Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Piano

with 50 comments


Dulu, rumah bercat hijau itu kami tinggali berempat. Aku, nenek, kakek, dan ibu. Kalau kau tanya di mana ayahku? Aku tak punya jawaban. Nenek pun tidak. Hanya ibu yang tahu persis siapa ayah kandungku. Dan aku pun tidak pernah berhasrat menanyakan perihal ayah kepadanya.

Sejak aku lahir, kakeklah figur ayah bagiku. Meski beliau yang tua dan rapuh lebih banyak tergolek di balai-balai daripada membawaku pergi ke taman bermain. Sesekali, beliau duduk di kursi goyang, sambil menyipitkan kedua matanya, berusaha memperhatikanku yang sedang disuapi oleh nenek. Penglihatan kakek memang terganggu. Tak lama sejak didiagnosa dokter menderita diabetes, beliau menderita glaukoma. Malam-malam, jika sedang kambuh, kakek akan terus mengerang dan mengeluhkan matanya yang sakit. Selang beberapa menit kemudian, beliau akan muntah-muntah dan tergolek lemah di balai-balai yang telah dilapisi matras.

Ketika nada erangan kakek mulai meninggi, aku hafal betul, nenek pasti akan memanggil dan memintaku untuk mengambilkan botol obat tetes mata bertuliskan Eserine di lemari tengah. Seusai menyelesaikan tugas kecil itu, aku kembali bergelung di ranjang. Dari balik korden kamar yang usang, aku selalu terharu memandangi nenek yang setia merawat kakek hingga fajar menjelang kemudian.

***

Ibuku, kau tahu? Dia sangat cantik. Suaranya merdu. Rambutnya yang sepunggung, hitam legam bak bulu gagak. Setiap wanita pasti akan iri saat memandang wajahnya yang jelita. Setiap lelaki pasti akan jatuh cinta melihat lekuk tubuhnya yang molek. Namun, menurut pendapatku, ia tak lebih dari seorang wanita tolol. Kecantikan dan suaranya yang mendayu, hanya bisa mengantarkannya menjadi biduanita kelas teri. Bersama grup musik keliling, ia menyanyi dari desa ke desa. Kata nenek, ketika masih belia, banyak pemuda bersahaja datang melamarnya. Namun, ia justru jatuh cinta pada seorang lelaki tak beridentitas. Percintaan ibu dengan lelaki itu pun membuahkanku. Tanpa nama ayah di surat kelahiran, aku pun menghirup udara dunia yang tak seramah rahim ibu.

Ketika aku berumur empat tahun, reputasi ibu sebagai biduan naik daun. Ia tak lagi menyanyi di panggung keliling, melainkan menjadi penyanyi tetap di sebuah bar di Yogyakarta. Awalnya, ibu pulang seminggu sekali, dengan membawa banyak hadiah untukku. Lama-lama ibu pulang sebulan sekali, lalu tiga bulan sekali, dan akhirnya aku tak lagi bisa menghitung berapa lama ibu pergi.

“Aku tidak mau boneka lagi! Aku mau ibu di sini!” aku ingat, usiaku lima tahun saat aku menangis menjerit-jerit, menyaksikan ibu beranjak pergi dari pintu rumah untuk kesekian kali.

“Ibu pergi agar kau bisa sekolah saat kau besar nanti,” bujuknya lembut.

“Aku tidak mau sekolah. Aku hanya mau ibu!” teriakanku makin melengking.

***

“Mbak, belok ke kanan atau ke kiri?” suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.

“Ke kiri, Pak! Nanti di sebelah kiri, ada gapura warna hitam, masuk kira-kira dua ratus meter,” jawabku dengan suara berat.

Taksi yang kutumpangi dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, semakin mendekati rumah nenek yang terlihat mulai lapuk dan mengelupas catnya di mana-mana. Rumah itu kini hanya dihuni oleh nenek seorang. Kakekku sudah meninggal jauh sebelum aku meninggalkan rumah. Beberapa bulan kemudian, ibuku pun meninggal. Saat itu, aku baru menginjak usia dua belas. Sanak saudara berdatangan untuk berbela sungkawa. Termasuk adik nenek yang menikah dengan seorang prajurit Belanda dan tinggal di Groningen, Belanda. Tepat tujuh hari setelah ibu meninggal, aku ikut adik nenek untuk bersekolah dan tinggal di negeri kincir angin itu.

***

Ketika taksi berhenti di depan rumah, nenek sedang sibuk dengan rajutan dan setumpuk benang wol di pangkuannya. Wanita tua itu terkesiap melihatku turun dari taksi. Sontak, ia bangkit dari kursi goyangnya, dan berlari kecil menghampiriku. Ada segunung kerinduan yang terpancar dari kedua bola matanya yang terbingkai kacamata presbiopi.

“Mala! Oh….Mala cucuku!” serunya berbaur dengan suara tangis mengharu biru. “Rasanya lama sekali nenek menunggumu pulang, Mala. Kau sekarang betul-betul sudah dewasa,” lanjut nenek sambil menyeka air matanya.

“Aku merindukan nenek,” balasku sambil memeluk tubuh rentanya.

“Syukurlah, kini kau sudah pulang,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Kerinduan kami selama sepuluh tahun pun melebur ke dalam sebuah pelukan hangat tiada tara.

Malam harinya, aku tiduran di pangkuan nenek. Nyaman rasanya. Kuhirup dalam-dalam aroma khas kain jarit yang dipakai oleh nenek. Masih sama seperti dulu.

“Kau tak ingin menjenguk Kus?” pertanyaan nenek membuatku tersentak.

“Om Kus?” tanyaku datar.

“Semestinya kau menjenguknya, Mala. Dulu kau sangat sayang padanya bukan? Datanglah ke pondoknya esok pagi, sebelum ia berobat,”

“Berobat?”

***

Keesokan paginya, aku mengunjungi lelaki yang nenek sebut dengan nama Kus. Sewaktu kecil dulu, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Om Koko. Jika kebetulan ia menjadi wali yang mengambil raporku di sekolah, dengan bangga aku akan memperkenalkannya kepada teman-temanku sambil menyebutkan nama lengkapnya, yang hanya terdiri dari satu suku kata. Kuswidiatmoko.

Kata para tetangga, Om Koko adalah kekasih ibu. Mereka saling jatuh cinta karena Om Koko selalu mengiringi ibu menyanyi di panggung dengan piano klasiknya. Meski aku menyayangi lelaki bertubuh atletis itu, tapi aku sama sekali tidak berharap kelak ia menjadi ayah tiriku.

Pondok Om Koko sangat teduh. Dikelilingi oleh pagar kayu yang dililit oleh bunga Alamanda. Sayup-sayup kudengar suara tuts piano beradu dengan pedal. Permainan itu amat akrab di telingaku. Meski terlambat mendengarkan untaian nada-nada itu, tetapi aku hafal judulnya di luar kepala. Tristesse, gubahan Frederic Chopin, komposer favorit Om Koko.

***

“Om, bisakah suatu saat nanti aku bermain piano seperti Om?” tanyaku padanya ketika usiaku masih sepuluh tahun. Tubuhku yang mungil tampak tenggelam saat berdiri di samping grand piano akustik berwarna hitam mengkilat milik Om Koko.

“Tentu saja kamu bisa,” jawabnya meyakinkan.

“Mainkan satu lagu untukku, Om! Aku juga ingin memainkannya dalam mimpiku nanti,” ujarku sembari melemparkan novel berjudul ’Buku Catatan Josephine’ yang belum selesai kubaca ke sofa.

“Mmmm…baiklah. Om mainkan sebuah lagu pengantar tidur untukmu,” bisiknya penuh sayang. Aku menyandarkan tubuhku di sofa, bersiap mendengarkan dia memainkan jemarinya di atas tuts gradded hammer yang tebal dan kokoh.

“Apa judulnya?”

“Tristesse,” jawabnya lembut.

“Tristesse?” tanyaku sambil berusaha mengeja.

“Ya, Tristesse. Kata itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya kesedihan. Komposisi ini juga dikenal dengan sebutan Etude Op. 10 No 3,” tutur Om Koko sambil tersenyum. Kedua lesung pipinya terlihat semakin cekung, menghiasi wajah tampannya yang terbungkus oleh jambang samar.

Perlahan, alunan Tristesse mengantarkanku ke dunia bawah sadar. Anehnya, ketika aku terlelap sembari mendengarkan melodi itu dengan cermat, aku memimpikan diriku sendiri memainkannya. Jemari tanganku yang lentik dan lincah menari-nari di atas tuts piano. Sejenak, aku pun melupakan Eserine, nama obat tetes mata kakek yang baru saja kutemukan di novel yang beberapa menit lalu menyita perhatianku.

***

Aku terhenyak. Peristiwa bertahun silam itu melesat cepat menembus memoriku. Kuayunkan satu langkah kaki mendekati pintu bercat cokelat di hadapanku. Aku mengintip dari jendela. Mataku terpaku pada sosok lelaki dengan helai-helai rambut berwarna kelabu.

“Permisi!” seruanku ternyata tak membuat lelaki itu berhenti memainkan Tristesse. Agaknya, ia terlampau menikmati setiap gerakan jarinya yang menekan tuts-tuts berat piano Steinway di hadapannya.

“Permisi!” seruku sekali lagi dengan nada sedikit kutinggikan.

Tampak seorang wanita paruh baya menghampiri pintu sambil mengelap tangannya dengan celemek yang melilit perutnya. Wanita itu membukakan pintu untukku. Sesaat, ia terdiam sambil berusaha mencermati wajahku.

“Kumala…kaukah itu?” seru si wanita seolah tak percaya.

“Iya, ini aku, Mak!” balasku bersemangat.

“Mala, Emak sangat merindukanmu,” ujar wanita bertubuh kurus itu sambil mendekapku erat. “Kau betul-betul sudah dewasa Mala. Dan kau amat mirip dengan Maya, ibumu,” lanjutnya. Aku pun hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang terlontar dari bibirnya.

Dulu, Mak Min atau yang kerap kupanggil Emak itu sering datang untuk mengasuhku, jika kebetulan nenek sedang repot mengurus kakek yang sakit-sakitan.

“Sejak kapan Mak Min bekerja di pondok ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sejak ibumu meninggal dan kamu pergi ke negara kompeni, Emak ikut Den Kus. Apalagi sejak kehilangan Maya, ibumu, pikiran Den Kus jadi agak terganggu. Tubuhnya juga jadi sakit-sakitan. Keluarga Den Kus lalu mengupah Emak untuk mengurusnya karena tak sanggup merawatnya sendiri.”

“Jadi, karena itu Om Koko harus berobat?”

“Iya, setiap sebulan sekali Den Kus menjalani terapi kejiwaan. Selain itu juga harus bolak-balik rumah sakit untuk berobat lambungnya yang terkena infeksi.”

“Infeksi?”

“Kata dokter, lambung Den Kus mengalami infeksi kronis. Kalau penyakit pikirannya sedang kambuh, ia bisa tak makan selama berhari-hari. Jadi lambungnya pun ikut-ikutan rusak,” ujar Mak Min prihatin.

Ketika aku dan Mak Min sedang serius berbincang, tiba-tiba dari balik untaian korden manik-manik muncul seorang lelaki paruh baya berwajah kuyu.

“Mak, siapa yang datang?” seru lelaki itu dengan suara parau.

“Eh, ini Den! Ada tamu ingin menjenguk Aden,” jawab Emak dengan nada serba salah. Mungkin Emak takut membangkitkan kenangan pahit Om Koko akan masa lalunya bersama wanita yang ia cintai, yang tak lain adalah ibuku sendiri.

“Maya?” seru Om Koko ketika melihat bayangan tubuhku mendekatinya.

“Bukan, Om aku Kumala bukan Maya. Om sudah lupa padaku?”

“Maya! Maya, aku sangat merindukanmu,” jawab Om Koko sambil berusaha memeluk tubuhku.

Mendadak aku tak mampu membendung air mata yang terus saja menganaksungai di kedua pipiku. Aku sadar, aku menangis bukan karena sedih mengenang ibuku, melainkan kecewa karena Om Koko terus saja menganggapku sebagai dirinya.

***

Sepuluh tahun yang lalu. Suatu hari, dari balik jendela pondok Om Koko, kulihat ibuku yang cantik jelita duduk di sampingnya menghadap piano. Ibu dengan sepasang tangannya yang berkulit kuning langsat, lengkap dengan sepuluh jemari lentiknya, memainkan tuts-tuts piano. Di banding seminggu sebelumnya, permainan piano ibu kali itu sudah lebih baik. Om Koko bersorak girang sambil mencium kening ibu, ketika ibu berhasil memainkan sebuah lagu dengan kunci accord sederhana.

Aku tidak menyukai pemandangan mesra itu!

Aku benci karena ibu bisa belajar bermain piano bersama Om Koko, sedangkan aku tidak. Kebencian itu semakin tak terkendali tatkala kupandangi kedua lenganku yang hanya sebatas siku orang normal, dengan dua tonjolan daging yang lebih mirip kue kaastengels dibanding ibu jari dan kelingking.

Aku tidak bisa belajar bermain piano, itu salah ibu! Aku bisa berkata begitu karena aku kerap mendengar para tetangga bergunjing. Kata mereka, aku cacat akibat ibu yang pernah berusaha keras menggugurkanku ketika masih dalam kandungan. Tapi, kini aku cukup puas karena takdir berkata lain. Aku tidak mati di tangan ibu, melainkan sebaliknya.

Mungkin hanya nenek satu-satunya yang menyadari, kalau ibu meninggal setelah meminum sirup lemon yang kubawakan untuknya. Sirup lemon yang sudah kucampur dengan banyak-banyak Eserine, sisa obat glaukoma kakek yang tertinggal di lemari. Untuk itulah, nenek mengirimku jauh ke Belanda, agar tak ada yang bisa menyalahkanku atas kematian ibu.

Mungkin aku harus berterima kasih pada Josephine, tokoh gadis berusia dua belas tahun yang ada di novel yang kubaca itu. Atau sebetulnya, ibulah yang menyebabkan kematiannya sendiri, karena dialah yang menghadiahiku novel itu. Jadi, bukan salahku kalau aku meniru cara Josephine yang meracuni kakeknya, Aristide Leonides, dengan obat tetes mata yang namanya sama dengan obat kakek.

Sayang sekali, ibu memang tak pernah menyadari telah melahirkan anak cacat yang kelewat cerdas, sehingga aku pun berhasil meracuninya dengan obat tetes mata itu. Dan dengan begitu, aku bisa memiliki Om Koko untuk selamanya, tanpa ada ibu sebagai pengganggu.

Kebon Jeruk,
18 Juli 2010. 01.37 AM

Written by tukang kliping

5 Desember 2010 pada 12:59

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

50 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. cerpen yang bagus.
    dan aku suka.

    seorang kumala yang rela mengembalikan nyawa ibunya kepada sang pencipta demi “suami” dan “ayah”-nya sendiri. dan ini sebuah alur yang tak disangka-sangka akan begini. hebat.

    salam kenal
    Azmi Labohaji

    Azmi Labohaji

    5 Desember 2010 at 13:45

    • nama kita sama bro😀

      azmi syawie

      17 Februari 2011 at 19:48

  2. Cerita yang menarik.

    Guntur Rahmandhito

    5 Desember 2010 at 14:26

  3. ceritanya benar2 tak terduga…

    opi

    5 Desember 2010 at 15:01

  4. cerpen yg bagus sekali.penuh kejutan.

    nevatuhela

    5 Desember 2010 at 17:48

  5. Sangat sulit untuk tidak mengatakan cerpen ini bagu. Saya suka!

    Alfian Dauff

    5 Desember 2010 at 20:45

  6. cerita yang luar biasa. penuh dengan kejutan di akhirnya. Saya lagi terkagum-kagun nih!!!!

    Abu Hibban

    5 Desember 2010 at 21:01

  7. mantaph….. unpredictable….

    cahnda

    5 Desember 2010 at 22:02

  8. cerita yang standar….ya, tapi sudah muat di kompas. jadi bagus lah

    lubab

    6 Desember 2010 at 04:56

  9. Amazing.

    Dodi Prananda

    6 Desember 2010 at 07:02

  10. Setelah sekian minggu akhirnya ada penyegaran juga. Good choice Kompas!

    A

    6 Desember 2010 at 08:36

  11. ceritanya bagus aku suka membacanya, selamat dah masuk kompas.

    A. cerpen saya sampai saat ini belum juga masuk kompas tapi, Alhamdulillah Di Mjlh Kartini no 2284 edisi 2 Des, ada cerbung saya berjdul “Suara Dari Masa Silam.

    ys

    6 Desember 2010 at 09:51

    • @Ys
      Apa kabar Bu Yati? Cerbung di Kartini ya? Mudah2an suatu saat saya punya kesempatan buat membacanya. Selamat dan sukses selalu buat anda.

      A

      6 Desember 2010 at 12:19

  12. Cerpennya bagus. Namun, sebagai penggemar novel-novel Agatha Christie, saya melihat warna Agatha sangat kental di sini. Pembunuhan dengan racun, karakter dan pondasi cerita yg dibuat seperti kepingan puzzle. Saya yakin, penulisnya jg seorang penggemar Agatha, bukan? Sangat kentara dengan mencantumkan Buku Catatan Josephine di dalamnya. Tapi, selamat ya? Menembus Kompas bukan hal yg mudah lho…

    Renny Yulia

    6 Desember 2010 at 10:29

  13. A. khabar baik. ya mudah-mudahan anda bisa membaca cerbung saya, dan ngasih komen. Terima kasih atas sarannya. saya pun telah mencoba lagi ke kompas.

    ys

    6 Desember 2010 at 13:46

  14. Cerpen ini cukup menghibur sebenarnya, tapi saya masih geleng-geleng kepala saja dengan bangunan epistemologi cerita ini. Rapuh.

    Sahabat A

    6 Desember 2010 at 14:07

  15. Dan apabila ini dieksplorasi, dijadikan novel, saya akan membelinya.

    Sahabat A

    6 Desember 2010 at 14:08

  16. bagus, sy suka…
    bahkan bikin syok di ujungnya.. keren lah.

    kunto

    6 Desember 2010 at 14:18

  17. two thumbs up! suka! potongan-potongan ceritanya ga ada yang sia-sia🙂

    virtri

    6 Desember 2010 at 17:39

  18. Penutup yang tidak diduga-duga, memang.

    Tapi entah kenapa, sewaktu dibaca, kok rasanya seperti biasa-biasa saja.😀

    Tapi selamat, sudah masuk kompas.

    Ario Sasongko

    6 Desember 2010 at 23:42

  19. Gak dapat “cling”-nya. Gak bagus. Sinetron banget. Perenungannya apa? n/a

    dudulz

    7 Desember 2010 at 07:16

  20. apik tenan..🙂

    pwnp98

    7 Desember 2010 at 11:36

  21. bagus,tapi sayang endingya kurang greget🙂
    but thats a good job dude!

    mey

    7 Desember 2010 at 21:01

  22. endingnya tak terduga,hal yang tak wajar bagi masyarakat ketimuran, tetapi selamat telah terbit di komaps.

    aminudin

    7 Desember 2010 at 23:23

  23. mantapppp ahak ahak selamat yaa

    kavellania

    9 Desember 2010 at 08:06

  24. Oh kalau dah masuk Kompas Bagus Cerpennya..!!

    Ferry

    9 Desember 2010 at 14:09

  25. Untuk ukuran cerpen biasa, ini cukup bagus. Tapi saya agak kecewa ketika menyadari bahwa ini cerpen Kompas. Tidak ada yang baru dalam konsep ceritanya, “twist” pada bagian akhir juga terasa tidak luar biasa.

    Selain itu, kelemahan dalam ejaan dan editing juga masih ada. Entah apa memang ini salinan persis seperti yang di koran, atau ada kesalahan dalam penulisan di blog. Misal:

    “Di banding seminggu sebelumnya….” –> kelalaian penggunaan “di” sebagai awalan, yang saya yakin merupakan salah ketik, karena di kalimat lain tidak begitu.

    “…dengan bangga aku akan memperkenalkannya kepada teman-temanku sambil menyebutkan nama lengkapnya, yang hanya terdiri dari satu suku kata. Kuswidiatmoko.” –> Kus-wi-di-at-mo-ko, terdiri enam suku kata. Yang terdiri dari satu suku kata bukan nama lengkapnya, tapi nama panggilannya, yaitu “Kus”.

    Rivai

    9 Desember 2010 at 19:34

    • wah…Kak someonefromthesky??
      hidup…🙂

      Midori Fukuro

      19 Desember 2010 at 09:05

  26. Thx bermanfaat, salam

    Shafa

    11 Desember 2010 at 10:28

    • emang bagus tuh cerpen

      farid

      11 Desember 2010 at 15:47

  27. salut gw

    farid

    11 Desember 2010 at 15:47

  28. sampe terharu gw

    farid

    11 Desember 2010 at 15:47

  29. karena aku masi kecil menurutku cerpen ini cukup serem. tapi keren😀 singat padat menarik😉

    whitney

    11 Desember 2010 at 20:16

  30. Bagus… gak nyangka endingnya gitu.. good job..:)

    gee

    14 Desember 2010 at 11:26

  31. Beberapa kalimat nggak ngena.
    “Ya, Tristesse. Kata itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya kesedihan. Komposisi ini juga dikenal dengan sebutan Etude Op. 10 No 3,” tutur Om Koko sambil tersenyum..

    Tristesse yang diceritakan di sini lebih ke “bentuk”, bukan “rasa”. Tanpa pengalaman bermain piano klasik pun banyak di antara pembaca yang bisa menulis seperti ini (dengan search di google). Andaikan Tristess tampil sebagai “rasa”, misalnya dengan menggambarkan alunannya, nuansa yang terbangun saat mendengarnya, cerita ini bisa berbeda.

    Tapi bagaimana pun, selamat… Pasti lebih banyak sisi kerennya, sehingga cerpen ini bisa dimuat di Kompas.

    Salam

    Agus

    14 Desember 2010 at 20:24

  32. aihhhh…endingnya g nyangka boo…..

    niesarie

    16 Desember 2010 at 13:10

  33. karakter yang hebat,
    *sekaligus menakutkan

    Ririn

    17 Desember 2010 at 18:15

  34. ternyata….
    endingya

    Midori Fukuro

    19 Desember 2010 at 09:03

  35. stuju sama rivai,, twist-nya kurang menohok..
    mungkin karena pembawaannya terkesan agak ‘buru-buru’, jadi seperti dipaksa..
    tapi overall bagus, ceritanya oke dan pembawaannya juga mengalir. hebat, hebat..🙂

    ntsy

    22 Desember 2010 at 16:54

  36. selamat hari ibu…. hehe… pembaca jangan niru yah! kebebasan imajinasi yg amat liat. salut…

    sip

    22 Desember 2010 at 22:27

  37. sebesar itukah dendam seorang anak… tapi overall ceritanya mengharukan… saya rate penuh…

    Olin

    26 Desember 2010 at 07:03

    • iya, karena menurut gunjingan tetangga, ibunya pernah mencoba untuk menggugurkan kandungannya ketika tokoh aku masih berada didalam kandungan

      tepteptep

      31 Desember 2010 at 12:29

  38. Bagus ceritanya. Cuma, kalau boleh nanya, apa hubungannya judul ‘Piano’ dengan inti cerita yaitu kecemburuan penulis pada ibunya yg berakhir dg pembunuhan? Soalnya, jika saya membaca cerpen, saya selalu inti cerpen dengan membaca judulnya.

    Barangkali, saya menebak, adegan mesra saat berlatih piano itu yg membuat judul cerpen ini ‘piano’?

    arizafa

    30 Desember 2010 at 10:22

  39. akann ku baca,,,
    inspirasiii darii penulis lainn adalahh hall baguuss

    endah..

    21 Januari 2011 at 15:36

  40. Twisted love story …

    topstotoes

    28 Januari 2011 at 14:13

  41. Keren bgt! Ideny unik, terinspirasi dari “Buku Catatan Josephine”-nya Agatha Christie…akhir jg tak terduga. Nice work.

    Priscilia Chandrawira

    11 Februari 2011 at 18:28

  42. semoga kisah dlm cerpen ini nggak ditiru oleh ank2 yg dikecewakan dlm keluarganya…

    Adri

    22 Februari 2011 at 10:38

  43. alur cerita yang jarang, bagus banget

    panca

    16 Maret 2011 at 14:09

  44. saya sangat sukaa, cerita sangat menarik

    eiki

    4 Desember 2011 at 21:07


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: