Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mar Beranak di Limas Isa

with 48 comments


Ada sebuah hikayat yang hendak aku terakan, tentang Bi Maryam istrinya Mang Isa. Perempuan yang telah melewati usia kepala empat, tetapi masih saja rajin beranak. Baiklah, untuk menuntaskan keingintahuan yang telah bersarang, kita buka saja cerita ini.

Oya, sebelumnya kita buat kesepakatan: Untuk memudahkan aku bercerita, kita singkat saja nama Bi Maryam menjadi Bi Mar, tersebab lidahku agak sulit menyebut namanya bila kuucapkan secara panjang. Jadi ketika aku menyebutkan nama Bi Mar, kau pahamlah kalau yang kumaksud adalah Bi Maryam istrinya Mang Isa, lantaran sangat banyak Bi Mar di dusun Tanah Abang.

Kita mulai cerita ini di suatu malam ingusan, ketika bulan tengah mati di kelam raya dan kesiuran angin penanda hujan telah bertiup sejak langit mulai temaram, tepatnya di bilik pengap Bi Mar dan Mang Isa, pada sebuah limas yang terpancang tak jauh dari bibir Sungai Lematang. Dan kisah ini dibuka oleh ucapan Kajut Mis, dukun beranak di dusunku, Tanah Abang.

”Masih belum terlihat, Mar. Kau harus bertahan. Ambil napas lagi, lalu kau ejankan kuat-kuat.”

Bi Mar tersengal, kedua tangannya mencengkeram kuat seruas bambu yang tergantung tepat di atasnya. Seruas bambu yang diikat kuat tali trap—tali yang terbuat dari kulit kayu bernama trap. Keringat telah membanjir di pelipisnya, melucumkan seluruh tubuh dan merembes ke kasur kapuk yang menampung tubuh kepayahannya. Ada rasa sakit yang mengili-ngili tubuhnya, merayap dari sendi-sendi, lalu menjalar ke seluruh pori. Sakit yang bermuara dari satu titik: perut bengkaknya.

Mertua Bi Mar, emaknya Mang Isa, terlihat cemas di sebelahnya. Padahal, ini bukan kali pertama ia mengawani menantunya ini bertaruh nyawa, melahirkan cucu-cucunya, hampir saban dua tahun sekali, ia mengulangi adegan yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih kencang ini. Bahkan, ia pun telah berkali-kali melakoninya. Tetap saja, kernyit muka penuh nyeri Bi Mar tak urung membuat dadanya mengempis.

”Sudahlah, Mar, tak usah beranak lagi. Kau datangi saja bidan di puskes sana, minta KB,” itulah ucapan mertua Bi Mar dua tahun silam, ketika usai mengawaninya melahirkan Serina, anak gadisnya yang baru saja dapat berlari dengan sempurna. Kata-kata serupa tak terluncur dari mulut mertua Bi Mar saja, Kajut Mis, dukun beranak yang kian uzur itu, pun telah mengucapkannya empat tahun lalu, pun dengan mulut-mulut karib-karib Bi Mar—tapi tidak dengan mulut orang-orang di Tanah Abang.

”Tak kau tengok, Mar, anakmu sudah macam rayap? Menyempal-nyempal sampai limasmu sesak. Apa lagi yang nak kau ranakan? Gadis-gadismu sudah banyak. Empat belas orang. Apa kau buta hingga tak dapat menghitungnya?”

Sejatinya, Bi Mar tak buta. Mata beloknya yang indah itu dapat dengan sempurna menghitung jumlah anak perawannya. Pun jika hendak menuruti kemauan hatinya, ia sangat ingin untuk menyudahinya. Tetapi, ucapan lakinya, Mang Isa, selalu saja membuatnya tak berdaya, ujung-ujungnya kembali mengharuskan Bi Mar bertaruh nyawa, melahirkan anak-anaknya.

”Kita harus dapat anak bujang, Dik,” itulah kata-kata Mang Isa pada Bi Mar, ”Apa kata orang se-Tanah Abang bila jurai limas kita tak tertegak lantaran kita hanya melahirkan anak-anak perawan saja? Pada masanya, bila kita telah uzur dan anak-anak gadis kita telah diboyong laki mereka ke limas seorang-seorang, kita hanya tinggal berdua di limas ini, tak ada yang mengurusi. Lalu, kita akan mati bergilir dalam sepi. Nasib baik, jika kita mati bersama, hingga yang ditinggal tak merasa sunyi.”

Ucapan Mang Isa membuat mata Bi Mar menerawang, membayangkan dirinya ringkih dan tertatih-tatih sendiri dalam limas. Menanak nasi, mandi ke Sungai Lematang, mengumpulkan kayu bakar, merumputi lapangan sekitar limas, menyambangi kebun duku-durian, menyayatkan pahat pada kulit balam di pagi kelam. Mendadak, tengkuk Bi Mar meriap. Alangkah menakutkan bayang itu di matanya.

”Kalau kita ada anak bujang. Ada yang menunggu limas, memboyong istri dan anaknya di sini, bersama kita. Mengurus kebun duku-durian, menyadap balam pagi-pagi kelam. Kita hanya tinggal di rumah saja, bermain dengan cucu-cucu yang banyak. Tak usah risau bila ada yang sakit karena tua, tak perlu cemas kalau-kalau kita mati tak ada yang tahu musababnya. Sebab, ada yang bersama kita. Anak bujang dengan anak dan istrinya,” tambah Mang Isa membuat mata Bi Mar mengatup rapat. Alangkah indah.

Sekelebat pula sebuah bayangan mengantar-kantar mata Bi Mar yang terpejam. Sebuah bayangan yang mendadak menciutkan kembali nyalinya. Bi Mar teringat akan nasib buruk Mak Salit. Perempuan tua itu kini hidup sendiri di limasnya yang megah setelah lakinya meninggal beberapa purnama silam. Nasib malangnya bukan lantaran karena Mak Salit seorang perempuan mandul yang tak punya anak. Anaknya banyak, hampir mencapai sepuluh orang. Sayangnya, semua perawan dan telah mengikuti laki-lakinya di dusun-dusun tetangga.

Mungkin, bukan tak ada anak-anak perempuan Mak Salit yang tak iba melihat nasib malang Emak mereka. Dapat pula sebenarnya mereka takut akan mendapatkan nasib serupa di masa tua lantaran telah menelantarkan Emak mereka. Tapi, apa yang dapat mereka perbuat sebagai perempuan selain tunduk kepada suami dan adat yang mengikat? Tak akan mertua mereka mengizinkan, bila anak bujangnya menunggui limas mertua, mengikuti istri melangkah, menegakkan jurai perempuan sembari membunuh jurai keluarga seorang lanang.

Itulah mengapa Bi Mar seolah-olah menulikan telinga dari ucapan mertuanya, ucapan Kajut Mis, dan karib-karib sebayanya. Ia harus dapat anak bujang, tak peduli dengan ucapan segelintir orang. Orang-orang Tanah Abang pun paham apa yang hendak ia capai dengan lakinya.

***

”Mungkin kau kurang syarat, Mar, jadinya selalu meranakkan perawan,” ucapan itu Bi Mar dapat dari Kajut Muya ketika perempuan tua yang tak seorang pun memiliki anak perawan itu, sekali waktu menyambangi limas Bi Mar seusai Bi Mar melahirkan anaknya yang keempat belas, Serina.

”Syarat apa, Jut?” kejar Bi Mar dengan mata berbinar. Ada semangat yang meluap dari dadanya hingga Bi Mar seolah lupa dengan tubuhnya yang masih kepayahan sebab baru saja meranakkan anak gadisnya yang kesekian. Di mata Bi Mar terlintas deret-deret bujang Kajut Muya yang elok-elok parasnya.

”Kau malinglah sereket dari kayu ribu-ribu milik bibi atau saudara perempuan lakimu yang telah beranak bujang. Usai itu, kau pakai sekali saja saat menanak nasi. Nah, nasi-nasi yang menempel di sereket itu kau makan, lalu simpan sereketnya di bawah kasur kapuk kau dengan Isa. Insya Allah, kau akan dapat anak bujang. Aku pun dulu demikian, Mar. Awal-awal menikah hingga anakku bujang semua.”

Bibir Bi Mar mengembang, serupa kuntum bunga yang menemukan masanya mekar. Ada luap keinginan yang rasanya hendak lekas-lekas ia tunaikan. Bila tak sadar dirinya masih terkulai di atas lamat kapuknya, mungkin Bi Mar telah gegas meninggalkan Kajut Muya seorang saja bersama gadisnya yang masih merah. Di matanya yang mendadak berbinar, Bi Mar telah dapat limas siapa yang akan ia satroni, menggondol sereket kayu ribu-ribu penanak nasi: Limas Bi Jumar, adik mertuanya yang memiliki banyak bujang.

Begitulah, seusai merasa dirinya telah sehat walafiat, Bi Mar melancarkan aksinya. Pada petang yang kesekian di bilangan almanak rumah, Bi Mar berpura bertandang sembari memamerkan anak gadisnya yang merah. Ketika Bi Jumar lengah, Bi Mar mengambil sereket kayu ribu-ribu yang terselip di dinding limas samping periuk yang bergemerutup. Entah, apa Bi Jumar sebenarnya paham apa yang dilakukan Bi Mar atau ia benar-benar tak mengetahuinya. Bi Mar melenggang pulang dengan sereket kayu ribu-ribu yang terselip di balik besannya.

Di rumah, Bi Mar gegas menanak nasi seperti biasa, meletakkan perawannya yang masih merah dalam ayunan. Lalu, melakukan petuah Kajut Muya padanya. Menggunakan sereket kayu ribu-ribu milik Bi Jumar untuk mengaron nasinya hingga matang. Dan, memamah nasi yang tertinggal di sereket. Usai itu, Bi Mar menyelipkan sereket itu di bawah kasur, tempat ia dan Mang Isa tidur.

***

Keinginan Bi Mar memiliki anak bujang kian menjadi saja. Sebab, ada berita yang tengah hangat dibicarakan perempuan-perempuan di batang—tempat mencuci dan mandi di Sungai Lematang. Berita tentang Mang Marwan yang berbini dua!

Kata berita yang lagi hangat-hangatnya itu, Mang Marwan berbini dua lantaran tak kunjung mendapatkan anak bujang dari istrinya, Bi Murni. Bi Mar pun ingat, ada lima anak gadis Bi Murni itu. Semua berparas elok, berbibir tipis dengan hidung bangir, kulit putih dan mata sipit, mirip Mang Marwan yang memang termasuk lelaki rupawan.

Mendadak, degup di jantung Bi Mar terasa tak normal. Ada dag-dig-dug yang tak biasa. Ia seperti merasa, mata-mata perempuan yang mencuci dan mandi di batang seolah-olah mencuri pandang. Seperti perempuan-perempuan itu tengah meramalkan nasibnya pun akan seburuk Bi Murni yang tengah dikisahkan. Dimadu oleh lakinya lantaran tak kunjung mengoekkan anak bujang dari selakangannya. Tak kunjung menegakkan jurai limas dengan menetak burung bujang ingusan.

Gegas sekali Bi Mar menyikat baju cuciannya, membilas, dan menyabuni tubuhnya. Lalu, membasuh diri dengan air Lematang yang mengalir. Setelah itu, ia terburu melangkah pulang. Dalam hatinya yang kusut-masai, ia percaya, mata-mata perempuan di batang masih saja tertuju hingga tubuhnya lenyap dari pandangan.

Bi Mar pun mulai waswas melihat tingkah pola Mang Isa. Bila lelaki itu tak kunjung pulang pada malam yang kian larut saja, hatinya mendadak dibalur cemburu. Jangan-jangan Mang Isa tengah memadu kasih dengan janda di dusun ini dan itu. Mengurai rencana dan sudah mulai menyusun kata, bila ia menangis sembab ketika mendapati Mang Isa dikabarkan telah berbini dua kelak.

Bi Mar pun kian risau, bila ia mendapati dirinya masih saja datang bulan. Padahal, ia sangat berharap ada sesuatu yang tumbuh di perutnya, buah dari cinta dengan Mang Isa. Sesuatu yang ia harapkan membayar tunai kegalauannya.

Rupa-rupanya, Tuhan mendengar doa Bi Mar, atau ini hanyalah kebetulan semata. Pastinya, hal ini memang sudah tersemat dalam kisah semesta. Bi Mar kembali hamil muda. Lalu, pelan-pelan perutnya membengkak, menuju bilangan bulan demi bulannya, seiring anak gadis yang keempat belas belajar berjalan. Segala syarat yang ia dapatkan dari tetua, orang-orang yang telah kenyang asam garam dunia, ia lakonkan, tujuannya cuma satu saja: Kali ini ia beranak seorang bujang. Menyudahi pertarungan yang sejatinya enggan ia ulang.

***

Angin kian mendedas di pelipir limas, meningkahi perjuangan Bi Mar dalam bilik pengap. Sesekali terdengar rintik mengimbau di atas genting. Kajut Mis masih terus memberi aba-aba, menyemangati Bi Mar yang kian kepayahan. Usia yang sudah lewat kepala empat, anak yang kata Kajut Mis sungsang, membuat perjuangan Bi Mar kian berat. Sementara itu, di tengah limas, Mang Isa menunggu dengan cemas, anak-anak perawannya meringkuk dalam senyap. Doanya cuma sebatang kalimat: Anak bujang! (*)

C59, November 2010 – Januari 2011

Written by tukang kliping

20 Maret 2011 pada 09:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

48 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sungguh mengharukan…

    haya albanna

    20 Maret 2011 at 09:44

  2. Imajinasi dan kekuatan logikanya sngat kuat. Tp alur kurang. Mnurut sy…

    aufal al-Rummi,Pamekasan.

    20 Maret 2011 at 10:22

  3. keren ….

    faiz

    20 Maret 2011 at 11:13

  4. bagus.
    khas Mas Guntur Alam

    miftah fadhli

    20 Maret 2011 at 12:11

  5. klimaksnya kurang berasa maass..
    hehe.. maaf menghujat!!

    Novia Valentina

    20 Maret 2011 at 13:59

  6. Setelah sering kecewa dengan kualitas cerpen Kompas akhir-akhir ini. Minggu ini Kompas memuaskan saya sebagai pembaca setianya. Cerpen ini berkarakter, padat isi, disajikan dengan cara yang manis. Tema patriarkhi yang dikemas sangat apik, empat jempol buat penulisnya. Cerpen terbaik yang saya baca di Kompas sepanjang 2011 ini. Semoga setiap minggu Kompas menyajikan cerpen-cerpen berkualitas seperti minggu ini. Tak sekedar nama besar penulisnya saja.

    Sularjo

    20 Maret 2011 at 19:32

  7. Isa? Maryam? Ada apakah?
    “Ktidaksengajaan” pmilihan nama2 tokoh yg ckup mengusik.
    Adakah ktrkaitan dengan nilai2 agama (Islam)? Jika ya, hmm, agama yg “lebih” brkorelasi kepd kyakinan, lagi2 ditakar dengan logika. Jiahh. Ada suatu hal “kecil” yg mampu dicerna otak saya yg sering eror ini. Sy jd inget, tntng “aturan2” hubngn suami-istri atw prkwinan dlm hukum Islam. Bhw istri itu mesti manut sm suami, ini itu, blablabla.. Banyak lah.. Lalu dlm cerpen ini, mslh tsb “ditilik” dari sudut pndng orng tua trhdp anak2ny, lelaki atw prmpuan.. Dgn sgl kekhasanya dan “kebenarannya” dlm khdupn sekitar.. Sebuah ide kecil dan sederhana dan sangat keseharian ini lalu dibawa kedlm sbuah cerpen, trnyt bs mnjdi sesuatu yg segar ..ini menurut sayaa..

    Juno

    20 Maret 2011 at 23:38

  8. Ini lokalitas Tanah Abang – Jakarta kah? Rasa bahasanya kok mirip Benny Arnas – Lubuklinggau, ya?

    Nicole

    21 Maret 2011 at 06:55

    • ya, rasa Benny Arnas!

      Ahmad J

      21 Maret 2011 at 09:21

    • hehe. bisa dibilang, sisi kelemahan dari Guntur Alam adalah karakternya masih belum bebas, masih epigonis dengan karakter Benny Arnas. tapi, itulah, ini persoalan proses. baik Guntur Alam dan Benny Arnas akan sama-sama punya karakter yang sangat lokalis.. selamat, Mas Guntur.

      miftah fadhli

      21 Maret 2011 at 13:18

    • Saya rasa beda dengan Benny Arnas. Pengarang punya latar kultural yang sama, memang. Tapi Guntur dalam cerpen-cerpennya punya kesadaran tinggi untuk menjaga mood tentang daerahnya. Saya memahami Linggau dari cerpen Guntur.

      Cerita yang apik, padat, dan kuat dengan sisi sosial kultur.

      Budi P. Hatees

      22 Maret 2011 at 00:47

  9. menurut saya, cerpen ini lumayan kalau dibanding dengan cerpen-cerpen kompas sebelumnya. tapi sayang, alurnya longgar, jalan cerita masih ada patah-patah, dan secara bahasa/tutur, memang rada-rada mirip dengan cerpen-cerpen Benny Arnas dalam Bulan Api Celurit. Tapi, saya pribadi, jauh lebih suka karya-karya benny, karena lebih kental kampungnya dan menciptakan ungkapan tak terduga….
    Tapiii, teuteup selamat masuk KOMPAS, aku kapan yaaaaaaaaa????!!!!

    Mira M.

    21 Maret 2011 at 09:48

  10. Guntur Alam, slh satu cerpenis yang menjanjikan. Selamat Guntur. Teruslah berkarya (Rama Dira)

    cerpenbagus

    21 Maret 2011 at 11:42

  11. Guntur alam, saya kenal dari karyanya di Annida, majalah cerita remaja islami. Kalau tidak salah juga berasal dari sumsel (salah satu cerpen nya mengambil setting Pagar Alam). Jadi, jika mirip rasanya dg cerpennya beny arnas, menurut saya wajar. (malah kalo beny arnas, jujur sy belum bisa menikmati cerpennya. Buku kumpulan cerpennya belum tuntas sy baca karena terlalu abstrak bagi saya). Selamat buat Guntur, sekarang malah sudah menembus Kompas.

    arizafa

    21 Maret 2011 at 13:18

  12. semmoga ane nyusul dalam waktu dekat, hehehe

    miftah fadhli

    21 Maret 2011 at 13:20

  13. cerpen ini akan lebih bagus kalau ditambahi peristiwa2 yang dramatik..

    auki

    21 Maret 2011 at 13:29

  14. Anak ke 15 itu, bujang atau gadis ya…?

    Jadi penasaran, hehe..🙂

    Tya

    21 Maret 2011 at 13:38

  15. Cerpen yg asyik bgt buat dibaca

    HM

    21 Maret 2011 at 19:37

  16. ciye…, cerpen ke dua Mas Guntur di Kompas…🙂 selamat ya Mas…
    Prolog dan epilognya, khas Mas Guntur bgt… Bagi sya, perlahan karya Mas Guntur sekarng uda mulai punya tubuh sndiri.. Uda ga’ lgi mnempel pda bayang2 besar beliau.. he_eh.. (bayang besar tubuhnya…)
    yang penting, terus berkarya aja bwatmu Mas..

    somad

    21 Maret 2011 at 19:38

  17. endingnya terserah anda, bujang ato perawan. seperti drama2 korea belakangan ini. ending selalu digantung dan diserahkan pada penikmatnya……cari alternatif lain yang beda gituh…emang agak susah tapi buat penyuka cerpen akan jadi kejutan. tapi jgn buat cerpen yang ga jelas ya bung guntur alam…..

    robay

    21 Maret 2011 at 21:02

  18. Seperti biasa, ada segilir pemuja Benny Arnas yang slalu menyudutkan Guntur. Tak masalah itu, bung, truslah berkarya. karena mereka hanya bisa berkomentar saja. Secara pribadi, dibanding cerpen-cerpen Benny di kumcernya yang disebut-sebut pemujanya, cerpen Anda jauh lebih berisi, tak sekedar sinetron yang dibungkus dalam bahasa kampung, benar-benar mengambil ruh sebuah kearifan lokal. Seandainya pemuja Benny itu membaca cerpen-cerpen Raudal, Damhuri, Hasan al Banna yang notabene sudah lebih dulu muncul ketimbang Benny, mereka akan tahu kalau sebenarnya Benny juga adalah epigon dari orang-orang itu.

    Seharusnya, mereka bisa melihat karakter Anda yang sudah berbeda dari Benny, dari cara penyampaian cerita yang seperti seorang pendongeng pada beberapa cerpen Anda di koran-koran besar, sedang Benny? Tak pernah menggunakan itu. Mengenai diksi, adakah yang melarang seseorang menggunakan satu kata karena telah digunakan penulis lain? Bukankah setiap penulis berhak menggunakan semua kata yang ada. Saya juga tak menemukan kata ‘bakda’ yang diklaim orang-orang milik si Benny, tapi saya menemukan satu kata khas Anda, Bung:TERAKAN.

    Jadi, tak usah gubris koment orang yang iri kepada karya besar Anda, Bung. Saya percaya, cerpen Anda ini akan jadi salah satu kandidiat dalam cerpen pilihan Kompas 2011.

    Damar

    21 Maret 2011 at 23:06

    • TERAKAN? KHAS GUNTUR?
      ITU KHASNYA KHRISNA PABICHARA LAGEEEE!!!
      Dia sudah menggunakannya dalam cerpen-cerpennya jauh sebelum GUntur memakainya….

      Rajab

      24 Maret 2011 at 21:27

  19. kok sewot banget, kan hanya berpendapat! jangan-jangan kamu Gunturnya sendiri, *peace!!

    Mira M.

    22 Maret 2011 at 06:08

  20. saya suka.
    karena buat saya, yang penting cerpen itu bisa jadi hiburan.
    dan cerpen ini, saya bisa tersenyum….
    salam orang awam…

    cahndablek

    22 Maret 2011 at 10:35

  21. setuju sama cahndablek, seharusnya cerpen itu mudah dimengerti dan menghibur…

    robay

    22 Maret 2011 at 18:35

  22. suka

    santoni

    22 Maret 2011 at 21:15

    • wah gak nyangka kamu dah sehebat ini Tur.Maaf sejak lulus BCN dulu q vakum. ngurus anak. e…q iri banget liat karya2mu.Selamat ya….

      ihda sulhia

      23 Maret 2011 at 11:44

  23. Kok selalu suporter yang ribut kayak nonton bola saja. Penulisnya saja adem ayem. Cerpen ini memang bagus, sudah dimuat Kompas. Tapi aku banyak tak mengerti bahasanya. Ngejelimet. Apa sastra memang harus susah dimengerti ya?

    fajar

    23 Maret 2011 at 12:01

    • kalo saya tidak salah baca, salah satu yang menghambat karya sastra Indonesia masuk ke kancah dunia, kata pak Sunlie (–red) adalah banyaknya bahasa-bahasa lokal (daerah) yang dipergunakan sehingga sulit mendapatkan pemahaman, bahasanya tidak universal. orang indonesia sendiri saja gak mengerti, apalagi orang ‘bule’. pissss.

      miftah fadhli

      23 Maret 2011 at 20:26

    • Cerpen ini memang terasa njelimet kalau yang baca bukan orang melayu, kalau yang baca bukan orang yang suka sastra melayu. namun begitu, beberapa kata yang disinyalir njelimet tadi sebenarnya tetap b. indonesia. buka KBBI dunk! Sastra juga bukan hanya tentang menghasilkan ungkapan, bukan hanya menghasilkan pembaruan dalam garapan dan atau dekonstruksi tema; tapi juga untuk menunjukkan kalau b.Indonesia itu kaya. Pun kalau ingin dipakai b. daerah atau istilah lokal, selama ia tak terkesan tempelan, sah-sah saja. Dan ini sekaligus menanggapi komentar Miftah Fadli di atas. Yang Sunlie maksudkan adalah sebaiknya penggunaan bahasa/istilah daerah yang masih memiliki padanan dalam bahasa Indonesia (dan padanan tersebut tidak mempengaruhi citarasa cerita, dihindari. Juga, yang menjadi dosa besar sastra yang berkedok lokalitas daerah adalah menggunakan catatan kaki yang tidak penting untuk sebuah istilah yang masih memiliki padanan yang koheren dalam b.Indonesia. Nah, kekhawatiran Sunlie yang Miftah kutip dalam mengomentari MBdLI, menurut saya, tidak relevan. Mengapa? Karena cerpen di atas, semuanya penggunaan b. Indonesi, B. Indonesia yang sudah jarang digunakan.Perbanyaklah membaca. Belajarlah menerima perbedaan! Trims

      Indra

      24 Maret 2011 at 07:06

  24. Mar Beranak di Limas Isa
    hanya kuucapkan satu suara
    “selamat ya”
    dan aku salut pada cerpen yang termuat.

    puluhan cerpenku tak pernah termuat
    dengan perjuangan yang begutu kuat.

    sehingga…cerpen yang termuat…kuucapkan selamat

    Mutiara Pembelajar

    24 Maret 2011 at 04:24

  25. ujung cerita yang tiada ahir rupanya guntur alam hendak berbagi hingga yang dari awal cerpen ini lugas dan sangat jujur mengurai cerita. tiba-tiba semuanya sirna di ujung cerita penuh misteri bujangkah perawankah itu..semoga bujang agar derita bi mar tak berkepanjangan..dan semoga lahir selamat bimar ataupun bujangnya..

    haidar hafeez

    24 Maret 2011 at 05:00

  26. sejak hadirnya benny arnas dengan lokalitasnya, menurut pengamatan saya yang rendah, banyak cerpenis mulai menggali lagi potensi tersebut. meski, jauh sebelumnya, Korrie, dan penulis-penulis lainnya telah menggarap lokalitas ini. namun, dengan perkembangan zaman yang sedemikian pesat, elok juga kita membicarakan lokalitas ini tentu dengan benturan-benturan budaya hedonis saat ini akan semakin khusuk kita menyimak. bagus tidaknya cerpen ini, tentu dari kaca mata mana kita memandang. selamat untuk guntur alam.

    syarif hidayatullah

    24 Maret 2011 at 09:06

    • Ya, sepakat! apa pun pendapat orang-orang tentang loklaitas ,ia tetap menarik diketengahkan dalam ssatra indonesia, negeri yang bhineka tunggal ika ini. Saya pun sepakat, tanpa menepikan beberapa sastrawan penggiat loklaitas lainnya, kemunculan benny arnas dengan produktivitas yang gila-gilaan, telah membuka mata banyak orang untuk back to hometown. guntur alam, menurut saya, termasuk penulis cerpen yang terbakar oleh benny tsb. Ayoo yang lain, mana?! Indonesia kaya tau! hee. selamat ya Guntur!

      anita

      24 Maret 2011 at 09:35

  27. Sbg orang awam,saya suka cerpen ini. Bahasanya meski tdk biasa tapi mudah dimengerti.

    Mama nara

    24 Maret 2011 at 17:16

  28. Wah. Bung Guntur. Kedatangan Cerpen anda mengundang orang-orang yg selama ini “diam” dalam geliat cerpen Kompas menjadi bersuara.

    Saya do’ain menjadi cerpen pilihan Kompas!

    Amin. Moga bisa nyusul.. Amin.. Amin. Amin..

    Abdul Hadi

    26 Maret 2011 at 09:18

  29. Saya orang Sumatera Selatan. Banyuasin.
    Benny Arnas dan Guntur Alam itu berbeda.

    Benny Arnas adalah matriks. Guntur Alam adalah vektor. Yang menyamakan mereka adalah rasa bahasanya semata. Sementara imajinas, gaya berat, begitu berbeda.

    Pringadi Abdi

    26 Maret 2011 at 09:21

  30. Bagaimana cara mengirim cerpen k kompas? Ada yang tahu emailnya?

    Icha

    26 Maret 2011 at 10:19

  31. Setiap kali membaca cerpen kompas (krn memang suka) mengerti atau pun tidak, tak terlalu penting, yg lebih penting dan sgt sy sukai adalah membaca setiap komentar, perbedaan pendapat, atau pujian, dan kritikan sungguh membuat sy menjadi bertambah kaya wawsan ttg sastra Indonesia. Terima kasih ats segala ilmu yg sy dapat ini, selamat utk setiap cerpen yg udh masuk kompas.

    HM

    26 Maret 2011 at 20:11

  32. woi! ikutan nimbrung. Cerpen yg lumayan bagus, tapi agak kurang suka dg nama tokoh dan endingnya yg kurang kejut.
    trus, bicara masalah epigon. sebenarnya bukan epigon ya, tapi setiap penulis, siapapun itu, pasti pernah terjebak dg ‘meniru’ (awas, sekali lagi “meniru’ bukan menjiplak alias plagiat kaya cerpen PTDR) karya orang lain. mungkin cerpen Guntur ini rada berasa Benny Arnas. tapi betul deh apa yang dikatakn sobat kita di atas, kalau kalian baca karya-karya penulis yg lebih senior lg, gaya certutur Benny Arnas juga mirip dg Damhuri Muhammad, dst.
    Jadi, intinya, meniru ‘rasa kata’ penulis lain itu sah saja, dan itu wajar dan sepertinya dialami oleh semua penulis. yang penting dan harus diingat adalah: ASALKAN JANGAN MENJIPLAK! Titik!

    dewa

    27 Maret 2011 at 11:40

  33. Cerpen yang diolah dengan rasa lokal yang kental. Kadang saya sempat berkernyit untuk memahami kata lokal yang digunakan. Struktur penggalan alur cerita rasanya kurang halus, ada sentakan ketika membaca. Hemmm, endingnya memang dibiarkan menggantung, biar pembaca ikut menebak kelamin sang bayi.

    Cerpen bagus.

    Gentoso Haji Tuing

    27 Maret 2011 at 18:01

  34. wah… bener-bener berkelas,,,, sekali baca merinding jadinya tubuh aku ini bang…. aku kepingin baca terus-terus dan terus bang….

    fahrur rozi

    29 Maret 2011 at 14:25

  35. cerpennya terlalu panjang……

    ??

    5 April 2011 at 12:27

  36. bagus deh ,menghibur dan cerita gantung bikin penasaran. eh ada yang tahu gak gi mana caranya kirim cerpen ke kompas?

    eliya

    18 April 2011 at 19:50

  37. keren..Subhanallah

    naisa

    31 Agustus 2011 at 11:22

  38. hem bagus!

    Yuli Maniz

    24 Oktober 2011 at 19:42

  39. bahasanya indah. tapi saya setuju kalau klimksnya kurang berasa😀

    asahy zahirah

    11 November 2011 at 10:56

  40. Menyukainya

    Beda Saja

    25 Desember 2011 at 19:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: