Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Perempuan Tua dalam Kepala

with 30 comments


Di dalam kepalaku hidup seorang perempuan tua pemarah yang gemar menghentak-hentakkan kaki dan berteriak-teriak. Begitu tuanya, dia menyerupai seonggok pohon kering-keriput, bungkuk, dan bengkok di sana-sini dengan sudut-sudut yang janggal. Suaranya seperti derit roda kekurangan minyak. Jika dia berteriak, aku terpaksa menutup telinga.

Dia menghuni sebuah rumah reyot dari batu tanpa jendela. Hanya ada satu pintu besi berkarat yang selalu berbunyi saat membuka dan menutup. Seluruh dinding rumah itu ditumbuhi lumut gelap yang lebat. Ulat-ulat gemuk berwarna hitam hidup dan beranak-pinak di dalamnya.

Sesekali kulihat perempuan itu mencungkili ulat-ulat tadi dari dinding, memasukkan mereka ke dalam panci, dan membawanya ke dalam rumah. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dengan ulat-ulat tadi. Tapi tak lama sesudahnya, asap akan membubung dari cerobong. Ulat-ulat tadi mungkin telah jadi sup atau ramuan pembuat gila.

Aku percaya dia adalah seorang penyihir. Sejak tinggal di kepalaku, belasan tahun yang lalu, perempuan itu seolah berhenti menua.

Aku tak menyukainya. Dia tak menyukaiku. Dia menyukai apa yang tidak kusukai dan tidak menyukai apa yang kusukai. Dia memakiku ketika aku menolong anak laki-laki yang jatuh dari sepeda, dan menjerit-jerit marah ketika suatu pagi aku menikmati suara burung-burung pertama di pohon depan rumah. Jeritannya membuat burung-burung itu kabur ketakutan.

Tapi ia bertepuk senang ketika aku menempeleng pengendara motor yang memotong jalur mobilku. Atau mengajukan saran-saran balas dendam yang benar-benar bagus ketika aku bersungut-sungut keluar dari ruang kerja bosku setelah setengah jam penuh diceramahi karena terlalu sering terlambat. Satu sarannya kujalankan. Hari itu bos terpaksa pulang naik taksi karena dua dari empat ban mobilnya kempes. Tak seorang pun mencurigaiku.

Di saat-saat terburuknya, perempuan tua itu benar-benar menyulitkan. Dia akan memukuli bagian dalam kepalaku dengan tongkatnya, atau menusuk-nusuk otakku dengan jarum jahitnya yang besar. Sakitnya luar biasa. Aku hanya bisa diam-diam menangis sambil membentur-benturkan kepalaku ke benda-benda keras yang terdekat: tembok, pintu, kepala tempat tidur, meja, kursi, wastafel, pinggiran bath tub,… apa saja – dan baru berhenti setelah dia berhenti.

Aku pernah mengusirnya. Tentu saja dia tak mau. Aku mengancam akan meledakkan kepalaku. Dia malah menantang, ”Coba saja kalau berani!” Dia menang. Aku memang pengecut. Sejak itu, dia makin kejam dan sewenang-wenang. Aku tak bisa berbuat lain kecuali belajar menahan rasa sakit agar dia tak selalu menang.

Tapi sore ini dia cukup tenang. Mungkin karena aku sekedar duduk minum kopi di sebuah café di sebuah mal dengan pikiran kosong. Sesuatu yang tak membuatnya geram ataupun senang.

Tak banyak yang lalu lalang di tengah minggu seperti ini. Cuma gadis-gadis dengan baju serba terbuka. Ibu-ibu muda dengan rambut bergulung-gulung dan wangi yang menyengat hidung. Di belakang mereka, rombongan baby sitter berseragam kedodoran membuntuti dengan tergopoh-gopoh. Beberapa menggendong bayi, lainnya membawa tas berisi botol-botol susu dan air panas yang terlihat berat. Tiga lelaki gemuk lewat dengan celana dan kemeja berbunga-bunga cerah yang tak serasi. Satu dari mereka mengenakan kalung dan anting-anting emas. Aku menunduk muak.

”Sen!” Seorang lelaki tiba-tiba menjulang di depanku. Tinggi, tegap, wangi. Wajahnya bersih. Senyumnya berkilau. Aku langsung teringat sebuah iklan pasta gigi, tapi kesulitan mengingat siapa dia. Mataku pasti penuh tanda tanya karena matanya kemudian dengan sabar menuntunku ke sebuah gudang di satu siang, belasan tahun yang lalu.

Di satu sudutnya, seorang anak lelaki kecil dengan celana pendek hijau berjongkok di sebelahku. ”Jangan takut,” bisiknya. Tangannya lalu menggenggam tanganku. Dengan tangan yang lain dia mengangsurkan sehelai selampai untuk menghapus air mata dan ingus. Aku masih menyimpannya hingga kini.

”Ben?” Tanyaku ragu. Dia mengangguk. Senyum pasta giginya melebar, nyaris menunjukkan geraham. Dia langsung duduk di depanku dan, seperti dulu, menggenggam tanganku. Aku tak sempat merasa jengah. Tapi ulu hatiku mendadak kram dan di perutku seekor kupu-kupu raksasa mengepak panik.

”Kamu menghilang begitu saja!” Protesnya. Aku tak yakin harus menjawab apa. Sejak gudang itu, kami memang tak pernah bertemu lagi. Baju pengantin yang kugunting hingga jadi potongan-potongan kecil tak membatalkan pernikahan ibu. Sehari sesudahnya, kami pindah kota mengikuti ayah baruku. Aku minta maaf karena tak sempat berpamitan. Aku berbohong. Sesungguhnya, aku tak berani menemuinya karena takut ia akan meminta sapu tangannya kembali. Aku ingin menyimpannya.

Ben percaya dan memaafkanku. Ia memesan secangkir kopi, lalu duduk menemaniku. Tak banyak yang bisa kukatakan. Butuh waktu untuk memilah-milah tumpukan cerita yang seketika menggunung di belakang kepala. Ben cukup bijak untuk tak bertanya apa-apa. Dia cuma menyesap kopinya pelan-pelan sambil sekali-sekali menatapku. Aku berkali-kali menelan kata-kata yang tersangkut di pangkal lidah. Ketika dia menggenggam tanganku untuk kedua kalinya, kelopak mataku memejam. Di baliknya, perempuan tua itu duduk dengan muka masam. Matanya berkilat sepekat malam.

***

Lelaki yang dicintai ibu mencintaiku juga. Ia suka membelai kepalaku dan membelikan aku berbagai jajanan: permen dan aneka keripik yang mengandung msg. Aku tahu, permen tak baik untuk gigi, dan msg tak baik untuk otak, tapi aku tak peduli. Ibu tak pernah membelikan jajanan dan tak memberikan ayah. Jadi, lelaki ini ideal. Ia akan jadi ayah yang suka membelikan jajanan.

Ia sering memintaku duduk di pangkuannya. Sambil bercerita tentang rumahnya di kota lain yang punya kolam ikan koi, tangannya akan membelai pahaku. Aku suka geli dan menyuruhnya berhenti. Tapi ia tak peduli. Ibu juga tak peduli. Ibu malah senang karena ada yang menjagaku di rumah jika ia menghabiskan waktu dan uangnya di mal.

Di hari perempuan tua itu datang, ibu meninggalkanku dengan laki-laki itu.

Dari udara yang tipis perempuan tua itu menjelmakan burung-burung hitam. Tujuh ekor banyaknya. Mereka berjajar dengan gelisah di bubungan rumahnya. Menanti. Mengancam. Lalu, dengan satu isyarat tangan, gagak-gagak itu menyerbu bola mataku, mematuk-matukinya tanpa ampun.

”Tutup matamu. Kamu tak akan merasa sakit.” Lelaki itu berbohong. Aku merasakan nyeri yang luar biasa di bawah sana. Dan tetap nyeri walau mataku telah terpejam. Aku menjerit. Lelaki itu membenturkan kepalaku ke tembok. Aku menjerit lagi. Ia membenturkan kepalaku lagi. Lagi. Lagi. Aku nyaris pingsan karena sakit yang tak tertahan. Dan rasa mual yang bergulung-gulung. Sesuatu tiba-tiba meledak dalam duburku. Cengkeraman lelaki itu seketika melemah. Ia mencampakkanku di lantai. Isi perutku tumpah saat itu juga.

Entah berapa lama aku tak sadar. Ketika mataku terbuka, burung-burung hitam telah pergi. Perempuan tua itu berdiri diam, mengamatiku berkubang dalam muntahku sendiri.

***

Di depan pintu itu, ia berdiri dengan senyum yang harum. ”Aku berharap kamu cukup lapar.” Ben menjawab bahwa dia sudah tak makan tiga hari. Aku terbahak. ”Aku bahkan bisa makan daging mentah,” lanjutnya, sambil mengerling nakal. Ia mulai genit. Meski begitu, aku merasa sedikit tersanjung. Telingaku tiba-tiba berdenging. Perempuan tua itu menggeserkan ujung tongkatnya yang tajam ke dinding kepalaku.

Ben masuk tanpa kusilahkan. Dengan santai ia melepas sepatu dan melempar tubuhnya ke sofa. Seketika ia melesak. Busa sofa tua itu memang terlalu empuk. ”Apartemenmu nyaman,” pujinya. Matanya menjelajahi studioku yang cuma 42 meter persegi. Dari tempat dia duduk, semua bisa terlihat. Tak sampai lima menit ia selesai memindai semuanya: pintu masuk, dapur kecil, ruang makan kecil, ruang kerja kecil di samping jendela, sofa bed, dan kamar mandi mungil yang cuma ditutupi korden.

Aku menawarinya minum. Ia menolak halus. Matanya tajam menatapku. Jantungku langsung berdebar gila. Agak gugup, aku kembali ke dapur. Sambil pura-pura mencuci tangan yang tak kotor, aku menenangkan diri. ”Aku membuat greek salad dan fish linguini. Kita makan?”

Di atas meja sudah kusiapkan dua piring, dua set sendok, garpu, dan pisau, dua gelas air putih, dua gelas kosong untuk anggur nanti. Semuanya tertata rapi. Ben berdiri menghampiri. Aku menarik kursi, bersiap untuk duduk. Tapi Ben menarik tanganku, menghela tubuhku mendekatinya. ”Kita langsung ke acara utama saja,” ujarnya dengan bibir yang hanya berjarak satu senti dari bibirku.

***

Ibu bilang, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Ia tetap pergi meski aku merengek-rengek memintanya tinggal. Saat itu, aku benar-benar membencinya. Laki-laki itu bilang, aku tak boleh bercerita pada ibu, atau ia akan benar-benar menyakitiku. Di balik pintu aku berdiri kaku dengan bibir terkatup rapat dan tinju terkepal erat, lalu mulai berhitung.

Satu, dua, tiga. Laki-laki itu menggandengku ke kamar. Empat, lima, enam. Laki-laki itu melucuti celanaku. Tujuh, delapan, sembilan. Ia menelungkupkanku di tempat tidur. Tangannya mulai menggerayangi pantatku yang terbuka. Aku menutup mata erat-erat. Di hitungan kesepuluh, pintu rumah perempuan tua itu terbanting terbuka. Mukanya marah. Sebelas, dua belas. Lelaki itu menindih tubuhku. Napasnya mulai terengah.

Tiga belas. Perempuan tua itu berteriak garang. Dari mulutnya keluar kata-kata paling kotor yang pernah kudengar. Laki-laki itu terjengkang kaget. Dengan sigap perempuan tua itu meraih lampu baca di samping tempat tidur. Sepenuh tenaga, dihantamkannya kaki lampu itu ke kepala laki-laki. Besi beradu tulang. Aku mendengar suara retak. Tubuh lelaki itu terpuruk ke lantai. Darah merembes pelan dari lukanya. Sekali lagi perempuan tua menghantamnya. Lagi. Lagi. Lagi.

Empat belas, lima belas. Lelaki itu tak bangun lagi. Di dalam kepala, tawa serak perempuan tua itu menggema tak henti-henti, menelusup ke rongga-rongga kecil di tengkorakku. Aku menggigil. Rasa dingin seketika menyelimutiku.

***

Sambil berbaring di tempat tidur, kuceritakan pada Ben tentang masa kecilku yang bahagia. Ayah tiriku mati muda. Tapi ibuku segera menikah lagi. Kami pindah keluar negeri. Aku punya dua adik tiri perempuan yang manis-manis. Ibuku meninggal tahun lalu setelah tiga tahun menderita kanker rahim. Aku kembali ke sini sesudah lulus kuliah dan langsung bekerja sebagai editor mode di majalah wanita dengan oplah terbanyak di Indonesia. Hingga kini.

Ben membelai rambutku. Dia bilang, dia senang bisa bertemu kembali denganku. Sejak berpisah dulu, dia tak bisa melupakanku. Mataku berair. Ben terlihat kuatir. ”Kenapa, sayang?” Aku bahagia, sahutku cepat.

Di dalam kepalaku, perempuan tua itu menggerutu. Ember di tangannya kini kosong. Aku tak tahu, cairan apa yang tadi disiramkannya ke mataku. Rasanya perih sekali.

____

Jakarta, 26.11.10.

Written by tukang kliping

23 Januari 2011 pada 09:43

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

30 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Trauma seksual yg mengharukan dan mematikan!

    Sutomo

    23 Januari 2011 at 10:50

  2. Luka yang menganga krn tersandung batu kerikil di masa kecil…

    Syafriansyah

    23 Januari 2011 at 11:26

  3. wah, interpretasiku, ini cerpen disrientasi seksual.

    miftah fadhli

    23 Januari 2011 at 11:51

  4. saya suka ini, hanya saja saya bodoh karena tak cukup membaca sekali untuk mengerti…

    yuya16

    23 Januari 2011 at 13:00

  5. Story teller. Sudut pandang orang pertama yang bercerita sebebasnya.

    Edi Miswar

    23 Januari 2011 at 21:25

  6. sangat yakin ini cerpen pilihan. salah satu cirinya masuk kompas

    haidar hafeez

    24 Januari 2011 at 03:38

  7. Untuk kedua kalinya Avianti Armand membuat saya jatuh hati pada cerpen-cerpennya;tepatnya setelah Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian.

    cerpen ini, barangkali akan termaktub lagi dalam cerpen Pilihan Kompas 2011. Semoga.

    Dodi Prananda

    24 Januari 2011 at 09:58

  8. saya diam dan ternganga …

    she

    24 Januari 2011 at 16:17

  9. dahsyat, apik, enak dibaca, matang, yg adegan 1,2,3,4 visual banget. Tabik!

    delakuya

    24 Januari 2011 at 17:51

  10. ide tentang perempuan tuanya yang unik, ide pelecehan seksualnya sdh lumrah… hanya saja penyampaian mbak Avianti yang excelent… yups ide yang menarik: dalam kepala kita banyak sekali sosok2 yang tak kita kenal memang. sip lah… semoga waktu kedepan karyaku nongkrong juga di kompas. amiiiin 100000000x

    mashdar

    25 Januari 2011 at 10:27

  11. nenek itu siapa… tua cerewet.. ia ,apakah nilai-nilai usang masa lalu yang tak pernah mau tahu dengan ( seusatu yang ia anggap “menyimpang”?)

    r

    25 Januari 2011 at 16:10

  12. maaf sebelumnya,,
    saya hanyalah bocah yang sedang mengatur langkah menjadi seorang penulis handal..
    dan, saya belum mengetahui bagaimana dan kemana saya harus memajang hasil karya saya mengingat kondisi ekonomi yang butuh tunjangan sampingan.
    mohon bantuannya.. terimakasih.

    amatir

    25 Januari 2011 at 21:56

  13. Trauma pelecehan sexual yang dramatik dan membekas tajam, yang lebih kuat dari sihir wanita tua !

    adhie

    26 Januari 2011 at 10:21

  14. Kereeeen abis, sy suka setiap cerpen Anda.

    Hatmi

    26 Januari 2011 at 20:19

  15. kok cerpennya tentang seksual dan kekerasan sih. tapi selain dari itu semua, penuturan dan gaya penyampaian ide pengarangnya mantap kok.

    hudi

    27 Januari 2011 at 20:13

  16. Pertama, kupikir perempuan yang menderita
    Sangat menyentuh …

    topstotoes

    28 Januari 2011 at 09:34

  17. terkadang seseorang menciptakan alter ego untuk mengatasi “sakit” atas penderitaannya. tokoh perempuan tua itulah yg diciptakan sang tokoh utama untuk mengalihkan rasa sakit penderitaannya. Inilah terkadang lahirlah seseorang menjadi ‘kepribadian ganda’. So, sebagai orang tua, pedulilah selalu akan kasih sayang dan keamanan anak2 kita. Jadilah orang pertama tempat anak2 kita tuk berkeluh kesah dan menjadi tempat terpercaya dan teraman bagi anak2 kita.

    Semoga pesan cerpen ini sampai kepada kita. Salam ^_^

    she

    28 Januari 2011 at 11:35

  18. Ini cerpen luar biasa dari pengawalan, dan berakhir dengan kelumrahan. Tapi aku bilang cukup bagus lah daripada plagiat!!

    Abah Ogo

    31 Januari 2011 at 23:34

  19. yg mna cerpen nya ya yg perempuan tua dalam kepala

    aisyah pratiwi stpp

    11 Februari 2011 at 19:08

  20. cerpenya bagus namun sayang saya masih kurangn paham mengenai alur ceritanya.

    auliya

    19 Februari 2011 at 09:43

  21. alurnya sedikit ruwet ya..

    donaLd

    8 Maret 2011 at 23:06

  22. mantabbbbbbbbbbbbss

    indahnyabersabar

    21 Maret 2011 at 12:18

  23. Berkelas.

    Abi Ardianda

    30 Maret 2011 at 21:43

  24. Jadi tokoh utamax stlh dwsa jd homo jg ya? (Memanggil ben sayang) Atau sedari kecil sdh homo dgn si ben (prstwa di gudang).Atau dia jd homo krn perlakuan ayah tirix? Bingung aq.tp okelah bwt menghibur diri

    abc

    21 April 2011 at 19:43

  25. keren. . .
    Schyzopreni langsung teringat gaya tulisan di fight club yg lugas.
    Mantaph. . .

    thovic

    24 April 2011 at 22:14

  26. keren. . .
    Schyzopreni langsung teringat gaya tulisan di fight club yg lugas.
    Mantaph. . ..

    thovic

    24 April 2011 at 22:15

  27. ini cerpen Kompas pertama saya,yang bikin saya selalu menunggu loper koran di Minggu pagi

    wiyo

    29 Februari 2012 at 16:01

  28. […] Cerpen yang masuk nominasi itu adalah Ibu Pulang (Dewi Ria Utari), Kak Ros (Gus Tf Sakai), Perempuan Tua dalam Kepala (Avianti Arman), Kain Perca Ibu (Andre Aksana), Ketika Pohon itu Masih Mekar (Doni Jaya), Laron […]

  29. Avianti Armand adalah salah satu inspirasi saya dalam berkaya. Great reference. Great writings.

    Ica Ramadhany

    7 Desember 2012 at 16:36

  30. ini sebenarnya tentang kepribadian ganda, traumatik seksual, atau orientasi seksual ya?

    betipuspah

    27 Januari 2016 at 13:48


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: