Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Aokigahara

with 51 comments


Tahun demi tahun semakin banyak saja orang Jepang yang bunuh diri di hutan ini. Aokigahara. Tempat favorit bagi mereka yang ingin bunuh diri. Yah… aku tidak akan mengeluh, karena bagaimanapun juga, semakin banyak mereka yang mati berarti pendapatanku semakin bertambah.

Orang Jepang menyebut hutan ini sebagai ”hutan bunuh diri” sehingga mau tak mau tak jarang orang berpersepsi keliru mengenai orang-orang yang datang ke hutan ini. Aku datang ke sini bukan sebagai turis entah untuk menikmati pemandangan gunung Fuji di sebelah barat ataupun suasana mistis yang hanya dimiliki oleh tempat di mana ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di lokasi yang sama.

Aku datang untuk mencari nafkah. Untuk bertahan hidup. Seperti yang telah kuamati selama ini, malam-malam pada perayaan seperti tahun baru inilah yang biasanya digunakan oleh sebagian orang Jepang untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Di tengah tawa dan pesta penduduknya, ada segelintir orang yang mengasingkan diri dan merasa bahwa saat itulah… saat terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

Kupikir aku datang terlalu cepat, tapi ternyata sudah ada klien yang pergi ke dunia sana. Pria itu tergantung pada sebatang pohon dengan menggunakan ikat pinggangnya. Aku memeriksa denyut nadinya dan merasakan mayatnya masih hangat. Aku menunggu satu dua menit karena tidak ingin mengganggu perjalanannya ke alam sana. Setelah itu aku merangkapkan kedua tanganku di depan dada—meniru pengikut-pengikut Buddha yang biasanya sembahyang di kuil-kuil.

”Lima puluh tahun di bawah langit! Lima puluh tahun di bawah langit!” bisikku berdoa.

”Aku tak minta hidup lama-lama. Cukup berikan aku lima puluh tahun di bawah langit saja. Maafkan aku. Aku akan membakar dupa untukmu besok. Aku janji,” doaku khusyuk. Setelah itu aku menurunkannya dan membaringkan mayat pria itu di tanah. Aku mempunyai kode etik untuk selalu mencari tahu nama mayat yang sedang kujarah sebelum mengambil barang-barang peninggalannya. Menurutku adalah suatu hal yang ironis apabila tidak berusaha mencari tahu nama mereka yang sudah mati, padahal selama hidup pun mereka juga diabaikan.

Aku mengeluarkan KTP dari dompetnya. Ken’ichi Matsuyama, 32 tahun. Dua kali lipat dari usiaku. Masih ada delapan belas tahun sisa hidupnya, tapi ia memilih mengakhirinya malam ini. Aku tidak terlalu berharap pada uang tunai klien-kilenku karena biasanya kebanyakan alasan mereka bunuh diri adalah karena kekurangan uang. Namun aku terkejut ketika menemukan 58.000 yen di dalam dompetnya. Aku buru-buru mengambil setengahnya dan menyisakan sebagian pada kolegaku yang lain.

Walaupun disebut kolega, sebenarnya kami belum bertemu satu sama lain. Orang Jepang adalah orang yang memiliki kehormatan yang tinggi sehingga mereka merasa amat malu apabila ada orang lain yang mengetahui pekerjaan mereka yang hina ini. Bagi mereka, lebih baik mati daripada harus hidup menanggung aib karena ada orang lain yang tahu bagaimana cara mereka bertahan hidup.

Hal itu kupelajari setelah tanpa sengaja bertemu dengan pemulung lain, seorang bocah berusia 12 tahun yang mungkin disuruh orangtuanya. Bukannya mengancam layaknya binatang buas agar aku tidak mendekati bangkai yang sedang dijarahnya, dia malah meninggalkan hasil rampasannya dan kabur begitu melihatku.

Di kemudian hari, aku mengetahui dari koran bekas bahwa bocah itu gantung diri tak lama setelah bertemu denganku. Aku berpikir benarkah bocah seusia itu merasa harus mempertahankan kehormatan keluarganya ataukah kematiannya itu pun adalah perintah dari ayahnya yang merasa anaknya sudah membawa aib?

Misteri itu tidak pernah terpecahkan dan aku menyesal harus bertemu dengan bocah itu. Sejak saat itu aku menajamkan pendengaranku dan berusaha membuat sedikit suara setiap kali sedang menjarah. Kami biasanya memberi kesempatan pada yang datang duluan.

Aku mengambil kartu kredit milik Ken’ichi. Tiket kereta api berlangganan, SIM, dan juga jam tangannya. Suara gemerisik rumput di belakangku membuatku bereaksi dan menoleh ke belakang.

”Haaanttuuu,” pekikku tertahan.

Biar kujelaskan. Jangan dulu katakan aku ini pengecut, ok?

Aku sudah terlalu terbiasa melakukan pekerjaan ini sehingga tidak ada perasaan takut dalam diriku untuk bertemu hantu mereka yang bunuh diri. Sebaliknya, seperti yang kuceritakan tadi, aku justru takut bertemu manusia-manusia sepertiku yang berusaha bertahan hidup dari peninggalan mereka yang memilih mati.

Hanya saja gadis itu terlalu cantik untuk seorang manusia. Kecantikan yang kupikir hanya bisa ditiru siluman atau hantu untuk memperdaya manusia. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk bertemu setan-setan yang bonyok di wajah dan mengucurkan darah sehingga sama sekali tidak siap memandang kecantikan surgawi yang terpancar dalam diri gadis itu.

Rambutnya yang panjang menjuntai di samping pelipisnya. Dia pun memakai kimono putih yang indah bersulam burung-burung bangau yang terbang ke selatan. Wajahnya tampak dibedaki tipis-tipis dan bibirnya diberi pewarna merah yang menandakan bahwa ia telah beranjak usia akil balig.

”Memalukan sekali!” bibirnya yang mengerucut dan senyum sinisnya itu mengembalikan aku pada dunia nyata.

”Hidup dari jerih payah orang-orang yang sudah mati. Kau benar-benar memalukan!” ulang gadis itu memancing reaksiku.

Aku tahu seharusnya aku berbalik dan kabur seperti yang dilakukan bocah itu dan kembali ke sini esok malam untuk menggantung diri di salah satu pohon. Hanya saja aku bukan orang Jepang dan tidak mempunyai mental orang Jepang meskipun aku mengagumi kebudayaan mereka.

”Mereka mati itu pilihan mereka. Aku hidup itu pilihanku sekalipun dengan cara ini.” Wajahku terbakar rasa malu yang luar biasa ketika mengatakan hal itu.

Gadis itu mengerutkan kening sedikit. Wajahnya terlalu anggun untuk mengekspresikan rasa jijik yang ia rasakan pada diriku sehingga hanya melalui matanya aku tahu ia menatapku dengan hina dan jijik.

Ia tak berkata apa-apa lagi dan hanya melepaskan giwangnya dan memberikannya padaku. Sebagai penadah barang curian aku tahu giwang hijau itu terbuat dari mutu yang bagus. Aku terlalu sibuk menaksir harganya sehingga tidak menyadari situasi yang sedang kualami.

”Untuk apa ini?” tanyaku seperti orang bodoh.

”Aku tidak ingin kau menjamah tubuhku ketika aku sudah mati. Hanya ini yang kupunyai. Ambillah!” jawab gadis itu.

”Kau tidak bawa uang?” tanyaku spontan.

Gadis itu tergeragap mendengar pertanyaanku yang kurang ajar, tidak manusiawi, dan tidak pada tempatnya. Ia melepaskan kalungnya yang dibandulnya terdapat sebuah kantung kecil.

”Di dalamnya ada sekeping uang logam zaman dulu. Pemberian dari kakekku. Kupakai sebagai jimat dan mungkin cukup ampuh untuk mengusir hantu sepertiku jika kita bertemu lagi.”

Aku berani bersumpah bahwa ia tersenyum kecil sewaktu menyindirku tadi! Jika hujan tidak segera turun, aku yakin sebentar lagi ubun-ubun kepalaku akan mengeluarkan asap.

Aku tak tahu harus berkata apa sehingga aku hanya menganggukkan kepala kepadanya. Dengan raut sedih ia membalas anggukanku dan berbalik menuju jalan yang dipilihnya.

Dua-tiga langkah kemudian ia berbalik padaku dan berkata dengan tajam, ”Ingat! Jangan menyentuhku atau aku akan menggentayangimu, ok!?” gadis itu mengedipkan matanya padaku.

Aku terlalu percaya takhayul bahwa permintaan orang yang akan meninggal harus dipenuhi dan perintahnya harus dipatuhi sehingga kedipan itu pun tidak dapat membuat hatiku tenang.

Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku bukan seorang nekrofil (aku memang tidak terdidik, tapi aku tahu arti kata itu) dan tidak memiliki minat pada mayat yang secantik apa pun—meskipun aku sedikit berharap dia berbuat sedikit kebaikan di akhir hidupnya dengan memberiku kecupan selamat tinggal.

Terakhir kali aku melihatnya, dia sedang berusaha mengaitkan ikat pinggang kimononya pada sebuah cabang pohon. Membentuk sebuah simpul. Aku melayangkan pandanganku dengan sedih dan berbalik berjalan di jalan kehidupan yang sulit.

”Kosong adalah isi. Isi adalah kosong,” aku berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk berusaha tampak bijak dan arif seperti pendeta-pendeta tao zaman dulu.

”Pertemuan adalah perpisahan. Akhirku adalah permulaanku,” ceracauku tak jelas. Sedetik setelah itu, aku dikejutkan sedemikian rupa oleh gadis itu yang tiba-tiba muncul di depanku sehingga aku terlompat mundur beberapa langkah ke belakang.

”Bagaimana bisa? Tadi kau di belakangku!” kataku padanya.

Gadis itu tersenyum. Senyum yang manis dan menghanyutkanku.

”Aku mengenal hutan ini lebih baik darimu.”

”Ta-tapi…,” aku hendak protes sewaktu gadis itu merapatkan bibirnya pada bibirku. Rasanya basah, dingin dan hmm… tak bisa kujelaskan.

Lidahku kelu sehingga tak dapat menanyakan untuk apa ciuman itu.

”Mengapa kau tidak berusaha menyelamatkanku?” tanyanya merajuk padaku.

”Aku, aku tidak tahu kau ingin diselamatkan. Kupikir kau memang sudah berbulat hati memilih jalan itu.”

”Kauu jahattt!” ia memukulkan tangannya yang kecil pada dadaku dan merebahkan kepalanya pada pundakku.

Aku membelai rambutnya yang halus. ”Kau tidak jadi mati?” tanyaku, lagi-lagi salah ucap. Kugigit lidahku.

”Kau ingin aku mati?” dia tiba-tiba menarik kepalanya dan menatapku dengan serius.

”Bu, bukan begitu! Maksudku, aku bingung apa yang membuatmu mengubah keputusanmu?”

Air matanya bergulir sewaktu dia menjawab pertanyaanku.

”Tidak ada yang peduli padaku,” katanya. ”Seumur hidupku tidak ada yang peduli padaku. Aku ingin ada seorang saja yang peduli padaku jika aku berusaha bunuh diri.”

Sorot matanya tampak seperti anak kucing yang tercebur di sungai dan minta pertolongan. Tanpa sadar aku telah mengulurkan tangan untuk merengkuhnya dan mendekapnya dalam pelukanku.

”A-aku peduliii…,” kataku dengan gugup dan malu.

”Benarkah?” matanya menatap lekat padaku, seolah sedang mencari jejak-jejak kebohongan.

”Ya,” jawabku pendek untuk mengukuhkan suatu komitmen.

Gadis itu tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahuku. Tangannya mencari tanganku dan menggenggamnya. Kemudian tiba-tiba dia membuka telapak tanganku dan mengambil giwang dan kalung miliknya.

”Kau sudah memiliki aku, jadi tak membutuhkan ini!” katanya seraya melemparkan benda-benda miliknya itu ke kedalaman hutan. Apakah dia sedang berusaha menghapus masa lalunya? Entahlah.

Malam itu kami berjalan bergandengan tangan dan aku merasa jalan pulang yang kulalui telah berubah dan membentuk sebuah cabang baru. Sebuah perasaan aneh dalam diriku membuatku berbalik dan menatap hutan Aokigahara—yang entah kenapa kurasakan untuk yang terakhir kalinya. Hutan yang telah menelan banyak korban. Bahkan orang-orang asing dari benua Eropa pun tertarik dengan keeksotisan hutan ini dan memilih mengakhiri hidupnya di sini.

Mungkinkah hutan ini sudah insaf dan ingin bertobat? Ataukah kisahku hanya salah satu dari sedikit cerita yang belum dikonsumsi umum bahwa di samping meminta banyak kematian, hutan ini juga mampu memberikan kehidupan?

Entahlah. Aku tidak tahu dan aku tidak yakin dengan tapak langkahku di jalan baru ini. Aku tidak yakin hutan ini dapat menghidupi kami berdua. Atau bertiga.

Aku harus mencari pekerjaan lain.

Written by tukang kliping

12 Desember 2010 pada 16:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

51 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ceritanya mengalir seperti hembusan angin di sore hari. Penggambaran hutan dan segala isinya begitu nyata, bisa kubayangkan keindahannya. Dan akhir yang bahagia. Aku suka cerpen ini.

    razi

    12 Desember 2010 at 19:23

  2. Apakah di Jepang benar-benar ada tempat favorit untuk bunuh diri seperti dilukiskan dalam cerpen tersebut? Kalau memang benar, berarti “bunuh diri” benar-benar telah menjadi budaya orang Jepang.
    Tak disangka, di tengah kekaguman kita akan kemajuan peradaban Jepang, tersembunyi fenomena yang ganjil.

    Arif RH

    12 Desember 2010 at 20:27

  3. Biasa-biasa saja, cuma setting luar negri (Jepang) dan berkenaan dengan tahun baru. Entahlah, akhir-akhir ini Kompas sering memuat cerita yang di dalamnya mengadopsi (setting/perbandingan) dari luar. Tapi cerpen ini tidak jelek, tidak rumit, mengalir tenang dengan pengawalan berjeram dan bermuara cinta yang samar. Ok lah, selamat buat pengarang, teruslah berkarya yng lebih baik. Salam dari penikmat cerpen Kompas.:
    Otang K.Baddy

    Otang K.Baddy

    12 Desember 2010 at 20:41

  4. cinta pada pandangan pertama memang selau berkesan, dan penulis berhasil membawa pembacanya merasakan keterkesanan itu,

    aminudin

    12 Desember 2010 at 23:27

  5. lebih suka Aokigahara daripada Piano, lebih hidup, walaupun begitu, aku masih lebih suka–dan merindukan–cerpen2 Kompas masa lalu, sebelum halaman berganti rupa….. rindu juga dengan pengarang2 masa lalu yang jelas kualitarnya; buat apa ada penulis baru kalau mengorbankan kualitas.

    Selamat buat penulisnya. Hutan itu pernah aku dengar ceritanya…

    miftah fadhli

    13 Desember 2010 at 00:06

  6. Pilihan yg bagus dari redaktur Kompas. Semoga terus memunculkan bibit2 baru yg nantinya akan menjadi masa depan sastra Indonesia.

    A

    13 Desember 2010 at 09:34

  7. menarik. saya suka sejarah jepang. aokigahara kalau tidak salah adalah tempat perang juga dulunya. juga digambarkan sebagai tempat yang angker juga.
    seru juga, dari hal-hal yang menakutkan dan punya sejarah yang suram, bisa melahirkan cerita cinta.

    Pie

    13 Desember 2010 at 12:00

  8. Aku ndak banyak tau tentang orang jepang, kecuali dari video” 3gp yg kuunduh dr warnet. Tp sejauh membayangkn bhwa tokoh utama dlm cerita ini berasal dari negeri ini, tentunya sikap pragmatis itu tak punya kaitan langsung dg lingkukangn dan letak geografis.

    Geger

    13 Desember 2010 at 12:10

  9. ringan banget bacanya

    melly

    13 Desember 2010 at 15:54

  10. Ah, saya suka dengan cerpen yang satu ini.. Ceritanya mengalir, dan memaparkan kisah yang menurut saya menarik, tentang penjarah mayat yang mati bunuh diri..

    Namun, saya kurang suka dengan penyelesaian di cerita ini, tentang bagaimana ada wanita yang mencari harapan untuk hidup itu, dan akhirnya mereka bersama..

    Maksud dari penyelesaian cerita ini, memang tersampaikan dengan jelas. Namun, menurut saya pribadi, itu justru menjadikan kisah ini menjadi biasa saja..

    Ario Sasongko

    13 Desember 2010 at 17:50

  11. sy tertarik dengan cerpen ini. ada paragraf yang mengusik saya,”Entahlah. Aku tidak tahu dan aku tidak yakin dengan tapak langkahku di jalan baru ini. Aku tidak yakin hutan ini dapat menghidupi kami berdua. Atau bertiga.”

    Apakah mereka telah bercinta…

    ewing

    13 Desember 2010 at 18:35

  12. Tema percintaan yang dibungkus dengan narasi surealis memang menarik. Cerpen ini tdk hanya bercerita tetapi mengajak berpikir pembaca ttg motif atau alasan tindak tokoh utama dan peristiwa absurd yang dialaminya.

    Slamet Samsoerizal

    13 Desember 2010 at 21:30

  13. Saya suka banget cerpen karya Apendi ini. Ya, sangat keren. Jepang memang menjadi sumber inspirasi menulis cerpen.

    Bamby Cahyadi

    13 Desember 2010 at 22:20

  14. sekali lagi tentang cinta…

    catatan febri

    13 Desember 2010 at 22:35

  15. tentang cerpen Seno GA, plagiat? beranikah penulis muda menggugat?:baca baik-baik

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/09/28/dodolitdodolitdodolibret-bukan-cerpen-plagiat/

    Ran Pasnim

    14 Desember 2010 at 09:51

    • @ Ran Pasnim: Kenapa judulnya Dodolibret?

      agusjay55

      15 Desember 2010 at 17:36

  16. hmm..

    krend krend..
    saya dukung setiap karya yang di buat oleh anak bangsa.
    tp tetap perlu kritik biar ada pembelajaran.

    suka ceritanya.

    isal

    14 Desember 2010 at 22:57

  17. cerpen yang bagus. luar biasa. diksi yang pas. wawasan budaya yang tepat untuk cerita. dan cerpen surealis yang hidup walau tak seperti surealis

    lubab el-zaman

    15 Desember 2010 at 08:38

  18. […] This post was mentioned on Twitter by Firman Maulana, riza ardasy. riza ardasy said: cerpen yang unik🙂 ttg hutan jepang ,, Aokigahara: http://t.co/Vq2bAGX […]

  19. Cerpen yang bagus…

    Rama Dira

    15 Desember 2010 at 10:29

  20. ehm….2
    numpang komen.
    aku juga suka..
    tapi ……………?????

    cahnda

    15 Desember 2010 at 14:41

  21. Berasa banget…bagus sekali.
    Awalnya saya kira niru cerpennya Akutagawa Ryunosuke, tetapi benar2 berbeda.

    agusjay55

    15 Desember 2010 at 17:23

  22. Deskripsi citarasa kejepangannya kurang.

    siwi sang

    15 Desember 2010 at 18:03

  23. ringan…

    gide buono

    16 Desember 2010 at 00:27

  24. suka-suka

    sukasuka

    16 Desember 2010 at 02:45

  25. Mengharukan.

    aradea rofixs R

    16 Desember 2010 at 10:28

  26. serenyah kacang goreng…
    cerpen yang bagus harus seperti itu tho?ckckckckck….

    lampor

    16 Desember 2010 at 23:39

  27. lumayan keren

    xiky

    17 Desember 2010 at 15:00

  28. kereeenn ..🙂

    Ririn

    17 Desember 2010 at 17:53

  29. sederhana tapi mengena ….. bagus..🙂

    Jcb

    18 Desember 2010 at 15:26

  30. keren

    herman

    18 Desember 2010 at 19:14

    • ya keren makin banyak yg mati makin mdah kita bisa mendapat peluang kerja yg mapan

      iqbal lajat

      1 Februari 2011 at 17:20

  31. Aku suka sekali cerpen ini! Saat membaca judul dan paragraf pertama saja, pantatku langsung tertancap. Tak bisa lagi berhenti membaca. Tapi, seperti biasa jika sedang surprise, aku selalu kebelet pipis dan pingin berak. Begitulah saat baca ini cerpen.

    Sutomo

    19 Desember 2010 at 11:50

    • respon anda terlalu lebay sutomo. Masak pengen pipis dan berak jika ada surprise, tapi saya kira anda orang yg unik.
      Saya juga sangat terkesan dgn cerpen ini, sangat imajinatif dan kreatif.

      sudarmono A. Tahir

      28 Desember 2010 at 08:41

  32. like it..,

    vebhy

    23 Desember 2010 at 12:55

  33. Mantapz kk, aku suka bangetz cerpen ini. .

    Esol

    24 Desember 2010 at 18:41

  34. Keren ceritanya…

    Olin

    26 Desember 2010 at 13:37

  35. Lumayan bagus pas ngegambarin budaya Jepang…

    andrieprasetyo

    27 Desember 2010 at 14:48

  36. Satu lagi cerpenis yang tak memiliki kepercayaan diri untuk menuliskan persoalan bangsanya sendiri. Aduh!!1

    Aureliano

    4 Januari 2011 at 12:41

  37. biasa aja….gak ada yang menarik

    ita anjaswati

    5 Januari 2011 at 12:55

  38. lumayan bagus…saat membaca spt tak mau brhenti

    heru

    16 Januari 2011 at 14:59

  39. bagusss
    aku suka
    salam kenall

    endah..

    21 Januari 2011 at 13:03

  40. jadi tambah malu menjadi orang indonesia setelah membaca cerpen ini.

    silla

    26 Januari 2011 at 01:17

  41. keren . . . ! atmosfir hutan n keeksotisannya berasa bangedt. trmsuk adegan si cwe kissing cwo tadi. hmmm . . . menghanyutkan. saluth sobh . . !

    tana nugraha

    27 Januari 2011 at 13:09

  42. walah… sampah luar negeri lagi yang dijual

    bravo kompas, pilihan anda memang payah!!

    Aureliano

    15 Februari 2011 at 15:33

  43. keren ini bisa jadi pelajaran untuk orang yg ingin meninggal secepatnya !!!!!!!!😀

    cheva angelatobe

    23 Maret 2011 at 18:14

  44. mengalir dan klimaks ^_^b bagussss

    itaita

    26 September 2011 at 14:22

  45. Keren” Ue ska . . .

    Batara endra

    2 November 2011 at 12:45

  46. Sebuah kisah yang berakhir indah. Aku suka cerpen ini.

    Rama

    17 Mei 2012 at 12:39

  47. yang nulis cerpen ini siapa ya?

    hesti falentia

    30 September 2012 at 17:11

  48. […] Sumber: cerpenkompas.wordpress.com […]

    Aokigahara « langitfiksi

    9 Februari 2013 at 23:04


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: