Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kain Perca Ibu

with 62 comments


Ada kebiasaan Ibu yang telah dilakukannya sejak menikah dengan Bapak. Ibu selalu menyimpan pakaian-pakaian yang memiliki arti begitu mendalam baginya.

Salah satunya adalah kebaya pengantin lengkap dengan kain batik pesisiran, rapi ia simpan di dalam koper kecil usang di bawah ranjang. Setelah ijab kabul sekitar lima puluhan tahun silam, kebaya brokat putih itu dikenakan untuk kedua kalinya ketika Mbak Ratih, kakak sulung kami, bersanding dengan lelaki pilihan hatinya di pelaminan.

Sepanjang resepsi perkawinan Mbak Ratih, kami adik-adik perempuannya menatap kagum sekaligus iri. Membayangkan betapa sakralnya riwayat kebaya yang saat itu melekat di tubuh Mbak Ratih. Kebaya itu dijahitkan sendiri oleh mendiang ibunya Ibu di tengah keadaan negeri yang sedang porak-poranda.

Sekitar pertengahan tahun 1950-an Indonesia dalam keadaan darurat perang karena banyaknya pemberontakan di berbagai daerah di tanah air. Militer memegang posisi yang menonjol dalam mengatur kehidupan masyarakat. Kemiskinan terasa sampai ke pelosok-pelosok. Ibu dan Bapak yang tinggal di pinggiran kota kecil Magelang dinikahkan secara sederhana di tengah keadaan ekonomi yang kacau-balau. Banyak rakyat terpaksa makan bulgur, semacam campuran ketan dan beras, yang menurut informasi diperoleh dari sisa makanan ternak kiriman Amerika untuk membantu rakyat Indonesia.

Karena tidak punya uang untuk membeli kain brokat yang layak, mendiang Eyang Putri terpaksa mengeluarkan gorden yang biasanya hanya dipasang menghiasi ruang tamu untuk acara istimewa setahun sekali seperti kaulan dan kendurian. Gorden yang terbuat dari kain semacam brokat itu pun digunting Eyang Putri dan dijahit menjadi kebaya pengantin. Seusai menikah, Bapak yang tentara itu harus buru-buru berangkat ke medan perang melawan pemberontak.

Sejarahnyalah yang membuat kebaya itu begitu terasa mahal saat dikenakan oleh Mbak Ratih yang menjadi pengantin. Entah bagaimana cara Ibu menyimpannya. Kebaya itu masih tampak sekemilau dulu. Ibu menisik dengan sangat hati-hati bagian-bagian yang mulai renggang dan menambahkan manik-manik agar terlihat lebih indah dan modern.

Mewariskan pakaian lama itu merupakan pertanda cinta Ibu kepada keturunannya. Bagi kami pun sudah menjadi semacam tradisi yang ditunggu-tunggu. Ibu hanya melakukannya untuk momen-momen penting bagi keluarga kami. Sebelum memberikannya, biasanya Ibu mengumpulkan semua anak perempuannya di ruang tengah, kami duduk bersila di lantai, Ibu duduk di kursi menceritakan terlebih dulu riwayat pakaian itu. Kami seperti terseret pada kenangan masa lalu yang mengharu biru. Lalu kami semua berharap-harap cemas menantikan siapakah yang menjadi orang yang beruntung pada hari itu.

Ketika putri pertama Mbak Ratih lahir, yang juga menjadi cucu pertama Ibu, Ibu melungsurkan selimut dan baju bayi yang dulu membungkus tubuh mungil Mbak Ratih ketika pertama kali menghirup udara bebas di barak militer karena saat itu negara sedang sibuk menumpas pemberontakan. Bayangkan. Betapa Ibu tidak pernah melewatkan setiap peristiwa penting dalam kehidupannya.

Jika bukan kami yang terpilih, dan tidak beruntung pada hari itu, kami akan masuk ke kamar masing-masing dengan kepala menunduk, menyimpan tangis kami diam-diam. Karena itu artinya kami belum dianggap istimewa oleh Ibu.

***

Tradisi itu berlanjut hingga kami, anak-anak perempuan Ibu, pindah berpencar ke kota-kota lain, menikah dan punya anak. Aku merantau ke Jakarta, bekerja dan menikah dengan Mas Harris. Mbak Ratih pindah ke Bandung mengikuti suaminya. Mbak Suti menetap di Semarang dengan keluarganya. Laras, adik bungsu kami, memilih tinggal di Bogor dengan suami dan anak-anaknya. Hanya Ibu dan Bapak yang berkeras tetap tinggal di Magelang, meskipun Bapak sudah pensiun dari ketentaraan.

Setiap Lebaran kami berkumpul di sana, setelah acara sungkem dan makan ketupat opor buatan Ibu, kami akan berkumpul di ruang tengah. Seperti dulu. Hanya kali ini dengan anggota yang lebih banyak. Karena ditambah dengan cucu-cucu Ibu yang sudah berjumlah delapan orang. Dua orang cucu dari Mbak Ratih, tiga dari Mbak Suti, satu dari aku, dua dari Laras.

Perasaan kami masih seperti dulu, berdebar-debar cemas, menunggu siapakah yang dipilih Ibu pada Lebaran tahun ini. Sedangkan bagi anak-anak kami, cerita Ibu seperti dongeng sejarah yang mengagumkan. Mungkin di benak mereka seperti melihat film dokumenter dengan layar hidup.

Siapa yang beruntung mendapatkan lungsuran pakaian merasa seperti menjadi pemenang lotre miliaran rupiah. Dan sepanjang tahun, cerita itu akan didengung-dengungkan terus di antara keluarga kami. Menjadi topik hangat sampai tiba Lebaran berikutnya.

***

Yang paling berkesan bagiku adalah Lebaran lima tahun yang lalu. Ibu menyerahkan kebaya Kartini berukuran mungil dengan sulaman emas yang cantik sekali. Menurut Ibu, itu adalah kebaya yang kupakai saat perayaan hari Kartini ketika aku masih kelas satu sekolah dasar. Ketika itu aku diminta oleh guru menjadi Kartini dalam sandiwara yang dipentaskan di sekolah, lalu diajak berkeliling kecamatan bersama pawai sekolah.

Kebaya itu yang kemudian dikenakan oleh putriku saat pawai yang sama tiga puluh tahun kemudian. Mataku berkaca-kaca melihat putriku yang mungil tampak begitu jelita dalam balutan kebaya beludru. Ibu bercerita, beludru itu diperolehnya dari tetangganya yang juru rias pengantin. Ibu menjahit sendiri dan menambahkan sulaman emas yang memanjang dari leher hingga ke ujung bawah kebaya. Kini aku mengerti betapa besarnya cinta Ibu kepadaku.

Menyadari betapa sehelai pakaian bisa merekam begitu banyak peristiwa penting dalam hidup kami, maka kami pun mengikuti jejak Ibu menyimpan semua pakaian yang kami anggap memiliki nilai sejarah. Kelak saat anak-anak kami dewasa nanti, kami akan menyerahkannya satu per satu kepada mereka dengan cerita yang membuat harganya tidak bisa diukur dengan mata uang mana pun.

***

Tradisi itu terhenti ketika suatu pagi Ibu menelepon kami sambil terisak-isak. Hanya menangis. Tidak ada kata-kata yang tercetus dari mulutnya yang penuh air mata. Kami tahu apa yang terjadi, dan segera berangkat ke Magelang dengan pesawat paling pagi.

Kami menguburkan jasad Bapak keesokan harinya di pemakaman umum dekat rumah agar Ibu mudah kapan pun ingin nyekar. Karena kami semua bekerja, kami sepakat untuk bergantian menjaga Ibu selama masa berkabungnya. Aku mengambil cuti untuk bisa menemani Ibu melewati kesedihannya ditinggal Bapak. Tapi rupanya kehadiranku seperti tidak nyata di mata Ibu. Ibu yang dulu begitu periang dan senang mengobrol sekarang menjadi pendiam dan sering duduk melamun di beranda. Di sana biasanya Ibu menemani Bapak melewati waktu senja, minum kopi tubruk dan pisang goreng, sambil bernostalgia. Aku memahami kepedihan Ibu. Jadi aku biarkan saja Ibu dengan dunianya. Aku duduk menemaninya di sana. Sama-sama diam. Yang penting aku bisa memastikan bahwa Ibu tetap sehat dan tidak kekurangan suatu apa.

Setelah lewat berbulan-bulan, kami melihat kondisi Ibu mulai cukup tenang. Kami, anak-anak perempuan Ibu, berembuk untuk membujuk Ibu menjual rumah lalu pindah tinggal di rumah salah satu dari kami. Ibu boleh memilih ingin tinggal di Bandung, Semarang, Bogor, atau Jakarta. Mbak Ratih yang kami minta mewakili pergi ke Magelang untuk meluluhkan hati Ibu. Dari semua anak perempuannya, Mbak Ratih yang paling banyak mendapatkan lungsuran pakaian simpanan Ibu.

Mbak Ratih pulang tanpa membawa Ibu. Ibu berkeras tinggal sendiri di Magelang, dengan seorang pembantu. Hidup dengan segala kenangannya tentang Bapak.

***

Mbak Suti yang tinggal paling dekat dengan Ibu sering kali harus pulang-pergi Semarang-Magelang untuk mengawasi keadaan Ibu. Kami merasa kasihan kepada Mbak Suti karena selain bekerja, ia juga mengurus anak-anaknya sendiri.

Supaya Ibu tidak terlalu larut dengan kesedihan, akhirnya kami berkompromi bergantian membelikan tiket pesawat untuk Ibu. Dengan begitu Ibu bisa bergantian menginap di rumah kami, mengunjungi anak-anak dan cucunya secara rutin. Mungkin dengan berada di antara kami, hati Ibu akan sedikit terhibur. Ibu bersedia, tapi tidak bersedia naik pesawat. Terpaksa kami membelikannya karcis kereta api, meskipun khawatir dengan keadaan fisiknya yang mulai renta.

Rupanya Ibu bahagia naik kereta api. Ibu bisa mengingat kembali masa-masa pacaran dan bulan madunya bersama almarhum Bapak, bertemu di peron, dan bepergian naik kereta api.

Sesibuk apa pun, aku sekeluarga selalu menyempatkan menjemput Ibu di stasiun. Aku, suamiku, dan putriku. Ibu memeluk kami erat-erat. Tampak bahagia bertemu kami. Meskipun aku melihat ada ruang kosong di matanya.

Ada yang hilang dalam setiap pertemuan kami. Ibu tidak pernah lagi melungsurkan pakaian-pakaian lamanya. Kami pun tidak berani mengungkitnya. Mungkin Ibu butuh waktu untuk pulih. Karena kini menceritakan kenangan berarti mengungkit lagi kesedihannya. Semua saat yang bernilai baginya tentu erat berkaitan dengan almarhum Bapak. Ibu melahirkan Mbak Ratih ketika Bapak harus bertugas menumpas pemberontakan. Ibu menamakanku Sri karena bidan bernama Sri yang dijemput Bapak subuh-subuh naik sepeda ontel untuk membantu persalinan Ibu melahirkanku. Dan, semua hal yang dulu terasa patriotik sekarang menjadi begitu pedih. Karena Bapak telah pergi.

***

Rupanya dalam setahun Ibu menemukan kembali dirinya. Lebaran tahun itu, ketika kami menjenguknya di Magelang, Ibu kembali kepada tradisi lamanya. Ibu mengumpulkan kami semua di ruang tengah dan mulai bercerita. Satu per satu peristiwa diceritakan dengan rinci oleh Ibu. Kami menyimak sungguh-sungguh. Di saat kami tengah hanyut dengan ceritanya, Ibu mengeluarkan sehelai kain lebar, membentangkannya di hadapan kami. Kami terbelalak melihat hamparan kain berisi potongan-potongan kain perca yang disambung dan dijahit menjadi bed cover.

Semua peristiwa yang baru saja diceritakannya itu tiba-tiba saja terobek-robek, menjadi potongan-potongan yang tidak bernilai, menjadi seonggok bed cover lebar.

”Kita ndak boleh termakan kenangan,” begitu kata Ibu, tersendat. ”Kita bisa mati merana.”

***

Sekarang setiap kali mengunjungi rumah anak-anaknya, Ibu selalu meminta kami mengeluarkan pakaian-pakaian lama yang masih kami simpan. Dengan berat hati kami memberikannya. Di hadapan kami juga, Ibu menggunting pakaian-pakaian itu menjadi potongan-potongan kain perca. Kami yang sejak kecil terbiasa mendengarkan betapa pakaian menyimpan nilai sejarah, jadi merasa seperti teriris-iris.

Pada kunjungan berikutnya, potongan-potongan kain perca itu telah dijahit Ibu, dan berubah menjadi bermacam-macam fungsi. Kemahiran Ibu menjahit rupanya tidak termakan usia. Ibu menyulapnya menjadi seprai, sarung bantal, taplak meja, yang menawan.

Kadang-kadang kami usil memesan Ibu untuk menjahitkan kain perca itu menjadi bermacam-macam hal remeh seperti serbet, keset, sampai tutup galon air mineral. Mbak Ratih malah pernah mengusulkan agar Ibu membuka bursa pengumpulan baju bekas di rumahnya, lalu menjual hasil jahitan kain percanya.

Kini kami terbiasa menertawakan sejarah. Di rumahku misalnya. Kami melihat kemeja kerja suamiku yang pertama kali dikenakan ketika naik jabatan menjadi alas piring makan kami. Atau baju batikku ketika menghadiri pementasan tari putriku menjadi tatakan gelas minum. Sungguh lucu rasanya. Kami tertawa-tawa mengingat semua peristiwa itu.

***

Suatu pagi pembantu di rumah Ibu meneleponku dengan suara panik. Ibu terjatuh di kamar mandi. Aku langsung berangkat naik pesawat dengan jadwal paling awal. Sesampainya di Magelang, semua anak perempuan Ibu sudah berkumpul. Aku melihat Ibu telah dibaringkan di ranjang di ruang tengah, tempat kami biasa berkumpul. Jasad Ibu diselubungi kain perca jahitannya sendiri.

Aku menghambur memeluk Ibu. Mencium punggung tangannya dengan penuh bakti untuk terakhir kali.

***

Seminggu setelah kepergian Ibu, baru kami memiliki kekuatan untuk membereskan barang-barang peninggalan Ibu. Kami melakukannya bersama-sama. Keempat anak perempuan Ibu. Kami melangkah masuk ke kamar Ibu dengan air mata tertahan.

Perlahan kami membuka lemari pakaian Ibu. Menemukan setumpuk pakaian Bapak di sudut sana. Utuh. Terlipat rapi. Tidak digunting Ibu menjadi potongan-potongan kain perca.

Jakarta, 7 Desember 2010

Written by tukang kliping

6 Februari 2011 pada 10:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

62 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Awalnya kurang menarik. Setelah dibaca agak menghibur.
    Ending terlalu biasa. Gmana sobat menurut kalian?

    Abu wafa el malawy

    6 Februari 2011 at 11:57

    • judes e boyyy

      putr

      25 November 2011 at 14:56

  2. ya ampun.. kasian sekali tokoh ibu
    ceritanya bikin sy sangat terharu..
    memang penulis yg berbakat!

    dimar kerabat kotak

    6 Februari 2011 at 16:03

  3. Jika menyangkut hal yang berbau kenangan tempo silam, wanita memang mahir menjaganya. Sebuah cerpen yang menarik sekali tentang ibu dan wanita🙂

    Yunaidi Joepoet

    6 Februari 2011 at 17:15

  4. Jadi ingat, sebuah ungkapan lama bahwa hati seorang perempuan itu seluas samudera. Bisa menyimpan apa saja. Cerpen ini sangat bagus sekali membungkus ungkapan itu. Terima kasih, Andre!

    mcmahel

    6 Februari 2011 at 17:34

  5. justru kasian sama anak anak nya. baju kenangan milik mereka di ambil 1 1. sudah terlanjur terbiasa tidak menyimpan kenangan seperti kata ibu mereka. ujung ujungnya tau kalo si ibu masih seperti itu

    belmontzzz

    6 Februari 2011 at 19:07

  6. masih belum ngerti ceritanya? boleh dijelaskan mengapa ibunya menyimpan baju suaminya?

    aswinda

    6 Februari 2011 at 19:51

  7. Memang kasih ibu sepanjang jalan, terima kasih untuk cerpen yang bagus ini.

    Hatmi

    6 Februari 2011 at 20:43

  8. Tulisan yang bagus sekali untuk lebih mencintai Ibu kita semua.

    anang sk

    6 Februari 2011 at 21:17

  9. Baguuuuss,,,,,🙂

    Muhammad Joe Sekigawa

    6 Februari 2011 at 23:02

  10. keren

    senja

    6 Februari 2011 at 23:19

  11. setelah minggu lalu sempat dihujat, sepertinya Kompas kembali ke mainstream klasiknya ya,, hmm, anteng anteng wae, aman aman aja nih cerita.

    miftah fadhli

    7 Februari 2011 at 00:30

  12. Ceritanya bagus! Menarik sekali.. Walaupun dibaca lebih dari sekali, gak bakal bosan.. Hebat!

    aryasena

    7 Februari 2011 at 08:49

  13. apakah sang ibu ingin menunjukkan betapa cinta beliau sangat dalam kepada bapak..?? dan tidak ingin putri-putrinya seperti beliau yang sangat terpukul dengan kematian bapak ketika pada akhirnya ibu meninggal..
    baguuus… ^_^

    chubzlullaby

    7 Februari 2011 at 09:21

  14. Bagus banget, sampai menetes air mata ingat orang tua yang sudah mendahului kita

    lita

    7 Februari 2011 at 10:06

  15. Sangat suka. Cara bertutur yg mengagumkan

    secercahkata

    7 Februari 2011 at 11:27

  16. Meskipun tergolong terlalu “renggang” untuk disebut cerpen, cerita ini bagus. Bermain dalam wilayah “emosi”. Hanya saya pribadi mengharapkan intensi yang lebih dari yang namanya cerpen. hehe

    Sahabat A

    7 Februari 2011 at 11:30

  17. plus, kalau cerita ini dijadikan novel, pasti saya beli bukunya.🙂

    Sahabat A

    7 Februari 2011 at 11:31

  18. Wuh…mengalir begitu saja …mantap

    datakudatamu

    7 Februari 2011 at 16:19

  19. Bagus s bgt
    slm kenal

    Anak tapsel

    7 Februari 2011 at 17:06

  20. sejarah memang ada yang harus dikenang dan dilupakan, bahkan bisa kita jadikan pelajaran bahwa waktu yang berlalu walau detik yang lalu tidak akan bisa kembali kepada kita lagi.
    well, nice story kalau untuk mengenang betapa besar peran seorang ibu ketika menyimpan sejuta kenangan yang kadang tak pernah kita sadari sangat penting

    salam kenal

    ade gusti

    7 Februari 2011 at 17:47

  21. hm, si ibu, kayak nenek saya banget nih.
    berusaha kuat dan tegar di depan anak-anaknya, tetapi jauuhh…di balik itu, kita baru tahu, dia menyimpannya terlalu dalam. lebih dalam dari kita, bahkan dari yang kita tahu. cara pengungkapan yang bagus.

    edenia pertiwi

    7 Februari 2011 at 18:03

  22. wedan…
    bagus bnget crpen.y..

    santi mirna

    7 Februari 2011 at 18:15

  23. Mas Andrei Aksana:
    Terima kasih sudah membawa saya larut dalam suasana cerita ini. Benar-benar bikin haru…

    Selamat untuk KOMPAS
    Terima kasih sudah menyuguhkan cerita sederhana kelas ‘mewah’ seperti ini.

    Dodi Prananda

    7 Februari 2011 at 18:44

  24. butuh sejarah yang panjang untuk bisa menemukan kalimat ini:

    Kini kami terbiasa menertawakan sejarah.

    dan butuh kemampuan(kepenulisan) lebih untuk bisa merangkai cerita-sejarah yang panjang-itu menjadi runut dalam cerpen.

    congrats.

    ewing

    7 Februari 2011 at 19:55

  25. jadi mewek dah gw.. T_T

    Ahmad Ijazi H

    7 Februari 2011 at 19:59

  26. iya.. sama yang seperti dilakukan oleh ibuku…
    menyimpan dan menjaga barang yang berarti itu…

    srulz

    7 Februari 2011 at 20:45

  27. Ibu, memang selalu memberikan inspirasi.

    Sukses OM

    zidan

    7 Februari 2011 at 20:47

  28. Membolak-balikan emosi. Bagus.

    yanayani

    7 Februari 2011 at 23:12

  29. aku jadi terhanyut pada kenangan masa lalu bersama almarhumah ibu ku….

    WINARKO

    8 Februari 2011 at 08:49

  30. love it.
    much!

    benny arnas

    8 Februari 2011 at 09:30

  31. Cerpen ini, sungguh menyentuh..bagus banget Andrei…

    vera darmayanti

    9 Februari 2011 at 15:43

  32. komentar2 yang lebay…please dech…

    kethoh

    9 Februari 2011 at 18:36

  33. wekekek,, kalo istriku besok kayak gmn ya?

    indoasli

    9 Februari 2011 at 23:02

  34. bagussss.sampai menitikkn air mata saat membaca.

    mashuri

    10 Februari 2011 at 10:29

  35. yap. cerpen kompas telah ‘kembali’ setelah kemarin menghilang

    hudi

    10 Februari 2011 at 15:39

  36. wah,kemarin saya baru main ke magelang.melihat bangunan tua.ditepi sungai, dilereng,dengan pemandangan gunung semeru.rumah besar kayak lapok dimakan jaman.seperti rumah nenek dalam kain perca ibu…

    sujud sugiyanto

    11 Februari 2011 at 05:45

  37. senyum2 ditengah, lalu hampir meneteskan air mata, lalu agak kecwa endingnya…

    wildan zahir

    11 Februari 2011 at 08:49

  38. Hehe..hehe….bagus..

    Otang K.

    12 Februari 2011 at 00:57

  39. Salam hangat selalu.

    Cerpen romantik dengan benaman diksi sederhana tanpa metaphor berlebih, dan mengandalkan kekuatan konflik perasaan dengan gaya turur yang sederhana pula.

    Nuansa yang bisa saya rasakan adalah keterhanyutan dalam cerita bergenre realis ini, meskipun serasa kurang menegangkan bagi saya, tapi saya mendapat imbalan lain tentang kekuatan emosi yang runtun dan diceritakan secara tak terbata-bata.

    Mengingatkan saya pada kepenulisan Mochtar Lubis dengan kebahasaan yang amat simpel tapi kuat sekali membenamkan makna dan esensi cerita. Mochtar begitu bung Andrei bermain sejarah yang menjadi titik kenangan. Penggambaran serta cukilan cerita yang merefleksikan momen sejarah tertuang dalam beberapa kalimat dalam cerita. Meski secara runtun tak berkutik di area historikak patriotik, melainkan hanya sebuah historikal nostalgia.

    Membuat cerita realis seperti ini perlu bedah literatur, karena saya yakin memuat fakta di masa/zaman tertentu, dalam era tertentu, dan situasi tertentu. Menulis genre realis bukan sekedal mengkhayal, namun juga membubuhkan fakta-fakta aktualitas yang koherensinya dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada khalayak pembaca budiman. Bukan tidak mungkin, seandainya tledor mengutip fakta sejarah, maka cerita yang pada dasarnya sudah fiksi akan menjadi fiksi kebohongan, karena catutan sejarah yang tidaklah benar.

    Menilisik kembali pada kedalaman cerita, saya menemukan sistematisasi yang bisa membawa pembaca budiman hanyut dan tenggelam ke dalam cerita, terlebih karena pembaca budiman punya tingkat kenangan yang sama hingga bisa dirasakan secara nyata.

    Adapun beberapa kontra indikasi yang menimbulkan rasa lembut adalah keberadaan kenangan itu sendiri yang menjadkan haru, merana, tapi tak bisa membuangnya. Dalam ending pun tertulis kontra diksi bahwasanya ibu masih mengenang masa lalunya, meski secara jelas kenangan itu telah terpotong-potong dan disatukan kembali dalam sebuah KAIN PERCA IBU.

    Terima kasih.
    Sukses untuk bung Andrei Aksana.

    Tova Zen

    12 Februari 2011 at 17:44

  40. i like it..

    Tiara

    13 Februari 2011 at 11:32

  41. maaf, ada yg bisa menjelaskan ?

    paragraf 2
    Setelah ijab kabul sekitar lima puluhan tahun silam, kebaya brokat putih itu dikenakan untuk kedua kalinya ketika Mbak Ratih, kakak sulung kami

    ibu telat pny anak? ato mbak ratih kawin telat?

    ****
    Sekitar pertengahan tahun 1950-an Indonesia … dst

    Karena tidak punya uang untuk membeli kain brokat yang layak, mendiang Eyang Putri terpaksa … dst Seusai menikah, Bapak yang tentara itu harus buru-buru berangkat ke medan perang melawan pemberontak.

    faiz

    16 Februari 2011 at 18:05

  42. kenangan boleh pudar,tp cinta selalu abadi…

    nice story

    leo

    25 Februari 2011 at 08:08

  43. mmmm,,,,,bagus bagus

    dede n intan

    4 Maret 2011 at 14:28

  44. Cukup Menghanyutkan.
    Pertama aq agak terganggu membaca paragraf awalnya.
    Ceritanya mengalir dan begitu sederhana.

    Terutama
    Endingnya keren.

    (aq ngg bisa nebak. Biasanya udah samar, tapi ending cerpen tak mampu kutebak)

    Abdul Hadi

    7 Maret 2011 at 13:22

  45. bagus bangettt…🙂

    minara

    10 Maret 2011 at 14:02

  46. Aduh, sedih. Bagus sekali :’)

    郑 天爱

    12 Maret 2011 at 19:19

  47. lenggak-lenggok terian kata mas andrey aksana luar biasa mata terbelalak tak berkedip ikuti alur tarian yang mempesona. halus lembut tak meletup-letup mengurai cerita adalah kepiawaian luarbiasa mas andrey. bagai penari bali dengan irama rancak tak serumit tarian masa kini penuh degub dan decak kaget alur yang selalu tak runtut. mas andrey tidak demikian sangat sempurna dengan penuh keyakinan pada jiwa heningnya.. dan aku rindu cerita berikutnya di muat kompas.. semoga

    haidar hafeez

    13 Maret 2011 at 10:53

  48. saya suka

    syabli

    23 Maret 2011 at 13:24

  49. aku terharu sekali

    jilberkaat

    26 Maret 2011 at 11:40

  50. Terkadang isinya rada membingungkan, tapi inti bisa mulai diterima.

    Deeda

    1 April 2011 at 12:44

  51. bagus sih bagus. enaknya enak. tapi materi yang sebenarnya sangat dasar dari matematic ama sejarahnya kok malah gak pas, padahal itu tema yang ditonjolkan.

    ihda

    5 April 2011 at 02:52

  52. simple, bagus dan mengharukan…
    tapi sayang, terlalu sedih

    arief stkip panggul

    6 April 2011 at 13:34

  53. Ending yang sangat bagus.
    Yang bisa saya tangkap adalah:
    ibu memotong pakaian pakaian usang agar tidak ada yang terjebak dalam kenangan tentang dirinya, seperti dia yang selalu merana dalam kenangan tentang bapak karena tak mampu menghapus kenangan bapak dengan tidak memotong motong pakaian bapak.
    Sungguh mengagumkan karakter sang ibu, apalagi bang Andre menggambarkan dengan sangat sederhana dan natural.

    pangki

    15 April 2011 at 02:20

  54. aku mau nanya gimana caranya ngirim cerpen ke kompas
    karena aku punya beberapa cerpen minta tolong dong kasih tau

    erina thursina

    16 April 2011 at 12:15

  55. Bagussekali, menyentuh,, saya sangat suka bagian ini (yg menurut saya inti dari cerita :
    ”Kita ndak boleh termakan kenangan,” begitu kata Ibu, tersendat. ”Kita bisa mati merana.”
    tapi saya salah, karena di akhir cerita, kita smeua menemukan kenangan itu utuh, tersusun rapi di lemari pakaian ibu,,
    salut untuk penulisnya!

    arif

    9 Mei 2011 at 21:45

  56. penyelesaian cerita yang sangat bagus, alur juga menarik. kalau boleh mau belajar juga bikin cerpen, bisa nggak?

    I Ketut Widiastawa

    3 November 2011 at 11:15

  57. Suka yang ini,…

    rantinghijau

    6 April 2012 at 00:59

  58. kasih ibu…

    imes manik

    1 Oktober 2012 at 19:35

  59. wah cerpen yng berjudul : KAIN PERCA IBU
    bagus bnget

    arya

    5 Februari 2014 at 20:02

  60. […] Kain Perca Ibu | Kumpulan Cerpen Kompas – Ada kebiasaan Ibu yang telah dilakukannya sejak menikah dengan Bapak. Ibu selalu menyimpan pakaian-pakaian yang memiliki arti begitu mendalam baginya. Salah …… […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: