Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Laron

with 39 comments


Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela.

Tanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.

Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.

”Dasar bocah gak punya otak, pintunya kok malah dibuka. Laronnya masuk semua, Goblok!” teriak bapak sambil menutup pintu depan yang tadi kubuka sedikit. Ia menutupnya dengan setengah membanting.

”Sayapnya itu sulit disapu. Kamu mau nyapu?” kata bapak lagi sambil mendorong kepalaku dengan kasar.

Dengan sangat cepat, bapak mematikan semua lampu di dalam rumah. Seketika itu semua gelap. Dan aku berteriak ketakutan, memanggil-manggil ibu.

”Ada apa tho ini?” terdengar suara ibu, dan klik, ibu kembali menyalakan lampu.

Dari dalam kamar, bapak berteriak lagi, ”Jangan dinyalakan lampunya! Laronnya biar keluar dulu!”

Ibu tidak menyahut. Ibu segera menggandengku dan membawaku masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamarku, aku mendengar bapak mengumpat lagi.

”Kampreeet!! Dibilangin suruh matikan kok….” Dan klik, ruang depan kembali gelap. Hanya lampu kamarku yang menyala. Ibu menutup pintu kamarku rapat-rapat.

”Ditutup, ya, biar laronnya gak masuk,” kata ibu lembut. Aku mengangguk karena di kamarku sudah ada beberapa laron yang beterbangan mengitari lampu, sebagian hinggap di gorden jendela, dan beberapa—yang sayapnya tinggal dua—berpusing-pusing di lantai. Aku tertawa geli melihatnya. Tapi, mendadak aku jadi ingat ketika bapak memusing-musingkan kepalaku dan mengguyuriku dengan air, beberapa waktu lalu, ketika aku asyik bermain keran dan kemudian mematahkannya. Maka, kembali aku bertanya dengan bahasa mata kepada ibu.

”Mengapa bapak suka memarahiku, Bu?”

Ibu tersenyum, diusapnya liur yang hampir menetes dari bibirku yang lebar. Ibu mentapku, ”Bapak tidak marah padamu, bapak cuma tak suka kalau rumah kita ini kotor. Sayap-sayap laron itu bikin kotor. Susah disapu.”

Aku mencerna perkataan ibu, dan memanyunkan bibir sebagai pemakluman. Namun, pemakluman itu masih terasa belum tunai, mengingat perlakuan bapak selama ini padaku. Hati kecilku selalu mengatakan bahwa bapak memang tak pernah suka padaku. Lamat-lamat aku teringat pada sebuah malam, di mana bapak dan ibu bertengkar gara-gara aku tidak menghabiskan makan malam. Malam itu bapak sendiri yang mengambilkan porsiku karena waktu itu ibu belum pulang dari pengajian. Bapak mengambilkan porsiku dua kali lebih banyak dari biasanya—yang diambilkan ibu. Malam itu, bapak terus mengawasiku. Padahal sudah hampir setengah jam aku mendiamkan makananku.

”Habiskan nasinya!” gertakan bapak saat itu membuatku gemetar. Saat itu aku menyesalkan ibu yang tidak pulang-pulang.

”Sekarang beras mahal!” Bapak terus memelototiku sambil sesekali menggebrak meja. Maka, dengan sangat terpaksa nasi itu kumasukkan ke dalam mulutku. Beberapa kali aku ber-”hoek”, hendak muntah.

Bapak semakin geram. Ia mendekatiku dan menjejalkan nasi itu ke mulutku hingga berceceran di lantai. Aku menangis tanpa suara. Saat itulah tiba-tiba ibu datang dan menampik tangan bapak.

”Apa-apaan ini, Pak!?”

Ibu membersihkan nasi yang tumpah di bajuku dan segera membawaku masuk ke dalam kamar. Di luar kudengar bapak berteriak-teriak, ganti memarahi ibu. Agak lirih suara ibu, menuntaskan pembelaan. Namun suara bapak semakin menggelegar, ia mengeluarkan sumpah serapah yang tak kupahami artinya.

”Sudah kubilang, dari dulu, bocah cacat itu dititipkan ke panti asuhan saja. Biar tidak merepotkan kita.” Suara bapak terdengar jelas dari kamarku, disusul suara ibu yang terdengar seperti menangis.

”Gusti Allah menitipkan dia buat kita, Pak! Dia anak kita! Satu-satunya!”

Selanjutnya kudengar bapak meneriakkan namaku dengan sebutan bocah idiot, autis, bisu, gagu, dan seterusnya… yang direnteti ungkapan penyesalan seperti dendam.

Beberapa kali terdengar suara ibu menyela dan meninggi, meminta bapak beristigfar. Kudengar juga ibu mengumpat bapak dengan sebutan ”seperti orang tak tahu agama”. Maka terdengar suara plak, kulit beradu kulit, dan setelah itu sepi.

***

Ibu mengusap rambutku ke belakang. Kemudian ibu bercerita panjang tentang bapak. Kata ibu, sebenarnya bapak sangat sayang padaku. Hanya saja, bapak tak suka bila aku berbuat nakal.

”Maka dari itu, kamu tak boleh nakal lagi, yang nurut sama bapak,” kata ibu kemudian.

Aku jadi sangsi pada perkataan ibu, bukankah selama ini aku selalu menuruti perkataan bapak. Bahkan, ketika bapak memintaku mengambil makanan yang telah kubuang di tempat sampah dan memakannya kembali, aku menurutinya. Tentu waktu itu ibu tidak tahu.

”Janji, ya!” kata ibu lagi. Aku mengangguk saja hingga ibu mengecup keningku dan beringsut meninggalkan kamarku.

Di dalam kamar, aku sudah tidak lagi memikirkan perkataan ibu ataupun perangai bapak padaku. Yang kupikirkan adalah laron-laron itu. Sebenarnya aku berniat membuka jendela kamarku supaya laron-laron di luar bisa turut masuk ke kamarku. Tapi hal itu kuurungkan. Aku takut, kalau membuka jendela kamar termasuk perbuatan nakal yang tidak disukai bapak. Maka aku bermain dengan laron-laron yang ada di kamarku saja. Sebagian besar dari mereka sudah gundul, tanpa sayap. Mereka berjalan beriringan di sudut-sudut lantai. Yang berputar-putar seperti gasing juga masih ada.

Aku mendekati laron-laron itu dan mengajaknya bermain. Tapi, ketika jari telunjukku menyentuh laron-laron itu, mendadak laron-laron itu berhenti bergerak. Kemudian, laron-laron itu mengeluarkan suara.

”Kami sudah gundul, pesta kami sudah usai. Ternyata pesta kami sangat singkat,” katanya.

”Sekarang kalian mau ke mana?” tanyaku.

”Menemui ajal,” jawab mereka.

”Jika kami tahu, pesta kami sangat singkat, dan sayap-sayap kami sangat rapuh, kami akan memilih untuk tetap menjadi rayap,” kata laron yang lainnya.

”Mengapa?” tanyaku lagi.

”Kami tak pernah merasa cukup menjadi rayap tanah, kami ingin punya sayap dan terbang bebas menikmati cahaya. Dan inilah yang terjadi….”

”Apa yang terjadi?”

”Kamu lihat sendiri. Kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak. Kalau lebih buruk lagi, kami akan mati terinjak-injak manusia, tak bersisa, dan tak pernah berarti apa-apa. Semoga kamu tidak menjadi seperti kami.”

”Menjadi laron?”

”Bukan!”

”Menjadi apa?”

”Menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.”

Tiba-tiba aku teringat bapak.

”Sudah! Biarkan kami pergi,” kata laron itu lagi.

”Pergi ke mana?”

”Maut. Kami harus menemui takdir kami.”

”Kalau begitu kalian kupelihara saja.”

”Jangan! Kami sangat bau. Nanti kamu dimarahi bapakmu lagi.”

”Kalian kusembunyikan saja di kamarku.”

***

Diam-diam, aku membuka pintu kamar. Berjingkat ke dapur, mengambil rantang plastik di rak piring. Jika bapak atau ibu memergokiku, aku akan bilang kebelet pipis. Tapi bapak ataupun ibu tak memergokiku. Aku berhasil kembali ke kamarku dengan selamat. Kukunci pintu kamarku rapat-rapat. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, seperti orang lupa. Saat laron-laron dari luar berhamburan ke dalam kamarku, sama sekali aku lupa soal bapak. Yang kutahu hanya bahwa detik itu—saat laron-laron beterbangan menuju kamarku—adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kubayangkan kamarku penuh oleh peri-peri kecil yang berkerik lirih dan merdu.

***

Aku senang sekali, malam itu, bapak ataupun ibu tidak kembali ke kamarku. Pasti mereka mengira aku sudah tidur. Padahal, malam itu aku begadang sampai larut malam. Memunguti laron-laron itu dan memasukannya ke dalam rantang plastik. Sayap-sayap yang berceceran di lantai kubersihkan dengan kertas basah yang kulumuri ludah. Kutempelkan kertas basah itu perlahan ke sayap-sayap yang berceceran. Ternyata mudah sekali membersihkan sayap laron. Setelah kamarku bersih. Aku membuang kertas-kertas basah yang penuh sayap itu keluar jendela. Kututup kembali jendela kamarku pelan-pelan. Kututup pula rantang plastik yang penuh laron itu dengan sebuah buku tulis tebal sebelum akhirnya kudorong ke bawah ranjang dan kutinggal tidur.

***

Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku. ”Kenapa pintunya kok dikunci?” tanya ibu. Aku menatap ibu sambil mengibaskan tangan. Ibu paham yang kumaksudkan supaya laronnya tidak masuk. Hatiku agak tidak enak membohongi ibu. Tapi aku juga kasihan pada laron-laron itu. Ibu menyuruhku segera mandi. Detik itu aku berdoa semoga ibu tidak menggeledah kamarku. Apalagi bapak. Tapi doaku muspra, tak terwujud. Karena tiba-tiba bapak datang dan mengendus bau kamarku.

”Kamar ini kok bau laron busuk, ya?” tukasnya. Hidungnya mengendus seperti tikus.

Hatiku sudah tidak enak. Ibu mengingatkanku kembali untuk lekas-lekas mandi. Aku berjalan ke kamar mandi dengan hati cemas. Aku pun mandi ala kadarnya. Kalau tidak dimandikan ibu, aku memang tak pernah mau mandi memakai sabun. Apalagi gosok gigi. Dan tampaknya, pagi itu ibu masih sibuk membersihkan sayap laron di dapur, kamarnya, dan ruang tamu. Selepas mandi, aku buru-buru ke kamar. Kutengok kolong ranjangku, dan rantang plastik berisi laron yang kututupi dengan buku tulis sudah raib, tak ada di sana. Aku tersentak dan hampir terpeleset ketika tiba-tiba bapak menyeret telingaku dan membawaku ke muka ibu.

”Lihat ini!” bapak melemparkan rantang plastik berisi laron itu ke depan ibu. Laron-laron itu tumpah dan merayap ke mana-mana. Secepat kilat ibu merapikannya dan membawanya ke dapur. Bapak menyusul ibu ke dapur.

”Semalam dia tak tidur; kau lihat pula sana, di bawah jendela kamarnya!” kata bapak lagi. Telingaku terasa nyeri, tapi tangan bapak masih utuh di sana.

”Kau membohongi ibu?” tutur ibu berkabut.

Aku mulai menangis. Air mataku mulai meleleh. Tapi tak seulas suara pun keluar dari mulutku. Ibu meninggalkanku dengan tatapan kecewa, ia berjalan menuju kamarku. Bapak masih menyeret telingaku, menyusul ibu. Di kamar ibu menengok keluar jendela dan menggelengkan kepala beberapa kali. Lantas ibu pergi begitu saja. Tapi matanya merah, seperti mau menangis. Sementara ibu pergi, bapak menghujani pipiku dengan tamparan. Dijambaknya rambutku sebelum akhirnya aku dilempar ke ranjang.

Di dalam kamar, aku sesenggukan menahan nyeri. Hingga akhirnya ibu datang dengan membawa salep dan sapu tangan. Setelah mengusap wajahku. Ibu menidurkan aku di pangkuannya.

***

Aku masih belum berani keluar kamar dan bertemu bapak, hingga akhirnya ibu menuntunku ke ruang tengah untuk makan malam. Di sana kulirik bapak dengan wajahnya yang dingin seperti batu. Ibu mengambilkan aku nasi dan sayur. Perlahan kutilik satu demi satu lauk-pauk yang terhidang di meja. Hingga mataku mendarat pada sebuah toples berisi rempeyek dengan bintik-bintik hitam. Semula, aku mengira rempeyek yang dibuat ibu adalah rempeyek kedelai hitam. Namun, mendadak bapak berkomentar.

”Rempeyek laronnya gurih sekali.”

Aku mengangkat wajah. Memerhatikan bapak yang tengah lahap mengganyang rempeyek laron. Tak henti-henti bapak mengudapnya. Habis satu, ia ambil lagi dari dalam toples hingga rempeyek dalam toples tinggal separuh. Saksama kuperhatikan mulut bapak yang terus bergerak mengunyah rempeyek laron itu. Kuperhatikan mulut itu, bibir itu, gigi itu, lidah itu. Sungguh sangat menjijikkan. Dalam penglihatanku, bapak sudah menjelma menjadi seekor katak raksasa yang mengunyah serangga sampai sayap-sayapnya.

Tanpa sadar, kulemparkan piring berisi nasi dan lauk-pauk ke arah katak raksasa yang sedang mengunyah serangga itu. Dan lemparanku tepat mengenai kepalanya. Nasi berceceran di atas meja. Piring jatuh ke lantai, berdentang serak dan pecah menjadi beberapa keping. Tiba-tiba kulihat bapak memegangi kepalanya yang berdarah-darah. Matanya mendelik ke arahku. Mata yang berkilau dan tajam, seperti hendak menikamku.***

Malang, Desember 2010

Written by tukang kliping

6 Maret 2011 pada 22:46

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

39 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pertamax. Bgus, namun paman selalu menyayakan. Emosionalnya kurang menyentak. Tidak dberi ruang kejut sdktpun bg pembaca. Tetapi, pada dialog2 tetentu hati saya dipecahkan. Seorang anak idiot dididik dri kekerasan sang ayah. Namun, Paman juga tdk bs menutup mulut bhwa cerpen ini kala beberapa karakter menuju ending, seolah membwa Paman pd cerpen kemarin2 dg Judul “Piano.” tp sx lagi, it’s very clever”

    Paman

    7 Maret 2011 at 02:18

  2. baguss!
    cuma pas endingnya kurang gregett .. sebenernya endingnya bagus, tapi terasa digantungkan.
    tapi keseluruhan baguss ..

    astri

    7 Maret 2011 at 08:12

  3. Paman: Thanks atas telisikannya, semoga saya bisa menulis lebih baik lagi ke depan… Buat semua pembaca, mohon sambel masukannya, cabenya yang agak banyak gak papa. hehehe
    Buat Mas Tukang kliping: Kok gak ada ilustrasinya, yah? Terimakasih…
    Salam

    Mashdar Z

    7 Maret 2011 at 10:39

  4. Tp slmt skali lg sukses. Dan mari sm2 mengasah sastra lbh memukau. Sy jg penulis novel, skalgus pd cerpen pd beberapa surat kbr.

    Paman

    7 Maret 2011 at 12:33

  5. sy bingung mo komen apa..
    memang lumayan tragis, tp kok sy jg merasa emosi’y datar, kurang meledak-ledak..
    yg jelas sy suka pas bagian dialog sm laron, mengingatkanku pd kebesaran Tuhan..
    sukses terus bt karya’y..

    santoni

    7 Maret 2011 at 13:13

  6. ini bagus… kejutannya oke punya, bro!

    donaLd

    8 Maret 2011 at 00:15

  7. Analogi laron yg menyesali pilihannya dari rayap mnjadi laron cukup menggugah. Sy merasa seperti dijanjikan akan ada kisah lanjutanya dalm khdpn manusia, pd cerpen ini, dan janji itu tak ditepati. Mgkin sy trlalu naif brharap model cerita sprti itu, tapi mesti apa lagi, ini adlh bgian pling bagus dri cerita ini, dan hny brakhr dalam rantang plastik. Tanpa ada korelasi menarik dgn si anak autis atau hal lainnya. Mgkin akn sama naifnya jika sy brhrp cerita dgn happy ending. Tidak, cerpen ini bukn model sprt itu, mgkn sy lbih suka menyebutnya tanpa ending. Seperti memenggal waktu. Nah, yg model begini kekuatanya menyandarkan pada alur, metafor2, permainan emosi.. Ini misal lho, menurut sy saja. Ada usaha kesitu, tapi saya benar2 mohon maaf kali ini: ceritanya datar, emosinya kurg menyentuh dan jika ada nilai2 yg ingin dikuak, mgkin masih terlalu kasat. Ini menurut sy saja lho. Satu lagi deh, sudut pandang sbg org prtma dgn tokoh seorang anak autis masih kuranglah kalo menurut sy. Sy msih merasa seperti sedang meraba jiwa dan pikiran seorang yang normal dan berwawasan daripada si bocah autis tadi. Ide tentang rempeyek laron bagus juga. Nanti sy bikin ah. Mas penulis maaf ya mas, kalo komentarnya jelek.

    Juno

    8 Maret 2011 at 00:37

  8. ingat laron mnjadi ingat cerpenku yg dulu..tokoh2nya adalah laron yg mncari cahaya lampu ya, walaupn nantinya mati dilindas roda2 d jlanan, mereka terus mncari cahaya.

    Alangkah sempurna manusia2 yg mncari wajah cahaya…

    kekasih

    Hernowo Bayuaji

    8 Maret 2011 at 13:31

  9. endingnya mana?

    bagian tentang dialog hidup laron paling bagus

    saya teringat cerpen yang lalu. ttg masinis yg berkenalan dengan perempuan yang suka mengantarkan makanan.

    penceritaan menggunakan tokoh aku pd cerita semacam ini
    untuk saya mengganggu. krn berjarak
    sy mjd bertanya2 … anak idiot, cacat, autis
    dan usia berapa? yang bercerita ini?

    tp teteup selamat sdh masuk kompas
    dan secara umum tdk mengecewakan

    faiz

    9 Maret 2011 at 11:37

  10. nice story… kadang kita emang gag memperhatikan hal2 kecil di sekitar kita, seperti laron2 itu…

    aufia

    9 Maret 2011 at 11:40

  11. Bagus sekaliiii..😀

    Novia Valentina

    9 Maret 2011 at 12:57

  12. sarat serat hikmah yang bisa dijadikan teladan sebaiknya di jauhi dan di ikuti.. baik untuk sadarkan bapak berperangai antagonis..

    haidar hafeez

    10 Maret 2011 at 02:29

  13. Karakterisasi tokoh aku kuat sekali… good

    arheandra

    10 Maret 2011 at 09:01

  14. terlalu banyak ceramah, memaksakan pesan pada pembaca

    jamal

    10 Maret 2011 at 19:49

  15. […] Cerpen oleh : Darwanto, S.Hum Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela. […]

  16. Bagus,hanya ending nya yg kurang sempurna.

    af

    14 Maret 2011 at 16:17

  17. bagus, tapi endingnya krg dapet, gantung
    tapi, overall, its good

    panca

    16 Maret 2011 at 13:55

  18. bagus.
    endingnya menggantung dan saya suka…😀

    pandu

    22 Maret 2011 at 15:23

  19. keren… saya suka dengan tokoh bapaknya… dapet!

    syabli

    23 Maret 2011 at 11:03

  20. Suka banget bacanya, kebawa lgs gitu.. meski endingnya gantung, tapi sedihhhhh huhuhuhuhuhu… ko tega banget.. seolah2 ceritanya hidup, sperti nonton lgs ditv gt.

    thanks yaa…

    Windianingrum

    24 Maret 2011 at 15:11

  21. saya suka cerpen ini… hanya saya bertanya2 tokoh aku yang bercerita ini usia berapa ya? kok kayaknya bahasa sebagai penjiwaan anak autis itu kurang greget, ya?

    saya juga penyuka genre cerpen yang endingnya menggantung dan meninggalkan kesan di hati pembaca, dan saat ini masih meraba-raba untuk menulis karya cerpen yang bagus…🙂

    Adhi

    24 Maret 2011 at 19:01

  22. sya jga suka mkan nya sya ikutan komend

    alfiya imuet

    26 Maret 2011 at 12:18

  23. bagus….
    humanis bgt…..^^b

    rahmat

    26 Maret 2011 at 21:25

  24. Bagus . Apalagi pesan2 yg d sampaiknnya . Seperti janganlah kita menbeda2kn anak yg autis dan normal apalagi yg d sampaikn laron tentang blajar terhadap alam.

    Gun salawe

    28 Maret 2011 at 16:00

  25. Bagus ceritanya dan saya juga setuju ma Bp. Haidar, semoga Bapak-Bapak yang berperangai buruk jadi tersadar. Tp endingnya kok nggantung yaa…

    Deeda

    1 April 2011 at 13:04

  26. Pinjam cerpennya ya, buat di blog saya. By the way gue mau komen buat bapak dalam cerpen ini ” Mampus tuh bapak songong, makan tuh piring terbang !!!”

    neucom

    1 April 2011 at 19:53

  27. setau saya laron itu terbang bukan buat mati, tapi aksinya mencari cahaya juga termasuk bagian dari fase mencari jodoh.. memang ada sebagian yang mati, dimakan binatang lain atau terlindas mobil, tapi cuma sebagian kecil, sisanya masuk kembali ke dalam tanah atau rumah-rumahnya untuk beranak pinak setelah mendapat jodoh… tapi coba dicek lagi soal siklus hidup laron, karena bangsa rayap ini macam dan sifatnya banyak. menulis cerpen, sekalipun imajinatif tapi sebaiknya juga tidak keluar dari pengetahuan ttg sifat objek itu sendiri..supaya tidak dianggap indah tapi salah..

    manda

    2 April 2011 at 22:00

  28. kasihan sekali jadi laron…tapi kok gak disebut ya…bahwa ada sebagian malah di buat rempeyek dan dimakan oleh manusia…tingkat proteinnya yg tinggi…tapi namanya juga cerpen…tapi bagus kok…:)

    myfeltcreation

    27 April 2011 at 19:26

  29. sungguh sangat menyentuh hati… ternyata hanya sebuah kesederhanaan saja akan membuat kita tenang…
    salut tuk cerpen laron…

    moh. badruddin amin

    4 Juni 2011 at 08:07

  30. ceritany nanggung…
    ending ny gk ada.

    Koto

    1 Juli 2011 at 17:46

  31. tema ceritanya bagus, terutama saat dialog laron dan si aku. tapi endingnya kurang ‘duaaarr’ gitu, iihihi… aku sih ngerti endinnya mungkin emang sengaja dibuat begitu tapi jadi terkesan kayak belum selesai. mungkin ada laronversi duanya. ehehe… ^_^ tapi overall, aku terhipnotis baca sampe abis. baguuuusss…

    itaita

    26 September 2011 at 13:22

  32. sigh!

    Nathalia

    30 Januari 2012 at 21:31

  33. Mohon diizinkan mengkopi beberapa cerpennya untuk bahan pembelajaran. Terima kasih

    poery9

    24 April 2012 at 11:25

  34. Cerpen ini bikin terenyuh. Ending-nya bagus! Ttg rempeyek laron, katak raksasa, piring yg dia lemparkan….bener2 bikin terpukau. Menurut saya, bagian dialog dg laron justru merusak cerita ini. Tanpa dialog itu pun, pesan moral tetap bisa tersampaikan. Selamat sudah masuk cerpen pilihan🙂

    vera

    8 Juli 2012 at 18:23

  35. Minta izin utk di copy ke tugas Makalah ya

    HELMI AIRAN

    26 Oktober 2012 at 11:09

  36. minta izin untuk di copy buat tugas drama ya!!!

    Dimas Westya

    11 Januari 2014 at 12:51

  37. Saya baca cerpen ini waktu kls 3 SMA. sampai sekarang saya tidak bosan2 membacanya. serasa sebagai pembaca ikut masuk dalam cerpen ini

    Djafar

    19 Agustus 2015 at 13:03

  38. Ini pengarangnya siapa ya?

    felisita winona m

    9 April 2016 at 20:36


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: