Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya

with 72 comments


Inilah saatnya aku menyesal telah menikahi perempuan yang tergila-gila pada idenya. Tidak cukupkah ia menjadi perempuan biasa saja, seperti aku suaminya yang merasa cukup hidup sebagai orang biasa. Seharusnya aku tahu perempuan ini akan memilih cara kematian yang indah untuk dirinya sendiri.

Adrenalinku berpacu cepat. Jantungku berdetak dengan irama tak beraturan. Istriku berbaring dengan tubuh kisutnya di ranjang dan aku telah menua sepuluh tahun dalam waktu sebulan. Uban bermunculan di rambutku seperti jamur di musim hujan. Mereka tumbuh dengan kecepatan yang tidak dapat kuramalkan lagi. Mungkin warna putih itu segera akan menjajah kepalaku. Aku sungguh tidak peduli.

Saat ini, aku sudah terlampau marah. Panasnya mendidihkan semua cairan di tubuhku. Aku sangat marah. Aku marah kepada perawat yang begitu bego menerjemahkan perintah dokter, marah pada dokter yang begitu bego mengartikan gejala-gejala penyakit pada tubuh istriku, marah pada rumah sakit yang begitu lambat mengerjakan perintah-perintah dokter, aku marah pada istriku sendiri mengapa tidak merasakan dengan benar gejala di tubuhnya samapai semuanya terlalu terlambat. Aku ingin marah pada teman-teman istriku, teman-temanku sendiri dan sanak saudara yang terasa menambah perih hatiku dengan obrolan mereka, dan pada saatnya mereka akan melemparkan aku sendiri pada kesedihan yang tanpa ujung.

Kepada siapa lagi aku harus marah? Mungkin aku terlalu marah pada diriku sendiri yang tidak pernah dengan benar memperhatikan istriku sendiri. Membiarkannya bekerja tak mengenal waktu dan membiarkannya menilai sendiri kesehatannya tanpa pernah berusaha menyelidiki sendiri. Bukankah aku sangat tahu bahwa istriku adalah pembohong terbesar dalam kesehatannya. Dalam hidupnya hanya ada kerja, kerja dan kerja, kesehatan adalah masalah paling buntut yang dipikirkannya. Mungkin lagi-lagi aku harus marah pada diriku sendiri kenapa menikahi perempuan yang demikian. Oh… Aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah.

Pernahkah kau menunggui orang yang kau cintai mengerang menahan sakit dan kau merasa kau akan gila bila terus berada di sana. Bagimu udara terasa pengap dan nafasmu sesak. Hatimu hancur detik demi detik melihat keadaanya semakin memburuk. Setiap detik kehancuran menumbuhkan uban di rambut dan satu kerut mendalam di wajahmu.

Kadangkala aku ingin pergi meninggalkan istriku begitu saja. Pergi sejauh-jauhnya dan melupakan tubuh istriku yang kelihatan semakin buruk. Apa yang bisa diharapkan dari tubuh kurus tinggal belulang dan jiwa yang tidak lagi sadar pada dunia sekitarnya? Ingin rasanya kunikmati duniaku sendiri yang lebih cerah dan berwarna-warni. Namun gerakan kecil tubuhnya dan lirih erangannya selalu memanggil-manggilku untuk kembali. Tubuh ringkih itu masih menyimpan ketenangan dan kedamaian yang membuatku selalu ingin memeluknya. Kata orang, begitu kau berani mencitai, kau akan dibuat menderita olehnya. Cinta akan membuatmu merasakan luka terperih di hatimu dan ketakutan yang mengazab jiwamu. Cintaku padanya membuat aku harus siap untuk hancur berkeping-keping menjadi debu menunggu saat-saat terakhirnya.

Walaupun harus kuakui, belakangan ini kekuatan hatiku seolah-olah menuju babak akhir. Aku selalu gemetar ketakutan ketika langkah-langkah dokter mendekat ke ruangan. Kata-kata mereka selalu membuat aku jeruh dan nyaliku menciut. Seandainya aku dapat menyihir mereka menghilang dari pandanganku, agar mereka tidak pernah datang kembali. Oh, bukannya aku sangat mengharapkan mereka menyembuhkan istriku?

Tahukah engkau, betapa aku membenci bangunan yang bernama rumah sakit ini. Bau kain cat, bau infus, bau lantai dan bau udara di rumah sakit ini membuat nafasku terasa melukai paru-paruku. Jika keluar dari tempat ini, aku akan merawat diriku dan berjanji untuk tidak akan pernah lagi kembali ke sini.

Andai saja aku masih bisa berharap akan ke lari dari rumah sakit ini bersama istriku yang sehat dan segar bugar, dengan pipi tembamnya dan wajah berkilau. Aku memang harus memupuk harapan itu agar aku sanggup bertahan disini. Karena tempat ini telah membuat jiwaku mati. tak sanggup lagi mengindra rasa. Pertama kalinya dalam hidupku aku sungguh-sungguh ingin meledak. Meledak membuat jasadku bisa melenting ke tempat sejauh-jauhnya, sehingga semua rasa berhamburan dan musnah.

Oh tidak khayalanku sudah mulai kacau balau. Sungguhkah aku masih waras? Sesungguhnya aku ingin mengistirahatkan jiwaku barang sejenak dan melupakan segala hal tentang istriku sesaat. Rasanya aku ingin mengintip bayanganmu di cermin. Sudah seperti apa rupaku saat ini? Aku selalu menyisir rambutku dalam hitungan detik, tanpa pernah memperhatikan apa rambutku sudah rapi atau tidak. Seperti apa rupaku sekarang ini? Mungkin aku sudah tampak sebagai tikus dekil yang baru keluar dari got yang kotor. Setidaknya aku pasti sangat mirip dengan burung yang basah kuyup sehabis hujan deras yang mengguyur bumi. Aku gemetar kedinginan dan sayap-sayapku tidak sangguh lagi mengepakkan sayap ke tempat yang teduh. Ah tidak, ini bukan saatnya melihat wajahku sendiri.

Aku mengarahkan pandanganku kepada tubuh istriku yang sedang tertidur. Mukanya sepucat kain kafan. Batok kepalanya meyisakan sejumput rambut yang sangat jarang. Tubuhnya begitu tipis seolah tak seorang pun terbaring di sana. Apakah yang masih tersisa di tubuhnya? Aku tertidur lelah di sisi pembaringannya.

***

Kabar terakhir yang kudengar dari dokter adalah kabar mengenai istriku yang menuju babak akhir. Penyakit kanker paru-paru yang menggrogoti tubuhnya sudah sampai pada stadium akhir. Tak ada jenis pengobatan yang sanggup untuk memperpanjang umurnya lebih lama lagi. Oh istriku yang penuh dengan energi. Yang membangkitkan seluruh hidupnya untuk menulis dan membela kau tertindas. Apakah segala nyala yang pernah memancar dari tubuhnya akan padam begitu saja? Apakah kata-kata tanya yang bersemangat akan lenyap begitu saja?

Aku masih tidak dapat percaya pada tubuhnya yang lincah seperti kijang tersimpan penyakit yang begitu ganas. Seharusnya aku tahu sejak awal, perempuan yang kunikahi ini adalah perempuan yang akan memilih akhir yang tragis buat dirinya sendiri. Bukankah begitu yang selalu kudengar terntang orang-orang besar? Mereka akan memilih cara mati yang akan membuat mereka diingat dengan perasaan haru. Akan tetapi tidak dengan aku, laki-laki yang menjadi suaminya. Aku akan tetap mengenang kepergianmu kekasih dalam rasa sakit yang jauh merajam hatiku. Karena jauh di dalam hatiku aku masih ingin meneruskan hidup denganmu hingga di ujung waktu.

Andai aku memilih perempuan yang lebih lunak menjadi istriku, mungkin kejadiannya akan berbeda. Barangkali ia akan lebih peka pada penyakit yang menyeruak di tubuhnya. Barangkali ia akan segera memeriksakan diri ke dokter ketika ia merasa ada yang ganjil dengan dirinya. Dan segalanya diketahui lebih awal, obat masih sanggup menyembuhkan penyakirnya dan kami masih bisa merajut kebahagiaan bersama. Kami akan menggapai cita-cita kami bersama. Istriku akan tersenyum cermelang pada keberhasilannya mewujudkan cita-citanya. Aku akan tersenyum bangga untuknya. Mungkin setelah itu kamu akan memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama-sama, menyesap setiap bulis kebahagiaan yang mentes dalam kehidupan kami. Karena kadang-kadang waktu melesat seperti kilat dan meninggalkanmu jauh ke belakang.

Kami akan menghabiskan waktu dengan minum kopi tengah malam dan mengobrol sampai subuh. Kami saling memeluk dan memberi ciuman mesra. Lalu kami akan berpelukan lama sekalli seolah tak ada yang dapat memisahkan kami. Gelagak-gelagak tangis tiba-tiba tak sanggup untuk kutahankan lagi. Aku menangis dengan suara yang terasa terpantul pantul ke seluruh ruang. Aku tidak tahu apakah aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak sanggup lagi menunggu saatnya tiba. Karena setiap kali aku mengingat saat itu akan tiba, nyaliku menjadi kerdil, aku gemetar ketakutan membayangkan lorong kesedihan yang menungguku di sana. Aku merasakan rasa sakit yang tak terperikan dari sebuah bolong hitam besar hatiku. Masih sanggupkah aku menunggu saat itu tiba?

Rasanya aku tidak akan pernah sanggup. Terutama karena aku merasa istriku belum pantas untuk mati. Terlalu banyak hal hebat yang bisa dikerjakannya seandainya ia tidak mati. Aku bahkan masih bisa merasakan gelora semangatnya yang membara sekalipun ia terbaring tanpa daya. Mengapa ia harus padam di saat ia begitu ingin berpendar seperti kembang api. Apa ini yang sungguh bernama takdir?

Istriku memang mempunyai musuh. Ialah orang-orang yang terus menerus mendapat kritik pedas darinya. Kalaupun ada yang bersorak bahagia sekarang mungkin merekalah orangnya. Mereka dengan penuh dendam bisa saja mengatakan istriku terkena karma. Oh aneh, bukankan merekalah yang harus menerima karma karena istriku orang baik. Seharusnya istrikulah yang bersorak karena satu persatu orang yang dikritiknya akan menuai balasan.

Tangisku berubah menjadi sedu sedan yang masih terdengar keras. Istriku terlelap dalam tidurnya akibat obat-obatan yang mengguyur saraf-sarafnya. Ia tidak akan mendengar suara tangisku, karena bila ia melihatku seperti ini ia akan tertawa terbahak-bahak. Pada saat menahan rasa sakit yang sanggup mengoyak jantungku pun, tak setetes pun air mata meleleh ke pipinya. Istriku adalah perempuan yang tangguh, namun tidak aku suaminya. Entahlah, tangis ini membuat segalanya terasa lebih mudah bagiku. Ada kepedihan yang hanyut bersama dengan tetes-tetes air yang mengguyur daguku.

Sungguhkah ini cara kematian yang diinginkan oleh perempuan yang begitu tergila-gila pada idenya? Barangkali ia ingin mati sebagai martir dari ide-ide yang belum sempat disampaikannya. Barangkali kematiannya pun ia harapkan menjadi sumbu yang mengobarkan api perjuangannya. Tetesan air mataku mengering tepat ketika aku siap melepasnya pergi atau merangkulnya kembali kedalam kehidupan. Aku tahu perempuan ini adalah perempuan yang begitu bahagia mencumbui cita-citanya. Demi cintaku padanya aku rela ia memilih.

Written by tukang kliping

22 Mei 2011 pada 18:10

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

72 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. gak gitu suka sama cerpen ini rada ngebosenin, (maap ya..)
    tp ttp trims buat Ni Komang Ariani, cerpen ini mengingatkan saya akan seseorang yang saya cintai

    Kez

    22 Mei 2011 at 18:50

  2. Cerpen yang bagus, terus berkarya.

    juharna nb

    22 Mei 2011 at 19:28

  3. paman pembuat stensilan dan lampornya mana nih..

    bulik

    22 Mei 2011 at 19:50

  4. terima kasih telah berbagi cerita

    novita sianipar

    22 Mei 2011 at 19:58

  5. ending yang kering… penuturan tentang penyakit mematikan yang berbuih-buih, tapi sampai akhir pembaca hanya bisa menebak-nebak: sakit apa ya si istri?

    Adhi

    22 Mei 2011 at 20:25

    • justru cerpen yg bagus itu yg mempersilahkan kita menentukan endingnya…

      bulik

      22 Mei 2011 at 22:54

    • Sudah jelas disebutkan di pertengahan cerita, kanker paru-paru..

      BAP

      25 Mei 2011 at 17:34

  6. maaf, tapi sy kurang menikmati cerpen ini. datar. ga ada konflik n ending yg standar. seperti membaca rubrik curahan hati yg biasa muncul di majalah wanita. semoga next time penulis bisa menyuguhkan sajian yg lebih mengesankan.
    salam๐Ÿ™‚

    reveelantha

    22 Mei 2011 at 20:26

  7. Awal hari tadi, ketika paman masih tergeletak meringkih dihimpit dua bantal setelah malam harinya lelah mendempetkan tubuh bersama bini muda. Terbuka kelopak mata paman oleh lengket, kenyal serta lembutnya bibir bini muda yg mendarat pada pipi kiri paman. Baru terusir total sisa kantuk paman saat matahari yg menerobos pentilasi kamar terasa tak hangat lagi. Dua tenggakan kopi cukup menyegarkan. Pahit memang, kepahitan bgi paman adalah rasa manis yang disamarkan. Serupa jamu, walau pahit bagus untuk membikin jiwa raga lbh baik, kokoh, bugar dan mengundang gairah.
    Ah, anehnya pikiranku. Di kursi beranda, Kompas senantiasa setia menunggu dijamah. Seperti biasa paman lirik tajuk rencana, loncat ke rubik opini, paman kebet kolom cerpen setelahnya. Sesudah membaca itulah, dg senang hati, komentar paman sampaikan. dan ini hasil tangkapan paman daripada menyelami lautan kata pada cerpen kompas ini hari.

    Paman tidak akan mempersoal pait, soal kritikan yang mengujam, soal karma yang mengikuti laku tingkah pada gerak lidah serta perbuatan yang sebagianya di ekspos oleh penulis koming kita pada minggu ini. Terkait diksi 60 persen bacaan paham lahap, ada gejolak emosi tentang pria ya dalam hari dan latarnya tidak jelas. Kemudian, antara penceritaan hidup dan mati penulis menyajikannya dg tidak apik, karana satu ranah kehidupan ke ranah kematian itu tidak konsisten. Masa tua dan masa muda jauh terlebih dulu meninggalkan penggalan kisah, penulis gagal serta keliru menuangkan benaknya. Paman bisa pahami dari hiperbola yang penulis mainkan. Berdasarkan tokoh utama yaitu “aku” dari cerpen ini, penulis menunjukan bahwa si aku adalah orang yang bimbang hidup serta remang menelaah cerita yg berbau kepicisan. Cinta dalam hal ini penulis terlihat tidak mampu menuturkannya dg lembut sbgaimana cinta pada hakekat sejatinya. Penulis juga kurang berusaha keras membuat paman berkocol dalam dimensi tak terduga. Labilnya si tokoh aku di saat rambut memutih? Ini menggelikan, bung!
    Si aku berusa mencritakan kekuatan cinta pada istrinya, di sisi lain si aku juga ingn menghndarinya karna batin kehedonisanya menutut, ini mestinya tidak dijadikan polemik buat penulis. Tapi gambran bwha si tokoh bablas dalam pengkarakteran yang kuat, paman kira akan mengurangi penilaian paman tentang cerpen ini yang penuh kehampaan. Selmat berjuang!!

    Paman

    22 Mei 2011 at 20:29

  8. Nb : penyimbolan penyakit, rumah sakit, dokter, asdok, pasien, yang lengket akan kritik. Terus terang tidak terasa menyentil, ini kecelakan terbnyak penulis indonesia, yang kurang mampu memasak kritik shngga mudah tercium aromanya. Bukan pelanggaran, hanya kecelakaan penulis kita sekarang ini. Apalagi menimbang kritik tersebut dibidikan kepada golongan besar, dalam hal ini kerancuan negara. Sebab tulisan yang baik, adalah tulisan yang bisa membakar kesensitifan orang banyak. Walaupun hingga sekarang belum bisa dirumuskan secara pasti untuk mengukur tulisan yang baik itu bagaimana? Tapi, yang paman sampaikan tadi itulah pola umum yang sering penulis besar dunia libatkan. Tks

    Paman

    22 Mei 2011 at 20:45

  9. Mungkin benar bahwasanya menurut sebagian komentator cerita ini datar, tidak ada klimaks atau gimana gitu..

    CMIIW sebenarnya dinamika cerpen ini ada pada suasana hati sang suami.

    @ #5: Penyakit istrinya kanker paru-paru, ada kok tertulis..๐Ÿ™‚

    Blackward

    22 Mei 2011 at 20:47

  10. sepanjang ingatan saya, ini adalah cerpen kompas pertama yang tidak saya baca sampai selesai, setelah dua per tiga cerita saya baca, saya sadar sedang membaca curahan hati seseorang yang membosankan. Maaf Mbak Ariani, maaf..

    miftah fadhli

    22 Mei 2011 at 22:08

  11. aku suka sekali judulnya, dan cukup bagus.

    rahayu

    22 Mei 2011 at 22:15

  12. Hhhhh.. Tidak bagus.

    Juno

    22 Mei 2011 at 22:32

  13. Menurut saya, cerpen ini kecelakaan di kompas. mentah. judulnya tidak terbedah di dalam isi. si perempuan tergila2 pd ide apa? aktivis? penulis? pemikir? ini cerpen tentang si perempuan apa tentang si tokoh lain (suami)? padahal judulnya menjanjikan bedah karakter si perempuan. kok ini malah…?

    alurnya juga merayap terengah-engah, seperti baru belajar nulis. gaya “curhat”-nya juga spt dibilang komentator di atas, spt cerpen majalah wanita (leisure). gak ada sublimasi psikologis & intelektual. anyway selamat! ini kabar gembira buat para penulis baru. jangan minder. toh cerpen seperti ini pun dimuat oleh redaktur yang sekarang.

    den sus

    22 Mei 2011 at 22:34

    • tapi saya cerpennya gak masuk-masuk ini…๐Ÿ˜ฆ

      mew da vinci

      14 Juni 2011 at 16:32

  14. ๐Ÿ™‚ saya pilih baca komentar daripada baca cerpennya, karna komentar melengkapi cerpen, menjadi lebih hidup๐Ÿ˜€

    radvrich

    22 Mei 2011 at 23:07

  15. Lebih mirip sinopsis sinetron..

    erich

    23 Mei 2011 at 02:30

  16. Wow…keren!
    Banyak komentar yang menarik. Saya pikir cerpen ini berhasil.

    Salam…

    GusNGGER

    23 Mei 2011 at 02:49

  17. Saya suka judul cerpen ini dan sangat menikmati komentar2 apalagi tulisan2 yg paman buat menambah pembendaharaan kata semakin bertambah. .

    Ghuick

    23 Mei 2011 at 08:18

  18. maaf saya tidak begitu mengerti tentang sastra jd saya tidak akan mengomentari cerpennya..
    hanya saja saya salut dengan tokoh aku (suami)yang begitu mencintai istrinya..
    dapatkah aku mendapatkan suami yang seperti tokoh “aku”..

    meiphtah

    23 Mei 2011 at 08:22

    • Setuju… salut berat pada tokoh aku..

      BAP

      25 Mei 2011 at 17:43

  19. Iya, menurut saya cerpen di atas masih mentah, seharusnya masih bisa dipoles lagi sehingga menjadi cerpen yang memikat. Plotnya kendor, karakternya tidak tergarap dengan beres. Di cerpen itu pembaca tidak diberi tahu ide apa yang sebenarnya bersemayam dalam benak istrinya. Padahal menurut saya inti dari cerita di atas itu adalah: ide=menjadi sakit. Begitu sering sang “aku” mengatakan bahwa istrinya memiliki ide yang besar, yang selalu menuhankan idenya, dan selalu membuat banyak orang marah. Tapi sayang ide tersebut tidak tersampaikan dengan beres. Apakah pembaca yang harus menerkanya sendiri? Kalau begitu, berarti penulis sedang mencoba bunuh diri.

    Tukangtidur

    23 Mei 2011 at 09:33

  20. Paman..maksih komennya krn sll menjadi pencerahan dalam menulis cerpen

    Ami

    23 Mei 2011 at 11:04

  21. cerpen yang sederhana. tapi tetap selamat baut penulisnya

    ogym

    23 Mei 2011 at 11:45

  22. judul yang menarik, paragraf pertama yang menggoda, dan ha… sudah selesai to?

    gide buono

    23 Mei 2011 at 12:27

  23. terima kasih pamanku, mantap paman pencerahannya. semoga banyak komentator seperti paman yang tidak hanya mencela tetapi seimbang dengan pencerahan dan masukan. salam.

    riska aeni

    23 Mei 2011 at 13:05

  24. Pertama lihat judul cerpen ini, wah kayaknya menarik nih, seru nich.
    dibacalah paragraf pertama, eh bener seru, lanjut paragraf dua, makin yahud, paragraf tiga, bikin penasaran dst…
    lalu tiba diparagraf yg ada kata2 begini:
    “Tahukah engkau, betapa aku membenci bangunan yang bernama rumah sakit ini”, lemas sudah ketegangan cerpen ini.

    adib

    23 Mei 2011 at 13:32

  25. aku sudah standby minggu pagi di warnet dan mengecek cerpen kompas minggu ini. tapi belum ada… jam berapa sih kalo beluh tahu cerpen ini nongol di internetnya. kepingin jadi komentator pertama. he he.. all, ada yang tahu ga?

    oh iya, komentar saya. waktu membaca judulnya saya demen. perempuan yg tergila-gila pada idenya. dari awal saya mencari2 apa idenya, seperti apa, ide gila apa, ide unik barangkali atau kreatifan ide2 dsb. tapi kok malah ceritanya sakit mulu.๐Ÿ˜ฆ agak mengecewakan. tapi selamat udah lolos.

    iyud

    23 Mei 2011 at 13:49

    • berlangganan aja lewat e-mail jadi tau..
      ato gak biasanya itu sore jam 6 ato jam 7-an tp gak tentu sii

      Kez

      23 Mei 2011 at 16:01

  26. cerpen yang bagus….
    cerpen ini lebih menggambarkan perasaan seorang suami akan ditinggalkan istri yang sangat dicintainya dibanding menggambarkan sosok istri beserta ide2nya yang menjadi judul cerpen ini.. MUNGKIN penulis dengan sengaja menyembunyikan inti cerita yang sesungguhnya dengan memberi judul tsb.. bagaimanapun judul berbeda dengan tema, judul tidaklah harus merupakan headline atau inti sari dari sebuah cerita…
    sebagian orang memang merasakan cerpen ini terasa datar karena MUNGKIN memang cerpen ini tidak ditujukan kepada semua orang…cerpen ini ditujukan untuk mereka yang mengalami situasi yang sama yakni dimana ketika seseorang akan ditinggalkan orang yang sangat dikasihinya (baik istri,suami,ibu,ayah,saudara dll).. hanya orang yang pernah atau sedang mengalami situasi yang samalah yang dapat meresapi kata demi kata akan kepedihan ditinggalkan orang yang sangat dikasihi, termasuk saya,,

    auki

    23 Mei 2011 at 14:24

    • Perasaan suami yang digambarkan di atas adalah selalu mengeluhkan ide-ide sang istri. Jadi kalau tidak membahas tentang idenya, cerpen ini jadi kurang menarik. Jika penulis hanya ingin menggambarkan keresahan seorang suami yang ingin ditinggal mati sang istri, maka kata “ide”, “gila kerja”, “martir”, dll, hanya sekadar tempelan.

      Tukangtidur

      23 Mei 2011 at 15:57

  27. @tukang tidur : memang.. kata2 itu hanya tempelan untuk mendukung inti cerita saja.. sebagian orang merasa cerpen ini datar namun orang yang mengalami situasi yang sama seperti cerpen tsb akan merasakan hal yang berbeda…

    auki

    23 Mei 2011 at 16:38

  28. lumayan lah !๐Ÿ™‚

    korechika

    23 Mei 2011 at 17:46

  29. cerpen yang menyalak dan sungguh menohok. saat membaca secara teks yang didapat hanyalah kata. Bila kita membaca secara imajinatif, tentu akan lain. aroma, kekayaan dunia khayali akan menambah sentuhan bathin yang sungguh berbeda. cerpen yang cantik, walau saya tak selesai membacanya.

    tukang ngopi

    23 Mei 2011 at 18:36

  30. Cerpen ini tidak buruk, tetapi pula tidak istimewa. Untuk sebuah judul yang menjanjikan, isinya terlalu so-so. Hmm, aku mengharapkan ada pernyataan-pernyataan baru, permainan psikologis baru, nyatanya, masih sama saja.

    Plus, terlalu feminim untuk karakter seorang laki2.

    Pringadi Abdi

    23 Mei 2011 at 18:43

  31. Latar kurang variatif, sehingga pembaca hanya mengimajinasikan bangsal RS dengan si istri yang terbaring dan suami disampingnya. dari kalimat pertama hingga akhir tak ada kejutan hanya berisi curahan perasaan suami terhadap istrinya. Judul dan jalan cerita kurang padu. Namun tema yang disorot cukup menarik.

    Kugy

    23 Mei 2011 at 18:45

  32. karena suasana hatiku lagi ngak mood, jadi cerpen ini aku baca sekilas saja. memang membaca sebuah karya memerlukan mood yang tepat supaya lebih jujur berkomentar. aku kira cerpen ini tidaklah jelek amat. komentar yang datangpun memberi pelajaran untuk bagaimana memenuhi keinginan pembaca yang begitu majemuk. maka itu mari kita ambil maknanya. thx

    mardan

    24 Mei 2011 at 04:57

  33. Cerpen ini jadi bahasan tugas anak sastra indonesia unpad 2010, jadi kita semua mau ga mau baca.^^
    Kemarin waktu baca cerpen dari koran tempo, cukup menarik karena tidak terpikirkan membuat cerpen yg seperti itu, kaya akan simbol.
    Jadi penasaran d cerpennya koran kompas yg minggu ini.
    Taunya kyk gn d,setuju banget kayak baca buku harian. Saya pribadi juga belum lama merasakan kehilangan seseorang yang sangat saya cintai untuk selama-lamanya
    Tapi tidak bisa seperti itu, judul & cerpennya jalan di jalur yang berbeda. Dan itu tidak terbahas di cerpen ini.

    Riza

    24 Mei 2011 at 08:09

  34. saya pikir, isi dengan judul gak berkaitan sama sekali

    Qhety

    24 Mei 2011 at 21:47

  35. kompas memang biasanya “turun” di pertengahan tahun..

    cahndablek

    25 Mei 2011 at 12:06

  36. menanggapi komen di atas, semoga di akhir tahun meningkat, hehehe…. kaya hollywood aja, film2 summer biasanya buat jadi box office, jualan, nah film2 akhir tahun disasar buat rebutan award… lol!

    gide buono

    25 Mei 2011 at 15:24

  37. 2x cerpen “membumi” dan sekarang cerpen “sakit” ah mudah2an besok2 ada variasi. Kali aja ada phutut ea.

    Juno

    25 Mei 2011 at 17:51

  38. Pertama baca cerpen ini di paragrap awal, tentu saya penasaran. Berharap ada ‘sesuatu’ setelahnya. Memang, ceritanya tetap menggoda saya hingga benar-benar tuntas membacanya. Tapi, apa yang saya harapkan tak muncul-muncul, selain hanya kedataran cerita dan kegamangan si ‘aku’.

    Penulis seperti terburu-buru mengirimkan cerpennya. Dan ini tidak bagus tentu saja. Maaf.

    sila

    25 Mei 2011 at 18:04

    • dear : tuan hacker cerpen .
      Kamu orang bego’ amat yah ? Sepertinya anda yang harus ngaca . . Punya cermin gak ? Atau perlu saya belikan ?
      Sangat setuju dgn tukang kliping .

      andreasmara

      21 April 2012 at 13:35

  39. Hallo semua !!
    JANGAN CUMA TEORI.PRAKTEK NOL.MACAM Komentator Sepkbola, lebih hebat dari Ronaldo.
    MANA CERPENMU!! JANGAN CUMA MENCACI.

    NGACA DONG !!
    kritikus atau komentator tidak mesti bikin cerpen? HAL INI MASIH PERLU DIPERDEBATKAN.SEBAB KALAU TIDAK,setiap orang yang tidak paham sastra dalam hal ini cerpen,bisa seenaknya berkomentar.

    Termasuk anda tukang kliping.Komentar yang sudah sesuai anda bilang tidak sesuai,komentar yang tidak sesuai anda tidak menanggapinya.

    di blog ini,buruh SD pernah bilang seni tidak perlu dinilai,berarti seni tidak perlu dikomentari…TIDAK PERLU ADA LOMBA MENULIS YG MEMPEREBUTKAN PIALA,UANG ATAU PIAGAM……

    Hacker Cerpen

    26 Mei 2011 at 14:18

    • saya masih setuju dengan semua orang punya hak berkomentar, analoginya tak perlu jadi affandi untuk menilai lukisan abstrak, bukan begitu?

      satu yang pasti adalah; komentar berbobot akan terlihat, lebih diamini, bahkan bisa mengubah persepsi-dibanding yang tidak berbobot.

      yang menentukan komentar berbobot atau tidak? saya kembalikan pada Anda.

      tukang kliping

      27 Mei 2011 at 07:13

    • kalau komentar pake OTAK DONG! komentar anda sama sekali tak pantas!

      hsofiart

      29 Mei 2011 at 19:43

  40. mari ramai2 kita hujat postingan di atas ini!!!!

    GUOOBLOK!!

    lampor

    26 Mei 2011 at 15:07

  41. kalo gak ada yg mengkritik gemana mau tau letak kekurangannya d mn.. ah dasar oon :p ..

    Kez

    26 Mei 2011 at 16:01

  42. tata bahasa mesti lebih diperhatikan, terutama EYD. bagaimana pun juga kekuatan cerpen juga terletak pada kekuatan berbahasa, mengolah bahasa.

    wayan sunarta

    26 Mei 2011 at 16:22

  43. Si A mana ya? kangen sama komentar pedasnya. yang cuma ngekor. huh…

    robay

    26 Mei 2011 at 20:51

  44. @ hacker, klo gak mau dikoment, cerpennya di bungkus plastik, masukkan dalam brangkas. jangan dipublikasikan.

    Lotta

    27 Mei 2011 at 19:23

  45. dear A ditunggu komentarnya, kami baca cerpen kompas liat komentar anda dulu, kalo menurut anda bagus baru kami baca.. terimakasih.

    Pak John

    27 Mei 2011 at 21:10

  46. cerpen yang bagus mampu mengungkapkan dengan indah perasaan suami yang marah, sedih dan tidak rela tentang penyakit istrinya

    aris

    27 Mei 2011 at 21:22

  47. Kayaknya lebih seru komen dibandingkan cerpen-nya. komen2 pedas tersebut memberikan cambuk yang lebih kuat untuk membuat karya fiksi lebih baik ke depannya.

    Mudah2n kita bisa belajar. Jangan takut dikritik. karena pujian sebenarnya hanya obat fly sesaat. tapi kritik adalah obat sesungguhnya untuk menyehatkan cerpen yang “sakit”.

    Saya setuju dengan yang lain dan menolak mentah2 tanggapan Hacker Cerpen. Kalau semua penulis berpikiran seperti Anda. maka tidak akan pernah lahir cerpen2 yang makin baik dari tahun ke tahun.

    Mardiana Kappara

    28 Mei 2011 at 10:01

  48. seperti mendengarkan curhat pria yang menye-menye, unyu-unyu atau apalah. sepanjang cerita menceritakan curhatannya yang membosankan tentang istrinya yang sakit. adh.. membosankan sekali. namun untung judulnya menarik. kalau gak saya gak akan terusin baca!

    HajralSofi

    29 Mei 2011 at 19:41

  49. kekurangan dan kelebihan itu berbanding tipis, tergantung dari sisi mana menilainya, dan semakin sempurna sesorang dalam apapun semakin tipis pula perbandingan itu, maka tak ada yang namanya bagus dan jelek yang ada hanya cerpen karya sastra itu saja.
    cerpen yang sekaligus…

    deny arisandi

    31 Mei 2011 at 09:45

  50. jelek Bung, kalau cerita pribadi mending lu gunakan bahasa ‘polos seperti anak kecil’ pasti sedap didengar, dari pada kalimat kias yang gak jelas maknanya dan pasaran

    adi

    1 Juni 2011 at 10:22

  51. Kita semua tahu bahwa ini forum agar cerpen Indonesia bisa lebih maju,bukan forum caci-maki. Apalagi mengajak memaki.
    @Tukang kliping: Posting yang mencaci disadarkan dulu orangnya. Tapi jika orangnya tidak berubah,langsung dihapus saja.

    Majulah Cerpen Indonesia !!

    fian

    3 Juni 2011 at 12:36

  52. saya memang tidak begitu ngerti sastra. tapi sebagai penikmat cerpen, saya agak kecewa karena ekspektasi saya terhadap cerpen ini sudah sangat menarik. ternyata, hanya begitu saja toh? #opini

    FGH

    5 Juni 2011 at 00:16

  53. Judul unik menggelitik tapi tidak isinya.

    Sutomo

    5 Juni 2011 at 12:46

  54. hayah…lagak…aja…berntem karna komentar…ke laut aja kalo ngasih komentar ga ada karyanya! ngaku ngerti sastra, tapi ga bisa bikin karya, TKNB lah (Tong Kosong Nyaring Bunyinya) hahahaha…ada yang bakal komentari komentarku ini ga yah? mungkin komentator yang lain๐Ÿ˜€

    djuancuki

    11 Juni 2011 at 12:14

  55. saya menahan nafas baca cerpen ini. Teringat teman-teman saya yang orang2 terkasihnya meninggal karena melawan kanker. Dalam setahun 2 orang sahabatnya kehilangan ibu dan ayah karena kangker. lalu seseorang lagi…
    apapun bahasa yg digunakan, saya rasa kepedihan, kehilangan, kesunyian karena kehilangan harus dikatarsiskan…:p

    dina

    20 Juni 2011 at 14:33

    • salut untuk Cerpen ini mengenai penggambaran cerita kesedihan yang dituangkan…. Mgkin jika kt belum pernah merasakan kesedihan yang mendalam sperti yg dialami oleh tokoh utama dalam Cerpen ini (ditinggal oleh orang2 yg kita sayangi), kita akan menganggap cerpen ini amat biasa2 sj. Lain ceritanya jika kt benar2 pernah merasakan hal yang sama dengan tokoh utama dengan Cerpen ini.
      Jujur, karena saya belum pernah mengalami hal yg serupa dan belum mempunyai istri, saya belum bisa merasakan greget yang sangat pada cerpen ini. Tapi paling tidak, cerpen ini dapat menggambarkan pergolakan batin yang hebat dari seorang manusia. Karena begitulah manusia, pikiran2 yang ada di dalam kepalanya begitu berisik dan mengusik… YOUR MIND IS MAKING TOO MUCH NOISE

      Arfa

      13 Juli 2011 at 05:25

  56. Awalnya lumayan.
    Makin ke belakang kok itu-itu aja ya ceritanya.
    Jadi bosen deh.

    Kang Baldo

    30 Juni 2011 at 01:25

  57. yah,kurang hidup deh. o_o

    monica devi

    24 Agustus 2011 at 21:05

  58. aku suka narasi๐Ÿ˜€

    Fiksi Kata

    8 Oktober 2011 at 12:16

  59. saya suka komentarnya, bagus

    guritno

    10 November 2012 at 20:07

  60. penulis..
    minta izin yah untuk jadi bahan penelitian tugas akhir mata kuliah.

    yahya

    10 Desember 2012 at 08:58

  61. Saya ikut prihatin atas cobaan hidup yang sedang penulis alami. Melalui tulisan ini stidaknya saya jadi bisa belajar memahami perasaan orang lain. Nice Cerpennya

    Rnd Chy Patra

    15 Mei 2014 at 04:46

  62. best

    Nurzengky Ibrahim

    31 Desember 2014 at 16:50


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: