Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Belati dan Hati

with 60 comments


Aku mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. Malaikat di sebelah kananku, semenjak hari kelahiranku, hanya mengharapkan aku melakukan kebaikan, lalu menuliskan semua kebaikan itu di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain sutra putih yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah yang nanti akan ia bangga-banggakan kepada penciptanya.

Malaikat di sebelah kiriku, hingga hari kematianku, tidak pernah mengharapkan aku melakukan kejahatan, meski yang ia lakukan hanya menuliskan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain lusuh hitam yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah nanti yang akan ia perlihatkan kepada penciptanya.

Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.

Tidak ada alas kaki, tidak ada mahkota berlian, tidak ada kereta kuda.

2

Kedua telapak tanganku terbuka, menampung hatiku yang merah di tangan kanan namun tidak berlumur darah karena telah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu, lalu belati mengkilat di tangan kiri, yang belum lama kupakai untuk merobek dadaku dan sudah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu.

Inilah kabar yang seharusnya dilihat dan didengar semua orang. Sebuah berita, bukan cerita, karena ada beda yang nyata antara aksara kedua dengan aksara ketiga, meski hanya satu, karena sebuah berita seharusnya berguna, begitu pula cerita. Bukan tentang jubah yang dikenakan si Anak Pertama. Bukan tentang makanan yang masuk ke perut si Anak Kedua. Bukan tentang permata yang mengelilingi lengan si Anak Ketiga. Sampah. Bukan tentang si Mata Besar yang menawarkan cincin kepada si Mata Kecil. Bukan tentang si Kuping Besar yang memberi cincin kepada si Kuping Kecil. Bukan tentang si Hidung Besar yang mengambil cincin dari jari si Hidung Kecil. Sampah. Sampah. Bukan tentang si Gemuk yang tubuhnya kurus tiba-tiba. Bukan tentang si Kurus yang tubuhnya menggelembung tiba-tiba. Bukan tentang si Hidup yang mati tiba-tiba. Sampah. Sampah. Sampah.

Sering kepalaku berputar-putar dan mataku menjadi gelap gulita bila memikirkan anak-anak perempuan setiap hari, dari pagi hingga malam, hingga kembali pagi, melahap sampah-sampah di dalam rumah-rumah mereka, sampah beku dan sampah bergerak, begitu pula perempuan-perempuan berketurunan puluhan yang hanya bergerak dari kasur ke sumur ke dapur, dari sumur ke dapur ke kasur, dari dapur ke kasur ke sumur, dari sumur ke kasur ke dapur.

3

Sang Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran. Mereka bersuara sama memekakkan, bahkan selalu memukul-mukul tempurung kepalaku dengan tombak besi merah dan tongkat kayu putih di tangan kanan mereka hingga membuat kepalaku semakin berputar-putar dua puluh enam putaran.

Bila Sang Kejahatan memenangkan pertengkaran karena suaranya lebih memekakkan, maka ia akan bersorak- sorai sambil menghentak-hentakkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Bila Sang Kejahatan kalah dalam pertengkaran karena suaranya kurang memekakkan, maka ia akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Maka aku sering diam, dan berpikir lebih baik tidak berkeinginan mempunyai keinginan.

4

Hati dan belati bukan pilihan yang harus kau pilih. Engkau bukan sedang ikut berjudi dalam lingkaran empat-lima orang, atau permainan mengadu nasib yang dilihat 155 juta orang semalam suntuk di seluruh negeri.

Hati dan belati, hari ini, bukan perumpamaan yang diucapkan para lelaki yang sepanjang hari menyembunyikan taring dan tanduknya dengan wajah laksana Sang Kebaikan dan mengenakan mahkota berlian di atas kereta kuda mewah berpahat lambang-lambang kerajaan.

Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, maka kita tidak perlu mempertarungkan kata-kata tentang isinya sewaktu-waktu hingga berhari-hari dan membuat kita bagai orang tanpa kepala.

Belati kubawakan bukan untuk mengancammu, melukaimu, bahkan membunuhmu. Aku hanya ingin melindungimu dari iblis-iblis bertaring dan bertanduk dan berbulu dan berekor dan berlidah cabang tiga belas yang akan mencakari tubuhmu dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, dan dari pencoleng-pencoleng yang akan merobek dadamu dan mengambil hatiku yang disangkanya hatimu dan menyimpannya di dada mereka, padahal seharusnya mereka tahu ruang di dadamu hanya cukup untuk hatiku dan ruang di dadaku hanya cukup untuk hatimu, karena hati kita sama besar, sungguh-sungguh sama, maka itulah yang membuat kita bisa hidup selamanya bila kita telah merobek dada dan menukarnya. Tidak mati salah satunya hanya lebih dahulu beberapa helaan, karena sudah pasti disusul kematian berikutnya.

Kematianku, atau kematianmu.

5

Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Semata. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya dan aku bukan lelaki yang akan menyimpan perempuan-perempuan mereka di dalam kamar-kamar rahasia dan menyetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan.

Bila sudah kurobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, dan hatiku yang kubawa di tangan kananku kuletakkan di dadamu, maka akan kuhadiahi engkau dengan bunga-bunga setiap pagi dan malam.

Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah, padahal pernah kudengar seorang perempuan tua berkata, ”Seorang perempuan nyata indahnya ketika ia terbangun dari tidur pagi harinya.”

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku, padahal pernah kudengar seorang lelaki tua berkata, ”Keindahan perempuan untuk di mata dan di badan.”

Akan kuberikan engkau ciuman di kening setiap malam dan pagi hari sebagai rasa bungah cintaku kepadamu. Bukan lumatan di bibir atau buah dadamu, karena aku mencintai hadirmu, bukan semata tubuhmu, maka aku tidak akan memperkosamu sejak sebelum tengah malam hingga ayam jantan berkokok bersama keluarnya matahari.

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku. Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah. Semata-mata.

Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering dan sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Maka rupaku akan laksana Penguasa Negeri Pasir, meski aku membenci manusia bodoh yang menganggap dirinya Sang Maha Segala dan aku selalu tertawa bila mengingatnya tenggelam bersama pasukan berkudanya di laut luas saat mengejar lelaki yang dijadikannya sebagai musuh besar, yang pergi bersama pengikut-pengikutnya, padahal saat kanak-kanak lelaki itu dijadikannya sebagai saudara sedarah karena mereka datang dari dua rahim.

Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu. Maka tanganku akan begitu indah hingga tidak lagi membuatku laksana setan yang datang dari lubang-lubang besar di kaki gunung.

Terompah dari kulit domba dengan lapis sutra dan butir-butir emas akan membungkus kedua kakiku. Mahkota dari emas dengan butir-butir berlian dan permata akan melindungi kepalaku. Sebuah kereta dengan kuda-kuda yang kuat dan bersih akan mengikutiku kemana angin.

6

Namun aku tidak akan memaksamu. Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya, dan hari ketujuh aku akan kembali mendatangi dengan sebuah pertanyaan berhari lalu: ”Bersediakah engkau menerima hati dan belati yang kubawakan untukmu?”

Bila hari itu engkau belum pula memiliki kata, maka aku akan mendatangimu tujuh hari kemudian, lalu pada hari ke-21, 28, 35, 42, 49, 56, 63, 70, 77, 84, 91, 98, 105, 112, 119, 126, 133, 140, 147, 154, 161, 168, 175, 182, 196, 203, 210, 217, 224, 231, 238, 245, 252, 259, 266, 273, 280, 287, 294, 301, 308, 315, 322, 329, 336, 343, 350, 357, 364.

Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan.

Tentu tubuhku terlalu bau dan kotor, meski wajahku tidaklah buruk, maka engkau menampik diriku. Tentu aku membawa persembahan yang tidak akan membawamu ke atas menara emas, maka engkau tapi-kan diriku. Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama perempuan-perempuan lain di dalam kamar-kamar rahasia dan engkau akan disetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan semata. Dengan kerakusan. Semata.

Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Meski membuatku semakin pusing tiga belas putaran.

Kubawa sakit di kepala dan kakiku yang retak-retak kepanasan, mengelilingi tanah-tanah dan pasir-pasir dan debu-debu dengan kedua telapak tanganku yang terbuka, mencari tempat menghadap laut untuk menanam hatiku yang merah dan tidak lagi berlumur darah di tangan kanan, dan belati mengkilat di tangan kiri.

Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.

Pondok Pinang, 2302

Written by tukang kliping

1 Mei 2011 pada 13:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

60 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. i like that

    dwiputri

    1 Mei 2011 at 13:25

  2. apa sih sebenarnya maksud dari cerpen ini,mudah2an bukan sekedar memamerkan kemahiran si penulis dalam merangkaikan kata2…

    auki

    1 Mei 2011 at 15:31

  3. pusing…mendingan baca cerpennya si Raga yg tukang warnet…mudah dimengerti…

    robay

    1 Mei 2011 at 18:38

  4. ow ow aq baca cerpen ini berasa mmbaca puisi. Dari segi cerita aq masih awam dalam mencernanya, serasa hanya berputar putar dalam ruangan simetris tp menurut hati kecilq memiliki teka teki yg memusingkan kepala.
    Ku gak sabar ingin melahap hidangan pencerah dari bung Tova atau yg lainya.
    Thank a lot buat bung tukang kliping yg udah mosting cerpen ini…

    che thovic

    1 Mei 2011 at 18:57

  5. CMIIW
    Yang saya tangkap dari cerpen ini adalah tentang kisah seorang pria yang mengejar hari seorang wanita
    Saya suka penggambaran yang ditulis oleh Chairil Gibran Ramadhan ini. Tapi kalau terlalu banyak malah bikin pusing juga😀

    Diky Pratansyah

    1 Mei 2011 at 20:01

  6. Di Cerpen ini saya kurang menemukan ke ‘Betawi’ an bung CGR. Maaf, my sohib…

    Aba Mardjani

    1 Mei 2011 at 20:40

  7. Nice….
    ucapan cinta yang luar biasa…
    untaian kata penuh makna dalam noktah yang tiada terduga
    membangun sinergi cerita dalam tiap katanya

    Ratu Pangrawit

    1 Mei 2011 at 22:01

  8. Dirinya sndiri mengangkat beberapa line word tntg belati dan hati, tentang baik dan buruknya, tntang kesokpintaran. Tapi penulis sndiri ada di garis sok pintar. Menurut paman, penulis memang terobsesi sangat ke Kahlil Gibran (seolah2), tp Paman hanya menyipitkan mata dan tertawa ktka membca brisan kata yg sama sekali jauh dri Kahlil Gibranya. Kahlil gibran penuh makna dg untaian kata yg indah, nah ini?
    Mungkin, dianggap oleh penulisnya agar keren, bgus, tinggi, luas merangsang daya hayal pembaca. Tapi mohon maaf, targetnya bukan paman.
    Kata2nya standar tidak kental unsyur sastra, lbih parah karna dibuat renggang dg alur yg dibelok2an tidak jelas, tidak jelas, dan sekali lagi TIDAK JELAS!!!
    Lbih bagus paman baca tulisan ponakan paman yg masih SD.

    Paman

    2 Mei 2011 at 00:09

  9. Dan ingat, bagi Paman, tembusnya sebuah cerpen di Kompas bukanlah segala2nya, hal itu sja tdak cukup dijadikan barometer tentang bagus atau tidaknya, agung atau estetiknya sebuah karya.

    Paman

    2 Mei 2011 at 00:17

  10. Salam hangat selalu.

    Tepat pukul 23:42 WIB saat tangan ini memulai untuk menuliskan komentar pada artikel cerpen diatas. Sebelumnya selamat atas pemuatannya kepada bung Chairil Gibran Ramadhan. Dan sepertinya memang cerita diatas tak punya arah serta ending cerita. Seperti yang diungkapkan bung Che Thovic bahwa cerpen ini punya ukuran yang berat dan bahasa metaphoris yang begitu ruyam tentang esensial makna yang ingin penulis sampaikan. Sebelum bicara masalah esensi makna, alangkah baiknya saya sedikit mengupas paradoksial yang saling berjejelan dalam cerpen diatas. Menurut telaah theologi saya, cerita diatas bicara satiran tentang Sang Pencipta, Sang Kebaikan, endorsemen Malaikat serta iblis. Disini kita bisa telaah bahwasanya tokoh cerita adalah sosok yang bisa membaca serta melihat bentuk gaib, menerka sifat absurd, serta merasakan fenomena supranatural yang ganjil. Hati dan Belati bisa memiliki idiom makna perasaan(hati) dan alat pembunuh perasaan (belati). Kedua-duanya saling tolak sisi, sepertihaknya kita memandang doktrin dosa bahwasanya dosa itu bisa tercipta dari hati dan suatu saat akan tercongkel dengan belati(alat pencabut nyawa/malaikat maut). Sebuah ‘paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau “premis”nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika. Paradok cerita diatas nampak kentara sekali tentang gambaran malaikat, catatan malaikat dari kulit kambing, kain hitam dsb yang kesemua akan menimbulkan kontradiksi masing-masing pembaca budiman dalam telaah theologi malaikat menurut ajaran agamanya masing-masing. Begitu pula dipaparkan sebuah paradok tentang perwujudan iblis, malaikat, yang penggambarannya bertaring, berkuku panjang dsb. Iblīs(menurut ajaran Islam) adalah nama nenek moyang dari bangsa jin. Sebagaimana Adam adalah seorang nenek moyang dari manusia. Allah menciptakan Iblis dari nyala api.

    Iblis (dari bahasa Arab yang artinya “dia yang dipukul memar”). Alkitab tak punya literatur tentang Setan, selain dari perjanjian lama: ha-Satana, yang berarti musuh. Definisi setan ini lalu diadopsi oleh bahasa Yunani disebut diabolos yang dalam bahasa Inggris disebut devil. Lantas kenapa ada jabaran tentang kalimat dalam cerita yang seakan diulang-ulang, diputar-putar hingga ending pun saya belum menemukan apa yang bisa saya mengerti dari cerita diatas. Secara literasi diksioner( literatur indah bahasa), saya merasa cerpen diatas punya nilai layaknya puisi murung, suram dan penuh pesan hujatan yang satir(menyindir). Apa yang disindir? tentulah watak manusia tentang hati dalam perbatan baik dan jahat di bumi fana ini. Bagi banyak orang asal mula dosa dan alasan keberadaannya merupakan suatu sumber kebingungan besar. Mereka melihat pekerjaan si jahat dengan akibat-akibatnya, bencana dan kehancuran yang mengerikan, dan mereka bertanya-tanya bagaimana semua ini bisa terjadi? Apakah karena hati yang berperan dalam meresapi jiwa/ruh untuk menggerakkan pikiran serta tubuh dalam perbuatan? Cerita diatas memenui rasa pikiran saya bahwa paradok hati yang dibersihkan dari kotoran darah, setelah berhasil dicongkel dengan belati adalah bentuk lain dari penghapusan dosa. Penghapusan dosa itu banyak sekali etimologi muasalnya di setiap agama. Islam mengajarkan membersihkan hati dengan taubatan Nasuha(bertobat dengan sungguh-sungguh), serta selalu mengingat-Nya. Semetara lain agama lain ritualnya. Dan penghapusan dosa bisa berbagai versi, tapi satu tujuan yakni membersihkan hati dari dosa. Seperti dalam perumpamaan cerpen diatas bahwa merobek dada dengan belati dan mengambil hati adalah idiomologi futuristik dari diksi yang indah tentang bagaimana suatu pilihan tentang pembersihan hati dari darah yang megotori(darah kotor punya idiom racun kejahatan). Lantas tokoh dalam cerita berpaya untuk memberikan dua pilihan pada seseorang (mungkin bisa kekasih, kerabat, atau sahabat) untuk memilih hati atau hati. Dan juga bisa berarti pula si tokoh dalam cerita ingin menunjukkan hatinya(perasaanya) dan juga belatinya(alat untuk mencongkel perasaannya). Sejujurnya saya kurang mengerti dan hanya telaah sederhana ini yang bisa saya tangkap dari cerita diatas. Cerita yang sureal mencoba untuk merealita dalam simbol-simbol kejahatan(kiri) dan kebaikan (kanan). Juga simbol-simbol mahkluk gaib dengan berbagai penggambaran yang seram di pikiran pembaca budiman guna menunjukkan apa itu sebuah perasaan jahat dalam sebuah pilihan HATI DAN BELATI. Pilihlah! Sukses berkarya untuk bung Chairil Gibran Ramaadhan dan karya cerpen-cerpennya mirip dengan perumpamaan puisioner simbolik klasik seorang Kahlil Gibran.

    Tova Zen

    2 Mei 2011 at 00:33

  11. binunk euy bacanya! tp lumayanlah kata2nya bisa menambah kosa kata pembaca.

    mardan

    2 Mei 2011 at 03:04

  12. cerpen yang bagussss yang cukup membingungan pola pikir saya…maksul saya masih lum paham cara mengapresiasi cerpen

    Mutiara Pembelajar

    2 Mei 2011 at 08:30

  13. @mutiara pembelajar: kalau bikin ente gak paham, berarti cerpennya jelek atuh. gmn sih. hehehehe

    Saya penganut gaya konvensional, bagi saya cerpen harus mudah dimengerti pesannya. Saya paling gak suka gaya yang sok sastra, yang sok memutar-mutar kata. Walaupun saya masih suka, misalnya, ‘robohnya surau kami’, itu karena ceritanya jelas. dan cara AA Navis bicara memang logatnya seperti itu. kalimatnya indah, tapi mudah dimengerti. Jauh berbeda dengan cerpen belati dan hati ini.

    redaktur cerpen Kompas, ada apa denganmu..

    sibangke

    2 Mei 2011 at 11:24

  14. cerpen yg sangat puitis, perlu 2 atw 3x baca tuk memahaminya, seperti halnya novel SUPERNOVA

    Parewa

    2 Mei 2011 at 12:27

  15. cerpen kompas oh cerpen kompas

    F. Daus AR

    2 Mei 2011 at 15:26

  16. terlalu banyak pengulangan kata dan kalimat. Terlampau sering sehingga membuat cerita pendek ini membosankan. Jungkir balik bahasa gapapa, tapi kalo gak sesuai fungsinya ya malah bisa membunuh. Saya lebih menyukai cerita NENEK yang minggu kemarinnya.

    tukangtidur

    2 Mei 2011 at 15:34

  17. Makasih Bung Tova untuk ulasannya…krn dengan membaca ulasan itulah sy bisa jelas menangkap makna cerpen ini.

    Ami

    2 Mei 2011 at 20:19

  18. pusying, pusying sy membacanya.. mungkin ini di sebabkan olh ilmu sy yg terlampau cetak..

    maaf, sy gak bisa bilang bagus..

    santoni

    2 Mei 2011 at 23:45

  19. Seperti pada umumnya para komentator di atas, cerpen ini tak mampu menuntun/memanjakan pembacanya, dari awal hingga akhir tak ketemu klimaksnya. Puyeng, disebut puisi tak kena. Puisi murung? Ah..Kompas, manuvermu membangkitkan dan menggelitik pencinta sastra untuk mengerutkan dahi. Buat penulis cerpen di atas, aku ucapkan salam kenal dan trus berkarya!

    Otang K.

    2 Mei 2011 at 23:52

  20. Bisa tolong beri saya obat sakit kepala?

    Abi Ardianda

    3 Mei 2011 at 03:22

  21. Alunan kata yang indah.
    Terima kasih tuk penambahan wawasn ksa katanya.
    Tp seprtinya tulisn ni bukan tuk semua kalangan.
    Sdngkn kompas dibaca semua kalangan.
    God Job

    andi nepot

    3 Mei 2011 at 04:14

  22. cerpen itu harus efisien di setiap kata dan dalam penguraiannya

    limau

    3 Mei 2011 at 08:03

  23. Saya stju dg andi nepot, kalaulah seumpamanya otak serta daya cerna penulis sama dg orang lain, mungkin tidak menjadi masalah dg metaphor yang cenderung sok rumit. Koming itu dibaca oleh sbagian pecintanya di sluruh Indonesia dg ragam usia dan budaya masing2. Lain mata, lain pula kaca mata. Kalau mau sok rujit, silahkan buat saja di kertas harian penulis sendiri, untuk tdk dipublikasikan. Paman sdih, inilah knpa Negara kita tdk maju2, mufakrit, ktidakdimengertian itu seolah2 diangkat, sok diagung2kan. Cerpen janganlah dianalogikakan dg tulisan disertasi yang akan disidangkan dhadapan profesor. Jadi inget pepatah yg bilang kurang lbh,”Orang pintar dan cerdas lg bijaksana, adalah org yg menyampaikan buah pikirnya dg takaran yg dimengerti oleh subjeknya,” di sini, dg kata lain daripada subjeknya tentu saja pembaca. Mungkin inilah kta yg cocok “semakin absurd dan tinggi gaya bahasa, smakin baik karya trsbt.” Siul-siul ah..

    Paman

    3 Mei 2011 at 09:35

  24. saya orang awam yang suka sekali membaca cerpen. Jujur, saya rada bingung baca cerpen ini . Saya tidak bisa mencerna maksud yang ingin disampaikan. Tapi, saya tetap salut dengan penulisnya. Sukses terus buat Chairil Gibran Ramadhan.

    any

    3 Mei 2011 at 13:28

  25. Untuk Paman: Absurd, surealis, dan yang lain semacamnya gak masalah dalam kesusastraan. Kita juga gak mungkin kan menyama-ratakan selera semua pembaca yang ada di seluruh dunia. Menurut saya cerita di atas tidaklah rumit kok. Pemilihan diksinya juga biasa, berbeda jika membaca cerpen2nya Bang Damhuri dan Benny Arnas, banyak diksi unik di sana-sini. Kekurangan (jika memang bisa disebut demikian) cerpen di atas adalah terlampau monoton dan membosankan. Belum lagi ditambah pengulangan kalimat, bikin pembaca jadi jenuh. Bukannya pusing karena tidak mengerti, tapi jenuh karena sifatnya yang monoton itu.

    tukangtidur

    3 Mei 2011 at 15:21

  26. tulisan ini kayaknya jadi cerpen secara terpaksa, padahal cocoknya jadi puisi aja nich. kebanyakan kata2 yang mubazir, pamer diksi, tapi minim makna.

    adib

    3 Mei 2011 at 16:33

  27. Cerpn kalau mau kirim di kompas gmana?

    Kabari ya.!

    wawank

    3 Mei 2011 at 19:48

    • Setahu saya, maksimal 10 ribu karakter dengan spasi. Kira2 4 halaman-lah. Selebihnya, sertakan alamat plus rekening (lebih bagus kalau punya NPWP). Setelah itu, tungga dah. Seperti saya juga. Alamat emailnya, coba buka Kompas-nya sendiri. Maaf.

      Aba Mardjani

      4 Mei 2011 at 08:01

  28. Wacana di kompas bbrp waktu silam: Cerpen makin mirip puisi, puisi makin mirip cerpen. Pro dan kontra. Dan Belati dan Hati menjdi contoh. Whatever lah, mau gimana konsepnya, jenis dan gayanya, wacananya, sy cma mau ngutip dari Sony Sandoval perihal bbrp kalangan yg menilai musiknya telah keluar dari pakem musik metal, pdhl lagu2 mrk laku keras, juga estetis. “Musik, karya seni dan sastra hanya ad dua jenis, yg bgus dan jelek, lepas dri mslh prsepsi sbjktf objktf.” Belati dan Hati menurut saya masuk jenis kedua. Maaf.

    Juno

    4 Mei 2011 at 02:14

  29. @bung tova dan yg lainya terima kasih untuk penjelasan’a. Setelah mmbaca beberapa comment dari rekan2 pembaca cerpen ini, ternyata banyak yg bernasib seperti saya yg gak bisa menemukan arti dari cerpen karya bung CGR ini.
    Kepada cerpenis indonesia terus berkarya tanpa putus asa, tuk mengobati dahaga para pencinta fiksi diindonesia seperti saya.

    che thovic

    4 Mei 2011 at 02:15

  30. owh…..
    aku malah rada mudeng pada penjelasanipun bung tova..

    thanks…

    cahndablek

    6 Mei 2011 at 08:54

  31. ada galau saat awali baca..”aku mendatangimu”.. maksudnya ke siapa?
    ini cerpen apik baca ini bagai main game dan debar selalu hadir tanpa ada pasti hendak dibawa kemana..semoga ada lagi yang kayak gini

    haidar hafeez

    8 Mei 2011 at 08:33

  32. Aduuuhhh…dewek lieur euy..

    Harmaen Gantina

    8 Mei 2011 at 19:31

  33. Saya memahami ide pokoknya, tapi saya kurang suka penyia2an kata.

    Aloel

    9 Mei 2011 at 00:30

  34. Mohon maaf kalo saya tes organoleptiskan cerpen yg berjudul kenangan perkawinan karya antony ck dapat nilai 5 (nilai tertinggi) dan novel di atas dapat nilai 2 ( dimana angka 1 adalah nilai terendah).

    Salam,
    Takim

    Takim

    9 Mei 2011 at 01:11

    • Kenapa pembandingnya Antony CK? Padahal masih banyak yang lebih keren dari cerpen “KENANGAN PERKAWINAN”. Penilaian ini sangat mengadu domba bung.

      Tova Zen

      12 Mei 2011 at 18:09

  35. Tumben Cerpen pekan berikutnya agak telat diposting. Apa karena situs-situsnya sudah harus berlangganan?

    Aba Mardjani

    9 Mei 2011 at 10:32

  36. Tak penting apa isinya… Mantap kali prolognya

    kisi hati

    10 Mei 2011 at 21:36

  37. meski membingungakan inilah yang saya sebut sebagai tulisan terbuka: yakni sebuah tulisan dimana tulisan itu bisa memaksa pembanya untuk mencari makna yg tersurat dan tersirat. semakin banyak membuat pembaca penasaran akan makna sesungguhnya tulisan itu, maka kulitas tulisan itu semakin baik, karena dengan demikian dari tut-tut keybord penulis akan melahirkan penulis-penulis baru. baik yg mendukung atau yg mencerca.

    good

    ngali mahfud

    10 Mei 2011 at 22:34

  38. cerpen apa sih ni, cuma gaya2an bahasa gak bisa dipaham, aneh.

    herawan

    13 Mei 2011 at 09:52

    • tuh…. nt cuma gaya.. minggu sblumnya bilang cerpennya (Bendera) gak bagus.. Jadi gak mau beli kompas lagi…
      apaan nt?? Sekarang berak untukmu….

      iqi

      16 Mei 2011 at 15:56

  39. Muter2 ngomong cinta..

    laninoorhasibuan

    13 Mei 2011 at 21:29

  40. sekali lagi.. para pembaca, ingatlah hargai karya cerpenis ini..

    iqi

    16 Mei 2011 at 15:58

  41. Aku lumayan tertarik karena kosa kata,prosa,hampir terlihat seperti profesionl.
    Cuma aja, penikmat crita ini jadi trbtas buat kalangan orang yang mau mikir aja. Bagi penikmat yang males tentu aja jadi ga berarti. Tnx

    Itsna bahauddien

    17 Mei 2011 at 03:05

  42. terlalu berat untuk dicerna, apalagi untuk pembaca cerpen yang awam. bukankah sebuah cerita untuk dinikmati orang banyak.

    imel

    21 Mei 2011 at 18:50

  43. Lelaki seperti itu lah yang ku mau…..
    bukan hanya sekedar menginginkan ‘tubuh’ wanita saja…..

    dewi

    26 Mei 2011 at 20:03

  44. Ini cerpen
    B A G U S
    dzobb!!!!

    Lotta

    27 Mei 2011 at 19:12

  45. saya ada;ah pembaca yg konvensional, tidak suka metafor yg berlebihan. cerpen ini bagi saya sdulit di terjemahkan apa maknanya. maaf.

    apakah semua cerpen kompas miskin dialog?

    yazmin

    28 Mei 2011 at 12:05

  46. tentang kegelisahan MUSA ya ini? hummm

    vegna

    31 Mei 2011 at 00:23

  47. cerpen lw mending dikemas sama seperti menulis diari, cerita semacam ini lebih baik diceritakan secara polos sama seperti anak-anak bercerita dari pada membuang2 kalimat kias, kamu tahu sudut pandang apa yang paling sulit untuk diterapkan dicerpen, memang sudut pandang orang kedua!

    adi

    1 Juni 2011 at 12:26

  48. salam hangat juga,
    sayang sekali cerpen bagus kalo tidak dibaca sampai akhir, ya itu kurangnya tidak mampu memaksa saya untuk membacanya sampai akhir. kalimat yang diangkat juga sih! agak jadul
    ini mirip sebuah renungan tapi renungannya gak real time, jadi aja semajin jadul…
    tapi tetap semangat!

    vitgar

    29 Juni 2011 at 00:57

  49. ini mah cerpen bikinan mbah surip…wakwkwkwk…….

    Cupuludin

    1 Juli 2011 at 17:00

  50. Maaf sebelumnya. Dengan sangat sangat menyesal saya menyatakan bahwa saya tidak suka dengan cerpen ini. Sarat akan untaian kata yang indah, akan tetapi miskin alur cerita. Sehingga ketika membacanya hanya membuat ngantuk dan tidak berkesan apa-apa. Saya lebih suka dengan suatu cerpen dimana baik alur dan kata-kata di dalamnya mempunyai kekuatan yang sama besar. Seperti karya Budi Darma, Dewi Lestari (dee), Djenar Maesa Ayu, dan Eko Triyono (penulis cerpen Kaleng Ikan).

    Pandela

    17 Juli 2011 at 17:17

  51. membaca cerpen ini butuh konsenrasi tinggi salut untuk laki2 berlumut yg tidak mesti mnuggu bertahun2 untuk mendapatkan kekasih yg di harapkan..

    rfyda

    27 Juli 2011 at 17:30

  52. Chairil, saya terkejut dan suprise membaca cerpen ente ini. Soalnya, biasanya, ente menulis dengan latar kebetawian. Ini memperlihatkan kalau ente siap menulis dalam bentuk apa saja. Dan menulis cerpen dalam bentuk seperti ini tidak mudah, karena membutuhkan enerji dan konsentrasi.

    Untuk itu salut buat ente.
    Tabe deh…..

    Remmy Novaris Dm

    1 Agustus 2011 at 02:57

  53. i like that…mantap cerita,a ! tdk hnya bermain kata tetapi bermakna…. !

    rianda

    27 Agustus 2011 at 15:00

  54. berat.. tapi sarat makna… membacanya saja butuh konsentrasi penuh, apalagi menulisnya.. sukses buat sang penulis..

    ummumafaza

    24 Oktober 2011 at 12:54

  55. aku suka🙂

    lily

    25 Oktober 2011 at 08:51

  56. Bang chairil, sy salut ats perjalanan kesusastraan anda, ini adalah seremony kreatif yg perlu dilakukan sastrawan muda agar atsmospir bergeser ketingkat yang lebih mendorong kehal yang lebih baru non konvensi, danarto dengan gayanya, putu wijaya dg absurnya, ikra dan lainnya juga telah memberi tetes air dari dahaga sastra di Indonesia ,smoga anda juga, selamat berkarya, langit tidak mesti biru.

    ridwan

    7 Maret 2012 at 16:37

  57. kalau dibacanya dengan logika tidak akan mengerti, coba dibacanya dengan hati!!

    bren

    4 Januari 2013 at 23:24


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: