Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Pemburu Air Mata

with 48 comments


Buat penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua khayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.

Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap membuat helaan napas menjadi lebih berat. Malam adalah waktu di mana hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang menahbiskan dirinya pada kekuatan hati. Benar hanya orang yang berhati kuat yang akan berani menghadapi malam. Seperti para pemberani di desaku. Suatu tempat amat elok di kaki gunung Jaganmantri. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar sangat cantik. Ibu semesta begitu setiap kali ada orang yang bertanya tentang arti Jaganmantri.

Desaku sangat indah luar biasa. Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubuhi bumi, genting-genting rumah berkilauan bersahut-sahutan dan dari kilau itu bermunculan warna-warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Seperti selendang para bidadari bertebaran di langit yang begitu tampak selalu tertawa. Seluruh negeri ini tahu bahwa pantulan kilau dari genting itu adalah air mata yang membeku sehingga bisa dibentuk apa saja. Benar semua benda di desaku terbuat dari kristal-kristal airmata yang membeku. Mulai dari jalan desa, rumah-rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai penduduk tebuat dari pintalan warna-warni kristal airmata.

Tidak ada satu orang pun tahu siapa yang pertama kali membuat adonan airmata sehingga bisa dibentuk menjadi apa saja itu. Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan airmata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari airmata. Apapun yang kami lakukan selalu diiringi airmata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, airmata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal airmata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal airmata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, airmata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin mengeluarkan airmata adalah orang yang benar-benar bahagia. Tak heran salah satu seniman nomor satu di desa ini mampu membuat satu komposisi dari lolongan tangis dan tawa sekaligus.

Konon komposisi ini pernah ditawar salah satu produsen besar dari ibukota, tapi seniman itu tak melepaskan karena si produser ternyata tidak bisa mengeluarkan airmata. Ke mana pun penduduk desa ini pergi mereka tampak selalu membawa tas berisi botol besar air mineral kosong dan spons. Karena ketika airmata merekan mengucur deras, segera disapunya dengan spons dan diperas hati-hati ke dalam botol air mineral tersebut. Sangat lazim telihat orang-orang membawa lebih dari satu botol. Airmata dari botol-botol tersebut terus dikumpulkan ke dalam sebuah koperasi unit desa untuk kemudian diolah menjadi potongan 2 baluk kristal airmata sebagai bahan dasar apa pun benda di desa itu. Potongan-potongan kristal itu terus diolah menjadi berbagai macam kebutuhan.

Begitulah desaku begitu damai dan nyaman penuh keberlimpahan dengan airmata. Airmata yang menjadi hidup dan juga bahagia. Orang-orang sederhana dengan airmata bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Orang-orang yang pemberani. Bahkan malam dengan kepekatan akan duka sekalipun tak mampu membuat mereka menghindar dari gulita. Setiap menjelang senja, saat roh-roh tua mulai ingin mengembara, para lelaki di desaku segera keluar menghadap ke barat. Dengan penuh cinta dibungkukkan badan mereka dalam sikap berdoa. Mereka tidak menganggap matahari itu Tuhan, tetapi mereka percaya saat matahari mulai membakar kaki langit dengan ujung-ujung lidah apinya sehingga langit berubah kemerahan, saat itu pula seluruh alam raya ini menangis sejadi-jadinya. Nah, karena tangisan alam raya inilah maka mereka membungkuk menghormatinya karena mereka merasa bahkan alam raya turut merestui tangisan-tangisan yang mereka haturkan sebagai puja. Sungguh jika malaikat kesayangan Tuhan sekalipun pasti akan selalu merasa senang tinggal di desa itu. Desa yang penuh air mata, tetapi begitu bahagia luar biasa ini. Hingga suatu hari ada yang merubah segalanya.

Awalnya terjadi dari kedatangan salah satu warga yang sudah lama merantau. Entah karena sudah lama merantau hingga lupa bagaimana caranya mengeluarkan air mata atau memang dia tidak mau lagi mengeluarkan air matanya. Tentu saja pada awalnya para penduduk terheran-heran bagaimana bisa lelaki itu tidak lagi mengeluarkan air mata. Ketika ditanya mengapa dia tidak mengeluarkan air mata oleh kepala desa yang diyakini sangat sakti karena mampu mengeluarkan air mata seputih susu sungai-sungai sorga itu, jawabannya sungguh mengglegarkan “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.” Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradaban dalam satu helaan napas. Semua lelaki yang mendengarnya langsung tanpa sadar menghentikan air matanya. Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Wajah-wajah lelaki di desa itu yang tadinya begitu ringan dan penuh dengan harapan, tiba-tiba menjadi tegang dan tampak sekali ada desakan-desakan air yang mati-matian ditahan di dalam sekat-sekat dadanya. Benar, lelaki tidak menangis. Begitu jargon baru yang terjadi didesa itu dan itu fatal.

Sejak saat itu pula para lelaki menempatkan dirinya lebih tinggi daripada para perempuan di desa itu. Lelaki-lelaki yang tadinya mau membantu para perempuannya memasak, menjahit dan mengurus anak tiba-tiba menjadikan diri mereka tuan. Air mata hanya milik kaum perempuan. Karena hal ini, maka sejak hari lelaki berhenti menangis, tidak ada lagi lelaki yang membawa botol mineral kemana-mana. Koperasi pengolah air mata mulai kesulitan pasokan karena hanya kaum perempuanlah yang menyetor air mata. Tentu saja pasokan itu tidak akan cukup mensuplai kebutuhan. Terlebih kompisisi mineral air mata lelaki dan perempuan berbeda. Balok-balok kristal air mata menjadi menurun kualitasnya. Orang akhirnya mencampurnya dengan air untuk memproduksi apa saja. Tentu saja ini sama sekali menghancurkan. Setiap pagi pelangi-pelangi yang berkilau karena terpaan matahari di atap-atap kristal air mata rumah-rumah penduduk mulai berkurang kadar warnanya. Meredup pelan-pelan seperti detak jarum yang berputar terbalik, makin lama warna itu makin samar dan begitu tipisnya.

Desa itu benar-benar menjadi desa yang sedih sesedih-sedihnya. Air mata menjadi barang langka, tetapi kesedihan menjadi begitu berakar. Hingga satu hari koperasi pengelola balok kristal air mata itu menyatakan bangkrut. Mereka tak sanggup lagi berproduksi karena suplai air mata hampir tidak ada lagi. Air mata yang tersedia begitu buruk kualitasnya karena hanya air mata perempuan sehingga tidak mampu lagi membuat kristal yang solid tanpa air mata lelaki. Ketika menyadari bahwa balok kristal air mata tidak ada lagi, mulailah mereka panik. Kepala desa membunyikan kentongan tanda para lelaki harus berkumpul, “Ini sebuah kesalahan, lelaki boleh menangis karena kita butuh air mata untuk kelangsungan hidup kita, mari kita menangis lagi.” Dia pun mulai mengejap-kejapkan matanya untuk memanggil roh air mata agar kembali hadir, tanpa sadar semua lelaki yang hadir mengikutinya. Tetapi roh air mata mereka memang sudah tidak ada lagi. Mereka pun mulai panik. Semakin keras mereka berusaha, semakin air mata tidak lagi keluar. Bahkan karena terlalu keras hanya darah yang keluar dari mata mereka. Tentu saja itu bukan air mata karena berwarna merah. Air mata seperti suara Tuhan, begitu bening dan sejuk.

“Roh air mata itu harus kita cari, kalau perlu ke ujung dunia pun harus kita buru,” begitu akhirnya keputusan kepala desa itu dalam keputuasaannya. Begitulah, sejak hari itu banyak lelaki keluar dari desaku. Mereka memburu air mata ke seluruh pelosok negeri. Ada yang berhasil ada pula yang tidak. Ada yang pulang dengan membawa bergalon-galon air mata, ada yang mengirimkan lewat kilat khusus, tetapi ada juga yang pulang hampa sia-sia. Lelaki perantau pencetus gagasan penghapusan air mata bagi lelaki itu menghilang entah kemana. Konon, ada yang pernah melihat dia secara diam-diam menghilang ke atas gunung dalam penyesalannya karena telah membuat desanya menjadi berantakan. Tetapi ada juga rumor yang menyebutkan bahwa saat dia menyebarkan propaganda anti air mata itu sebenarnya dia telah disuruh oleh setan yang tidak pernah ingin melihat manusia bahagia. Entah benar atau tidak, yang jelas sekarang ini sangat jarang ditemui lelaki di desaku. Kebanyakan mereka telah menjadi pemburu air mata. Mereka akan sangat mudah ditemui di kota-kota besar maupun kecil. Dengan berbagai cara mereka akan membuat orang-orang menangis, yang paling sering dilakukan adalah menjadi pendongeng cerita-cerita sedih dimana ketika para penonton beramai-ramai menangis maka si pendongeng akan buru-buru mengambilnya dengan sponsnya dan dimasukkan kedalam botol air mineralnya.

Demikianlah, desaku yang tadinya begitu damai dan indah kini menjadi sunyi. Kesunyian yang begitu menyayat. Kesunyian yang melahirkan pekat. Seloka-seloka yang disenandungkan perempuan yang tinggal hanyalah senandung kesepian yang dibungkus rapat dengan kerinduan, karena para lelaki mereka menjadi pemburu air mata dan tidak tahu kapan mereka pulang. Benar-benar desa yang tidak bahagia. Mereka sering sekali merindukan waktu lalu, dimana air mata begitu mudah didapat, sangat bening seperti hati. Mereka begitu mendendam kepada lelaki pencetus ide penghapusan air mata. Dendam yang melahirkan bara di dada. Bara yang melahirkan air mata api.

Air mata menjadi makin langka. Air mata pada akhirnya melahirkan hanya lolongan. Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya karena mereka benar-benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan melahirkan tawa.

Ubud, 20 Januari 2010
Untuk air mata-air mata yang menjadi guruku.

Written by tukang kliping

27 Februari 2011 pada 23:56

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

48 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terhanyut!!!!

    rik

    28 Februari 2011 at 10:39

  2. permainan imajinasi,oky

    sujud sugiyanto

    28 Februari 2011 at 17:29

  3. wow..tepat sasaran, mengalir n menyentuh..sy suka cerpen seperti ini..

    santoni

    28 Februari 2011 at 20:07

  4. Ikut menitik air mata aah… Wkwkwk.

    rada_rada

    28 Februari 2011 at 21:44

  5. kerrreeeeenn..
    Ngacungin jempol setinggi-tingginya..

    leeya

    28 Februari 2011 at 22:43

  6. Wahhh…. awal muncul.x budaya patriarkhi nich…. (KARENA AQ LELAKI, AQ TAK BOLEH MENANGIS)…..

    rea

    1 Maret 2011 at 09:26

  7. Entah kenapa, aku kok merasa cerpen ini terinspirasi dari kisah Air Mata di Pemetik Air Matanya Agus Noor…
    Nice!!!

    Mashdar

    1 Maret 2011 at 11:17

  8. nice story…

    aufia

    1 Maret 2011 at 11:30

  9. hmm, seperti dipaksa bercerita……

    miftah fadhli

    1 Maret 2011 at 13:28

  10. ga jelas juntrungannya, maksudnya penulis c pengen keren x ya, pakai banyak perandaian “air mata”. tapi maaf, cerpen ini ga keren tuh

    adib

    1 Maret 2011 at 15:25

  11. No komen. Sy lebih suka Noviana yg sebelumnya. Gaya2 surealisnya kena. Kalo yang ini, bagus sih, lumayan lah, tapi ada yg kurang, ga tau apa, seperti sesuatu yang memaksa, atau apalah. Mgkin krn sy terpatok oleh siapa pengarangnya. Rating 3 1/2 dari 5 bintang lah hehe..

    Juno

    1 Maret 2011 at 19:51

  12. Rea _ Wah. Rea, air mata bukan hanya milik wanita. Tapi juga pria. Tapi mereka terlalu angkuh untuk mengakuinya.

    Anda perlu baca Sonya Rury-nya Indra Tranggono.

    Pokoknya Mbak Noviana. The Best, dah. Cara bertuturnya Kereen.

    Abdul Hadi

    1 Maret 2011 at 22:29

  13. Keren, sy suka

    HM

    2 Maret 2011 at 10:28

  14. apapun komen sampean2, saya tetep suka cerpen ni…
    bisa membuat saya tersenyum sampai paragraf terakhir….

    saluut !!!!

    cahndablek

    2 Maret 2011 at 10:39

  15. paman kok negerasa ini cerpen menjauh dari substansinya, ya?

    Paman

    2 Maret 2011 at 18:46

  16. cerpen ini mengingatkanku pada salah satu episode sponge bob (the idiot box)

    geger G

    2 Maret 2011 at 23:10

  17. Rongga, adakah mereka senafas??
    hmm. . . . . .

    miftah fadhli

    3 Maret 2011 at 00:05

  18. terharu kisah yang mengenaskan

    haidar hafeez

    6 Maret 2011 at 04:33

  19. kalian bisa membuatnya tidak. jangan asal komentar pedas saja, kalian itu tidah lebih dari anak-anak SD. buktikan kalau kalian bisa, bukti lebih baik untuk dicerna daripada omong doang.

    paman

    6 Maret 2011 at 14:22

  20. kereeeeeeeeeeeeeenn

    Babeh Helmi

    8 Maret 2011 at 01:26

  21. Menurutku cerpen ini bagus koq..ya, kritik sastra harus bisa memiliki alasan yg bs dprtnggungjwbkan…

    cerpen ini memiliki Gaya surealis yg bagus dan gaya bahasa yg indah..walaupun di tengah cerita agak mmaksakan feminisme-nya x ya..tpi tak apa n tak jdi soal..bagus.q suka

    Hernowo Bayuaji

    8 Maret 2011 at 13:21

  22. Indah sekali. Penyimbolan yang simpel, khususnya (malah) untuk laki-laki. Tema yang diangkat oleh Mbak Novina dalam “Pemburu Air Mata” ini menurut saya sangat universal. Diceritakan dalam cerpen mengenai desa air mata yang warganya hidup dari air mata tersebut. Mereka tak mampu hidup tanpa air mata karena ini adalah sumber penghidupan mereka. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kebiasaan menangis. Jadi, saya kira cerpen ini mengangkat tema universal menyangkut patriarki yang sudah lama ini menjadi isu, dimana lelaki harus lebih tinggi posisinya daripada perempuan, dan salah satu akibatnya adalah mereka tidak boleh menangis. Apabila menangis, lelaki dianggap cengeng. Padahal apa? Lihat akibatnya. Hm.. yang menganggap cerpen ini biasa-biasa saja, coba beri diri Anda kesempatan untuk membaca untuk kedua kalinya. Atau misalkan tak dapat apa-apa dari cerpen ini, bertanya saja pada diri Anda? “Ada apa dengan saya?”

    Sekali lagi. Indah.

    wibowo susyono

    8 Maret 2011 at 13:47

  23. aku baca sekali lagi cerpen in dan benar benar cerpen penuh lompatan-lompatan kesan kemari ceritakan kejujuran global dimana lelaki selalu saja jaim. jaga imit bila di hadapkan pada nyata. perempuan salah satu nyata itu. nyata bila lelaki tak kuasa elak utuh pendamping sebagai mana adam butuh hawa

    haidar hafeez

    10 Maret 2011 at 02:47

  24. atap dari kristal air mata? gimana cara bikinnya? berarti transparan dong! apa nggak panas tuh? di cerita ditulis memantulkan sinar matahari, jangan-jangan bisa menyebabkan efek rumah kaca.

    bagus lah desanya hancur berantakan, dari pada yang hancur alam.

    silla

    13 Maret 2011 at 21:35

  25. Bodoh betul Silla ini…

    Harlinda

    15 Maret 2011 at 18:26

  26. om nie cerpen yya aku lg nyari tugas nie tp kok cerpen panjang amad

    regif

    17 Maret 2011 at 08:55

  27. imajinasi dan perumpamaan yang hebat. saya jadi teringat kampung halaman, lelakinya habis menjadi TKI. hiks…

    syabli

    23 Maret 2011 at 11:14

  28. Hebat

    Helda

    25 Maret 2011 at 09:54

  29. saya ga ngerti

    faiz

    28 Maret 2011 at 10:15

  30. Dari cerpen-cerpen saya baca dari kompas, cerpen Anda paling keren, meskipun lebai, tidak logis,keterlaluan, malah itu keindahannya,belum saya temukan cerpen lain melampaui ini,

    ady

    29 Maret 2011 at 11:15

  31. suka banget cerpen ini…

    manda

    2 April 2011 at 22:31

  32. bagus uyy cerpenn… DpT MENhNYUTKn si pembCA… MANTAP UYY…

    NDIN & FUZI

    6 April 2011 at 00:52

  33. suuuukkkkkaaaak banget

    rahayu palagan

    6 April 2011 at 13:59

    • Great……..for the writer.

      Sa'ron Humaidi

      9 April 2011 at 17:03

  34. SETIAP CERITA PASTI SELALU ADA MAKNA,,,,,,,,SETIAP BENDA PASTI ADA HARGANYA……………..CUMA TERKADANG KITA TERLALU BODOH UNTUK MENAFSIRKAN MAKNA MAKNA YANG TERSEMBUNYI……..LANJUTKAN BOS…..

    PUTRAWANGSA

    10 April 2011 at 06:10

  35. Jorok.. Masa’ air mata busuk dikumpulin.. Cerpen yang keterlaluan..

    Fian

    18 April 2011 at 08:23

  36. bagus kok

    neTral

    23 April 2011 at 13:14

  37. ok

    sama

    23 April 2011 at 13:14

  38. kena banget di gw nya

    sonia

    27 April 2011 at 08:11

  39. bagusss…

    dara

    12 Mei 2011 at 01:04

  40. muantaaaaaaaaabbbssss

    kusuma

    21 Mei 2011 at 01:09

  41. Ini adalah sastra, dan jangan sangkut-pautkan dengan ilmu pengetahuan.

    Danny & Lissa

    26 Mei 2011 at 04:28

  42. *terkesima*

    Saia kira ini bakal kaek gimana… eh ternyata fantasi! Konsepnya unik: kristal air mata. Ah, saia iri :3

    Rea_sekar

    15 Oktober 2011 at 15:52

  43. I Like It

    eiki

    4 Desember 2011 at 21:29

  44. dari sekian banyak koment dari berbagai cerpen…kenapa sebagian besar komentar mengkritik bagaimana sebuah tulisan dibuat tentang bentuk tulisan jalan cerita dan sebagainya…kita tahu setiap org berbeda…kenapa kita tidak mencoba membaca dari sudut pandang penulis….andaikan bahwa anda penulis yang membaca cerpen anda sendiri…saya rasa akan lebih terasa jalan cerita dan isinya tujuan menulis…dan makna cerpen….

    atau kalau tidak kenapa tidak dicoba enjadi bagian dari cerpen…menjadi salah satu pemuda desa ini misalnya….

    kenapa membaca dan memahami hanya dari sudut pandang diri sendiri?

    dharmaadi suyano

    25 Desember 2011 at 15:06

  45. Imaginasi penulis luar biasa hebat. Desa yang dibangun dengan air mata. Tapi apa maknanya jika menyajikan imajinasi kosong. Saya menyangka cerpen ini akan menjadi satir mengenai jender. Memulainya dengan “Menangis hanya milik perempuan, bukan lelaki.” Sepertinya akan menarik jika seperti itu. Itu menurut saya.🙂

    Beda Saja

    25 Desember 2011 at 20:45

  46. nyimaaaaaaaakkkkkk……

    petani

    16 Maret 2012 at 13:24

  47. Tiga tahun yang lalu membaca CerPen Kompas yang satu ini , untung masih ingat tiga kata kunci Pemburu Air Mata , cerpen yang diksinya begitu mempesona . Ngomong2 kompas gak pakai WP lagi yah , punya server sendiri .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: