Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Laila: Tarian Pengorbanan

with 140 comments


Dua ”bodyguard” mengantarku, satu bertugas merangkap supir. Badan mereka besar-besar. Dari ototnya terlihat bahwa mereka adalah orang-orang terlatih untuk menjagaku. Mereka mengantarku ke sebuah hotel mewah berbintang 5.

“Kamar 462. Doakan aku selamat, ya…,” bisikku lirih. Salah satu dari bodyguard itu menatapku. Sorot matanya sulit kumengerti. Aku tak tahu apa yang ada di dalam hatinya, tetapi di balik wajah garangnya, kulihat kedamaian.

”Hati-hati,” katanya singkat saat melepasku. Pistol tersembunyi di balik celananya yang tertutup kantong besar. Aku tersenyum padanya sebelum berlalu. Rahadian.

Di lift, kulihat bayang diriku. Tubuhku tirus terbalut rok mini dan atasan hitam menerawang. Tubuh yang jiwanya seperti keluar dari jiwaku. Entah jiwa milik siapa, sulit kukenali lagi.

Hari ini di kamar 462, aku akan menari, membawakan tarian yang berjudul tarian pengorbanan.

***

Di Indramayu, setelah ibu sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya mengeluarkan bau-bauan tak sedap, aku sering mencari tikus untuk ditukar sejumlah uang. Aku sudah berusaha melamar untuk bekerja ke sana-ke mari, namun begitu sulitnya dengan ijazah SMA yang kumiliki.

Karena banyak sekali tikus liar, maka pemda setempat memberikan sejumlah uang untuk setiap tikus yang terbunuh. Aku bisa mengumpulkan uang untuk pengobatan ibu.

Teman sebayaku banyak yang menjajakan tubuh ke para lelaki hidung belang. Mereka bergerombol berdiri di pinggiran jalan setiap malam tiba. Dalam sekejap mereka mendapatkan uang cukup banyak. Aku tak tertarik. Aku memilih berburu tikus, lebih halal daripada menjajakan tubuh.

”Apa pun yang terjadi, berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat daripada kaya raya tetapi harus menjual diri.”

”Aku berjanji, Bu.”

Kini, aku terpaksa harus mengingkari janjiku. Walau seluruh manusia di muka bumi ini mengutuk pun aku rela. Angina Pectoris yang di derita ibu, di tambah Herpes Simplex Virus yang menyebabkan bisul bau dan bernanah di sekujur wajah ibu, membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Aku ingin ibu sembuh.

***

Lelaki yang akan meniduriku kali ini adalah seorang bos dari Jepang. Perawakannya pendek dengan perut tambun. Dia menyuruhku mandi. Setelah mandi, aku mulai menari. Menarikan tarian yang sengaja kuciptakan untuk membuatnya ketagihan. Tarian yang melibatkan seluruh panca indraku bekerja. Tarian penuh gelora.

Terkadang, tangan kasarnya memperlakukanku tidak senonoh. Mencakar kulitku hingga terasa pedih, namun semakin pedih, bayang wajah ibu semakin tergambar jelas. Semakin pedih terasa, kecintaanku pada ibu semakin kuat.

***

Bapak kandungku adalah seorang bupati. Dia yang seharusnya bertanggung jawab, malah lari bersama wanita simpanannya, membawa semua harta yang kami miliki. Dia hanya menyisakan rumah saja, yang telah lama kami jual. Kini kami menempati rumah kontrakan yang kecil dan kumuh.

Bapak menceraikan ibu di saat ibu butuh dukungan atas sakit yang dideritanya. Bapak memanipulasi harta gono gini bersama pengacara sahabatnya. Permainan kotor yang menyakitkan hatiku.

Luka yang diderita ibu begitu sempurna. Jiwa dan raga. Aku marah pada Mbak Ning yang menghalangiku menusuk bapak dengan pisau.

”Biarkan bapak gila, kita tak usah terbawa gila.” kata Mbak Ning. Aku menangis di pelukannya.

***

Dari hasil melacur, rupiah demi rupiah kubayarkan ke rumah sakit. Dengan perasaan bahagia membayangkan ibu akan segera sembuh, kutengok tidurnya yang pulas. Wajah ibu mulai cerah. Bisul dan nanah di sekujur tubuhnya sedikit berkurang.

Mbak Ning tengah bersenandung ketika aku datang. Dia begitu telaten merawat ibu. Namun begitu melihatku, raut wajahnya berubah.

”Jangan dekati ibu!” bisiknya ketus. Hatiku tergetar. Tak biasanya Mbak Ning bersikap demikian kasar padaku.

Tak ingin ibu paham apa yang terjadi, aku keluar diikuti Mbak Ning. Di kursi ruang tunggu, kami duduk berhadapan.

”Jika kau masih mau kuanggap sebagai adikku, berhentilah melacur!” katanya tegas. Aku menciut. Tak mengira Mbak Ning akan tahu. Kepadanya, aku berbohong mengatakan aku kerja di bank.

”Tuhan akan membuka jalan dari setiap kesukaran. Tak perlu melacur pun, Mbak yakin ibu bisa sembuh!” katanya. ”Mbak akan meminta keringanan rumah sakit dan mencoba menghubungi mantan relasi bapak. Mbak yakin rekanan bapak yang dahulu sering minta tolong mau membantu.”

Aku tersenyum sinis. Aku telah lakukan itu. Tak seorang pun dari rekanan-rekanan bapak yang mau membantu. Bahkan mereka melecehkan dan menghinaku.

”Percuma Mbak. Aku sudah mencoba, tapi mereka balik menghinaku.” Mbak Ning menggeleng. ”Tetap akan kucoba. Tolong jaga ibu dan berjanjilah padaku untuk berhenti melacur!”

Aku mengangguk. Mbak Ning menghampiriku lalu memelukku. Dengan ketegaran luar biasa, Mbak Ning meninggalkanku. Dalam hati aku berjanji untuk berhenti melacur.

***

Dua hari sudah, Mbak Ning menghilang. Dua hari itu pula, aku tak beranjak dari rumah sakit menemani ibu. Suster mulai bicara tentang rupiah yang harus kubayar untuk menebus obat ibu. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan untuk mengulur waktu.

Malamnya, saat ibu tertidur pulas dan aku tengah duduk di luar menatap bulan, seseorang menghampiriku. Dari kelibas bayangnya, cara dia melangkah sampai detail gerak-geriknya, aku hafal.

”Apa kabar?” sapanya kaku. Walau lama berteman, kami jarang bicara.

”Baik.” Jawabku.

”Kapan kamu akan kembali?”

”Aku tak akan kembali.”

”Mengapa?” Jawabnya dingin.

”Dilarang mbakku. Dia tak setuju aku melacur.”

Lalu sunyi.

Dia menatap langit. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan raksasa. Sampai pagi, dia tetap berdiri mematung. Menungguiku yang duduk bertopang dagu di bangku.

Pagi hari, saat suster datang dan mulai bicara masalah keuangan, kudengar kabar itu. Paimin, tetanggaku yang berjualan bakso di samping rumah, menyeruak masuk dengan napas tersengal.

”Mbakmu di PGD, cah ayu. PGD sini.”

”Eh, kenapa? Ada apa dengan mbakku?”

Paimin berlari, aku mengikuti. Di PGD kulihat Mbak Ning. Ususnya terburai keluar. Seprai rumah sakit yang berwarna putih berubah merah pekat. Aku menggigil. Tanganku gemetar sulit digerakkan.

”Dia menjual organ tubuhnya secara ilegal. Saat kutemukan, kondisinya sudah parah. Tak tertolong lagi.”

”Tak tertolong? Tidak!!!” Bagaimana bisa mbakku yang sangat tegar dan tenang bisa pergi dengan cara begitu?

”Dia menitipkan ini padamu. Kutemukan di samping jasadnya.” Paimin menyerahkan sebuah amplop coklat berisi segepok uang seratus ribuan, dengan sepucuk surat. Sulit sekali membuka surat dengan tangan gemetar.

”Adikku sayang, kujual organ tubuhku demi ibu. Semoga uang ini cukup sampai ibu sembuh. Pesan terakhirku, apa pun terjadi, janganlah melacur, bekerjalah yang halal, walau untuk itu kau harus kehilangan nyawamu.”

Mbakmu, Ning.

Dunia terasa gelap. Tubuhku lunglai. Tulang kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh di pelukan Rahadian….

***

Mbak Ning kini hanya tinggal nama. Namun keharumannya terpatri di hatiku. Aku bersumpah tak akan melacur lagi. Walau Mbak Ning sudah pergi, aku akan tepati janjiku.

Setelah pemakaman Mbak Ning, kondisi ibu turun drastis. Ibu tak mau makan. Dalam tidurnya dia selalu menyebut nama Mbak Ning. Tak pernah sedetik pun kutinggalkan ibuku. Aku menjaganya siang malam.

Rahadian, entah kenapa, jadi sering menemaniku di rumah sakit. Dia terkadang membantu mencucikan baju kotorku dan baju milik ibu.

Suatu malam, ibu memanggilku. Aku duduk di samping tempat tidurnya.

”Nak, kembalilah bekerja. Biarlah Ibu dijaga suster. Ibu tak mau melihatmu pucat pasi begini. Ayolah, kau lanjutkan hidupmu.”

”Tidak, Bu. Aku akan tetap di sini menemani Ibu sampai sembuh.”

”Jangan hancurkan masa depanmu, Nak. Bagaimana kalau kau dipecat dari kantor gara-gara sering alpa? Tinggalkanlah Ibu, kau butuh istirahat juga.”

Aku mengangguk. Ibu begitu baik. Dengan berat, kuturuti permintaan ibu.

Hari itu, untuk pertama kali setelah sekian lama, kujenguk rumahku. Aneh rasanya tidur tanpa Mbak Ning dan ibu.

Paginya, aku bergegas ke rumah sakit. Aku ingin memastikan ibu baik-baik saja. Sejak semalam perasaanku tak enak. Selalu kepikiran ibu. Ketika sampai di kamar ibu, kulihat ada police line. Begitu banyak orang berkumpul. Bergegas kudekati kerumunan itu.

Ternyata firasatku menjadi kenyataan. Ibu yang kukasihi bunuh diri dengan selendang biru. Selendang laknat itu diikat ibu ke besi di atas tempat tidurnya. Mata ibu melotot dengan lidah terjulur kaku.

Dengan perasaan hancur, kuusap air yang menganak sungai di mataku. Hatiku sakit sesakit neraka.

Kuambil selendang biru yang dipegang polisi itu. Kucaci maki suster, dokter, dan semua satpam rumah sakit yang tak bisa menjaga ibuku dengan baik. Kupukul dan kutendangi tembok rumah sakit dan semua orang yang berkerumun di sana. Berharap mereka bisa merasakan sakit yang kurasa.

Duniaku gelap dan suram. Air mataku kering sudah. Aku benar-benar ingin menyusul mereka ke surga.

***

Berbulan-bulan sesudah kematian ibu, di rumah hanya ada aku. Kadang aku tertawa sendiri. Menertawakan nasibku yang edan.

Kuingat lagi kenangan hidupku bersama ibu dan Mbak Ning. Dulu kami sangat bahagia. Kurunut lagi di mana letak kesalahan itu. Bapak. Ambisinya akan kehormatan, uang, dan wanitalah penyebab semua ini. Aku mengutuk bapak. Gara-gara bapak aku terjerumus ke lembah hitam. Andai sekarang bapak datang padaku, memohon ampun sekalipun, aku tak sudi memaafkannya. Harga kehilanganku pada ibu dan Mbak Ning terlalu mahal untuk ditukar kata maaf.

Tadinya, aku berniat mengikat leherku dengan selendang atau kawat berduri. Atau aku ingin dilindas traktor berisi beban jutaan kilo. Namun setiap kali datang keinginan itu, suara Tuhan melintas.

Aku adalah pelacur. Namun di saat-saat kritis itu, toh aku masih mengingat nama-Nya. Dalam sedih, aku berdialog dengannya. Kadang, aku menangis menceritakan nasibku pada-Nya. Aku memang pelacur tak tahu malu, karena masih mengingat Tuhanku.

Dalam saat terberatku, Rahadian rajin merawatku. Dia menjadi dekat denganku. Hampir setiap hari, dia jambangi rumahku. Mengajakku ngobrol, menyiapkan makanan untukku, menyiapkan air panas untuk mandiku. Sampai akhirnya, kuserahkan diriku bulat-bulat padanya dengan kerelaan. Berbeda dengan saat aku menjadi pelacur. Kepadanya, kuberikan kehangatan dan cinta, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kuberikan pada lelaki mana pun di dunia ini.

Karena aku sudah sebatang kara, saat dia melamar, kuterima pinangannya. Kami pun menikah secara sederhana.

***

Setahun setelah pernikahan itu, anakku lahir. Kami menyambutnya dengan sukacita. Ibu Rahadian dari Kalimantan datang. Melihat cucu pertamanya, kebahagiaan terpancar jelas dari sinar matanya.

Bayiku yang lucu digendongnya. Lalu dari tas yang dibawanya dari Kalimantan, dia mengeluarkan selendang biru. Coraknya sama dengan corak selendang biru yang dipakai ibu gantung diri! Sama persis!

About these ads

Written by tukang kliping

17 Oktober 2010 pada 09:45

Ditulis dalam Cerpen

Dikaitkatakan dengan

140 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Duniaku gelap suram.Airmataku kering sudah.Aku benarbenar ingin menyusul mereka ke surga.
    –menyusul ibu yang mati gantungdiri–
    Orang yang mati bunuh diri berada di surga?

    siwi sang

    17 Oktober 2010 at 10:30

    • siwi sang, jika anda cukup teliti membaca cerpen ini, maka di bagian akhir ada teka teki tentang selendang biru. Mengapa anda begitu cepat menyimpulkan sang ibu bunuh diri? Simak kembali dengan seksama.

      Nur Hasan

      17 Oktober 2010 at 20:04

    • maksudnya yang bunuh ibunya itu si rahardian?

      spears

      18 Oktober 2010 at 09:02

    • kau tau nya cuma mengkritik, anjink…coba kau pahami isi ceritanya anjink!!!

      al bkt

      12 November 2011 at 10:03

  2. hadeeh.. kek sinetron neh. periodenya panjang amat, bukannya satu waktu aja.

    rigan

    17 Oktober 2010 at 13:11

    • Mantap! Endingnya gigit banget……..

      Boim

      19 Oktober 2010 at 13:54

    • Mbak Zev, harusnya ada sambungannya. Tentang selendang biru itu…..

      Reni

      19 Oktober 2010 at 14:03

    • Kayanya sih si Rahardian ya yang bunuh ibunya?

      Topik

      19 Oktober 2010 at 14:05

  3. lagi-lagi, kenapa memaksakan ‘ending tipe ini’ pada cerita begini…
    Pusing sendiri karena melihat cerita yang terus-menerus mendapat tekanan ‘batin’ karena pemaksaan yang ‘sepihak’, alih-alih membiarkan cerita itu hidup dan menulis sendiri kisahnya.

    miftah fadhli

    17 Oktober 2010 at 15:17

    • Koq rata2 orang suka yang happy end sih? Gw rasa syah2 aja, namanya juga ironical story…..

      mamibartini

      17 Oktober 2010 at 20:15

    • mamibartini: tidak ada statement mengenai ‘happy ending’.. mindset andalah yang telah membentuk begitu,, saya hanya menegaskan bahwa kecenderungan penulis saat ini adalah kecenderungan yang amat sangat menggebu untuk mengakhiri cerita secara mengejutkan atau “opened ending” (-red). Kecenderungan tersebutlah yang akhirnya membuat si ‘cerita’ dibantai habis tanpa memperhatikan struktur penceritaan si ‘cerita’ terlebih dahulu. akhirnya, demi mendapatkan sebuah ‘akhir yang mengejutkan’, muncullah istilah: tak apalah tak nyambung atau nyambung sedikit-sedikit, asal orang terkejut….
      padahal, bagian ini tidak satu-satunya yang terpenting: jangan mengabaikan banyak hal untuk mencapai satu hal ‘kepuasan’. okeeee, mamibartini… tapi, saya ucapkan selamat atas pemuatannya cerpennya yang kata saudara hoebartz dengan sangat menggebu-gebu pada komentar di bawah: merupakan CERPEN PERTAMA YANG LANGSUNG MASUK KOMPAS PLUS DI HARI ULTAH….
      Kepada penulis, saya mengucapkan selamat ulang tahun yang tiada terkira. semoga kita semua semakin mendapatkan makna dari kesejatian hidup. selamat. selamat. selamat.

      miftah fadhli

      19 Oktober 2010 at 10:13

    • miftah fadhli: aku juga merasa ikutan gemas kenapa nasibnya malang sekali, tapi itu adalah potret hidup yang kejam, kurasa penulis mau menyampaikan kejamnya dunia tanpa tedeng aling2, aku malahan suka dengan gaya apa adanya begini daripada yang muter2 gak karuan.

      Reni

      19 Oktober 2010 at 13:56

    • Soal tikus, saya pernah baca di Indramayu memang ada pasalnya ya jual tikus dapat uang. Sedih sekali ceritanya. Tarian pengorbanan, berkorban nyawa demi ibunda.

      Mira

      19 Oktober 2010 at 18:07

    • Reni: itulah alasan kenapa kita menulis, karena ada sesuatu yang ingin disampaikan. Tapi, dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan ‘sesuatu’ dalam konteks prosa(baca: sastra). Maka, seorang penulis seharusnya bisa ‘mengawinkan’ sastra itu dengan ‘informasi’ yang hendak ia sampaikan. Tapi, masalah suka atau tidak suka, adalah subyektif bentuknya. Anda suka, yang lain belum tentu suka. Mari kita hargai perbedaan ini. Oke.

      miftah fadhli

      20 Oktober 2010 at 09:38

  4. Dramatis! Tapi sayangnya, gak logis dan disampaikan dengan gaya yang datar dan kaku.

    Ketika mendengar ada dua orang bodyguard, bertubuh mantap dan memiliki pistol, aku segera menerka si gadis terhitung berkelas. Namun, ia tidak begitu. Lalu, apa yang membuat seseorang (atau dirinya sendiri) mampu membayar dua bodyguard? Dan kenapa mereka diperlukan (mengingat tidak seseorang pun mengancam keselamatannya)?

    Konflik batin tidak diramu dengan baik. Semua hanya dengan pertimbangan dan detil-detil yang klise. Kejutan tidak terjadi pada keahlian sastra, tetapi pada ending yang, seperti komentar di atas, cenderung dipaksakan.

    Salam!

    Oge Bual

    17 Oktober 2010 at 15:48

  5. nama pengarangx laila siapa ya?
    mohon bantuannya cz mw cari biografix jg

    heny

    17 Oktober 2010 at 17:33

  6. Salam hangat selalu.
    Saya sudah bisa menduga tentang respon dalam blog ini. Cerpen saudari Zeventina amatlah datar, saya seperti membaca cerita tanpa benaman diksi bermajas. Saya tak mempermasalahkan kebahasaan yang sifatnya baku dan kaku. Judulnya tak sesuai dengan isi cerita, terlalu ribut tentang dramatisme hingga goyah dari pondasi judul. Laila: Tarian Pengorbanan menguatkan narasi cerita. Cerita hanya berkelok tentang tokoh Aku, Ibu, Ning, Rahadian dan Paimin. Idenya tentang pengorbanan tokoh aku untuk menyembuhkan Ibu. Konfliknya berkisar kontemplasi lugu yakni, nasehat klise seorang Ibu pada anaknya. Pelacur hanya penguat konflik yang begitu keropos antara judul dan alur cerita. Endingnya begitu aneh dan semakin melenceng dari judul. Esensitas terkuak tentang pentingnya pengorbanan meskipun harus menempuh jalan menerabas rambu-rambu moral. Banyak segmen cerita yang bisa terbaca walau belum tuntas membacanya. Saya kira konflik terkesan jungkir-balik yang membuat dahi berkerut.
    Sukses selalu untuk Anda.

    Tova Zen

    17 Oktober 2010 at 18:39

    • Mas Tova, eleh-eleh ini dia Mas yang kutunggu-tunggu komentarnya. Mas, aku benar-benar belajar dari kritikan Mas Tova Zen. Btw, lanjutkan usahamu mencapai (yang aku sebuat) ‘double tittle’: sebagai kritikus handal, dan juga penulis yang hebat…

      miftah fadhli

      19 Oktober 2010 at 10:16

  7. ngomong2 soal komen bodyguard, just fyi, bodyguardnya itu kan bodyguard si tamu jepang yang make jasa si laila. Ada kalanya membaca dan meresapi inti cerita jauh lebih bijaksana dibanding hanya mengkritik tanpa mengerti isinya. Salam :)

    adellia

    17 Oktober 2010 at 19:28

  8. Saya sudah baca cerpennya, kisah yg cukup tragis, mungkin banyak penduduk Indonesia di daerah-daerah pelosok pernah mengalaminya, harga organ tubuh dan tubuh itu sendiri menjadi taruhan yg mahal demi kesembuhan ibu tercinta…sukses ya Zeventina…

    Fanny Jonathans Poyk

    17 Oktober 2010 at 19:56

    • di daerah perkotaan pun bisa terjadi pengorbanan seperti itu.

      Unkam

      17 Oktober 2010 at 23:42

  9. again…. ending yg ngagetin……. akan ada lanjutan, itu slendang biru?

    Isis Suparno

    17 Oktober 2010 at 19:58

  10. Zev….hmmm selamat ya. Baru saja saya baca cerpen bagusmu itu di hadapan istriku. Cerita Indramayu memang menarik. Kapan telaktir makan ikan kakapnya?

    Tandi Skober

    17 Oktober 2010 at 20:01

  11. “Teman sebayaku banyak yang menjajakan tubuh ke para lelaki hidung belang. Mereka bergerombol berdiri di pinggiran jalan setiap malam tiba. Dalam sekejap mereka mendapatkan uang cukup banyak. Aku tak tertarik. Aku memilih berburu tikus, lebih halal daripada menjajakan tubuh.”

    saya tak mengerti ini jenis majas atau bukan tapi terasa sangat janggal dan inkonsistensi: tokoh memilih profesi pengumpul tikus tapi pada alur selanjutnya malah ia menjalani profesi sebagai pelacur

    maaf meskipun saya awam, saya pikir cerpen ini gagal.
    ada apa dengan kompas?

    taufantation

    17 Oktober 2010 at 20:05

    • Zeviiiii….. wah keren…. keren… keren…. Selamat ya…

      Komentar memang biasa ada pro ada kontra. Tetap saja ambil sisi baiknya ya Zevi…. Kutunggu karyamu selanjutnya..

      Aien

      18 Oktober 2010 at 17:56

  12. Cerpen manis penuh ironi
    …endingnya buatku merinding

    sukses untukmu.

    S. Che Hidayat

    17 Oktober 2010 at 20:13

  13. Terharu. Pengorbanan seorang anak yang rela menjual tubuh demi sang ibunda. Rata2 orang memang penuh penghujatan terhadap pelacur. Ingin merajam. Tak melihat alasan dibalik itu. Bahwa ada sisi baik dari seorang pelacur terhina sekalipun.

    mamibartini

    17 Oktober 2010 at 20:18

  14. Bagus, aku suka endingnya yang begitu menonjok. Cuma mengapa nasib si tokoh malang sekali, ngga bisa ya, dibikin hepi sedikit gitu? Hehe, tapi untuk mbak Zevantina Octaviani, hebat, aku selalu salut sama setiap penulis yang cerpennya nembus kompas :) Buatku itu prestasi yang luar biasa, mengingat cerpenku ngga nembus-nembus (curcol) hihi

    Abi Ardianda

    17 Oktober 2010 at 20:22

  15. Bukan suatu kebetulan aku baca info ultahmu sekaligus dapat Laila : Tarian Pengorbanan dari Kompas Minggu, hari ini juga. Kenapa? Aku bahkan kemaren barusan ikut kelas menulisnya Seno Gumira Ajidarama di Impulse, Jogya. Could you believe it? So Happy Birthday again Zven, although we haven’t ever met …face to face, but make sure that God uses your shape and talent for Him. GBU

    Yefta

    17 Oktober 2010 at 20:25

  16. Kabar cerpen koran minggu ini, Republika Rachmat Budi Muliawan, SINDO Bamby Cahyadi (Malaikat yang Mencintai Senja), KORTEM Romi Zarman, Kompas Zeventina Octaviani, Jurnas Eko Triono, Lampung Post Miftah Fadhli. Sajak-sajak Kortem Bernarnd Batubara & Dadang Ari Murtono, Kompas Ook Nugroho, Jurnas Kurniawan Junaedhi dan… Lampung Post SUNGGING RAGA…. nama-nama yang dahsyat

    Tangan Untuk Utik

    17 Oktober 2010 at 20:29

  17. .. pada selendang biru itu tersimpan catatan tentang surga dan neraka… dst

    Nogo Sosro

    17 Oktober 2010 at 20:32

  18. tema beginian muncul setiap minggu di hampir semua koran yg memuat cerpen. Apa memang cerpenis kita sdh khabisan ide untk mengeksplor tema lain? Alur dan gayanya pun mash mengekor dg yg sudah2. Skali lg trima kash pd tukang kliping, saya tak perlu kehilangan tiga ribu perak, hanya untk membaca cerpen yg sama setiap minggu.

    Geger G

    17 Oktober 2010 at 21:17

    • salah satu alasan mengapa “mereka” selalu memilih tema yang itu2 saja : selera media. dalam hal ini kompas.
      bukan begitu..???
      sebenarnya saya saya ingin mengatakan “suka”ada cerpen ini.. tapi kok ngeganjel ya…,

      cah ndablek

      26 Oktober 2010 at 11:17

  19. Selendang biru itu ..
    Membuat semuanya menjadi indah
    Seindah hari ini ..
    Sahabat selamat berbiru-biru ria eah ..

    Afri Rosyadi

    17 Oktober 2010 at 23:53

  20. saya acungkan jempol untuk penulis satu ini karena telah berlelah-lelah untuk berusaha agar cerpennya muat dikompas. saya merasakannya…

    tapi saya perlu berkomentar, karena saya pun ingin menjadi pengkirtik yang baik

    catatan dari saya(terlepas benar atau tidak):

    -tema ini sudah sering dibahas, tapi sayang, mba okta belum mampu merubah variasi (alisas mengikuti cerita yang sudah sering dibahas)
    - bahasa masih diarasa dangkal
    - konfik terlihat tapi tidak ada greget yang mampu membuat pembaca sedih (padahal ini cerita kesedihan) bukan ketawa-ketiwi.
    -tidak logis pun ada, seharusnya jangan cerpen realisme

    tapi, aku yakin, mba okta masih pemula. sama seperti saya

    lubab

    18 Oktober 2010 at 00:02

  21. Saya membacanya persis ketika saya mengentikan film Salt Angelina Jolie di tengah-tengah. Setelah ritme film yang begitu cepat, saya tidak merasa bahwa ritme cerpen ini terlalu cepat. Ternyata kondisi ketika pembacaan sangat menentukan penikmatan. Dan walaupun saya merasa sebenarnya cerpen ini bisa kuat dengan cukup menceritakan ketika laila ketahuan melacur dan mbaknya yang berusus terburai saja titik, saya sejujurnya tidak melihat masalah yang terlalu berarti pada cerpen ini. Salut!

    gide buono

    18 Oktober 2010 at 00:55

  22. Good choice Kompas! 52 minggu 52 penulis, semoga.

    A

    18 Oktober 2010 at 06:43

  23. agak bingung membaca cerpen ini, mungkin akan lebih nyaman bagi pembaca kalau penulis fokus pada satu atau dua konflik.. sepertinya penulis ingin menyampaikan banyak hal (tarian pengorbanan, tikus, human traficking, pilihan hidup, kematian, pembunuhan, dst) namun belum tampak logika yang runtut untuk sebuah cerita realis.. salam.

    nur ratri

    18 Oktober 2010 at 07:16

  24. Ciri khas mbak Zev plotnya beralur cepat memaksa kita berpikir cepat. Sedang rata2 pembaca yang malas berpikir ingin diberi kesenangan dan kemanjaan. Saya pribadi senang dengan gaya unik dan lugas ini. Natural tak berbuih2 dengan prosa yang jelimet. Saya ingin minta data mbak Zev, untuk kolom profile di salah satu koran. Adakah yang tahu alamat emailnya? Yang saya dengar mbak Zev ini seorang web designer dan novelis yang karyanya masuk nominasi KLA Award 2009?

    erland

    18 Oktober 2010 at 07:59

    • Mbak Zev ada facebooknya, IDnya Zeventina. Juga ada webnya, search saja di google hampir full oleh nama beliau.

      Proud of you, Zeventina!

      Laksmi

      18 Oktober 2010 at 17:54

    • Terlalu berlebihanlah kau.

      itu novel nulis bareng. Awak paham gaya tulis Zeventina. Awak tahu blog MP-nya.
      Teenlit, seperti anak-anak yang menulis.

      roni agustinus

      19 Oktober 2010 at 18:37

    • Alur cepat bukan gaya Zeventina, Erland.
      Kau perhatikan gaya partner menulisnya, yang entah kenapa tak pernah kedengaran namanya.

      Kau kunjungilah blognya Multiply, ada di novel yang kau baca itu. Tah usahlah menutup matamu kalau Zeventina temanmu.
      Bukan di sini tempatnya.

      roni agustinus

      19 Oktober 2010 at 18:59

    • Roni, ada apa denganmu? terlihat sangat dendam kikikikik

      Julia

      20 Oktober 2010 at 19:54

    • http://zeventina.multiply.com

      Sarat akan share ilmu pengetahuan, inspiring blog really.

      Julia

      20 Oktober 2010 at 19:58

  25. pernah mimpi juga cerpen bikinan saya muncul disini, tp sampai sekarang belum juga mencoba mengirim..

    untuk cerpen ini, jujur saya kurang mengerti.
    awalnya membunuh tikus2 lalu menjadi perempuan tunasusila..
    mungkin karena pemahaman sastra yang dangkal kali ya..
    *menunggu cerpen Kompas berikutnya..

    fadli hafizulhaq

    18 Oktober 2010 at 09:49

  26. Baca ini saya terbayang2 terus, selendang birunya kira2 bagaimana lanjutannya. Adakah babak duanya?

    Viva Zeventina!

    Laksmi

    18 Oktober 2010 at 12:01

    • ZEV,
      SELAMAT YA. SEKALI BIKIN CERPEN LANGSUNG KE KOMPAS. PAS ULTAH-MU LAGEEE…

      Hoebartz

      18 Oktober 2010 at 13:12

  27. @ fadli hafidzulhaq..Tikus itu majas.
    @ nur ratri..
    Setuju..! Bagi saya cerpen yang fokus pada satu tema itu baik dari cerpen yang melenceng kemana-mana.

    Abdul hadi

    18 Oktober 2010 at 17:07

    • Tak ada batasan cerpen harus satu tema. Justru pembacanya dilatih untuk tidak berpikir. Kurasa Zev berhasil menampilkan kegetiran, kekecewaan dan realitas yang mungkin banyak dialami kaum tersisih di negara kita ini.

      Maju terus Zeventina!

      Laksmi

      18 Oktober 2010 at 17:52

    • thx penjelasannya =)
      itu saya juga tau bang..
      tapi rada gimana gt, saya kurang suka sastra yg ada gelapnya.

      fadli hafizulhaq

      19 Oktober 2010 at 14:34

  28. satu tema pun tak masalah, sekalipun isi cerpennya mempunyai banyak pesan tersirat dan tidak melenceng dari tema.

    Unkam

    18 Oktober 2010 at 18:34

  29. Lho, kok update status dari FB-ku bisa masuk jadi komen di sini ya? gimana cara…???

    Bamby Cahyadi

    18 Oktober 2010 at 21:19

  30. hidup adalah pilihan.dan pilihan kita yang memilihnya. salut untuk dua gadis itu Mbak Ning dan si aku. demi ibu semua kulakukan,,,, tapi sayang ini hanya cerita.

    selamat ya,,,

    azmi Labohaji

    18 Oktober 2010 at 21:48

  31. Huuuuuuu……
    macam cinta fitri sudah ini cerpen.
    semakin kecewa sama KOMPAS, cerpen yang naik ceritanya banyak yang kayak gini semua. klise bos.

    Bang Maop

    19 Oktober 2010 at 01:24

    • Betul brur… hihi…

      Tepank

      19 Oktober 2010 at 14:44

  32. seseorang yang mengalami kekerasan,sepanjang hidupnya tidak akan lepas dari pengalaman itu, semacam trauma. selendang biru yang dimaksud bukanlah yang dulu,tapi pematik ingatan tentang kematian ibu.

    ewing

    19 Oktober 2010 at 09:05

    • setuju mas ewing.

      Julia

      20 Oktober 2010 at 19:56

  33. Huhu…setelah membaca karya-karya Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Seno Gumira Ajidarma, Putut EA
    lalu membaca cerpen ini, berasa membaca koran murahan.
    Sorry, bro and sist!
    Semakin kecewa dengan KOMPAS. KOMPAS hendak mempertaruhkan kredibilitasnya dengan ceprn seperti ini?
    Di Facebook banyak karya semacam ini, yang lebih bagus jauh lkebih banyak

    Saya sependapat dengan komentar LUBAB, penulis ini pasti sudah BERSUSAH PAYAH agar bisa dimuat di KOMPAS.
    Entah KERJA KERAS seperti apa. WKWKWKWKW.

    Editor KOMPAS, berhati-hatilah menyeleksi naskah.
    SAYA KECEWA.

    Sukses untuk KOMPAS dan penulisnya…WKWKWKWK.

    Sutomo

    19 Oktober 2010 at 11:37

    • Maaf mas, saya tak setuju. Justru menurut saya cerpen mbak Zev ini natural. Kita sudah bosan dengan kata-kata berbuih. Orang2 munafik yang hobby sembunyi dibalik topeng anonymous. Cerpen ini justru disampaikan dengan gaya yang tegas, lugas, maknanya dalam sampai masuk ke hati. Beginilah potret kekejaman hidup di Indonesia.

      Reni

      19 Oktober 2010 at 14:02

    • Natural bagaimana maksudnya? Bercerita seperti wartawan seperti salah satu komen di sini? Malas dan tak berkemampuan untuk mengolah sebuah obyek menjadi ranah sastra?
      Cerpen ini seperti:
      “ini Budi, ini ibu Budi.”
      “Bapak Budi satu, ibu Budi tiga.”

      Tidak ada polesan sastra samasekali.
      INI KOMPAS!!! Bukan untuk penggemar Teenlit!!!

      Sutomo

      19 Oktober 2010 at 18:15

    • Cerpen ini seolah-olah dibuat asal-asalan, doktrin-doktrin sinetron disuntikkan dalam cerpen (yang seharusnya bisa punya nilai yang tinggi ketimbang terus bermanja-manja dengan ‘peristiwa sinetron’.

      miftah fadhli

      20 Oktober 2010 at 09:45

    • sutomo :kamu njuk halok banget dech…! sok pintar…,coba sekali2 kamu aja yang nulis…jebol nggak ?

      ade aja

      21 Juli 2012 at 13:49

  34. Saya termasuk pembaca yg sangat kecewa dengan. Maaf.

    Beberapa catatan pribadi saya:
    1. Kedangkalan bahasa,
    2. gaya bercerita. Sastrawinya sangat cethek, dangkal. Tak perlu berpikir rumit. Justru yang saya lihat adalah penulisnya sendiri berusaha terlihat tampak rumit.
    3. Gaya ngepop, meski berusaha terlihat nyastra.
    4. “Dark wannabe.” Dark tidak harus menggunakan kata-kata kasar.
    5. Gaya cerita cenderung seperti wartawan. Menulis apa adanya tanpa berusaha untuk mengolahnya agar memenuhi estetika sastra.

    Saya sudah membaca novel penulis ini. Novel itu ditulis berdua dan sangat kental aura gelapnya.
    Saya cukup sensitif untuk merasakan, aura pada novel itu bukan gaya ZEVENTINA. Mungkin partner penulisnya yang memiliki gaya itu. Silakan saja ditelusuri gaya mereka di blog masing-masing.

    Maju terus KOMPAS. Maju terus Zeventina Octa.

    Cato Cahyono

    19 Oktober 2010 at 12:24

    • Hahahaha. Partner nulisnya mau numpang beken. Cucian deh lo.

      Dudu

      20 Oktober 2010 at 20:46

  35. Sayang sekali. Zev biasanya cerpennya beraura ceria. Mengapa tak masukan cerpennya yang di Multiplynya. Sangat indah. Dark itu kurasa terpengaruh tulisan partner menulisnya mas Zanzad yang memang hobby menulis gelap2 begini.

    wibi

    19 Oktober 2010 at 13:16

  36. Zev jangan patah semangat ya. Coba baca komen2 di cerpen KOMPAS lain semua ada yang pro dan kontra. Itu biasa. Harapanku Zev jadikan kritik sebagai masukan. Selalu ada anonimous yang bisanya hanya kritik saja tetapi jika disuruh nulis tak bisa. Kritik memang mudah.saya pribadi merasa tak ada yg aneh dg cerpenmu, bahkan aura gelapnya terasa.

    maulana

    19 Oktober 2010 at 13:23

    • Pak Maulana, tidak semua pembaca bisa menulis.
      Ada ruang tersendiri bagi penulis dan pembaca.
      Penulis menempati ruang yang sangat tinggi, itulah sebabnya seorang penulis harus membekali dirinya.
      Dan fungsi media melakukan filter untuk menampilkan tulisan2 terbaik.
      Apalagi media sekelas KOMPAS, yang notabene selalu menyediakan sajian berkualitas.

      Saya masih heran kenapa cerpen ini bisa lolos di KOMPAS. Maaf untuk penulisnya.
      Ekspektasi saya selalu tinggi pada KOMPAS.

      Kalau sekedar cerpen seperti ini, saya bisa membacanya di Facebook.

      Cato Cahyono

      19 Oktober 2010 at 14:09

    • Pak Maulana semacam tidak paham bahawa di dunia sastra itu juga ada Tukang Kritik Sastra. Justru dengan mencoba menjadi Tukang Kritik Yang Sial macam saya akan belajar bagaimana menjadi menulis cerpen yang lebih mendekati ke arah yang lebih baik.

      Penulis cerpen itu nggak boleh cengeng macam Gubernur di kampung saya, yang mukanya memerah karena terus terusan di kritik, Penulis cerpen harus banyak belajar denga di kiritik karyanya. justru seharusnya dia senang dan bahagia karena di kritik, Bukankah semakin tinggi sebuyah pohon maka angin juga semakin kencan?

      Bang Maop

      19 Oktober 2010 at 16:40

    • saudara maulana, mohon jangan berpikir secetek itu tentang sastra… saya sangat menghargai pendapat Anda.

      miftah fadhli

      20 Oktober 2010 at 09:49

  37. Pantas masuk KOMPAS. Potret kegetiran yang disampaikan masuk, membuat saya merinding bacanya…..

    Reni

    19 Oktober 2010 at 13:59

    • Kritik membangun lebih bermartabat daripada sekedar kritik tanpa memberi masukan. Mari kita coba lebih berbudaya. Bagaimanapun pembelajaran kita perlukan agar kita semua bisa belajar dari kelemahan yang ada. Biasanya kritikus sastra kritiknya tak semata kritik tapi ada juga masukan, ada juga kritik sampah yang tendensius dan tidak nyambung dengan tulisan, mari kita kritik yang berguna. Pedas tapi berdasar agar penulis pemula bisa belajar dari para jagoan kritik ini.

      Begawan

      19 Oktober 2010 at 18:12

    • Bah, macam apapulak cepern ini.
      Prihatin aku dengan mendiang Jakob Oetama dan PK Ojong.
      Ini KOMPAS, bung. Bukan untuk penulis pemula.
      Lelucon apapulak ini.

      SBY lelucon, kau tambah pulak dengan Cerpen ini.

      INI KOMPAS BUNG!

      roni agustinus

      19 Oktober 2010 at 18:25

    • Setahuku Pak Jakob belum mendiang ya….

      Aba Mardjani

      20 Oktober 2010 at 00:16

  38. Maaf ya, saya tak sampai habis membacanya!

    Tepank

    19 Oktober 2010 at 14:45

    • muak aku Tepangk..
      klise soalnya

      Bang Maop

      19 Oktober 2010 at 16:41

    • geli juga bacanya…hihihi

      Tepank

      19 Oktober 2010 at 19:08

    • Mas Roni, anda belum buat cerpen saja sudah ngawur. Jacob mendiang? wah, rasanya kalau ngawur begini dan cerpen anda yang masuk KOMPAS, apa kata dunia? Kritik memang gampang bung, tapi kritik anda membuat saya muak. Lihat kritik indah yang lain, tidak tendensius seperti anda. Saya yakin anda akan komen lagi di bawah memakai ID palsu lain yang baru. Sudahlah, kasihan penulisnya di arahkan oleh anda dengan komen2 ga mutu.

      INI MAYA BUNG!! Siapapun bisa ngawur seperti anda!!

      Didi

      20 Oktober 2010 at 07:47

    • Bah, aku kritik malah kau tuduh bikin ID palsu. Mengarahkan pulak.
      Kalau kau pemula dan tak tahan kritik, ke laut sajalah.

      Inti awak, cerpenmu belum layak. Apa usaha kau untuk masuk KOMPAS, bah?

      Konon KOMPAS terima 100 naskah lebih/hari. Cerpen kau masih jauh.

      Kau tuduh pulak ID Palsu.

      roni agustinus

      20 Oktober 2010 at 19:28

  39. muantappp

    sesuatu yg sangat mengangumkan

    tetti

    19 Oktober 2010 at 18:03

    • Menarik ceritanya…. pantes dikomen segini banyaknya. Ditunggu karya2 selanjutnya.

      Mira

      19 Oktober 2010 at 18:05

  40. Nice..

    Riniawati

    19 Oktober 2010 at 18:15

  41. INI KOMPAS, BUNG!!

    Siapa Zeventina Octaviani? Tahu apa soal sastra? Berapa buku yang pernah dia tulis?

    Hanya nempel di karya-karya bersama.

    INI KOMPAS, BUNG!!!

    roni agustinus

    19 Oktober 2010 at 18:29

    • Hahahaha…ternyata bukan aku saja yg tak sepakat…

      Bang Maop

      19 Oktober 2010 at 21:19

    • Bung Roni. Mengapa komen anda emosional? Apa ada sebuah keharusan yang muncul di Kompas hanya yang novelnya sudah banyak? Saya rasa anda keliru.

      Salam.

      Riniawati

      20 Oktober 2010 at 07:32

  42. Tak tahu pulak apa KERJA KERAS-nya penulis ini.

    jangan-jangan editor KOMPAS yang sudah diKERJAI KERAS…WAKAKAKAKAKAKA.

    KECEWA SANGAT AKU DENGANMU, KOMPAS!!!

    roni agustinus

    19 Oktober 2010 at 18:32

    • Bang Roni, komenmu kasar sekali bang. Jangan2 kau pernah ditolak mbak Zev jadi dendam ya? Hahahaha.

      roni agustinus 2

      20 Oktober 2010 at 07:35

    • Awak tak iri pada Zeventina. Tak cemburu pulak padanya.
      INI KOMPAS BUNG!
      Tahu apa soal sastra? Tak apa tak pernah menulis, Zev ini tak pernah nulis, hanya menempel-nempel saja.

      Lihat CERPEN ini baik-baik kalau kau paham sastra, Roni.

      Kelas KOMPAS adalah Seno Gumira Aji, Putut EA.

      Kau mau butakan matamu? Kau samakan karya tikus ini dengan mereka?

      Buka lebar matamu, Roni.

      Benarkah dia pekerja IT? Bicara itu gampang. Awak baca profil Zev di WI dulu kala.
      Adik awak di ULM. Zev hanya kursus bahasa Jerman di ULM. Buka matamu, Roni.

      roni agustinus

      20 Oktober 2010 at 10:36

  43. hahaha
    hayak mamen

    Bang Maop

    19 Oktober 2010 at 21:22

    • Bang Roni, mbak Zev yang saya kenal pekerja keras, dia jago IT, dan tulisannya juga mengisnpirasi banyak orang. Rasanya saya tak terima kalau bang Roni sudah merambah ke ranah pribadi. Abang mungkin dididik kasar ya bang hingga komennya OOT begitu. Hati2 bang, jangan2 komen kasar semua ini hanya ditulis 1 orang saja,abang dengan nama samaran yang banyak. Kritik itu gampang bang. Tapi kritik elegan itu yang harus pakai otak.

      roni agustinus 2

      20 Oktober 2010 at 07:38

    • Bang Roni. Wah abang ternyata menyelidiki mbak Zev. Kentara sekali anda memang ada masalah pribadi dengan beliau. Seharusnya anda bisa memisahkan ranah pribadi dengan profesionalisme.

      Ini maya, bung. Jangan anda kira hanya anda yang berhak bicara. Saya nilai komen anda menjurus ke pribadi dan ITU TAK LAYAK. Semakin besar dugaan saya bahwa anda adalah penyusup saja yang mau menggiring opini publik. Kami tak akan tergiring, bang! Orang maya sudah pintar memilah. Dari cara anda komen saja terbaca kepribadian anda yang suka menyerang.

      Maaf kalau komen saya keras. Saya perkirakan anda akan memenuhi page ini dengan komen2 penyerangan ranah pribadi. WOW.

      roni agustinus 2

      20 Oktober 2010 at 19:42

    • Profile mbak Zev di wanita Indonesia bagus sekali. Saya sudah baca. Ada maslaah apa dengan mas Roni ya?

      *heran*

      Julia

      20 Oktober 2010 at 19:46

    • Roni, komen anda kok ga nyambung ya? Apa hubungan ULM dengan isi cerpen? Bwahahahahahaha.

      Bonar Simarmata

      20 Oktober 2010 at 20:09

  44. nyaman kanak

    fandrik ahmad

    19 Oktober 2010 at 22:33

  45. Saya pribadi menikmati cerita Laila. Maju terus mbak Zev………

    Reni Agustina

    20 Oktober 2010 at 07:41

  46. Saya juga pernah membuat cerita pelacuran, tetapi cerita mbak Zev lebih bisa menggambarkan hitam yang benar2 hitam.

    Saya harus banyak belajar.

    Reni Agustina

    20 Oktober 2010 at 07:44

  47. Anda tak harus menjadi penulis untuk melakukan kritik, kritik adalah salah satu tindakan nyata untuk memajukan sastra koran negeri ini

    tapi kritiklah cerpen ini; bukan penulisnya

    tukang kliping

    20 Oktober 2010 at 10:30

    • Setuju bung. Jangan ke penulisnya tapi pada tulisannya.

      ade manan

      20 Oktober 2010 at 17:32

    • Tukang Kliping. SETUJU.

      Bonar Simarmata

      20 Oktober 2010 at 19:59

  48. Cerpen yang bagus …Selamat buat Zeventina

    Rama Dira

    20 Oktober 2010 at 10:49

  49. Kenapa orang selalu phobia dan kesal dikritik. Padahal kalau saya, paling senang dikritik. Orang yang mengeritik itu, adalah orang yang benar-benar membaca cerpen tersebut. Orang yang tak mengertik dan mengatakan bagus, bagus, bagusss. Terkadang membacanya saja tidak. Begitu melihat judul cerpen dan siapa pengarangnya (mungkin teman), maka langsung mengucapkan bagus atau mantabs. Padahal itu hanya ungkapan bahwa dia sesungguhnya tak membacanyan. Jadi, berbanggalah pada orang yang suka mengeritik karya kita, tak perduli apakah dia bisa berkarya atau tidak.

    Rifan N

    20 Oktober 2010 at 14:43

  50. Saya teman kuliah mbak Zev di Ulm Universitat. Adik anda siapa ya? Kuliah dimana? Kami di Jerman dekat satu sama lain termasuk dengan mbak Zev.

    Coba sebut nama adik anda, akan saya cek di database Uni.

    Julia

    20 Oktober 2010 at 19:44

  51. sebetulnya cerpen ini bagus tetapi menurut saya ceritanya kurang ada ‘gregetnya’ karena beberapa cerpen ada yg memiliki kemiripan tema dgn cerpen ini

    astarie

    20 Oktober 2010 at 22:43

  52. sebelumnya saya mau Numpang ketawa dulu untuk semua komentarnya..
    Huhahahahaahahahahaaaa…..!!!

    oke cukup..!!

    Menurut saya cerpen diatas terlalu keruh.., banyak sekali cerita yang disampaikan. alurna jg ga jelas. coba kalo fokus dengan satu kisah pasti lebih berisi.

    tapi lumayanlah..

    Iwansteep

    21 Oktober 2010 at 13:15

  53. Bagaimanapun saya salut bwt yang cerpennya dimuat kompas. Krna sampai saat ini saya masih saja terus mencoba tp tak pernah bsa menembus kompas. Tp saya adalah pembaca yg baik.

    Choux malay

    21 Oktober 2010 at 17:05

  54. Saya setuju dengan Iwansteep punya koment…

    Rozzi

    22 Oktober 2010 at 00:47

  55. Ketika membaca cerpen ini, saya sudah menduga akan muncul reaksi keras.
    Cerpennya menggelikan, pasti akan muncul komen yang juga menggelikan.
    Kompas semakin menggelikan.

    Cerpen ini sangat datar, tidak ada ekpslorasi yang layak dan terlihat jelas penulisnya tidak memiliki wawasan penulisan yang layak. Sangak memaksa untuk berpilin-pilin dengan masalah. Penulis seperti memaksakan gaya yang bukan gayanya.
    Tidak ada jiwa atau tatanan kata indah sastrawi.

    Jika Kompas – konon – menerima 200 naskah/perhari, apakah cerpen ini layak untuk ditampilkan.
    Silakan renungkan dengan jujur, jangan hanya berkata nice atau salut.

    Saya rasa wajar jika ada protes yang sangat keras, mengingat – konon – ada 200 naskah yang masuk/hari.

    Mey Ling

    22 Oktober 2010 at 01:56

  56. Saya tambahi sebagai tanggapan pada komen-komen yang muncul:

    Bayangkan dengan 200 naskah yang masuk setiap hari, setidaknya ada 1400 naskah yang bisa dipilih untuk dimuat. Pastilah sebuah cerpen yang sangat memenuhi banyak kriteria.
    Apakah cerpen ini memenuhi kriteria yg layak? Dari sudut manapun, saya tidak melihat adanya kelayakan cerpen ini untuk masuk Kompas.

    Wajar jika muncul pertanyaan: apakah penulisnya melakukan KKN?

    Untuk Kompas sendiri (para editornya) silakan anda melakukan introspeksi juga.
    Apakah ada diantara anggota editor Kompas yang “memaksakan” untuk dimuatnya cerpen ini?
    Jika ada editor yang ngotot ketika memasukkan cerpen ini, hati-hatilah dengan masa depan Kompas.
    Jangan sampai kerja keras Bp. PK Ojong dan Jacob ternodai oleh kepentingan segelintir kepentingan.

    Penutup keras dari saya: jika ada benih kehancuran sastra di Indonesia, jangan sampai Kompas ikut menyuburkan benih tersebut.

    Mey Ling

    22 Oktober 2010 at 02:05

    • kok komen Mey Ling kaya ada dendam pribadi yah?? kasian yang nulis cerpen ni ..

      peneliti

      22 Oktober 2010 at 13:07

  57. Mengapa tidak membahas apa yang ditulis malah membahas penulisnya? Saya jadi curiga.

    Tentang sebutan KKN, saya tak sependapat. Saya yakin KOMPAS tetap eksis sampai saat ini karena kredibilitasnya yang tinggi.

    Saya pengagum cerpen2 KOMPAS dan walau cerpen ini tidak happy end, saya tetap menghargai perbedaan warna.

    VIva KOMPAS.

    Mirnasari

    22 Oktober 2010 at 12:35

  58. Masa penulis yang novelnya baru satu cerpennya bisa masuk KOMPAS sih? Harusnya kan KOMPAS hanya memuat cerpen2 bucayawan yang novel2nya sudah banyak saja……

    Bind

    22 Oktober 2010 at 12:49

  59. Menurut gua cerpen ini jelek karena cerpen gua ga masuk KOMPAS.

    Dewo

    22 Oktober 2010 at 12:52

  60. IP detect: banyak komen yg berasal dari 1 orang, hahahahahaha.. bener2 usaha keras untuk giring opini publik ke arah negatif. Wow. Sabar Zev. Sabar

    bangmiun

    22 Oktober 2010 at 15:18

  61. Orang sabar keksaih Tuhan. Anjing gongong kafilah berlalu

    bangmiun

    22 Oktober 2010 at 15:18

  62. Setuju dgn komen Begawan tgl 19 Oktober 2010 pada pukul 18:12.
    Kritik yang baik adalah yang memberi solusi, bukan kritik yang asal kritik, kritik karena cemburu, kritik yang memang didasari ingin menjatuhkan.

    Sepakat dengan pendapat Rifan N, 20 Oktober 2010 pada pukul 14:43.
    Lebih baik cerpen kita dikritik sama teman daripada dibilang bagus padahal dalam hati bilang tidak bagus, apalagi tanpa membacanya. Teman yang seperti ini patut diwaspadai karena berpotensi menjadi musuh dalam selimut (pengkhianat). Jadi beruntunglah jika teman mengkritik cerpen kita selama kritiknya yang membangun.

    Witim T

    22 Oktober 2010 at 17:26

  63. jujur saja ya.
    Ketika membaca cerpen ini, koq aku seperti sedang membaca cerita nyata kiriman pembaca dalam salah satu rubrik majalah Misteri.

    Entahlah..
    Cerpen ini bagus atau tidak.
    Satu hal yg jelas,
    ketika aku membacanya, koq gak ada perasaan indah dan menggetarkan gitu lho..!!

    Endingnya malah terkesan seperti yg di paksakan.
    Dan si penulis seperti yg kebingungan dalam memilih ending.
    Akhirnya ya, jadi terkesan seperti ending film-film horor.
    Gak jelas dan gak bermakna.

    Wallahu a’lam bi sowab…

    Rozzi Narayan

    23 Oktober 2010 at 02:43

  64. Kenapa selendang biru itu sama motifnya, apakah yang bunuh ibu itu Rahadian? atau kebetulan saja. Kami gunakan cerpen ini untuk bahan bahasan di kelas, rata2 menyimpulkan endingnya memang merupakan sebuah cerita menggantung, sengaja diserahkan untuk PR pembaca agar merenung tentang kesamaan motif si selendang biru. Kami rata2 menilai justru kekuatan cerita ini terletak pada ending yang menimbulkan pertanyaan. Kritik kami tulisan kurang bergelombang, timelinenya kepanjangan, sebaiknya jika dikerucutkan ke timeline pendek tentu lebih indah.

    Salam.

    Mitha

    23 Oktober 2010 at 09:37

  65. Biasa saja

    Pringadi Abdi Surya

    23 Oktober 2010 at 10:13

  66. SR sms ktnya ada cerpen kompas yg begitu byk dikomentari. Sjk Jenar muncul aku gak baca cerpen kompas, huahahaha tp krn sms itu aku paksa baca cerpen ini.
    cerpen ini bentuknya lain drpd yg lain, karena bentuk “lain” itu kompas mau muat cerpen ini, huahahaha.
    aku ingin mendapatkan sesuatu yg lebih di ending tp tak kudapat, hehehe
    cerpen renyah, bahasa biasa, dua redaktur itu lelah dgn bahasa sastrawi yg tiap hari “meneror” mereka, beginilah akhirnya yg terpilih yang ringan, gurih, menyentak-nyentak walau di semua titik kurang power.

    Han Gagas

    25 Oktober 2010 at 12:21

  67. Cerpennya kerenn kok,,,
    juga ceritanya bukan cerita yang dangkal, karena pembaca bisa tahu apa makna dari ‘selendang biru’. walalu itu bukan konflik utama, tapi hal itu bisa membuat pembaca menyimpulkan sejenak dan memberikan sebuah alasan login dari maksud penulis. memang judulnya hanya melingkupi bagian awal cerita saja,,, tapi ini cerpen yang bagus!

    Randy

    25 Oktober 2010 at 15:23

  68. ah…jelek ini!!!!!
    mending penulisnya nulis skenenario sinetron aja deh. kalo cerita dan bahasa cerpan yang seperti ini, tiap hari juga nemu di sinetron.bicara soal tragedi, cerita di sinetron juga lebih dari sekedar gelap daripada cerpen ini. cinta fitri juga sampapi season 5
    kira2 cepen ini samapi season berapa ya?
    buat yang suka cerpen ini: kebanyakan nonton sinetron ya?
    sekenario sinetron gak usah dibawa-bawa ke ranah cerpenlah, kasihan ntar…
    uh…mengecewakan sekali

    mari kita anggap gak ada KKN dalam penerbitan skenario sinetron eh…cerpen ini ding hahaha…
    tapi setidaknya penulis tahu diri donk kalau mau kirim2 cerpen. masak cerpen kaya gini dikirim ke KOMPAS dan anehnya terbit tanpa KKN! SALUTE!!!!

    lampor

    26 Oktober 2010 at 01:32

  69. Setuju ama Randi. Cerpen ini nurut gua ga jelek, malah beda nuansanya….

    gua

    26 Oktober 2010 at 08:31

  70. Kritikus yang baik, komenin ISI cerpennya, kok ini malah melantur ke ranah pribadi, ultah, KKN dll. Ga nyambung, coy!

    Wah bener kata temen gue, kelihatannya ada penyusup nih yang memang pengen jatuhkan citra penulisnya.

    Cobalah kritik tulisannya aja, agar yang baca juga enak dan bisa petik pelajaran dari cerpen ini. Karena kalau komennya nyerang pribadi, unsur siriknya kentara sekali.

    Gue juga yakin penulis kritik yang kasar2 dan menyerang ke arah pribadi ditulis oleh satu orang, gayanya sama coy!

    Gedarmao

    26 Oktober 2010 at 08:39

  71. bicara isi cerpen: ini picisan bung!!

    lampor

    27 Oktober 2010 at 20:18

  72. mau gak mau akhirnya kita juga harus ngomong politik sastra. apalagi kalo ngmong cerpen KOMPAS yang katane jadi barometer cerpen2 bagus.g sah terlalu naif deh…

    menurut saya: cerpen jelek kaya gini bisa masuk media apalagi KOMPAS, itu patut ditelusuri dan dipertanyakan!
    cerepn2 KOMPAS lain yang setidaknya punya estetika standar setidaknya tidak terlalu menjadi polemik seperti yang satu ini.
    gak usah jaim2lah…terserah yang nulis siapa, cerpen ini JELEK!

    lampor

    27 Oktober 2010 at 20:28

  73. Indramayu is my home town. Tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. bitte bitte bitte… Niemals mein Indramayu vernichtet. Indramayu adalah satu urat nadi transportasi di jawa. Minyak yang diolah balongan menghidupi juga negeri ini. Fyi, masih banyak daerah santri di Indramayu. Sebelum sekolah dimulai, siswa-siswinya mengaji. Bitte bitte bitte…

    anonymanifesto

    30 Oktober 2010 at 10:56

    • saya kebetulan dari Indramayu juga. yang ditulis di cerpen ini nyaris sesuai dg kenyataan di pinggiran2. Tak semua bisa melihat fakta buruk, rata2 yg bagusnya yg dilihat.

      Renata

      31 Oktober 2010 at 20:23

  74. mengomentari karyanya bukan orangnya.
    orang yang kritik/berkomentar mengikutsertakan orangnya berarti dian tidak mampu menerjang imajenasi yang tak terhingga….

    sule subaweh

    30 Oktober 2010 at 13:22

  75. wah kalo misalnya cerpen sy dimuat di kompas…pasti di kritik abis2an nih…ahahhahahaha

    Sari

    30 Oktober 2010 at 22:10

  76. Setuju dg pak sule subaweh.

    Renata

    31 Oktober 2010 at 20:21

  77. selendang birunya itu maksutnya yang bunuh ibuknya Rahadian ato Rahadian dan Laila bersaudara karena ibunya mempunyai selendang yang sama????kan bapaknya selingkuh tho…

    opi

    12 November 2010 at 12:46

  78. Saya cuman baca ‘tidak sampai 1/3 dari cerpen diatas. Koment2 dibawahnyalah yang lebih memberi inspirasi, tentang cerpen dan sastra…
    busway (anyway,red) maju terus sastra indonesia…. :D
    heeee ^^

    Iman Safri Lukman

    30 November 2010 at 14:03

  79. Ga nyambung banget antara judul dengan ceritanya. Lalu di dalamnya pengarang kurang fokus dalam membeberkan jalan ceritanya, kasannya sepotong-sepotong dan kurang mengena gitu …
    Tq.

    Agoes_soegy

    2 Desember 2010 at 12:00

  80. “berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam….” –> berasa dialog disalah satu film-nya Suzanna.

    ekoist

    15 Desember 2010 at 11:30

  81. lumayan

    si si si si

    21 Desember 2010 at 21:19

  82. Bagus ceritanya…

    Olin

    26 Desember 2010 at 13:56

  83. cerpen aneh. gak nyambung banget judul dan isi.

    An

    24 Januari 2011 at 18:34

  84. Sadis bin mengenaskan..

    Adri

    22 Februari 2011 at 14:18

  85. waw…ceritanya sungguh menarik….

    cinta

    2 Maret 2012 at 07:53

  86. endingnya ko0k terlalu cepat. dan ada lakon yang belum saya fahami, tepatnya ketika pra pelamaran, apakah sudah di setubuhi rahadian ataukah apa??? mohon ya…. penulis pertegas.
    cerpen ini bagus…

    saya tunggu bualan anda selanjutnya :D

    Adnan Azhari

    8 April 2013 at 02:45

  87. Hey there! I simply would like to offer you a big thumbs up
    for your excellent information you’ve got here on this post. I’ll be coming back to your web site for more soon.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.408 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: