Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Salju di Leuven

with 46 comments


(Kepada Maria Janakova)

Tidak lama waktu yang kita lalui. Tapi bukan berarti tidak banyak pula yang kita lakukan. Hanya dalam beberapa bulan kita berkenalan. Tetapi itu sudah cukup untuk membuat kita seperti teman lama yang tiba-tiba bertemu secara tak sengaja di tempat yang tak pernah direncanakan.

Aku masih ingat, kamu menjerit histeria dan memelukku ketika pertama kali tahu bahwa aku dari Indonesia. Ya, Indonesia, kamu sangat mencintai negeri itu. Entah mengapa, banyak orang yang pernah ke Indonesia, akan jatuh cinta dengan negeri itu. Dan bukan cinta sembarang cinta, tetapi cinta mati yang sangat mendalam. ”I love Indonesia so much,” katamu.

Aku sendiri, ketika itu sedang berada dalam salah satu fase yang sangat genting dalam hidupku. Boleh kubilang ketika itu hidupku tak punya arah sama sekali. Benar bahwa aku baru saja memulai hidup yang baru di Leuven. Tetapi, bersamaan dengan datangnya hidup yang baru itu, aku juga kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku. Kekasih yang sangat aku cintai pergi begitu saja meninggalkan luka yang mendalam. ”I’m in love dengan someone else,” demikian pesannya di Facebook. Singkat sekali, tetapi lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya dari versi dia. Meskipun dari versiku, aku tak pernah dapat mengerti tentang pesan singkat di Facebook itu.

Kepergiannya meninggalkan lubang dalam diriku. Ada ruang kosong, yang mungkin akan kosong untuk selamanya. Apa boleh buat. Aku tahu banyak lelaki berlari membawa luka dalam dirinya. Dan mungkin bagiku, aku harus berlari dengan lubang dalam diriku. Apa pun, hidup harus berjalan.

Masih segar dalam ingatanku pertemuan kita yang pertama di laundry sore itu. Di gedung De Waag, pojok hunian mahasiswa Katholieke Universiteit Leuven, Heverlee. Aku harus berterima kasih kepada detergen yang membuatku bingung. Karena tanpa kebingunganku dengan detergen itu, mungkin kita tidak akan pernah berkenalan. Aku benar-benar takut ketika itu, kalau-kalau aku salah memakai detergen, maka bisa saja semua pakaianku akan luntur dan berwarna putih. Dan, nasiblah yang menentukan hanya ada kita berdua di ruangan itu, hingga aku tak punya tempat bertanya selain kamu. Karena aku tak mungkin menanyakan itu pada kursi-kursi kosong di De Waag ataupun rak pajangan poster dan papan informasi di ruangan itu.

Dan sejak itu kita jadi sering bertemu. Diawali dengan masak tahu isi bersama. Karena beberapa hari sebelumnya kamu pernah berbicara soal tahu isi. Dalam ingatanku kamu sebenarnya seperti mengigau. Karena aku lupa detail obrolan kita pada waktu itu. Yang aku ingat hanyalah kamu bilang kalau kamu suka tahu isi dengan cabai rawit.

Aku tidak pernah memasak tahu isi sebelumnya. Tapi aku pernah melihat bagaimana mbok-mbok tukang gorengan di Jogja melakukannya. Dan tak ada susahnya meniru itu. Yang kita butuhkan hanyalah semangat dan keyakinan bahwa kita akan sanggup memasak tahu isi ini. Sambil berusaha terus sepelan mungkin melubangi tahu dengan pisau, aku masih sempat mengomentari bahwa sepertinya tahu yang kita beli dari Asia Market tidaklah seperti tahu di Indonesia. Kamu kelihatan bengong dan hanya mengangkat bahumu sedikit sambil meneruskan mengiris bawang. I like it. Komentarmu pendek ketika mau pulang sambil membawa beberapa tahu isi dan tempe goreng di dalam boks ke kamarmu.

Sejak itu kita semakin sering bersama. Sekadar minum bir. Nonton film di ZED CINEMA. Main bulu tangkis. Sekadar menyapa di Facebook. Atau saling mendengarkan keluhan masing-masing. Aku takkan pernah lupa ketika suatu malam kamu datang mengetok kamarku dengan wajah yang amburadul seperti lalu lintas Jakarta dan mengajakku keluar.

Sepanjang perjalanan ke Grote Markt, oh ya kita selalu jalan kaki dari Heverlee ke Grote Markt, kecuali pada kali pertama kita nongkrong di Oude Markt ketika aku memboncengmu pakai sepeda dari Oude Markt ke Heverlee pada malam menjelang subuh itu, kamu bercerita tentang tasmu yang hilang. Kartu-kartumu yang ada di dalamnya. Kartu mahasiswa, kartu kredit, kacamata, serta HP-mu dengan stiker gambar yang sangat kamu sayangi.

Beberapa hari kemudian kita mencoba mencarinya. Karena ada orang yang mengirim e-mail padamu dan mengatakan bahwa ia menemukan kacamata dan kartu pelajarmu, somewhere di Leuven. Kita ke sana, sebuah rumah di sekitar Brusselsestrat. Agak kaget pada awalnya. Karena kamu berjanji dengan seorang perempuan, tetapi yang menerima kita malam itu adalah seorang lelaki yang mengaku sebagai pacarnya. ”I don’t believe that man,” katamu begitu kita meninggalkan rumah itu. Agak aneh memang karena orang itu tidak menyebutkan di mana dia menemukan kacamata dan kartu pelajarmu. Dia bilang dia lupa karena ketika itu lagi mabuk. Apa boleh buat, kita sama-sama tidak percaya pada orang itu. Tetapi, tidak ada alasan yang cukup untuk menyatakan kecurigaan padanya.

Entah berapa bar yang sudah kita singgahi di seputaran Oude Markt, aku sudah tidak ingat. Atau bar Universum di Tiensestrat. Aku suka suasana di sana. Senang karena tidak sepenuh bar-bar di seputaran Oude Markt, bebas merokok sepuasnya, dan tentu saja tertawa. Aku senang kalau kamu senang, katamu suatu ketika. Dan aku pun demikian. Tak masalah, meski aku yakin kalau ada orang yang mendengarkan kita, kadang-kadang pasti akan merasa janggal. Bagaimana tidak janggal, ketika aku tanya kamu bagaimana rasa bir gratis pada gelas besar yang kamu dapat dari bartender di The Rock Cafe sebagai hadiah ulang tahunmu itu, kamu menjawabnya dengan sendawa dan menyambungnya sesaat kemudian, ”That’s all my answer”. Ha-ha-ha… orang-orang di Eropa tidak suka dengan sendawa. Mereka menganggap itu tidak sopan. Tetapi, kita tertawa sambil salah satu telapak tangan kita beradu di udara.

Kamu suka sekali musik dan berdansa. Aku, sebenarnya tidak terlalu familiar dengan suasana itu. Tetapi, kamu begitu sabar. Menata gerakanku yang menurutku tidak selaras sama sekali. Atau, persisnya aku mengikuti iramamu saja. Aku bisa bilang begitu karena ketika kamu memegang tanganku, aku hanya membiarkanmu saja menariknya ke sana kemari.

I’m a cow,” kataku suatu ketika soal selera musik dan dansaku.

No, do not say that, you are not a cow,” balasmu

“”Yeah.., following another cow.

What? Ha-ha-ha….

Harus kuakui memang, untuk urusan berdansa dan bernyanyi, aku memang idiot dan hampir-hampir tak punya ide soal gerakan apa yang akan kulakukan. Mungkin aku harus ngambil kursus salsa semester depan. Sementara ini tidak masalah, semuanya berjalan lancar pada malam itu. Kita bergoyang sampai larut. Meskipun sebenarnya beberapa kali aku hanya duduk dengan birku dan merokok sambil tersenyum-senyum melihatmu yang bergoyang lepas mengikuti irama musik.

I’m a girl baby, I’m a girl baby,” katamu salah tingkah ketika aku memergokimu sedang berkaca di dinding bar sambil mengibas-ngibaskan rambutmu. Aha.., aku tambah tersenyum melihatmu begitu. Itu momen belum tentu datang seratus tahun sekali. Sayang sekali aku tak bisa melihat rona wajahmu ketika itu karena lampu bar yang remang-remang. Jadi aku cuma bisa menebak-nebak saja. Dan tentu saja aku takkan menceritakan seperti apa wajahmu dalam tebakanku. Yang jelas, malam itu aura perempuanmu benar-benar keluar. Jauh dari penampilanmu di hari-hari biasa yang sedikit tomboi.

Malam semakin larut. Dan kita merasa lapar. Seperti biasa, titik berikutnya adalah penjual makanan Turki yang buka 24 jam di dekat Grote Markt. Satu porsi kentang goreng dengan saus samurai yang agak pedas itu cukup. Biasanya kita makan lebih banyak diam. Tetapi, malam itu kamu terus mengoceh. Sementara aku tak banyak bicara. Mungkin karena aku lapar, atau juga mungkin karena aku memang serius makan.

Dari sana kita pindah ke kursi di lapangan Oude Markt. Aku pikir waktu itu sudah sekitar pukul 3 pagi. Sebatang rokok di kursi panjang. Begitu rapat kita duduk karena memang pagi semakin dingin. Apalagi kalau tiba-tiba ada angin. Meski tak kencang, tapi bagiku itu sangat menyiksa. Dinginnya terasa sampai ke tulang.

Perjalanan pulang ke Heverlee penuh dengan tawa. Tidak ada hujan, tidak ada salju turun, tetapi kita berpelukan di bawah payung. Sepanjang jalan kita mengejek orang-orang mengapa mereka tidak pakai payung padahal ini hujan deras. Satu dua orang melihat dan mendengarkan teriakan kita, kemudian sambil tersenyum mereka berlalu. Beberapa orang yang kita teriaki pagi itu sama sekali tidak menoleh, mungkin mereka sudah sering melihat pemandangan seperti kita yang pakai payung di pagi buta tanpa hujan dan tanpa salju itu. Ini Leuven Maria. Ini Leuven Maria. Begitu kataku ketika kita melihat dua orang laki-laki hitam berdansa di tengah jalan mengikuti gerakan cahaya lampu bergerak yang datang dari salah satu puncak bangunan di sekitarnya. Barangkali kata-kata bermakna sama diucapkan diam-diam oleh orang-orang yang kita teriaki pagi itu. Tidak ada urusan. Kita tetap tertawa. Apalagi setelah kamu bilang bahwa kamu hampir percaya bahwa hujan sedang turun.

Mendekati Heverlee, tidak ada lagi orang di jalanan karena memang asrama milik Universitas tempat kita tinggal terpisah dari rumah-rumah warga Leuven. Tidak ada lagi yang bisa diteriaki. Dan kamu mulai bernyanyi, ”nananananaa… Come on baby, gimme a tittle of song please, I forget all of them now, ” katamu. Aku tidak menjawabnya, tetapi langsung memulai, ”It’s late in the evening; she’s wondering what clothes to wear,” dan di pagi Leuven yang dingin itu, mengalunlah ”Wonderful Tonight”.

Dan dari jendela kamarku, ketika aku menulis cerita ini, aku bisa melihat pohon-pohon yang ranting-rantingnya tertutupi salju. Di luar itu pasti dingin sekali. Tidak mungkin berjalan tanpa jaket di sana. Jaket memberikan kehangatan bagi tubuh-tubuh yang berjalan di bawah hujan salju yang turun lembut dari langit.

Aku merasakan dingin itu. Bukan karena salju atau angin di luar sana. Tetapi karena aku tahu kamu akan segera pulang ke Bratislava. Berakhir sudah masa satu semestermu di Leuven. Tidak akan ada lagi masak bersama atau nongkrong di Grote Markt. Tetapi seperti katamu, aku harus memercayaimu. Seperti katamu, kamu akan datang ke Leuven untuk minum bir dan menari bersamaku. Dan seperti katamu, aku harus mengunjungimu di Bratislava pada tanggal yang sudah kamu tentukan agar kita bisa menonton festival musik itu. Aku percaya kepadamu. Bagiku, kata-katamu seperti jaket di musim dingin.

Dari jendela, sekilas kulihat salju turun perlahan di luar sana.

Leuven, Desember 2010

Written by tukang kliping

20 Februari 2011 pada 22:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

46 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. enak ceritanya, apalagi sy baca pas hampir larut malam.🙂

    paling suka pas bagian nyanyi Wonderful Tonight. Saya juga suka lagu itu.🙂

    saya menikmati cerita ini.

    aulia

    20 Februari 2011 at 22:56

  2. 1. ….. maaf ah
    biasa
    disamping terganggu dengan pemakaian bahasa inggris yang sepatah2 dalam narasinya(bukan dalam bentuk dialog)
    2. banyak orang yang pernah ke Indonesia, akan jatuh cinta dengan negeri itu. …. cinta mati yang sangat mendalam.
    emang gitu apa? .. dah bikin penelitian ya?
    kalo belum .. lebay dey
    3. teteup selamat sudah masuk kompas :))

    faiz

    20 Februari 2011 at 23:29

  3. Ngbayangin “adegan” di laundry itu ko jdi keingetan sama Mr. Bean yang episot ke laundry itu loh.. Trus bnyk bgt facebooknyah.. Duuh add aku doong gkgk.. Eh motret Turkinya kurang kena ah, trlalu stereotype kota 4 musim eropa yg ada dlm byngn. Ga ada yg khas, mesjid kek, apa kek, trus isinya.. Jiahh.. “pada suatu hari” banget… Ngebayangin tukang milih cerpen kompas skrg, ko jadi keingetan majalah trax saat mulai ditinggalin satu persatu sama si adib, arian, aristo.. Ga tau ah ko jadi gitu yah.. Huh cerpen jelek..

    Juno

    21 Februari 2011 at 01:52

    • ahahhaa.. sama, saya juga langsung keinget adegan MR. Bean.. ahahha🙂

      ana

      24 Februari 2011 at 14:53

  4. emm,, entahlah..
    Saya rasa dialognya kurang nendang,, dan tanpa kejutan..
    Tapi oke kok,, saya sih asik-asik aja bacanya..

    leeya

    21 Februari 2011 at 14:35

  5. cerita yang inspiratif sekali…..

    lidya

    21 Februari 2011 at 19:15

  6. awal.x bca menarik jg sih…. tapi aq tnggu klimaks.x, kejutan2.X, kok gk ada…. sory ya… cerita. trllu datar2 aja…

    rea

    21 Februari 2011 at 19:33

  7. Mengalir aja…selamat dah masuk kompas.

    Hatmi

    21 Februari 2011 at 20:30

  8. Maaf ya..tapi cerpen ini kok biasa banget ya.. ^^ sangat datar dan membosankan..maaf..🙂

    Lazy_o

    21 Februari 2011 at 22:29

  9. Hehehe jadi inget ketika pas ke Paltuding-Ijen ketemu ama European backpacker girl, tinggal aku bedua di bis waktu itu, akhirnya kita ngobrol, sharing kamar, ojek, numpang truck dan have fun selama 2 hari sebelum dia balik Jogja and fly back to Frankfurt dan janjian jalan ke Flores pas summer 2011 nanti🙂 btw thanks to write the story pal, especially since its remain me some nice moment ago🙂

    roy sinaga

    22 Februari 2011 at 06:03

  10. Aduh kayaknya sangat menarik dan apalagi arsipnya cukup lama, pada tahun 1989-an saat masih kuliah di Bandung, saya mengkliping cerpen kompas dan ternyata menemukan blog arsip ini. terimakasih.

    Ahmad Elqorni

    22 Februari 2011 at 06:56

  11. duh.. cerpen kok kayak buku harian..

    surey

    22 Februari 2011 at 07:56

  12. Kecewa.
    Cerpen ini datar sekali, tidak menarik, tidak menyuguhkan tema yang baru, hal yang diceritakan klise.
    Hanya ingin mengajak pembaca berkeliling dengan latar (yang bahkan metode seperti ini: mengajak orang untuk masuk ke setting luar negeri: sudah-sudah sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sering (sekali) dilakukan….

    Sungguh tidak ada yang menarik.
    Cerpen yang flat.

    Dimas Sabayu

    22 Februari 2011 at 09:29

  13. Bahkan, saya juga sangat setuju dengan pendapat Bung Faiz. Adanya pemakaian kalimat berbahasa inggris yang sepotong-sepotong (dan bukan pula pada dialog) membuat cerpen ini terkesan ditulis oleh penulis yang baru belajar bahasa inggris. sehingga ada rasa skeptis untuk menulis kalimat berbahasa inggris secara menyeluruh untuk bagian tertentu…..

    Ending juga terasa hambar.
    Tidak ada sentuhan suspense yang terasa ‘hangat’
    Hanya kalimat kesedihan yang diungkapna melalui pendisplay-an suasana…

    Sebagai seorang pembaca(dan juga penulis) saya merasa kecewa kenapa cerpen klise ini bisa diloloskan.

    Selamat deh untuk Om Bosman Batubara…..

    Dimas Sabayu

    22 Februari 2011 at 09:34

  14. Kesimpulannya: Bosman Batubara tidak seberhasil Umar Kayam dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ ketika mendisplay suasana, lattar dan setting lainnya di luar negeri….

    🙂

    Dimas Sabayu

    22 Februari 2011 at 09:39

  15. Dengan 35 judul cerpen yg masuk ke kompas tiap hari (kata seseorang–dan 35 kali 7 berapa ya?) saya rasa pasti banyak yg lebih bagus dari cerpen ini. Redaktur Kompas mungkin bisa belajar banyak dari redaktur Jawa Pos. Cerpen-cerpen yg dimuat Jawa pos keren-keren lho. Bravo!

    Anies

    22 Februari 2011 at 13:30

  16. Jawa Pos? Gak selalu ah! punya Benny Arnaz yang ANAK IBU, okelah! Tapi yang punya Lan Fang kemarin, gak dueehh! Hmm, Koran Tempo lumayan konsisten! Saya selalu nunggu cerpen Avianti,Benny, dan Raudal di koran itu. Itu ini pendapat Nia lhoooooooooo

    Nia Mariana

    22 Februari 2011 at 14:13

    • Sepakat dengan Nia…
      Lan Fang kurang nendang. Koran tempo two thumbs up lah..!!!
      kalau di tempo ku selalu menunggu Avianti Armand….

      Mikail

      24 Februari 2011 at 16:30

    • Tempo? pilih kasih ah! Masak Avianti, Benny, dan Gunawan saja yang diputer-puter!!!! *esmosi

      Linlin

      24 Februari 2011 at 18:19

    • Ya barangkali tergantung selera juga ya. Saya malah suka dengan punya Lan Fang kemarin dan agak kurang suka cerpen Avianti.🙂
      Ah, Tempo selalu memuat cerpen2 dari penulis yg udah punya nama. cerpen dari cerpenis baru mungkin langsung di masukkan ke recycle bin.

      Anies

      24 Februari 2011 at 22:04

  17. Setelah Dadang Ari Murtono. Kompas memuat karya-karya cerpenis Andrei Aksana, Doni Jaya dan Bosman Batubara. Semoga semakin kompetitif dengan koran lainnya hehe

    Bamby Cahyadi

    22 Februari 2011 at 18:55

  18. Membaca cerpen ini, kompas seperti tebang pilih dalam memuat cerpen. Penilaiannya kurang dalam memilih cerpen yg harus di muat.

    santoni

    24 Februari 2011 at 00:07

  19. nothing interesting … gak dapet apa2 … flat

    she

    24 Februari 2011 at 15:14

  20. awal2 bleh jga,pi ju2R aja,Q gak nemuin kejutan diakhir cerita.
    ya bner kata yg laen,soo flat!!

    yeshiNta

    24 Februari 2011 at 21:51

  21. i like the plot. and nice story …

    arheandra

    25 Februari 2011 at 14:29

  22. Judulnya sangat menarik. Memang, hanya seperti berjalan-jalan saja di atas latar, waktu, dan cuaca. Namun, saya menangkap sisi kuat dalam deskripsi yang merangkum satu semua elemen cerita, latar, waktu, cuaca, dialog—lebih jauh lagi, bagaimana membumbui semua elemen itu dengan letupan emosi yang sangat memikat.

    Tak semuanya cerpen membutuhkan kejut, atau action, walau memang tak bisa dipungkiri itu akan membuat cerita kian jadi menarik. Cerpen ini sangat esensi. Di dalamnya, berkisah tentang hidup dan budaya.

    Sahid Salahuddin

    27 Februari 2011 at 12:29

    • Pendapat anda tentu saja betul. Yang menurut saya “tidak betul” adalah bahwa cerita roman dengan latar kota di negeri empat musim itu dan cerita-cerita sejenis sudah sangat sering ditemui. Apalagi seperti saya bilang, penggambaran latarnya stereotype sekali, juga kisah yang diangkat, cuma isi diary.. Maaf lho ini cuma pendapat saja. Cerpen ini bagus, subtil, tapi yah, basi.

      Juno

      28 Februari 2011 at 02:44

  23. ya bung Sahid …
    jika seperti itu maka semua cerpen akn sama esensialnya bercerita ttg hidup juga budaya

    faiz

    27 Februari 2011 at 17:03

  24. Kok saya baca cerpen ini nggak dapet apa-apa ya? Konfliknya di mana saya juga belom nemuin nih… *garuk-garuk kepala*

    prima

    27 Februari 2011 at 19:59

  25. setuju dengan pendapat bambi cahyadi

    haidar hafeez

    27 Februari 2011 at 22:58

  26. Biar kata basi, gak da klimaks, settingnya gak kuat dan sebagainya-sebagainya.. Saya suka cerpen ini

    Harunoblue

    1 Maret 2011 at 09:03

  27. Ulang maraun tu…

    Kadis Perhubungan Kabupaten Mandailing Natal

    kadishub madina

    11 Maret 2011 at 17:35

  28. ulang ma kajajangan marfoto dot alak barati
    maila iba mangaligi 🙂

    kadishub madina

    11 Maret 2011 at 17:41

  29. g’ada klimaks, semuanya datar.tidak membangkitkan antusias penbaca

    vebhy

    18 Maret 2011 at 13:39

  30. pesan perpisahan, tapi kayaknya kesannya bagi pembaca biasa ya.. kecuali penulisnya yang benostalgia sendirian.

    syabli

    23 Maret 2011 at 11:27

  31. bosman, selamat ya dimuat cerpennya di kompas.. nampaknya ini kisah nyatamu disana ya?,.. kupikir putusnya kalian gak beneran, kalo beneran patah hati mustinya bisa nulis lebih menggigit dari sekedar cerpen ini lho…hehehe.. tetap semangat ya bosman..

    manda

    2 April 2011 at 22:23

  32. kog ceritanya kayak curhat si penulis, ya? baiknya ditulis dibuku harian aja..

    iaahh

    5 April 2011 at 15:59

  33. iya, cerpen ini kok kayak baca diary ya..he5…trus agak2 ng-englishnya itu lhoo he5

    Venta

    14 April 2011 at 02:31

  34. maaf aja ya saya rasa juga ada yang kurang, dan penggunaan tokohnya kurang tepat dan kayaknya agak agak ngarang juga sih maaf ja ya………….,maaf ya tapi itulah adanya, trim ya ,tetep berusahalah. heheheh iya kaya diari lo.

    eliya

    18 April 2011 at 19:27

  35. suasananya sedikit romantis yah. terlepas dari ini merupakan potongan buku harian atau bukan, saya suka dengan alur kenangannya. kesannya ringan tidak memusingkan.

    wizard

    22 April 2011 at 16:42

  36. Gak tau kenapa, kayaknya suasana nya ga dapet.. Padahal itu winter di Eropa, yang notabene romantis (walopun dingin) dan aku juga agak bingung baca endingnya. Menurutku sih kesan farewell nya kok datar ya?

    chimi

    4 Juni 2011 at 13:59

  37. manis🙂

    Lina

    7 Juli 2011 at 22:24

  38. kalo bacanya dihayati bgus kq,, klo skedar baca doank mah gk bkal dpt arti dr stry ini,,
    ini seperti pengalaman seseorang,, so sweet,, susah melupakannya ahahaha

    ocha

    7 Oktober 2011 at 11:31

  39. cerita yang mengalir datar punya pesona tersendiri…
    jadi, ya lumayanlah…^^

    innova

    13 Maret 2012 at 14:10

  40. […] Sumber: cerpenkompas.wordpress.com […]

  41. gak dapat saljunya dan leuvennya… yg aku tangkap hanya Maria Janakova nya hehehe…..

    silmi

    15 Desember 2013 at 10:39


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: