Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lelaki Sepi

with 29 comments


Ceritakan padaku tentang sepi, katamu. Ah, tapi sudah terlalu banyak cerita tentang sepi. Apakah masih akan menarik bercerita perihal yang telah berulang dikisahkan seperti itu? Lalu bagaimana membuat cerita seperti itu menarik? Memang tak ada yang menarik. Tapi kau telah memintanya dan aku senantiasa ingin menuruti kemauanmu. Maka biarlah kuceritakan saja.

Namanya tak penting benar. Atau setidaknya dalam kisah ini—bila kau menganggap perlu memberi sebuah nama untuknya—kau bisa memberinya nama sesuai dengan keinginanmu, tak akan berpengaruh apa-apa. Yang jelas, ia adalah lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Maka begitulah, ia senantiasa meminta kekasihnya untuk menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa ada dekap kekasihnya. Ia tak mampu menelan makanannya tanpa kekasihnya yang mengangsurkan suap. Ia tak sanggup mandi bila kekasihnya tak menuang air hangat dan menyiapkan handuk. Ia tak dapat keluar rumah jika kekasihnya tak menjemput. Sungguh, ia ingin senantiasa bersama kekasihnya. Setiap malam, sebelum benar-benar lelap dalam buai kekasihnya, ia berdoa agar esok terbangun dalam rahim kekasihnya, terbangun sebagai cikal janin yang tak akan pernah keluar dari perut ibunya. Selamanya jadi bakal janin. Selamanya bersama-sama kekasihnya. Selamanya merasa aman dalam nyaman lindungan kekasihnya. Ia mengira mencintai kekasihnya dan baginya begitulah cinta yang mesti diwujudkan.

Ia lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Sebab itulah ia senantiasa menulis puisi cinta buat kekasihnya. Ia berkata, ”selama aku masih mencintaimu, aku akan terus menulis puisi cinta untukmu.” Kau tak akan sanggup menghitung berapa banyak puisi yang ia tulis untuk kekasihnya. Ia juga sering berdoa, ”bila aku tak dapat tinggal di rahimnya, izinkan aku menjadi sebait puisi yang ia sukai, yang ia hafal, yang sering ia lantunkan. Aku ingin tinggal di lidahnya, menjadi sesuatu yang kerap ia sebut.” Ia menyangka mencintai kekasihnya dan tak ada cara lebih tepat menunjukkannya selain melalui puisi.

Ia lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Ia menganggap telah sempurna mencintai kekasihnya dan berharap kekasihnya melakukan hal serupa: mencintainya dengan sempurna pula. Dan kekasihnya memang mencintainya. Sangat mencintainya. Mencintai dengan cara yang berbeda dari yang ia yakini. Wanita itu mengerti bahwa ia tak sepenuh hati mencintai. Wanita itu paham mengapa si lelaki ingin senantiasa ditemani dan menulis puisi. ”Sungguh itu bukan cinta,” bisik wanita itu. ”Hanya yang takut pada sepi yang senantiasa ingin ditemani, hanya untuk membunuh sepi ia menulis beratus sajak cinta.” Barangkali inilah alasan wanita itu kerap terlihat malas-malasan menemani si lelaki berjalan di taman pagi-pagi atau membaca seantologi sajak dengan tebal ratusan halaman yang ditulis oleh lelaki kita dalam kisah ini.

Namun wanita itu memang mencintainya. Cinta yang membuat wanita itu bertahan dengan itu semua. Dan cinta pulalah yang pada akhirnya membuat wanita itu meninggalkan lelaki kita ini. Selalu ada yang mesti dikorbankan atau ikhlas berkorban dalam cinta bukan? Dan wanita itu memilih yang kedua: ikhlas berkorban. Ketika ketakutan akan sepi yang diderita lelaki kita kian hebat hingga bahkan dalam mimpi pun menuntut wanitanya untuk hadir dan menemani menulis atau membaca puisi, maka wanita itu merasa mesti ada yang dikerjakan untuk menyelamatkan kejiwaan lelaki kita ini. Bagaimana menyingkirkan rasa takut pada sepi bila tak langsung menantangnya? Maka demikianlah, wanita itu meninggalkan lelaki kita. Meninggalkannya sendiri dalam sepi, meninggalkannya sendiri untuk melawan sepi.

Maka kini lelaki kita sendirian. Merasa kesepian. Tak ada lagi yang membenarkan selimut selimut yang melorot ketika ia tidur. Tak ada yang mengambilkan nasi atau menjerang air buat mandinya. Tak ada senyum yang menemaninya menulis puisi, tak ada sorot lembut menatapnya. Tak ada semua yang selama ini membuatnya kuat. Ia merasa payah, merasa tak sanggup lagi melangkah.

Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan, ia melihat wajah bulan. Wajah yang berbeda dengan wajah-wajah bulan pada malam-malam sebelumnya. Wajah yang tergantung di langit itu serupa benar dengan wajah kekasih yang meninggalkannya. Ia segera keluar rumah. Menuju halaman dan berdiri diam di sana sambil mendongak ke atas, ke aras bulan bulat itu. Tiba-tiba lelaki kita ini ingin menulis sajak cinta lagi.

Tapi bulan sempurna bundar yang mirip wajah kekasih yang meninggalkan lelaki kita ini tak setiap hari bersinar. Pelan-pelan bulan akan mencengkung, membentuk sabit untuk kemudian benar-benar lenyap di ujung bulan penanggalan Jawa. Tapi bulan akan muncul lagi. Awalnya serupa noktah, lalu kembali membentuk sabit dan bundar sempurna pada tengah bulan dalam kalender Jawa. Dan ia merasa tak mampu menunggu begitu lama untuk melihat wajah indah itu. Maka ia berdoa agar bulan senantiasa purnama.

Namun bulan tak mungkin selalu purnama. Ada putaran musim, aliran angin, ketinggian air laut, masa panen dan tanam, sampai waktu laku ilmu tertentu yang bergantung pada rotasi dan evolusi bulan. Semua mesti berjalan sesuai kodratnya. Maka sekhusyuk apa pun lelaki itu berdoa, bulan akan tetap mengalami sabit, melalui bulan mati dan pasti kembali purnama tengah bulan.

Lelaki kita itu, sungguh keras hati kali ini. Ia tak ingin lagi ditinggal kekasihnya. Ia ingin menjadi yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu perlahan sembul dan ingin menjadi yang terakhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup. Ia memutuskan tak bergerak dari halaman bahkan saat mentari terbit. Kau tahu, kadang-kadang kau masih bisa menyaksikan bulan menjelang siang walau sinarnya tenggelam dalam pancaran matahari. Bagimu mungkin itu tak penting. Namun lelaki kita ini menganggapnya sesuatu yang haram terlewatkan. Kalau kau pernah mendengar orang-orang tua berujar bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh dan melakukan hal-hal yang tak masuk akal, maka lelaki kita ini adalah amsal ujaran itu. Ia tak beranjak dari halaman, berhari-hari, berminggu- minggu selain untuk makan atau buang air.

Namun langit tak hanya menyimpan wajah indah kekasihnya yang hilang atau kilau cerlang bintang-bintang. Langit juga mempunyai mendung dan hujan, kilat dan badai, matahari dan cahaya panas. Tak ada yang mampu menghentikan mereka menjalankan tugas. Maka beginilah, selama beberapa malam mendung tebal tergantung di langit untuk kemudian tumpah menjadi hujan dan badai, menabur kilat dan dingin. Namun pada siang harinya, matahari bersinar teramat cerah, mendedah panas yang menyiksa. Kejadian seperti itu terjadi pada tengah bulan hitung-hitungan Jawa. Pada masa di mana semestinya purnama terlihat sempurna.

Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak bersua wajah kekasihnya itu setelah tengah bulan kemarin purnama yang terakhir. Badai yang menghajar tubuhnya malam-malam atau panas yang meremas tubuhnya tak membuatnya bergerak. Ia kecewa sebab mendung tebal menghalanginya melihat wajah indah bulan dan berharap langit kembali ramah segera. Namun langit cerah ketika pagi telah sepenggalan dan bulan tak lagi terlihat. Ia tetap tak bergerak. Berharap keajaiban, berharap bulan kesiangan.

Ia telah lama bertahan. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ia hanya masuk ke rumah untuk makan dan minum dengan tergesa dan buru-buru kembali ke halaman. Ia kuat. Tapi tidak kali ini. Tiga malam dihajar badai dan tiga hari digempur panas yang sangat. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi.

Ia melihat kekasih yang meninggalkannya dulu telah menjelma bulan. Bulan yang senantiasa ia nanti. Bulan itu tak tergantung di langit seperti yang selama ini ia lihat. Bulan itu begitu dekat dengannya, bahkan menyatu dengan dirinya. Terletak di hatinya. Bulan itu berkata, ”kalau kau benar-benar mencintaiku, kau akan tahu bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekap tidurmu, menyiapkan air hangatmu atau mengangsurkan suapanmu. Kau akan tahu bahwa aku selalu bersamamu sebab aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah ke mana-mana.”

Lelaki kita itu ingin bangun. Tapi tak bisa. Tubuhnya tak dapat bergerak. Maka ia putuskan untuk pergi tanpa tubuhnya. Pergi menuju hatinya yang menyimpan bulan. Ia lihat tubuhnya telah begitu payah.

Written by tukang kliping

14 November 2010 pada 08:13

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

29 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mantap…
    yang kutangkap dr cerpen ini adalah bahwa sebenarnya keindahan yang paling indah itu ada di dalam hati, yaitu Allah

    naggal

    14 November 2010 at 09:39

  2. Kurang impresif, baru main personal-deiktisch (baca: perspektif).buat para sastrawan, coba tambahin cerpen bermuatan deixis ruang(posisional,dimensional,direksional) dan waktu.nyumbang ide ajah.tq

    dudulz

    14 November 2010 at 12:33

    • posisional,dimensional,direksional)>>> ini maksudnya apa sih..Maaf sy baru belajar menulis…makasih

      Sari

      14 November 2010 at 15:24

  3. lagi pengen baca yang nyata-nyata aja
    ga pake perumpaman2…
    Ia melihat kekasih yang meninggalkannya dulu telah menjelma bulan. bla bla bla dst
    ga tau akh …. pusiiiiing cynx

    faver

    14 November 2010 at 23:41

  4. Sperti pada penuturan awal, tiada yg aneh menceritakan kisah yg sudah berulang-ulang tentang sepi. Bisa diartikan, seringkali dikupas oleh para penyair, para kyai, oleh semilir angin, oleh diri kita yg tersanjung sepi. Tapi sbagai insan yg ktiban “nikmat” itu memang slayaknya harus berbagi. Hanya saja, dalam penguraian kisah menuju klimaknya perlu pembaruan yg lebih seru dan lebih dramatik agar pembaca lebih trhibur dan trcengang-cengang..OK lah, terus berkarya, dan ajari aku terus tentang kehidupan sunyi-sepi. Salan kenal bagi semua!

    Ottang K.Baddy

    15 November 2010 at 05:29

  5. benar. dibagian tegah, klimaknnya kurang menggelitik…
    tapi pas di ending… menjadi terbayar pembacanya…

    menjadi pemimpin diri sendiri

    sule subaweh

    15 November 2010 at 09:21

    • awalnya terkagum-kagum, di tengah agak kecewa, eh di ending………….
      aku puas…….
      Allahu aKbar,
      wah…. mo idul adha kompas muat cerpen macam ni……..,
      saluut…….

      cahnda

      15 November 2010 at 20:36

  6. Secara subjektif, saya suka cara penuturan cerita ini. Diselang-selingi dengan minggu kemarin: cerita yang cenderung ditulis dengan gaya metafor dan bahasa keseharian yang cenderung ditulis oleh penulis yang mengambil tema sosial..

    Apa ini cerpen Mas Dadang yang perdana dimuat di KOMPAS?

    Dodi Prananda

    15 November 2010 at 11:04

  7. Tapi, secara objektif, saya justru menyimpulkan sesuatu yang lain.

    Setalah saya baca berulang-ulang (dan membandingkannya)
    kenapa ya cerpen ini mirip dengan Cerpen ‘WANITA BERWAJAH PENYOK’ Karya Ratih Kumala.

    Ketika penggambaran ‘KEKASIH BULAN’ pada bagian akhir, saya seperti merasakan diri saya berada pada suasana dan nuansa yang sama ketika membaca cerpen Wanita Berwajah Penyok Ratih Kumala tersebut dan ketika membaca cerpen Mas Dadang ini.

    Asumsi saya, mungkin Mas Dadang merasa terinspirasi dengan itu sehingga menuliskan dengan cara yang persis, ataukah hanya sebuah kebetulan belaka?

    Ah, saya tidak tahu. Mari kita tanya penulisnya langsung untuk mengklarifikasi…

    Dodi Prananda

    15 November 2010 at 11:08

  8. Cerita yang kuat karena secara emosional sangat deskriptif. Gambaran surreal tentang keputusasaan manusia mengotakkan cinta, membedahnya di bawah mikroskop, lalu mengorasikannya lantang. Cinta atau ketakutan akan sepi. Ketakutan sendiri dan ditinggalkan. Cinta karena biasa, cinta yang membelenggu. Keren!

    novitapoerwanto

    16 November 2010 at 07:27

  9. […] Penuturan yang kuat sekaligus jujur tentang ketergantungan cinta. tentang ketakutan paling universal dari setiap kita: kesendirian. Cerita ini juga gambaran kepedihan nan indah tentang cinta yang seharusnya membebaskan, dari semua, termasuk ketakutan akan sepi. Ceritakan padaku tentang sepi, katamu. Ah, tapi sudah terlalu banyak cerita tentang sepi. Apakah masih akan menarik bercerita perihal yang telah berulang dikisahkan seperti itu? Lalu bagaimana membuat cerita seperti itu menarik? Memang tak ada yang menarik. Tapi kau telah memintanya dan aku senantiasa ingin menuruti kemauanmu. Maka biarlah kuceritakan saja. Namanya tak penting benar. Atau setidaknya dalam kisah ini—bila kau menganggap perlu membe … Read More […]

  10. keren!😀

    bayuyeah

    17 November 2010 at 08:44

  11. bagus,walaupun ada sedikit kekurangan di cerita,saya suka dengan ide penulis yang mengisahkan cerita yang begitu sederhana dan tanpa liku yang tajam dengan berbagai perumpamaan dan permainan bahasa yang mengagumkan.

    sukasuka

    18 November 2010 at 12:01

  12. Mantap!

    GusPur

    19 November 2010 at 08:10

  13. yah! saya ngikut aja!

    fandrik ahmad

    20 November 2010 at 19:57

  14. ada nilai spiritualnya……. 🙂

    bisyri

    21 November 2010 at 04:35

  15. sebuah cerpen yang romantis …dengan pesan yang dalam …hanya pengungkapannya yang monoton dan satu arah …tetapi secara keseluruhan cukup bagus

    purwoko burhanudin

    21 November 2010 at 14:16

  16. bagus, perumpamaan yang wajar,cinta sejati yang tak terungkapkan.

    bina surawa

    25 November 2010 at 04:48

  17. bagus, perumpamaan yang wajar, cinta sejati yang tak perlu diungkapkan.

    bina surawa

    25 November 2010 at 04:49

  18. aku suka sih…cuman …emmm…apa ya?kayanya ada yg kurang gitu…

    ida

    26 November 2010 at 15:09

    • ada yang lemah di bagian tengah,, tp secara keseluruhan aku suka

      marjan

      26 November 2010 at 23:19

  19. @ Dodi: Penulisnya juga harus mengklarifikasi cerpennya yang berjudul: Perempuan Tua dalam Rashomon (dimuat di Lampung Post 5 Desember 2010) dengan cerpen karya Akutagawa Rynosuke (cerpenis Jepang) berjudul: RASHOMON (penerbit KPG, Jan. 2008)

    Bamby Cahyadi

    5 Desember 2010 at 09:55

  20. sepi itu sunyi

    herman

    16 Desember 2010 at 11:45

  21. Sepi itu sangat menyakitkan………….

    nurlela

    17 Desember 2010 at 15:01

  22. sepi itu menyakitkan………..

    nurlela

    17 Desember 2010 at 15:46

  23. setengah cerita, udah males baca….

    dado

    25 Desember 2010 at 09:32

  24. terlalu banyak perumpamaan….bosan….. ada jg yach org yg cinta.x shebat itu….bahkan bulan pun di anggap wanita.x….

    rea

    1 Maret 2011 at 10:04


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: