombong selama delapan jam. Bulan menjadi iri pada matahari, malam ini bulanpun melebihkan jatah pameran ketampanannya selama delapan jam. Pernahkah di masa kalian satu hari senilai dengan empat puluh jam? Semenjak matahari dan bulan semena-mena membagi waktu siang dan malam kami menjadi tidak peduli malam ini 31 desember sudah jam berapa? Apakah sudah waktunya kami meniup terompet? Kami berharap tahun yang baru memberi rejeki yang melimpah dan di hati kecil kami, kami menginginkan penjelasan apa gerangan yang menjadi alasan matahari dan bulan menjadi salah tingkah, firasat kami kelakuan mereka ada hubungannya dengan ‘suatu hari’.
    Tanggal satu januari berwarna merah, tapi tanggal duanya jatuh pada warna hitam, apa yang baik di tahun ini sekolah mulai ditinggalkan, kampus mulai ditinggalkan, rumah-rumah pendidikan satu persatu mulai ditutup rapat-rapat, rupanya anak-anak memang lebih suka bergaul bebas dari pada belajar, hanya sedikit orang yang peduli pada pendidikan, uang untuk dana cuma-cuma pendidikan pun lenyap, kekhalifahan negara merajalela berkhianat. Namun meskipun dana itu ada atau anak-anak diberi fasilitas cuma-cuma dan tercukupi, anak-anak lebih suka mengembangkan gaya hidup yang tak berfaedah dan semakin membenci ilmu di sekolah, akibatnya otak mereka tumpul, rohani mereka rapuh, nurani mereka terkunci jauh, akhlak jahil muncul. Mereka memiliki sifat konsumtif, mereka tidak suka lagi berhitung sulit, tidak mau kuliah, tidak mau mempelajari ilmu perbintangan dan ilmu hitung alam lainnya. Kampus pendidikan dan ilmu alam mulai ditutup.
    Tiada lagi yang dapat mengurusi otak-atik hitung dalam penanggalan dalam setahun, sampai tanggal 3 januari belu ada orang yang mengirimi kami kalender untuk tahun ini, aku meminta pada tetangga dengan segala mereka bilang juga belum punya kalender, kalau aku berbelanja biasanya dapat kalender, tapi hari ini kasir memohon ampun padaku mereka pun tak dapat kiriman kalender bonus dari agen barang-barang yang mereka jual, nyatanya entahlah seingatku bulan januari sampai tanggal 31 anggap saja matahari yang mulai ambil jatah itu tandanya tanggal satu februari. Matahari dan bulan tetap punya kelakuan begitu, malah makin menjadi-jadi, hari ini sudah tiga hari bulan mengambil alih pandangan, ternyata pandangan kami tak mampu megapai bulan, ternyata bulan tampak hanya bila matahari menyinarinya, itu tandanya matahari lebih tampan dari bulan, malam ini gelap-gulita. Rupanya matahari bosan memamerkan ketampanannya kemudian berlari ke langit ketujuh, mengadu pada penciptanya supaya menyegerakan ‘suatu hari’ yang dijanjikan-Nya.
    Tampaknya kalian lengah ! Di zaman kalian telah tampak sekumpulan orang yang bersungguh-sungguh untuk menjawab teka-teki ‘suatu hari’ merekalah orang yang mau melakukan pendekatan dengan alam, mencari alasan tentang teror alam melalui perhitungan. Mengumpulkan empat jenis gaya yang menjadi cikal bakal kelakuan alam semesta, mereka berambisi menyusun empat gaya menjadi sebuah teori dari segalanya yang kita kenal sebagai ‘Theory Of Everything’, untuk apa? Tentu saja untuk mengetahui kapan kemungkinan besar hari kematian kalian ! Alih-alih mereka pun ingin memastikan kapan ‘suatu hari’ tuhannya akan dilaksanakan. Mereka ahli hitung yang sebenarnya ceplas-ceplos, tapi karena kalian tidak tanggap, kalian seakan-akan menggap mereka telah merahasiakan sesuatu ! Beberapa diantara mereka tidak yakin pada suatu hari, kalaupun disebut suatu hari, maka di suatu hari itu alam semesta mereka anggap hanya menggulung seperti tikar untuk sesaat kemudian segera melapang lagi, berulang-ulang begitu untuk setakterhingga waktu. Ada juga orang yang kalut konon katanya suatu hari bakal jatuh pada tahun 2012, namun nyatanya 2012 berlalu diatas pepesan kosong, tapi aku salut pada para pendongeng suatu hari di tahun 2012 rupanya mereka mengetahui cara jitu untuk memburu uang di negeri ini.
    Matahari merasa mual, meskipun Kaum yang mendurhakai Luth dari Tanah Sodom telah diporak-poranda-luluh-lantahkan sehingga tak mampu beranak-pinak, namun wataknya diwariskan ke kebanyakan lelaki jantan yang kemungkinan di akhir zaman karena masa telah dekat dengan suatu hari, itu membuat kejantanan lelaki layu, para lelaki semakin menjaga jarak dari perempuan sementara sesama lelaki sama seperti dua kutub magnet yang tak senama ‘utara’ dengan ‘selatan’ saling berhimpit, mesra di muka umum. Tiada bedanya dengan wanita mereka memotong rambutnya sependek rambut pria tampan, cenderung menyukai sesama dan menjaga jarak dari para lelaki yang dahulu jantan. Hewan-hewan melata tak tahan lagi menonton kekecewaan di muka bumi, mereka mencaci-maki kelakuan manusia dengan bahasa manusia.
    Nampaknya bumi pusing melihat kelakuan manusia, arah tariannya seperti penari balet yang berbalik arah akibatnya hari ini si tampan matahari mulai memamerkan keluh-kesahnya dari ufuk barat dan tampak punggungnya di ufuk timur saat senja. Dari perutnya ada suara parau sama seperti suara perut yang tidak karuan, gara-gara kelakuan kalian bumi memang mengerang kesakitan, mual ingin memuntahkan seluruh isi perutnyanya saat ‘suatu hari’ tiba.
    “Yakinkah kalian bahwa suatu hari itu ada?”

    adi, si pengacau

    8 Juni 2011 at 21:55

  27. bagi org awam sperti aku, menulis cerpen yg baik sangat sulit. Tp dalam cerpen SGA aku belajar banyak. aku suka fenomena sosial yg diangkat SGA.

    hesty indra

    8 Juni 2011 at 22:03

  28. Baik dan buruk adalah sebuah pandangan yang subjektif. Kita tak bisa menentukan apakah baik dan buruk hanya lewat kesan sekali lihat. Ada istilah di Hollywood yang disebut ‘cult movie’, itu adalah sebuah ungkapan dimana film yang awalnya dianggap buruk, ternyata dapat ditangkap kesan baiknya setelah ditonton berulang-ulang. Sama halnya cerpen ini, penggambarannya yang sederhana, alurnya yang bombastis, mungkin akan dinilai sebagai kekurangan bagi beberapa penulis. Tapi bisa jadi ini adalah kelebihan cerita ini di sisi lain.

    Ardi Pramono

    8 Juni 2011 at 22:10

  29. Bagus, seperti biasanya mas SGA…
    Cerita bertutur dan itu gaya mas Seno…..
    Salut!

    donaLd

    8 Juni 2011 at 23:31

  30. aku suka diksinya, aku suka temanya, aku suka cara tuturnya, tp d bbrp tempat menurutku agak bertele2, di bagian cerita ttg org2 kmpung yg g tau ttg karakter sakti lawannya aku rasa agak TMI too much information. aku gak suka endingnya sama sekali! beberapa paragraf itu dihilangkan malah mbuatku menikmati cerita ini. it’s good but not great!

    gide buono

    9 Juni 2011 at 09:54

  31. judul cerpen ini mengingatkanku akan OSMARUku
    Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol merupakan yel-yel kami pas diplonco ma kk tingkat
    semua orang yang denger yel-yel kami langsung menoleh dan ketawa
    eh sekarang malah dibuat judul cerpen
    q lom baca sih cerpennya..bagus engga?
    soalnya tanganku gatal pengen langsung comment

    meiphtah

    10 Juni 2011 at 07:23

  32. SGA … salalu tak tertahankan pesona nya …🙂

    she

    10 Juni 2011 at 16:51

  33. Bung Ardi Pramono berkata benar, saya suka sekali komentar anda.

    rozzi

    11 Juni 2011 at 22:41

  34. Beberapa kali sy membaca komentar2 senada. Menunjukkan kekurangan sana sini, penilaian itu ini, kelebihan itu ini. Dan pendirian sy tak berubah: penilaian itu sifatnya subyektif apalagi yang menyatakan selera. Masing2 punya style sendiri dalam membuat cerpen, dan yang lain juga punya sudut pandang sendiri dalam menikmati. Meskipun saya kurang suka cara bercertai SGA (kecuali cerita realisme seperti ‘PELAJARAN MENGARANG’ yg tersohor itu – samapai Agus Noor pun membuat skuelnya), namun sy menghargai subyektifitasnya. Dan untuk hal-hal tertentu sy juga perlu banyak belajar dari beliau, seperti diksi yang menurut saya luar biasa. Saya percaya, dengan cara seperti ini, sy bisa maju.

    arizafametxb

    13 Juni 2011 at 10:20

  35. Sebagai selingan bolehlah…..

    Bamby Cahyadi

    14 Juni 2011 at 15:17

  36. BAGUS.
    sangat mengambarkan keadaan kita sekarang.

    ayubi

    19 Juni 2011 at 05:11

  37. pembenci fpi. pecinta kemaksiatan. tul nggak?

    une_cutie

    20 Juni 2011 at 09:31

  38. mencela memang gampang. rasa selalu soal selera. baik itu rasa tempe bacem atau rasa nikmatnya membaca cerpen. jadi nggak usah sok ngeremehin karya orang. ini pendapatku. cerpen-cerpen pilihan justru KOMPAS keberatan bahasa. isi ceritanya ga seberapa. apa sih ukuran kesuksesan sebuah karya sastra? apa kalau tulisan itu bikin kepala mumet dengan bahasanya yang njlimet baru bisa dibilang sukses? tulisan yang baik dimaksudkan untuk menghibur bukan? menurutku cerpen ini sedikit banyak sudah memenuhi kriteria tersebut. JADI NGGAK USAH SOK-SOKAN DENGAN CERPEN YANG KEBERATAN BAHASA! menurutku, kalau mau baca tulisan yang bagus baca saja karya
    -karya penulis luar seperti sidney sheldon, atau kalau nyari yang best seller sekaligus menghibur baca harry potter. FAKTA: KARYA-KARYA MEREKA BANYAK DISUKAI DI SELURUH DUNIA!

    hard_man

    20 Juni 2011 at 09:41

    • Nda usah d bc d0ng ndul klo cm bkn km mumeett……klo bhasa.a pake elu,,gua.,,ntr d blng nda cinta bhasa indonesia doongg,..

      Miss aida

      6 November 2011 at 12:41

    • looooh…menulisakan bahasa yang ruwet itu perlu pembelajaran yang ruwet juga!!! untuk mencapai ke tahap itu, perlu gemblengan yang berdarah darah dulu mas! awam tidak nya seseorang memang kelihatan dari caranya berkomentar.

      leil

      16 Maret 2012 at 13:26

  39. hidup kemaksiatan! hahaha! digeruduk FPI nyaho lo!

    hard_man

    20 Juni 2011 at 09:45

  40. Berkelas

    Abi Ardianda

    25 Juni 2011 at 23:49

  41. :
    hahahaha
    Masalah selera kok bisa saling menyalahkan..
    Nikmati saja, buat segelag kopi dan nyalakan rokok bung..

    Ucok

    27 Juni 2011 at 19:30

  42. walo aku ga suka style penulisan cerpen diatas, tapi tetep menghargai kaya orang lain, terlebih karya orisinil. setiap orang pny selera masing2.
    bravo cerpenis indonesia !

    khusus utk cerpen diatas, mudah ditebak ending ceritanya. di pertengahan aku udah feeling pasti yg mengganggu si gadis adalah dari kaum baik2 juga😀

    easy

    29 Juni 2011 at 21:43

  43. Malam kusam. Tanpa rembulan. Hanya celoteh-celoteh tak bermakna dari mulut para pemabuk yang memenuhi udara. Untunglah cerpen ini ada. SGA memang tiada duanya.

    Kretekkritikkrutuk

    3 Juli 2011 at 04:00

  44. bertele-tele, ceriwis, sangat membosankan di pertengahan cerita. gaya bertuturnya mirip Asmaraman S, Kho Ping Hoo, diksinya seperti melihat perempuan telanjang di balik kaca buram, nama besar belum tentu jaminan…

    joewicks8

    3 Juli 2011 at 22:28

  45. Cerpen ini, menyuguhkan kata-kata yang begitu unik, memikat, dan mempesona. Alur ceritanya pun cukup menarik pada awalnya. Menurut hemat saya, barangkali SGA dalam cerpen ini mencoba untuk mengirimkan pesan kepada kita semua bahwa kerapkali kita merasa paling suci dan benar untuk berprasangka/menghakimi orang2 yang kita anggap lebih buruk daripada diri kita. Padahal, kita harus menyadari, kita bukanlah orang yang paling baik. Dan kita bukanlah orang yang paling benar dan juga suci. Begitu pulalah sebaliknya, orang lain yang kita anggap buruk, tidak suci, dan murahan, belum tentu seperti itu. Dari cerpen ini, saya belajar jangan menjadi naif dan munafik. Seperti yang digambarkan SGA pada awal paragraf di cerpen ini “Ribuan orang baik-baik” yang main hakim sendri terhadap “perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur”.
    Pada intinya, cerpen ini menarik. Walaupun, jujur saya tidak terlalu suka pada endingnya..

    Hidup sastra Indonesia!!

    Pandela

    13 Juli 2011 at 05:56

  46. mengambil gitar dan mengaduknya dengan kopi hangat yg baru kubeli di warung bik mijah. setahuku tidak ad yg lebih tajam dari senar 1 pada gitarku, yg bisa membelah bokong Misnah, anaknya si bibik menjadi 2. Kucabik, kuserut dengan erotik dan kutaburkan di cangkir kopi bak choco granulle ala barat. rasanya memang tidak enak, dan masih tetap standar warteg, tapi lebih bernilai daripada hanya duduk dan onani tentang dewa dewi yg telanjang.

    Bernard Oktaviano Simatupang

    21 September 2011 at 01:54

    • BANYAK KOMENT BERARTI CERPEN SGA BANYAK YG PERHATIIN …. JOS…

      Anina

      7 Maret 2012 at 20:07

  47. bukannya sok pintar, tapi rasanya, dari awal cerita sudah kelihatan endingnya akan seperti apa..
    walau demikian, saya tetap salut pada gaya bercerita SGA..
    we want more!

    theokaraeng

    12 Mei 2012 at 13:23

  48. 🙂 i’m like it

    umypoenya

    7 Oktober 2012 at 13:48

  49. Reblogged this on Desah Kata and commented:
    Cerpennya keren, suka banget sama karya Seno🙂

    lalurahman3

    5 Mei 2015 at 07:53

  50. cerpennya menarik sekali, terlepas dari banyaknya pengulangan kata, dan gaya bahasa yang kurang disukai orang itu biasa saja, karena dalam sastra memiliki kebebasan dalam menulisnya, dan yang mengapresiasi pun bebas boleh berkomentar apa saja, tapi kiranya untuk kalian2 yang berkomentar sampai mengeluarkan kata2 kotor itu jangan diulangi lagi, sastra itukan mengemukakan kesenangan,bahkan kesedihan dengan bahasa yang indah agar mudah diterima otak2 yang sudah keras karna masalah2 hidup masing2 tersebut, maka dari itu mari tunjukan kita bangsa indonesia masih menjunjung budaya ketimuran yang memiliki kesantunan berbahasa jangan kotori dengan budaya yang hanya membuat kita kian terpecah

    tara nursugi

    25 Februari 2016 at 01:34


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: